Makan di Toko

Leave a comment

Dalam kamus bahasa Akhtar, makan di toko artinya makan di restoran cepat saji. Akhtar menamai aktivitas ini secara spontan sekitar beberapa bulan yang lalu, ketika dalam suatu perjalanan pulang dari Bayah (Kab Lebak) kami mampir di rest area dan makan di restoran ayam Pak Tua.

Setelah itu selama beberapa waktu, ketika melihat restoran ‘toko’ di rest area manapun, Akhtar akan berseru, “Akhtar pernah makan disitu!”


Selanjutnya, Akhtar pernah merasa terkesan ketika diajak makan di restoran berlambang M di Cimahi, yang di dalamnya terdapat playground kecil.
Lalu, ingat terus pernah memesan menu ayam, nasi, dan minuman teh buah di restoran dengan krim keju sebagai kekhasannya. 

Sepele ya? Hehe… karena jarang makan di toko, aktivitas yang dilakukan sesekali ini menjadi istimewa bagi Akhtar. 

Tetaplah jarang ‘makan di toko’ ya Akhtar. Karena sesungguhnya yang Akhtar makan itu junkfood… :p

Lebaran Istimewa

1 Comment

Tulisan ini judulnya ‘dibuang sayang’. Seringkali saya hanya menulis di draft blog tanpa published. Kadang-kadang, kalau lagi moooood (kadang-kadang lho ya..), saya buka lagi satu per satu tulisan di draft, ada yang saya lanjutkan ceritanya dan akhirnya terpublish, banyak juga yang akhirnya ‘tidak berakhir jadi apa-apa’ saking ‘late post’nya, ide-ide sudah menguap entah kemana, dan kalau itu berupa cerita pengalaman, maka udah ga dapet ‘feel’nya untuk melanjutkan cerita. Udah basi dan krauk krauk…

Tapi karena cerita di bawah ini menurut saya ‘cukup’ istimewa, maka saya memutuskan untuk ngeposting juga. Istimewanya karena ada beberapa ‘momen pertama kalinya’ buat saya, buat anak-anak, dan buat saya dan suami.

***

Lebaran 2016

Salah satu yang istimewa dari Ramadhan tahun ini adalah bahwasanya ini adalah Ramadhan pertama saya dengan puasa full, tanpa batal, dalam 16 tahun terakhir sejak mendapat haid pertama.

Jika di 13 tahun sebelumnya saya batal karena haid, di 2013, separuh bulan saya ga puasa karena dalam masa nifas setelah melahirkan Akhtar. Setelah itu saya ga datang bulan sampai 13 bulan dan dengan percaya dirinya yakin bisa penuh menjalankan puasa Ramadhan 2014.

Qadarullah… saya mendapat haid pertama dalam 13 bulan itu justru dalam pekan terakhir Ramadhan 2014.

2015, saya kembali percaya diri bisa menjalankan puasa sebulan penuh. Waktu itu sedang hamil Ahnaf kurang lebih 3 bulan. Tapi pada suatu kunjungan ke dokter kandungan, si dokter menyarankan saya untuk tidak berpuasa demi kesehatan si janin. Ya sudah akhirnya 10 hari saya batal karena selang seling antara puasa dan tidak.

2016 ini alhamdulillah akhirnya saya bisa full menjalankan puasa dalam kondisi menyusui Ahnaf, plus pertama kalinya membawa anak-anak untuk shalat Ied.

Sekali-sekalinya pernah ajak Akhtar untuk shalat ied (yaitu idul adha) adalah sekitar 2 tahun lalu… pada akhirnya saya ngga shalat juga karena sibuk ngejar-ngejar Akhtar yang bermain di pinggir kolam tak jauh dari shaf jamaah wanita.

Dan… lebaran tahun ini untuk pertama kalinya juga sejak punya anak, suami nekat ngajak nonton bioskop ninggalin anak-anak yang udah tertidur. 

Asik nih, tiket udah di tangan, cemilan udah siap plus minumannya, pintu studio pun sudah dibuka, dan kami sudah menemukan tempat duduk kami. Film belum juga mulai, layar masih menampilkan trailer film-film yang akan tayang dan beberapa iklan komersial ketika hp suami menerima pesan singkat.

