Swim … swim …

Leave a comment

Untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir … aku berenang!!!
Yap … pada libur hari kedua tanggal 25 Desember kemarin, di Tirtamulya, Cimahi.

Hmm … jadi inget, gimana awalnya aku jadi suka olahraga air ini.

Dan itu terjadi sejak … lebih dari 8 tahun yang lalu.
Ya, saat itu aku masih kelas 3 SMP. Salah satu ‘gaya renang’ yang bisa kupraktikkan adalah, meluncur, juga salah satu gaya primitif yang bisa dilakukan semua orang, yaitu gaya batu.

Hingga pada suatu hari, ketika aku memutuskan mendaftar ke TN, Mamah mendapat cerita bahwa ada tes renang untuk bisa masuk kesana. Ugh … aku kalah telak bahkan sebelum bertanding ketika mendapat kabar itu.
Maka, Mamah mencarikanku seorang pelatih renang. Aku ga pernah tahu, gimana ceritanya hingga akhirnya aku dikenalkan pada seorang pelatih renang yang juga penjaga kolam renang di Sanggariang, kolam renang plus klub renang, yang berada beberapa ratus meter dari sekolahku.
Dan, tahu? Jujur saja, latihan renang adalah kegiatan yang paling membuatku tertekan diantara kegiatan-kegiatan lain yang kuikuti di kelas 3 SMP. Aku benci ketika ada dua hari dalam seminggu yang harus aku isi dengan latihan renang. Aku benci karena aku tidak bisa berenang, dan aku semakin benci ketika dalam beberapa pertemuan, hasil latihanku tidak menampakkan kemajuan.

More

Advertisements

Jeruk Tidak Selalu Manis

Leave a comment

Tergelitik juga baca status FB salah satu adik kelasku tadi pagi…..

Intinya sih, ungkapan kekecewaan dia karena merasa tertipu oleh seorang abang jeruk.

Lho??Lho????

Kita ngomongin jeruk atau apa ya??

Ya, FYI (terutama kalo yang baca ini bukan anak TN), adalah satu isatilah ‘jeruk makan jeruk’ untuk mereka yang menjalin hubungan semacam pacaran, bahkan menikah, dengan sesama alumni TN…hehehe….
Dan kasus jeruk makan jeruk ini…..ternyata banyaaaaaakkkk banget…..
Yang nikah sesama alumni aja udah banyak pasang, yang pacaran lebih banyak lagi, walaupun ga selalu yang pacaran itu berakhir di pernikahan, belum lagi yang punya hubungan ‘Abang-Adik Asuh’ tak terhitung jumlahnya, hahaha…..kalo ini sih semacam TTM yang terselubung…:mbisik: (niru kode emoticon di forum Ikastara).

Kenapa begitu banyak pasangan jeruk ini ya?
Pasangan jeruk yang nikah, udah pasti karena jodoh..hehe…
Walaupun katanya, ‘jodoh itu di tangan Tuhan’, ya…mesti diusahain juga tho??? Ga nunggu tiba-tiba si jodoh datang tho??? (wkwkwk…..inget Mbah Surip suka bilang…tho…tho…)

Memangnya apa sih yang ga berasal dari ‘tangan’ Tuhan?
Rezeki pun berasal dari ‘tangan’ Tuhan bukan? Dan apakah untuk rezeki ini orang-orang hanya menunggu tanpa usaha memperolehnya? Menunggu sekarung uang logam jatuh dari langit dan menimpa kepalanya? (mati doong….)
Dan itu juga yang kupahami mengenai konsep jodoh….karena semuanya berasal dari ‘tangan’ Tuhan, maka kita harus melakukan usaha untuk mengambilnya dari ‘tangan’ Tuhan.

Nah loh…melenceng deh dari pembahasan kita….
Tadi kita lagi ngomongin jeruk kan?

Ngga melenceng kok….jadi….kalo pada akhirnya banyak pasangan jeruk yang menikah, ga usah heran (Kok bisa banyak jeruk yang ternyata berjodoh?), itu pasti karena usaha dan campur tangan Tuhan juga.

