Mim, Suka Ga?

Leave a comment

Sebelumnya saya pernah bercerita tentang Akhtar yang suka mengajukan pertanyaan berulang.

Saya pun bercerita tentang Akhtar yang hobi memberi pertanyaan beruntun.

Nah, sekarang Akhtar senang mengombinasikan keduanya. Akhtar senang mengajukan pertanyaan beruntun yang berulang.

Salah satu yang hampir selalu ditanyakan tiap hari adalah ini… (lihat gambar)

Akhtar akan bertanya, “Mim, suka mobil ini ga?” katanya sambil menunjuk mainan mobil-mobilan yang disusun berbaris.

Dan saya, harus menjawab, “Suka”. Sesekali saya jawab “Ga suka”, namun dia akan mengulang-ulang pertanyaannya hingga saya menjawab “Suka”, sesuai keinginannya.

Lalu… Pertanyaan berulang dan beruntun pun dimulai..

“Kenapa suka?”

“Karena bagus”

“Kenapa bagus?”

“Karena rapi”

“Kenapa rapi?”

“Karena Akhtar pintar menyusunnya”

“Kenapa Akhtar pintar?”

“Karena Akhtar sering memainkannya”

“Kenapa Akhtar sering mainkan?”

“Karena Akhtar suka”

“Kenapa Akhtar suka?”

“Karena kan mainan kesukaan Akhtar”, saya mulai kehilangan ide menjawab.

“Oh”, tutupnya singkat

Saya menghembuskan nafas, lega…

***

Ada lagi…

Polanya kurang lebih sama dengan percakapan di atas, dimulai dengan…

“Mim, suka ini ga?”

“Suka”

“Kenapa suka?”

“Karena bagus”

“Kenapa bagus?”

“Karena berwarna-warni”

“Kenapa berwarna-warni?”

“Karena diberi pewarna”

“Kenapa diberi pewarna?”

“Kan biar bagus”

Nah lho… muter-muter… bingung kan? Apalagi sayaaa.. ^^’

***

Bukan Bayi Lagi

Leave a comment

Sejak dinyatakan resmi bisa berjalan dua bulan terakhir, tingkah Ahnaf tidak lagi seperti ‘bayi’. Jangkauan jelajahnya semakin luas, bahkan sampai kamar mandi. Beberapa kali lepas dari pengawasan, dan ketika dicari ke semua ruangan, ternyata Ahnaf sedang berdiri hendak naik ke atas kloset. 

Bahkan beberapa kali saya pernah membatalkan shalat karena Ahnaf menjauh dari area saya shalat. Karena pernah satu kejadian dia kabur ke kamar mandi saat saya shalat… untung ga jatuh, untung lantainya ga basah, untung dan untung… alhamdulillah.

Pun sekarang teu kaop lihat tangga, jojodog, boks, dan sabangsaningnya, biasanya langsung pengen manjat. Teu kaop lihat pintu depan terbuka, ya pengen keluar. Teu kaop lihat pintu apapun terbuka, ya pengen nutup. Seringkali masuk kamar sendiri, menutup pintu dari dalam, lalu teriak-teriak sambil menggedor-gedor pintu minta dibukakan. Pengecualian, ketika mengantar Papnya berangkat kerja, setelah mengikuti ‘ritual’ Akhtar (“Daah… nanti pulang semalem-malem ya.. HPnya dibawa ga? Nanti bisa telepon Akhtar ga? Dst dsb”), tanpa disuruh Ahnaf akan mendahului masuk rumah lalu menutup pintu. 

Ahnaf pun semakin menunjukkan ‘keras kepala’nya. Sudah bisa memaksakan kehendak dan meronta-ronta jika keinginannya tidak terpenuhi. Semakin banyak yang bisa ditirukannya dari orang-orang besar di sekelilingnya. ‘Baca’ buku dengan mulut berkomat kamit, atau menggerak-gerakkan kedua jempolnya di atas layar handphone, menirukan gerakan shalat, dan ikut tertawa dengan mulut terbuka lebar dan hidung ‘menyungging’ ketika melihat orang-orang tertawa. 

Pinternya Ahnaf, kalau saya mau membersihkan pup atau mengajaknya mandi, saya cukup membaca doa masuk kamar mandi, lalu tanpa digandeng atau diarahkan Ahnaf langsung berjalan sendiri menuju kamar mandi.

