Akhtar dan Kereta Api

Leave a comment

Akhtar sukaaa sekali menggambar. Dan tema gambar favoritnya selain mobil, adalah kereta api, sesekali menggambar yang lain juga. Sampai bosan saya ngeliatnya, tapi anaknya tampak enjoy, maka saya memilih menahan diri dari berkomentar, “Bosen…”. 

Gambarnya standar… ia akan membuat gerbong-gerbong kereta api, dalam satu halaman kertas bisa membuat beberapa rangkaian kereta api.

Namun yang saya perhatikan, gambarnya mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Dari yang dulu hanya menggambar gerbong-gerbong berbentuk oval dengan dua roda di bawahnya, lalu bentuknya semakin ‘jelas’ dengan tambahan jendela-jendela. Lalu jendelanya dibuat lebih variatif di setiap gerbongnya, gerbongnya pun mengalami perkembangan bentuk, dari yang hanya berbentuk persegi panjang, kadang ditambah ‘aksesoris’ tambahan di atasnya. 

Kemudian, Akhtar mulai memberi nama untuk kereta-keretanya. Awalnya saya yang menuliskan nama-namanya di atas gambar setiap rangkaian kereta api, namanya aneh-aneh… namun sekarang tak jarang Akhtar yang menuliskan keterangan nama kereta dengan nama-nama yang real. Argo Parahyangan, Argo Bromo Anggrek, Taksaka, Argo Wilis, Cirebon Ekspress, kereta barang… nama-nama itu dibacanya dari buku tentang kereta api, selain karena pengalamannya juga naik beberapa jenis kereta api.

Sekarang-sekarang, sering saya tanya hasil akhir gambarnya. Ternyata dari puluhan lembar gambar kereta api, ceritanya bisa berbeda-beda. 

Dari mulai latar tempatnya yang bisa di berbagai lokasi stasiun (paling sering Stasiun Padalarang) lengkap dengan penjelasan dimana lajurnya. Atau jenis gerbongnya, ia bisa tunjukkan mana gerbong eksekutif, bisnis, ekonomi, gerbong makan, bahkan gerbong mesin. Yang terbaru, ia menuliskan “DJARUM” dan “COKLAT” pada 2 badan kontainer berurutan yang diangkut rangkaian kereta barang, entah dimana pernah melihatnya…

Dll dst dsb dtt cpd ydd ybb… 

Peniru

Leave a comment

​Lihat susunan mobil yang berbanjar melingkar pada foto di atas?

Ahnaf yang menyusunnya… persiiissss seperti yang dilakukan Akhtar dari mulai mengenal mobil-mobilan kadang sampai sekarang. Bedanya… dulu Akhtar melakukannya tanpa melihat seorang pun yang dijadikan contoh. Sementara Ahnaf meniru Akhtar plek plek plek, dan bisa melakukannya lebih awal dan lebih rapi di usianya yang 1,5 tahun. 

Begitu pun Ahnaf mampu lebih awal menyusun mainan balok-balok ini, karena sering melihat Akhtar melakukannya.  


Pun susunannya lebih teratur, misal ia akan menyusun balok-balok ke atas yang ukurannya sama. 

Hal ini saya catat sebagai salah satu ‘keenakan’ punya anak lebih dari satu. Sang adik belajar lebih cepat mengerjakan sesuatu dengan menyontoh dari kakaknya, jadinya emak tak perlu mengajarkannya 2 kali, hahaha.

Contoh lainnya, soal pipis di kamar mandi. Kalau Akhtar pengen pipis, Ahnaf langsung aja ‘riweuh’ mengejar Akhtar ke kamar mandi, minta dibukain popoknya, walaupun sekedar buka popok tapi ga pipis sama sekali, sebenarnya hal ini bisa jadi momentum untuk mengenalkan toilet lebih awal kepada Ahnaf… masalahnya Akhtar ga mau pipis bareng Ahnaf.. katanya malu. Jadi akhirnya tak jarang drama kamar mandi terjadi, yang memakan 1 korban menangis. Hadeuh…

Dengan rumus “Adik meniru kakak” itu, berarti saya kudu lebih ketat menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik kepada Si Sulung, karena kelak dia akan menjadi role model untuk adik-adiknya. 