Nah…kecenderungan jeruk makan jeruk ini sudah mulai saya rasakan dan perhatikan ‘fenomena’nya sejak SMA.
Dari mulai pacaran antar siswa (Ssstttt…..pelanggaran K-9 nih), sampai antar siswa dan alumni.
Alumni yang punya kesempatan paling besar untuk PeDeKaTe ke adik-adik jeruknya sih yang pasti alumni jeruk yang sekolah di akademi tetangga.

Kalo saya perhatikan, setiap wiken, selalu saja ada jeruk tetangga yang berkunjung ke TN, dengan alasan, mengunjungi adik-adik grahanya, mengunjungi adik-adik daerahnya, mengunjungi pamong A, mengunjungi pamong B, lebih bagus lagi kalo dalam rangka kunjungannya itu mereka ketemu adik siswa putri yang menarik hati….ya sudah dilahap tuh jeruk.
Kenapa saya bicara kayak gini? Karena melihat kenyataan di lapangan, banyak teman saya yang akhirnya dekat dengan mereka bahkan akhirnya pacaran diawali dengan hubungan yang dipaksakan, seperti….sodara absen adik kamarnya….absen depan belakang dengan adik daerahnya….sodara daerah adik absennya….dll (hahahaha…..contoh-contohnya 100% ngarang looo…).
Tapi mungkin karena sama-sama spesies bernama jeruk, ketertarikan itu lebih besar walaupun hanya sekali bertemu bahkan belum pernah bertemu sebelumnya.

Kenapa begituuu???

*
Sejak saya masuk TN, bahkan sebelum resmi menjadi siswa disana, saya mengagumi sosok anak TN, yang dalam pandangan saya, sangat berwibawa, bersahaja, pintar (pastinya…hehe), disiplin, kepribadian oke (cuit..cuiiiitt..), ngga madesu, dewasa, dan el el.
Terlebih lagi setelah menjalani tes masuk yang tidak bisa dibilang mudah, saya makin memandang siswa TN dengan segan. Mereka hebat! Saya pikir waktu itu. Dan ketika akhirnya saya jadi bagian dari mereka, saya bangga, walaupun pada kenyataannya saya siswa yang sangat biasa-biasa saja.

‘Fenomena’ jeruk makan jeruk ini, menurut saya, bisa terjadi terutama karena kebanyakan jeruk memiliki cita-cita ideal yang sama, dan yang terpenting, pernah mengalami tiga tahun yang sama dalam rentang umur tertentu dalam hidup mereka. Tiga tahun yang kata orang-orang merupakan masa pencarian jatidiri, dialami oleh para jeruk di bawah idealisme yang sama, di bawah naungan atap yang sama. Sehingga walaupun tidak pernah bertemu secara fisik, walaupun jarak angkatan berbeda hingga 10 tahun, ada keterikatan hati antara para alumni yang membuat solid hingga saat ini.
Dan jika seorang alumni bertemu dengan alumni lainnya, yang beda angkatan, beda generasi, obrolan akan tetap nyambung, karena kami menerima pendidikan yang kurang lebih sama selama 3 tahun tersebut.
Jadi, wajar saja jika ada jeruk yang langsung tertarik pada jeruk yang lain, meski dalam pertemuan pertama dengan alasan, “Enak sih….kalo ngobrol nyambung….”
Jelas…pasti nyambung, karena (pengalaman pribadi nih…:mbisik:), pertemuan pertama dengan jeruk yang baru dikenal biasanya diisi dengan obrolan seputar kehidupannya selama di TN.

