Menjual Buku

Leave a comment

Seumur-umur (ngaku sebagai pecinta buku), baru kali ini saya menjual buku-buku koleksi pribadi saya. Buku yang rata-rata masih sangat bagus, beberapa malah terlihat baru, walaupun sudah bertahun-tahun disimpan.

Kalau soal buku saya termasuk yang ‘apik’ banget. Saya ga suka melihat buku saya terlipat, selembar pun. Saya ga suka lihat buku saya kotor. Saya ga suka lihat buku saya sobek. Dll. Aturan yang ‘ketat’ ini lah yang kemudian membuat orang lain segan meminjam buku ke saya.

Dipikir-pikir, sikap seperti itu ada ruginya juga. Karena jadi tidak banyak orang yang merasakan manfaat dari buku-buku saya. Padahal saya pun paling hanya membaca 1 kali, terutama buku-buku fiksi/ novel dan sejenisnya, kecuali buku-buku yang sangat-sangat menarik hingga saya bisa membacanya lebih dari satu kali.

Buku koleksi saya itu kemudian semakin menumpuk, rak buku pun sudah ga muat lagi. Puluhan (atau ratusan?) buku akhirnya harus disimpan di dalam kardus. Sudah beberapa kali saya menyeleksi buku-buku itu. Mana yang layak dipertahankan, mana yang dikeluarkan dari koleksi. Tapi, biasanya tidak banyak yang saya keluarkan dengan pertimbangan,

Sayang ah, kan bisa diwariskan ke anak cucu…

Sayang ah, siapa tau pengen dibaca lagi…

Sayang ah, kan suatu saat pengen buka ruang baca untuk umum, which means butuh koleksi buku yang banyaaak dari berbagai genre

Duluuuu, memang saya jenis pembaca segala genre, dari berbagai latar pemikiran penulis. Belakangan saya berpikir, bahwa ga semua buku mesti kita baca, ga semua hal mesti kita tahu, tahu sedikit hal tapi paham lebih dalam kan lebih bermanfaat, daripada tahu banyak hal tapi hanya permukaannya.

Lagipula, seiring dengan berkembangnya pengetahuan/ pengalaman, ada buku-buku yang kontennya ternyata ga sesuai dengan nilai-nilai yang saya percayai sekarang, bahkan saya punya lho novel grafis yang di dalamnya terselip bagian yang vulgar (p*rn*). Novel yang bagus banget menurut saya dari jalan cerita, grafis, dan latar belakang tempat dan waktunya, tapi kecolongan di bagian yang ‘ngga-ngga’nya itu… karena saya hampir selalu ‘memakan bulat-bulat’ rekomendasi dari orang lain di grup pembaca buku.

Seleksi besar-besaran saya mulai lakukan beberapa bulan kemarin. Pada tahap pertama saya berhasil mengeluarkan puluhan buku yang sekiranya tidak akan pernah saya baca lagi, dan saya rasa saya pun tidak ingin mewariskannya ke anak-anak.

Belasan buku saya wariskan ke sepupu saya di SMA yang sedang ada program perpus kelas di sekolahnya. Belasan lain masih menumpuk, entah mau diapakan.

Seleksi berikutnya saya lakukan bulan lalu. Kali ini, karena buku-bukunya masih bagus dan cukup populer (dilihat dari tema/ judul dan penulisnya), maka saya putuskan untuk menjualnya, lewat shopee… silakan cek toko saya ya sis :p https://shopee.co.id/asri_putri

Dan, ga menyangka responnya sangat bagus. Banyak yang berminat… sayangnya.. saya lagi di Tangerang sementara semua stok ada di Bandung, jadi beberapa pesanan terpaksa saya tunda prosesnya. Ya.. rezeki ga kemana :)

Nah, melihat respon yang baik pada buku-buku bekas ini, saya jadi kepikiran jualan buku bekas online saja haha… yaa semoga ada jalannya. Karena dari duluuu saya emang bercita-cita pengen punya usaha yang berkaitan dengan buku tapi belum ada usaha apa pun untuk mewujudkannya. *basiloe* *tekegeura* wkwk…

[Buku] Pendidikan Anak Ala Jepang

5 Comments

image

Identitas Buku

Judul Buku : Pendidikan Anak Ala Jepang
Penulis : Saleha Juliandi dan Juniar Putri
Penerbit : Pena Nusantara
Cetakan : I, Oktober 2014
Tebal : xii + 173 halaman

***

Tuntas membaca buku “Pendidikan Anak Ala Jepang” membuat saya merasa, hmm… semakin miris dengan sistem pendidikan (formal) di Indonesia. Kapankah sistem pendidikan Indonesia akan menyamai atau, kalau boleh berangan-angan, melampaui Jepang, yang mana disana pendidikan karakter lebih dikedepankan daripada sekedar nilai-nilai mata pelajaran di atas kertas?

Rasa-rasanya sistem pendidikan kita tidak banyak berubah selama belasan tahun (atau puluhan tahun?) belakangan ini, kecuali perubahan kurikulum yang berganti hampir di setiap periode pemerintahan, itu pun kadang dibarengi pro dan kontra.

Tujuh belas tahun lalu, ketika mengikuti Ebtanas kelas 6 SD, kami sekelas mendapat contekan jawaban langsung dari wali kelas dan guru pengawas, dan saat ini pun masalah kebocoran soal UN atau contek menyontek massal sudah biasa menghiasi berita UN tiap tahun. Tapi toh tiap tahun berulang terus? Artinya tidak ada perbaikan? Itu hanya salah satu contoh persoalan saja. Persoalan lainnya? Bullying, pornografi, kekerasan guru terhadap murid, atau sesama murid, ah… makin panjang saja daftar kekhawatiran saya, membuat orangtua merasa semakin berat melepas anak-anaknya ke sekolah.

