(Bukan) Mesin Cuci Otomatis

Leave a comment

Jadi…

Gadget pertama yang saya prioritaskan untuk miliki ketika mulai tinggal bersama-sama suami (sebelumnya kami kost masing-masing) adalah mesin cuci. Dan pilihan kami jatuh pada mesin cuci otomatis front loading ini, dengan bayangan indah… “Nanti tinggal masukin cucian, tekan tombol, ditinggal masak, ditinggal boci, ditinggal jalan-jalan, dan… tadaaaa… pakaian pun bersih siap jemur”

Mesin cuci ini tepatnya dibeli sekira dua minggu sebelum Akhtar lahir. 

Namun… sebagai yang NGGA berpengalaman membeli mesin cuci otomatis sebelumnya, ada hal-hal PENTING yang luput dari pertimbangan kami, sehingga bayangan indah hanya angan-angan heuheu…

1. Mesin cuci otomatis butuh aliran air yang deras dan tekanan kuat

Maka… pada awal pengoperasiannya di rumah Jember, saya mengeluh karena mesin cuci tidak bekerja seperti yang dibayangkan. Seringkali si mesin berhenti di tengah-tengah proses mencuci, kadang bisa mencuci sampai selesai tapi lamanyaaaaa minta ampun. 

Ya jelas… tekanan air di rumah lemah. Tidak cocok untuk mesin cuci kami. Pada akhirnya, beberapa bulan terakhir di Jember kami harus menitipkan cucian di tukang laundry. Hiks banget ga sih…

2. Seharusnya ada satu keran khusus untuk memasang selang mesin cuci, jadi selang inlet tidak lepas pasang terus menerus

Sebenarnya bisa kok selang inlet ini dipasang hanya ketika mencuci, lalu dicabut lagi ketika selesai mencuci, tapi masalahnya (bodohnya kamiii…) kami ga ngeh bahwa selang itu tidak mesti dilepas bautnya setiap kali dilepas dari keran, cukup lepaskan tautannya.. ah ngerti kan ya maksudnya?

Enam bulan bersama si mesin cuci di Jember, akhirnya kami pindah ke Pasuruan. Alhamdulillah tidak ada masalah lagi dengan aliran air disana… hanya saja… hanya ada 1 keran yang memungkinkan untuk disambungkan dengan mesin cuci, dan itu letaknya di kamar mandi, jadi mau tidak mau si selang harus selalu dilepaspasang tiap kami menggunakan kamar mandi. 

Sekali dua kali ga masalah, lama-lama selang mesin yang terhubung ke keran longgar juga dan air tidak bisa masuk dengan sempurna, lebih banyak air yang terbuang. 

Alhasil… mesin tetap bekerja, di saat bersamaan kami pun banyak membuang air. Heuheu…

3. Mesin cuci ini tidak cocok buat yang sering pindahan

That’s why… mesin ini berat bangeeeedd… karena dia ditujukan untuk menetap di satu lokasi saja.

Sementara kami… dalam kurun 5 tahun, sudah 5 kali mesin ini diangkutpindahkan. 

Masalah muncul ketika kami memindahkan mesin dari Padalarang ke kontrakan Pasar Minggu, si mesin tiba-tiba tidak mau berputar, setelah memanggil tukang servis, ternyata masalahnya hanya karena ada kabel yang bergeser/ berubah posisi bla bla bla. Dan masalah kembali muncul ketika mesin ini dipindahkan dari rumah Abah ke rumah Akhtar, padahal ‘hanya’ dibawa nyeberang jalan aja beberapa puluh meter.

Kini…

Mesin cuci ini teronggok di pojok ruangan dekat kamar mandi… 

Sudah 2 kali memanggil tukang servis, katanya harus diganti water levelnya, yaitu sensor untuk mengatur jumlah air yang masuk ke dalam mesin cuci, sementara saya menunda untuk memperbaikinya, dan bertahan dengan mesin cuci (tidak) otomatis ini. Lucu… karena saya harus memasukkan air secara manual dengan gayung lewat wadah untuk memasukkan sabun cuci agar mesin tetap berputar.

Lama-lama hayati lelah… jadi sudah beberapa hari ini saya berhenti menggunakannya dan menitipkan cucian ke rumah Abahnya anak-anak. Karena jika tetap menggunakan mesin ini: 

– durasinya jadi lebih lama… bisa sampai 2 jam bahkan lebih baru selesai… listrik oh listrik, kami jadi lebih sering mengisi pulsa listrik

– belum tentu bersih. Karena setelah berjam-jam mencuci dengan air yang tidak memadai itu, saya biasanya tes salah satu baju dengan menguceknya di dalam ember, daann.. masih bersabun

– lebih cepat merusak pakaian, karena terlalu lama diputar di dalam mesin.