Tapi…..seperti komentar yang saya submit pada status adik kelasku itu, “Diantara sekarung jeruk manis-manis, pasti ada jeruk yang asem-asemnya…”
Artinya, walaupun secara umum penilaian saya terhadap jeruk adalah baik (seperti yang saya ungkapkan sebelumnya di atas), tapi setiap manusia pasti punya sisi baik dan buruknya kan?
Dalam hubungannya dengan sesama manusia, tidak selalu baik yang kita lihat dari orang yang kita anggap baik, pasti ada sesuatu yang menurut kita buruk dari seorang yang baik dan mengganggu perasaan kita. Dan orang yang melakukan sesuatu yang kita anggap buruk, belum tentu orang yang tidak baik, hanya saja, mungkin orang itu tidak menempatkan perasaan kita sebagai prioritasnya sehingga yang muncul adalah perasaan sakit hati karena merasa diperlakukan ‘ga pake hati’.

Jadi lain kali kalo mau beli jeruk hati-hati deeehhh….jangan sampai tertipu seperti anekdot seorang tukang jeruk yang tertipu karena udah membeli jeruk asem sampai dua karung, ketika seorang pembelinya protes, “Bang….katanya jeruknya manis-manis, saya beli 2 kilo ga ada satupun yang manis…”, kemudian dijawab oleh si abang jeruk…eh penjual jeruk…,”Ibu mending cuma beli 2 kilo, lah saya…beli jeruk 2 karung asem semua”

Kadang harga juga ga menjamin kualitas jeruk loo….penampilan fisik seseorang yang terlihat ini, terlihat itu, tampaknya begini tampaknya begitu, tidak menjamin isi hatinya juga baik. Kadang justru jeruk berwarna kulit ijo yang lebih manis daripada jeruk yang berwarna kulit orange. Kadang jeruk mandarin yang lebih mahal pun ga semanis jeruk lokal yang berpenampilan standar.
Artinya, jangan menilai seseorang hanya dari fisiknya.

Hmm…apa lagi ya…

Udah ah….:mngacir:

Tuh geura nya…kalah ka ngacir…..

Iya deh balik lagi….
Kesimpulannya adalah….
Mau jeruk kek, bukan jeruk kek, tetep aja manusia….

(abis ini manusia yang protes-protes gara-gara disamain sama jeruk..hahahaha…)

Jaga Monyet!!!

Leave a comment

Waktu masih muda dulu (hehe..sekarang udah tua ya?)….untuk pertama kalinya aku denger istilah Jaga Monyet, atau lebih kerennya, kami (para santri Magelang) biasa menyingkatnya dengan ‘Jamon’ (Perasaan ga ada keren-kerennya juga..hehe).

Aneh memang di telinga, apalagi bagi kalian yang baru pertama kali mendengarnya, mungkin sama terheran-herannya seperti kami dulu, si anak kelas 1 yang masih lucu-lucu, ketika pertama kali mendapat tugas untuk ‘Jaga Monyet’ secara bergilir setiap hari Minggu.

“Apaan yang dijagain sih?”
“Namanya aja jaga monyet…berarti kita ngejagain monyet!”

Ternyata…..apa itu Jamon???

Setiap hari Minggu ketika orang-orang menyiapkan pakaian ter-rapi mereka untuk berpesiar di seputar Kota Magelang, para Jamon’ers (halah..halah..) juga menyiapkan pakaian terbaik mereka buat ngejagain monyet (Hihihi…). Se-stel PDL ijo-ijo, sepatu PDL yang setengah mati nyemirnya, gesper PDL yang banyak bagian yang mesti di-brasso, topi PDL, dan….senjata perang….tongkat! Hwehehe….udah (ngerasa) paling gagah sedunia deh.
Terus, yang dijagain apaaaa?????
Maka, dengan perlengkapan perang itu berangkatlah kami ke pos masing-masing. Kalo cowok, satu pos menjaga satu monyet…eh satu pos jaga monyet maksudnya. Kalo cewek, satu pos berdua, karena sekolah ternyata paham banget bahwa wanita butuh berbicara (baca: ngobrol, ngegosip) lebih banyak daripada cowok. Heheh…
Ada beberapa titik pos Jaga Monyet, diantaranya di belakang ruang kelas 3 dekat GSG baru (di bagian depan kampus) trus….dimana lagi ya?! Yang pasti kalo cewek tuh selalu kebagian ngejagain monyet di pos daerah timur kampus, di ujung jalan yang paling dekat dengan rumah P-berapaaaa gitu…(lupa euy).