***

It takes a village to raise a child“, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Dan seperti itulah Jepang dalam membesarkan generasi mudanya. Tidak hanya orangtua dan guru yang mengambil peran mendidik dan melindungi anak-anak, orang-orang di lingkungan sekitarnya pun menempatkan diri sebagai pendidik dan pelindung anak-anak.

Misalnya, diceritakan di buku itu, ketika anak-anak SD berangkat sekolah, yang mana harus berjalan kaki dengan jalur tertentu, masyarakat yang dilalui dalam perjalanan menuju/ dari sekolah diberdayakan untuk menjaga anak-anak itu, demi memastikan keamanan dan keselamatan anak-anak hingga tiba di/ dari sekolah. Rasanya istimewa sekali ya jadi anak-anak di Jepang.

image

Diambil dari buku Pendidikan Anak Ala Jepang

Selain itu, di bawah ini saya catat beberapa hal unik, menurut saya, yang membedakan sekolah di Jepang dengan di Indonesia, pada umumnya:

Sekolah/ guru-guru disana menganggap semua anak pandai dan memiliki kelebihan masing-masing. Satu anak tidak dibanding-bandingkan dengan anak yang lainnya, maka tidak ada istilah si A lebih bodoh, atau si B lebih pantas mendapat hadiah, dsb, bahkan dalam suatu pesta olahraga antar siswa pun, semua siswa, tidak hanya yang jago di bidang olahraga, terlibat aktif dalam setiap perlombaan termasuk anak yang berkebutuhan khusus. Semua anak akan mendapat hadiah yang sama pada akhir acara, karena tujuan acara itu adalah untuk mencapai kesehatan bersama, lebih dari sekedar mencapai prestasi angka-angka.

image

Selain itu, sistem penilaian mereka di rapor tidak berupa angka dan tidak ada sistem rangking. Hanya ada 3 kategori nilai yaitu perlu ditingkatkan, bagus, dan sangat bagus. Tidak ada istilah tidak naik kelas, karena anak di’kelas’kan berdasarkan umurnya. Jika anak kurang bisa mengikuti pelajaran, maka tugas gurunya lah untuk membimbingnya secara khusus.

Anak-anak bersekolah harus di wilayah tempat tinggalnya, kalau di Indonesia setara kelurahan atau kecamatan kali ya? Karena jaraknya yang relatif dekat, maka anak-anak SD dst harus berjalan kaki ke sekolah. Sementara anak-anak TK naik jemputan. Hal itu sekaligus juga dapat mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya, mengurangi polusi, menghemat energi, dan membuat tubuh lebih bugar, kan?

Hmm, terpaksa saya harus membandingkannya lagi dengan Indonesia. Karena kadung ada persepsi sekolah unggulan, sekolah favorit, sekolah standar internasional, dan semacamnya, maka banyak orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya di sekolah dengan cap mentereng itu, dimanapun lokasinya.

Lagipula, sepertinya belum ada standar mutu tertentu untuk sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Jadi, sekolah yang bagus, sering memenangi perlombaan/ kejuaraan, fasilitasnya baik, dan lulusannya banyak diterima di sekolah unggulan di jenjang berikutnya itulah yang menjadi favorit, sayangnya predikat itu hanya disematkan pada sekolah-sekolah tertentu saja, sehingga terasa adanya kesenjangan antara satu sekolah dengan sekolah yang lainnya, padahal sama-sama dikelola oleh negara.

Tentang budaya masyarakat Jepang yang sangat senang membaca, ternyata karena sejak usia dini mereka sudah dikenalkan pada buku. Anak-anak di TK ataupun TPA dibacakan buku-buku cerita setiap hari. Dibacakan lho ya, bukan diajari membaca. Hmm, di Indonesia? Sayangnya, di usia TK anak-anak sudah ‘dipaksa’ belajar membaca, bahkan SD-SD tertentu mensyaratkan calon muridnya sudah bisa membaca sebagai syarat diterima di sekolah tersebut.

image

Poin berikutnya, guru menjadi profesi favorit dan bergengsi disana. Sebagai contoh, diungkapkan data bahwa perbandingan pelamar dengan kebutuhan guru TK disana adalah 4:1. Artinya, satu posisi profesi guru TK diperebutkan oleh 4 orang. Tidak dipaparkan sih di buku itu apa karena guru disana menerima tunjangan/ gaji yang besar atau bagaimana? Hanya katanya, hanya ada dua profesi yang pelakunya disebut sensei, yaitu profesi dokter dan guru. Guru disana pun mengajar muridnya dengan cara kreatif dan inovatif.

Selain itu mereka pun menjalin hubungan baik dengan para orangtua. Misal, pada awal tahun ajaran, guru kelas akan mengunjungi rumah muridnya satu per satu. Juga adanya buku penghubung yang menjelaskan perkembangan anak di sekolah, dan begitupun orangtua menuliskan kondisi anaknya di rumah.

Hal yang tidak umum terjadi di persekolahan Indonesia ya kan? Karena guru banyak yang lebih sibuk dengan urusan administrasi dan mengejar target menyelesaikan semua bahan pelajaran, sehingga terkesan kuantitas pelajaran lebih utama dibandingkan kualitas.

image

Di Jepang, sekolah tidak menyediakan kantin. Anak-anak membawa bekal dari rumah, atau sekolah yang menyediakan makan dengan standar kebersihan yang baik dan gizi yang seimbang.