Dua anak dua rupa. Dari bibit yang sama, di bawah asuhan orangtua yang sama, Akhtar dan Ahnaf berkembang sangaaaat berbeda. Ahnaf itu lebih kaleeeeem dari Akhtar, tidak menjerit-jerit seperti kakaknya, tetap cool dan irit senyum jika bertemu orang lain. Tidak se-gedebaggedebug Akhtar, dan dalam banyak hal sangat kooperatif, misalnya dengan tidak menambah runyam suasana saat Akhtar nangis. 

***

Semoga duoA menjadi anak-anak yang kuat menghadapi zaman mereka, zaman yang semakin mendekati akhir. Menjadi muslim yang kokoh imannya, lurus aqidahnya, baik akhlaknya, bermanfaat bagi sesama… dan masih banyaaaak doa-doa tak terputus untuk mereka (serta anak dan keturunannya). 

Mendadak eungap…


Apa-Apa Sendiri

2 Comments

Sudah sejak 2 bulanan terakhir, Akhtar masuk fase ‘ingin melakukan segala hal sendiri’ dan ‘ingin selalu dilibatkan dalam hampir semua pekerjaan rumah’.

Akhtar sekarang lebih suka memakai baju sendiri. Mulanya ingin memasang kancing baju sendiri (dengan bantuan), lalu bertahap mau memakai semuanya sendiri, dari mulai baju dalam sampai luarannya. Ada masa dia merasa frustasi karena maunya mengerjakan sendiri tapi belum sempurna melakukannya, namun tidak mau dibantu. Akhirnya apa? Ya nangis… biarlah, namanya juga belajar ya Nak…

Sedikit-sedikit, urusan kamar mandi pun ingin dia lakukan sendiri. Seperti, menyabuni kaki sendiri (kalau badan masih dengan bantuan saya) dan menyiram bekas pipis dan pupnya sendiri. Pernah satu kali, saya siram bekas pup Akhtar sampai bersih… akibatnya dia nangis lalu memaksa diri harus pup lagi, sementara ‘stok’ pup di perutnya sudah habis, demiii.. nyiram pup sendiri..  wkwk…

*

Sementara dalam hal pekerjaan rumah, setelah beberapa kali kejadian dia nangis karena nggak diajak mengerjakan tugas rumahan, akhirnya saya hampir selalu mengajak Akhtar diantaranya untuk…

… memasukkan baju kotor ke mesin cuci, dan mengeluarkan baju bersih dari mesin cuci

… menjemur baju-baju kecil 

… menakar dan mencuci beras sendiri, plus menekan tombol ‘cook’ pada rice cooker

Dan.. apalagi ya…

*

Kemudian, dalam hal sholat pun Akhtar harus selalu diajak. Kadang sholatnya dobel. Misal, setelah sholat berjamaah di masjid, dia akan ikut sholat lagi di rumah bersama saya. 

Suatu waktu, saya pernah ngasih tahu soal sholat ba’da Maghrib dan ba’da Isya, dan sekarang kadang-kadang setelah sholat wajib, Akhtar pula yang mengingatkan saya untuk mengerjakan sholat rawatibnya. Siapa yang bisa menolak kalau yang mengingatkan adalah anak sendiri? Saya yang sudah hampir merapikan mukena pun akhirnya menuruti ajakannya.

*

Anak-anak itu lho ya… walaupun pada awalnya kita yang ‘mengajari’, sebenar-benarnya mereka lah yang justru lebih banyak mengingatkan, bahkan mengajari kita. 

Salah satu contoh, bukan sekali Akhtar menegur, “Mim kok pintu kamar mandinya dibuka sih? Kan malu auratnya kelihatan”, katanya ketika melihat saya memandikan Ahnaf dengan membiarkan pintu terbuka. Maka saya pun buru-buru menutup pintu kamar mandi. 

Anak-anak itu memang sudah ‘fitrah’ dari sananya, sudah sangat cenderung ingin selalu melakukan hal-hal yang baik. Maka, manfaatkan lah masa kanak-kanak mereka untuk menginstall segala sesuatu yang baik, terutama yang sesuai ajaran Allah dan RasulNya. Salah satu yang merusak ‘fitrah’ mereka adalah ‘ketidakkonsistenan’ orang-orang dewasa di sekitarnya. 

Ketika orangtua mengajari A, maka lakukan juga A. Ketika anak memergoki kita melanggar A, jangan justru mencari pembenaran/ membela diri dengan hal yang bertentangan dengan A. 