“Ahnaf nangis”

Beberapa detik cuma cengo, ga bisa mikir. Waduh… kudu kumaha. Kita memutuskan menunggu sampai ada kabar baik dari rumah, tapi yang datang malah kabar buruk

“Ahnaf ngadat, ga mau berhenti nangis”

Saya mulai gelisah…

Dan beberapa menit kemudian akhirnya kami memutuskan meninggalkan bioskop tepat di detik pertama film diputar. 

Sepanjang jalan pulang saya hanya tersenyum-senyum geli mengingat betapa gatotnya kencan kami malam itu.

Akhirnya, cemilan (mahaaal T_T) yang dibeli di lobi bioskop pun kami habiskan sambil menonton film di depan layar kaca, di rumah.

***

Menyimpan Telur

Leave a comment

 ​

Saya lagi mimikin Ade di kamar, tetiba dari arah ruang depan terdengar Akhtar -yang lagi maniiiisss banget- menawarkan bantuan.

“Mim.. Akhtar masukin telurnya ke kulkas yaaa…”

Sebelumnya kami baru saja ke warung membeli telur.

“Oh no…”, batin saya… “Bagaimana kalau telur-telur itu jatuh… pecah… duuh…”

“Miiimm… telurnya masukin ke kulkas yaaa?”

Sekali lagi terdengar Akhtar berteriak, karena saya tak kunjung menjawab.

“I… Iyaaa…” saya mengiyakan ragu.

Tak lama, anak 3,5 tahun itu melintasi pintu kamar dengan langkah hati-hati, kedua tangannya memegang wadah berisi telur.

“Hati-hati yaa.. pelan-pelan…” saya mengingatkan sambil menajamkan pendengaran… waspada.

Tidak sampai satu menit, Akhtar masuk kamar membawa wadah kosong, dan berujar bangga, “Sudaaah…”

“Makasih ya… jazakallah…” ujar saya di mulut. Sementara dalam hati… “Ha? Cepet amat… ditaruh dimana telur-telurnya?!” masiiih saja menduga yang ‘ngga-ngga’.

Selesai mimik Ade, saya langsung menuju kulkas, mengecek ‘hasil kerja’ Akhtar. 

Dan…

Terlihat telur-telur itu tersusun rapi, pada tempatnya. Tidak ada telur pecah, bahkan tidak sedikit pun terdengar suara ketika satu per satu telur dipindahkan ke dalam kulkas. Kekhawatiran saya tidak terbukti… sama sekali.

Kalau saja saya menolak bantuan Akhtar tadi… dia akan kehilangan banyak sekali kesempatan untuk belajar hari ini…

Ngomongnya yang Betul (part-2)

1 Comment

image

Ada satu kucing tetangga yang sok kenal sok dekat banget sejak kami tiba di rumah kontrakan ini. Kucingnya lucuuu, bener deh, corak bulunya unik, walaupun sebenarnya si kucing ini hanya kucing kampung.

Sukanya masuk-masuk pagar rumah, lalu masuk rumah tanpa permisi. Ya eyalah. Seperti kejadian tadi pagi, si kucing sudah mulai caper sejak pintu rumah dibuka, seperti tau apa yang dituju, si kucing berjalan mengarah ke dapur… tapi berhasil dihalau keluar rumah.

Beberapa lama kemudian, saya kaget sekaligus bingung, karena si kucing tetiba melintas di depan mata saya dari arah dapur menuju pintu keluar dengan langkah percaya diri dan wajah tanpa dosa. Saya langsung ke dapur lalu menemukan beberapa sampah sudah keluar dari tempatnya.

Setelah berhasil mengusirnya keluar, kucing itu masih berusaha masuk melalui jendela yang terbuka, saya menepuk-nepuk badan dan kepalanya, “Keluaarr… ayo ayo keluaarr!”
Lalu… alarm mungil saya berbunyi, “Mim… ga boleh pukul-pukul ya…” saya melirik ke arah suara, dan melihat Akhtar berdiri dengan ekspresi kaget dan alis mengerut.
“Oh iya… maaf… meng maaf ya udah pukul-pukul. Ayo cepat keluar!”
“Mim… ngomongnya yang betul”
“Oh iya… meng sayang ayo keluar yuk…”, kata saya sambil mendorong lembut si kucing keluar pintu. Mamaaakk!

Rupanya si kucing pantang menyerah, dia tetap masuk keluar berkali-kali dari jendela lalu ke pintu… sampai saya tersenyum kecil mendengar dialog Akhtar dengan kucing, “Meng ga boleh masuk ya sayang, keluar ya meng” katanya sambil mendekatkan wajah ke arah kucing.