Hal ini yang masih sangat sulit berlaku di Indonesia. Hal paling minimal yang bisa dilakukan sekolah kita adalah melarang anak-anak jajan di luar pagar sekolah dan menyediakan jajanan bermutu di dalam sekolah. Tapi jarang sekali saya menemukan sekolah yang di luar gerbangnya bersih dari pedagang jajanan.

Seharusnya pemerintah lebih concern terhadap hal ini, misalnya dengan mengeluarkan peraturan tertulis tentang larangan berjualan di sekitar gerbang sekolah, atau ada aturan dari sekolah yang melarang siswa jajan di luar gerbang sekolah. Karena bagaimanapun konsentrasi belajar siswa juga bisa dipengaruhi oleh apa yang masuk ke dalam perutnya.

***

Dan, banyak yang lainnya sebenarnya, tidak saya tulis satu per satu disini, membaca bukunya langsung akan lebih membuka wawasan.

Tapi, tidak ada yang sempurna di dunia ini, ya kan? Sebagus apapun sistem pendidikan Jepang, tetap ada celah yang mencederainya. Di buku lain yang berkisah tentang Jepang (lain waktu saya buat tulisannya juga ya), diceritakan masyarakat Jepang yang cenderung dingin dan kaku terhadap orang lain. Penulis di buku itu menceritakan bahwa ibu-ibu di Jepang cenderung dingin merespon anaknya yang jatuh. Di satu sisi, hal itu lah yang membentuk anak-anak Jepang menjadi pribadi pekerja keras dan ulet, namun, mungkin sikap dingin orangtua itu lah yang membentuk orang Jepang menjadi dingin dan kaku juga terhadap orang lain?

Selain itu, kita pun tak bisa menafikan fakta bahwa angka bunuh diri di Jepang sangat tinggi. Mungkin itu adalah ekses dari karakter mereka yang terlalu bekerja keras? Atau terlalu menuntut kesempurnaan? Atau karena kurangnya kehangatan di lingkungan sosial mereka? Sekali lagi, tidak ada yang sempurna, ya kan?

***

Kesimpulan dari saya sih, ambil yang baik, buang yang buruk.

Kita, orangtua, mungkin tidak bisa berbuat banyak menuntut sekolah (di Indonesia) berubah menjadi lebih ‘ramah anak’ atau menjadi ideal sesuai dengan yang kita impikan, tapi banyak hal yang bisa kita lakukan di rumah, yaitu dengan membekali anak dengan karakter baik yang kuat yang tidak mustahil akan mewarnai lingkungannya, termasuk lingkungan sekolahnya. Karena, tetap, sebagus apapun sekolah, orangtua lah yang paling bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anaknya.

-selesai-

Resume Buku “Right from The Start” (1)

Leave a comment

Kali ini saya coba buatkan resume buku Right from The Start, Panduan Mengajarkan Seksualitas yang Utuh, Lengkap, dan Benar kepada Anak, karya Bunda Hana.
image

***
Pengantar

Ada dua hal yang bisa menghancurkan hidup seorang anak yaitu penyalahgunaan seks dan narkoba.

Penyalahgunaan seks semakin hari semakin merajalela dan semakin intim mendekati anak walaupun orangtua mencanangkan perang terhadap seks dan terus mempropagandakan ajakan perang ini kepada anak dengan berbagai doktrin dan larangan. Namun semakin keras usaha kita memaksa anak menjauhi seks, semakin terangsang anak mendekatinya.

Hal ini terjadi karena orangtua menerapkan taktik dan strategi yang keliru. Semangat perlawanan ini tidak diikuti dengan upaya kita mengenali musuh.

Sebagai langkah awal, harus dicamkan dalam benak kita bahwa taktik paling jitu menghindari penyalahgunaan seks adalah dengan tidak menghindarinya dan mengajak anak untuk mengenal secara utuh, lengkap, dan benar.

1. Orangtua Harus Mengajarkan Seks kepada Anaknya

Pola pikir paranoid orangtua yg beranggapan pengetahuan seks yang diberikan secara prematur kepada anak akan mendorong anak untuk aktif secara seksual lebih dini, membuat banyak orangtua merasa risih memberikan pendidikan seks kepada anak.

Umumnya orangtua merasa terintimidasi dengan pertanyaan anak soal seks sebab:
– Tidak tahu jawaban pas untuk jawaban ‘seram’ anak
– Tidak rela membayangkan anak yang polos ‘dikotori’ oleh pembicaraan seks yang erotis
– Takut jika diajarkan seks, anak malah terburu-buru ingin ‘mencicipinya’

Cara orangtua memperlakukan seks merupakan titik tolak anak mempelajari seks. Untuk itu janganlah bersikap tertutup terhadap seks karena tanpa bekal yang memadai anak akan menafsirkan seks secara keliru dan terdorong untuk melakukannya secara keliru pula.

Berikan informasi tentang seks secara utuh, lengkap, dan benar, sehingga seks tidak hanya hadir secara terpotong, misalnya sisi mesum dan vulgarnya, tapi lebih dari itu seks harus dipahami secara utuh melalui beragam dimensi yang menyertainya.

Berikan pengetahuan a to z tentang seks, dengan nyaman, terbuka, jujur, dan apa adanya. Pastikan anak menerima informasi yang berlebih tentang seks.

Mengapa berlebih? Kita analogikan dengan konsep surplus dan defisit. Anak yang ‘defisit’ pengetahuan seksnya akan mencari dan meng’impor’ pengetahuan itu dari luar, yang belum tentu benar, misalnya dari teman sebaya, majalah porno, atau blue film.

