Workshop Menggambar

Leave a comment

IMG-20171027-WA0011

Sabtu, 28 Oktober 2017, bertepatan dengan 8 Shafar 1439 H, Akhtar ikut workshop menggambar yang diadakan oleh @sworks.idn. Acaranya diadakan di Cafe Photo Coffee Kota Baru Parahyangan. Cocok! Deket banget, sayang untuk dilewatkan. Akhirnya sesekali bisa ngerasain juga, berangkat nganter Akhtar berkegiatan hanya setengah jam sebelum acara.. biasanya kalau acara di Bandung, saya bahkan menyiapkan diri dan mengondisikan Akhtar sehari sebelumnya.

Sebenarnya, pemberitahuan acara ini sudah ada di grup Sabumi jauh sebelum hari-H, yang menerima pendaftaran adalah Teh Uwie, yang mana ia adalah teman dari si pemilik acara. Namun saya baru mendaftarkan Akhtar pada H-2 itu pun setelah ada reminder dari Teh Uwie. Saya menunda-nunda mendaftarkan Akhtar mengingat usianya masih 4 tahun, sementara acara itu sebenarnya ditujukan untuk anak minimal 5 tahun.

*

Setibanya di lokasi, Om Pengajar Gambar sudah mulai membuat gambar pertamanya di papan tulis kecil di depan anak-anak peserta workshop yang berjumlah kurang lebih 15 orang. Tugas pertama anak-anak adalah menggambar benda yang disiapkan si Om di depan. Ada cangkir, wadah makanan, wadah saus.

Pada awalnya, Akhtar tampak bingung dengan instruksi si Om, lalu saya jelaskan lebih terang, kemudian dengan sigap Akhtar pun mulai menggambar menirukan apa yang sudah tergambar di papan tulis, sampai proses mewarnai.

Jpeg

Tugas berikutnya, anak-anak diberi kertas yang lebih besar lalu diberi instruksi untuk menggambar benda-benda sekitar yang dilihat. Lagi-lagi Akhtar tampak bingung, hihi. Lalu saya memberi beberapa petunjuk, “Ayo Akhtar gambar yang Akhtar lihat, atau Akhtar lihat ke jalan tuh.. disana lihat apa saja? Nanti Akhtar gambar ya…”.

Yeaah, asal dikasih clue ‘menggambar apa yang dilihat di jalan’ Akhtar langsung saja lancar menggambar yang biasa dia gambar, apa lagi kalo bukan tentang kemacetan di jalan raya. Hanya saja di luar ekspektasi, Akhtar pun menambahkan beberapa gambar lain selain mobil macet, seperti gambar masjid di pinggir jalan, gambar burung, matahari, awan, dan lampu lalu lintas.

Om Pengajar berkeliling mengecek gambar anak-anak, lalu berhenti agak lama di dekat Akhtar, “Wah keren nih gambarnya, sampai penuh gini”. Saya tersenyum dengan cara si Om memotivasi anak-anak untuk menyelesaikan gambarnya. Eh tapi, setelah berkeliling ke meja anak-anak lain, ia kembali lagi ke Akhtar dan memberi komentar yang sama.

Dalam hati saya berpikir, “Eh apa beneran terkesan sama gambar Akhtar? Padahal kan itu mah yang biasa digambar Akhtar tiap hari”.

Setelah beberapa lama, si Om meminta anak-anak menceritakan gambarnya ke depan satu per satu. Karena tidak ada yang menawarkan diri maju duluan, akhirnya si Om (lagi-lagi) manggil Akhtar. Akhtar ke depan dan berbicara pelaaan sekali, di luar kebiasaannya yang biasa teriak-teriak dimana pun.

Lalu, terakhir..

walaupun ini bukan lomba gambar, namun di tengah acara tadi si Om menjanjikan akan memberi hadiah kepada Juara 1-3. Kriteria juaranya seperti apa? Saya pun ga tau… yang pasti Akhtar dipanggil ke depan sebagai juara 1. Horeee… katanya sih karena Akhtar berani menggunakan banyak warna dalam gambarnya.

