Tentang Hijrah

Leave a comment

Suatu sore beberapa minggu yang lalu (late post bangeeeet yaaa) saat nonton Kompas TV bersama suami, saya tergelitik dengan kata ‘hijrah’ yang digunakan pada running text untuk mengabarkan kepindahan seorang pemain sepakbola (entah siapa waktu itu) dari satu klub ke klub lainnya.

Komentar saya pertama-tama adalah… kenapa menggunakan kata hijrah, alih-alih pindah, atau kata lain yang semisal?

Emang kenapa kok kayak risih gitu?

Secara bahasa mungkin tidak masalah. Dari beberapa definisi yang saya temukan, hijrah itu artinya berpindah; memutuskan hubungan; meninggalkan yang tidak baik menuju ke yang lebih baik.

Jika, si pesepakbola XYZ hijrah dari klub ABC ke klub DEF, artinya dia pindah dari ABC ke DEF, memutuskan hubungan dengan klub ABC, atau beralih ke klub DEF yang dianggap lebih baik (dari sisi gaji, lingkungannya, fasilitasnya, atau desain jerseynya, hehe maksa) dsb.

Namun, karena saya orang Islam, maka mau tak mau, saya akan mendefinisikan kata hijrah, tidak hanya secara bahasa, namun juga secara syariat. Dan kata ini belakangan menjadi populer bersamaan dengan munculnya berbagai komunitas hijrah, dan berita hijrahnya beberapa artis, sampai ada istilah ‘artis hijrah’ segala. That’s good. Artinya semakin banyak orang paham tentang Islam sebagai jalan hidup bahagia dunia akhirat.

Lho malah bagus kan kalau kata ‘hijrah’ dipopulerkan oleh media sebesar Kompas TV?

Justru disitu lah masalahnya menurut saya. Karena:

Pertama…

Perlu diingat, yang memakai kata itu adalah media yang selama ini kurang berimbang dalam memberitakan Islam. Saya katakan demikian karena seringkali konten berita/ acara di stasiun TV tersebut berselisih pandang bahkan bertentangan dengan prinsip Islam. Jadi, jangan terlalu naif, jika suatu waktu media tersebut terlihat ‘bersahabat’ dengan Islam. Bisa jadi ada maksud terselubung atau pesan tersembunyi?

Saya jadi teringat, beberapa waktu lalu membaca buku memoar berjudul “Emak”. Buku itu sudah ada di koleksi saya sejak sebelum menikah, namun masih tersegel hingga akhir tahun lalu memutuskan membacanya.

Memoar itu diterbitkan oleh penerbit Kompas Gramedia. Pada mulanya, saya ‘terharu’ dengan penuturan penulis tentang tokoh emak di memoar tersebut yang digambarkan sebagai seseorang yang relijius. Tapi sejurus kemudian, saya waspada ketika mengingat siapa penerbitnya. Dan ke’waspada’an saya itu terbukti ketika di tengah-tengah buku, si penulis mulai menuangkan pemikirannya tentang Islam yang mengarah ke liberal.

Kedua…

Saya khawatir, perluasan makna kata ‘hijrah’ justru akan mendangkalkan makna sebenarnya. Orang-orang akan dengan mudah menggunakan kata tersebut dengan mengabaikan esensinya.

Jika hijrah hanya sebatas dimaknai pindah, maka maknanya bisa tergerus hanya sebatas perpindahan bersifat fisik yang orientasinya dunia.

*

Kita hidup di zaman fitnah. Tetap waspada. Karena ‘mereka’ punya cara yang sangat halus untuk mengalihkan umat Islam dari agamanya.

Advertisements

Tentang Bunda

Leave a comment

Lagi-lagi… membuka-buka draft lama yang belum terpublish, dan saya menemukan tulisan ini telah tersimpan selama 9 tahun (30 Jan 2009). Lupa juga sih pernah menulis ini, dan lupa juga beberapa tokoh yang saya ceritakan disini.

Tapi sangat mungkin, keputusan saya empat tahunan lalu untuk merumahkan diri dipengaruhi oleh pemikiran saya ini lima tahun sebelumnya ketika saya baru saja lulus kuliah dan bekerja.

Ini pemikiran saya 9 tahun yang lalu, ketika saya hanya mengamati, belum merasakan. Kini, saya tahu, seorang ibu bagaimanapun kondisinya, tinggal di rumah atau bekerja, kasih sayangnya utuh untuk anak-anaknya.

***

Akhirnya, selesai juga kubaca buku ‘Catatan Hati Bunda’nya Asma Nadia. Bagus. Ceritanya menarik dan menyentuh. Sepertinya itu adalah sebuah diary yang dibukukan. Jadi, banyak hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang diangkat menjadi tema suatu cerita. Belajar satu hal lagi tentang dunia parenting. Diam-diam selama ini aku suka mengamati orang tua-orang tua muda menghadapi anak-anak balita mereka.

 

Dari hasil pengamatan itu…

 

Aku belajar dari Uni (panggilan hormat pada seorang guruku) tentang pendidikan anak. Bagaimana seorang Uni yang ‘sangat pendidik’ membuat ruang depan rumah, yang biasanya dipakai kebanyakan orang sebagai ruang tamu, menjadi lebih mirip perpustakaan dan taman bermain anak-anak dengan berbagai tempelan poster dan mainan-mainan edukatif. Ruangan depan itu pun selalu terbuka untuk anak-anak tetangganya, kebetulan Uni tinggal di sebuah gang kecil, beberapa rumah diantaranya ditinggali oleh keluarga muda, yang perhatiannya terhadap pendidikan anak tidak sebesar Uni. Hasilnya? Seorang putri yang cerdas dan bisa bersosialisasi baik dengan siapapun, padahal belum genap tiga tahun.

