Menilai Ke-Worthed-an

2 Comments

Ngerti po ra sama judulnya? Hehe…

Jadi, semenjak punya anak dan mulai ‘ngeh’ sama dunia per-ibu-ibu-an, salah satunya seputar pendidikan anak, saya jadi ngeh juga ternyata ada banyaaaaaaak sekali penjual buku-buku anak di luaran sana (dalam konteks ini yang jualan online saja ya). Ada penjual ‘independen’ yang menjual berbagai jenis buku anak dari berbagai penerbit, dengan rentang harga yang sangat variatif, dari yang murah banget sampai mahal banget. Ada yang mengkhususkan diri menjual buku-buku bekas berkualitas. Ada juga yang hanya menjual buku-buku dari penerbit tertentu, dengan bertindak sebagai book advisor, sales atau seller, dan istilah sejenis.

Nah… sejujurnya penjual di kategori terakhir ini lah yang pada mulanya meracuni saya dengan ‘doktrin’ betapa sangat pentingnya buku untuk anak yang berkualitas dari segi konten (ilustrasi, isi cerita, dan nilai moral yang disampaikan) dan fisik (kualitas kertas yang digunakan). Tapi… ada tapinya… buku-buku yang mereka jual pada umumnya mahal (jutaan). Tentu saja mahal dan tidak itu relatif ya, tergantung kemampuan dan kebutuhan orang per orang, tapi secara pribadi saya memasukkannya dalam kategori MAHAL.

Mungkin kalau dikalkulasi ulang, harga per buku terhitung standar ya (baca: terjangkau secara umum), hanya… sistem penjualan mereka biasanya per set/ paket, dalam satu paket bisa berisi sampai belasan buku, tambah mahal lagi kalau dilengkapi e-pen.

Itu lah strategi marketingnya, pertama… si penjual menciptakan kebutuhan, membuat calon pembeli merasa harus memiliki buku ini, sehingga semahal apapun pembeli akan mengusahakannya.

Apa yang salah? Tidak ada. Penjual, untuk barang apapun, pasti menargetkan menjual sebanyak-banyaknya barang, meraup sebanyak-banyaknya untung, diantaranya dengan jualan sistem paket seperti itu. 

Pun pembeli, selama membeli karena memang butuh, dan menilai seimbang antara investasi yang dikeluarkan dengan kualitas barang, lalu merasa buku-buku itu akan mengoptimalkan proses belajar anak-anaknya di rumah, ya ga ada yang salah kan.

Yang terasa ‘salah’ bagi saya adalah, ketika ukuran worthed ga worthed, urgent ga urgent itu dipaksakan dari salah satu pihak, ambil lah dalam hal ini penjual. 

Sejujurnya saya sempat amat sangat tertarik membeli buku-buku mahal itu untuk Akhtar. Namun kemudian… saya menimbang ulang urgensinya (untuk keluarga kami yaa.. disini saya bicara atas nama pribadi, preferensi keluarga lain bisa jadi berbeda).

Pertama, di lihat dari sisi keuangan keluarga. Sanggupkah membayarnya? Pada umumnya karena sulit mencari orang yang mampu membayar tunai di awal, buku-buku itu dijual dengan sistem arisan bisa sampai 10 bulan. Jika memutuskan ikut arisan, pertanyaan berikutnya, apakah sanggup berkomitmen membayar iuran bulanannya tepat waktu? Untuk saat ini saya jawab NO.

Kedua, adakah buku-buku lain yang lebih murah dengan tema yang kurang lebih sama, yang bisa mensubstitusi buku-buku mahal ini? Ternyata menurut pengamatan saya, banyak buku-buku murah yang secara konten tidak jauh berbeda dengan buku-buku mahal itu. Abaikan perbedaan kualitas kertas yang digunakan dan fitur e-pennya yaa.

Dengan mempertimbangkan sedikit hal di atas, maka (untuk saat ini, entah ke depannya yaa) saya memutuskan untuk tidak membeli buku-buku itu.

Kebutuhan buku untuk Akhtar saat ini sudah tercukupi dengan buku-buku yang lebih murah. Akhtar sudah tahu cara memperlakukan buku dengan baik agar tetap terjaga (tidak sobek, kotor, dsb) jadi tidak butuh buku-buku yang anti air atau anti sobek, pun Ahnaf sudah bisa membuka-buka buku berkertas tipis tanpa sobek. Kalau pun menyobeknya sedikit ya tidak apa-apa, kan investasi untuk bukunya pun tidak mahal.