Jpeg

Alhamdulillah… sepasang sepatu pun dibawa pulang sebagai hadiahnya :)

Oh ya, dengan ikut acara ini, saya jadi mempertimbangkan les gambar untuk Akhtar. Tujuan utamanya sih, agar Akhtar bisa menggunakan media gambar untuk membantu proses belajarnya setiap hari. Lagipula, tiada hari tanpa menggambar bagi Akhtar, hanya kadang gambarnya terlalu itu-itu aja, jadi berharap gambarnya bisa berkembang dengan ikut les gambar. Soal kapan dan dimana, itu yang belum terpikirkan… berharap ada kelas menggambar di dekat sini sih.. heuheu. Balada warga kota Bandung coret.

Adapun kalau ada ekses lain dari mendalami gambar, misalnya menghasilkan karya yang bisa bermanfaat untuk orang banyak, maka itu adalah bonusnya.

 

Advertisements

Perdana Tampil

Leave a comment

Ceritanya saya daftar seminar Orangtuaku Guruku yang merupakan acara kolaborasi tiga komunitas, yaitu Sabumi, HEBAT, dan komunitas HS Pewaris Bangsa, pada hari Kamis, 26 Oktober 2017. Satu hari, Uni Dessy, panitia acara dari Sabumi bikin tawaran menarik di grup Pengurus Sabumi, intinya mah butuh satu orang anak lagi (usia PAUD) buat tasmi surat pendek. Ga pikir panjang, langsung ngajuin Akhtar deh. Tujuannya… buat ngelatih Akhtar aja biar pede tampil di depan umum. Jadi… sekali mendayung dua pulau terlampaui. Saya bisa ikut seminar dan Akhtar bisa ikutan eksis dikit di acara itu.

Persiapannya yang paling penting adalah sounding-sounding ke Akhtar dan membuat dia se-excited mungkin dengan acara itu…

“Akhtar nanti hari Kamis baca surat pendek yaa di depan teman-teman”

“Eh Dhuha ikutan juga lho.. nanti baca surat pendek sama-sama Dhuha ya”

“Akhtar hari Kamis bangun trus mandi pagi-pagi ya… kan Akhtar mau naik kereta api ke Bandung, mau tampil”

“Nanti ada Chia juga lho… yang pinjemin Akhtar mainan dapur-dapuran”

Ketika menyampaikan itu, ekspresi dibuat se-excited mungkin, seolah-olah ga ada momen yang paling penting di hari itu selain “tampil baca surat pendek” hehe.

Pada hari H, kami datang tepat waktu sesuai info dari Uni Dessy, jam 8 pagi sudah ada di lokasi acara, yaitu di salah satu ruangan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bandung, Jalan Seram, agar bisa latihan sebentar untuk mengondisikan anak-anak dan memperlihatkan panggung kecil tempat mereka akan tampil pada jam 9-nya.

Selain Akhtar, bersiap juga Chia, Maryam, Sarah, dan Dhuha, tak lupa membawa hasil karya masing-masing yang akan dipamerkan di depan nanti. Akhtar, tak lain, membawa satu map hasil menggambarnya.

Rencananya, bersama-sama mereka akan tasmi surat Al Fiil. Eh saya salah mengira sebelumnya, saya kira satu anak akan membaca satu surat, maka dua hari sebelum hari H saya tanya ke Akhtar, “Akhtar mau baca surat apa?” Dan Akhtar bilang mau baca surat Al Qariah. Alhasil, pada hari itu, setelah anak-anak membaca Al Fiil bersama-sama, Akhtar lanjut tasmi Al Qariah sendirian.

Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar, Akhtar berani maju ke depan walaupun suaranya ga selantang biasanya, dan sempat bilang, “Akhtar mau tampil lagi”.

IMG-20171026-WA0022

Selain itu, Sabumi juga menampilkan Ayeman, yang mempresentasikan kegiatannya sebagai homeschooler, dalam bahasa Inggris. Wow, semuanya berdecak kagum. Sesekali tertawa dengan celetukan dan tingkah Ayeman yang menggemaskan ^^

IMG-20171026-WA0023

Tentang Seminar Orangtuaku Guruku

Seminar ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Pak Abdul Gaos dari Dinas Pendidikan Kota Bandung, yang mengurusi Dikmas dan PAUD, serta Pak Sardin, seorang dosen Pendidikan Luar Sekolah UPI. Keduanya dihadirkan sehubungan dengan seminar yang memang ditujukan untuk orangtua anak-anak usia dini yang tidak ‘menyekolahkan’ anak-anaknya di PAUD formal.

