Buku Anak

Leave a comment

Memiliki anak membuat saya -tentu saja- lebih melek terhadap buku-buku anak. Daftar belanja buku pun bergeser. Yang dulu semasa lajang memilih buku untuk kesenangan pribadi aja… Seperti novel-novel keluaran terbaru, buku-buku rekomendasi pembaca Goodreads (btw masih eksis ngga ya sosmed perbukuan ini?!), dan buku-buku yang membuat kita, eh saya, merasa keren ketika membacanya. Hihi…

Setelah punya anak, alokasi uang belanja buku lebih banyak untuk buku anak-anak. Saya sih paling hanya beli satu atau dua buku terkait agama atau parenting per berapa bulan sekali. Itu pun awet bacanya alias ga kelar-kelar hahahaha. Antara males baca, ga sempet, dan mumet mraktekinnya… hadeuh.

Terkait isi buku pun menjadi lebih selektif, mengingat banyak buku-buku zaman old yang pada akhirnya dikeluarkan dari rak buku karena isinya sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan zaman now. Maka, jika sekali-kalinya beli buku lebih memilih buku yang bersifat referensi (eh tepat ga ya penggunaan kata referensi disini), yang saya maksud adalah buku-buku yang bisa kita baca kapanpun jika kita membutuhkan informasi tertentu, bukan buku sekali baca yang setelah itu hanya dipajang di rak buku. Masuk kategori ini adalah buku-buku sejarah dan agama.

Balik lagi ke buku anak…

Dalam 5 tahun terakhir saya (sedikit) memerhatikan dinamika buku-buku anak, dan mendapatkan fakta menggembirakan ketika sekarang ini buku-buku bagus (dari segi konten, bahan kertas, dan ilustrasi) tidak hanya milik penerbit buku-buku mahal. Bahkan banyak buku favorit saya (yang saya paksakan jadi buku favorit anak-anak juga haha) bukanlah buku-buku mahal yang berharga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah, melainkan ‘hanya’ buku-buku tipis murah namun konten dan ilustrasinya amat memikat.

Kini banyak pula buku-buku anak Islami yang gambar makhluk hidupnya sudah dihilangkan bagian wajah atau bagian tubuh tertentu demi tidak meniru ciptaan Allah.

Seiring dengan pesatnya perkembangan buku-buku murah berkualitas ini, saya merasa (hanya berdasarkan perasaan saya aja lho yaa…) promosi buku berharga jutaan yang biasa dijual secara arisan itu semakin hari semakin sedikit bahkan menghilang dari timeline medsos saya. Saya pun bersyukur bahwa dulu tidak sempat memiliki buku-buku tersebut walaupun sangat ingin. Karena secara hitung-hitungan mak irit macam saya, buku-buku tersebut tidak masuk dalam radar budget saya.

Oh ya tentang konten buku, orangtua sangat dimudahkan dengan bermunculannya penerbit buku khusus anak muslim sehingga kita tidak selalu harus memeriksa setiap halaman buku secara detail, namun cukup kenali latar belakang penerbitnya dan kita bisa yakin tentang keshahihan isi buku tersebut.

Karena tidak sedikit buku anak yang terkesan Islami nyatanya kurang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Advertisements

Gaya Hidup Hedonis…(kok yak yang dipikirin materiiiii mulu…)

Leave a comment

Udah lama ga ngeblog… Dan kembali buka-buka draft lama kemudian menemukan tulisan di bawah ini.

Ini pasti ditulis ketika saya masih kerja di salah satu KAP di Jakarta. Saat itu saya ditempatkan di tim yang kebanyakan beragama berbeda dengan saya, memiliki cara pandang dan gaya hidup juga yang sangat berbeda dengan saya terutama dalam hal memandang ‘uang’, dimana saya melihat diantara mereka sering melakukan ‘muslihat’ untuk mendapatkan pendapatan tambahan di rekening gajinya. Misal dengan me-mark up ongkos taksi untuk direimburse, atau me-mark up jam kerja.