Gowes

Leave a comment


Akhtar dibelikan sepeda sekitar 2 tahun yang lalu. Hari itu tanpa direncanakan sebelumnya kami membelikan Akhtar sepeda roda 3 di sebuah toko sepeda kecil di Pasar Tagog, Padalarang. 

Akhtar sedang dalam masa “sulit” ditenangkan waktu itu karena beberapa hal… pertama, baru disapih, dan… entah ada hubungannya atau ngga, saya lagi hamil Ahnaf yang menyebabkan emosi yang %&#$@&$^ (apa coba..). Emosi tidak baik itu menular pada Akhtar sehingga Akhtar jadi sering ikut uring-uringan.

Ternyata, sepeda itu tidak cukup menenangkan Akhtar. Akhtar masih sering tantrum dan rewel sampai batas waktu yang tidak saya ingat kapan. Hehe. Bahkan kehadiran sepeda itu bagai buah simalakama bagi saya, karena ada masa dimana Akhtar terus meminta main sepeda, sampai jauuuh… susah berhenti. Kan cape ya Cyin. Puncaknya ketika suatu hari, saya meninggalkan sepeda di pinggir sawah lalu menggendong Akhtar yang tantrum pulang karena situasi yang serba salah. Maju kena mundur kena. 

Sepeda itu baru terasa sangat efektif ketika dibawa boyong ke Ciledug. Sesekali jika bosan di kontrakan, saya akan mengajak Akhtar berkeliling, yah sampai radius 1 km dari kontrakan, plus Ahnaf di gendongan. Tapi sekarang udah jarang, kecuali mendesak, seiring dengan bertambah beratnya Ahnaf, dan Akhtar jarang mau bergantian naik sepeda dengan Ahnaf. 

Selama memiliki sepeda itu, tidak pernah sekalipun Akhtar mengayuh sepedanya sendiri. Ketika anak-anak lain ada yang bahkan sudah bisa mengayuh sepeda yang lebih besar sejak usia 3 tahun, Akhtar masih saja harus saya dorong-dorong di atas sepeda roda tiganya. Sering saya memotivasinya mengayuh sendiri, tapi “Ga bisa… “, katanya, dan ga mau mencoba untuk bisa juga saya lihat. Ya sudah saya biarkan…

Sampai menginjak usia 4 tahun, ketika ia mulai sering keluar main bersama teman-temannya, gemes juga saya lihat Akhtar ‘mengendarai’ sepeda dengan menolak-nolakkan kakinya ke tanah. Sekali lagi saya suruh Akhtar latihan mengayuh, dengan tangan saya bantu kakinya mengayuh, tetap tidak bisa. Sedikiiiit khawatir juga sih, karena menurut saya mengayuh sepeda adalah kemampuan motorik kasar yang selazimnya dimiliki anak seusia Akhtar.

Tadi pagi, tiba-tiba Akhtar masuk rumah dengan excited… “Mim Akhtar tadi boseh sepedanya bisa maju sedikiit”.. lalu saya menanggapi dengan ekspresi yang tak kalah excited

Buru-buru Akhtar membawa masuk sepedanya dan mempertontonkan kemampuan barunya di depan saya. Tak henti saya bersyukur dan memuji-muji Akhtar, membuat ia bertambah semangat mengayuh. Lalu, ia meminta latihan di jalan depan rumah.

Ternyata, hanya soal waktu, anak-anak akan mendapatkan momennya masing-masing untuk menguasai suatu kabisa baru. Tugas orangtua hanya mengarahkan, dan berdiri paling depan sebagai suporter.

19 Bulan Membersamaimu

Leave a comment

Ahnaf menjelang 19 bulan sekarang. Beberapa perkembangannya antara lain:

1. Memahami beberapa perintah sederhana, seperti: tutup pintunya, masukkan baju kotor ke keranjang, makannya sambil duduk, simpan gelasnya di meja, loncat, beresin mainannya.