Sebenarnyaaa… saya tidak fulll mengikuti seluruh materi seminar, pasalnya, walaupun Akhtar anteng main sama teman-temannya, tetap saja beberapa kali ia menginterupsi. Namun beberapa poin (yang saya rasa penting) sempat saya catat, diantaranya:

  1. Kedua pembicara adalah orang yang pro-HS, walaupun tidak menjalankan HS di keluarganya.
  2. Kehadiran pihak dari pemerintah semakin menegaskan bahwa HS adalah legal, didukung oleh undang-undang, sebagai salah satu pilihan pendidikan di luar sekolah. Namun, Pemkot Bandung masih kesulitan mendata jumlah anak usia dini yang menerima PAUD. Data yang masuk tidak riil karena hanya mendata anak-anak yang terdaftar di PAUD formal, sementara yang belajar di luar itu (misal, rumah atau komunitas – ex: Sabumi) tidak terdata.
  3. Menurut Pak Sardin, dua hal yang mendorong HS itu adalah adanya keyakinan (bahwa orangtua mampu mendidik anak-anaknya di rumah) dan ada ketidakpuasan pada sistem pendidikan di luar rumah (baca: sekolah).
  4. Anak-anak HS harus jadi bagian masyarakat yang inklusif (jangan eksklusif), orangtua jangan hanya fokus mendidik anak sendiri, namun juga harus ikut membangun lingkungan yang baik. Anak-anak kita adalah anak bangsa, anak tetangga atau anak-anak lain di lingkungan kita pun anak bangsa. Kalau anak kita yang HS sukses, namun misal, anak tetangga ada yang jadi pencuri, itu akan jadi beban untuk bangsa, membuat lingkungan tidak aman dan akan berpengaruh terhadap anak kita yang HS.
  5. Pak Sardin, diselingi dengan candaan, membuat beberapa perbandingan PAUD di Indonesia dan negara lain (negara mana tepatnya, tidak disebutkan, hanya tampaknya negara yang memiliki sistem pendidikan yang lebih baik dibanding dengan Indonesia), diantaranya:  di negara lain, PAUD terintegrasi dengan tempat kerja. Ketika anak masuk PAUD, maka ibu/ orangtua tetap produktif bekerja, misal setelah antar anak ke sekolah, ibu bekerja di tempat kerja atau kembali ke rumah untuk mengerjakan hal-hal yang produktif di rumah. Sementara di Indonesia, Pak Sardin melihat ibu-ibu di Indonesia banyak mengisi waktu menunggu anak PAUD dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, misal nunggu ya nunggu aja gitu di luar kelas.
  6. Perbandingan yang lain juga perihal gurunya. Dimana di luar negeri anak-anak PAUD cenderung lebih dibebaskan untuk beraktivitas yang mereka sukai, guru cukup menghampiri anak satu per satu, bertanya tentang apa yang sedang dikerjakan anak? Apa yang anak dapatkan dari aktivitas yang dilakukannya? Lalu memintanya bercerita kepada teman-temannya. Suara guru dibuat lebih rendah dari anak-anak, tidak memberikan terlalu banyak instruksi dan mendikte aktivitas anak.
  7. Ada anggapan di kita, bahwa sekolah itu untuk membentuk uniformity, alias penyeragaman. Padahal anak-anak kita unik dan memiliki kelebihan masing-masing, tidak usah diseragamkan. Semua yang di dunia ini sudah berubah, kecuali ruang kelas, katanya sembari becanda.
  8. Yang menarik lagi, Pak Sardin mengetes kita untuk mengecek bakat, apakah berkembang atau tidak. Lalu, kami diminta menggambarkan atau membayangkan, ketika disuruh menggambar bebek, kemana kepala bebek itu menghadap? Kalau jawabannya ‘ke kiri’ berarti Anda korban uniformity sekolah haha.. saya pun deng.. :p

Apa lagi yaa.. sisanya sih kalau dari Pak Abdul Gaos banyak memberikan info-info kebijakan Diknas Kota Bandung terkait program pendidikan masyarakat secara umum (bukan hanya PAUD), juga mengutip beberapa kata Pak Walkot, alias Kang Emil tentang pendidikan, seperti… bahwa belajar bisa dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Dari Pak Sardin banyak menyampaikan poin-poin yang sifatnya teoritis mengenai tahap-tahap perkembangan anak, tahapan berpikir, lingkungan belajar, de el el banyaak, dengan mencantumkan sumber bacaannya.