 

Lagi…aku pun belajar dari Teteh (panggilan hormatku pada seorang guru yang lain). Ibu dari dua orang anak. Teteh selalu melibatkan anak tertuanya setiap beribadah kepada Allah. Ketika waktu shalat tiba, anaknya selalu diajak serta berwudhu. Dibiarkannya si anak berdiri di sampingnya ketika shalat, dan dengan sendirinya si anak itu pun mengikuti gerakan-gerakan Umi dan imamnya, dengan gaya khas anak kecil tentunya, padahal umurnya belum lagi dua tahun.

 

Di lain kesempatan aku pun mengagumi keluarga lain yang memiliki anak cerdas, si kutu buku, padahal usianya belum lagi lima tahun. Bagaimana ‘memaksa’ anak sekecil itu memiliki hobi membaca?

 

Kemudian…aku pun tak luput mengamati dosenku di kampus. Kadang dia bercerita tentang keluarganya. Hanya sedikit. Tapi dari sedikit itu aku jadi sedikit tahu bagaimana dia mendidik anak-anaknya di rumah. “Kalau anak-anak melakukan sesuatu yang tidak kami kehendaki, saya ga pernah bilang, ‘Jangan!’, tapi bertanya kepada mereka, ‘Kakak kenapa melakukan itu?’, itu akan lebih membuka komunikasi antara orang tua dan anak”, katanya suatu hari.

 

Suatu hari di kost, si Ibu Kost dikunjungi cucu-cucunya dari Padang, dua orang anak yang masih kecil-kecil, masing-masing berusia enam dan empat tahun. Senangnya bisa ikut berkenalan dengan mereka. Dalam suatu obrolan kami, seorang teman bertanya tentang pekerjaan orang tua mereka. Sampai pada suatu pertanyaan, “Umi kerja apa, Sayang?”. Dengan wajah polosnya, dan mata berbinar setiap menjawab pertanyaan dari kami, dia menjawab, “Sekarang Umi udah ga kerja, soalnya aku dan Afi (menyebut salah seorang adiknya) ga ngebolehin”. Lugu…tapi menyentuh. Anak-anak itu menginginkan Umi-nya selalu ada di rumah mendampingi mereka, walaupun yang kutahu, masing-masing dari mereka memiliki seorang pengasuh.

 

Tapi, di lain waktu, aku seringkali melihat manajerku menelpon orang-orang di rumahnya, terutama para pengasuh anak-anaknya, “Si Kakak udah makan? Sama apa? Udah tidur siang? Udah mandi belum? PR-nya gimana…udah dikerjain? Les ga tadi siang?”. Pertanyaan bertubi-tubi itu seringkali terdengar ketika dia sedang berada di kantor maupun klien.

Lain lagi cerita seorang Ibu yang kewalahan menghadapi anaknya yang terus menerus menangis semenjak ditinggal pengasuhnya. Bahkan dekapan Ibu kandungnya pun tidak membuat si anak lebih tenang. Prihatin, tanpa disadari, fungsi seorang ibu mungkin sudah diambil alih oleh seorang pengasuh.


Ada
lagi cerita dari saudaraku. Dia bekerja di tempat yang menawarkan gaji tinggi, memang. Semua kebutuhan lahiriah anaknya terpenuhi, memang. Bahkan keluarga muda ini bisa dibilang mapan dalam hal materi walaupun saudaraku ini baru bekerja kurang lebih empat tahun di tempatnya bekerja sekarang. Tapi…sehari-hari anaknya dititipkan di rumah kakek-neneknya bersama seorang pengasuh. Pergi pagi, bahkan sebelum anaknya bangun, dan pulang pada sore hari ketika anaknya mungkin sudah tak ingin lagi bermain. Sedih.

 

“Yang penting adalah kualitas pertemuan, bukan kuantitasnya”, kata seseorang. Aku ga membantah. Itu benar. Tapi, sebagai seorang anak, bagaimana jika aku menuntut kedua-duanya, baik kuantitas maupun kualitas pertemuan dengan orang tua. Kupikir, semua anak pun menginginkan hal yang sama. Bisa berinteraksi lebih lama dengan orang tua mereka. Bahkan, dulu, ketika aku masih benar-benar tinggal di rumah beserta orang tua, hal yang paling kunantikan adalah saat-saat kepulangan Bapak dari kantor. Walaupun setelah berada di rumah pun tidak banyak yang beliau lakukan untuk kami, anak-anaknya. Tapi kami merasa lebih tenang dan nyaman mengetahui orang tua kami ada untuk kami.

Dari para orangtua itulah aku belajar…dan masih akan terus belajar, sampai aku menyampaikan tulisan berikutnya. See yah…

***

Ayah

Leave a comment

Dibuang sayang… setelah 2,5 tahun hanya tersimpan di notes henpon, akhirnya saya posting juga. Tulisan ini ga saya posting sejak awal pasti karena ceritanya belum selesai. Bisa dibaca di bagian akhir tulisan yang terasa ngambang. 

Aslinya ditulis pada 4 Agustus 2015.

***

Ketika harapan bertemu kenyataan maka hasilnya adalah kepuasan. Dan saya terpuaskan setelah membaca novel “Ayah” karya Andrea Hirata. Novel yang tentunya ditunggu-tunggu para penggemar Andrea Hirata setelah sekian tahun beliau tidak menerbitkan satu pun novel.

Dan… hey… Andrea Hirata kembali. Masih dengan gaya penceritaannya yang khas, sederhana kadang-kadang ‘lebay’ di satu dua bagian, dengan latar tempat di Pulau Belitong, memunculkan karakter/ profil tokoh yang mudah saja kita temui sehari-hari, mengundang tawa disana sini, namun di beberapa bagian juga sukses membuat saya menangis.

