Sa-Bandros Ngabandungan Bandung

Leave a comment

image

Foto: http//infobandung.co.id

Salah satu ikon baru di Kota Bandung yang diresmikan pada masa kepemimpinan Kang Emil adalah Bandros. Bandros atau Bandung Tour on The Bus sudah menarik perhatian warga sejak pertama kali launching pada malam tahun baru 2014 lalu. Dengan desainnya yang cantik, berbadan merah – yang kebetulan warna favorit saya – dan bertingkat dua – hari gini dimana lagi menemukan bus bertingkat di Indonesia? Kecuali yang dipakai sebagai bus wisata (ex: di Kota Solo dan Jakarta) – Bandros menjadi primadona baru yang sangat cocok untuk diajak foto bersama :D

Yeay… warga Sabumi pun akhirnya berkesempatan ngabandungan Bandung dari atas Bandros. Agenda playdate yang diumumkan di grup WA beberapa hari sebelum pelaksanaan ini disambut antusias oleh warga Sabumi. Kuota bus 40 orang dewasa pun terisi penuh dalam waktu beberapa hari sejak pengumuman. Bagi yang ‘kurang beruntung’ karena telat daftar atau telat bayar :p, ‘terpaksa’ harus menunggu di Taman Lansia untuk ikut kegiatan berikutnya yang gak kalah seruuu..

Lalu, bagaimana sih kalau kita pengen naik Bandros?

Yang perlu diketahui, bahwa sekarang Bandros hanya melayani penumpang rombongan, 1 bus minimal 30 orang dengan biaya Rp 800.000. Untuk jadwal pastinya kita bisa tanya langsung melalui contact person-nya. Atau langsung datang aja ke Taman Cibeunying, yang merupakan titik keberangkatan Bandros, biasanya ada Bapak Bandros yang standby disana. Ataauu… pantengin aja deh ya Twitternya @BusBandros, termasuk jika Anda penumpang perorangan.

Setelah deal soal jadwal, segera melakukan reservasi dengan sejumlah DP, agar jadwal kita ga lepas ke rombongan lain.

Sesuai rencana, Sabumi akhirnya dapat jadwal keberangkatan hari Selasa 18 Agustus 2015 pukul 09.00 WIB. Sejak pukul 08.00, ibu-ibu dan anak-anaknya mulai berdatangan ke meeting point. Namun berita kurang menyenangkan datang, sang Bandros tidak menunjukkan tanda-tanda kehadirannya sampai mendekati pukul 09.00 karena ada perbaikan yang diharapkan bisa selesai sebelum jam 10.00. Waduh… anak-anak (atau emak-emaknya? ;p) yang sudah berharap besar bisa naik jam 9 kecewa berat nih.

Eeetapii, ternyata banyak alternatif kegiatan asyik yang bisa dilakukan selama menunggu kok. Taman Cibeunying ini cukup nyaman untuk tempat anak berlari-lari, atau sekedar mengamati tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitarnya. Jadi, berombongan akhirnya kami memutuskan berjalan-jalan santai mengitari Taman Cibeunying dan mengamati bunga-bungaan yang dijual di kios-kios tanaman hias tepat di belakang taman.

Tak lama dari itu, bus merah cantik itu pun tampak di seberang taman. Waahh…

image

Masuknya antri ya Bu Ibu… sesuai jam kedatangan tentu saja, jadi yang datang duluan boleh memilih tempat duduk dimanapun.

