Pelajaran dari Masa Kecil

Leave a comment

Banyak buku parenting dan psikologi anak beredar di pasaran. Satu atau dua-nya pernah saya baca.

Beberapa bahasan kadang hanya saya baca selewat lalu, sehingga ketika sampai pada halaman terakhir, apa yang sudah dibaca di halaman-halaman sebelumnya seperti menguap begitu saja.

Sebenarnya akan lebih mudah diingat jika kita mengaitkan bahasan di buku tersebut dengan kejadian yang pernah kita alami di masa kecil.

Jika ditelusuri, kita pun sangat mungkin menemukan benang merah antara karakter dan sifat kita saat ini dengan cara orangtua mendidik kita di masa kecil.

Ada beberapa kejadian spesifik di masa lalu yang saya ingat hingga saat ini. Kejadian-kejadian ini saya simpulkan sebagai ‘kesalahan’ komunikasi orang-orang dewasa kepada anak-anak.

Peribahasa “Pengalaman adalah guru yang terbaik” menjadi relevan dikaitkan dengan tulisan ini. Kejadian-kejadian itu menjadi sedikit bekal bagi saya untuk belajar berkomunikasi yang baik dengan anak-anak.

Kejadian 1

Waktu itu mungkin saya masih TK atau SD kelas 1 (lupa…). Mamah tidak shalat karena sedang menstruasi, sementara saya tidak pernah melihat Bapa tidak shalat karena alasan yang sama.
Lalu saya bertanya, “Laki-laki mensnya kapan?”
Sambil lalu Mamah menjawab, “Kalau laki-laki mah mencret.”
Saya menganggap jawaban itu sebagai kebenaran dan menyimpannya dalam memori selama bertahun-tahun.

Benar, anak-anak itu sangat polos. Daripada becanda dengan menyampaikan fakta yang tidak benar lebih baik memberi penjelasan ringan yang bisa dipahami.

Kejadian 2

Waktu itu masih usia SD atau TK (lupa…). Di rumah seorang saudara orang-orang sedang riweuh menyiapkan masakan untuk acara hajatan. Saya dan sepupu-sepupu bermain-main dengan ceria. Karena orang dewasa merasa terganggu, saya yang menaiki sandaran sofa ditegur, “Ngga ah ngga lucu… Ngga lucu…” dengan intonasi yang terdengar pura-pura marah.
Seketika saya terdiam, sakit hati dan ingin menangis.
Seharusnya ada cara lain untuk menegur kan? Saya merasa kata “Ngga lucu… Ngga lucu…” itu lumayan mematahkan kreativitas dalam bermain.

Kejadian 3

Waktu itu seseorang pernah bertanya, “Cita-citanya mau jadi apa?”
Saya jawab, “Guru TK”
Si penanya malah mempertanyakan, tanpa memberi saya kesempatan menjelaskan, “Kok cuma guru TK? Yang lain dong”. Padahal maksud saya adalah saya mengajar di TK yang saya dirikan sendiri. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi menyebut guru TK sebagai cita-cita, walaupun dalam hati terbayang-bayang memiliki TK sendiri, dengan banyak mainan disana-sini.

Jadi… jangan mematahkan cita-cita anak. Seringkali anak-anak hanya butuh didengarkan. Akan lebih baik jika si penanya bertanya, “Mengapa ingin jadi guru TK?”. Ya kan?

Kejadian 4

Waktu itu malam hari, listrik di rumah sedang mati. Saya, kakak, adik, dan Mamah berkumpul di ruang tengah sambil bercerita-cerita. Ngobrol-ngobrol-ngobrol, lalu saya berimajinasi pergi ke kota sendirian naik kendaraan umum. Waktu tempuh ke Kota dari tempat tinggal kami waktu itu sekitar 1 jam. Cukup jauh untuk seorang anak kelas 1 SD bepergian sendiri, walaupun hanya dalam imajinasi.
Alih-alih mendukung, Mamah menakut-nakuti tentang tersesat di kota, ngga bisa pulang, lalu menggelandang jadi anak jalanan.
Semalaman itu saya jadi sulit tertidur, bahkan rewel dan menangis karena membayangkan jadi gelandangan.