Maka, supply lah pengetahuan seks kepada anak secara berlebih, ubah pola pikir dengan mengikis rasa malu dan sungkan ketika memberi pengetahuan seks kepada anak. Jangan takut dengan pengetahuan seks pada anak, karena ketidaktahuanlah yang justru dapat mendorong anak melakukan seks secara tercela.

Tidak ada istilah terlalu dini untuk mengajarkan pengetahuan seks kepada anak selama pengetahuan itu disampaikan dengan informatif dan normatif.

Langkah mudah mengawali pendidikan seks adalah dengan memperkenalkan kosakata payudara, penis, atau vagina, dan tidak menggantinya dengan istilah lain sebagai substitusi karena dapat memutarbalikkan logika polos anak kita.

Misal, ketika kita menyebut penis dengan ‘burung’ si anak mungkin akan bertanya, “Ma kenapa kok burungnya tidak bisa terbang?”

Ketika mengajarkan tentang seks, singkirkan pikiran-pikiran erotis dewasa dari otak dan transfer pengetahuan itu kepada anak sebagai sesuatu yang wajar, normatif, dan apa adanya.

2. Mengapa Seks Harus Diajarkan?

Pada prinsipnya, mengajarkan seks kepada anak sama halnya seperti memberikan imunisasi. Anak yg mendapatkan ‘imunisasi’ pengetahuan seks dengan lengkap diharapkan memiliki kekebalan dan kontrol diri yang tinggi terhadap serangan penyalahgunaan seks. Hanya anak dengan kontrol diri yang kuat saja yang dapat menentukan sikap tanpa terpengaruh lingkungan sekelilingnya.

Jangan sekali-sekali mengabaikan virus ‘seks yang tidak bertanggungjawab’ ini, karena berdasarkan penelitian, dampak kecanduan pornografi lebih kompleks dibanding jenis adiksi lain, karena kecanduan ini tidak hanya mempengaruhi fungsi luhur otak, juga mempengaruhi keseluruhan tubuh anak, baik fisik maupun emosinya.

Kecanduan pornografi secara keseluruhan akan menurunkan potensi sumber daya anak selaku manusia yang berkualitas.

Bentuk lain penyalahgunaan seks yang mungkin timbul adalah terjadinya promiskuitas dan prostitusi.

Promiskuitas adalah salah satu bentuk kelainan seksual, dimana pengidapnya akan mudah melakukan hubungan seks dengan pasangan yg berganti-ganti. Jika promiskuitas dilakukan demi uang, maka pelakunya disebut pelacur, dan perilakunya digolongkan pada prostitusi.

Selain sangat merendahkan harga diri, perilaku seks seperti ini juga mengundang berbagai resiko kesehatan seperti HIV/ AIDS dan penyakit menular seksual lainnya.
Alasan lain mengajarkan pengetahuan seks adalah agar tidak terjadi KTD (kehamilan tidak diinginkan). KTD merupakan pemicu terbesar perilaku aborsi kriminalis.

3. Bagaimana Mengajarkan Seks kepada Anak?

Tidak ada cara instan, kecuali mengajarkannya setahap demi setahap sejak dini.

Ajarkan dari hal yang paling sederhana dan jadikan kebiasaan sehari-hari.

Kosakata klinis seperti penis, testis, vagina, payudara, dll hendaknya masuk ke perbendaharaan kata sehari-hari. Ini cara jitu menyingkirkan tabu terhadap seks.

Latih semua anggota keluarga untuk tidak bersikap risih dan jengah ketika membicarakan seksualitas.

Beberapa orangtua menanyakan, mengapa anak mereka yang praremaja sudah menunjukkan sikap risih ketika membicarakan seks. Mereka khawatir sikap tersebut muncul karena anak-anak mereka sudah terkontaminasi erotisme seks. Jawabannya, kekhawatiran itu berlebihan karena sikap risih pada anak itu mungkin karena anak meng-copy sikap orangtua dan orang-orang di sekitarnya terhadap seks.

Maka yang harus pertama kali dikikis adalah perasaan risih yang menetap di pikiran kita, selaku orangtua.

Menghapus sikap risih bukan berarti serta merta mengizinkan anak mengucapkan tanpa aturan kata-kata yang berkaitan dengan kelamin dan seks di luar konteks. Ada adab yg harus dipatuhi.

Ini berarti mengajarkan anak untuk tidak menghamburkan seksualitas jika sekedar untuk menarik perhatian. Misalnya, para balita cenderung mengucapkan kata-kata seperti pantat, vagina, dll di luar konteks dengan suara keras hanya karena dia tahu itulah cara paling cepat untuk mengundang reaksi heboh orangtua dan orang-orang di sekelilingnya.

Beritahukan anak secara bijak bahwa seks bila diucapkan pada konteks yang tepat adalah sesuatu yang wajar, tidak apa-apa. Namun tidak sopan jika diucapkan dengan konteks yg tidak jelas. Tuntun anak untuk tidak membicarakan seks di sembarang tempat. Semua ada tempat dan saat yang tepat sehingga akan dihargai oleh orang yang mendengar.

Hal lain yang harus dibekalkan kepada anak adalah bahwa setiap keluarga memiliki standar moral yang berbeda dalam beberapa hal. Misalnya, untuk seks, agama, adab makan minum, dll.

Ajarkan anak untuk untuk menjaga standar moral seks keluarganya tanpa mesti mengonfrontasikannya dengan orang lain. Jelaskan bahwa anak boleh menghormati prinsip keluarga lain tapi tidak ikut-ikutan jika prinsip itu bertolak belakang dengan yg dianut keluarganya.