Saya memang akhirnya terlibat disitu juga. Bukan saya yang ingin, tapi atasan pun menyuruh demikian. Pada akhirnya kecurangan-kecurangan ‘kecil’ itu saya anggap wajar. Dan nyatanya wajar terjadi di tim-tim kerja yang lain juga.

Padahal, rezeki itu bukan soal banyaknya harta. Itu adalah soal ketaatan kita juga kepada Allah. Jika kita jujur, insyaa Allah hasilnya pun lebih berkah, sehingga jumlah yang sedikit pun menjadi mencukupi.

Dan memang, masa itu adalah masa saya tanpa bimbingan dan tidak berpikir jauh ke depan. Sehingga berjuta-juta uang yang dihasilkan dari bekerja selama itu seringkali terasa tidak cukup sampai akhir bulan. Parahnya, ketika akhirnya memutuskan resign dari sana, saya tidak punya simpanan melainkan hanya sedikit.

Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni keteledoran dan ketidakmampuan saya mengelola uang.

Padahal, seseorang tidak akan bergeser dari tempat berdirinya di hari kiamat nanti sebelum ditanya diantaranya dua hal. Hartanya… Dari mana ia peroleh, dan untuk apa ia habiskan.

Sayangnya saya belum tahu hal itu dari awal.

***

Hmmm…tiba-tiba kepikiran nulis kayak gini, melihat dan merasakan kenyataan di sekitar gw yang banyak diantara orang-orangnya (sepertinya) merupakan penganut hedonisme.

Indikasinya bisa dilihat dari sifat serakah terhadap materi yang dalam banyak hal membuat gw ga nyaman hidup di lingkungan kayak gini.

Mungkin mereka perlu belajar ilmu qanaah, rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan.

Api Tje Tje

Leave a comment

Tidak ada yang paham hingga sekarang -baik saya, Papnya, bahkan Abahnya yang seringkali mengantar Ahnaf lihat kereta api lewat di dekat stasiun- apa maksud “tjetje” (dengan huruf e taling) pada frasa “api tjetje” yang selalu Ahnaf ucapkan setiap melihat kereta api.

Saya tulis kata “tjetje” dengan sedikit keraguan, apakah kata “tjetje” itu mewakili pelafalan Ahnaf yang sebenarnya. Karena aslinya, kata itu terdengar seperti tete, cece, atau jeje.

Abahnya berasumsi “tjetje” itu adalah kata yang menirukan bunyi (onomatope) kereta api ketika berjalan di atas rel. Sehingga, sering diucapkan ulang “api deng deng” oleh Abah. Tapi, Ahnaf bisa kok menirukan kata “api deng deng”, jadi pasti bukan itu maksud “api tjetje”.

Ya sudah, akhirnya ikutin aja… Ketika Ahnaf mengucapkan itu, saya pun akan menirukannya… “Iya De, api tjetje”.

*

Perkembangan Bahasa Ahnaf

Dalam satu bulan terakhir ini, Ahnaf mengalami perkembangan cukup pesat dalam berbahasa. Walaupun masih dengan bahasa bayi, yang tidah utuh atau belum jelas mengucapkan satu kata, namun kosakatanya cukup banyak bertambah dan ia bisa menggunakannya dalam konteks yang benar. Bahkan juga bisa merangkai dua kata, seperti “utah atan” atau udah makan, “susu enat” atau susu enak, “itut owat” atau ikut shalat, “au ait” atau mau naik, dlsbg, dll, dtt.

Dengan begitu, otomatis (seharusnya) semakin mudah bagi saya untuk memahaminya, tapi justru belakangan Ahnaf jadi lebih sering tantrum karena si anak 2 tahun ini punya lebih banyak kemauan yang tidak saya pahami.

Sejak beberapa pekan lalu, malah sempat menghadapi situasi “berat” dimana setiap malam saya lalui dengan deg-degan saking “horror”nya hiiiy. Apa pasal? Jadi… Ahnaf sering terjaga sampai laruuuut malam, lalu sekitar jam 1-2 dia akan menangis tiba-tiba. Semacam punya alarm yang disetting sebagai reminder untuk menangis jam segitu.