Dari segi konten, untuk saat ini sudah tercukupi dari buku-buku yang lebih murah. Untuk buku-buku agama (asmaul husna, kisah nabi-nabi, hadits, juz amma, kumpulan doa-doa, dtt) saya lebih selektif memilihkannya untuk Akhtar. Yang harus dicek adalah rekam jejak penerbitnya, profil dan latar belakang penulisnya, sampai daftar pustaka, apakah bersumber dari ilmu-ilmu yang shahih? Untuk buku agama ini, saya memfavoritkan beberapa penerbit buku anak yang kontennya ‘aman’ menurut saya, diantaranya PQids, Alkautsar Kids, Zikrul Kids, ada lagi tapi saya lupa. Nama-nama yang asing ya? Tapi bagus kok… bisa dicek sesekali.

Untuk buku-buku lain, banyak buku Akhtar yang dibeli di toko buku bekas. Ada juga yang bekas pakai omnya, atau hasil ngubek dari obralan. Buku-buku itu beberapa diantaranya jadi favorit Akhtar, seperti buku-buku tentang kendaraan, tentang hewan dan tumbuhan, dan tentang pertanian. 

Anak-anak itu ga pilih-pilih sama buku. Sekali suka, dia akan baca berrrrulang-ulang kali. Buku favorit Akhtar pun ada yang mahal, ada juga yang hanya 5000an – Akhtar sendiri yang pilih dari toko buku bekas dengan fisik yang jauh dari mulus. Di luar itu, orangtuanya yang bertanggung jawab memilihkan. Jadi yang menetapkan standar buku ‘bagus atau tidak’ itu juga orangtua. Dan di kemudian hari, standar yang sama mungkin akan digunakan oleh anak-anak kita ketika memilih buku.

Yang ingin saya sampaikan disini. Penjual sebaiknya tidak memukul rata kebutuhan akan buku/ alat peraga pendidikan lain untuk setiap orang. Banyak yang memang butuh (ini lah prospek sesungguhnya), namun banyak juga yang tidak. Yang tidak, bukan berarti tidak peduli dengan pendidikan anak, hanya pilihannya saja yang berbeda. Dan pembeli pun harus bisa menimbang-nimbang, apakah kebutuhannya akan buku harus dipenuhi dengan buku-buku mahal (yang secara kualitas saya akui memang baik) atau merasa cukup dengan buku lain yang lebih murah? Selebihnya ga usah saling nyinyir dengan pilihannya masing-masing. 

Pada akhirnya, keputusan ada pada pembeli. Maka jadilah pembeli yang selektif dan memahami value for money sebuah buku.

Ayo Belanja ke Warung!

Leave a comment

Gerai-gerai retail modern (baca: minimarket), yang sekarang ini menjamur hingga ke kampung-kampung, berdasarkan penelusuran saya di google, dikelola oleh korporasi besar yang mana pemiliknya tidak akan langsung jatuh miskin, bahkan jika seluruh masyarakat berhenti berbelanja ke minimarketnya.

Bandingkan… dengan warung kecil tetangga kita. Dimana pemiliknya, sekaligus yang melayani kita berbelanja mungkin menggantungkan pendapatan keluarganya dari omzet warungnya.

Mengingat hal tersebut… masih enggan kah kita berbelanja ke warung-warung kecil dan lebih memilih i*domaret atau a*famart demi alasan kenyamanan dan kepraktisan? 

Oke.. langsung aja kita kupas ya… Mengapa kita harus berbelanja ke warung?

Pertama… 

Warung-warung itu walaupun kecil namun fungsional lho. Memenuhi kebutuhan konsumsi dasar masyarakat di sekitarnya. Dari mulai bumbu dapur sehari-hari hingga kebutuhan kamar mandi. 

Warung pun biasanya menyediakan produk dalam kemasan ekonomis (baca: sachet) sehingga lebih ramah di kantong in case butuh suatu barang tapi tidak punya cukup uang untuk membeli barang tersebut dalam kemasan besar.

Kedua…

Menghindari konsumsi yang tidak perlu. 

Berbagai diskon atau promo di gerai retail modern kadang mengalihkan fokus kita dari catatan belanja yang seharusnya. Display produk pun diatur sedemikian rupa sehingga pembeli menjadi belanja lebih banyak. 

Belum lagi kalau belanja bersama anak. Mungkin ada pengeluaran lain yang sulit dihindari. 