Di akhir, ada sesi tanya jawab, beberapa penanya sebenarnya bertanya hal-hal dasar tentang homeschooling, yang mana untuk pengetahuan tersebut sudah pernah saya dapatkan selama mengikuti kegiatan Sabumi atau mencari informasi dari internet.

Tentang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung

Salah satu lagi yang menarik dari aktivitas hari itu adalah venue-nya.

Saya baru pertama kali berkunjung ke perpus Pemkot Bandung itu, dan saya terkesan mulai dari memasuki halamannya. Terletak di Jalan Seram Nomor 3, tempat itu memiliki halaman yang luas dan bersih dengan banyak bangku-bangku permanen disana. Untuk menuju ke perpustakaan di lantai 1 (lobi) kita harus menaiki tangga, ada juga jalur khusus untuk pengguna kursi roda.

Memasuki lobi, kita disuguhkan banyak bundelan koran dan majalah serta kursi meja untuk membaca.

Dari lobi ke arah kiri ada perpustakaan untuk buku-buku umum, dari lobi ke arah kanan ada perpustakaan untuk buku anak-anak usia TK dan SD. Tempatnya nyaman, bisa untuk anak-anak lari-larian, lompat-lompatan, dan emaknya nunggu sambil lesehan wkwk.

Jam operasional perpustakaan yaitu pukul 08.00-15.00, jam 12.00-13.00 istirahat. Tidak ada keterangan harinya, dan saya lupa bertanya. Jika ingin jadi anggota, cukup mendaftar dengan menyerahkan fotokopi KTP, buku bisa dipinjam (hanya) untuk jangka waktu 1 minggu. Yah..  hopeless deh…

*foto-foto menyusul, mun inget :p

Alhamdulillah, hari itu jadi pengalaman yang berharga untuk saya dan Akhtar…

Pindah, lagi…

2 Comments

“Siap-siap pindah lagi, kata Pinca”, kata suami saya singkat melalui Whatsapp tanggal 17 Maret 2015 lalu.
Kalau sekedar ‘siap-siap’ sih dari awal memutuskan kerja di bank terbesar dan tersebar di Indonesia ini, berarti suami emang mesti selalu siap dipindah-pindah, lah wong wis teken kontrak kudu siap ditempatkan di seluruh Indonesia bahkan di daerah pelosok, sepelosok-pelosoknya. Pertanyaan pentingnya adalah, pindah kemana???

“Belum tau, antara Kanwil atau Kanpus”, jawab suami saya.
Jadi, kemungkinannya adalah Malang atau Jakarta. Hmm… not bad lah, pindah ke kota besar setidaknya memberi kami lebih banyak pilihan pada berbagai akses pendidikan, kesehatan, transportasi, hiburan, de el el.

image

Tapi, ada tapinya juga.
Malang terlalu dekat dari Pasuruan, hanya berjarak tempuh 1 s.d 2 jam, sehingga tidak berpengaruh signifikan pada pengurangan ongkos mudik dan waktu tempuh ke kampung halaman.

Sementara Jakarta, walaupun hanya 2 jam dari Bandung, tapi kota itu terlalu besar dan keras, untuk keluarga kecil seperti kami dengan seorang bocah yang belum genap 2 tahun. Lagipula, di lubuk hati yang terdalam, ada sedikit enggan untuk kembali ke Jakarta, haha. Jakarta, buat saya, adalah salah satu kota di Indonesia yang masuk urutan buncit sebagai kota yang akan saya pilih untuk saya tinggali.

Bagaimanapun, surat keputusan sudah turun. Malang atau Jakarta?

JAKARTA!!!

image

Keluarga di kampung halaman menyambut dengan suka cita, menyisakan saya yang berdebar-debar membayangkan ibukota yang suasananya membuat orang cepat ‘panas’ dan berprasangka tidak baik pada orang yang tak dikenal.