Saya sebagai pendatang #apa atulah pendatang# ke 3 memilih duduk di bangku atas paling depan sebelah kiri. Ternyata, satu bangku yang diperuntukkan 2 orang itu sempit banget untuk diduduki 2 orang dewasa, dan lorong antar bangkunya pun tidak terlalu lebar. Padahal sebelumnya kita berpikir bisa ngegelar tikar di atas seandainya anak-anak ga kebagian tempat duduk hehe… Daan bertambah berdesakanlah kita karena satu bangku diduduki 2 orang dewasa + 2 anak di pangkuan masing-masing.

image

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika naik Bandros, terutama jika duduk di atas:

1. Selama perjalanan kita diharuskan duduk kecuali di jalan-jalan tertentu yang dibolehkan oleh si pemandu untuk berdiri. Kenapa harus duduk, padahal enak kan ya sambil berdiri, lebih leluasa mengedarkan pandang ke penjuru jalanan Bandung. Boleh lah kalau memaksa berdiri, dengan resiko tersangkut di ranting pohon atau kabel listrik #ih syerem ah >_<

Kita seringnya ga ngeh ya, kalau keliling-keliling Kota Bandung pemandangan kita hanya sebatas yang bisa kita lihat setinggi mata, padahal kalau sedikit mendongak ke atas, terlihat kabel-kabel listrik pabaliut yang signifikan sekali mengurangi keindahan Kota. Semogaaa… Kang Emil segera merealisasikan program nanem kabel-kabel itu di dalam tanah, yah walaupun bukan proses yang mudah, tapi bukan tidak mungkin kan?

2. Bawa topi, bukan PAYUNG, soalnya panaasss. Saya dong bela-belain beli payung H-1 ngeBandros, dan ternyataaa.. ga kepake. Yaa.. itu, lagi-lagi salah satu alasannya karena ranting dan kabel listrik yang malang melintang di atas jalanan Bandung. Salah duanya, karena mengganggu orang yang duduk di sebelah, depan, dan belakang kita.

Lalu, apa sih yang kita dapet setelah naik Bandros?

Kalau kita menyimak penjelasan dari tour guide dengan seksama, kita bisa dapet banyaaak sekali wawasan baru tentang bangunan-bangunan tua di Kota Bandung – penggunaannya dulu dan sekarang, siapa perancangnya – dan sekilas sejarah nama-nama jalan yang dilewatin Bandros. Ternyata, Bung Karno, Sang Proklamator, pun punya kedekatan emosional dengan Kota Bandung, mengingat beberapa gedung merupakan rancangan Wolff Schoemaker, yang diasisteni Soekarno.

Wolff Schoemaker, nama asing yang baru saya dengar itu, ternyata adalah guru besar pertama ITB – sebelumnya ITB bernama Technische Hoogeschool Bandoeng. Dulu, ITB hanya punya satu jurusan yaitu teknik sipil yang memang sengaja dibuat oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli untuk pembangunan di Hindia Belanda. Di ITB lah Soekarno menuntut ilmu dan menjadi asisten Wolff Schoemaker dalam merancang gedung-gedung, diantaranya Hotel Preanger.

Yang sedikit mencengangkan adalah ketika kita melewati 'gedung apalah itu' yang ternyata di atas pintu masuknya terpahat patung beberapa laki-laki yang *maaf* telanjang bulat.

Terus, baru pada tau kaan *gw aja kali* kalau ternyata jumlah bulatan di atas Gedung Sate itu menyimbolkan jumlah uang Gulden yang dihabiskan untuk pembangunan gedung tersebut, yang kalau dirupiahkan dengan kurs saat ini nilainya fantastis.

Belum lagi fakta, bahwa pada zamannya, fashion yang populer di kalangan atas Bandung justru baru populer di Eropa 3-4 bulan setelahnya. Makanya, Bandung disebut Paris Van Java, hmm… kenapa ga dibalik ya, Paris adalah Bandung Van Europe? Dan di Jalan Braga lah pusat mode itu bersumber, dimana 'peragaan fashion' tergelar di sepanjang jalan itu.

Wajah Bandung tempo dulu itu pula yang membuat para pemimpin dunia yang hadir di KAA tercengang, mereka tidak membayangkan, negara yang baru 10 tahun merdeka memiliki kota dengan penataan indah seperti Kota Bandung.

