Gaya Hidup Hedonis…(kok yak yang dipikirin materiiiii mulu…)

Leave a comment

Udah lama ga ngeblog… Dan kembali buka-buka draft lama kemudian menemukan tulisan di bawah ini.

Ini pasti ditulis ketika saya masih kerja di salah satu KAP di Jakarta. Saat itu saya ditempatkan di tim yang kebanyakan beragama berbeda dengan saya, memiliki cara pandang dan gaya hidup juga yang sangat berbeda dengan saya terutama dalam hal memandang ‘uang’, dimana saya melihat diantara mereka sering melakukan ‘muslihat’ untuk mendapatkan pendapatan tambahan di rekening gajinya. Misal dengan me-mark up ongkos taksi untuk direimburse, atau me-mark up jam kerja.

Saya memang akhirnya terlibat disitu juga. Bukan saya yang ingin, tapi atasan pun menyuruh demikian. Pada akhirnya kecurangan-kecurangan ‘kecil’ itu saya anggap wajar. Dan nyatanya wajar terjadi di tim-tim kerja yang lain juga.

Padahal, rezeki itu bukan soal banyaknya harta. Itu adalah soal ketaatan kita juga kepada Allah. Jika kita jujur, insyaa Allah hasilnya pun lebih berkah, sehingga jumlah yang sedikit pun menjadi mencukupi.

Dan memang, masa itu adalah masa saya tanpa bimbingan dan tidak berpikir jauh ke depan. Sehingga berjuta-juta uang yang dihasilkan dari bekerja selama itu seringkali terasa tidak cukup sampai akhir bulan. Parahnya, ketika akhirnya memutuskan resign dari sana, saya tidak punya simpanan melainkan hanya sedikit.

Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni keteledoran dan ketidakmampuan saya mengelola uang.

Padahal, seseorang tidak akan bergeser dari tempat berdirinya di hari kiamat nanti sebelum ditanya diantaranya dua hal. Hartanya… Dari mana ia peroleh, dan untuk apa ia habiskan.

Sayangnya saya belum tahu hal itu dari awal.

***

Hmmm…tiba-tiba kepikiran nulis kayak gini, melihat dan merasakan kenyataan di sekitar gw yang banyak diantara orang-orangnya (sepertinya) merupakan penganut hedonisme.

Indikasinya bisa dilihat dari sifat serakah terhadap materi yang dalam banyak hal membuat gw ga nyaman hidup di lingkungan kayak gini.

Mungkin mereka perlu belajar ilmu qanaah, rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan.

Advertisements

Meninggalkan Jakarta (1)

Leave a comment

Jakarta, dalam bayangan anak ‘kampung’ seperti saya adalah kota yang…hmm…kota bangeeettt. Identik dengan kemakmuran warganya, gedung-gedung bertingkat, para karyawan berdasi dan bergaji tinggi, mal-mal gemerlap, anak muda gaoool berbahasa setengah asing, dan hal-hal ‘ngota’ lain yang sebelumnya hanya bisa saya saksikan di layar kaca.

Jakarta terdengar jauh dan eksklusif. Ketika SMA, saya mengenal Jakarta hanya dari apa yang melekat pada teman-teman saya yang berasal dari sana. Sebagian besar dari mereka menggunakan sapaan lo-gw, ketimbang aku/saya-kamu, memiliki karakter percaya diri, dan sepertinya mengetahui lebih banyak hal daripada kami yang dari DAERAH. Ya, keeksklusifan itu makin terasa ketika ada penyebutan ANAK JAKARTA dan ANAK DAERAH, entah siapa yang memulai.

Selulus SMA dan kuliah di Bandung, Jakarta terdengar semakin dekat. Semakin banyak teman yang berasal dari sana, karakter mereka lebih beragam. Selain itu cerita tentang kerja di Jakarta menjadi perbincangan sehari-hari mahasiswa tingkat akhir di kampus saya. Sampai keinginan itu muncul, tidak muluk, saya ingin bekerja di Jakarta.