Pernah ga kalian perhatikan? Bahwa beberapa novel Andrea Hirata lekat dengan tokoh Ayah.
Mulai dari Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi dimana sosok Ayah pengaruhnya sangat kuat untuk Ikal, walaupun diceritakan sang Ayah sebenarnya bukan orang yang banyak bicara. Lalu, Sebelas Patriot, lagi-lagi tokoh Ikal terinspirasi dari Ayahnya. Yang terakhir ini, secara terang judul novelnya pun ‘Ayah’.

Buku ini menceritakan beberapa tokoh yang masing-masing punya kesan kuat dan mendalam tentang ayahnya. Seperti meloncat-loncat dari cerita satu tokoh ke tokoh yang lain, yang kemudian saling terjalin di bab-bab berikutnya. Dan pada akhir cerita, muncul tokoh aku, si pencerita, yang adalah Si Ikal, lagi. #eh spoiler bukan ya#

Pantaslah, minimal saya, menobatkan Andrea Hirata sebagai tokoh paling mempengaruhi Belitong di masa kini. Karena berkat serial novelnya yang pertama, kini tak ada orang di Indonesia yang tidak mengenal Belitong. Pun sampai menamainya Negeri Laskar Pelangi.

Salut.

Pena dan Kertas, Senjata Para Penuntut Ilmu

Leave a comment

Jadi yah… belakangan ini saya lagi seneeeeeng banget mencatat. Mencatat is suatu pekerjaan yang sudah saya tinggalkan sejaaak lulus kuliah xx tahun yang lalu.

Duh… ga sampai hati ngisi si xx itu, menyadari ternyata udah lama yaaa si xx itu… padahal masih serasa anak kampus kemaren malem. 

Nah, sejak masuk kerja, praktis semua pekerjaan dilakukan di komputer, kalau pun butuh pena dan kertas hanya untuk oret-oretan. Dan tulisan tangan saya yang aslinya memang tidak bisa rapi, jadi semakin berantakan. Bahkan ada satu ketika, dimana saya merasa tangan saya cepat lelah jika menulis, dan… kaku.

Namun, kegiatan belajar online a la emak-emak zaman now memaksa saya kembali ke kebiasaan lama untuk mencatat. Awalnya karena HSI. Di awal-awal pelajaran, saya rajiiiin sekali mencatat di buku tulis yang saya sediakan khusus untuk HSI ini. Namun satu dua kesempatan, saya luput mencatat, karena ga sempat ataupun ga ada pulpen, dan itu berpengaruh pada konsistensi saya mencatat. Melihat ada beberapa ‘bolong’ di buku catatan HSI saya (materi HSI disampaikan setiap hari) membuat mood mencatat agak terganggu (baca: males.. haha). 

Akhirnyaa… kebiasaan mencatat setiap detail yang diucapkan Ustadz di audio materi pun hilang sudah, berganti dengan… menuliskannya pada aplikasi notes di ponsel, walaupun tidak selalu dilakukan.

Mengingat berharganya ilmu yang disampaikan, dan… menyadari ternyata saya tidak punya catatan yang baik selama belajar hampir 2 tahun di HSI, maka saya bertekad untuk memulai kembali kebiasaan baik itu walaupun terlambat. Alhamdulillah… silsilah 8, yaitu pembahasan tentang kitab Qawa’idul Arba, bisa saya catat lengkap dari halaqah pertama sampai terakhir.

Ternyata, bagi saya, ada 2 item penting (banget) yang membuat kegiatan mencatat menjadi lebih menyenangkan… yaitu… pulpen yang enakeun dan buku tulis yang baru dan bagus (kalau ada). 

Kalau buku tulis sih ga bagus-bagus amat sebenarnya, saya hanya memanfaatkan notebook berukuran A4 yang sisa banyaaaak dari tempat kerja lama, karena dulu dijatah 1 bulan dapat pembagian stationery dan tidak selalu habis saya gunakan dalam 1 bulan. Penting juga untuk memisahkan catatan berdasarkan pelajarannya.

Yang berpengaruh banget dalam menumbuhkan semangat mencatat adalah PENA atau PULPEN yang enakeuun

Sebenarnya ada pulpen favorit saya dari merek tertentu (clue: yang menerbangkan pesawat terbang :p), namun harganya lumayan, masih di bawah 20 ribu sih, tapi karena harganya segitu itu jadi ga dijual di toko ATK dekat rumah yang konsumennya rata-rata anak sekolah deket sini. Jadi, saya mencari substitusinya, dan sejauh ini favorit saya adalah pulpen gel keluaran snowman dan joyko, yang harganya bahkan ga lebih dari empat ribu rupiah.

Kenapa pulpen menjadi item penting? Ini sehubungan dengan tulisan tangan saya yang amat sangat terpengaruh dengan jenis pulpen yang digunakan. Kalau yang digunakan pulpen yang standar macam pulpen-pulpen pembagian di seminar gitu lah, saya ga tahan lama menulis bagus, paling hanya satu atau dua kalimat pertama yang keliatan bagus, selanjutnya tulisan dah macam resep dokter aja. Mending kalau kebaca hahaha…

Entah lah kenapa… tapi menulis dengan pulpen biasa-biasa aja itu butuh effort lebih besar menurut saya. Maca cih? Butuh tenaga lebih besar untuk mengeluarkan tinta dari pulpen dibandingkan jika kita menggunakan pulpen gel jenis tertentu yang lebih bisa meliuk-liuk di atas kertas.

Dan efek mencatat itu luar biasa lho. Tidak sama antara mengetik di notes ponsel dengan mencatat di kertas. 
Ketika mengetik di ponsel, seringkali saya tidak perlu menulis satu kata utuh, karena di fitur dictionary secara otomatis keluar pilihan kata-kata yang mungkin akan saya ketik. Memudahkan memang… tetapi lumayan berefek pada penguasaan/ kecepatan menghapal materi yang kita catat.