Ah, pokoknya mah banyak lagi deh info-info yang kalau saya ga naik Bandros mungkin ga pernah tahu. Berhubung waktu naik Bandros kemarin saya riweuh nutupin kepala karena panas, saya pengeeen banget naik Bandros lagi tapi duduk di bawah.. semoga kesampaian yaa… terutama sama suami yang belum pernah naik *hihi*

image

Wajah Lain Alun-Alun Bandung

8 Comments

image

Kota Bandung, di bawah kepemimpinan Kang Ridwan Kamil, menjadi kota yang selalu berbenah dan mempercantik diri. Ada banyak ruang publik yang dibangun atau diperbaiki, dan masih banyak lagi yang direncanakan akan dibangun.

Salah satu yang baru dari Kota Bandung adalah alun-alunnya. Beberapa hari sebelum peresmiannya tanggal 31 Desember 2014 lalu, orang-orang sudah ramai berbagi keseruannya di alun-alun lewat foto-foto yang diunggah di medsos.

image

Kami pun tidak ingin melewatkan kesempatan menjadi orang-orang pertama yang melihat wajah baru alun-alun Kota Bandung. Kebetulan awal tahun ini kami sedang mudik ke Bandung.

Maka pada hari Jumat tanggal 2 Januari 2015 lalu, kami menuju alun-alun menjelang sore hari setelah siangnya Kota Bandung diguyur hujan yang cukup deras. Sesampainya disana saya amazed, seumur-umur saya kenal Bandung belum pernah saya menyaksikan alun-alun seramai dan sepadat itu. Anak-anak berlari-lari bahagia, ada juga yang lempar-lemparan bola, muda mudi ber’selfie’ ria, kelihatannya hampir setiap orang disitu memegang kamera.

image

Sayangnya, karena baru selesai hujan, hamparan rumput sintetis yang ‘ditanam’ menjadi basah, jadi kami tidak leluasa duduk-duduk. Bahkan hanya berjalan-jalan saja pun ujung rok menjadi basah.

Sebenarnya, yang lebih menarik untuk diamati bagi saya adalah bagian lain dari alun-alun, yaitu Masjid Raya Kota Bandung.

image

Termasuk kemarin, terhitung baru dua kali saya shalat di masjid besar itu. Yang pertama pada masa kuliah dulu. Sedihnya, masjid raya ini tidak meninggalkan kesan baik pada pandangan pertama. Mungkin karena letaknya yang berada di tengah-tengah kawasan pertokoan dan pusat perbelanjaan, juga dekat halte bus dalam kota, sehingga masjid itu lebih seperti tempat beristirahat orang-orang yang lelah berjalan-jalan dan belanja, daripada tempat orang-orang yang mencari khusuk dalam beribadah (dalam arti sempit ya).

Dulu,

masuk ke halaman masjid, yang mana adalah taman alun-alun, banyak sekali pedagang yang memasang tenda seadanya tanpa memerhatikan estetika, pun ada yang menggelar dagangannya begitu saja. Sampah? Jangan tanya, berserakan dimana-mana.

Melangkah ke selasar masjid, pemandangan tidak lebih baik. Pedagang-pedagang dengan keranjang asongan, duduk menjajakan mie instan cup atau kopi panas yang bisa diseduh disitu juga. Sepanjang dinding luar masjid, orang-orang bersandar, meluruskan kaki, tiduran, sebagian sambil makan dan minum.

Memasuki tempat wudhu dan area shalat, saya bisa berkesimpulan, ini bukan tempat yang kondusif untuk beribadah. Di antara masjid-masjid besar yang pernah saya kunjungi di Kota Bandung, hanya masjid di alun-alun ini yang tidak membuat hati saya terpanggil untuk mengunjunginya lagi :(

Sangat disayangkan, karena alun-alun biasanya menjadi wajah kota yang menjadi citra kota secara keseluruhan. Walaupun saat ini sih, banyak kota yang ‘pusat’nya sudah tidak di alun-alun lagi.