Misal, saya mengajari Akhtar makan sambil duduk. Suatu waktu saya makan, dan Ade nangis ingin digendong. Maka saya pun menggendong Ade, lalu melanjutkan makan dengan posisi berdiri. Akhtar menegur, “Kok makannya sambil berdiri?”. Bisa saja saya beralasan, “Iya… kan sambil gendong Ade”. Tapi, akibatnya apa? Di kemudian hari mungkin anak akan jadi orang yang suka mencari-cari alasan/ pembenaran untuk kesalahan yang diperbuatnya, atau jadi ringan untuk melanggar aturan? Hiih… 

Maka… alih-alih membuat alasan, saya akhirnya memilih duduk, atau berhenti makan sementara. 

*

Ketika Akhtar ingin melakukan segalanya sendiri, artinya Akhtar sedang menuju kemandiriannya. Itu positif kan? Hanya saja yang masih harus diperbaiki secara bertahap adalah emosinya yang masih belum terkelola dengan baik. Masih sering merasa frustasi ketika belum bisa menyelesaikan tugas dengan baik, masih ngadat ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Dan.. memang menjadi lebih repot dan memakan waktu lebih lama ketika kita melibatkan anak-anak dalam pekerjaan. Tak jarang, kita jadi kesal karena hasilnya jadi lebih berantakan. Tapi, ini masa-masa emas untuk mengajari mereka mandiri dan tanggung jawab. Kerepotan saat ini hanya sementara kok.

Kalau kata seseorang mah, wajar kalau kita repot karena punya anak kecil. Yang ga wajar itu, kalau kita direpotkan anak-anak yang sudah beranjak besar. Bisa jadi karena kita salah mendidik mereka waktu kecil.

*

Oke.. mari berepot-repot sekarang, untuk bersenang-senang kemudian :p

Pertanyaan Berulang

Leave a comment

Akhtar (3,5 tahun) dan mungkin juga anak-anak lain seusianya, sangat senang mengajukan pertanyaan yang sama, dengan jawaban yang harus sama beeerrrrulang-ulang. Lucunya… ia akan gusar ketika kita memberikan jawaban berbeda dari biasanya.

Sebagai contoh, tadi pagi ke Bapak Sayur naik sepeda lewat jalanan yang agak rusak, maka Akhtar pun bertanya,

“Kenapa jalannya rusak?” 

“Karena belum diperbaiki…”, saya asal jawab ga mau mikir.. hihi.

“Bukaaan… kenapa jalannya rusak, Miim?” tidak puas dengan jawaban pertama, ia bertanya lagi dengan penuh penekanan di awal dan akhir kalimat.

“Iya… kan banyak dilewatin mobil, jadi jalannya rusak”, jawab saya.

“Bukan… rusak karena air sama mobil, gitu Mimm…”

Oh iya! Saya baru inget… kapan hariiii waktu lewat jalan yang sama, Akhtar pun bertanya, “Kenapa jalannya rusak?” dan saya menjawab,

“Karena sering tergenang air terus sering dilewati mobil besar” 

***

Ada lagi yang lain. Ketika jalan-jalan naik sepeda dan menemukan sampah tidak pada tempatnya, Akhtar hampir selalu bertanya,

“Kok buangnya sembarangan sih?”

Dan saya… HARUS menanggapi seperti ini…

“Eh iya… kok buang sembarangan, ga boleh dong, ga boleh ditiru ya, buangnya harus di….”

“Tempat sampah” katanya melanjutkan.

Ada variasi jawaban lain kalau untuk kondisi ini,

A: “Kok buangnya sembarangan sih?”

M: “Boleh ga buang sembarangan?”

A: “Ga boleh”

Lalu percakapan berikutnya kurang lebih sama.

Gara-gara pertanyaan berulang soal sampah ini, kepikiran lain kali sepedaannya sambil bawa kantong sampah untuk memungut sampah yang masih bisa dimanfaatkan. Hehe…

***

Sebelumnya, saya pernah cerita tentang kebiasaan Akhtar yang bertanya,

“Kenapa matanya jadi orang?” Ketika hendak tidur.

Sekarang, pertanyaan itu hampir tidak pernah diajukan lagi, diganti dengan pertanyaan, 

“Kenapa punggungnya gatal?” Katanya gogoleran sambil menggaruk-garuk punggung. Dan saya harus menjawab,

“Karena punggung Akhtar keringetan”, jawab saya.