Mencatat dengan media pena dan kertas, melibatkan lebih banyak indera yang memungkinkan kita menghapal lebih cepat materi yang dicatat. Mengetik dengan hanya dua jempol tentu akan berbeda efeknya dibandingkan dengan mencatat dengan melibatkan seluruh jari tangan, bahkan juga telapak dan pergelangan tangan.

Selain itu, mencatat juga membuat kita lebih fokus pada setiap huruf dan kata yang kita torehkan di kertas. Tidak sekedar lalu karena ada bantuan dictionary atau fitur delete/ remove/ cut/ copy/ paste seperti mengetik di gawai, mencatat di kertas butuh konsentrasi lebih karena jika salah tulis, maka akan lebih banyak waktu yang terbuang, alias terjadi ketidakefisienan. 

Maka, dengan mempertimbangkan kedua hal itu saja (sementara belum nemu hal-hal lain) mencatat tidak hanya perihal aktivitas otot tangan, namun juga otak. 

Yuk ah, biasakan lagi mencatat… (self reminder)

Berguru pada yang Berilmu

Leave a comment

… terutama dalam tulisan ini saya khusus membicarakan ilmu agama yaa.

Jadi, kadang (apa sering?) kita (apa saya?) males dan bingung ya kalau cuma belajar agama hanya dengan membaca. Apalagi, kalau, seumpama nih, belajar fiqih, terus di satu bahasan di suatu buku itu dikemukakan pendapat berbagai ulama, dalil-dalilnya… endesway endebray, apa (saya) ga jadi tambah bingung? Yang buruk adalah ketika kita memutuskan mengambil pendapat ulama siapa dengan pertimbangan hawa nafsu kita.

Contoh lain, belajar sirah nabawiyah. Saya punya satu buku sirah sejaaakkk…. zaman kuliah, dan sampai sekarang belum pernah membacanya sampai tuntas dari halaman pertama sampai terakhir. Seringkali bacanya nyekclok tergantung saat itu saya ingin tahu tentang apa dari kisah Rasulullah tersebut. Dan (hanya) membaca itu cepet lho, katakanlah ga sejam juga selesai satu bab atau mungkin lebih… tapi kita tidak mendapat wawasan lain selain dari apa yang kita baca. 

Berbeda dengan kita menuntut ilmu pada guru, membicarakan asal usul nenek moyang Rasulullah aja mungkin bisa 2 jam sendiri. Karena selain kisah yang bisa langsung kita baca dari buku, para guru itu juga biasanya memasukkan aspek lain dalam menyampaikan ilmunya, misal hikmah dari kisah, dalil dari Alquran dan Hadits terkait kisah tersebut, dll, sehingga fungsi sejarah sebagai pemberi pelajaran benar-benar terpenuhi.

Lain lagi belajar Alquran misalnya. Sebelum memasuki bulan Ramadhan yang lalu, saya membeli buku penjelasan tafsir Juz ‘Amma Ibnu Katsir dan buku Asbabun Nuzul ayat-ayat Alquran. Kenapa Juz ‘Amma? Karena surat-surat di juz 30 itu lah yang paling sering saya baca dalam shalat, maka memulai dengan belajar tafsir juz 30 menurut saya adalah langkah yang paling pas agar kita lebih khusyuk dalam shalat.

Beberapa tafsiran surat memang sudah saya baca tuntas, tapiii… ya sebatas yang saya baca dari buku aja dan cepat lupaaa. Ini mah dasar otak sayanya aja kali ya kurang bersifat spons hehe.

Lalu, kemudian saya bandingkan jika kita mengikuti kajian tafsir yang disampaikan orang berilmu (baca: ustadz). Bahas surat Al Ikhlas ayat 1 aja bisa 5 menit sendiri. Satu ayat ditafsirkan dengan ayat-ayat Alquran yang lain, didukung hadits-hadits yang berkaitan, ditinjau dari sisi bahasa, dll dll. Rasanya menjadi lebih kaya ilmu dan padat makna.

Soal belajar tafsir ini, kita juga mesti berhati-hati sih, karena dalam pembukaan di buku tafsir juz ‘amma yang saya punya itu, haram hukumnya menafsirkan ayat dengan akal. Ayat ditafsirkan lagi dengan ayat Alquran yang lain, lalu dengan hadits Rasulullah, lalu dengan pemahaman para sahabat, dst. –kudu ngecek lagi bukunya ini mah-. Maka jangan heran, zaman now, banyaaaak orang-orang yang menafsirkan Alquran hanya dengan akal dan hawa nafsunya, lantas jadi keblinger. Seolah pinter (karena orang macam ini biasanya pandai beretorika) tapi ya jadinya kok nabrak ayat Alquran sana sini.

Contoh lain… belajar tauhid. Inilah inti dari ajaran Islam. Yes, TAUHID. Mau beribadah sebanyak apapun, kalau tanpa tauhid atau keyakinan bahwa Allah satu-satunya Rabb yang patut disembah, ya useless. Mau beramal secanggih apapun, kalau di dalamnya masih ada unsur- unsur kesyirikan, ya sia-sia.

Dan belajar tauhid ini, walaupun terlihat sesederhana membaca syahadat atau belajar rukun iman, nyatanya kalau digali lebih dalam bisa sampai banyaaaaaak sekali bahasannya. Disitu lah pula, kita perlu guru.

Dan di era sekarang ini, jika saya seorang ibu rumah tangga dengan mobilitas terbatas, ingin menuntut ilmu, sudah banyak sarana yang disediakan secara online, yang mana itu sangat memudahkan sekali kita belajar agama, seperti beberapa hal yang saya contohkan di atas. 

Saya sendiri berusaha mengoptimalkan HP saya untuk belajar, lebih spesifiknya dengan memanfaatkan aplikasi whatsapp.
Banyak grup-grup belajar agama online dengan berbagai metode atau sistem belajar, kita tinggal pilah pilih yang mana yang paling cocok dengan ritme keseharian/ rutinitas kita. 