Ah ya… sebenarnya saya tahu sebabnya sih. Sebenarnya ia ngantuk, namun ada rutinitas sebelum tidur yang ingin ia lakukan tapi belakangan ngga saya izinkan, yaitu… nonton youtube. Soal ini, sudah pernah saya ceritakan.

Sekarang sih, alhamdulillah, sudah tidak separah itu. Hanya masih suka ‘riweuh’ menjelang tidur, terutama kalau sudah minta diusapi punggungnya. Serba salah. Sedikit saja saya salah mengusap bagian dari punggungnya, ia akan merengek, tak jarang berakhir tantrum yang menggetarkan jiwa haha.

Tapi untuk Ahnaf ini, saya bersyukur punya daya sabar yang memadai sehingga ngga sampai melakukan hal-hal yang disesali setelahnya. Berbeda dengan masa 2 tahun Akhtar dulu, yang mana tantrumnya bikin saya kadang tak bisa menahan diri untuk meninggikan suara atau ‘membelai’ bagian tertentu di tubuhnya. Padahal, kadar tantrumnya sih tak jauh beda. Untuk hal itu, saya sering menyesal dan meminta maaf kepada Akhtar.

“Maaf kenapa Mim?”, tanya Akhtar bingung jika saya tiba-tiba meminta maaf.

“Maaf karena Mim suka marahin Akhtar ya..”, jawab saya sambil memeluknya.

Jangan Marah

Leave a comment

Jadi, suatu waktu saya ajarkan Akhtar sebuah hadits berbunyi, “Laa taghdob walakal jannah, janganlah kamu marah maka bagimu surga”. Hadits itu saya ulang teruuuus menerus sampai Akhtar hapal dan berharap ia bisa mengamalkannya dengan tidak mudah marah dan menyikapi perasaan marahnya sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah. 

Kalau kita mengharapkan anak berbuat seperti itu, yang terlebih dahulu mengamalkan semestinya orangtuanya dong? Apalagi anak-anak adalah peniru yang ulung. Maka, ketika Akhtar marah atau kesal, (kalau ingat hehe) saya bacakan hadits ini, walaupun tidak secara otomatis membuatnya berhenti marah. Setiap mengulang hapalan hadits itu saya pun ingatkan Akhtar, “Nanti kalau Mim marah-marah, Akhtar ingetin Mim dengan hadits ini yaa…”.

Hingga pada suatu dini hari, Ade Ahnaf masih terjaga. seperti biasa ia minta diusap-usap di bagian punggungnya, tandanya ia sudah mengantuk. Tetapi setiap kali mengusap, setiap kali itu pula Ahnaf merengek sambil menjangkau sebisanya dengan tangannya bagian mana dari punggungnya yang -sebenarnya- ingin diusap. Lama-lama saya kesal dan mengomel dengan nada tinggi ke Ahnaf… tiba-tiba Akhtar muncul di pintu, lalu dengan gaya melerai ia berkata setengah berteriak, “Miiiim… laa taghdob walakal jannah… duuh udah udah“.

Saya yang awalnya marah seketika luluh, merasa terharu, bangga, dan senang, juga hayang seuri mendengarnya. Tapi yang paling mendominasi adalah perasaan ‘malu’.

Terima kasih Nak, alarm kecilku untuk pengingatnya…

(Mendadak) Aksi

Leave a comment

Jadi, sekitar seminggu menjelang HUT BRI yang perayaannya dilangsungkan di JCC hari Ahad 17 Desember 2017 lalu, suami mengajak saya dan anak-anak datang ke Jakarta. Tak lama dari ‘mengiyakan’ ajakannya, suami memberi kabar bahwa kami siap berangkat hari Sabtu (H-1 acara). Tiket kereta sudah siap dan hotel sudah booking. Wew… gercep juga :*

Selang sehari dari itu, suami mengabari akan ada aksi bela Palestina di Monas terkait pengakuan sepihak dari si Trump bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel. Ternyata letak hotel kami akan menginap pun sangat dekat dengan Monas (di Jalan Taman Kebon Sirih, sebelah BI). Maka tercetuslah.. “Ikut aksi dulu yuk…”