Apalagi, disitu juga berdiri masjid besar dan megah yang seharusnya menampilkan citra Islam yang indah dan bersih, namun yang terlihat adalah lingkungan masjid yang kotor dan tidak enak dipandang mata.

Kini wajah masjid raya lebih baik. Jumlah pedagang yang berjualan di selasar berkurang drastis, walaupun kemarin saya sempat melihat seorang penjaja mie instan dan kopi yang sepertinya masih (mencuri-curi kesempatan) berjualan di balik tiang masjid.

Hanya kemarin terjadi ketidaknyamanan di tempat wudhu wanita. Banyak laki-laki dewasa yang wudhu di tempat wanita, padahal di depan pintu masuk tulisan ‘Tempat Wudhu Wanita’ tertulis sangat besar. Saat giliran saya wudhu, air dari semua keran tidak mengalir, hanya satu keran saja yang menyala, dan disitu lebih dari 10 orang mengantri, sebagian besarnya adalah laki-laki. Saya tidak paham, apakah air di tempat wudhu laki-laki pun mati? Sehingga mereka berpindah ke tempat wudhu wanita?

Area shalatnya sendiri agak membingungkan, terutama di ruangan luas bagian depan. Saya tidak tahu, dimana tepatnya area shalat khusus wanita, karena orang-orang shalat dimana saja mereka mau, tidak ada pemisah antara area pria dan wanita. Bahkan di bagian yang saya melihat tulisan ‘Khusus Wanita’ pun, banyak sekali laki-laki duduk-duduk berselonjor kaki.

Untuk jamaah yang ingin lebih nyaman shalat, sebaiknya mengambil tempat di bagian dalam masjid yang menjadi ruang shalat utama, mungkin disana suasananya lebih nyaman. Hanya bagi yang tidak mengenal denah masjid seperti saya, ruang shalat utama itu seperti ‘tersembunyi’.

image

Tulisan ini mungkin tidak mengubah apa-apa. Saya pun saat ini hanya duduk mengetikkan kata-kata tanpa berbuat sesuatu yang nyata. Hanya saya menyimpan harap, semoga masjid ini ‘kembali’ ke fungsinya sebagai pusat kegiatan umat Islam yang nyaman di hati, lebih dari fungsi rekreasi yang (menurut saya) lebih terlihat saat ini.

From Jember With Love

Leave a comment

‘Kota yang hidup’ adalah kesan pertama saya ketika menginjakkan kaki di Kota Jember. Pada pukul 2 dini hari, ketika kereta dari Surabaya yang mengangkut saya dan suami merapat di Stasiun Jember, belasan Bapak Becak menyambut kami di pintu gerbang stasiun, berebut penumpang. “Semalam ini?”, pikir saya. Namun pertanyaan itu terjawab ketika suami menjelaskan bahwa hanya ada dua kali pemberangkatan kereta api dari Surabaya ke Jember (tujuan akhir Banyuwangi) setiap hari, salah satunya yang tiba jam 2 dini hari tersebut, maka suasana stasiun selalu ramai sampai jauh tengah malam.

Ini merupakan kali kedua saya ke Jawa Timur. Ya … baru dua kali. Kali ini saya terbang dari Jakarta ke Surabaya, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jember, kota tempat suami bertugas, dari Stasiun Sidoarjo. Ya, baru kali ini juga saya ngeh, kalau Bandara Juanda ternyata terletak di Sidoarjo, bukan Surabaya. Sama halnya dengan Bandara Soekarno-Hatta yang selalu diingat terletak di Jakarta, padahal sudah masuk daerah Tangerang.