Kalau tidak cukup kuat dengan godaan marketing mereka, maka cukuplah berbelanja ke warung tetangga.

Ketiga…

Terjadi interaksi sosial dengan pemilik warung. 

Pada umumnya, pemiliknya sendiri yang melayani kita berbelanja di warung. Di dunia yang semakin ‘dingin’ dan ‘asosial’ saat ini, interaksi hangat antar pembeli dan penjual di warung bisa menjadi salah satu obatnya.

Pembeli dan penjual bisa saling tahu nama masing-masing, bahkan penjual bisa tahu dimana rumah kita, tak jarang saling mengikhlaskan jika pembeli kurang bayar atau penjual kurang kembalian, atau mencatatnya sebagai deposit untuk pembelanjaan berikutnya. Ada saling percaya disitu, yang hampir tidak mungkin terjadi di minimarket. 

Hubungan yang baik dengan pemilik warung pun bisa mendatangkan bonus belanja ga terduga lho. Seperti mamah saya pernah diberi satu set cangkir oleh pemilik warung langganan.

Keempat…

Membantu pengusaha kecil lainnya.

Selain produk-produk kemasan pabrik besar, di warung juga tersedia barang produksi pengusaha-pengusaha kecil, pada umumnya berupa makanan ringan.

Kalau pernah memerhatikan beberapa penyuplai makanan ringan itu ke warung-warung, mereka adalah rakyat kecil yang menghantarkan produknya dari warung ke warung dengan hanya berkendara  motor, sepeda, gerobak, bahkan hanya dengan ditanggung make rancatan. (basa sunda hihi).

Saya ‘hanya’ ibu rumah tangga bergelar SE yang tidak (lagi) paham urusan hitung-hitungan perekonomian negara, ekspor, impor, anggaran negara, pajak, inflasi apalah inilah itulah. Yang paling mudah saya pahami adalah.. berbelanja ke warung adalah salah satu cara menggeliatkan aktivitas ekonomi di kalangan masyarakat ekonomi bawah.

Kelima…

Untuk barang-barang tertentu (bahan-bahan masakan terutama), kualitasnya lebih baik lho.

Contoh, yang sering saya beli… kacang ijo. Logikanya karena persediaan di warung itu sedikit, jadi perputarannya juga lebih cepat. Kacang ijo kemasan di gerai modern mungkin hasil pengemasan beberapa bulan lalu, karena melalui jalur distribusi yang lebih panjang sehingga barangnya tidak lagi fresh. Begitu pun bahan-bahan masak lain.

***

Jadi… kudu banget ya belanja ke warung?

Ya sebisa mungkin. Mungkin ada beberapa barang kebutuhan kita yang tidak tersedia di warung, ya sudah sesekali aja boleh lah ke minimarket.

Atau bisa juga dengan mencari barang tersebut ke warung/ toko yang lebih besar. Seperti, jika kita membutuhkan kemasan lebih besar untuk produk-produk tertentu. 

Eh tapi, kemasan plastik kecil di warung itu ga ramah lingkungan lho?

Memang iya, kemasan sachet/ isi ulang sebenarnya tidak lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan kemasan botol/ kaca. Solusi terbaik sebenarnya dengan mulai menggunakan barang ramah lingkungan. Back to nature gitu lho. Cuci piring/ baju pakai klerak, mandi pakai jeruk nipis+soda, gosok gigi pakai batang siwak, bumbu masak pakai yang alami. Tapi, bagi yang belum mampu (karena saya pun belum…) hiks, solusinya adalah belanja ke toko yang lebih besar untuk mendapatkan produk dengan kemasan botol/ kaca. 

Kalau di dekat rumah saya di Padalarang, ada toko grosir kecil yang lumayan lengkap dan harga barangnya bisa lebih murah daripada di I*domaret dan A*famart lho. Toko-toko serupa juga banyak terdapat di pasar-pasar tradisional dimanapun.

***

Nah, cukup punya alasan kan sekarang untuk back to warung?

Ayo kembali berbelanja ke warung!