“Kenapa keringetan?”

“Karena panas…”

“Kenapa panas?”

Nah.. kalau pertanyaannya siang hari, akan saya jawab, “Karena ada matahari”. Kalau malam… kadang saya jawab juga “Karena ada matahari”. Ya kan? Matahari ada tapi ngga menampakkan diri… wkwk..

Sering lho kita (orangtua) di-KO Akhtar dengan pertanyaan beruntun seperti itu. Jawaban kami, akan menjadi pertanyaan berikutnya, teruuus seperti itu sampai kami tidak bisa menjawab pertanyaan. 

Kuncinya… jawabnya kudu jujur dan masuk akal, dengan kata-kata yang mudah dipahami anak seusia 3,5tahun. Kadang sampai juga ke pertanyaan yang rumit untuk dijawab dengan kata-kata sederhana, akhirnya dijawab dengan ‘bahasa orang dewasa’ yang kadang-kadang harus disisipi kata-kata ‘sulit’ untuk dipahami anak balita itu. Setelah itu, Akhtar biasanya hanya akan menanggapi, “Ooh gitu…” seolah-olah mengerti, lalu berhenti bertanya.

*** 

Soal menjawab pertanyaan dengan jujur ini kadang menjadi sulit ketika kita ingin menyembunyikan kebenaran. Butuh trik khusus, agar jawaban tetap jujur dan memuaskan anak.

Sebagai contoh, Akhtar ingin main ponsel, sementara saya ga mengizinkan. Maka saya sembunyikan ponsel itu. Ketika Akhtar bertanya, “Hapenya mana Mim?” 

Saya akan menjawab, “Hapenya disembunyikan dulu ya…”

“Ooh.. hapenya sembunyi ya…” Akhtar lantas puas dengan jawaban itu dan tidak menanyakan HP lagi. 

Hihi… yang barusan itu saya sebut ‘trik imbuhan’ :p

Sebelum menggunakan trik ini, pastikan Anda memahami bahasa Indonesia dengan baik dan benar ya.

*belagu*

***

Apa lagi ya…

Hmm…

Udah deh kayaknya…

   

Ade…

Leave a comment

“Adeee…” begitu lah kami lebih sering memanggilnya, daripada Ahnaf. Ade yang kini sudah berusia 12 bulan, alias 1 tahun… ah ngga… sebut aja 12 bulan, terkesan ‘lebih bayiiik’ gitu lho :p

Ade yang kaleeemm… tapi belakangan ini lagi sering bikin ‘jengkel’ Mimnya karena sering terbangun malam-malam lalu teriak-teriak sambil guling-guling di atas kasur, entah ingin apa. Kepanasan ya De? *gebergeber* 

Ade yang lagi rajin belajar jalan… dua langkah… tiga langkah…rekor sampai lima langkah… grasa grusu melangkah memanfaatkan momen, sebelum hilang keseimbangan lalu terjatuh. Sering Mim bilang, “Ade sedikit-sedikit aja jalannya… tenang… t e n a n g…” walaupun Mim tau Ade ga paham.

Ade yang pemakan segalaaa… hampir memakan apapun yang Mim sodorkan di depan mulut Ade. Tapi, perawakannya tetap kecil, yah ini mah udah turunan. Yang penting sehat ya Dee.

Bahagianya Mim, karena sejauh ini Mim tidak mampu mengingat, kapan Ade menolak makanan karena GTM? Rasanya baru sekali dua kali, ketika pernah Ade sedikit demam atau tumbuh gigi. Itu pun tidak lama, dan tidak sampai GTM yang bikin Mim khawatir.

Ade itu seriiiing banget digangguin Aa. Kadang Mim lihat jempol kaki Aa udah nempel di muka Ade. Kadang punggung Ade diinjak. Atau didorong-dorong badannya karena menyentuh sedikit mainan Aa. Kadang dibentak karena mengambil mobil-mobilan Aa. Eh tapi… di luar itu… Ade paling keras terbahaknya justru kalau lagi main sama Aa. Disitu Mim merasa tenang. Di masa depan… Ade dan Aa akan jadi saudara yang saling menyayangi, saling membantu dalam kebaikan… aamiin.