Kunjungan saya kali ini, memang sengaja saya jadwalkan bertepatan dengan Bulan Berkunjung Jember. Salah satu acara yang ingin saya lihat dari rangkaian BBJ ini adalah Jember Fashion Carnaval (JFC) yang terkenal itu. Saya tiba di Jember pada Sabtu pagi sementara JFC dilangsungkan pada hari Minggu siang, sehingga hari Sabtu itu kami habiskan berjalan-jalan ke beberapa kawasan terkenal di Jember. Malah sempat juga menghadiri syukuran sunatan anak rekan kerja suami. Sedikit kehebohan terjadi di meja hidangan kala itu, ketika beberapa orang saling memberitahu satu sama lain, “Rujak soto”, kata mereka sambil menunjuk pada menu makanan yang terdiri dari potongan ketupat, plus semacam pecel sayur tapi bumbunya berwarna lebih terang, dan kuah berminyak dengan potongan-potongan kecil daging. “Khas Banyuwangi ini, Mbak”, Mbak di sebelah saya memberi informasi tambahan, “Ooooh … “, saya mengangguk-angguk, lalu ikut mengantri “Rujak Soto”.

Pantai Tanjung Papuma

Mbak penjaga kost suami saya bilang, pantai ini dan Pantai Watu Ulo yang bersebelahan dengan Tanjung Papuma adalah spot yang wajib dikunjungi jika ke Jember. Maka dari Kota Jember, dengan menggunakan sepeda motor kecepatan tinggi, dalam waktu satu jam kami sudah sampai di pantai ini. Yang pertama terlihat dari atas bukit menuju pantai ini adalah, beberapa perahu warna-warni ukuran sedang yang tertambat dan dibiarkan mengambang beberapa meter dari garis pantai. Dengan langit cerah dan laut biru serta hamparan pasir putih, pantai ini terlihat sangat fotogenik.

Tanjung Papuma dari Atas Bukit

Tanjung Papuma dari Atas Bukit

Saat itu pantai tidak terlalu ramai, juga tidak sepi, menciptakan atmosfer yang pas untuk bersantai (dan foto-foto :D). Beberapa fasilitas umum bertebaran di beberapa sudut. Ada warung makan yang menyajikan menu khas ikan bakar dengan sambal yang sedaaap, juga beberapa WC umum dan kamar mandi bilas, serta musholla dan kantor pengelola. Sebuah papan menunjuk juga ke arah penginapan yang terletak agak masuk ke dalam sebuah hutan kecil.

Bernaung di Saung

Bernaung di Saung

Yang unik disini, banyak kera berkeliaran di jalan-jalan setapak dan bergelantungan di pohon-pohon rindang di sekitar pantai. Kera-kera itu juga ikut menambah meriah suasana makan kami. Bagaimana tidak, beberapa kali kami terkaget-kaget ketika kera-kera itu mendekat ke saung tempat kami makan, dan secara tiba-tiba melongokkan kepala dari atas terpal yang menaungi kami.

Kera Berkeliaran

Kera Berkeliaran

Bukit Terjal Sepanjang Garis Pantai

Bukit Terjal Sepanjang Garis Pantai

Pose Standar Foto di Pantai :P

Pose Standar Foto di Pantai :P

Rembangan

Jember menawarkan objek wisata yang cukup lengkap. Setelah setengah hari bermain di daerah pantai, motor yang dipacu dengan kecepatan yang lebih tinggi membawa kami kembali ke Kota Jember, lalu teruuus ke arah Rembangan, sebuah dataran tinggi seperti Dago Atas mungkin ya kalau di Bandung, bedanya, jalan menuju Rembangan tidak sepadat ke Dago Atas. Kami menginap di Hotel Rembangan dengan tarif yang tidak terlalu mahal, sebuah bangunan hotel lama jika dilihat dari desain dan perabot serta perlengkapannya. Yang tidak membuat nyaman adalah kamar mandinya yang langit-langitnya terlalu tinggi. Dari halaman hotel kita bisa melihat daerah sekitar dari ketinggian. Pada malam hari kita pun bisa melihat lampu-lampu Kota Jember dari kejauhan.