 


Emak-Emak Hebat, Katanyaaa…

Leave a comment

Beberapa hari yang lalu, seseorang, entah siapa, meng-add saya di grup beranggotakan hampir 12.000 orang yang menamakan dirinya emak-emak hebat. Kadang beberapa post dari grup tersebut muncul di timeline saya. Awalnya saya tidak merasa terusik, hanya saja setelah saya visit grupnya dan membaca postnya satu per satu, kok saya merasa isinya banyak yang ga sesuai dengan nama grupnya yang dalam asumsi saya berisi ibu-ibu tangguh, tidak cengeng, saling memotivasi, sharing soal ilmu ini itu, dan hal-hal positif lainnya. Malah lebih banyak yang curhat soal suami yang begini, mertua yang begitu, ipar yang begono, tetangga yang anu, galau karena ini itu, atau saya yang “da aku mah apa atuh”, yang mana kebanyakan bernada negatif dan pesimis, bahkan ada yang cenderung ke ghibah.

Satu hari, saya membaca post yang juga menyayangkan hal yang sama, kurang lebih isinya mempertanyakan, “Emang gak malu ya curhat masalah keluarga di grup?” Beberapa mengamini, namun ada juga yang berargumen kurang lebih seperti ini, “Saya kan juga ga kenal satu per satu anggota di grup ini, jadi fine-fine aja kalo mau curhat soal keluarga, toh gak akan ada yang tau siapa saya dan siapa keluarga saya”. Mungkin yang menulis itu salah satu oknum yang suka curhat di grup? Ga tau deh.

Ibu-ibu, bijak lah bersikap, santun bertutur. Yang punya masalah keluarga bukan hanya saya atau Anda seorang, bahkan mungkin banyak yang lebih berat masalahnya, namun memilih sarana yang lebih tepat untuk menyelesaikannya. Lagipula, di ruang publik seperti itu, belum tentu semua orang nyaman dengan yang kita sampaikan. Di ruang publik, maya ataupun nyata, kita ikut bertanggung jawab akan kenyamanan orang lain.

Pada akhirnya, hari ini saya leave dari grup tersebut. Salah satu yang membuat saya gerah adalah ketika seorang anggota grup mem-posting foto bayi yang diberi rokok oleh orangtuanya -kayaknya belakangan ini foto itu lagi heboh- dengan komentar nyinyir yang kurang lebih seperti ini, “Kok ada ya orangtua yang tega kayak gini sama anaknya”, tanpa mem-blur atau menyensor wajah si bayi. Lalu, status itu pun banjir komentar dengan nada hujatan kepada orangtua dan rasa iba kepada si bayi.

Kalau memang beliau peduli, seenggaknya, paling minimal banget, menurut saya, laporkan akun pemilik foto tersebut ke pihak FB. Saya tidak tahu seberapa efektifkah cara itu, namun satu perbuatan kecil saya kira lebih baik daripada ratusan bualan besar. Bukankah dengan menshare hal yang seperti itu malah lebih mengeksploitasi si anak yang sejatinya tak tahu apa-apa itu?

Atau kalau mau lebih peduli lagi, kalau tangan sendiri tidak mampu merubah keadaan, bisa kan meminta perhatian tokoh-tokoh parenting/ pendidikan yang akunnya banyak bertebaran di FB melalui pesan pribadi atau me-mention-nya secara langsung? Pun kita tidak tahu seberapa efektif kah cara ini. Setidaknya, berbuat!

Namun, kalau tidak bisa berbuat apa-apa, lebih baik diam kan daripada menyebarkan foto itu ke lebih banyak orang? Apalagi tanpa memberi solusi.

Ya, tapi begitu lah dunia ibu-ibu. Semakin dimasuki semakin rumit dan rempong dan nyinyir dan bising dan… dan lain lain  :D

Saya bersyukur lebih banyak grup ibu-ibu yang menjadi tempat belajar dan berteman yang nyaman dan bermanfaat. Pintar-pintar saja kita memilih komunitas/ grup agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang kurang/ tidak bermanfaat.

-selesai-

[Buku] Pendidikan Anak Ala Jepang

5 Comments

image

Identitas Buku

Judul Buku : Pendidikan Anak Ala Jepang
Penulis : Saleha Juliandi dan Juniar Putri
Penerbit : Pena Nusantara
Cetakan : I, Oktober 2014
Tebal : xii + 173 halaman

***

Tuntas membaca buku “Pendidikan Anak Ala Jepang” membuat saya merasa, hmm… semakin miris dengan sistem pendidikan (formal) di Indonesia. Kapankah sistem pendidikan Indonesia akan menyamai atau, kalau boleh berangan-angan, melampaui Jepang, yang mana disana pendidikan karakter lebih dikedepankan daripada sekedar nilai-nilai mata pelajaran di atas kertas?