Pinterrrnya Ade itu karena udah bisa ngambil sendiri buku dalam boks. Lalu membuka-buka sendiri buku tersebut dan ‘membacanya’, “Ab… ab… ba… baa…” katamu. Dan Mim amazed karena sesekali Ade membuka buku-buku berkertas tipis tanpa menyobek kertasnya. Walaupun lebih sering Mim larang karena takut bukunya rusak (huhu…) atau Mim tukar dengan buku lain yang walau rusak pun ga apa-apa.

Ade yang hampir ‘tidak memiliki barang pribadi’ kecuali sebagian pakaian, karena yang lainnya berbagi sama Aa… buku-buku, mainan, peralatan makan. Irit atau pelit sih Mim? Entahlah… rasa hati ingin menyebutnya sederhana, bersahaja, tapi mungkin masih jauh untuk masuk krieria itu. Prinsip Mim… selama suatu barang masih berfungsi layak sesuai maksud pembuatan, berarti belum perlu untuk diperbarui. *pelitlomim* *hush*

Ade yang mulai suka menirukan gerakan orang-orang sekitar. Ketika mendengar adzan Ade langsung memasukkan jempol ke dalam mulut. Lho De, mau ngapain? Oh ternyata maksudnya meniru Aa yang suka memberi kode ‘diam’ dengan menempelkan telunjuk di depan mulut “ssst… sssttt… dengerin adzan dulu” kata Aa berbisik-bisik.

Lalu, Ade pun ikut sujud menempelkan kening ke sajadah ketika melihat Mim shalat. Kadang-kadang diawali dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi seperti takbiratul ihram.

Ade yang sudah muncul ‘ego’nya dan ingin melakukan beberapa pekerjaan sendiri. Ingin memegang gelas sendiri, ingin makam sendiri. Tapiii… seringnya Mim terlalu malas untuk meladeni Ade… kalau minum dan makan sendiri pasti ada baju yang kudu diganti, ada lantai yang basah dan kotor. Padahal, disitu lah Ade belajar. Maafkan Mim ya De yang pamalesan ini… *maafin kagak nih?* 

Celoteh Akhtar [1]

Leave a comment

*

Al Wahsi
Akhtar ngompol untuk yang kedua kalinya hari itu. Bekas ompol semalam pun belum dibersihkan, hanya ditutup kain dan bantal, eladalah siangnya malah ngompol lagi…

M : Akhtar mah ngompol terus ah… jadi tambah luas deh kasur yang kena ompolnya…

Dia menanggapi… 

mengejutkan…

A : Al wahsi* artinya maha luas… jadi ompol adalah al-wah-si

M : -_-‘

*maksudnya Al Waasi’ dalam Asma’ul Husna

– Nov 2016 –


**

Al Kahfi

Suatu hari Jumat…

A : Mim baca Al Kahfi…

Katanya, minta perhatian.

M : Iya.. sok

A : Al kahfiii… mal kahfiii… wamaa adrooka mal kahfiii…

M : -_-‘

– Nov 2016 –


***

Do’a Bocor

Mim buka pintu rumah.

M : Wah ternyata hujan… allahumma…..

A: … shoyyibannaafiaan…

M: Hujan itu salah satu waktu mustajabnya berdoa

A: Ya Allah… Ya Allah… semoga ga bocor lagi ya. 

Hari sebelumnya langit-langit dapur bocor.

A : Kok ga bocor lagi ya? 

Eh doi malah balik nanya.

M: Kan udah diperbaiki

A: Kalo bocor doanya gimana kalo bocor?

M: (mikir) Ya kayak tadi Akhtar berdoa aja, semoga ga bocor lagi ya Allah…

A : Ooh… 

– 22 Nov 2016 –


****

Takut

Akhtar lagi suka nahan pipis dua minggu terakhir. Seringkali baru mau ke kamar mandi setelah pipis udah sampai ujuuung…

Mim ngebujuk…

M : Akhtar ga boleh nahan pipis dong… waktu kecil Mim suka nahan pipis juga, habis itu pipisnya sakiiiitt. Trus kalau pipis Mim nangis karena sakit… 

Melanjutkan cerita dengan ekspresif

M : Abis itu mah Mim ga mau lagi nahan pipis, takut pipisnya sakit lagi.

A : Mim… takut itu kepada Allah…

M : Eh… hmm…speechless

– 17 Des 2016 –


*****


Balita Tidak Boleh Diajari Membaca?