Agar terbiasa membicarakan seks secara terbuka, biasakan melatih diri untuk bisa melakukan supportive communication, yaitu cara komunikasi yang netral dan tidak menghakimi.

Kebalikan dari komunikasi suportif ini adalah komunikasi defensif. Ciri khas perilaku ini adalah:
– Cenderung mendominasi setiap momen komunikasi, sehingga komunikasi hanya terjadi satu arah dan berdasar pada penilaian subjektif si pengirim pesan.
– Komunikasi defensif meniadakan keterbukaan karena si pengirim pesan sibuk pada pikirannya sendiri, dan sibuk melekatkan cap dan stigma yang diinginkannya pada si penerima pesan.
– Sikapnya superior dan selalu ingin mengontrol lawan bicara.
– Pendek kata, perilaku ini memaksa si penerima pesan masuk ke dalam konsep dan kerangka berpikir si pengirim pesan dengan egois.

Kebalikannya adalah komunikasi suportif. Kunci sukses menerapkan ini adalah mau bersikap equal, sejajar antara orangtua dan anak. Bersikap equal juga berarti tidak bersikap superior dengan mencitrakan diri sebagai si serba tahu.

Contoh komunikasi defensif:
Misal, anak melihat kucing kawin, lalu mengajukan pertanyaan bertubi-tubi, “Lho itu kucingnya ngapain? Kok begitu? Kenapa itu kucingnya?”
Orangtua yang defensif akan menjawab, “Udah ah anak kecil nanya yang begituan. Nanti Mama jewer kalau nanya-nanya lagi”

Contoh komunikasi yang suportif:
Anak bertanya, “Bu, diperkosa itu artinya apa sih?”
Ibu menjawab, “Yuk sama-sama cari artinya di kamus”

Hal positif jika orangtua berkomunikasi secara suportif:
– Adanya keterbukaan emosional anak kepada orangtua
– Tumbuhnya kepercayaan diri anak terhadap orangtua
– Terciptanya dialog yang jujur dan harmonis dalam keluarga
– Terbentuknya kedekatan yang solid sesama anggota keluarga.

Setelah memahami komunikasi yang suportif maka mari kita mengimplementasikan ketika mengajarkan seks pada anak.

Bersikap Jujur dan Terbuka

Menyampaikan informasi dengan benar dan apa adanya. Tidak menjawab asal-asalan, tidak akurat, dan melenceng dari subjek pertanyaan.

Step By Step

Mengajari anak selangkah demi selangkah sejalan dengan pertanyaan yang mereka ajukan. Sesuaikan cara penyampaiannya dengan tingkat pemahaman anak.

Santai

Belajar bersikap santai, wajar, dan biasa-biasa saja. Jaga intonasi suara saat menjawab pertanyaan anak, tidak perlu heboh dan berlebih-lebihan. Hati-hati dengan pesan non verbal yang hadir dalam setiap momen komunikasi.

Hindari Kemarahan yang Negatif

Marah yang negatif berarti menolak pertanyaan anak dengan hardikan dan umpatan kata-kata kasar. Hindari menanamkan persepsi negatif tentang seks karena akan memicu pemahaman seks yang keliru.

Bersambung…

Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga! (lagi)

Leave a comment

Dua kali membaca buku Ayah Edy berjudul Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga!, dua kali pula saya ‘terguncang’, dan untuk kedua kalinya saya mengulasnya di blog ini setelah tulisan pertama saya hampir satu tahun yang lalu.

Apa yang direnungkan Ayah Edy dalam bukunya merupakan hal-hal yang saya renungkan juga selama bertahun-tahun. Keresahan-keresahan yang dituliskan Ayah Edy juga merupakan keresahan yang saya rasakan bahkan ketika usia saya masih 12 tahun saat itu. Keresahan seorang siswa kelas 6 SD yang merasa sangat dikecewakan oleh sistem EBTANAS yang ‘memaksa’ guru-guru melakukan kecurangan dengan terang-terangan demi sebuah nilai bagus di ijazah murid-muridnya.

Keresahan itu semakin menjadi ketika kini saya memiliki anak, yang pada saatnya nanti akan mencapai usia sekolah dan (mungkin) mengenyam pendidikan formal. Akan seperti apakah sistem pendidikan di Indonesia pada saat itu? Bagaimana anak saya akan dididik di sekolah? Apakah akan sama dengan yang saya alami bertahun-tahun yang lalu, dimana saya dididik secara ‘konvensional’?

Sambil menyusun tulisan ini, saya membaca-baca kembali diary SMA saya dan menemukan tulisan 10 tahun yang lalu, tepatnya 19 Juni 2004. Saat menulis itu, saya dalam keadaan marah dengan cara pandang lingkungan saya ketika itu. Beberapa kata bahkan saya CAPSLOCK dan diakhiri tanda seru.

Saya kutip beberapa kalimat, tanpa dikurangi atau ditambahi, termasuk titik komanya:

“AKU BENCI BGT ama orang2 yg ngeremehin pilihanku waktu SPMB kemaren……….”

“………. nama fakultas yg langka n jarang banget kedengeran. Trus, apakah karena alasan itu kita bisa menyimpulkan seenaknya kalo fak. itu tuh ga bagus prospeknya? Ga gitu kan harusnya! Tapi, kebanyakan orang b’anggapan gitu ……….”

“………. Apa hanya karena PRESTISE!! ……….”