2. Membuka-buka buku berkertas tipis tanpa sobek. Sebenarnya hal ini sudah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir. Karena saya tidak menyediakan boardbook, maka Ahnaf pun terbiasa dengan buku-buku berkertas tipis. 

3. Sehubungan dengan buku juga, Ahnaf sudah punya buku favorit. Kadang mengambilnya sendiri dari boks buku, kadang meminta bantuan. Buku favorit Ahnaf ya yang sering dibaca Akhtar juga, diantaranya komik muslim cilik Sayangi Bumi. Dia akan menunjuk-nunjuk halaman buku dan (terdengar) berkata “Bca bca…” meminta kita membacanya. Salah satu halaman favoritnya adalah yang ada gambar kucingnya.

4. Memegang pensil/ pulpen dengan (lumayan) benar. Keterampilan ini tidak pernah saya ajarkan khusus. Saya tidak secara sengaja memberi Ahnaf pensil. Namun karena sering melihat Akhtar menggambar/ menulis jadi ia sendiri yang berinisiatif meminta, dan saya perhatikan cara memegangnya sudah benar. Lagi-lagi… saya kira karena ia meniru Akhtar.

5. Mengangguk-angguk tanda setuju. “Ahnaf mau makan?” Angguk-angguk. “Ahnaf mau nenen?” Angguk-angguk. “Ahnaf mau mimi?” Angguk-angguk. “Ahnaf ngantuk, iya?” Angguk-angguk. Kadang saya merasa ia asal mengangguk-angguk saja setiap mendengar kalimat pertanyaan yang serupa, baik paham maupun tidak. Haha.

6. Melanjutkan kata-kata… dengan suku kata “Bah..” hehe. Misal, saya bacakan doa sesuatu, lalu menyisakan suku kata terakhir untuk Ahnaf lanjutkan, maka apapun doanya akan diteruskan “Bah..” oleh Ahnaf. Kenapa? Karena baru itu salah satu kata yang bisa diucapkannya dengan fasih, selain papah (sapaan untuk Papnya), bah bah (sapaan untuk Abahnya), mam mam (maksudnya ngASI), dan beberapa bahasa bayi lainnya.

Di usianya yang hampir 19 bulan, memang Ahnaf tidak memiliki kosakata sebanyak anak-anak lain seusianya. Bahkan, di lebaran kemarin saya bertemu anak perempuan seusianya yang begitu ‘fasih’ menirukan apapun yang diucapkan oleh orang dewasa, dan dia sudah bisa mengucapkan nama suatu benda atau aktivitas, serta menirukan suara hewan. Sementara Ahnaf baru bisa menunjukkan keinginannya dengan bahasa tubuh dan bahasa bayinya, misal dengan menarik tangan kita ke arah yang ia maksud. 

Tapi… ya ga apa-apa, pelan-pelan aja ya Dek… sejauh ini sih tidak menjadi kendala dalam komunikasi kami. Toh Akhtar pun kemampuan berbicaranya baru berkembang pesat setelah usia 2 tahun.

7. Dari sisi sosialnya, Ahnaf sekarang sudah mulai terbuka dengan lingkungannya. Misal, sebelumnya Ahnaf selalu enggan didekati salah satu paman saya, reaksinya akan menangis, menjauh, atau memeluk kita dengan ekspresi takut. Sekarang, bahkan tanpa ditemani pun sesekali Ahnaf berkunjung ke rumah si paman tersebut, mengetuk-ngetuk pintu sendiri dan kadang betah berlama-lama disana sambil ngemil atau menonton tv.

8. Dari sisi emosinya, sekarang sudah mulai bisa memaksakan kehendaknya, dan (sedikit) tantrum jika keinginannya tidak atau terlambat dipenuhi. Saya kira bayi anteng kayak Ahnaf gak akan se’tantrum’ itu kalau nangis, ternyata sama aja.. haha. Juga sudah bisa berebut mainan dengan kakaknya. Sebelumnya ia cenderung mengalah/ tidak berbuat apa-apa kalau mainannya direbut paksa, sekarang mulai timbul egonya… kadang melawan dengan cara memukul dan menarik-narik rambut Akhtar. Bahkan belakangan menunjukkan kecemburuannya juga jika saya agak mengabaikannya, suka terlihat kesal jika Akhtar duduk terlalu dekat dengan saya, atau melihat saya mendahulukan Akhtar.