Seperti anak-anak lain pada umumnya, masa kecil saya pun diwarnai berbagai imajinasi. Kadang orang dewasa lupa pernah jadi anak kecil yang suka berimajinasi juga, sehingga secara tak sadar mematahkan imajinasi anak-anak karena menganggapnya mustahil.

Kejadian 5

Waktu itu mungkin saya masih kelas 3 atau 4 SD, adik saya masih TK.
Sore itu saya mengajak adik ikut ke rumah guru untuk mengerjakan PR.
Kebetulan guru itu punya anak batita. Di ruang depan rumah guru terpajang sebuah wayang. Adik mengubah-ubah suaranya lalu mengajak ngobrol si anak guru dengan memainkan wayang itu.
Adik beberapa kali mengucapkan kata ‘silaing’, dalam bahasa Indonesia artinya ‘kamu’, yang sering dia dengar dari dalang sungguhan jika sedang memainkan wayang. Dan si guru serta merta menegur, “Jangan bicara kasar ya, nanti diikutin sama adiknya”
Adik saya tampak tidak enak hati, lalu tiba-tiba terdiam sampai waktu pulang.
Saya sebagai kakaknya sebenarnya tersinggung, karena saya tahu betul adik saya tidak pernah berkata kasar di rumah. Lagipula dia menggunakan kata yang dianggap kasar itu karena dia sedang bermain peran sebagai wayang.
Saya merasa seharusnya sebagai guru, si ibu guru tersebut punya cara yang lebih baik untuk menegur adik saya.

Kejadian 6

Saya agak lupa kejadiannya saat pelajaran agama di sekolah atau saat mengaji sore di masjid dekat rumah. Yang saya ingat waktu itu guru sedang menjelaskan shalat 5 waktu. Hanya saja saya merasa beliau memilih kata-kata yang tidak tepat dengan mengatakan (kurang lebih) begini, “Kalau belum bisa mengerjakan 5 waktu, kerjakan 3 waktu aja udah bagus”.
Saya menangkap itu sebagai ‘keringanan’, bahwa shalat 3 waktu sudah cukup. Itu pun yang menjadi excuse bagi saya ketika dulu sering belang betong shalatnya.

Apa jadinya kalau sampai sekarang saya nggak dapat pencerahan? Bisa-bisa saya dikira sesat… ckckck…

Kejadian 7

Waktu kelas 1 atau kelas 2 SD saya dan beberapa teman pernah kabur dari kelas karena melihat mobil puskesmas masuk halaman parkir sekolah. Kami takut karena takut disuntik.

Usia sebelum TK, mungkin masih 3 tahun, saya sangat ketakutan setiap pergi ke rumah seorang saudara karena harus melewati komplek tentara yang ada pos jaganya dengan sejumlah tentara berjaga-jaga sambil menenteng senjata.
Saya sembunyi di balik punggung Mamah karena takut ditembak.

dst… dst…

Familiar dengan situasi seperti itu? Sudah saatnya anak sekarang tidak ditakut-takuti dengan sosok dokter, tentara, polisi, hantu, bahkan orang gila.

Kejadian-kejadian lain … hmm … Nanti saya ingat-ingat lagi.

Teringat salah satu renungan di sebuah buku parenting, bahwa anak-anak kita akan hidup pada jaman yang berbeda dengan kita, maka didiklah anak sesuai jamannya. Artinya, cara orangtua mendidik kita dulu belum tentu cocok jika diterapkan pada anak-anak kita sekarang. Maka dari itu, sebagai orangtua mesti terus meng-upgrade diri, dan yang terpenting membekali anak-anak dengan ilmu agama yang sudah terbukti tak lekang oleh pergantian jaman.