Opsinya sekarang…

– Ganti mesin cuci >> tapi nunggu ada budget dulu

– Memanggil kembali tukang servis dan mengganti water levelnya >> iya kalau masalahnya disitu, kalau ngga? 

– Menitipkan cucian di rumah Abah

– Mengangkut mesin cuci dari rumah Abah yang sebenarnya punya kami juga, yang kami beli waktu ngontrak di Ciledug.

– Bersabar >> paling penting ya ini… jangan banyak mengeluh dan berusaha menikmati episode drama si mesin cuci ini.. eaa.. 

Advertisements

Mengandung Curhat

Leave a comment

Yep, postingan kali ini mengandung curhat tentang mengandung anak ketiga. 

Hamil ketiga ga ketauan awal mulanya. Pokoknya suatu hari di usia Ahnaf yang ke 15 bulan, saya haid untuk yang pertama kalinya sejak melahirkan. Tidak tahu persis tanggalnya. Makanya saya ga pernah bisa jawab setiap ditanya HPHT. Setelah itu ga pernah haid lagi, dan saya ga berpikir akan kemungkinan hamil lagi. Karena sebelumnya sudah terlalu lama ga haid (9 bulan hamil Ahnaf+15 bulan setelah melahirkan), jadi saya ga begitu ngeh tentang kapan seharusnya haid bulan berikutnya.

Singkat cerita, memasuki bulan Syaban, menjelang Ramadhan, saya merasakan badan terasa lebih cepat lelah, sering merasa pusing, dan sedikit mual. Kenapa saya pakai patokan bulan hijriyah? Karena saya ingat, awal puasa Ramadhan waktu itu terasa berat buat saya. Tak lama dari mulai sering merasa pusing dan mual itu, masuklah bulan Ramadhan, dan hampir setiap hari saya merasa lemaassss… maunya tiduran terus, apalagi di siang hari yang panas. Untuk beranjak sholat pun kadang-kadang merasa susah menegakkan badan.

Sebetulnya saya sempat menyampaikan ke suami sebelum Ramadhan, “Jangan-jangan hamil lagi…” karena waktu itu sudah jalan dua minggu selalu merasa mual setiap hari. Namun, saya berusaha mengabaikannya… tidak pula penasaran untuk segera membeli testpack.

Di pekan kedua Ramadhan, akhirnya saya memutuskan menggunakan testpack. Alasannya… karena saya merasa ga sanggup puasa, dan ingin mengambil keringanan beberapa hari untuk ga puasa, tapi harus dipastikan dulu, rukhsah itu diambil dalam rangka apa? Kalau memang hamil, kan saya bisa ambil keringanan tidak puasa karena hamil.

Seperti yang sudah diduga, hasilnya memang positif, dan keesokan harinya saya tidak puasa sampai 7 hari berikutnya. Ketika merasa tubuh sudah cukup fit, saya kembali berpuasa di pekan terakhir Ramadhan.

Pertama kali periksa…

Pertama kali periksa ke bidan dekat kontrakan di Ciledug, mungkin hampir 2 bulan setelah testpack, di usia kehamilan yang mungkin memasuki 3 bulanHal yang mustahil dilakukan jika ini hamil pertama haha.

Saya ingat, hamil Akhtar dulu, 2 minggu telat haid, saya langsung testpack, dan keesokan harinya langsung ke dokter, yang mana janin pun katanya ‘belum turun’, tidak tampak di layar USG.

Dan hamil Ahnaf, walaupun lebih cuek dari hamil pertama, saya masih telaten ke dokter setiap bulan, walaupun sudah ga disiplin mengonsumsi vitamin.

Reaksi pertama bidan waktu itu, “Hah.. kamu ga KB?” Matanya terbelalak sambil melihat ke arah Ahnaf yang berlari-lari di ruang tunggu. 

Iya.. iya.. saya ga KB. So what gitu lho? Saya jawab dalam hati.

Setelah periksa dan ngobrol sedikit tentang ina inu.. kami pun pulang, membawa vitamin untuk 30 hari ke depan, yang mana vitamin itu pun ga habis saya makan sampai sekarang.