Stop tentang Jamon di kampusku dulu! Sebenarnya inspirasi menulis tentang Jaga Monyet ini datang ketika hari ini aku menemukan artikel tentang kampung-kampung bersejarah di Batavia (sekarang Jakarta) yang beberapa diantaranya telah berganti nama dan tidak dapat ditemukan di peta Jakarta masa kini.

Contohnya Kampung Rawa Bangke, yang saat ini telah berganti nama menjadi Rawa Bunga (pake prosesi bubur merah putih juga ga ya? Hehe). Menurut cerita rakyat Betawi, nama itu berawal dari zaman penjajahan Inggris, ketika pasukan Inggris berusaha merebut Jakarta atau Batavia dari tangan Belanda, awal tahun 1811. Dalam pertempuran sengit di daerah Jatinegara, banyak tentara Inggris yang tewas. Mayat-mayat atau bangkai mereka terlihat bergelimpangan di rawa. Warga sekitar lantas menyebut rawa itu dengan nama Rawa Bangke.

Versi lain menyebut, nama Rawa Bangke berasal dari masa abad ke-18 Masehi. Daerah rawa itu diberi nama demikian setelah di sana banyak ditemukan mayat orang China pemberontak yang jadi korban pembantaian pasukan Belanda. Catatan sejarah menyebutkan, sekitar 10.000 warga Batavia keturunan China tewas dalam aksi pembunuhan besar-besaran yang terjadi pada Oktober 1740 itu.

Terus bagaimana dengan nama Jaga Monyet?

Kampung dengan nama Jaga Monyet ini ternyata pernah ada di daerah Petojo, Jakarta Pusat dekat Harmoni. Jalan yang dulu bernama Jalan Jaga Monyet itupun berganti nama menjadi Jalan Suryopranoto. 

Nama tempat atau toponim Kampung Jaga Monyet muncul pada zaman VOC, antara abad ke-17 dan 18 Masehi. Pada masa itu, di sana terdapat benteng yang dibangun Belanda dengan tujuan untuk menangkal serangan pasukan Kesultanan Banten dari arah Grogol dan Tangerang.

Kabarnya, kalau sedang tak ada serangan musuh, para serdadu di sana lebih banyak menganggur. Sehari-hari mereka lebih sering hanya mengawasi kawanan monyet yang banyak berkeliaran di dalam benteng, yang pada masa itu masih dikelilingi hutan belantara. Dari kondisi itulah nama Kampung Jaga Monyet kemudian muncul.

Hmm…menarik bukan? Yang lebih menarik lagi adalah pertanyaan yang belum terjawab mengenai, “Mengapa acara jaga-jaga di TN dulu itu disebut Jaga Monyet?”, ada kaitannya sama penamaan Kampung Jaga Monyet di Batavia ngga ya?
Semoga tidak…karena kalo memang ada kaitannya, Jamon’ers di TN ga ada bedanya dengan para serdadu VOC saat itu yang lebih banyak menganggur dan hanya mengawasi monyet-monyet yang berkeliaran di dalam benteng.
Jamon jaman SMA dulu lebih bermakna dari itu bukan? :)

Sumber: disini nih!

Terkenang PPP

4 Comments

Semalem akhirnya memutuskan untuk pergi ke Makrab yang diadain sama adik-adik TN18.

Wew…TN 18??? Jadi serasa tua, mereka kelas 2 SMA sekarang (atau kelas XI kali ya kalo sekarang) dan udah 6 tahun lebih muda dari aku.