Dari Halaman Hotel Rembangan

Dari Halaman Hotel Rembangan

Namun keinginan untuk berenang atau berendam air panas di Rembangan kandas karena kolam renang di hotel itu bukan kolam air hangat dan bathtub di kamar pun tidak cukup nyaman untuk berendam. Padahal perlengkapan berupa pakaian dan kacamata renang sudah saya bawa dari Jakarta.

Salah Satu Sisi Hotel Rembangan

Salah Satu Sisi Hotel Rembangan

Ya sudah, pagi hari kami langsung check out dan kembali ke Kota.

JFC

Inilah puncak dari agenda kunjungan saya ke Jember. Acara sebenarnya dimulai sekitar jam 2-an siang, namun karena khawatir tidak dapat tempat yang nyaman untuk menonton, karena dipastikan sepanjang jalan yang dilalui karnaval akan disesaki masyarakat yang juga ingin menonton, maka saya dan suami berangkat sesaat sebelum dzuhur. Itu pun kami sudah sulit mendapat tempat parkir motor. Halaman-halaman kosong di daerah yang mendekati Alun-Alun disulap jadi tempat parkir darurat dengan karcis parkir seadanya. Motor suami saya yang terparkir di sebelah rel kereta pun terkena tarif parkir yang diada-adakan itu.

Dari tempat parkir, kami berjalan beberapa puluh meter menuju pusat acara di Alun-Alun Kota. Benar saja, masyarakat dan para pedagang kaki lima menyesaki setiap jengkal tanah di Alun-Alun. Suasana sesaknya sekilas seperti pasar kaget di Gasibu Bandung setiap hari Minggu. Untung cuaca hari itu sangat bersahabat. Mendung membuat suasana Kota Jember pada tengah hari tetap adem. Sempat khawatir akan turun hujan, karena waktu berangkat gerimis sempat mengundang :P tapi untungnya hanya sekadar gerimis sesaat dan tidak berlangsung lama.

Setelah shalat di Masjid Agung, kami terus berjalan menjauhi alun-alun sekedar mencari tempat yang paling nyaman untuk menonton, ah sia-sia, pada akhirnya kami berhenti di salah satu ruas jalan yang menurut kami paling ‘tidak sesak’.

Karnaval tidak berjalan sesuai seharusnya. Tidak ada pembatas antara penonton di pinggir jalan dengan peserta karnaval. Malah penonton berdesakan sampai ke tengah jalan dan menghalangi jalan yang dilalui peserta karnaval. Penonton berebut mengambil foto, beberapa malah mengambil kesempatan berfoto bersama dengan peserta karnaval, menambah ruwet suasana karnaval. Terdesak di antara para penonton, saya hanya mengangkat kamera saku saya tinggi-tinggi dan menjepret tak terarah, hasilnya beberapa hasil jepretan kebetulan pas mengarah ke peserta karnaval, sisanya lebih banyak menghasilkan foto blur atau foto dengan objek yang tidak jelas. Sementara itu, saya melihat beberapa orang dengan kamera DSLR tampak melenggang bebas di depan peserta karnaval, beberapa memasang kartu identitas panitia, tamu, atau apalah, tapi lebih banyak yang tidak beridentitas. Mungkin itu bisa jadi salah satu trik jika satu saat Anda berniat ke acara itu. Membawa kamera DSLR membuat Anda terlihat seperti pers atau fotografer profesional dan tidak ada satupun panitia yang akan menyuruh Anda minggir ke pinggir jalan.

Menonton dari Atas Pohon

Menonton dari Atas Pohon

Penonton Membludak Sampai Tengah Jalan

Penonton Membludak Sampai Tengah Jalan

Dengan pengalaman itu, saya berjanji, satu saat, saya akan kembali ke Jember pada acara JFC setelah sebelumnya membeli Tiket VIP dan satu lagi … membawa kamera DSLR. Hehehe. Insya Allah.