Kembali ke Dunia yang Bising

2 Comments

Sejak kejadian pemerasan handphone hampir 5 bulan yang lalu, saya bertahan dengan satu-satunya handphone yang tersisa, sebuah handphone low end dengan fungsi dasar hanya sms dan telepon. Beberapa fitur hiburan diantaranya hanya games sangat sederhana sekali, radio, serta MP3 player, dimana saya pun sangat jarang bahkan tidak bisa menggunakannya. Radio harus menggunakan headset sebagai antena, sementara headset saya hilang entah dimana, dan untuk menggunakan MP3 player setidaknya saya harus punya memori eksternal cukup untuk menampung beberapa puluh lagu, mengingat memori internal handphone yang sangat tidak memadai, sementara memori eksternal pun saya tak ada. Maka yg saya manfaatkan pada akhirnya cukup … tidak lebih dari … hanya … sms dan telepon … sahaja. Titik.

Otomatis, semua aktivitas online secara mobile terhenti. Dari social media, atau sekedar update-update berita. Saya hanya online di kantor, itu pun kurang lebih hanya satu jam sehari, dan hanya membuka portal berita online atau beberapa situs favorit. Maka selama hampir 5 bulan tersebut seolah-olah terputuslah hubungan saya dengan kehidupan dunia maya.

Satu sisi, saya menjadi tidak tahu berita terbaru dari teman-teman saya, mungkin juga saya melewatkan beberapa pesta pernikahan atau kelahiran anak teman-teman saya, karena sudah tidak jamannya lagi mengabari lewat sms atau telepon, kecuali orang-orang tersebut cukup dekat dengan kita.

Sisi yang lain, ada ketenangan yang saya rasakan. Saya merasa lepas dari kebisingan dunia maya. Tidak terdengar lagi kicauan-kicauan yang kadang memekakkan. Tidak ada lagi ocehan berita pribadi berseliweran. Tidak ada lagi diskusi-diskusi di berbagai forum atau grup yang menyita waktu saking asyiknya.

Bukan saya tidak peduli apalagi asosial, hanya ada saat saya membutuhkan waktu untuk diri sendiri, bercermin hanya pada diri sendiri, dan hal itu tidak akan benar-benar didapat jika kita terus melihat apa yang diperbuat dan dipikirkan orang lain. Ada saatnya saya butuh dunia saya berjalan dalam ritme yang lebih lambat, dan itu tak akan terwujud jika saya terus menerus menerima informasi baru setiap saat, tanpa saya sempat menyaringnya satu per satu, mana yang memang saya butuhkan atau tidak. Dengan rehatnya sementara dari dunia maya, saya bisa memilih dan mencari informasi yang ingin saya tahu saja.

Terhitung sejak 9 Maret lalu, saya kembali ke dunia saya 5 bulan lalu. Berbagai informasi ada dalam genggaman tangan hanya dengan menggerakkan dua jempol di atas papan ketik. Dunia terbuka seluas-luasnya di depan mata. Dalam kaitannya dengan aktivitas di dunia maya, maka sebaiknya saya lebih bijak dengan tindakan, pikiran, dan kata-kata saya. Jika tidak bisa memberikan manfaat bagi orang banyak, maka jangan merugikan, atau lebih baik diam, agar terhindar dari kesia-siaan.

Bahagia Seperti Mereka??

Leave a comment

Yang ingin saya lakukan saat ini adalah, secara random menarik orang-orang yang lalu lalang di depan saya, dan menanyai mereka satu per satu, apa masalah terberat yang sedang dihadapinya saat ini? Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang luput dari masalah kan? Sekecil apapun itu. Tapi besar kecil masalah tergantung pada kebesaran jiwa orang yang menghadapinya, kan?

Sering ngga sih kalo suatu saat mendapat masalah, apalagi kalo masalahnya rada-rada unik dan mirip-mirip sinetron :P, kita mengeluh, “Kenapa saya ya Tuhan (yang mendapat masalah ini)???”, seolah-olah kita orang paling menderita sak isi dunya dan akherat .. hehe

Tapi pernahkah kita melakukan hal sebaliknya? Misal suatu hari dapet kebahagian besar yang tak disangka-sangka, lalu kita mempertanyakan, “Kenapa saya ya Tuhan (yang mendapat kebahagiaan ini)???”. Enggak kan?

