Api Tje Tje Menjadi Eta Api

Leave a comment

Dibuang sayang
-drafted 23 June 2018-

Tempo hari saya pernah bercerita tentang Ahnaf yang menyebut kereta api dengan api tje tje. Nah sejak beberapa waktu lalu, saya luput ingat kapan tepatnya, Ahnaf mulai mengganti kata api tje tje dengan eta api. Bagus dong ya.. jadi lebih bisa dipahami oleh selain kami, orangtuanya.

Ngomong-ngomong, kemampuan berbahasa Ahnaf berkembang cukup pesat belakangan ini. Banyak kata yang sudah mampu diucapkannya dengan jelas, bentes kata orang Sunda mah. Dan Ahnaf pun sudah bisa merangkai kalimat pendek hingga 4 kata. Beberapa rangkaian kata dengan langgam khasnya yang menggemaskan juga kerap meriuhkan keseharian kami.

Dan dalam beberapa hari terakhir, Ahnaf pun sudah bisa mengucapkan namanya dengan lebih jelas, biasanya terucap Ahaf, sekarang Anaf. Lumayceu lah yaw walaupun masih hilang satu huruf.

Ahnaf pun mulai masuk tahap bertanya “Ini apa?” yang saya perhatikan bukan bermaksud untuk tahu apa yang ditanyakannya, melainkan karena ia memang senang mengucapkannya. Ia hanya menuntut kami meresponnya lalu dengan segera ia akan menanggapi “Ooh xxx ya” xxx itu maksudnya ia mengulang jawaban yang ia dengar.

Barakallah Ahnaf. Semoga tumbuh sehat jadi anak sholeh dan cerdas :*

Advertisements

Semua Gak Boleh

Leave a comment

Kata Akhtar…

Akhtar ga suka Ade Ahnaf, Akhtar sukanya Ade Aliya, karena Ahnaf sudah ada sejak Akhtar masih 2 tahun, jadi udah bosen.

Akhtar ga suka Ade Ahnaf. Katanya Ahnaf ga lucu karena udah besar. Yang lucu itu Ade Aliya karena masih bayi. Lalu saya menimpali, “Berarti Akhtar juga ga lucu dong?”. Akhtar lalu menjawab, “Iya… Kalau Akhtar dan Ade Ahnaf itu kasep, kalau Ade Aliya lucu karena masih bayi”. Hmm oke deh.

Akhtar bilang, ga suka Ade Ahnaf karena Ahnaf suka berantakin mainan Akhtar. “Semua mainan punya Akhtar dan Ade Aliya. Ade Ahnaf ga boleh main,” kata Akhtar setengah berteriak.

***

Perubahan signifikan sikap Akhtar terhadap Ahnaf terjadi beberapa bulan ke belakang. Akhtar jadi sering bersikap ‘memusuhi’ Ahnaf, satu dua kali terlihat mengasari juga dengan mendorong atau menyubitnya terlalu gemas, atau berteriak di depan muka Ahnaf hingga Ahnaf merasa ketakutan lalu berlindung di pelukan saya.

Yang lucu adalah beberapa hari kemarin…

Ahnaf main warung-warungan, lalu Akhtar melarangnya karena katanya Akhtar mau main juga.

Lalu saya alihkan Ahnaf untuk bermain kereta api balok-balok. Tetiba Akhtar keluar dari warung-warungannya dan bilang mau main kereta api aja.

“Ya udah Dek, main balok kayu yuk…”. Ajak saya sambil sedikit melirik ke arah Akhtar. Akhtar terlihat mengawasi gerak gerik adiknya. Lalu serta-merta ia menghampiri kami yang sedang main balok kayu. “Akhtar juga mau mainan balok”.

“Dek, kita main mobil-mobilan aja yuk”, kata saya sambil memilih beberapa mainan mobil favorit Ahnaf.

Akhtar yang sedang membuat bangunan dari balok-balok kayu tampak diam memerhatikan saya dan Ahnaf, mungkin mencari akal bagaimana merebut mainan mobil yang dipakai Ahnaf.

Hingga tiba-tiba, “Akhtar mau pakai mobil-mobilannya, kan ini mobilnya harus dimasukkan ke garasi”, katanya lagi sambil memperlihatkan bangunan balok-balok yang disusunnya membentuk garasi.

Saya kesal sekaligus geli, lalu sedikit mengomel soal…

“Mainnya bareng-bareng……”

“Ini mainan Ade Ahnaf juga……”

“Ade Ahnaf yang duluan, Akhtar harus izin dulu Ade kalau mau pinjam……”

“Lalu Ade Ahnaf bolehnya main apa kalau semua ga boleh?”

Yang dipungkasi dengan kalimat paripurna dari Akhtar.

“Semua mainan punya Akhtar dan Ade Aliya, Ahnaf ga boleh main!”