Bisa dihitung jari, berapa kali saya ke Jakarta sebelum lulus kuliah tahun 2008. Seingat saya, setelah karyawisata ke Jakarta kelas 3 SMA (2004), mungkin hanya 4 kali saya ke Jakarta lagi. Terakhir kali, pada tahun ke-empat kuliah saya membantu seorang dosen jadi ‘tukang ketik’ di workshop yang diikutinya. Disana saya tinggal di hotel berbintang di kawasan Harmoni. Dan benar saja, rasanya seperti orang kampung masuk kota. Di taksi dalam perjalanan pulang dari hotel menuju pool travel di Jalan Sudirman, saya dengan mulut menganga tidak berhenti ber-WOW melihat gemerlapnya Jakarta. Kebetulan, tempat-tempat yang saya lalui adalah landmarknya Kota Jakarta. Dari Harmoni melewati Istana Kepresidenan dan Monas, melewati Bundaran HI, berbagai gedung pemerintahan, dan bangunan tinggi lain yang sebagian adalah gedung-gedung kantor pusat dari berbagai perusahaan ternama.

Maka keinginan itu semakin menguat. Saya hanya ingin bekerja di Jakarta. Keinginan itu mulus saja tercapai, sehari setelah wisuda saya langsung berangkat ke Jakarta, menjalani hari pertama disana sebagai karyawan baru di sebuah kantor akuntan publik di Jalan Sudirman, salah satu ruas jalan yang mewakili apa yang saya bayangkan tentang Jakarta selama itu.

Namun, bulan pertama di Jakarta, saya sudah ingin pulang…

Tempat Baru, Harapan Baru

2 Comments

Per 1 Desember 2012 kemarin saya resmi bukan warga Pam Baru lagi. Tanpa saya sadar sebelumnya, ternyata tepat empat tahun saya menempati salah satu kamar di Pam Baru 3 No 12. Dan saya meninggalkan Pam Baru dengan status penghuni terlama disana. Ini merupakan rekor terlama saya menempati suatu rumah kost. 1 Desember 2008-1 Desember 2012.

Selama empat tahun setidaknya saya tahu seluk beluk penghuni yang keluar masuk kost itu. Tapi satu masa yang paling saya rindukan adalah ketika saya bisa melakukan kegiatan bersama dengan penghuni kost yang lain. Belanja, jalan-jalan, makan-makan, nyengnyong, nonton, apapun bersama. Hal tersebut terutama didukung oleh latar belakang kami yang kurang lebih sama. Sangat berbeda dengan kondisi terakhir yang saya tinggalkan disana. Satu kamar adalah satu individu. Dan hal tersebut menjadi hal ke sekian yang memengaruhi keputusan saya untuk pindah ke tempat baru.

Setidaknya sudah setahun terakhir saya memikirkan untuk pindah kost sejak saya mulai bekerja di perusahaan tempat saya bekerja saat ini. Tapi, ada saja alasan untuk tinggal lebih lama. Selain karena belum menemukan kost yang cocok, yang paling absurd, saat itu saya tidak tega meninggalkan kucing yang setiap hari menunggu saya di depan pintu kamar, bahkan mengantar saya keluar pagar rumah ketika hendak berangkat kerja. Kucing putih lucu imut, yang pada akhirnya lebih dulu meninggalkan saya di kost itu.

Ketika pada akhirnya kucing itu raib entah kemana -sebenarnya saya curiga kucing itu dibuang- saya merasa tidak lagi punya alasan untuk tinggal lebih lama disana. Apalagi, beberapa bulan yang lalu saya menikah dan tidak leluasa kalau mengajak suami menginap di kost.

Semoga kost yang sekarang adalah kost yang terakhir buat saya, bukan saya berniat tinggal sangat lama disana, tapi untuk selanjutnya seharusnya saya sudah tinggal di rumah sendiri. Amin.

Sepi

4 Comments

Sepi itu rasanya selalu sama … kosong.