Fiuhh… Ibu kota, sambut lah keluarga keluarga kecil kami dengan ramah :)

image

Dan hari pertama mengetahui berita tersebut, saya sibuk meng-google, dengan kata kunci tak jauh-jauh dari
“Kontrakan di daerah….”
“Sewa rumah di….”
“Sewa kost di….”
bahkan nekad pula saya ketikkan
“Sewa apartemen di….”

Pusiiiing pala Barbie…

Di Pasuruan ini, kami tinggal selama hampir 1,5 tahun di sebuah rumah dalam kompleks perumahan yang aman tenteram, dengan 2 kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah, kamar mandi, dapur, masih ditambah halaman belakang dan carport dengan biaya sewa 6 juta per tahun. Murah? Alhamdulillah… dapat harga teman, berhubung si pemilik rumah kenalan suami saya. Tapi kalaupun lebih mahal, saya rasa ga akan mahal-mahal amat.

Di Jakarta, mendapatkan harga sewa segitu dengan spesifikasi rumah seperti di atas, hanya mimpi. Kami melipatgandakan budget untuk rumah 3 s.d 4 kali dari harga sewa di Pasuruan, dan itu pun, kalau sekedar mencari di internet, susahnya minta ampun, banyak pertimbangannya.

Pertama, soal jarak dan akses transportasi umum/ pribadi ke kantor. Pilih yang dekat kantor, harga sewa mahal banget. Pilih yang jauh dari kantor, transportnya yang agak merepotkan.

Kedua, walaupun saya dan suami pernah tinggal di Jakarta dalam waktu yang cukup lama, namun kondisinya sekarang kami membawa batita, yang sedang dalam masa perkembangan yang sangat pesat. Maka, lingkungan tempat tinggal menjadi hal yang paling kami pertimbangkan.

Dengan kriteria yang ‘hanya’ dua itu saja, plus pertimbangan dari budget yang ga seberapa, pada akhirnya hasil berasyik masyuk dengan si google hari itu pun NIHIL.

Kalaupun ada rumah yang masuk budget, kondisinya kalau sekedar dilihat dari foto terlihat kurang nyaman ditinggali. Dengan budget tak seberapa, memang kami tidak bisa berharap banyak.

Blusukan, ala Mr Presiden, menjadi salah satu jalan terefektif menemukan kontrakan yang sreg di hati. Dan itu berarti baru akan kami lakukan awal April nanti berbarengan dengan kepindahan kami ke Jakarta.

Ya Allah… permudahlah…

Impian Kulinerku

2 Comments

Ada lah salah satu program favorit saya di channel National Geographic People yaitu Eat Street, yang juga menginspirasi saya bermimpi memiliki kedai makanan yang bisa mobile kemana-mana.

image

natgeotv.com

Acara ini meliput berbagai food truck ngetop di USA. Dengan pengambilan gambar makanan yang menarik, saya dibuat menelan ludah berkali-kali karena tampilan makanan dan ekspresi orang yang memakannya membuat makanan itu terlihat saaaaangat lezat.

image

natgeotv.com

Senang juga melihat para pengelola food truck yang sepertinya sangat mencintai pekerjaan mereka. Menyiapkan pesanan, melayani orang-orang yang antri mengular, dan puas melihat para pelanggannya kenyang dan senang.

Sampai-sampai saya bermimpi bisa melakukan hal yang sama. Ya, saya ingin punya kedai berjalan dengan menu istimewa yang dinanti-nanti oleh para pelanggan.

TENTANG FOOD TRUCK

Jadi, food truck itu katanya mulai menjamur ketika krisis keuangan, hmm.. yang 1998 atau 2007 gitu ya? Food truck muncul sebagai solusi makan yang murah, baik bagi penjual maupun pembelinya. Pada awal keramaiannya, food truck ini hanya menyajikan fast food ala Amerika, namun pada perkembangannya kini orang-orang disana bisa menikmati hidangan restoran mewah di sebelah sebuah truk makanan. Waw…

Intermezo: Tiba-tiba inget warung tenda Semanggi yang ramai tahun 1998an… hmm… pemicunya krisis keuangan juga bukan sih?