9. Dari sisi kemandiriannya, Ahnaf sedikit demi sedikit mulai diajari pipis di WC. Kadang berhasil, tapi lebih banyak juga gagal karena popok terlanjur basah pas dibuka di kamar mandi. Hal ini dilakukan demi tidak mengulang proses TT seperti Akhtar yang molooor hingga ia menjelang usia 3 tahun.

Selain itu, beberapa hal sudah bisa dikerjakannya sendiri seperti memakai sendal (sudah berjalan beberapa bulan), memasukkan baju kotor ke keranjang, mengambil dan menyimpan gelas minum sendiri, kadang mengambil air sendiri dari dispenser. 

Ya… keberhasilan-keberhasilan ‘kecil’ yang tidak bisa diabaikan, dan tidak bisa dibandingkan antara 1 anak dengan anak yang lain. 

Semoga Ahnaf senantiasa tumbuh dan berkembang dengan sehat. Kelak menjadi seorang muslim yang kuat dan bermanfaat bagi banyaaak orang. Aamiin.

Luv luv… 

Mim, Suka Ga?

Leave a comment

Sebelumnya saya pernah bercerita tentang Akhtar yang suka mengajukan pertanyaan berulang.

Saya pun bercerita tentang Akhtar yang hobi memberi pertanyaan beruntun.

Nah, sekarang Akhtar senang mengombinasikan keduanya. Akhtar senang mengajukan pertanyaan beruntun yang berulang.

Salah satu yang hampir selalu ditanyakan tiap hari adalah ini… (lihat gambar)

Akhtar akan bertanya, “Mim, suka mobil ini ga?” katanya sambil menunjuk mainan mobil-mobilan yang disusun berbaris.

Dan saya, harus menjawab, “Suka”. Sesekali saya jawab “Ga suka”, namun dia akan mengulang-ulang pertanyaannya hingga saya menjawab “Suka”, sesuai keinginannya.

Lalu… Pertanyaan berulang dan beruntun pun dimulai..

“Kenapa suka?”

“Karena bagus”

“Kenapa bagus?”

“Karena rapi”

“Kenapa rapi?”

“Karena Akhtar pintar menyusunnya”

“Kenapa Akhtar pintar?”

“Karena Akhtar sering memainkannya”

“Kenapa Akhtar sering mainkan?”

“Karena Akhtar suka”

“Kenapa Akhtar suka?”

“Karena kan mainan kesukaan Akhtar”, saya mulai kehilangan ide menjawab.

“Oh”, tutupnya singkat

Saya menghembuskan nafas, lega…

***

Ada lagi…

Polanya kurang lebih sama dengan percakapan di atas, dimulai dengan…

“Mim, suka ini ga?”

“Suka”

“Kenapa suka?”

“Karena bagus”

“Kenapa bagus?”

“Karena berwarna-warni”

“Kenapa berwarna-warni?”

“Karena diberi pewarna”

“Kenapa diberi pewarna?”

“Kan biar bagus”

Nah lho… muter-muter… bingung kan? Apalagi sayaaa.. ^^’

***

Bukan Bayi Lagi

Leave a comment

Sejak dinyatakan resmi bisa berjalan dua bulan terakhir, tingkah Ahnaf tidak lagi seperti ‘bayi’. Jangkauan jelajahnya semakin luas, bahkan sampai kamar mandi. Beberapa kali lepas dari pengawasan, dan ketika dicari ke semua ruangan, ternyata Ahnaf sedang berdiri hendak naik ke atas kloset. 