“PRESTISE… jadi ingat kata Bang Hamid, soal prestise. Kebanyakan orang lebih ngutamain prestise daripada prestasi. Menurutku itu pikiran orang-orang yg berakal pendek, berpandangan sempit. Akhir-akhir ini aku emang lagi kesel aja ama orang-orang kaya gitu, apalagi sampe ngeremehin pilihanku……….”

“………. selama ini orang2 selalu menganggap bahwa orang-orang yg bisa masuk FKU itu orang2 hebat, orang-orang yg bisa masuk fak. teknik itu orang2 keren. Aku ga nyangkal hal itu, aku yakin orang-orang yg bisa nembus FKU ato teknik itu bukan orang biasa-biasa aja, yg ga punya keahlian apapun! Tapi, tolong lah ga usah ngeremehin yang lain. Cita-cita setiap orang itu pasti ga sama. Dan pandangan setiap orang terhadap suatu hal juga pasti ga sama. Kalo aku jadi salah seorang yg punya pikiran b’beda dari kebanyakan orang, apa itu salah n ga wajar? ……….”

Pada akhirnya saya diterima di jurusan pilihan kedua, pilihan orangtua saya. Bukan minat saya, tapi lebih direstui orangtua.

Saya tidak pernah menyesal karena ‘hanya’ diterima di jurusan yang bukan pilihan saya. Saya tetap bersyukur karena yakin itulah jalan yang terbaik dari Allah. Saya hanya ingin, pada saatnya nanti, anak(-anak) saya tidak mengalami hal yang pernah saya alami. Setidaknya komunikasi antara orangtua dan anak harus dibangun dalam pengambilan keputusan apapun apalagi berkaitan dengan masa depan anak dalam jangka panjang.

Dan saya kembali diingatkan pada paradigma kebanyakan orang, at least di lingkungan saya, pada waktu itu bahkan hingga saat ini, bahwa SUKSES itu adalah pintar di sekolah lalu bekerja dan menghasilkan banyak uang. Paradigma lama yang harus didobrak karena mempengaruhi cara orangtua dan guru mendidik anak-anak/ murid-muridnya.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa saat ini sebagian besar sekolah hanya mengajarkan pelajaran demi pelajaran, memberikan latihan soal demi latihan soal kepada siswanya, sementara pendidikan moral malah dikesampingkan. Di luar itu, para siswa pun masih mencari tambahan pelajaran di luar jam sekolah untuk bidang studi yang dirasa kurang dikuasai. Saya pernah dalam kondisi itu, rasanya tertekan sekali, apalagi sebagian yang saya pelajari bukan bidang yang saya sukai.

Lagi-lagi saya berkata, saya ingin pada saatnya nanti anak(-anak) saya tidak mengalami hal yang pernah saya alami. Belajar itu harus fun, bukan? Untuk bisa fun, maka yang mestinya didalami hanya bidang-bidang yang diminati saja, ya kan?

Maka tak heran saat ini banyak orangtua memilih meng-homeschooling-kan anak-anaknya. Memang dalam sejarahnya homeschooling (ada pun yang lebih suka menggunakan istilah home education) ini muncul karena ketidakpercayaan orangtua pada sistem pendidikan yang diselenggarakan negara. Buku Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga! pun ditulis oleh seorang praktisi homeschooling. Saya sendiri dalam posisi netral dalam menilai homeschooling ini. Bahwa sistem, cara, metode, atau apapun akan berjalan efektif jika dijalankan dengan tepat oleh orang-orang yang tepat dengan cara yang tepat pula.

Akhirnya …

Pada Presiden Terpilih pada Pilpres 2014 ini saya berharap, semoga bisa menunaikan janji-janjinya, salah satunya Revolusi Mental yang senantiasa didengung-dengungkan selama kampanye. Semoga bidang pendidikan menjadi salah satu prioritas utama untuk dibenahi, agar anak-anak kita di masa depan dapat hidup di Indonesia yang lebih baik, lebih bermoral dan beradab.

Aamiin …

Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga

Leave a comment

Saya mengambil judul postingan di atas dari judul buku yang baru selesai saya baca tadi malam. Buku itu adalah buku parenting ke…sekian yang sudah saya baca. Rasanya sudah setengah penuh kepala saya dijejali berbagai ‘teori’ tentang mendidik anak. Pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa kita tidak selalu bisa menerapkan cara mendidik yang sama ke setiap anak, karena satu satu dari mereka memiliki keunikan. Buku-buku parenting itu bagi saya menjadi pengingat bahwa anak adalah titipan dari Tuhan yang patut disyukuri, dijaga dan dididik baik-baik kembali ke fitrahnya sebagai makhluk Tuhan. Mengingat kembali Surat Adz Dzariyat ayat 56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, maka seharusnya hasil pendidikan itu bermuara pada tercapainya tujuan penciptaan manusia tersebut.

Buku karya Ayah Edy ini banyak mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia yang lebih sering mengutamakan nilai rapor daripada pembinaan moral, karakter, dan akhlak anak. Saya sadar bahwa saya berasal dari generasi yang dididik dengan cara seperti itu, mungkin sebagian besar pembaca buku itu juga, dimana pertanyaan, “Dapat rangking berapa di kelas?” atau “Ujian dapat nilai berapa?” menjadi tolok ukur kecerdasan dan keberhasilan orangtuanya mendidik anak. Anak-anak generasi saya dibentuk jadi robot penghapal dan dijejali banyak mata pelajaran tanpa paham implementasinya untuk apa. Sementara nilai-nilai kejujuran dikesampingkan karena orangtua dan guru hanya peduli pada berapa nilai yang tertera di kertas ujian daripada bagaimana usaha kami untuk mendapatkannya. Belajar pun menjadi kegiatan yang tidak fun karena selalu dipisahkan dari bermain. Padahal masa anak-anak adalah masanya bermain, meng-explore lingkungan sekitar dan menggali minat, bakat, dan potensi yang mana selalu unik ditemukan di setiap anak. Dengan cara bermain lah anak-anak belajar.