***

Ya begitu lah keseharian kami dengan 1 balita dan 2 batita ini. Seru seru nggemesin dan ngangenin gitu sih hihi. Adapun soal keras kepala dan egonya Akhtar, saya mencoba memaklumi sambil sedikit demi sedikit mengarahkannya agar bersikap lebih baik, walaupun hasilnya (terlihat) nihil untuk saat ini.

Lagi pun tidak selalu Akhtar seperti itu. Ada kalanya ia bersikap manis juga terhadap Ahnaf.

Jadi ingat juga, masa kecil saya dengan 2 saudara laki-laki yang berdekatan umurnya. Tiada hari tanpa ribut perihal masalah sepele, sesepele rebutan piring tertentu tiap mau makan (piring hadiah dari dept store doang haha) sampe rebutan merobek kalender harian di ruang tamu. Namun toh ketika salah satu dari kami pergi agak lama, misal menginap di rumah saudara, tetap rindu yang dirasa.

Kekhawatiran saya adalah takut tidak bisa menjaga perasaan salah satu anak sehingga merasa dibedakan dari saudaranya yang lain. Contohnya Ahnaf. Ahnaf yang lebih pendiam dibandingkan Akhtar ada kecenderungan menyimpan perasaan sedihnya sendiri. Misalnya ketika Akhtar melarangnya untuk melakukan ini dan itu, biasanya air matanya langsung menggenang, lalu bibirnya bergetar menahan tangis. Saya biasanya langsung merangkul dan menghiburnya, sambil membantunya mengenali perasaannya.

“Ade sedih, iya?”

“Ade kecewa?”

“Ade marah?”

Mendekap Ahnaf adalah cara ampuh untuk menghiburnya. Paling patah hati kalau pas Ahnaf sedih yang dipanggil adalah “Abah… Abah…” Seperti meminta perlindungan.

Ealah.. giliran Ahnaf dijemput sama Abah, Akhtar ga mau ketinggalan pengen diajak juga. Hadeuh…

Tuvalu

Leave a comment

-Catatan dua hari lalu-
Ada yang pernah dengar nama Tuvalu? Apa saya aja ya yang baru tahu!?
Saya baru pertama kali mendengarnya hari ini dari Akhtar. Pagi ini Akhtar membuat coretan-coretan abstrak seperti lautan, dan menjawab, “Ini Tuvalu”, ketika saya tanya “Ini gambar apa?”
Dahi saya berkernyit. Saya yakin pasti itu adalah nama suatu tempat yang ia baca dari buku Ensiklopedia Geografi favoritnya. Menurut penjelasannya juga, Tuvalu itu dekat Australia dan Fiji, dan jauuh dari Indonesia.
Maka saya  pun googling dan menemukan fakta unik tentang Tuvalu.
Jadi ternyata… Tuvalu adalah salah satu negara terkecil di dunia yang terletak di antara Australia dan Hawaii di Samudera Pasifik, berdekatan salah satunya dengan negara Fiji.
Yang menakjubkan adalah bentuk salah satu pulaunya yang memanjaaang dengan lebar yang sangaaaat kecil. Bisa dikatakan semua wilayah itu adalah pantai.

 

Sekilas melihat pulau ini tampak mengerikan yaa… sepertinya dengan hanya sekali sapuan ombak besar saja tenggelam lah negeri itu. Tapi karena kuasa Allah, hal itu tidak terjadi.

ENSIKLOPEDIA GEOGRAFI

Oh ya saya ingin bercerita sedikit tentang buku ensiklopedia geografi yang Akhtar punya.

Buku itu saya beli melalui danusnya Sabumi dengan harga obral. Pastinya karena stok lama dan barang sisa.

Satu set ensiklopedia geografi terdiri dari 6 buku besar hardcover. Sangat worthed dengan harga hanya 600 ribu yang dicicil 3 bulan. Tetap bernilai walaupun banyak informasi yang sudah usang, misalnya jumlah provinsi di Indonesia yang dipaparkan masih berjumlah 33.

Tapi buku itu sangat berharga sekali buat Akhtar. Setibanya buku itu di rumah, langsung saja menjadi salah satu favorit Akhtar. Akhtar suka melihat gambar-gambarnya yang bagus. Dan dalam waktu yang tidak lama Akhtar segera tahu nama-nama benua, negara-negara, bendera, termasuk Tuvalu ini yang luput dari pengetahuan emak bapaknya yang udah belajar geografi belasan tahun silam di bangku sekolahan.

Tugas saya selanjutnya adalah bagaimana mengintegrasikan pelajaran geografi ini dengan nilai-nilai Islam. Pe er banget yaaa dengan pengetahuan agama ortunya yang ecek ecek. Heuheu…

Makanya belajar Mak, jangan WA-an mulu.. bhahaha..