Awalnya ragu….dateng atau ngga ya? Satu-satunya yang bisa dijadiin alesan ga dateng adalah, “ga ada temen berangkat dari BEI”, tetapi alasan itu menjadi tidak ada ketika seorang abang TN9 yang benar-benar baru kukenal tadi malam mengirimkan message di Facebook yang isinya, “Mau bareng ngga? Kalo mau ketemu di Pintu Senayan 1 ya…”, dan tak lupa sebaris nomor handphone pun dia tinggalkan.

Tapi…rencana berangkat pun hampir batal, karena jam 8 malam lewat si Kita yang janjian berangkat bareng itu masih sama-sama di kantor, ketika tiba-tiba sebuah pesan pendek masuk hampir jam 9 malam menanyakan, “Jadi ngga?”.

Ya wis lah…udah terlanjur diniatin dateng, sekalian aja dateng, walaupun pada akhirnya kita baru nyampe tempat acara menjelang  jam 10 karena jalanan macet banget, mungkin pengaruh hujan deras sesiangnya.

Dan keputusan yang terkesan ‘bela-belain’ dateng itu ngga membuatku menyesal sama sekali. Malah membuatku seneeennnnggg banget, sampe aku ngga bisa melepaskan senyumku hingga menjelang tidur jam 12 malamnya.

Angkatanku yang hadir terbilang sangat sedikit. Bertiga, ditambah aku yang baru datang justru saat mereka meniatkan untuk segera pulang.

Celingak-celinguk….nyari pamong yang dikenal…”Pada duduk dimana ya?”. Di luar hall para alumni bercengkerama satu sama lain, walaupun kebanyakan masih ‘nge-gank’ per angkatan.

Eh…ada Pak Kuncoro. Maka sempatlah kita ngobrol….

Terus…eh..ada Bu Prima juga, maka sempatlah aku sapa, sambil basa basi menanyakan pamong-pamong yang lain. Tanpa kuduga si Ibu malah mengajakku ke tempat pamong-pamong duduk.

Dari jauh kulihat seorang Ibu Pamong menyambutku dengan tatapan surprised.

“Ibuuu…..”, aku peluk erat-erat Ibu yang tampak semakin tua di hadapanku ini.

Lamaa….dan haru.

“Ibu…aku kangeeeennnn….”

“Kok baru dateng? Dari mana?”, maka mengalirlah ceritaku….

…………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

 

***

Sementara,

Lima tahun yang lalu…..

Setelah melewati masa kelas 2 yang luar biasa menyenangkan, bersama teman-teman sekelas yang amat sangat menyenangkan, kompak luar biasa (haha…narsis dikit lah…pada kenyataannya semua siswa menganggap kelasnya yang paling menyenangkan dan kompak), maka tibalah masa-masa akhir perjuanganku di TN dengan kenaikan ke kelas 3. Masa-masa dimana sebagian besar jam di setiap hari adalah belajar.

Masuklah aku ke kelas III-IPA3, ber-absen depan belakang dengan seseorang yang sangat pintar, sehingga kelihatan sangat jomplang ketika setiap semester nilai dari setiap kelas diumumkan di papan pengumuman. Hahaha…

Pada hari pertama kami di kelas 3, masuklah seorang Ibu Pamong yang tidak pernah kami duga sebelumnya memperkenalkan diri sebagai wali kelas kami. Bukan pamong IPA, matematika (karena biasanya yang diangkat menjadi wali kelas 3 adalah pamong-pamong IPA/matematika untuk kelas IPA, dan pamong pelajaran IPS untuk kelas IPS), dan sepanjang kami di TN pun belum pernah sekalipun Ibu yang satu ini memegang posisi sebagai Wali Kelas.

Terlepas dari semua aktivitas kelas 3 yang melelahkan…aku merasakan hari-hariku menyenangkan.

Berkumpul dengan teman-teman sekelas di rumah Wali Kelas setiap akhir pekan adalah saat yang amat menyenangkan. Pintu rumah Ibu selalu terbuka kapanpun saat kami butuhkan. Sementara saat itu teman-temanku yang lain banyak yang jarang kumpul kelas dengan berbagai alasan. Diantaranya karena beberapa wali kelas ada yang tidak menerima siswa di akhir pekan.