Maka sesuai rencana, pada hari H, pagi hari sebelum jam 7 kami sudah keluar kamar hotel dengan dresscode HUT BRI, tapi kami berjalan ke arah Monas. Bersama kami, dari arah Jalan Kebon Sirih juga bergerombol beberapa rombongan kecil dengan atribut aksi. Memasuki Jalan Thamrin menuju Monas, semakin banyak lagi orang beratribut aksi. Tidak sepadat yang saya bayangkan sebelumnya, mungkin karena masih terlalu pagi, bahkan kami masih bisa keluar masuk area Monas dengan leluasa dan tidak berdesakan. Area silang Monas pun baru penuh di bagian yang ada panggung utamanya, tempat beberapa orator mulai menyampaikan orasinya. 

Alhamdulillah bisa ikut ambil bagian di aksi tersebut, walaupun sebelumnya tidak direncanakan… walaupun tidak ada kontribusi signifikan selain kehadiran fisik kami disana hiks… walaupun tak berlama-lama disana… karena sekitar jam 9 kurang kami memutuskan meninggalkan Monas di saat hujan ringan mulai turun, menambah adem suasana. Ketika pergi dari Monas itu, kami berpapasan dengan orang-orang yang justru baru datang, makanya itu ketika sore harinya melihat berita, ternyata aksi bela Palestina hari itu ga sesepi yang kami lihat di pagi harinya. 

*

Menuju tujuan berikutnya, JCC, kami memesan taksi online dan menunggu mobilnya datang cukup lama. Ternyata… kami mendapat driver yang nyinyiran gitu deh sama aksi di Monas. Dia sih menyebutnya demo. Entahlah, walaupun mungkin terdengar bermakna sama, tapi kesan yang ditimbulkan itu berbeda ketika kita mendengar antara dua kata itu, aksi dan demo.

Si driver itu mengomentari ibu-ibu, sebagian membawa anak-anak yang terlihat berbondong-bondong jalan kaki menuju Monas. 

“Ibu-ibu itu apa ngerti ya maksud demo ini buat apa?”

Saya hanya tersenyum asyem dengan sedikit ber-hehe (mungkin tidak terdengar juga dari tempat duduk si driver) mendengar pertanyaan itu. Ingin rasanya menyahut apalah gitu ya… tapi berpikir ulang… rasanya lebih baik diam. 

Namun dalam hati saya menjawab, “In syaa Allah mereka ngerti Pak, Bapak aja mungkin yang ga ngerti. Ga ngerti untuk apa aksi dan ga ngerti kalau ibu-ibu juga ngerti”.

Lalu, tak lama ia kembali berkomentar, “Anak-anak juga ikut-ikutan, emangnya mereka ngerti.”

Saya kembali menjawab, lagi-lagi dalam hati, (Ealah… si gue ini) “Ya itu makanya diajakin aksi, biar mereka ngerti, kenapa harus bela Palestina”. 

Karena saya ga nyiapin amunisi yang cukup untuk menjawab kenyinyiran macam itu, maka saya memilih diam saja.

Kalau buat saya pribadi, selain untuk memberikan dukungan kita terhadap Palestina, aksi seperti kemarin dengan membawa anak-anak juga sebagai sarana mengenalkan kepada mereka tentang Palestina dan apa yang terjadi disana. Soal ini sih masih jadi PR juga, saya luput menceritakan tentang Palestina ke Akhtar, jadi saat jalan ke Monas itu ia masih bertanya-tanya, “Aksi apa?” “Palestina apa?”

Catet nih PR.

Aksi seperti kemarin pun membuat masyarakat lebih aware tentang isu ini. Setidaknya saya sih begitu. Saya yang fakir ilmu ini mulai meng-update lagi pengetahuan tentang Palestina, membaca-baca lagi tentang Palestina, dll.