Bahkan beberapa kali saya pernah membatalkan shalat karena Ahnaf menjauh dari area saya shalat. Karena pernah satu kejadian dia kabur ke kamar mandi saat saya shalat… untung ga jatuh, untung lantainya ga basah, untung dan untung… alhamdulillah.

Pun sekarang teu kaop lihat tangga, jojodog, boks, dan sabangsaningnya, biasanya langsung pengen manjat. Teu kaop lihat pintu depan terbuka, ya pengen keluar. Teu kaop lihat pintu apapun terbuka, ya pengen nutup. Seringkali masuk kamar sendiri, menutup pintu dari dalam, lalu teriak-teriak sambil menggedor-gedor pintu minta dibukakan. Pengecualian, ketika mengantar Papnya berangkat kerja, setelah mengikuti ‘ritual’ Akhtar (“Daah… nanti pulang semalem-malem ya.. HPnya dibawa ga? Nanti bisa telepon Akhtar ga? Dst dsb”), tanpa disuruh Ahnaf akan mendahului masuk rumah lalu menutup pintu. 

Ahnaf pun semakin menunjukkan ‘keras kepala’nya. Sudah bisa memaksakan kehendak dan meronta-ronta jika keinginannya tidak terpenuhi. Semakin banyak yang bisa ditirukannya dari orang-orang besar di sekelilingnya. ‘Baca’ buku dengan mulut berkomat kamit, atau menggerak-gerakkan kedua jempolnya di atas layar handphone, menirukan gerakan shalat, dan ikut tertawa dengan mulut terbuka lebar dan hidung ‘menyungging’ ketika melihat orang-orang tertawa. 

Pinternya Ahnaf, kalau saya mau membersihkan pup atau mengajaknya mandi, saya cukup membaca doa masuk kamar mandi, lalu tanpa digandeng atau diarahkan Ahnaf langsung berjalan sendiri menuju kamar mandi.

Dua anak dua rupa. Dari bibit yang sama, di bawah asuhan orangtua yang sama, Akhtar dan Ahnaf berkembang sangaaaat berbeda. Ahnaf itu lebih kaleeeeem dari Akhtar, tidak menjerit-jerit seperti kakaknya, tetap cool dan irit senyum jika bertemu orang lain. Tidak se-gedebaggedebug Akhtar, dan dalam banyak hal sangat kooperatif, misalnya dengan tidak menambah runyam suasana saat Akhtar nangis. 

***

Semoga duoA menjadi anak-anak yang kuat menghadapi zaman mereka, zaman yang semakin mendekati akhir. Menjadi muslim yang kokoh imannya, lurus aqidahnya, baik akhlaknya, bermanfaat bagi sesama… dan masih banyaaaak doa-doa tak terputus untuk mereka (serta anak dan keturunannya). 

Mendadak eungap…


Apa-Apa Sendiri

2 Comments

Sudah sejak 2 bulanan terakhir, Akhtar masuk fase ‘ingin melakukan segala hal sendiri’ dan ‘ingin selalu dilibatkan dalam hampir semua pekerjaan rumah’.

Akhtar sekarang lebih suka memakai baju sendiri. Mulanya ingin memasang kancing baju sendiri (dengan bantuan), lalu bertahap mau memakai semuanya sendiri, dari mulai baju dalam sampai luarannya. Ada masa dia merasa frustasi karena maunya mengerjakan sendiri tapi belum sempurna melakukannya, namun tidak mau dibantu. Akhirnya apa? Ya nangis… biarlah, namanya juga belajar ya Nak…

Sedikit-sedikit, urusan kamar mandi pun ingin dia lakukan sendiri. Seperti, menyabuni kaki sendiri (kalau badan masih dengan bantuan saya) dan menyiram bekas pipis dan pupnya sendiri. Pernah satu kali, saya siram bekas pup Akhtar sampai bersih… akibatnya dia nangis lalu memaksa diri harus pup lagi, sementara ‘stok’ pup di perutnya sudah habis, demiii.. nyiram pup sendiri..  wkwk…

*

Sementara dalam hal pekerjaan rumah, setelah beberapa kali kejadian dia nangis karena nggak diajak mengerjakan tugas rumahan, akhirnya saya hampir selalu mengajak Akhtar diantaranya untuk…

… memasukkan baju kotor ke mesin cuci, dan mengeluarkan baju bersih dari mesin cuci

… menjemur baju-baju kecil 

… menakar dan mencuci beras sendiri, plus menekan tombol ‘cook’ pada rice cooker

Dan.. apalagi ya…

*

Kemudian, dalam hal sholat pun Akhtar harus selalu diajak. Kadang sholatnya dobel. Misal, setelah sholat berjamaah di masjid, dia akan ikut sholat lagi di rumah bersama saya. 