Oalaah…

Makasih Akhtar sudah mengingatkan Mim untuk bersikap lembut pada binatang :)

Perkembangan Bahasa Akhtar

Leave a comment

image

“Abah lagi apa Abah?”
“Mim ini apa Mim?”
“Ata begini…. Ata begitu….”

Begitulah yang sering terdengar sepanjang hari selama beberapa bulan ini. Akhtar menanyai setiap orang di rumah dengan intonasi khasnya “Lagi apa?” atau “Ini apa?” sambil menunjuk ke sebuah benda, simbol, atau gambar apapun yang dia lihat, ataupun menceritakan kembali aktivitasnya secara sederhana.

Mengamati perkembangan Akhtar, kemampuan berbahasa Akhtar mengalami kemajuan sangat pesat dalam setengah tahun terakhir. Saat usianya menginjak 2 tahun, hanya celotehan tidak jelas yang keluar dari mulutnya, bahkan saat itu ia belum bisa memanggil saya dengan benar atau menyebut dirinya dengan namanya sendiri, namun dalam 6 bulan terakhir, dia banyak sekali mengenal kosakata baru, bisa menyusunnya menjadi kalimat sampai 5-7 kata, dan mengucapkannya dengan jelas, sehingga bisa dipahami tidak hanya oleh orang-orang yang berinteraksi dengannya setiap hari.

Yang mengherankan adalah… Akhtar termasuk anak yang talkative. Seandainya cerewet itu diturunkan dari orangtua, maka orang akan terheran-heran mendapati Akhtar bisa banyak bicara seperti itu sementara kedua orangtuanya bisa dibilang cenderung pendiam.

Belakangan Akhtar pun sudah bisa diajak bermain peran. Dia menggunakan media apapun sebagai ‘orang-orang’an… entah itu dari huruf-huruf (bentuk-bentuk huruf yang dilepas dari karpet evamat), mobil-mobilan, atau boneka-bonekanya, kemudian mengajak saya berdialog seolah-olah benda-benda itu bisa berbicara. Kadang dia pun mengubah-ubah suaranya sesuai karakter yang ingin ia perankan. Sesekali Akhtar pun bermain pura-pura menjadi kura-kura, pura-pura naik mobil, atau naik kereta api…

Satu yang kurang (berhubungan dengan hal ini), untuk saat ini. Akhtar jarang sekali keluar rumah beberapa bulan terakhir ini, sehingga interaksinya dengan orang-orang di luar keluarga inti masih sangat terbatas, pun kegiatannya hanya terbatas pada apa yang bisa dilakukan di dalam rumah. Padahal, itu penting, menurut saya, untuk lebih mengembangkan kemampuannya berbahasa dan mengasah kemampuannya bersosialisasi.

Setidaknya sampai usia kehamilan 6 bulan saya masih sangat rajin mengajaknya ke sawah di belakang rumah, atau ke pasar dan stasiun yang hanya berjarak 100meteran dari rumah, atau bolak balik naik angkot sekedar melihat-lihat apapun yang bisa dilihat sepanjang jalan. Namun, aktivitas saya mulai terbatas (terutamaaa… dibatasi) ketika kehamilan menginjak bulan ke 7 dst…

Padahal, saya melihat dampak besar sekali dari kegiatan-kegiatan seperti itu… anak lebih mudah mengingat kosakata baru sampai mampu menceritakan pengalamannya…

‘Pelampiasan’nya apa ketika kegiatan jalan-jalan itu dihilangkan? Televisi! Apalagi saat ini, untuk sementara saya tinggal bersama orangtua yang belum bisa lepas dari TV. Menonton TV menjadi aktivitas rutin sehari-hari yang tidak bisa dilewatkan.

Akhtar pun mulai punya acara favorit. Sejauh ini selalu berusaha diarahkan untuk menonton tayangan yang positif saja, semisal dzikir dan asmaul husna pagi hari di MQTV dan acara Diva dan Pupus dua kali setengah jam setiap hari, pagi dan siang. Masalahnya, Akhtar seringkali memaksa TV tetap dinyalakan meskipun acara favoritnya sudah selesai huhu…

Tapi, sementara ini, saya hanya bisa bilang, ‘mau gimana lagi’… dengan tetap berusahaaa sekuat tenaga (melawan rasa malas haha) membuat berbagai media belajar dan bermain untuk Akhtar di rumah, dengan bahan-bahan yang ada…

#kodekerasbuatpapa
#akhtarmintamainanbaru

:p

Sabar ya Nak, nunggu sampai Adik bisa diajak jalan-jalan juga… :)
**ciyus??