Sementara, sebenarnya food truck ini sudah muncul lama sekali sejak revolusi industri, dimana para pekerja membutuhkan makan siang yang cepat dan mudah dicapai. Yang mana ide memasak di dalam kendaraan itu datang dari zaman cowboy yang sering melakukan perjalanan berbulan-bulan menggiring ternak dari satu wilayah ke wilayah lain di USA. Salah satu gerobak yang mengiringi perjalanan mereka yaitu gerobak berisi persediaan makanan, lengkap dengan peralatan memasaknya.

Kira-kira begitu yang bisa saya simpulkan dari tayangan itu dan penjelasan tambahan dari program United Stuff of America. Maaf ya kalo salah salah, kalo lupa lupa, moga-moga ga disemprit ma yang punya acara hehe…

Merasa terinspirasi, membuat saya pun ingin memiliki sebuah Food Truck :)

Ngawang-ngawang?

Jadi, sebenarnya sudah sejak lama saya bermimpi punya usaha makanan, spesifiknya yang selalu terbayang-bayang sih toko kue/ cake. Kenapa? Karena biasanya cake itu bercitarasa manis dan saya penggila camilan manis, wehehehe… Lumayan menggebu waktu kuliah, namun tidak ada sedikitpun langkah nyata untuk mewujudkannya. Hadeuuh… Eh ada deng, saya rajin beli tabloid khusus resep makanan waktu itu bhihihihi…

Tapi ya impian itu hanya muncul selewat-selewat dalam kehidupan sehari-hari saya. Kadang inget kadang nggak. Nah, semenjak jadi cewek rumahan ini saya mulai menggali kembali impian-impian lama saya, memikirkan bagaimana mewujudkannya, daann… sayangnya hanya sebatas memikirkan, lagi-lagi belum ada langkah nyata. Heuheu… Bahkan cita-cita saya waktu masih SD muncul memenuhi salah satu ruang hati saya #eaaa, apa itu? Mendirikan dan mengajar anak-anak TK :)

Saya pikir, ga mudah dan ga murah mewujudkan impian yang dalam kasat mata membutuhkan sangat banyak uang itu, walaupun teorinya, ketika memulai bisnis, katanya modal utamanya adalah apa pun yang melekat pada diri kita, bukan uang. Tapi, uang, menurut saya, bisa menjadi pengungkit agar bisnis terbangun lebih cepat. KJSS #koreksijikasayasalah.

Nah, gara-gara Eat Street ini mimpi saya sedikit bergeser, bukan membuka toko, tapi saya ingin mengendarai toko itu kemana-mana. Sebuah toko berjalan khusus makanan pencuci mulut, yang akan saya namai Candy Crush. Eh… kok… itu bukannya nama game? Wkwkwk…

image

Suatu malam di Bandung, saya dan suami pernah kencan ke Braga Culinary Night, banyak penjual jajanan yang melayani pembeli dari dalam mobil yang sudah dimodifikasi agar bisa untuk berjualan. Namun rata-rata mereka menggunakan mobil hanya seukuran VW Combi. Menurut saya itu langkah yang bagus sebagai awal, karena mengelola kendaraan yang lebih besar pasti membutuhkan dana yang lebih besar lagi. Dan saya perkirakan, dengan sotoynya tanpa riset apapun, hahaha, beberapa tahun ke depan akan ramai food truck-food truck kecil di Kota Bandung.

Ah, yaa.. gitu deh… itu impian saya…

Menunggu untuk diwujudkan :)

Kerumunan

Leave a comment

Melihat kerumunan di Monas pada Hari Pelantikan Presiden 20 Oktober 2014 kemarin, saya tetiba terpikir untuk menulis ini. Hari itu hampir semua stasiun TV menayangkan acara pelantikan presiden, termasuk juga acara yang mengiringi setelahnya yaitu ketika Presiden diarak dengan kereta kuda dari Bundaran HI menuju Istana Merdeka, lalu pada malam harinya, keramaian berpindah ke Lapangan Monas.

Pada waktu maghrib, sesaat setelah adzan berkumandang di TV, acara di Monas pun dimulai, musik pembuka mulai dimainkan. Saya tak bisa menahan diri untuk berkomentar, “Dari sekian banyak orang yang di Monas saat ini, Put mah yakin da cuma segelintir orang yang shalat”.

Mengingat Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia maka wajar jika saya berpikir sebagian besar yang berkerumun itu adalah muslim.