Berikut sedikit oleh-oleh dari JFC, sedikit foto yang bisa saya ‘selamatkan’

 

*Fyi, saya ke Jember bulan Juli 2012 lalu. Postingan ini mengendap di DRAFT sejak empat bulan yang lalu*

Bogor – Culinary Trip

7 Comments

Dulu, sebelum menetap di Padalarang (Bandung Barat), kalau ditanya saya asli mana, maka saya akan menjawab Bogor. Itu karena kakek nenek dari ayah saya menetap di Bogor, dan setiap tahun pada hari lebaran kami sekeluarga mudik ke Bogor.
Tapi itu dulu, sebelum nenek saya meninggal hampir 5 tahun yang lalu, dan sebelum kami sekeluarga pindah ke Bandung Barat 3 tahun yang lalu.

Maka, sebenarnya Bogor bukan kota yang asing bagi saya, walaupun saya hanya memiliki memori yang sangat sedikit tentang kota ini. Dan, seharusnya Bogor tidak menjadi asing bagi saya, karena dari sana lah kakek buyut saya berasal.

Tapi, nyatanya saya merasa asing di kota itu, hari Sabtu kemarin (10 Sept’ 2011), saya dan 9 orang teman kantor jalan-jalan kesana, sebagai turis alias pelancong. Sesering apapun berkunjung ke suatu tempat, kata “turis” akan selalu berkonotasi “asing” menurut saya.

***

Baiklah, sedikit berbagi tentang cerita perjalanan saya dan teman-teman – ini merupakan kali kedua saya ke Bogor selama hampir 3 tahun tinggal di Jakarta.
Kami berangkat dari Stasiun Sudirman (Jl. Sudirman, Jakpus) dengan menggunakan commuter line pukul 10.31 WIB. Pengalaman pertama saya naik commuter line, dan saya merasa puas karena commuter line benar-benar memberangkatkan kami sesuai jadwal. Dengan harga tiket Rp7.000, kami sudah bisa duduk nyaman di dalam gerbong yang bersih dan ber-AC, walaupun setelah melewati beberapa stasiun, gerbong mulai sesak oleh penumpang. Commuter line ini juga memiliki gerbong khusus wanita di rangkaian paling depan dan paling belakang.

Kami tiba di Stasiun Bogor pada pukul 11.43 WIB. Tujuan pertama kami adalah Bakso Pak Jaja di dekat Lapangan Sempur. Dari stasiun, kami naik angkot hijau nomor 3 dengan trayek Bubulak-Baranangsiang. Perjalanan ke Lapangan Sempur hanya berkisar 10 menit dengan ongkos Rp2.500 setelah melewati Kebun Raya dan sekolah teman saya (Recis – pen) – yang jadi pemandu kami selama di Bogor. Kami turun dari angkot di daerah yang teduh dan bersih, dengan pohon-pohon besar di kiri kanan jalan. Ternyata warung bakso Pak Jaja, hanya berupa bangunan sederhana, tidak begitu luas, namun cukup ramai pembeli. Menu makanan yang ditawarkan disana adalah bakso (iya lah ya), kita bisa memilih makan bakso dengan mie, kwetiau, atau bihun, bisa kuah atau kering (kuah terpisah), harga dipukul rata Rp10.000 untuk semua menu bakso. Sedangkan harga minuman berkisar dari Rp1.000 (es teh tawar) sampai dengan Rp5.000 (aneka minuman jus). Murah dan enak. Boleh dicoba :)

Perjalanan selanjutnya adalah ke tempat Macaroni Panggang dan Lasagna Gulung tidak jauh dari Bakso Lapangan Sempur, kami berjalan kaki sekitar 10 menit ke Jalan Salak, disana ada cafe Macaroni Panggang (MP) yang bergandengan dengan Lasagna Gulung di sebelahnya. Rupanya macaroni panggang ini banyak juga peminatnya (malah saya baru tau ada oleh-oleh Bogor kayak gini … hehehe). Di depan kasir, antrian cukup panjang. Untuk macaroni panggang, mereka menawarkan macaroni panggang biasa dan spesial dengan ukuran small, medium, dan large. Yang spesial ada tambahan daging asap, jamur, dan … dan lain-lain didalamnya … hehe gak inget padahal udah nanya Mas-nya. Untuk icip-icip, saya beli macaroni panggang spesial small yang dibanderol Rp27.000. Disana tidak hanya menjual macaroni panggang saja tentunya, tapi saya tidak sempat lihat daftar menunya.