***

Waktu kecil, saya merasa kesepian kalau saudara-saudara saya tidak ada di rumah. Saya juga merasa kesepian kalau pulang sekolah tidak menemukan Mamah. Dan saya akan sangat senang menyambut Bapa pulang dari kantor selepas maghrib, karena rumah juga terasa sepi tanpanya.

Beranjak remaja, saya mulai menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah. Menghabiskan hari bersama guru dan teman-teman saya di sekolah. Saya mulai menemukan kesenangan baru di luar. Ketika liburan datang, saya akan merasa kesepian. Ingin liburan cepat selesai dan bertemu kembali dengan teman-teman saya.

Lalu, masuklah saya ke SMA berasrama. Tidak hanya siang hari saya bersama teman-teman, tapi sepanjang hari, dari pagi sampai malam. Bersama mereka adalah ‘kebiasaan’. Ada yang hilang ketika saya lulus lalu menghadapi kehidupan sebagai mahasiswa di luar asrama yang tidak seideal kehidupan di asrama. Saya merasa asing dan kesepian.

Seiring waktu, saya mulai menemukan teman-teman dekat di tempat kuliah. Tiga tahun berlalu, satu per satu teman saya lulus. Saya satu di antara yang lulus dalam waktu 4 tahun, padahal rata-rata teman saya lulus dalam 3,5 tahun. Semakin hari saya merasa kampus semakin sepi tanpa kehadiran mereka.

Lulus kuliah, tanpa menunggu satu hari pun, saya langsung ke Jakarta bersama 3 orang sahabat saya semasa kuliah. Dramatis sekali hari itu. Sehari sebelumnya saya memutuskan tidak jadi berangkat, tapi akhirnya berangkat juga karena ‘rayuan’ teman saya yang justru memutuskan tidak berangkat di detik-detik terakhir. Jadi, tersisa 3 orang. Kami menyewa kamar di rumah yang sama, bekerja di tempat yang sama, tapi beda tim. Padahal senang sekali seandainya kami bisa berkumpul dalam satu pekerjaan. Tapi, tidak dalam satu tim mungkin lebih baik bagi kami, karena kami juga perlu mengenal orang-orang baru, kan? Toh di kostan pun kami masih bisa sama-sama.

Pam Baru, nama kompleks tempat rumah kost kami berada. Ada dua rumah kost di Pam Baru yang ‘terhubung’ dalam beberapa hal, yang membuat kami sering melakukan aktivitas bersama. Formasi penghuni dua rumah di Pam Baru itu selalu berubah-ubah dari tahun ke tahun. Satu keluar, yang lain masuk, dan begitu seterusnya sampai hari ini. Saya merasakan kesedihan yang sama ketika satu per satu teman saya pindah.

… tapi saya merasa Pam Baru tidak pernah sesepi ini sebelumnya … :(

***

Hey … saya tidak pernah benar-benar sendiri kok, ada Allah yang selalu dekat.

Sopir Taksi Punya Cerita

Leave a comment

taxiJangan pandang sebelah mata para sopir taksi. Bisa jadi mereka lebih tahu segala daripada Anda, lebih tahu perkembangan berita nasional, lebih peduli pada nasib bangsa, lebih prihatin pada masa depan anak-anak muda,  lebih kritis, seperti yang saya alami pagi ini.

Ketika taksi melewati Jalan Gatot Subroto, pemandangan yang tidak asing pun terlihat. Berpuluh-puluh orang yang berdiri berjejer masing-masing dengan radius kurang dari 10 meter, menjajakan diri sebagai joki 3 in 1. Pemandangan yang lucu, sangat lucu, karena tak jauh dari mereka tampak sebuah mobil Satpol PP, yang biasa saya lihat di berita-berita digunakan untuk mengangkut gerobak pedagang yang mbandel, dan mobil polisi yang merazia mobil pribadi berisi kurang dari 3 orang. Hahaha … lucunya negeriku :)