Palestina, terkhusus Yerusalem, adalah tempat dimana Masjid Al Aqsha terletak, salah satu masjid penuh berkah bagi umat Islam selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Tujuan Isra Rasulullah, dan tempat dimana beliau Mi’raj lalu mendapat perintah shalat dari Allah. Masjid yang juga merupakan kiblat pertama umat Islam.

Yerusalem juga disebut-sebut sebagai kota suci bagi 3 agama, selain Islam, juga Kristen dan Yahudi. Yang sebenarnya membuat saya bertanya-tanya adalah, ketika Trump ngaku-ngaku Yerusalem sebagai ibukota ‘negara’ Israel, mengapa yang saya lihat vokal menyuarakan protes adalah orang Islam? Ya, karena Palestina negara mayoritas Islam. Tapi kenapa Kristen tidak? Bukankah itu kota suci mereka juga? Atau saya aja yang luput memerhatikan ya? Atau ini hanya terjadi di Indonesia yang mayoritas Islam juga ya? Pertanyaan awam banget nih ya, mungkin saya kudu lebih banyak baca buku sejarah ketimbang timeline FB atau chat whatsapp.. heuheu. Bahkan sempat saya lihat di Instagram, di foto terkait bela Palestina ini ada yang berkomentar, kurang lebih redaksinya seperti ini, “Kenapa sih ngadain aksi di hari Minggu, bikin macet aja, ngeganggu yang mau ke gereja”. Lho?

Workshop Menggambar

Leave a comment

IMG-20171027-WA0011

Sabtu, 28 Oktober 2017, bertepatan dengan 8 Shafar 1439 H, Akhtar ikut workshop menggambar yang diadakan oleh @sworks.idn. Acaranya diadakan di Cafe Photo Coffee Kota Baru Parahyangan. Cocok! Deket banget, sayang untuk dilewatkan. Akhirnya sesekali bisa ngerasain juga, berangkat nganter Akhtar berkegiatan hanya setengah jam sebelum acara.. biasanya kalau acara di Bandung, saya bahkan menyiapkan diri dan mengondisikan Akhtar sehari sebelumnya.

Sebenarnya, pemberitahuan acara ini sudah ada di grup Sabumi jauh sebelum hari-H, yang menerima pendaftaran adalah Teh Uwie, yang mana ia adalah teman dari si pemilik acara. Namun saya baru mendaftarkan Akhtar pada H-2 itu pun setelah ada reminder dari Teh Uwie. Saya menunda-nunda mendaftarkan Akhtar mengingat usianya masih 4 tahun, sementara acara itu sebenarnya ditujukan untuk anak minimal 5 tahun.

*

Setibanya di lokasi, Om Pengajar Gambar sudah mulai membuat gambar pertamanya di papan tulis kecil di depan anak-anak peserta workshop yang berjumlah kurang lebih 15 orang. Tugas pertama anak-anak adalah menggambar benda yang disiapkan si Om di depan. Ada cangkir, wadah makanan, wadah saus.

Pada awalnya, Akhtar tampak bingung dengan instruksi si Om, lalu saya jelaskan lebih terang, kemudian dengan sigap Akhtar pun mulai menggambar menirukan apa yang sudah tergambar di papan tulis, sampai proses mewarnai.

Jpeg

Tugas berikutnya, anak-anak diberi kertas yang lebih besar lalu diberi instruksi untuk menggambar benda-benda sekitar yang dilihat. Lagi-lagi Akhtar tampak bingung, hihi. Lalu saya memberi beberapa petunjuk, “Ayo Akhtar gambar yang Akhtar lihat, atau Akhtar lihat ke jalan tuh.. disana lihat apa saja? Nanti Akhtar gambar ya…”.

Yeaah, asal dikasih clue ‘menggambar apa yang dilihat di jalan’ Akhtar langsung saja lancar menggambar yang biasa dia gambar, apa lagi kalo bukan tentang kemacetan di jalan raya. Hanya saja di luar ekspektasi, Akhtar pun menambahkan beberapa gambar lain selain mobil macet, seperti gambar masjid di pinggir jalan, gambar burung, matahari, awan, dan lampu lalu lintas.