Di sebelah bangunan cafe Macaroni Panggang ini, ada bangunan yang lebih kecil tempat menjual Lasagna Gulung. Saya hanya sempat melihat-lihat sebentar menunya, tapi tidak jadi beli karena harganya cukup mahal, antara 50ribu, sampai 70ribuan, lain kali aja deh :P. Untuk lasagna gulungnya sendiri kita bisa memilih yang rasa tuna, kerang, ayam, dan daging.

Tak jauh dari Macaroni Panggang dan Lasagna Gulung ini, ada Rumah Cup Cakes, yang tidak ada dalam rencana perjalanan kami sebenarnya, tapi tempatnya cukup menarik dengan dominasi warna putih dan pink. Cup cakes berbagai ukuran dan topping beraneka bentuk terlihat ‘lucu’ dan menarik. Saya hanya membeli macarons, cake kecil berwarna warni, dengan cita rasa sangat manis, dengan krim gula, yang dikemas dalam kotak bening berisi 6 macarons. Namanya icip-icip, saya beli macarons seharga Rp28.000 patungan berdua dengan teman saya. Menurut lidah saya, macarons itu seperti kue kering yang terbuat dari putih telur yang dikocok bersama gula pasir sampai mengembang. Ah, apa ya itu namanya, mungkin macarons juga kali ya :)

Next destination … Pia Apple Pie di Jalan Pangrango. Jalan kaki sekitar 10-15 menit dari Rumah Cup Cakes. Mereka menjual berbagai macam pie, dengan andalan apple pie. Saya membeli apple pie ukuran medium seharga Rp38.000. Ternyata ukurannya besar juga, mungkin sekitar 30×10 cm, bukan ukuran pasti, dikira-kira aja … hehehe.

Pia apple pie ini berseberangan dengan Kedai Kita yang menjadi tempat tujuan kami selanjutnya, sekaligus yang terakhir hari ini. Untuk bersepuluh kami memesan 3 pan pizza bakar dengan rasa yang berbeda. Pizzanya enak kecuali yang rasa … saya lupa … pizza yang topping seafoodnya terasa amis di lidah kami. Jadi kami terpaksa menyingkirkan topping seafood ini dan hanya memakan bagian rotinya. Saya tidak lihat-lihat menu makanan disini, ya, menu standar cafe dengan harga-harga standar cafe juga. Untuk dessert sebenarnya kami berniat memesan ice cream cake yang terlihat menarik dari gambarnya, sayangnya tidak tersedia, akhirnya kami hanya memesan es campur dan es teler. So-so lah …
Kedai Kita ini terdiri dari 2 lantai, bisa memilih duduk di kursi atau lesehan, tempatnya nyaman untuk berlama-lama, makanya kami baru keluar dari sana pada pukul 17.30, dari pukul 14.00 :D. Kami memilih tempat lesehan di lantai atas, nyaman untuk me-rileks-kan kaki setelah seharian berjalan-jalan.

Dan … perjalanan hari ini ditutup dengan syukur …

Alhamdulillah ya Allah, masih bisa makan enak :)

walaupun mengalami pergeseran jadwal pulang karena kereta yang tidak tepat waktu, dan harus berjalan melewati jembatan penyeberangan terpanjaaaang (Semanggi – pen) di jagad raya (lebaayyy … ) untuk pertama kalinya, karena saya turun dari kereta di stasiun Tebet, dilanjutkan dengan naik Transjakarta dan turun di halte Semanggi.

Judulnya culinary trip, tapi ngga ada satu pun foto makanan??? Harap maklum pembaca, penulisnya narsis … hehehehe