Periksa kedua…

Saya baru periksa lagi sepekan yang lalu di RS Hermina Pasteur, 3 bulan dari periksa pertama. Hari itu, hari terakhir di tahun 1439 H. Suami sengaja mengambil cuti 1 hari agar bisa mengantar ke dokter. 

Kami berangkat tanpa tahu akan ke dokter siapa. Pokoknya ke siapapun yang praktik hari itu, karena tujuannya ingin melakukan USG agar diketahui perkiraan usia kandungan dan penampakan janin dalam rahim.. hihi.. kasian belum pernah dilihat sama sekali.

Dapatlah seorang dokter perempuan yang praktik jam 2 siang. Dan dia terkaget-kaget karena tidak mendapati histori pemeriksaan kehamilan pada buku periksa saya. Lebih kaget lagi karena mengetahui sejak hamil baru 1 kali periksa ke bidan. 

Di awal, beliau malah seakan ga percaya kalau saya hamil, dengan melontarkan pertanyaan, “Selama 5 bulan ini ga haid?”. Dweng! Saya beralasan, baru bisa periksa karena suami di luar kota, jadi ga ada yang nganter ke dokter. Padahal tentu saja alasan sebenarnya lebih dari itu. Hehe.
“Ga KB ya?”. Pertanyaan itu lagi. Saya hanya mengiyakan pelan. “Oh.. pantes”, timpalnya.

Pemeriksaan dilakukan cukup lama, dokter mengukur beberapa anggota tubuh janin untuk memperkirakan dengan lebih tepat berapa usia janin. Dan di akhir pemeriksaan, beliau menyimpulkan usia kandungan adalah 22 weeks. Yang mana 40 weeksnya akan jatuh pada 23 Januari 2018. 

Ketika beliau hendak meresepkan vitamin, saya bilang masih ada vitamin dari bidan. 

Pertanyaan dan pernyataan yang membuat tak nyaman

Hamil ketiga dengan jarak yang tidak terlalu jauh dengan anak kedua, menimbulkan reaksi beragam dari orang-orang. Umumnya, mereka akan terlihat kaget dan menyimpulkan ini sebagai ‘kebobolan’. 

Qadarullah…

Walaupun sudah menjalankan program ‘KB alami’, kalau Allah berkehendak, ya hamil juga kan? Sebaliknya, yang ber-KB pun belum tentu ‘bebas’ dari kemungkinan hamil. 

Lagi pula tidak ber-KB adalah pilihan saya, karena saya merasa tidak nyaman ada benda asing masuk ke dalam tubuh saya dengan cara yang saya kira tidak nyaman juga – cat: orang-orang menyarankan KB dengan spiral-

Adapun KB dengan cara lain (KB hormonal) punya efek samping lebih banyak pada tubuh.

Saya merasa tidak nyaman ketika orang-orang terkesan menyalahkan saya karena saya ga ber-KB, lalu hamil. Itu ga perlu, karena…

  • Walaupun belum merencanakan untuk memiliki anak ketiga, namun saya bahagia menjalani kehamilannya, bahagia membayangkan akan ada anggota keluarga baru di rumah kami. 
  • Bagaimanapun kondisi kehamilannya, direncanakan atau tidak, hal yang harus pertama kali diekspresikan adalah rasa syukur, bukan menyalahkan si ibu. Bersyukur karena Allah masih percaya menitipkan satu anak lagi pada keluarga kami. 
  • KB itu pilihan. KB itu bukan satu-satunya penentu penunda kehamilan. Kalau si ibu tidak memilih ber-KB, maka hargailah keputusannya.

Yeah, itu sekelumit tentang KB. 

Ada lagi pertanyaan yang bikin saya ga nyaman.

“Kalau anaknya cowok lagi gimana?”

Gubraks!

Emang kenapa kalau anak saya cowok lagi? Situ ada urusan apa? Kasarnya sih pengen jawab gitu haha…

Orang kadang suka mengekspresikan sesuatu yang tidak perlu. Seperti ketika saya melahirkan Ahnaf. Ada aja komentar seakan menyesalkan, “Cowok lagi ya… ayo coba lagi”. Seolah-olah mereka lebih tahu yang terbaik daripada Yang Menakdirkan. Padahal kami tidak ada masalah dengan itu. Yang saya bayangkan sejak mengetahui anak kedua kemungkinan laki-laki lagi justru, “Wah menyenangkan ya ada 2 anak seperti Akhtar di rumah ini”.