Om Pengajar berkeliling mengecek gambar anak-anak, lalu berhenti agak lama di dekat Akhtar, “Wah keren nih gambarnya, sampai penuh gini”. Saya tersenyum dengan cara si Om memotivasi anak-anak untuk menyelesaikan gambarnya. Eh tapi, setelah berkeliling ke meja anak-anak lain, ia kembali lagi ke Akhtar dan memberi komentar yang sama.

Dalam hati saya berpikir, “Eh apa beneran terkesan sama gambar Akhtar? Padahal kan itu mah yang biasa digambar Akhtar tiap hari”.

Setelah beberapa lama, si Om meminta anak-anak menceritakan gambarnya ke depan satu per satu. Karena tidak ada yang menawarkan diri maju duluan, akhirnya si Om (lagi-lagi) manggil Akhtar. Akhtar ke depan dan berbicara pelaaan sekali, di luar kebiasaannya yang biasa teriak-teriak dimana pun.

Lalu, terakhir..

walaupun ini bukan lomba gambar, namun di tengah acara tadi si Om menjanjikan akan memberi hadiah kepada Juara 1-3. Kriteria juaranya seperti apa? Saya pun ga tau… yang pasti Akhtar dipanggil ke depan sebagai juara 1. Horeee… katanya sih karena Akhtar berani menggunakan banyak warna dalam gambarnya.

Jpeg

Alhamdulillah… sepasang sepatu pun dibawa pulang sebagai hadiahnya :)

Oh ya, dengan ikut acara ini, saya jadi mempertimbangkan les gambar untuk Akhtar. Tujuan utamanya sih, agar Akhtar bisa menggunakan media gambar untuk membantu proses belajarnya setiap hari. Lagipula, tiada hari tanpa menggambar bagi Akhtar, hanya kadang gambarnya terlalu itu-itu aja, jadi berharap gambarnya bisa berkembang dengan ikut les gambar. Soal kapan dan dimana, itu yang belum terpikirkan… berharap ada kelas menggambar di dekat sini sih.. heuheu. Balada warga kota Bandung coret.

Adapun kalau ada ekses lain dari mendalami gambar, misalnya menghasilkan karya yang bisa bermanfaat untuk orang banyak, maka itu adalah bonusnya.

 

Perdana Tampil

Leave a comment

Ceritanya saya daftar seminar Orangtuaku Guruku yang merupakan acara kolaborasi tiga komunitas, yaitu Sabumi, HEBAT, dan komunitas HS Pewaris Bangsa, pada hari Kamis, 26 Oktober 2017. Satu hari, Uni Dessy, panitia acara dari Sabumi bikin tawaran menarik di grup Pengurus Sabumi, intinya mah butuh satu orang anak lagi (usia PAUD) buat tasmi surat pendek. Ga pikir panjang, langsung ngajuin Akhtar deh. Tujuannya… buat ngelatih Akhtar aja biar pede tampil di depan umum. Jadi… sekali mendayung dua pulau terlampaui. Saya bisa ikut seminar dan Akhtar bisa ikutan eksis dikit di acara itu.

Persiapannya yang paling penting adalah sounding-sounding ke Akhtar dan membuat dia se-excited mungkin dengan acara itu…

“Akhtar nanti hari Kamis baca surat pendek yaa di depan teman-teman”

“Eh Dhuha ikutan juga lho.. nanti baca surat pendek sama-sama Dhuha ya”

“Akhtar hari Kamis bangun trus mandi pagi-pagi ya… kan Akhtar mau naik kereta api ke Bandung, mau tampil”

“Nanti ada Chia juga lho… yang pinjemin Akhtar mainan dapur-dapuran”

Ketika menyampaikan itu, ekspresi dibuat se-excited mungkin, seolah-olah ga ada momen yang paling penting di hari itu selain “tampil baca surat pendek” hehe.

Pada hari H, kami datang tepat waktu sesuai info dari Uni Dessy, jam 8 pagi sudah ada di lokasi acara, yaitu di salah satu ruangan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bandung, Jalan Seram, agar bisa latihan sebentar untuk mengondisikan anak-anak dan memperlihatkan panggung kecil tempat mereka akan tampil pada jam 9-nya.