Akhtar dan Huruf-huruf

Leave a comment

image

Jam 1 malam Akhtar terbangun, dan langsung menangis, menanyakan huruf-huruf…
“Mim huruf-huruf ada sini, ayo cari…”
Terus mengulang kata-kata itu puluhaaaan kali sambil menarik-narik saya agar mau mengikutinya turun dari tempat tidur.

Entah huruf-huruf yang mana yang dia maksud… di tempat tidur saat itu masih bergeletakan mainan magnet berbentuk huruf-huruf yang dimainkan Akhtar sebelum tidur, pun ketika neneknya menawarkan puzzle huruf-huruf evamat, Akhtar tetap saja menangis.

Saya sebenarnya tahu persis apa yang diinginkan Akhtar, yaitu menonton video mobil dan kereta tentang huruf-huruf di youtube, yang sudah ditontonnya berulang kali. Tapi, kenapa bisa? Padahal, seperti yang sudah saya tulis di post sebelumnya, Akhtar akan tidur gelisah dan terbangun menanyakan video itu jika sebelumnya menonton itu sampai tertidur. Sementara sehari sebelumnya, Akhtar tak sedetik pun mengakses apapun di HP.

Pada akhirnya, selama kurang lebih 15 menit, saya biarkan Akhtar menangis, saya hanya diam ‘termenung’ karena mengantuk dan ga tau solusinya apa…
Lama-lama saya menyerah, saya turuti juga keinginan Akhtar keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah, ajaibnya… Akhtar berhenti menangis ketika kami baru saja sampai pada anak tangga paling atas menuju perjalanan ke bawah… “Kenapa ga dari tadiiiiiii” saya menyesali diri.

Akhtar dan Huruf-Huruf…

Begitulah judul untuk tulisan ini saya buat…

Sebenarnya saya pribadi berprinsip untuk tidak mengenalkan huruf-huruf terlalu dini pada Akhtar. Sewaktu suatu hari saya iseng datang ke sebuah TK yang menyediakan kelas untuk anak batita di Pasuruan, saya langsung ilfil ketika si Mbak disitu menjelaskan salah satu ‘kurikulum’ anak 1 tahun disana adalah mengenal huruf. Namun Akhtar belajar dari lingkungan terdekatnya, saya justru yang menciptakan lingkungan belajar di rumah dengan huruf disana sini.

Pada awalnya, saya menempelkan 3 buah poster yang saya buat sendiri, yaitu poster alfabet, hijaiyah, dan angka-angka, di rumah Pasuruan. Bukan untuk menyiapkan Akhtar belajar membaca, namun karena 3 poster itu lah yang paling mudah dibuat menurut saya… agar dinding ‘lebih ramai’ namun tetap ber’nilai pendidikan’. Ternyata Akhtar sangat tertarik… lalu selanjutnya saya belikan mainan lain yang masih berhubungan dengan huruf dan angka, alhasil pada usia 2,5 tahun sekarang, Akhtar sudah mengenal semua huruf alfabet besar dan kecil, hijaiyah, dan menghitung sampai 20.

Bangga? Justru saya deg-degan, karena Akhtar lebih suka bolak balik membaca huruf dan angka yang dilihatnya daripada membuka buku. Belum lagi, banyak variasi bermain yang pada akhirnya bermuara pada huruf dan angka.

Semisal, Akhtar sangat suka sekali menggambar… ketika bosan, dia akan meminta saya menuliskan huruf-huruf A to Z dan dia mengejanya satu persatu…
“Mim gambar huruf-huruf sini Mim”

Contoh lain, Akhtar suka ikut-ikutan kalau ada anggota keluarga lain yang sedang menggunakan laptop, dia akan meminta dibukakan file word dan mulai mengetik huruf-huruf sambil mengejanya.

Bukan sekali juga neneknya menyarankan saya untuk mengajari Akhtar membaca sekalian… BIG NO! Belum saatnya, masih banyak PR lain yang mesti kami selesaikan sebelum mengajari Akhtar membaca. Adab, akhlak, bukankah lebih utama? Pun soal kemampuan Akhtar bersosialisasi dan mengontrol emosinya. Belum lagi ketakutan kami, kalau terlalu dini diajari membaca, kami khawatir di usianya yang menginjak masa-masa ‘kepo’ nanti justru Akhtar sudah tidak tertarik membuka buku dengan rangkaian huruf dan angka di dalamnya.