Dan terlebih penting lagi, jangan salah pilih guru, jangan malas mengecek rekam jejaknya terlebih dahulu, rekomendasi dari teman-teman juga akan sangat membantu.


Beberapa grup yang saya ikuti:


Halaqah Silsilah Ilmiyah
yang dikelola Ustadz Abdullah Roy, seorang pengajar kajian berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi, doktor dalam bidang aqidah dari Universitas Islam Madinah.

Grup ini yang paling berkesan buat saya sejauh ini. Saking berkesannya, sampai pernah beberapa kali saya summon di beberapa posting sebelumnya kan.

Kurikulumnya runut, membahas tuntas tentang iman, pengajarnya kredibel, materi didukung dengan dalil-dalil yang jelas dan tegas.


Sistem belajarnya:

Senin-Jumat setiap pagi (jam 6) diberi materi dalam bentuk audio sekitar 3-7 menitan.

Sore harinya (jam 16) soal kuis diaktifkan di web HSI. 

Setiap pekan ada evaluasi pekanan (untuk materi yang telah disampaikan Senin-Jumat-nya).

Jika selesai 25 materi audio (5 pekan) diadakan evaluasi lagi. Sepekan sebelum dan sesudah evaluasi 5 pekanan ini biasanya ada libur seminggu.

Kuis ini sifatnya sangat mengikat, kudu dikerjain karena menentukan keberlangsungan kita di grup, karena ada sistem ‘remove’ dari grup kalau nilai ga mencukupi/ rashib. Maka perlu komitmen kuat untuk bersungguh-sungguh belajar.

Nyatanya, walaupun HSI ini ‘hanya’ meminta waktu kita anggaplah 10 menit per hari, banyak juga yang keluar di tengah jalan. 

Kedua, grup Bimbingan Islam, atau BIAS. Grup ini sudah saya ikuti sebelum saya ikut HSI. Setiap hari admin akan mengirim audio plus transkrip kajian ke grup khusus materi. Padahal ya audio kajiannya itu juga singkat-singkat, namun karena sistemnya yang ga mengikat (ga ada kuis macam HSI) jadi saya ga selalu mengikuti materinya. Materinya mencakup banyak hal: aqidah, ibadah, muamalah, sirah, dll. Dan yang bawainnya juga banyak Ustadz. Saya cenderung pemilih hehe… milih materi (yang dirasa menarik) dan asatidz (yang penyampaiannya dirasa asik). Hadeuh…

Yang ketiga, grup Belajar Bahasa Arab Online (BAO). Nah ini grup yang baru-baru ini saja saya ikuti, mungkin baru 2 bulanan. Sebenarnya, sebelumnya sudah berkali-kali dapat info belajar bahasa Arab online dari beberapa penyelenggara, ada yang berbayar, juga ada yang gratis. Rata-rata sistemnya mengikat. Karena belajar bahasa Arab (dan bahasa apapun, saya pikir) kan perlu kesinambungan ya kalau mau hasilnya optimal. 

Kenapa akhirnya yang saya pilih BAO? Karena sistemnya yang menurut saya cocok sama rutinitas harian saya di rumah. Karena prioritas belajar online pertama saya adalah HSI, yang masih akan berlangsung lamaaa ke depan, maka sistem di BAO yang 2 kali materi dan 1 kali tugas dalam 1 pekan, menurut saya udah paling pas. Plusnya, materi (yang diambil dari durusul lughoh ini) lumayan ringan untuk diikuti, bisa sembari saya ajari Akhtar juga, sedikiiit demi sedikiiit. Jadi kepentingannya saya belajar bahasa Arab ini, selain untuk diri sendiri juga untuk disampaikan ke anak-anak. 

Sementara, tiga grup tersebut untuk saat ini udah cukup. Dan tidak mencukupkan diri dengan belajar online saja. Baca buku tetep dilakoni (walaupun banyak malesnya ahahahaha), dan sesekali ikut kajian offline. 

***

Akhir kata…

Ilmu itu bukan yang kita hapalkan, tapi yang kita amalkan.

Berbicara Harus dengan Ilmu

Leave a comment

Semalam, suami mengirim pesan WA, memberitahu sedang berlangsung acara ILC yang kali itu membahas isu yang sedang panas di masyarakat, yaitu tentang undang-undang zina dan LGBT. Sebetulnya saya kurang paham masalahnya, dan tidak banyak mencari tahu juga, apa sebenarnya yang dilakukan MK terkait undang-undang ini sehingga menimbulkan keramaian di masyarakat. 

Maka, saya tonton lah ILC malam itu. Di luar kebiasaan saya sih, sejujurnya saya sudah lama ga pernah nonton acara ini. Bahkan di ILC sebelumnya yang membahas perlu atau tidaknya reuni 212, yang cukup viral di medsos dan semakin melambungkan nama dua orang jahil, salah satunya berinisial AJ, saya pun ga ngikutin, bahkan rekaman AJ lagi ngemeng yang menjadi cemoohan banyak orang itu pun ga pernah tuntas saya tonton. Entah ya… walaupun ia berada di sisi yang kontra dengan pemikiran saya, saya kok suka ikutan maluuu kalau lihat orang bodoh berbicara mempermalukan dirinya sendiri di depan umum. Ckckck… 


Saat menyalakan channel TV One, yang giliran berbicara adalah Ade Armando dan sebangsanya… you know lah yah, what I mean. Selesai AA bicara, lalu dilanjut CC bicara (jurnalis), lalu dilanjut lagi orang yang juga berinisial AA bicara. Penjelasan ketiga orang ini sangat menabrak nilai-nilai yang saya yakini selama ini dalam Islam, walaupun AA yang sebut saya terakhir ini menyebut dirinya dari Jaringan Islam Antidiskriminasi atau apalah itu. Yeah… ketika orang mengatakan dirinya Islam dengan embel-embel kata tertentu di belakangnya, udah hampir dipastikan tu orang ga lurus. Islam ya Islam aja sih, kok ya ditambahi nama macem-macem di belakangnya. 

