Pastinya pernah liat, atau setidaknya pernah denger dong acara “Are You Smarter Than a Fifth Grader?”.
Sebuah acara kuiz yang menguji kemampuan pengetahuan umum para peserta, yang dibantu oleh seorang murid kelas 5 SD.
Dalam banyak hal (terutama masalah pengetahuan umum yang sifatnya lebih banyak hapalan ini), memang kita (yang bahkan bergelar sarjana pun) harus mengalah pada seorang anak kelas 5 SD.
Banyak pertanyaan-pertanyaan ‘sepele’ yang kadang tidak menjadi perhatian orang dewasa, karena mungkin informasi tersebut dianggap tidak relevan dengan bidang kerja yang ditekuninya.
Yang menarik, di akhir acara, si peserta yang ‘dikalahkan’ (jika kalah) oleh anak kelas 5 SD harus mengakui bahwa dirinya tidak lebih pintar dari anak kelas 5 SD.

Terus apa hubungannya acara kuiz itu dengan auditor, apalagi dengan tukang sate?
Ah…aku sih cuma minjem judul aja.
Sementara judul di atas terinspirasi oleh kejadian aneh antara aku, temen kostku, dan seorang tukang sate padang.

Suatu sore…sepulang dari kantor, kami menyempatkan mencari makan di sekitar Pasar Benhil.
Kalo kita perhatikan, ketika kita berjalan menyusuri jalan di depan Pasar Benhil pada malam hari, maka akan ditemui beberapa tukang sate padang yang berjualan berdampingan satu sama lain. Setidaknya ada 4 gerobak tukang sate padang yang berjualan di daerah yang sama. Harga sangat kompetitif. Semua mematok harga Rp15.000 per porsi, dengan rasa (yang menurutku, sebagai orang yang kurang peka rasa) sama saja.

Yak…dan malam itu kami memutuskan makan sate padang, kami pun masuk ke salah satu tenda yang menjual sate padang.
Terpampang dengan jelas harga per porsi atau per setengah porsi di salah satu kaca gerobaknya.
“Pak, satenya satu porsi ya, dibungkus”, pesanku.
“Put, kalo satenya aja berapa ya?”, tanya temanku, yang tau aku udah pernah beli sate padang di daerah itu sebelumnya.
“Ga tau, tanya aja…”, jawabku.
“Pak, kalo satenya aja berapa?”, tanya temanku langsung pada si Bapa Penjual.
“Sembilan”, jawab si Bapa.
“Oh..boleh deh, dibungkus satenya aja ya Pak”, akhirnya temanku pun memesan.

Menunggu beberapa saat, pesanan kami pun siap. Dan kami menyerahkan uang Rp24.000.
Si Bapa Penjual menghitung ulang uang kami, dan menagih kekurangannya, “Kurang Mbak, harusnya Rp30.000”
“Lho? Kan yang satu satenya aja Pak?”
“Iya, harga seporsinya tetep Rp15.000”
Tanpa pikir panjang kami pun membayar kekurangannya, Rp6.000.

Beberapa langkah setelah keluar dari tenda tukang sate, kami mendiskusikan harga sate yang kami beli.
“Kok jadi Rp30.000 ya?”
“Iya, aku juga heran. Tadi kan Bapa-nya bilang, kalo satenya aja 9”
“Jadi kan harusnya kita cuma bayar Rp24.000. Rp15.000 buat sate+lontong, dan Rp9.000 buat yang satenya aja”
“Iya ya…ya udah yuk kita balik lagi”

Akhirnya kami kembali ke tenda si Bapa Sate…
“Pak, nanya lagi dong. Tadi kan katanya kalo satenya aja Rp9.000. Jadi harusnya kita cuma bayar Rp24.000 dong bukan Rp30.000?”
Ternyata Bapanya punya penjelasan lain,”Rp30.000 dong Mbak, yang satenya aja juga Rp15.000 seporsinya”
“Tadi katanya Rp9.000?”
“Maksud saya tuh, kalo beli satenya aja dapet 9 tusuk”
“Ooohhh……Lho?”

Jadi, siapa yang lebih pintar????