Banyak di antara para joki yang membawa serta anaknya yang masih dalam gendongan. Dan mulai lah, Pak Taksi berceloteh,”Suram masa depan negara kita ini. Lihat … mau jadi apa anak-anak itu kalo udah gede nanti? Paling juga kan ga jauh beda sama orang tuanya ………………. makin banyak aja orang-orang di Jakarta ini. Makin macet dari hari ke hari …..”.
Sesekali saya menanggapi, sambil memikirkan ide cerita yang akan saya post di blog pagi ini, tentang … Sopir Taksi :)

More

Cinta ‘monyet gila’ anak SMP

3 Comments

Hayooo ngakuuu … siapa yang GA pernah ngerasain CINTA MONYET????

Weits, tunggu dulu … emang apaan tuh ‘cinta monyet’?? Ada dalam KBBI ga ya?? (penasaran juga … cari dulu aaahhh)

ga ada KBBI, google pun jadi.

http://www.google.com, ketik kata kunci ‘cinta monyet’, dan klik ‘saya lagi beruntung’ (gugel-nya versi bahasa Indonesia soalnya hehe)

Dan hasilnya adalah … ya begitulah … cintanya anak remaja, malu-malu monyet, padahal kalo mau dibilang “cinta kucing” juga ga masalah yaa … jadinya, malu-malu kucing, MALU tapi MAU.
Meng-ngemeng, search di gugel itu sekedar mau menyamakan persepsi aja. Apakah definisi yang aku pikirin tentang “cinta monyet” sama dengan yang Mbah Gugel pikirin tentang si Cinmon ini? Ternyata sama. Jadi, kita bisa lanjut ke pembahasan selanjutnya.
(Percaya beneeerr sama si Mbah. Gara-gara seorang bijak berkata, “Sesuatu yang ngga ada di Gugel itu, ngga ada di dunia!”, oke Sang Bijak, aku terima bulat-bulat ‘sabda’nya.

Jadi, balik lagi ke pertanyaan pada kalimat pertama di atas. Ada yang GA pernah ngerasain CINTA MONYET???
More

Tukang Taxi itu……

Leave a comment

Nyebeliiiiiiiinnnnnnnnnn………

Mungkin karena lagi bad mood juga kali yeee….jadi ikutan sebel ma tuh tukang taxi.
Gimana ngga….pulang malam dari kantor, cape kaaannn, maunya cepet-cepet nyampe rumah kaaannn, maunya cepet-cepet bobo kaaannn??????? Maka masuklah aku ke taxi itu. Hmm…taxi yang sebenernya cukup punya nama dan dipercaya, cuma kebetulan malam ini aku lagi apes ketemu sopir yang nyebelin.
“Benhil, Pak!”, kataku tanpa basa basi.
Dan belum juga taxi jalan, aku ingat sesuatu bahwa aku lupa……
Waktu meninggalkan ruangan kantor beberapa saat sebelumnya aku ngerasa, “Kayaknya ada yang kurang deh….”
Dan aku baru inget bahwa yang kurang itu adalah kunci kostan….eeerrrgghh…
Biasanya kunci itu selalu aku taroh di saku rok, atau di bagian tas yang paling mudah terjangkau, tapi kali ini sakuku kosong tanpa mengeluarkan suara-suara khas dari gantungan kunci kamarku.
Sebenernya, bisa aja saat itu juga aku memutuskan untuk turun dari taxi dan kembali lagi ke kantor, tapi kupikir, “Ya sudah lah….tinggal minta anak kostan bukain pintu masuk, tapi…..”, lagi-lagi aku ingat kalau aku lupa…..
Aku lupa kalau ponselku mati….eeerrrrggghhh. Dan…..halllooooo….ini udah beranjak tengah malam. Ibu dan Bapak pemilik rumah yang tinggal di lantai bawah udah pasti tidur jam segini. Jadi????
Argh…bad mood-ku semakin bertambah-tambah.
Dan bad mood-ku semakin menjadi-jadi ketika dengan santainya taxi yang kutumpangi bablas aja melewati jalan ke arah kostku.
More

Older Entries