Saya kemudian teringat sekitar 3 tahun lalu pernah menonton sepakbola Indonesia Vs Malaysia di GBK dalam gelaran SEA Games. Sepakbola dimulai sekitar jam 7 malam, dan orang-orang bahkan sudah berkerumun di sekitar GBK pada sore hari. Saya sengaja menunggu di masjid terdekat dari GBK, agar bisa shalat maghrib dulu lalu jalan tak berapa jauh ke GBK. Saat adzan berkumandang, dari sekian banyak orang di sekitaran GBK, bahkan banyak pula yang duduk-duduk di halaman masjid, hanya sedikit saja yang melaksanakan shalat maghrib berjamaah.

Lalu teringatlah saya akan sabda Rasulullah SAW:

“Setelah aku wafat, setelah lama aku tinggalkan, umat Islam akan lemah. Di atas kelemahan itu, orang kafir akan menindas mereka bagai orang yang menghadapi piring dan mengajak orang lain makan bersama.”

Maka para sahabat r.a. pun bertanya, “Apakah ketika itu umat Islam telah lemah dan musuh sangat kuat?”

Sabda Baginda SAW, “Bahkan masa itu mereka lebih ramai tetapi tidak berguna, tidak berarti dan tidak menakutkan musuh. Mereka adalah ibarat buih di laut.”

Sahabat bertanya lagi, “Mengapa seramai itu tetapi seperti buih di laut?”

Jawab Rasulullah SAW, “Karena ada dua penyakit, yaitu mereka ditimpa penyakit al-Wahn.”

Sahabat bertanya lagi, “Apakah itu al-Wahn?”

Rasulullah SAW bersabda, “Cinta akan dunia dan takut akan kematian.”

(http://www.islampos.com/umat-islam-akhir-zaman-seperti-buih-97100/)

Dalam kerumunan, identitas sosial seseorang akan tenggelam, namun identitas manusia sebagai makhluk Allah akan tetap melekat. Maka, penuhi hak-hak Allah di atas yang lainnya.

#notedtomyself

Kejujuran Yang Mahal di Kampung Saya

1 Comment

Awalnya mau diberi judul ‘Kejujuran yang Mahal di Negeri Ini’ tapi terdengar terlalu luas, lagipula mungkin kejadian yang mau saya ceritakan ini hanya tinggal terjadi di kampung saya, di suatu minimarket dekat rumah saya.

Ceritanya kurang lebih sama dengan yang pernah saya posting beberapa waktu silam di tulisan Penting! Memeriksa Uang Kembalian. Hanya setelah kejadian terbaru kemarin saya makin yakin ngutip uang kembalian pembeli menjadi ‘budaya’ di minimarket itu.

Ceritanya kemarin saya belanja 2 item barang. Saya tidak cek satu per satu harga yang tertera di rak pajang, hanya langsung ke kasir, lalu si kasir menyebutkan jumlahnya, “Enam puluh ribu rupiah”. Kebetulan saya membawa uang pas dan menyerahkan uang Rp 60.000.

Biasanya saya gak peduli lagi untuk menunggu struk apabila jumlah tagihan dan uang sudah pas, hanya setelah kejadian sebelum-sebelumnya saya lebih berhati-hati lagi dengan kasir-kasir di minimarket ini.

Agak lama juga si kasir mencetak struknya sebelum menyerahkannya ke saya. Saya baca ternyata total sebenarnya adalah Rp 59.600. Saya buru-buru balik ke kasir. Dengan nada suara sebiasa mungkin saya bilang, “Teh, kembaliannya gak kurang 400 ya? Kan totalnya hanya 59.600?”
Si kasir itu tampak kikuk, apalagi disitu dia sedang melayani pembeli lain, tanpa memandang wajah saya dia membuka laci kasir dan menyerahkan uang 500. Kelebihan 100? Ya sudah lah… saya tidak ingin berbicara lebih banyak lagi dengan kasir itu. “Terima kasih”, kata saya sambil melangkah keluar toko.