Rasa-rasanya sistem pendidikan kita tidak banyak berubah selama belasan tahun (atau puluhan tahun?) belakangan ini, kecuali perubahan kurikulum yang berganti hampir di setiap periode pemerintahan, itu pun kadang dibarengi pro dan kontra.

Tujuh belas tahun lalu, ketika mengikuti Ebtanas kelas 6 SD, kami sekelas mendapat contekan jawaban langsung dari wali kelas dan guru pengawas, dan saat ini pun masalah kebocoran soal UN atau contek menyontek massal sudah biasa menghiasi berita UN tiap tahun. Tapi toh tiap tahun berulang terus? Artinya tidak ada perbaikan? Itu hanya salah satu contoh persoalan saja. Persoalan lainnya? Bullying, pornografi, kekerasan guru terhadap murid, atau sesama murid, ah… makin panjang saja daftar kekhawatiran saya, membuat orangtua merasa semakin berat melepas anak-anaknya ke sekolah.

***

It takes a village to raise a child“, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Dan seperti itulah Jepang dalam membesarkan generasi mudanya. Tidak hanya orangtua dan guru yang mengambil peran mendidik dan melindungi anak-anak, orang-orang di lingkungan sekitarnya pun menempatkan diri sebagai pendidik dan pelindung anak-anak.

Misalnya, diceritakan di buku itu, ketika anak-anak SD berangkat sekolah, yang mana harus berjalan kaki dengan jalur tertentu, masyarakat yang dilalui dalam perjalanan menuju/ dari sekolah diberdayakan untuk menjaga anak-anak itu, demi memastikan keamanan dan keselamatan anak-anak hingga tiba di/ dari sekolah. Rasanya istimewa sekali ya jadi anak-anak di Jepang.

image

Diambil dari buku Pendidikan Anak Ala Jepang

Selain itu, di bawah ini saya catat beberapa hal unik, menurut saya, yang membedakan sekolah di Jepang dengan di Indonesia, pada umumnya:

Sekolah/ guru-guru disana menganggap semua anak pandai dan memiliki kelebihan masing-masing. Satu anak tidak dibanding-bandingkan dengan anak yang lainnya, maka tidak ada istilah si A lebih bodoh, atau si B lebih pantas mendapat hadiah, dsb, bahkan dalam suatu pesta olahraga antar siswa pun, semua siswa, tidak hanya yang jago di bidang olahraga, terlibat aktif dalam setiap perlombaan termasuk anak yang berkebutuhan khusus. Semua anak akan mendapat hadiah yang sama pada akhir acara, karena tujuan acara itu adalah untuk mencapai kesehatan bersama, lebih dari sekedar mencapai prestasi angka-angka.

image

Selain itu, sistem penilaian mereka di rapor tidak berupa angka dan tidak ada sistem rangking. Hanya ada 3 kategori nilai yaitu perlu ditingkatkan, bagus, dan sangat bagus. Tidak ada istilah tidak naik kelas, karena anak di’kelas’kan berdasarkan umurnya. Jika anak kurang bisa mengikuti pelajaran, maka tugas gurunya lah untuk membimbingnya secara khusus.

Anak-anak bersekolah harus di wilayah tempat tinggalnya, kalau di Indonesia setara kelurahan atau kecamatan kali ya? Karena jaraknya yang relatif dekat, maka anak-anak SD dst harus berjalan kaki ke sekolah. Sementara anak-anak TK naik jemputan. Hal itu sekaligus juga dapat mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya, mengurangi polusi, menghemat energi, dan membuat tubuh lebih bugar, kan?

Hmm, terpaksa saya harus membandingkannya lagi dengan Indonesia. Karena kadung ada persepsi sekolah unggulan, sekolah favorit, sekolah standar internasional, dan semacamnya, maka banyak orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya di sekolah dengan cap mentereng itu, dimanapun lokasinya.

Lagipula, sepertinya belum ada standar mutu tertentu untuk sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Jadi, sekolah yang bagus, sering memenangi perlombaan/ kejuaraan, fasilitasnya baik, dan lulusannya banyak diterima di sekolah unggulan di jenjang berikutnya itulah yang menjadi favorit, sayangnya predikat itu hanya disematkan pada sekolah-sekolah tertentu saja, sehingga terasa adanya kesenjangan antara satu sekolah dengan sekolah yang lainnya, padahal sama-sama dikelola oleh negara.