Disana tidak banyak juga yang kami lakukan. Paling hanya sekedar nonton TV, atau bermain-main dengan anaknya yang saat itu masih berumur 4 tahun.

***

Semalam…

Aku melihat dua foto anak kecil terpajang di layar ponselnya…

“Ibu…udah gede-gede….”, kataku.

“Iya…yang pertama sudah 8 tahun, adiknya 4 tahun”.

Sudah empat tahun lebih berlalu….cepat sekali.

Tidak banyak yang sempat kami obrolkan semalam, karena tiba-tiba ponselku berbunyi menyampaikan pesan dari temanku yang menunggu di luar, “Asri…gue pengen pulang nih…cepatlah….”.

Baiklah….memang saatnya pulang. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Besok seperti biasa aku pun harus masuk kantor jam setengah sembilan. Aku berpamitan, dan baru menyadari di ruangan yang gelap itu juga kutemui ada Pak Heri, Pak Cecep, Bu Elly, dan pamong-pamong (baru) lain yang tidak kukenal. Mereka menyambut sapaku. Mereka mungkin lupa atau sama sekali tidak tahu namaku, bisa jadi mereka pun lupa pada rautku, tak apa….yang pasti dalam hatiku mereka akan selalu ada sebagai orang-orang yang membesarkanku, menggantikan sebagian peran orangtuaku selama menjalani pendidikan di Taruna Nusantara.

Untuk Ibu Marfungah Wali Kelas 3-ku….(yang menjadi inspirasi postingan kali ini), serta untuk seluruh Pamong Pengajar Pengasuh yang semuanya, tanpa terkecuali, meninggalkan kesan yang sama di hatiku….

Terima Kasih…..

Kreatip (Kreasi ti PuT)

4 Comments

Beberapa hari yang lalu, berlokasi di dapur Rumah Kost Jalan Pam Baru 3 No 12, terjadilah percakapan yang (selalu) menarik.

Sampai pada akhirnya percakapan bermuara pada hal tentang, manfaat setrika selain untuk melicinkan pakaian. Nah lo? Emang ada?

Tentu saja, selain untuk melicinkan pakaian, setrika pun terbukti dapat digunakan untuk memasak mie dan membakar roti. Wow…luar biasa bukan? Itu baru dua dari banyak kegunaan setrika yang lain. Mungkin suatu saat bisa dicoba membuat telor ceplok, atau memanggang martabak telur di atas setrikaan. Hmmm…boleh juga.

Teman ngobrolku hanya tercengang-cengang mendengar kehebatan setrika, yang dia anggap hanya memiliki satu kegunaan, “Hah…kok bisa?”, “Gila…masa sih?”, “Ya ampuuun…parah…”, “Emang jadinya enak?”, dan ekspresi-ekspresi takjub lainnya (takjub?!?!?! Hahahaha)

Obrolan ini diilhami oleh pengalaman-pengalaman (gila) teman-teman (cowok) semasa di ‘penjara nun indah’ dulu. Yang pada akhirnya pernah kupraktikkan sendiri dan ternyata berhasil.

Dulu….ketika kompor masih menjadi suatu kemewahan, setrika pun menjadi solusi.

 

Berikut resep praktis membuat aneka makanan dengan menggunakan setrika:

 

Mie rebus

–          Siapkan sebungkus mie, air untuk merebus mie, sebuah mangkuk konduktor (yang dapat menghantarkan panas), dan tentu saja setrika (yang panasnya maksimal).

–          Balik setrika sehingga sisi yang panas menghadap ke atas, dan sangkutkan di celah antara lemari belajar.

–          Letakkan mangkuk logam berisi air di atas setrika, dan tunggu keajaiban yang terjadi. Air mendidih, mie mateng (setrika angus), dan semangkuk mie rebus panas dan nikmat siap dihidangkan. Yummmmiiieeeee……

 

Roti bakar

–          Siapkan roti dengan isi sesuai selera kita.