Bisul

Leave a comment

Aliya bisul di kepala belakang, untuk kedua kalinya dalam sebulan terakhir.
Bisul pertama sampai sebesar kelereng. Awalnya hanya kulit yang tampak kemerahan, lama-lama seperti benjol, semakin lama semakin besar dan benjolannya terkonsentrasi di satu titik, membesar tapi tidak lebar. Seperti saya bilang, mirip kelereng, atau anggur mungkin lebih pas.
Benjolan itu bernanah dan bermata. Suatu hari pecah, dan benjolan pun berangsur-angsur hilang. Namun bekasnya jadi tidak ditumbuhi rambut. Kata Abah sih, memang begitu karakter si bisul. Bikin pitak.
Seminggu yang lalu, benjolan yang lain keluar di dekat bisul yang lama. Kali ini lebih banyak, dan sepertinya lebih sakit. Setiap dipegang, Aliya menangis.
Hasil bertanya ke beberapa teman, rata-rata tanggapannya sama. Katanya saya kebanyakan protein. Katanya kebanyakan makan telur. Sungguh… Selama ini kata-kata “Jangan kebanyakan makan telur nanti bisulan” saya anggap mitos. Pada akhirnya terkonfirmasi kebenarannya ketika memutuskan pergi ke dokter anak hari ini, dan mendapatkan saran yang sama, “Ibu coba berhenti makan telur seminggu ya, kita lihat apakah ada perubahan”.

Bisa jadi karena telur. Telur adalah bahan makanan yang wajib ada di rumah. Paling mudah untuk diolah. Males masak atau sempit waktu untuk memasak, tinggal goreng telur… Selesai.

Makanya ketika dokter bilang “Kita lihat apakah ada perubahan”, saya pastikan, ada. Saya yang berubah kudu lebih variatif dalam masak. Lah masa telor ceplok bae jeh.

Demikian.

Ga penting sih. Tapi biar inget aja, sejarah pitak di kepala Aliya. Hiks.

Drafted 13 Jun 2018/ 28 Ramadhan 1439/ @Masjid Habiburrahman Bandung

Sedikit Cantik

Leave a comment

Hampir selalu tidak menyenangkan jika melihat cermin saat ini. Terlihat bayangan sesosok ibu-ibu yang terlihat kurang tidur dan sedikit kurang makan (watiiir hehe) dengan tanda penuaan disana sini.

Iseng saya bertanya kepada Akhtar, ingin tahu pendapatnya, “Akhtar, Mim cantik ngga?”. Tentu saja saya harus siap dengan jawaban apa adanya dari bocah polos nan jujur ini.

Akhtar tampak berpikir sejenak lalu menjawab, “Kalau ngga pakai kerudung, Mim sedikit cantik. Tapi kalau pakai kerudung, Mim terlalu cantik”.

Owh, jadi saat bertanya itu saya sedang ‘sedikit cantik’ dong ya. Gapapa lah sedikit juga, yang penting cantik.

Masih penasaran… beberapa hari kemudian saya mengajukan pertanyaan yang sama, dan mendapat jawaban yang juga sama.

Kali kedua itu, saya minta penegasan, “Sedikit cantik itu maksudnya gimana? Cantik atau jelek?”

“Iya… jelek”, jawabnya dengan ‘mukarata’.

Hmm… sudah kuduga.

HP

Leave a comment

Saya sedang mengecek HP sambil tiduran di kasur, ketika Akhtar menghampiri lalu tiba-tiba bilang, “Mim, sekarang Akhtar janji main game keretanya ga sampai baterenya merah…

Peluk… peluk…”, lanjutnya sambil melingkarkan kedua tangannya di leher saya. 

Dengan kata lain… ia ingin meminjam HP untuk main game kereta. Tak mampu menolak, saya serahkan si HP dengan berbagai pesan sponsor. Terakhir kali meminjam HP, ia memang main game kereta sampai baterenya nyaris habis dari yang asalnya penuh, artinya ia main terlalu lama.

***

Salah satu hal yang agak sulit ditolak, adalah permintaan anak untuk meminjam HP. Apalagi, mereka ingin meminjam karena melihat ibunya terus menerus mengecek HP. 

Apa yang harus saya katakan kepada mereka? 

“Ga boleh main HP!” Lalu kenapa saya melakukannya?

“Ga boleh lama-lama!” Memang saya udah bisa main HP ga pake lama?

“Kuotanya habis nanti!” Lebih sayang kuota daripada anak?

Maka, saya memilih yang paling tidak menimbulkan konflik, yaitu menyimpan HP ketika bersama anak-anak. Dan karena seharian saya bersama mereka, bisa seharian itu pula saya ga ngecek HP. 