Buku ini adalah bagian dari gerakan Let’s Make Indonesian Strong from Home! gagasan Ayah Edy. Terlalu muluk jika kita bermimpi mengubah Indonesia menjadi negara yang kuat jika kita tidak terlebih dahulu mengubah unit terkecil dari negara, yaitu keluarga.

Semoga anak-anak kita kelak hidup di bumi Indonesia yang lebih damai, tenteram, jujur, adil, sejahtera, bahagia, sentausa…selama-lamanya, semuanya mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai saat ini…mulai dari keluarga kita masing-masing.

Bismillahirrahmaanirrahiim…selamat mengawali pekan ini dengan semangat menebar sebanyak-banyak manfaat :)

Jakarta! – a novel by Christophe Dorigne-Thomson

Leave a comment

Jakarta!

Jakarta!

Judul : Jakarta!
Penulis : Christophe Dorigne-Thomson
Penerjemah : Caecilia Krismariana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama Oktober 2012

Beberapa jam pada siang hari itu saya berkeliling di Toko Buku Gramedia Jember, mencari buku (apa pun) yang paling ingin saya bawa pulang. Toko buku di salah satu jalan ramai di Kota Jember itu tidak bisa dibilang besar, walaupun terdiri dari tiga lantai, hanya satu lantai yang memajang buku-buku. Saya agak kehabisan pilihan karena sebagian besar novel bergenre itu-itu saja. Dua buku saya baca, bahkan sampai hampir sepertiganya, tapi tidak cukup menggairahkan saya untuk membelinya dan membaca lanjutannya di rumah.

Sampai saat saya memutuskan untuk pulang saja, saya terhenti di salah satu rak buku-buku terbitan baru dan terpaku pada buku berjudul “Jakarta!”. Buku ini menarik pada kesan pertama. Mengapa?

Pertama, karena penulisnya bukan orang Indonesia. Saya selalu tertarik pada pandangan-pandangan orang luar Indonesia yang bercerita tentang Indonesia, entah buruk atau (apalagi) baiknya.

Kedua, saya membuktikan “teori” saya sendiri seperti yang saya tuliskan di post tentang membaca buku, bahwa endorsement dari orang terkenal pada sampul buku bisa mempengaruhi penilaian kita pada suatu buku bahkan sebelum kita membacanya. Di bagian belakang buku ini tertulis beberapa endorsement dari beberapa tokoh terkenal. Sebut saja, Sandiaga S Uno, Anies Baswedan, Irman Gusman, dan Rio Dewanto … tuh kan salah satu aktor favorit saya aja ikutan nongkrong :D. Sementara mengenai isinya, saya hanya membaca paragraf pertama sebelum memutuskan membeli. Sebenarnya saya tidak pernah bisa sepenuhnya menikmati novel-novel terjemahan, tapi saya ‘terpaksa’ membuat pengecualian untuk novel ini karena penasaran dengan isinya.

Jangan berekspektasi bahwa Anda akan menemukan banyak cerita soal Jakarta disini. Dari 17 Bab, hanya dua bab terakhir yang menceritakan dengan sedikit detail tentang Jakarta khususnya, dan Indonesia pada umumnya, setelah pada bab-bab sebelumnya pembaca diajak berkeliling ke berbagai negara di semua benua berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh tokoh utama dalam novel ini, Edwin Marshall.

Kalau begitu, mengapa Jakarta! yang dipilih sebagai judul novelnya? Di halaman paling belakang, penulis menulis seperti ini:

“Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, saya percaya kepada negeri ini. Saya selalu akan percaya Indonesia memiliki masa depan yang cerah”

Dan itu pula yang dideskripsikan pada dua bab terakhir novel ini. Bagaimana akhirnya si tokoh utama menjadikan Indonesia sebagai negara yang paling ingin ditinggalinya setelah dia berpengalaman berkunjung ke berbagai negara. Dia jatuh cinta pada Indonesia, pada pandangan pertama, pada keramahan dan keunikan penduduknya, serta berbagai potensi yang dimilikinya. Menurutnya penduduk Indonesia kreatif, mampu berpikir out of the box, semua orang di Indonesia melakukan sesuatu yang spesial untuk hidupnya. Semua tentang Indonesia diceritakan dengan optimis, bahkan dia melihat orang dari lapisan paling miskin di Indonesia yang bekerja di jalanan, sebagai populasi yang berkarya dengan solidaritas kokoh. Maka dari itu, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara adikuasa melihat ukuran negaranya, jumlah dan karakter penduduknya.

Di novel ini, penulis seolah-olah sedang menceritakan dirinya sendiri melalui representasi tokoh utamanya, termasuk latar belakang pendidikannya, dimana tokoh utama novel merupakan lulusan sekolah bisnis terbaik di Prancis, sama halnya dengan penulis, kecuali pekerjaannya, saya yakin Chritophe tidak bekerja seperti Edwin Marshall. Saat ini penulis aktif di berbagai organisasi internasional.

Jadi, apa yang membuatmu tidak optimis pada masa depan Indonesia, sementara seorang warga asing mengangkat nama Jakarta! yang tak pernah bebas macet dan banjir ini dalam novelnya?