Saya ga akan membahas, detail apa yang AA ini bicarakan, lupa juga, hanya saja… ketika si AA ini bicara dan dengan fasihnya mengutip beberapa ayat dalam Alquran, lalu menafsirkannya dengan sewenang-wenang, yang langsung saya ingat adalah kajian tafsir yang saya dengar hanya selang beberapa jam sebelum acara ILC itu. 

*

Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak memahami Kitab (Taurat), kecuali hanya berangan-angan dan mereka hanya menduga-duga. (QS Al Baqarah ayat 78)

Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka (sendiri), kemudian berkata, “Ini dari Allah” (dengan maksud) untuk menjualnya dengan harga murah. Maka celakalah mereka, karena tulisan tangan mereka, dan celakalah mereka karena apa yang mereka perbuat. (QS Al Baqarah ayat 79)

Kajian tafsir itu dibawakan Ustadz Abu Yahya Badrussalam live dari Rodja TV.

Sebenarnya ayat tersebut menceritakan tentang sifat orang Yahudi, namun rupanya, banyak di kalangan orang (yang mengaku) Islam pun memiliki sifat yang sama, yaitu buta huruf (atau bodoh) tentang agama namun fasih berbicara agama berdasarkan dugaan-dugaan akal mereka. Persiiiiss banget kan kayak duo AA semalam di ILC.

Saya coba tulis ulang kajian tafsir dua ayat tersebut berdasarkan catatan saya.

Jadi, ada dua kelompok ahli kitab dari kalangan Yahudi:

1. Orang-orang ummy (buta huruf) yaitu orang-orang bodoh yang tidak paham sedikit pun tentang alkitab, atau orang-orang awam dari kalangan ahli kitab, namun mereka menduga-duga dan berani berbicara tentang alkitab sehingga menjadi kebathilan. 

Banyak di antara kaum muslimin yang seperti ini, mereka tidak memiliki pengetahuan tentang Alquran dan Hadits lalu menggunakan akal pikirannya untuk berbicara tentang agama. Orang seperti ini ikut merusak agamanya.

Faidah ayat 78 (menurut Syaikh Utsaimin):

Ayat ini sebagai celaan terhadap orang yang tidak berusaha mengkaji/ mempelajari bagaimana pengetahuan yang shahih tentang Alquran, sehingga ia tidak paham makna yang sebenarnya dan hanya menduga-duga. Seperti orang awam, yang membaca Alquran dari awal sampai akhir tapi tidak tahu artinya, maka ketika berbicara tentang hukum Allah mereka hanya menduga-duga karena sebenarnya ia tidak berilmu.

Orang-orang yang berbicara tentang agama tanpa ilmu termasuk orang yang berdusta atas nama Allah, maka kalau tidak paham, tahan, jangan ikut-ikutan bicara soal agama, lebih baik (dan lebih manfaat) tanya pada ahlinya. 

Hindari berkata… “Kalau ga salah ada hadits…. atau ada ayat….” STOP bicara tanpa ilmu.

Menghukumi sesuatu sebatas hanya dugaan adalah sifat orang Yahudi, yang ternyata juga menjadi sifat sebagian orang muslimin juga, tak terkecuali di dalamnya orang-orang yang senang disebut sebagai ‘ulama’.

2. Kelompok yang kedua (Tafsir Al Baqarah ayat 79) adalah orang-orang Yahudi yang suka membuat-buat kitab sendiri lalu ia nisbatkan pada Allah hanya karena ingin mendapat uang/ kedudukan. Mereka lah para dai Yahudi yang berdusta atas nama Allah dan memakan harta manusia dengan cara yang bathil.

Ada kah di kalangan umat Islam yang seperti ini? Ada… termasuk di dalamnya ‘ulama-ulama’ yang membuat ‘syariat baru’ lalu menisbatkannya pada Islam. Mereka lah yang merusak agama.

Agama rusak oleh 3 macam orang:

– orang ekstrim/ ghuluw/ berlebih-lebihan dalam beragama

– orang yang suka berdusta atas nama Allah

– orang yang berbicara (agama) tanpa ilmu

Maka tugas para ulama adalah untuk mengatasi orang-orang seperti ini, tanpa takut pada celaan atau cemoohan orang-orang ketika melakukannya.

Faidah ayat 79 (menurut Syaikh Utsaimin):

– Ayat ini merupakan ancaman bagi orang yang menulis alkitab dengan tangan mereka atau orang yang berdusta atas nama Allah.

(Perhatikan deh, Allah sampai menggunakan kata celaka 3 kali dalam ayat ini)

– Tujuan orang-orang ini (berdusta) adalah untuk mendapatkan kedudukan, harta, kepemimpinan, yaitu sesuatu yang sangat murah dibandingkan dengan surganya Allah.

Frasa “dengan harga murah” pada ayat ini menunjukkan sebesar apapun kenikmatan dunia, maka di sisi Allah hanya bernilai sedikit, karena ayat-ayat Allah itu mahal, balasannya adalah surga bagi yang mengamalkannya.

– Dalam surat Al A’raf ayat 33, Allah berfirman, “Katakanlah (Muhammad), Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu, dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.

Berkata tanpa ilmu sangat berbahaya karena akan menjadi penyimpangan, sumber kesesatan dan kebid’ahan.

*

Pelajaran yang bisa kita ambil dari acara ILC dan kajian tafsir semalam adalah…

STOP berbicara tanpa ilmu, STOP berbicara jika belum yakin yang dibicarakan itu shahih atau ngga, maka berilmulah, jangan malas menuntut ilmu.

LQ (2)

Leave a comment

Lanjutan dari tulisan sebelumnya, tentang liqo.