Bermain HP adalah kesenangan sepele yang bisa banget dikorbankan demi kebahagiaan anak-anak. Anak-anak bahagia jika perhatian kita sepenuhnya pada mereka ketika beraktivitas bersama. Dan saya lebih bahagia lagi karena anak-anak lebih anteng dan tidak mudah tantrum.

Salah satu hal yang paling sering bikin Ahnaf tantrum adalah soal HP ini. Ahnaf, di usianya yang baru 2 tahun, belum bisa diberi arahan tentang batasan menggunakan HP, maka sekali dipinjami HP, ia akan terus menggunakannya sampai bosan, yang mana itu bisa sebentar atau malah lamaaaa banget.

Bagaimana ia bisa ‘ketagihan’ HP? Saya bilang ketagihan karena sikapnya yang ‘teu kaop ningali HP’, sedikit saja melihat HP dia akan meminta sambil merengek-rengek “ape… ape… ape…”. Dan pilihannya bagi saya ada dua ketika itu sudah terlanjur terjadi, yaitu memberinya HP atau bersabar dengan tantrumnya yang bisa setengah sampai satu jam. Hanya gara-gara HP!

Ya salah saya juga yang membuatnya terpapar HP sebelum waktunya. Padahal sebelum ini saya bisa mengecek HP di depannya tanpa interupsi, juga bisa memotret aktivitasnya untuk dokumentasi. 

Maka kini tanggung jawab saya juga untuk men’detoks’nya. Tujuannya bukan agar dia steril dari HP, itu ga mungkin, tapi untuk membuatnya kebal dengan tidak meminta HP jika saya menggunakannya di depannya. 

Yang kasian bapaknya anak-anak. Yang dulu sering video call-an dengan anak-anak, sekarang agak saya larang-larang, karena selesai video call Ahnaf akan merengek-rengek, nangis, sampai tantrum, hingga keinginannya main HP dipenuhi.

Maafkan Mim ya Dek :(

Motivasi Menulis

Leave a comment

Jaraaaang ada (atau malah ga ada?!) kegiatan yang bisa konsisten saya lakukan… selain menulis di blog. Terhitung hampir sepuluh tahun saya ngeblog sejak pertama kali mem-posting tulisan pada Juni 2008. Waktu itu saya masih mahasiswa tingkat akhir yang butuh ‘pelarian’ dari kemumetan mengerjakan skripsi.

Meski sudah 10 tahun, saya bukanlah blogger yang punya banyak penggemar, lantas mendapatkan rentetan respon di kolom komentar. Ngga. Saya ini semacam ngeblog dalam kesunyian. Halah. Pembaca setia blog saya adalah… SAYA SENDIRI. Tak jarang di banyak kesempatan, saya membuka-buka lagi tulisan lama dan menemukan inspirasi dari sana. Atau sekedar mengingat-ingat kejadian yang pernah saya ceritakan di blog, untuk kemudian bertanya pada diri sendiri, “Oh pernah ya ngalamin ini” atau “Oh pernah ya nulis tentang ini”. 

Dalam perjalanannya selama 10 tahun itu, motivasi menulis pun berganti-ganti. Dari yang awaaall banget hanya sekedar untuk curhat (sebagai pengganti buku diary yang udah ga zaman pada masa itu), lalu ganti lagi jadi untuk berkomunitas, yang kemudian saya bergabung di sebuah komunitas blogger dan menemukan beberapa teman disana (sekarang udah engga), kemudian dengan ikut komunitas tersebut, saya jadi termotivasi untuk mendapatkan hadiah dengan mengikuti give away dan tantangan menulis (tapi ini udah engga juga), dan sekarang kembali lagi, motivasi saya menulis hanya untuk curhat.

Terkhusus sejak menikah lalu punya anak, cerita saya lebih banyak berputar-putar di sekitar urusan rumah dan anak-anak.

Ketika menulis tentang anak-anak ini, saya punya motivasi tersendiri. Saya ingin, suatu hari nanti anak-anak membaca tulisan-tulisan saya dan menemukan sesuatu sebagai pelajaran. Atau membaca doa dan harapan saya untuk mereka yang tak jarang saya sisipkan di beberapa tulisan, untuk kemudian diwujudkan. Atau sekedar kenangan, bagaimana mereka bertumbuh dan berkembang. Selain mereka juga bisa membaca buah pikir dan pengalaman ibunya yang dengan itu mereka bisa mengenal saya lebih dalam. Dan, bila saya meninggal sebelum mereka mencapai baligh, saya berharap tulisan di blog ini menjadi salah satu pedoman pengasuhan. Yah… umur kan siapa yang bisa menebak? :)

Dan, saat ini saya merasa cukup dengan anak-anak sebagai motivasi bagi saya untuk terus menulis dan menulis lagi. 

Older Entries