Tentang budaya masyarakat Jepang yang sangat senang membaca, ternyata karena sejak usia dini mereka sudah dikenalkan pada buku. Anak-anak di TK ataupun TPA dibacakan buku-buku cerita setiap hari. Dibacakan lho ya, bukan diajari membaca. Hmm, di Indonesia? Sayangnya, di usia TK anak-anak sudah ‘dipaksa’ belajar membaca, bahkan SD-SD tertentu mensyaratkan calon muridnya sudah bisa membaca sebagai syarat diterima di sekolah tersebut.

image

Poin berikutnya, guru menjadi profesi favorit dan bergengsi disana. Sebagai contoh, diungkapkan data bahwa perbandingan pelamar dengan kebutuhan guru TK disana adalah 4:1. Artinya, satu posisi profesi guru TK diperebutkan oleh 4 orang. Tidak dipaparkan sih di buku itu apa karena guru disana menerima tunjangan/ gaji yang besar atau bagaimana? Hanya katanya, hanya ada dua profesi yang pelakunya disebut sensei, yaitu profesi dokter dan guru. Guru disana pun mengajar muridnya dengan cara kreatif dan inovatif.

Selain itu mereka pun menjalin hubungan baik dengan para orangtua. Misal, pada awal tahun ajaran, guru kelas akan mengunjungi rumah muridnya satu per satu. Juga adanya buku penghubung yang menjelaskan perkembangan anak di sekolah, dan begitupun orangtua menuliskan kondisi anaknya di rumah.

Hal yang tidak umum terjadi di persekolahan Indonesia ya kan? Karena guru banyak yang lebih sibuk dengan urusan administrasi dan mengejar target menyelesaikan semua bahan pelajaran, sehingga terkesan kuantitas pelajaran lebih utama dibandingkan kualitas.

image

Di Jepang, sekolah tidak menyediakan kantin. Anak-anak membawa bekal dari rumah, atau sekolah yang menyediakan makan dengan standar kebersihan yang baik dan gizi yang seimbang.

Hal ini yang masih sangat sulit berlaku di Indonesia. Hal paling minimal yang bisa dilakukan sekolah kita adalah melarang anak-anak jajan di luar pagar sekolah dan menyediakan jajanan bermutu di dalam sekolah. Tapi jarang sekali saya menemukan sekolah yang di luar gerbangnya bersih dari pedagang jajanan.

Seharusnya pemerintah lebih concern terhadap hal ini, misalnya dengan mengeluarkan peraturan tertulis tentang larangan berjualan di sekitar gerbang sekolah, atau ada aturan dari sekolah yang melarang siswa jajan di luar gerbang sekolah. Karena bagaimanapun konsentrasi belajar siswa juga bisa dipengaruhi oleh apa yang masuk ke dalam perutnya.

***

Dan, banyak yang lainnya sebenarnya, tidak saya tulis satu per satu disini, membaca bukunya langsung akan lebih membuka wawasan.

Tapi, tidak ada yang sempurna di dunia ini, ya kan? Sebagus apapun sistem pendidikan Jepang, tetap ada celah yang mencederainya. Di buku lain yang berkisah tentang Jepang (lain waktu saya buat tulisannya juga ya), diceritakan masyarakat Jepang yang cenderung dingin dan kaku terhadap orang lain. Penulis di buku itu menceritakan bahwa ibu-ibu di Jepang cenderung dingin merespon anaknya yang jatuh. Di satu sisi, hal itu lah yang membentuk anak-anak Jepang menjadi pribadi pekerja keras dan ulet, namun, mungkin sikap dingin orangtua itu lah yang membentuk orang Jepang menjadi dingin dan kaku juga terhadap orang lain?

Selain itu, kita pun tak bisa menafikan fakta bahwa angka bunuh diri di Jepang sangat tinggi. Mungkin itu adalah ekses dari karakter mereka yang terlalu bekerja keras? Atau terlalu menuntut kesempurnaan? Atau karena kurangnya kehangatan di lingkungan sosial mereka? Sekali lagi, tidak ada yang sempurna, ya kan?

***

Kesimpulan dari saya sih, ambil yang baik, buang yang buruk.

Kita, orangtua, mungkin tidak bisa berbuat banyak menuntut sekolah (di Indonesia) berubah menjadi lebih ‘ramah anak’ atau menjadi ideal sesuai dengan yang kita impikan, tapi banyak hal yang bisa kita lakukan di rumah, yaitu dengan membekali anak dengan karakter baik yang kuat yang tidak mustahil akan mewarnai lingkungannya, termasuk lingkungan sekolahnya. Karena, tetap, sebagus apapun sekolah, orangtua lah yang paling bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anaknya.