Kali ini kami hanya mengikuti saya cara belajar Akhtar sambil sedikit demi sedikit mengalihkan perhatiannya agar tidak terlalu berkutat dengan huruf dan angka… kalaupun nanti dia belajar membaca, inginnya bukan karena kami yang memaksanya belajar, namun karena keinginan dan kesadarannya sendiri untuk membaca dan membuka diri untuk berbagai pengetahuan dari buku…

Ramadhan Ceria Bersama Sabumi

Leave a comment

image

Alhamdulillah… terlaksana juga salah satu program Ramadhan Sabumi tahun ini. Mengambil kesempatan bulan penuh keberkahan, dimana satu kebaikan mendatangkan banyak kebaikan yang lain, Sabumi bekerjasama dengan Kidzsmile Foundation mengadakan Senyum Ramadhan di PAUD Ceria, daerah Tanggulan, Dago Pojok.

image

Senyum Ramadhan sendiri sebenarnya merupakan kegiatan tahunan Kidzsmile yang mana mereka berbagi senyum dengan anak-anak di beberapa kota di Indonesia melalui permainan dan dongeng edukatif. Konsep Senyum Ramadhan Kidzsmile adalah berbagi dengan apa yang ada, namun mereka membuka kesempatan kepada siapa pun yang ingin berdonasi. Maka, Sabumi mengambil peran sebagai perantara bagi para donatur yang ingin memeriahkan Senyum Ramadhan ini dengan berbagai bentuk donasi.

Bagi Sabumi sendiri, tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengajarkan kepada putra putri Sabumi bagaimana berempati dan berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang kekurangan. Oleh karena itu, salah satu bentuk donasi yang dianjurkan adalah berupa bingkisan peralatan sekolah dan beberapa makanan ringan yang disiapkan sendiri oleh putra putri Sabumi. Tak lupa disisipi surat motivasi untuk sahabat-sahabat PAUD Ceria, agar mereka tak patah semangat mencapai cita-cita.

image

Tujuan lainnya tentu saja, Sabumi ingin berbagi keceriaan dengan sahabat PAUD Ceria dengan memberikan donasi dalam bentuk barang yang bisa digunakan jangka panjang oleh PAUD, seperti rak buku, container, mainan, karpet, papan tulis, dan beberapa item lain, serta sejumlah uang yang bisa dibelanjakan beberapa kebutuhan PAUD.

***

image

Apa sih yang Anda bayangkan tentang sekolah PAUD dan TK? Dinding kelas berwarna-warni yang digambari karakter-karakter lucu? Lemari besar penuh mainan dan buku? Panggung boneka? Halaman dengan ayunan, jungkat-jungkit, dan perosotan? Ah… jangan dibayangkan semua itu ada di PAUD Ceria.

Kelas-kelas PAUD ini hanya berupa ruangan sempit dan pengap tanpa jendela di bawah Masjid Ad Da’wah, di sebelah tempat wudhu dan kamar mandi. Luasnya hanya sekitar 5 x 4 meter, itupun digunakan untuk 3 jenjang kelas yang berbeda, yaitu PG, TK A, dan TK B.

PAUD ini terletak di Tanggulan yang termasuk daerah minus di Kota Bandung. Profil orangtua siswanya rata-rata Ibu Rumah Tangga atau ART, sementara para ayahnya adalah buruh serabutan.

image

Tapi, masyaAllah gurunya yang saat ini hanya dua dan hampir tak bergaji memiliki semangat membangun yang sangat besar.

Muridnya pada tahun ajaran terakhir ada 25 orang, dengan 3 guru (mulai tahun ajaran depan 1 guru resign karena gaji yang tidak memadai). Sebenarnya ditetapkan SPP 30-50 ribu /bulan setiap siswa. Namun dari 25 siswa, yang membayar paling banyak 6 orang, itu pun tidak rutin. Tapi meski begitu semua siswa masih boleh belajar di sana walau tidak membayar, maka bisa dikatakan PAUD ini gratis.

Mempertimbangkan hal tersebut, kami menyimpulkan PAUD Ceria ini memang layak menerima bantuan.