Suatu waktu, saya pernah ngasih tahu soal sholat ba’da Maghrib dan ba’da Isya, dan sekarang kadang-kadang setelah sholat wajib, Akhtar pula yang mengingatkan saya untuk mengerjakan sholat rawatibnya. Siapa yang bisa menolak kalau yang mengingatkan adalah anak sendiri? Saya yang sudah hampir merapikan mukena pun akhirnya menuruti ajakannya.

*

Anak-anak itu lho ya… walaupun pada awalnya kita yang ‘mengajari’, sebenar-benarnya mereka lah yang justru lebih banyak mengingatkan, bahkan mengajari kita. 

Salah satu contoh, bukan sekali Akhtar menegur, “Mim kok pintu kamar mandinya dibuka sih? Kan malu auratnya kelihatan”, katanya ketika melihat saya memandikan Ahnaf dengan membiarkan pintu terbuka. Maka saya pun buru-buru menutup pintu kamar mandi. 

Anak-anak itu memang sudah ‘fitrah’ dari sananya, sudah sangat cenderung ingin selalu melakukan hal-hal yang baik. Maka, manfaatkan lah masa kanak-kanak mereka untuk menginstall segala sesuatu yang baik, terutama yang sesuai ajaran Allah dan RasulNya. Salah satu yang merusak ‘fitrah’ mereka adalah ‘ketidakkonsistenan’ orang-orang dewasa di sekitarnya. 

Ketika orangtua mengajari A, maka lakukan juga A. Ketika anak memergoki kita melanggar A, jangan justru mencari pembenaran/ membela diri dengan hal yang bertentangan dengan A. 

Misal, saya mengajari Akhtar makan sambil duduk. Suatu waktu saya makan, dan Ade nangis ingin digendong. Maka saya pun menggendong Ade, lalu melanjutkan makan dengan posisi berdiri. Akhtar menegur, “Kok makannya sambil berdiri?”. Bisa saja saya beralasan, “Iya… kan sambil gendong Ade”. Tapi, akibatnya apa? Di kemudian hari mungkin anak akan jadi orang yang suka mencari-cari alasan/ pembenaran untuk kesalahan yang diperbuatnya, atau jadi ringan untuk melanggar aturan? Hiih… 

Maka… alih-alih membuat alasan, saya akhirnya memilih duduk, atau berhenti makan sementara. 

*

Ketika Akhtar ingin melakukan segalanya sendiri, artinya Akhtar sedang menuju kemandiriannya. Itu positif kan? Hanya saja yang masih harus diperbaiki secara bertahap adalah emosinya yang masih belum terkelola dengan baik. Masih sering merasa frustasi ketika belum bisa menyelesaikan tugas dengan baik, masih ngadat ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Dan.. memang menjadi lebih repot dan memakan waktu lebih lama ketika kita melibatkan anak-anak dalam pekerjaan. Tak jarang, kita jadi kesal karena hasilnya jadi lebih berantakan. Tapi, ini masa-masa emas untuk mengajari mereka mandiri dan tanggung jawab. Kerepotan saat ini hanya sementara kok.

Kalau kata seseorang mah, wajar kalau kita repot karena punya anak kecil. Yang ga wajar itu, kalau kita direpotkan anak-anak yang sudah beranjak besar. Bisa jadi karena kita salah mendidik mereka waktu kecil.

*

Oke.. mari berepot-repot sekarang, untuk bersenang-senang kemudian :p

Older Entries