-selesai-

Penting! Memeriksa Uang Kembalian

3 Comments

Pada dua kali kunjungan terakhir ke minimarket dekat rumah, saya mengalami dua kali pula kejadian berhubungan dengan uang kembalian.

Kejadian pertama sekitar 1 minggu yang lalu. Waktu itu saya belanja senilai 31.800. Saya menyerahkan uang sebesar 50.000, dan terlambat menyadari uang kembaliannya hanya 18.000, kurang 200 perak. Saya dongkol sekali, bukan karena kekurangan uang yang tidak seberapa itu, namun karena merasa si kasir mencurangi saya dengan semena-mena.

Kejadian kedua, kemarin malam. Saya berbelanja senilai 41.500 lalu menyerahkan uang 100.000, mungkin karena si kasir lagi ga fokus, ia hanya memberi uang kembalian 8.500, kurang 50.000, di struk pun tertulis uang yang masuk ke laci kasir hanya 50.000, bukan 100.000.

Mungkin teman-teman pernah mengalami situasi serupa itu?

Sebelumnya saya termasuk orang yang cuek soal uang kembalian atau apapun yang tercetak di struk belanjaan. Biasanya setelah membayar dan menerima uang kembalian (kalau ada), saya hanya akan memasukkan uang dan struk itu ke dalam saku atau dompet tanpa meneliti satu per satu, apalagi kalau uang kembalian itu berupa recehan ratusan perak.

Paling saya agak ketat soal struk ini kalau belanja agak banyak di supermarket. Saya men-screening struk untuk memastikan semua barang sudah terbayar dan masuk ke kantong belanjaan. Tapi sejauh ini saya belum pernah mengalami kejadian ‘dicurangi’ oleh kasir di supermarket seperti kejadian pertama di atas.

Setelah dua kejadian terakhir ini, saya menyadari pentingnya memeriksa struk belanja dan uang kembalian untuk memastikan kita menunaikan kewajiban kita dan mendapatkan hak kita sebagai pembeli, begitupun sebaliknya dengan penjual. Lagipula, dengan begitu kita pun secara ngga langsung memudahkan pekerjaan si kasir pada akhir shift kerjanya kan? Ketika harus mencocokkan jumlah uang dengan jumlah yang tercatat di sistem, mereka tidak pusing kalau ada selisih kurang, kalau selisih lebih sih mungkin tidak ambil pusing ya hehe…

#halkecilnamunbesar

Takut Apa?

2 Comments

Tiga hari yang lalu saya mengantar Akhtar ke dokter. Selama di ruang tunggu Akhtar bermain-main dengan seorang anak perempuan berusia 4 tahun yang menurut saya cerdas, tapi menurut ibunya anak ini ‘susah diatur, tidak bisa dilarang’.

Awalnya anak ini terlihat malu-malu, namun tak lama kemudian ia sudah ikut lari-lari di belakang Akhtar. Naik turun tangga, bahkan selonjoran dan guling-guling di lantai. Sementara ibunya hanya memerhatikan dari kursi tunggu, malah tampak kesal.

Setiap hal kecil ia tanyakan, seperti misal ketika kami berada di dekat lift dia menanyakan gambar-gambar yang tertempel di pintu lift,

“Ini kenapa?” tanyanya sambil menunjuk gambar seorang ibu yang berbaring di ranjang.

“Itu ibunya baru punya dedek”, jawab saya sambil menunjuk gambar ranjang bayi di sebelah ranjang si ibu.

“Kalau ini adiknya kenapa?” tanyanya sambil menunjuk gambar seorang anak kecil di ruang rawat.

“Itu adiknya sakit”, jawab saya.

“Sakit apa?”

“Kenapa sakit?”

Lalu ketika pintu lift terbuka, dia penasaran kenapa tiba-tiba ada orang yang keluar dari balik pintu lift itu.

“Orang itu dari mana?” tanyanya, lalu melangkahkan kaki hendak masuk ke dalam lift.

“Jangan masuk Kakak, nanti kebawa naik, Mamanya nanti bingung nyariin”, larang saya sambil menarik tangannya.

“Naik? Kenapa naik? Naik kemana?”

Pokoknya apapun yang saya katakan selalu menimbulkan pertanyaan baru.

Saya yang saat itu sambil mengawasi Akhtar sempat kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menuntut untuk dijawab.

Saya membayangkan 2 atau 3 tahun dari sekarang pun mungkin Akhtar punya rasa ingin tahu yang sangat besar seperti anak ini, hmm… siapkah saya?