***

Sedikit mengomentari sampul bukunya, disana digambarkan sebuah bola dunia yang menunjukkan kepulauan Indonesia diletakkan di atas sebuah kulit durian. Durian adalah buah khas Asia Tenggara, dijuluki sebagai raja buah dan harganya tidak bisa dikatakan murah. Durian tercium dan terasa sangat lezat bagi orang-orang yang menyukainya, termasuk saya, sebaliknya bagi yang tidak menyukainya, baunya saja sudah membuat pusing. Baunya kuat menyengat dan bisa memengaruhi udara di sekelilingnya. Jadi, apa maksudnya Indonesia seperti buah durian?

 

 

Demam Korea di Toko Buku

3 Comments

– Ditulis pada: Minggu, 1 Juli 2012 –

Pagi ini, setelah terakhir kali membeli buku beberapa bulan lalu di book fair, saya kembali berkunjung ke salah satu toko buku diskon di Kota Bandung. Tujuan saya tidak pasti mau mencari buku apa, hanya menyusuri satu per satu rak lalu mengambil buku yang masuk wishlist saya yang secara kebetulan saya temukan di rak. Maka dapatlah empat buku yang total harganya tidak lebih dari Rp 120 ribu. Alhamdulillah :)

Di rak paling dekat dengan pintu masuk toko, saya menemukan sebuah novel yang entah terjemahan dari bahasa Korea atau hanya penulisnya yang menggunakan nama pena kekorea-koreaan bertengger bersama buku-buku terbitan baru lainnya. Reaksi saya saat itu, hanya meliriknya sesaat lalu berlalu.

Saya melewati rak-rak buku manajemen, ekonomi, hukum, agama, hobi, dan langsung menuju rak-rak novel di bagian belakang toko. Saya membaca setiap judul buku di setiap tahapan rak di bagian novel. Kali ini sedikit mengerutkan kening, ketika novel yang dari judulnya sepertinya ber-setting di Seoul berada di jajaran novel-novel di suatu rak. “Ada lagi”, pikir saya. Saya tak ambil pusing dan kembali menyusuri rak demi rak.

Semakin ke belakang, reaksi saya kali ini tidak hanya meliriknya sesaat atau mengerutkan kening, saya agak membelalakkan mata lalu geleng-geleng kepala ketika lagi-lagi di rak novel remaja saya menemukan dua novel, yang entah novel terjemahan Korea atau penulisnya yang bernama pena kekorea-koreaan. Di bagian cover, tercetaklah huruf-huruf Korea yang entah bermakna apa. Dari saat itu, saya mulai fokus mencari novel-novel kekorea-koreaan. Bukan untuk membeli, hanya ingin tahu, seberapa banyak.

Satu, dua, tiga, empat, lima, bahkan lebih dari lima, saya menemukan beberapa buku lain yang bertemakan Korea. Bahkan saya menemukan dua novel dengan menampilkan wajah pria khas (artis) Korea di covernya, salah satunya malah diberi judul … hmm, saya lupa, pokoknya mengandung kata Kim Bum. Rasa-rasanya itu nama artis Korea? Gambar yang tercetak di cover itu mungkin juga foto Kim Bum ya?

Ah sudahlah, tidak kah ini berlebihan? Kenapa banyak orang di negaraku ini menjadi demam Korea. Tidak cukup dengan booming-nya boybands dan girlbands a la Korea, sekarang demam pun menjangkiti toko buku. Ini yang namanya penjajahan bentuk baru (beuh … beuratt!!).

Seingat saya, Korea mengawali penyerangannya melalui infiltrasi drama-dramanya di stasiun TV swasta Indonesia. Saya awalnya termasuk salah satu penggemarnya, tapi tidak segandrung teman-teman lain yang sampai mengoleksi bajakannya atau mengunduh serialnya. Kegemaran saya nonton drama Korea itu hanya sebatas yang ditayangkan di TV, itu pun tidak selalu menonton setiap episodenya, sehingga lama-lama minat saya terhadap drama-drama Korea itu pun berangsur-angsur hilang.

Saya akui, dari segi bobot cerita dan dialog antar tokohnya memang drama Korea lebih layak untuk ditonton daripada sinetron Indonesia. Pada satu hari sekitar dua minggu yang lalu, saya terbangun lebih pagi dari biasanya, sebelum jam 4 pagi, waktu itu TV saya masih hidup dan secara kebetulan sedang menayangkan drama Korea. Saya mengucek-ngucek mata, sambil membatin, “Sepagi ini?”, karena tidak bisa tidur lagi, akhirnya nonton lah film itu sekitar 5-10 menit, yang ternyata sudah mendekati akhir cerita. Diantara dialog yang saya tangkap, berhamburan kalimat-kalimat yang menurut saya bijak tentang mimpi dan cinta, seketika saya teringat sinetron Indonesia yang menurut saya tidak mengandung pesan baik apapun di setiap adegannya, oh ya … ada mungkin, yaitu “Jika menginginkan sesuatu maka berusaha lah dengan cara apapun, bahkan cara jahat sekalipun”. Iya kan? Bener kan?

Maka mulai saat ini, mari beramai-ramai nonton drama Korea, baca novel bertemakan Korea, bergaya a la artis Korea, mendengarkan lagu-lagu Korea. Loh??!! Sekalian aja kan? Bangsa kita kan lagi krisis identitas, dari ketiadaan figur yang patut ditiru.

Hush … hush … jangan menggerutu >.<
Yuk ah back to work, bekerja menjadi sebaik-baiknya diri sendiri.

Older Entries