Selain Akhtar, bersiap juga Chia, Maryam, Sarah, dan Dhuha, tak lupa membawa hasil karya masing-masing yang akan dipamerkan di depan nanti. Akhtar, tak lain, membawa satu map hasil menggambarnya.

Rencananya, bersama-sama mereka akan tasmi surat Al Fiil. Eh saya salah mengira sebelumnya, saya kira satu anak akan membaca satu surat, maka dua hari sebelum hari H saya tanya ke Akhtar, “Akhtar mau baca surat apa?” Dan Akhtar bilang mau baca surat Al Qariah. Alhasil, pada hari itu, setelah anak-anak membaca Al Fiil bersama-sama, Akhtar lanjut tasmi Al Qariah sendirian.

Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar, Akhtar berani maju ke depan walaupun suaranya ga selantang biasanya, dan sempat bilang, “Akhtar mau tampil lagi”.

IMG-20171026-WA0022

Selain itu, Sabumi juga menampilkan Ayeman, yang mempresentasikan kegiatannya sebagai homeschooler, dalam bahasa Inggris. Wow, semuanya berdecak kagum. Sesekali tertawa dengan celetukan dan tingkah Ayeman yang menggemaskan ^^

IMG-20171026-WA0023

Tentang Seminar Orangtuaku Guruku

Seminar ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Pak Abdul Gaos dari Dinas Pendidikan Kota Bandung, yang mengurusi Dikmas dan PAUD, serta Pak Sardin, seorang dosen Pendidikan Luar Sekolah UPI. Keduanya dihadirkan sehubungan dengan seminar yang memang ditujukan untuk orangtua anak-anak usia dini yang tidak ‘menyekolahkan’ anak-anaknya di PAUD formal.

Sebenarnyaaa… saya tidak fulll mengikuti seluruh materi seminar, pasalnya, walaupun Akhtar anteng main sama teman-temannya, tetap saja beberapa kali ia menginterupsi. Namun beberapa poin (yang saya rasa penting) sempat saya catat, diantaranya:

  1. Kedua pembicara adalah orang yang pro-HS, walaupun tidak menjalankan HS di keluarganya.
  2. Kehadiran pihak dari pemerintah semakin menegaskan bahwa HS adalah legal, didukung oleh undang-undang, sebagai salah satu pilihan pendidikan di luar sekolah. Namun, Pemkot Bandung masih kesulitan mendata jumlah anak usia dini yang menerima PAUD. Data yang masuk tidak riil karena hanya mendata anak-anak yang terdaftar di PAUD formal, sementara yang belajar di luar itu (misal, rumah atau komunitas – ex: Sabumi) tidak terdata.
  3. Menurut Pak Sardin, dua hal yang mendorong HS itu adalah adanya keyakinan (bahwa orangtua mampu mendidik anak-anaknya di rumah) dan ada ketidakpuasan pada sistem pendidikan di luar rumah (baca: sekolah).
  4. Anak-anak HS harus jadi bagian masyarakat yang inklusif (jangan eksklusif), orangtua jangan hanya fokus mendidik anak sendiri, namun juga harus ikut membangun lingkungan yang baik. Anak-anak kita adalah anak bangsa, anak tetangga atau anak-anak lain di lingkungan kita pun anak bangsa. Kalau anak kita yang HS sukses, namun misal, anak tetangga ada yang jadi pencuri, itu akan jadi beban untuk bangsa, membuat lingkungan tidak aman dan akan berpengaruh terhadap anak kita yang HS.
  5. Pak Sardin, diselingi dengan candaan, membuat beberapa perbandingan PAUD di Indonesia dan negara lain (negara mana tepatnya, tidak disebutkan, hanya tampaknya negara yang memiliki sistem pendidikan yang lebih baik dibanding dengan Indonesia), diantaranya:  di negara lain, PAUD terintegrasi dengan tempat kerja. Ketika anak masuk PAUD, maka ibu/ orangtua tetap produktif bekerja, misal setelah antar anak ke sekolah, ibu bekerja di tempat kerja atau kembali ke rumah untuk mengerjakan hal-hal yang produktif di rumah. Sementara di Indonesia, Pak Sardin melihat ibu-ibu di Indonesia banyak mengisi waktu menunggu anak PAUD dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, misal nunggu ya nunggu aja gitu di luar kelas.
  6. Perbandingan yang lain juga perihal gurunya. Dimana di luar negeri anak-anak PAUD cenderung lebih dibebaskan untuk beraktivitas yang mereka sukai, guru cukup menghampiri anak satu per satu, bertanya tentang apa yang sedang dikerjakan anak? Apa yang anak dapatkan dari aktivitas yang dilakukannya? Lalu memintanya bercerita kepada teman-temannya. Suara guru dibuat lebih rendah dari anak-anak, tidak memberikan terlalu banyak instruksi dan mendikte aktivitas anak.
  7. Ada anggapan di kita, bahwa sekolah itu untuk membentuk uniformity, alias penyeragaman. Padahal anak-anak kita unik dan memiliki kelebihan masing-masing, tidak usah diseragamkan. Semua yang di dunia ini sudah berubah, kecuali ruang kelas, katanya sembari becanda.
  8. Yang menarik lagi, Pak Sardin mengetes kita untuk mengecek bakat, apakah berkembang atau tidak. Lalu, kami diminta menggambarkan atau membayangkan, ketika disuruh menggambar bebek, kemana kepala bebek itu menghadap? Kalau jawabannya ‘ke kiri’ berarti Anda korban uniformity sekolah haha.. saya pun deng.. :p