Saya bukan termasuk yang asing dengan istilah ini, tapi juga bukan orang yang paham banget bagaimana sistem ini berjalan.

Saya tempelkan lagi, pernyataan seorang Ustadz di tulisan sebelumnya:

“Pertama, liqo itu sifatnya sangat mengikat. Yang kedua, liqo itu murabbinya kakak kelas, bukan seorang alim yang betul-betul berilmu. Sementara dalam Islam, menuntut ilmu itu kepada orang yang betul-betul kuat keilmuannya, Pak. Bukan kepada sembarangan orang. Karena kan dalam metode tarbiyah kan itu ada liqo, liqo, liqo, kakak kelas yang akan menjadi murabbi adek kelasnya. Kakak kelas punya liqo lagi sama kakak kelasnya, demikian sampai tingkat yang paling tinggi. Yang tingkat ini ga boleh langsung naik ke atas ini Pak (lalu Ustadz menunjukkan gestur menggerakkan tangan dari bawah ke atas) harus ngikutin yang ini dulu (tangannya kembali ke bawah).

Seperti itu terikat dengan apa… (tangannya membuat gerakan memutar seperti lingkaran) ya… seperti itu ikhwatul islam. 

Ini metode yang tidak pernah diajarkan Rasulullah dan para sahabatnya.

Yang diajarkan oleh…… 

– video terpotong –

*

Keilmuan saya belum sampai pada level bisa menyatakan suatu hal tidak sesuai ajaran Rasulullah atau ngga… bid’ah atau ngga… masih jauuuuh banget dari itu. 

Hanya saya mengamini dua poin yang disampaikan Ustadz tersebut secara garis besar, bahwa:

Pertama, liqo itu sangat mengikat. Ya, liqo itu jadi prioritas utama jika dalam waktu bersamaan ada agenda lain. Siap-siap dicariin (plus diceramahin juga) jika tidak hadir dalam satu pertemuan tanpa alasan syar’i. Apalagi kalau ‘ngilang’nya sampai berbulan-bulan kayak… saya.

Kedua, liqo itu murabbinya kakak kelas yang belum tentu kuat keilmuannya. Beberapa kali kejadian, ketika menanyakan suatu hal kepada murabbi, jawabannya semisal “Nanti saya tanyakan ke murabbi saya”. Ya karena metodenya yang bertingkat itu. 

*

Perkenalan dengan Liqo

Saya lulus dari SMA dengan doktrin nasionalis, dan setelah dipikir sekarang, ternyata juga sekuler. Ngeri juga membayangkan lagi ke belakang bahwa separuh guru saya di SMA adalah non Islam. 

Tapi di kuliah, saya justru sangat nyaman bergaul dengan orang-orang berjilbab yang senangnya ngumpul-ngumpul di masjid. Saya pun aktif mengikuti mentoring pekanan karena merasakan persaudaraan yang hangat dan menenteramkan disana. 

Tahun kedua kuliah saya memutuskan berkerudung dan mengikuti mentoring lanjutan serta melamar jadi bagian pengurus di organisasi dakwah kampus. 

Hingga suatu hari, hanya berselang beberapa bulan dari itu, saya diajak mentoring bukan di tempat biasa, bukan bersama orang-orang biasa dalam kelompok saya. Beberapa orang menyalami dan mengucapkan selamat. Bingung kan. Sangat tertutup sih, pada pertemuan pertama mereka merahasiakan tempat pertemuan, tujuan pertemuan, dan dengan siapa saja saya akan bertemu.

Ya begitu lah, sampai akhirnya saya mengikuti pertemuan-pertemuan itu selama kuliah dan sempat berganti murabbi hingga 3 kali, 5 kali sih kalau murabbi di zaman kerja dihitung (kalau ga salah hitung, Ya Allah maafkan kealpaan hamba). Di akhir tahun kuliah saya ‘libur’ liqo sampai berbulan-bulan, namun teman-teman liqo yang adalah sahabat-sahabat saya di kampus ga pernah bosan mengajak saya.

Saya memutuskan ‘libur’ karena mulai merasakan ketidaknyamanan dengan sistemnya yang mengikat. Terutama keterikatannya dengan suatu partai yang membuat para peserta liqo otomatis juga menjadi kader partai yang harus taat pada aturan dan mengikuti agenda partai. Di sisi lain, saya pun punya aktivitas mengajar di lab akuntansi manual yang lebih membuat saya nyaman.

Sampai akhirnya saya lepas sama sekali dari liqo, alasannya karena waktu itu mulai masuk kerja, dan saya merasa tidak terikat secara hati dengan kelompok saya di Jakarta.

Sisi positif Liqo

Saya merasakan perubahan cukup signifikan setelah liqo itu. 

Pertama, dari cara berpakaian lebih mengikuti syariat. Saya selalu memakai rok dan baju longgar dengan kerudung panjang, plus kaos kaki. 

Kedua, dari sisi ibadah lebih baik lagi. Karena dalam liqo ada list amalan harian yang dievaluasi setiap pekan. Plus beberapa iqab/ hukuman jika target amalan harian tidak tercapai.

Ketiga, lebih bersemangat mempelajari Islam dan memerhatikan isu-isu berkaitan dengan dunia Islam dan Islam dunia, kemudian lebih bersemangat membela dan menyampaikan kebenaran Islam.

Keempat, punya saudara-saudara baru yang sangat kuat ukhuwahnya, hingga sekarang.

Dan beberapa perubahan lain dalam adab dan akhlak.

Namun, alasan-alasan tersebut ternyata tak cukup kuat mengikat saya di lingkaran tersebut. 

Perubahan setelah meninggalkan Liqo

Ini fase saya di dunia kerja.