Lalu, kenapa mesti mengeluh ketika suatu saat kita mendapati masalah datang bertubi-tubi, lalu melupakan bahwa pada saat yang sama, atau saat-saat yang lalu kita pernah mendapatkan suatu kenikmatan yang langka, yang banyak orang menginginkannya tapi tidak setiap orang mendapatkannya.

Kuncinya kan bersabar dan bersyukur, Put???

When your day is long and the night
The night is yours alone
When you’re sure you’ve had enough of this life, well hang on
Don’t let yourself go
Everybody cries and everybody hurts sometimes

Sometimes everything is wrong
Now it’s time to sing along
When your day is night alone … hold on
If you feel like letting go … hold on
When you think you’ve had too much of this life, well hang on

Everybody hurts
Take comfort in your friends
Everybody hurts
Don’t throw your hand. Oh no
Don’t throw your hand
If you feel like you’re alone, no, no, no, you are not alone

Everybody hurts
You are not alone

(R.E.M – Everybody Hurts)

Everybody hurts, kan? Aku, kamu, dia, dan dia …

Merenung…

Leave a comment

Sehari yang lalu aku mendapat kabar gembira dari seorang teman SMA tentang rencananya menikah pada tanggal 22 November depan.
Menikah dengan seseorang yang telah mengikatnya dalam hubungan pertunangan sejak beberapa tahun yang lalu….Wow…luar biasa…aku bahkan tidak pernah berpikir untuk bertunangan selama itu.
Sayang, agak kurang memungkinkan memenuhi undangannya mengingat lokasinya yang nun jauh di Jambi sana.
Pernahkah terbayangkan di sela kebahagiaan menggenapkan dien itu ada suatu peristiwa yang harus memisahkan kita dengan seseorang yang sangat kita sayangi, seseorang yang sangat mengenal kita sejak kita dilahirkan ke dunia.
Tadi pagi aku menerima sebuah SMS dari seorang temanku yang lain, menyampaikan berita duka tentang meninggalnya Ibunda temanku yang akan menikah itu, tadi pagi, karena sakit.
Kehilangan seseorang yang sangat kita cintai pada suatu waktu, dan mendapatkan seorang pendamping seumur hidup pada saat yang hampir bersamaan. Mampukah kita tetap bersyukur? Semoga kamu tetap diberi kekuatan ya Asti Sayang….

Jadi teringat kejadian beberapa minggu yang lalu.
More

Qum!!!

Leave a comment

Ramadhanku tahun ini tidak seindah tahun lalu….

Banyak waktu yang kulewatkan

Tanpa bersujud kepadaNya,

Tanpa tangis penyesalan karena dosa melanggar perintahNya,

Tanpa lantunan surat-surat cinta dariNya,

Tanpa tasbih memuja kesucianNya,

Tanpa tahmid mensyukuri nikmatNya,

Tanpa takbir mengagumi kebesaranNya,

Lancang sekali, seolah-olah aku akan hidup beribu tahun lagi.

Apakah sisa umurku akan cukup untuk membuatku kembali ke tempat terbaik di sisiNya? Tidak..tanpa kasih sayangNya. Dan ketika Dia membuka pintu kasihNya lebar-lebar, aku hanya termangu di depannya tanpa melakukan apapun.

Sepertiga Ramadhan tahun ini telah berlalu…

Berlalu tanpa kucatatkan amal dalam setiap detiknya.

Astaghfirullah….aku harus segera bangun. Qum!!!!

Toxic Dream

Leave a comment

Ketika mata ini sulit terpejam, apalagi yang bisa kulakukan selain menulis.
Walaupun tak sedikit pun isinya yang penting, setidaknya aktivitas ini bisa mengalihkan perhatianku dari aktivitas-aktivitas lain yang tidak berguna, seperti memikirkan sesuatu yang belum tentu menjadi kenyataan.