Apa lagi yaa.. sisanya sih kalau dari Pak Abdul Gaos banyak memberikan info-info kebijakan Diknas Kota Bandung terkait program pendidikan masyarakat secara umum (bukan hanya PAUD), juga mengutip beberapa kata Pak Walkot, alias Kang Emil tentang pendidikan, seperti… bahwa belajar bisa dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Dari Pak Sardin banyak menyampaikan poin-poin yang sifatnya teoritis mengenai tahap-tahap perkembangan anak, tahapan berpikir, lingkungan belajar, de el el banyaak, dengan mencantumkan sumber bacaannya.

Di akhir, ada sesi tanya jawab, beberapa penanya sebenarnya bertanya hal-hal dasar tentang homeschooling, yang mana untuk pengetahuan tersebut sudah pernah saya dapatkan selama mengikuti kegiatan Sabumi atau mencari informasi dari internet.

Tentang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung

Salah satu lagi yang menarik dari aktivitas hari itu adalah venue-nya.

Saya baru pertama kali berkunjung ke perpus Pemkot Bandung itu, dan saya terkesan mulai dari memasuki halamannya. Terletak di Jalan Seram Nomor 3, tempat itu memiliki halaman yang luas dan bersih dengan banyak bangku-bangku permanen disana. Untuk menuju ke perpustakaan di lantai 1 (lobi) kita harus menaiki tangga, ada juga jalur khusus untuk pengguna kursi roda.

Memasuki lobi, kita disuguhkan banyak bundelan koran dan majalah serta kursi meja untuk membaca.

Dari lobi ke arah kiri ada perpustakaan untuk buku-buku umum, dari lobi ke arah kanan ada perpustakaan untuk buku anak-anak usia TK dan SD. Tempatnya nyaman, bisa untuk anak-anak lari-larian, lompat-lompatan, dan emaknya nunggu sambil lesehan wkwk.

Jam operasional perpustakaan yaitu pukul 08.00-15.00, jam 12.00-13.00 istirahat. Tidak ada keterangan harinya, dan saya lupa bertanya. Jika ingin jadi anggota, cukup mendaftar dengan menyerahkan fotokopi KTP, buku bisa dipinjam (hanya) untuk jangka waktu 1 minggu. Yah..  hopeless deh…

*foto-foto menyusul, mun inget :p

Alhamdulillah, hari itu jadi pengalaman yang berharga untuk saya dan Akhtar…

Older Entries