–          Siapkan tissue. Bungkus roti dengan tissue dan letakkan di tempat yang  datar.

–          Letakkan setrika di atas roti (Perhatian: Jangan menggosok-gosokkan setrika di atas permukaan tissue yang membungkus roti, karena hal tersebut akan membuat tissue menempel pada roti, kecuali kalo kalian pengen nyoba bikin roti bakar rasa tissue, roti di dalam, tissue di luar).

–          Bolak balik roti, dan ‘panggang’ roti sampai tingkat ‘kegosongan’ yang diinginkan.

–          Tunggulah keajaiban yang terjadi.

–          Taraaaa….Setangkup roti bakar hangat dan nikmat siap dihidangkan…..Hmmmmmm……Enaaaaaaaaakkkk (kalo yang ini aku pernah nyoba sendiri suatu pagi di kamar kost B-13 Bandung).

 

Ayo berkreasi dengan setrika!

13 LAP itu…

Leave a comment

Sukses itu dilihat dari proses, bukan hasil.

Tadi pagi tiba-tiba teringat peristiwa beberapa tahun yang lalu, di tahun kedua SMA-ku.

Suatu hari pamong olahragaku mengumumkan akan ada lomba lari 10km di Borobudur. Semua siswa harus mengikuti tes, semuanya memiliki kesempatan yang sama untuk berpartisipasi.

Aku tidak berminat sebenarnya, kupikir lari 5 keliling lapangan saat tes samapta saja sudah membuatku…fiuuuhhh. Apalagi lari 10km??? Jika keliling satu lapangan bola sama dengan 400m, jadi 10km itu sama dengan 25 keliling lapangan bola. Wow!!

Tapi…pamongku mewajibkan semua siswa ikut tes. Huh…

Akhirnya hari tes itu pun tiba…

Aku berlari…hanya berlari…tanpa beban. Satu lap…dua lap…tiga lap…empat lap…lima lap…satu per satu temanku pun mulai ke pinggir lapangan dan memutuskan untuk berhenti. Tapi entah mendapat kekuatan dari mana…aku terus berlari. Baru lima lap, kupikir. Setiap semester pun aku lari minimal 5 lap dalam tes samapta. Enam lap…baru enam…belum bisa dikatakan hebat. Tujuh lap…aku lelah…aku ingin berhenti. Delapan lap…aku benar-benar lelah…di garis finish selanjutnya aku akan berhenti. Sembilan lap…Sepuluh lap…dan seterusnya…aku benar-benar ingin berhenti…tapi setiap melewati pamong dan teman-temanku yang sudah ‘tersingkir’ di pinggir garis finish, hatiku selalu berbicara….”Lanjutkan!! Satu lap lagi!!! Pasti bisa!”. Begitu seterusnya…setiap kali melewati garis finish, lagi-lagi hatiku berbicara ”Lanjutkan!! Satu lap lagi!!! Pasti bisa!”. Sampai akhirnya tes dihentikan karena tiba-tiba hujan turun sangat deras…dan saat itu aku sudah melewati 13 lap, jauh di atas ekspektasiku, walaupun banyak temanku yang mencapai hasil lebih baik dari itu.

Beberapa hari kemudian, pamongku mengumumkan siapa saja yang boleh ikut lomba lari 10km. Aku tidak ada dalam daftar. Aku gagal? Tidak. Aku merasa sangat puas menjalani proses 13 lap itu walaupun hasilnya mungkin dianggap mengecewakan bagi sebagian orang. Sampai sekarang, proses 13 lap itu adalah sesuatu yang membanggakan bagiku.

Aku belajar, bahwa kekuatan keyakinan bahkan dapat mengalahkan ketidakmampuan.

Aku belajar, bahwa sukses itu terjadi ketika kita tidak mengalah pada proses. Sukses itu terjadi ketika kita berhasil melewati setiap proses untuk mencapai tujuan.

Itu menurutku…