***

Alhamdulillah, dari hasil pengumpulan donasi selama kurang lebih 10 hari, terkumpul donasi dengan rincian sebagai berikut:

1. DONASI UANG

Total donasi : Rp 7.860.090, dan tidak semuanya berasal dari keluarga Sabumi.
Pengeluaran total untuk keperluan kegiatan belajar mengajar PAUD dan kesejahteraan guru sebesar Rp 3.010.270. Dan sisanya diberikan kepada Ibu Rahma, pemilik, kepala sekolah, sekaligus gurunya sebesar Rp 4.850.000 untuk berbagai kebutuhan PAUD.

2. DONASI BINGKISAN

Kami menerima total 33 bingkisan dari anak untuk anak.

Semuanya diserahkan kepada anak PAUD dan LDKM melalui tangan-tangan kecil putra putri Sabumi.

3. DONASI BARANG

1. Cat dinding Jotun 20 liter
2. Evamat puzzle bekas layak pakai
3. 1 container jumbo boneka bantal
4. 1 set rak besi merek Krisbow
5. Buku bacaan anak dan guru
6. Buku bantal dan bola kain
7. Puzzle anak
8. 5 tas anak
6. 6 paket hijab untuk guru dan remaja masjid putri
7. 2 bingkisan untuk remaja masjid putra
8. Abaca flashcard

Semoga Allah membalas kebaikan para donatur dengan kebaikan yang berlipat-lipat. Aamiin ya Rabbal’aalamiin.

Acara penyerahan donasi dan rangkaian kegiatannya berlangsung pada hari Rabu, 8 Juli 2015, atau 21 Ramadhan 1436 H di Masjid Ad Da’wah. Dihadiri hampir 20 orangtua Sabumi dan 20an putra-putrinya. Jumlah pastinya tidak tercatat. Serta guru-guru, dan para siswa PAUD beserta ibu-ibunya. Kalau dijumlah mungkin tidak akan kurang dari 80 orang.

image

Acara dibuka oleh Bu Rahma, kepala  sekolah PAUD, dengan berbagai nyanyian beserta gerakan-gerakannya, putra putri Sabumi pun berbaur dengan sahabat PAUD.

image

Selanjutnya, perkenalan singkat Sabumi yang diwakili Bunda Hani.

image

Setelah itu, barulah Ayah Idzma dari Kidzsmile mengambil alih acara. Diawali permainan tupai dan pohon yang lumayan heboh karena anak-anak berteriak dan berlarian kesana kemari. Meskipun begitu, semoga pesannya sampai ya… bahwa kita harus menjaga hutan kita agar pohon-pohon dan hewan-hewan bisa hidup nyaman di habitatnya.

Dilanjutkan penampilan dari beberapa anak Sabumi dan PAUD yang dengan berani maju ke depan menunjukkan kebolehannya bernyanyi.

Sabumi diwakili Sinnai nih, putranya Teh Devi.

image

image

Lalu, Ayah Idzma kembali mencuri perhatian anak-anak dengan boneka-boneka hewannya yang bisa ‘ngomong’ dan ‘bercerita’, kali ini ceritanya pun masih tidak jauh dari tema HUTAN. Dan tak ketinggalan ada Kido yang menjelaskan tentang sentuhan pada anggota tubuh kita, mana yang boleh dan tidak boleh.

image

Daan…

Pantauan di lapangan sempat terputus karena saya harus mengejar-ngejar Akhtar yang memaksa keluar masjid.

Hahaha…

Dilanjutkan acara pembagian bingkisan langsung oleh putra putri Sabumi, sahabat PAUD Ceria yang menerima pun semakin ceria, semoga bermanfaat ya Sahabat…

Acara selesai bertepatan dengan adzan dzuhur ditutup dengan doa dan foto-foto. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai skedul.

Seru ya? Wah, kapan-kapan kalau Sabumi mengadakan kegiatan lagi insyaAllah ga kalah seru deh, apalagi keluarga Sabumi selalu semangat berpartisipasi dalam setiap kegiatan.

Sekarang waktunya kita fokus menjalani 10 hari terakhir Ramadhan tahun ini. Semoga kita bisa meraih keutamaan malam Lailatul Qadar. Semoga Ramadhan ini BUKAN Ramadhan terakhir untuk kita dan keluarga. Aamiin…

Foto: dokumentasi pribadi, file media grup whatsapp Sabumi dan Intibumi

Older Entries