Mungkin ini hanya terjadi di kampung saya, saya yakin tidak banyak kasir curang seperti ini, tapi sebagai pembeli kita berhak melindungi hak-hak kita, setidaknya mengantisipasi kejadian-kejadian seperti itu dengan:
1. Cek harga yang tertera di rak pajangan.
2. Pastikan mendapat struk dari kasir, kalau tidak dikasih, ya minta.
3. Cek struk, pastikan harga di rak sama dengan harga di struk.
Tiga hal ini utamanya dilakukan karena sering kejadian harga di rak pajangan itu gak update.
4. Jangan mau diberi kembalian berupa permen. Itu dilarang dan ada undang-undangnya lho.
5. Kalau kasir menawari uang kembalian untuk didonasikan, dan kita setuju, pastikan uang donasi itu tercetak di struk.
Pun kita bisa protes kalau tiba-tiba tercetak donasi di struk sebelum meminta persetujuan kita, kejadian Mamah saya, tanpa ba bi bu tahu-tahu uang kembaliannya masuk sebagai donasi sebelum meminta persetujuan Mamah.
6. Kalau memungkinkan sih bawa uang pas ke toko, termasuk recehan 100 atau 200 rupiah, mengantisipasi hal-hal di atas.

Itu poin-poin penting menurut saya, atau ada yang lain? Silakan tinggalkan di kolom comment ya :)

Uang-uang kembalian itu mungkin tidak seberapa, tapi itu adalah hak kita. Dan yang lebih penting lagi kita tidak melakukan pembiaran pada ketidakjujuran yang terjadi di dekat kita.

Stop The Mom Wars

Leave a comment

Teman saya, seorang ibu bekerja dengan 1 orang anak, curhat di salah satu grup whatsapp tentang pertemuan-tak-sengaja-nya dengan temannya, seorang IRT, yang kemudian menghakimi si teman saya ini karena memilih bekerja lalu mengunggulkan dirinya sendiri yang stay di rumah demi anak. Komentar pun bermunculan menanggapi curhatan itu, tak terkecuali dari member grup laki-laki.

Familiar dengan topik itu? Bahkan kalau mau saya list, masih baaanyaaak lho topik-topik lain yang sering menimbulkan perdebatan di kalangan ibu-ibu muda masa kini. Perdebatan ini pun tidak jarang tidak menemukan titik temu, karena ibu yang satu merasa pilihannya lebih baik daripada pilihan ibu yang lain.

Kalau ada yang kurang paham, perdebatan ini bisa saya analogikan seperti perdebatan antara Pendukung Prabowo Vs Pendukung Jokowi di Pilpres kemarin. Eh bisa ga sih? Atau agak maksa ya? Hehe…

Ah, basi ya? Saya sebenarnya tergelitik untuk menulis ini sejak berbulan-bulan lalu, ketika mulai membuka mata untuk dunia per’mommy’an yang ‘kejam’. Halah lebay hehe. Hanya saya menahan diri untuk tidak membahasnya, karena obrolan soal ini layaknya masakan yang dihangatkan berkali-kali. Mungkin masih bisa dimakan, tapi, masih enak ga sih?

Kerumitan dunia emak-emak saya rasakan terutama sejak melihat 2 strip di testpack kehamilan kurang lebih 2 tahun silam. Saya sendiri termasuk yang cuek dan berusaha tidak merumitkan masalah yang sederhana, namun seringkali lingkungan sekitar saya yang membuat saya berpikir lebih rumit, tentang hal yang boleh dan tidak boleh, tentang hal yang seharusnya dan tidak seharusnya, dlsbg.

Lagi pun ibu-ibu muda sekarang lebih melek terhadap informasi dengan semakin mudahnya akses terhadap internet. Dan secuek-cueknya saya, saya pun tidak bisa menutup mata dengan hanya bertahan pada prinsip yang saya yakini. Saya pun merasakan, semakin banyak menelan informasi, semakin saya merasa terkejar untuk melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan ibu-ibu yang dianggap sukses di luaran sana. Bahkan ketika saya terlalu sibuk mencari tahu soal ini itu, saya sampai lupa berkaca pada diri sendiri, apakah saya mampu konsisten dan komitmen untuk melakukan kebiasaan ibu-ibu yang dianggap sukses itu?

Di sebuah seminar parenting yang pernah saya ikuti, pembicara mengatakan, “Parenting itu sederhana, saaangaaat sederhana, lakukanlah hal yang semestinya dilakukan”.

Dan para ibu, mari kita saling menghormati pilihan masing-masing, dan bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. #notedtomyself

Sumber gambar:
http://herscoop.com/posts/empowering-photo-series/

Older Entries