Tak jauh dari lift, ada tangga menuju ke lantai atas, Akhtar mulai naik-naik, pun anak ini mengikuti sambil terus bertanya ini itu, “Adek mau kemana? Adeknya ga mau diem ya? Adeknya nakal ya?”

Ketika saya membawa Akhtar turun, anak ini bertanya, “Kenapa turun?”

“Takut ah naik-naik”, jawab saya sekenanya.

“Takut apa?”

Takut? Oh ya… takut apa ya? Tetiba saya merasa salah menjawab. Saya sempat tertegun beberapa saat hingga menemukan kalimat yang (mungkin) cocok untuk menjawabnya, “Takut nanti Mama-nya nyariin”

“Hmm… nanti kalau dipanggil dokter gak kedengeran kalau Kakak ke atas”, saya berusaha menerangkan dengan alasan lain.

Diam-diam saya mengambil pelajaran, “Mungkin lain kali saya harus lebih berhati-hati menggunakan kata takut untuk anak, kecuali punya alasan yang rasional”, batin saya.

Hal Kecil Namun Besar

Leave a comment

Kemarin saya mengantar Akhtar ke dokter anak di RSIA di Pasteur, Bandung. Dari Pintu Tol Padalarang, kami naik bus Damri dan berhenti tepat di seberang RS.

Dalam perjalanan di bus, saya melihat seorang ibu menyuapi anaknya makan pisang, kemudian dengan santainya membuang kulit pisang itu di bawah kursinya.

Sering melihat kejadian semacam itu? Atau justru pernah melakukannya sendiri? Ya, saya pernah sering melakukannya, sudah lama sekali sejak saya melakukannya terakhir kali.

Bisikan dalam pikiran, “Ah biar saja nanti juga ada yang bersihkan” membuat saya melakukannya dengan santai saat itu, tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Di Indonesia situasi seperti itu tidak hanya terjadi di kendaraan umum. Dimanapun di tempat umum sering sekali saya melihat orang melempar sampah seenaknya, bahkan jika itu hanya sebuah bungkus permen atau puntung rokok yang tidak lebih dari 2 cm. Seolah-olah negeri ini adalah sebuah tong sampah raksasa dengan rakyat yang melakukan gerakan buang sampah secara masif dan terstruktur.

“Ah cuma bungkus permen ini”, atau

“Kan ada petugas kebersihan, nanti juga dibersihkan”, atau

“Kalau ngga ada petugas kebersihan, paling nanti dipungut sama pemulung”, atau

“Sekali-sekali gapapa lah”

Bayangkan, jika pikiran seperti itu terlintas di kepala jutaan orang di luar sana, termasuk di kepala kita sendiri, akan berapa banyak sampah yang tercecer?

Dan ketika hujan turun, lalu sungai meluap karena sampah, sebagian dari jutaan orang itu mungkin hanya akan menatap prihatin penderitaan para korban banjir di layar kaca, “Kasihan!”. Sebagian yang lain mungkin hanya akan menggerutu, “Makanya, buang sampah tuh jangan sembarangan dong!”. Sebagian yang lainnya lagi tiba-tiba menjadi kritis, dengan menyalahkan para penebang pohon di hulu sungai, atau para developer yang membangun perumahan di dataran tinggi, atau pemerintah yang memberi izin kepada pihak-pihak itu.

Lalu, kita salah apa? “Ya, ngga salah dong, yang salah kan mereka, mereka, dan mereka.”

Para penebang pohon itu, para developer itu, atau para pembuang sampah sembarangan ke sungai itu mungkin sudah di luar kontrol kita untuk mencegahnya. Tapi setidaknya kita memiliki kemampuan untuk mengontrol diri sendiri agar tidak membuang sampah sembarangan, sekecil apapun itu.

Apa arti secuil sampah kecil untuk mencegah banjir? Ber-husnudzan saja, di luar sana, di kepala jutaan orang di Indonesia juga mungkin terlintas pikiran yang sama untuk mengurangi beban bumi menampung sampah yang tidak pada tempatnya.

Kalau kata Aa Gym mah, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai saat ini. Betul tidak teman-teman? #aagymmode:on

Kalau kata Pak Prabowo mah, kalau bukan kita, siapa lagi, kalau bukan sekarang, kapan lagi.

Kalau kata Pak Jokowi mah, revolusi mental euy revolusi mental. :P

— end —

Older Entries