Leave a comment

Saya beprinsip untuk tidak terlalu dini mengajari Akhtar membaca. Apa urgensinya? Saya pikir. Bukankah lebih baik anak seusia itu diajari adab-adab baik yang akan menjadi kebiasaannya hingga dewasa? Mendekatkan anak dengan buku di usia dini bukan dengan mengajarinya membaca, tapiii.. dengan membacakannya buku.

Tapi… prinsip itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Akhtar (terlanjur) bisa membaca di usianya yang saat itu masih 3 tahun 2 bulan. Itu pun bukan saya yang mengajari, melainkan neneknya. Ada perasaan bersalah ketika melihat Akhtar diajari membaca, “Sudah.. sudah.. ga usah.. nanti aja.. masih terlalu kecil..”. Tapi toh saya melihat Akhtar menikmati proses belajarnya. Saya membuat banyak batasan agar Akhtar tidak terlalu sering diajari membaca. Namun anak-anak itu cepat sekali menyerap pelajaran. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mempelajari hal baru.

Setelah saya pikir ulang… rasanya ga ada salahnya anak balita bisa membaca. Ambil positifnya aja.. di waktu-waktu tertentu ia bisa menjadi pembelajar mandiri dengan memilih dan membaca buku yang diinginkannya. 

Bagi Anda yang ingin mengajari anak membaca di usia dini, saya ingin berbagi sedikiiit tips berdasarkan pengalaman saya. 

1. Niat

Setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya kan? Periksa dulu niat di hati masing-masing, dengan tujuan apa mengajari anak usia dini membaca? Kalau hanya untuk menuai pujian atau membuat anak terlihat menonjol dibandingkan anak lain, urungkan dulu niat untuk mengajari mereka membaca.

2. Beri Rangsangan yang Tepat

Anak-anak tidak ujug-ujug tertarik pada sesuatu kalau sebelumnya kita tidak mengenalkannya pada hal tersebut. 

Sebenarnya, menurut saya rangsangan yang paling tepat agar anak mau belajar membaca adalah dengan mengenalkannya pada buku, rutin membacakannya, dan memperlihatkan budaya senang membaca di hadapannya. 

Di samping itu, kita bisa menempel poster huruf-huruf agar anak bisa mulai mengenal simbol huruf dan ‘membacanya’ setiap saat.

3. Metode yang Tepat

Setiap orangtua yang mengamati perkembangan anaknya, pasti paham metode belajar seperti apa yang cocok diterapkan pada anaknya.

Dalam hal membaca, Akhtar pakai buku belajar membaca yang disusun neneknya untuk mengajari murid-murid kelas 1 di sekolah. Jadi, Akhtar belajar sambil duduk manis memerhatikan buku.

Anak yang lain mungkin belajar sambil bergerak, loncat-loncat, berkisah, crafting… de el el. Orangtua masing-masing yang paling tahu kan :)

4. Jangan Dipaksa

Menurut saya ini poin yang paling penting. Jangan memaksa anak pra sekolah, apalagi anak usia dini, belajar membaca kalau mereka tidak ingin. Jangan membanding-bandingkan satu anak dengan yang lain. Jangan baper kalau lihat anak seusia anak kita memiliki kemampuan yang tidak dimiliki anak kita. Fokus aja pada perkembangan anak kita, dengan terus memberi rangsangan yang tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

5. Sebisa mungkin, anak diajari membaca oleh orangtuanya sendiri.

Menurut saya, hal itu memberikan beberapa keuntungan, diantaranya: Membangun kedekatan orangtua dengan anak. Trus HEMAT cuy.. haha. Daaan… keuntungan yang tidak terhitung adalah… pahala yang tidak terputus jika si anak menggunakan kemampuannya untuk kebaikan. Iya… amal jariyah dari ilmu yang bermanfaat kan? :)

Maka, setelah anak bisa membaca, tugas kita berikutnya adalah mengarahkan anak untuk membaca ilmu-ilmu yang baik saja, antara lain dengan memfasilitasinya dengan buku-buku yang bermanfaat untuk kehidupan dunia, terutama akhiratnya.

***

Okey… panjang ya… Haha…

Kalau sedikit saya simpulkan…

Buku itu katanya jendela dunia, kuncinya adalah dengan membaca. Tapi sekedar ‘bisa membaca’ tidak menjadikannya bisa menjelajahi dunia. Maka ajari mereka untuk mencintai ilmu, dan menjadi sebaik-baiknya manusia dengan ilmu tersebut. 

Older Entries