Dari sisi penampilan sih tidak banyak berubah. Hanya sesekali saja saya berani pergi tanpa kaos kaki keluar rumah. Itu pun bukan karena ga mau, tapi karena – entah mengapa – kaos kaki-kaos kaki itu sering hilang misterius setelah dititipkan ke Mbak tukang cuci. Lebih seringnya sih hilang sebelah. Heuheu…

Ya sesekali saya juga berani keluar rumah dengan kerudung pendek rumahan yang tidak menutupi dada, lagi-lagi bukan karena ga mau, tapi menyesuaikan saja dengan kerudung yang tersedia.

Dari sisi pergaulan agak kacau juga nih. Saya lebih sering terbawa arus pertemanan yang tidak Islami. Semisal, main sama teman-teman kantor sampai larut malam, dengan segala kesia-siannya, seperti hanya untuk makan atau mampir di tempat karaoke. Jadi lebih sering kumpul dengan teman-teman SMA juga dengan agenda yang sama sia-sianya.

Apakah saya merasa salah dengan semua itu? Iya… saya merasa ada yang SALAH. Namun, secara dangkal, saya hanya menyimpulkan semua itu karena saya berhenti liqo.

Tapi bukan saya saja ternyata yang mengalami kemunduran seperti itu. Saya bertemu dengan kakak kelas, rekan seangkatan, atau adik kelas pun banyak yang mengalami kemunduran serupa. Bahkan tak jarang saya melihat rekan saya yang dulu begitu militan, sekarang memendekkan kerudung di atas dada.

Kenapa bisa?

Dan saya menemukan jawabannya…

Metode belajar agama dengan kelompok-kelompok kecil seperti liqo itu sebenarnya efektif jika disertai dengan ‘kurikulum’ yang berjenjang dan menyentuh inti dari ajaran Islam itu sendiri. Berjenjang ilmunya lho ya bukan level keikutsertaannya.

Pertanyaan saya tentang “Kenapa saya berubah? Kenapa teman-teman saya berubah?” mulai terbuka jawabannya satu per satu belakangan ini.

Salah satu titik baliknya adalah ketika saya ikut halaqah online yang gurunya adalah Ustadz Abdullah Roy, seorang pengajar kajian berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi. Seseorang yang mengajar di masjidnya Rasulullah, yang penuh keberkahan itu, apa akan punya pemahaman menyimpang dari ajaran Rasulullah? Rasanya tidak ya, kalaupun ada kesalahan, maka itu fitrahnya sebagai manusia yang lemah.

Halaqah online ini materinya berjenjang, maka disebut Halaqah Silsiyah Ilmiyyah (HSI), mulai dari inti ajaran Islam, yaitu Tauhid, tentang syirik, mengenal Islam, mengenal Allah, mengenal Hari Akhir, dst. Saya banyak tercengang dengan materi-materinya. Rasanya seperti baru saja mengenal Islam kemarin sore. Rukun Iman diuraikan dengan apik disertai dalil-dalil dari Alquran dan Hadits Nabi yang shahih.

Dengan sendirinya, pemahaman dan keyakinan yang lebih mendalam pada Islam tersebut mendorong kita untuk beribadah dengan kualitas yang lebih baik, tanpa harus ada ceklis harian yang disetor tiap pekan dan dikenai iqab jika tidak memenuhi target.

Sorry to say… namun di liqo yang saya ikuti dulu:

– Kadernya (tidak semua ya…) masih banyak yang berpikir pragmatis. Hanya memikirkan kemenangan sesaat. Maka tak heran, obrolan “Bagaimana meraih massa”, “Bagaimana memenangkan pemilihan ini dan itu” lebih banyak diobrolkan dalam rapat-rapat kader daripada meningkatkan kualitas iman anggotanya.

– Ilmunya tidak berjenjang. Saya merasa dijejali untuk melakukan amalan ini dan itu tanpa pemahaman yang benar dan mendalam mengapa saya harus melakukannya? Ilmu tentang mengenal Allah, mengenal Islam hanya disampaikan selewat saja dalam suatu pertemuan saat mentoring. Ngaji tidak sampai intinya. Lebih banyak terlibat dalam ritual yang kering makna, karena tidak paham keutamaannya.

– Tertutup, terutama jika berkaitan dengan agenda partai. Ada istilah-istilah tertentu yang digunakan, saya ga hapal. Pokoknya ada agenda-agenda tertentu yang sifatnya ‘wajib diikuti’ dengan mengesampingkan yang lain, dll, pokoknya berjenjang gitu deh tingkat urgensinya. Dan kita ‘dipaksa’ taat tanpa paham, tanpa mendapat penjelasan kenapa ‘harus’?

– Satu hal yang paling mengganjal adalah -dan saat ini saya baru ngeh itu aneh- bahwa di salah satu murabbi, setiap pekan kami dibacakan risalah pergerakan Hasan Al Banna, semacam biografi ybs gitu. Kenapa harus mempelajari itu? Sementara sirah nabawiyyah dan sahabatnya aja ga pernah kita kaji kok di liqo.

Karena alasan yang terakhir ini lah kemudian saya ‘futur’. Tiap pekan saya hanya cengok jika dibacakan buku itu, karena ga ngerti, ga ada yang masuk sama sekali ke pemahaman saya. 

Saya kehilangan arah sih tepatnya setelah itu. Hasil liqo selama kurang lebih 3 apa 4 tahun ya hanya sedikit berjejak di hati saya. Selebihnya saya masih bingung sama tujuan hidup sendiri. 

Tanpa menafikan… sekali lagi tanpa menafikan, bahwa saudari-saudari saya di liqo terdahulu adalah tetap menjadi teman-teman baik saya dalam hal mengingatkan pada kebaikan. 

Saya tidak paham, seberapa banyak sistem liqo ini berubah sejak saya tidak mengikutinya. Hanya saja… jika masih  sama seperti dulu, maka tujuan yang tercapai hanya jangka pendek saja.

Older Entries