Teringat pesan pendek dari seorang sahabat, “Kau tahu apa bedanya ‘pemimpi’ dengan ‘pemimpin’?”
Pesan itu memang tidak ditujukan padaku, keterbatasan komunikasi karena perbedaan pemberi jasa komunikasi mungkin menjadi alasan kuat mengapa aku tak mendapat sebait pertanyaan itu.
Seorang sahabat mencoba menjawab pertanyaan itu,”Pemimpin adalah seorang pemimpi yang berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya, tidak seperti Pemimpi yang terlena dengan mimpi-mimpinya tanpa ada usaha untuk mewujudkannya.”

Mimpi…ya…mimpi adalah sesuatu yang positif menurutku. Seseorang yang hidup tanpa mimpi, seolah-olah berjalan tanpa pelita, tak ada tujuan, mengikuti kemanapun kaki melangkah. Tapi ketika mimpi-mimpi itu sudah melampaui batas ‘kewajaran’, yang muncul hanyalah angan-angan. Seorang pemimpi adalah seseorang yang hidup dengan mimpi yang hanya berupa angan-angan. Dia terbius oleh angan-angannya sendiri tanpa berusaha menghadapi dunia nyata yang tak selamanya seindah angan-angan. Tapi seorang pemimpin adalah seorang pemimpi yang tak gentar menghadapi dunia nyata, dan berusaha merealisasikan mimpi-mimpinya.
Saat ini, aku merasa bukanlah seorang pemimpi, bukan pula seorang pemimpin. Aku terlalu banyak berangan-angan, tapi ada keinginan yang kuat untuk melepaskan diri dari angan-angan tidak berguna itu dan kembali ke dunia nyata yang menunggu dengan segala lika liku kehidupannya. Angan-anganku sia-sia, seringkali membuatku cemas, dan melemahkan imanku…ketika ku terbangun, aku menemukan diriku semakin rapuh karena kebahagiaan itu ternyata hanya dalam angan-angan. Astaghfirullah…
Ketika berbagai skenario kehidupan kususun dalam angan-anganku…ada perasaan ragu, akankah suatu saat skenario itu menjadi kenyataan. Tapi aku terlena…aku menikmatinya, aku merasa bahagia ketika imajinasi kehidupan itu terputar dalam otakku. Aku sadar ini negatif, dan aku merasa bersyukur karena masih menyadari ini adalah hal yang negatif. Aku bisa memperbaiki diri, menata hati, dan menghadapi dunia sebagai pemimpin, bukan pemimpi.

Gelap…

Leave a comment

05.20 am, Di tengah kegelapan fajar…

Ada keinginan untuk melakukan aktivitas lain. Tapi…(lagi-lagi) keputusan PLN untuk memadamkan listrik telah mengacaukan rencanaku pagi ini.

Menuju jam setengah 6 pagi di musim seperti ini (yang entah musim apa, karena beberapa tahun terakhir ini, tidak ada perbedaan yang jelas antara musim hujan dan kemarau), membuat hari sangat gulita. Lebih gelap dari malam. Yang bisa kulihat jelas saat ini hanyalah stiker-stiker bintang berpendar yang kutempel di dinding.

Seandainya ini malam hari, tentu aku masih bisa melihat bulan yang senantiasa setia memantulkan cahaya matahari.

Seandainya ini malam hari, tentu aku pun masih bisa, melihat kerlip bintang nyata di langit hitam malam hari.

Tapi ini pagi…pagi di musim ‘ga jelas’ dimana matahari terlambat menyapa kami di pagi hari, namun dia mengompensasikan keterlambatannya dengan menambah jam kerja di sore hari.

Pagi ini, di tengah gelapnya pagi, aku belajar mensyukuri satu hal, yaitu syukur atas nikmat kemampuan melihat yang aku miliki. Pagi ini aku merasa buta, gelap, tapi seiring dengan berlalunya waktu, tentu aku masih bisa melihat seisi dunia ini dengan bantuan matahari. Aku membayangkan, apa yang dirasakan oleh saudara-saudaraku yang tidak memiliki kemampuan untuk melihat. Mungkin bagi mereka, siang dan malam tak ada bedanya. Yang terlihat hanya gelap.

Older Entries