Pun untuk anak ketiga ini pun saya tidak berharap akan terlahir laki-laki atau perempuan. Sama aja. Asalkan sehat. 

Minta kepada Allah agar diberikan anak dengan jenis kelamin tertentu pun sesekali saya lakukan. Ya, saya berdoa diberi anak perempuan. Namun, ketika nanti terlahir laki-laki pun, kebahagiaan saya tidak akan berkurang. Alhamdulillah… Alhamdulillah… berarti kami dipercaya menyiapkan satu lagi calon suami shaleh dari rumah ini.



Destruktif

Leave a comment

Kadang suka agak sulit memaklumi anak-anak (seumuran, lebih tua, atau lebih muda dari Akhtar) yang perilaku bermainnya bersifat ‘destruktif’. Emm, entah tepat kah saya menggunakan kata ini. 

Destruktif yang saya maksud disini… misalnya: 

menghancurkan mainan balok susun yang telah rapi, 

melempar-lemparkan kepingan puzzle sampai hilang beberapa pieces,

menabrak-nabrakkan atau melemparkan mainan,

main gegelutan dengan media boneka/ robot,

Dan seterusnya.

Anak-anak? Seperti itu? Wajar bukan?

Nah itulah… apa masalahnya di saya yang terlalu ‘perfeksionis’ soal cara bermain ya? Pokoknya saya merasa anak seusia Akhtar, bahkan kurang, seharusnya sudah bisa memainkan mainan sesuai peruntukannya. 

Sebagai orangtua, kita juga ga bisa dong terus memaklumi perilaku mereka dengan dalih “Namanya juga anak-anak…”. Toh, mereka sebenarnya bisa diajari kok untuk bermain yang baik dan benar. Justru karena masih anak-anak seharusnya pembiasaan itu dilakukan.

Anak satu tahun melempar, ya wajar, karena mereka ada pada tahap perkembangan itu. Tapi sedikit demi sedikit kan kita bisa mengarahkannya bagaimana bermain yang benar.

Terlebih jika yang dimainkan adalah mainan orang lain. Ada adabnya. Bagaimana adab meminjam, “Boleh pinjam?” Dan tidak memaksa jika tidak dipinjamkan, apalagi mengambilnya tanpa izin. Bagaimana adab memainkannya, tentunya dengan sewajarnya, tidak merusaknya, sehingga mainan dikembalikan tanpa kurang suatu apapun.

Memang kudu selektif memilihkan teman main untuk anak. Untuk balita, maka yang lebih perlu diseleksi justru orangtuanya. Akan lebih menenangkan jika teman balita kita datang dari orangtua yang punya prinsip pengasuhan yang sama dengan kita. 

Playdate Perdana di Rumah Akhtar

2 Comments

20170913

Ini sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, bahkan sejak rumah ini belum bisa ditempati, bahwa kelak saya ingin menjadikan rumah ini salah satunya sebagai tempat aktivitas anak-anak, dalam hal ini Akhtar dan Ahnaf, juga teman-temannya.

Demi merealisasikannya, kemarin saya melakukan ‘langkah kecil’ dengan mengadakan playdate kecil-kecilan di rumah.

Sejak resmi pindah kesini sekira sebulan yang lalu, saya sudah mewacanakannya dengan Teh Uwie (Sabumi) yang orang Cimahi, tapi tak kunjung terealisasi karena satu dan lain hal (intinya mah belum sempet ajah hehe). Pun playdate kemarin, Rabu 13 September 2017, pun sebenarnya terhitung dadakan, karena baru direncanakan matang 2 hari sebelum pelaksanaannya. Kalau saya sebenarnya lebih cocok dengan cara ‘dadak mendadak’ begini untuk playdate… karena kalau direncanakan terlalu dini dan terlalu banyak kepala yang mengusulkan waktu pelaksanaan dan teknis kegiatannya, seringnya malah ga jadi.

Adapun tema playdate yang diusulkan inginnya mulai dari mainan yang basic, misalnya membuat playdough. Namun, berpikir ulang, playdough itu membuatnya pakai bahan makanan (terigu, garam, dan minyak) tapi pada akhirnya dibuang, kan sayang ya… makanya saya berpikir gimana agar anak-anak tetap main dough, namun tidak sampai mubadzir. Akhirnya diputuskanlah untuk membuat kukis coklat.

Hari Ahad, 3 hari jelang playdate, saya dan Akhtar praktik membuat kukis coklat, dengan berbekal resep dari cookpad. Akhtar antusias banget dari mulai membuat adonan, sampai menghias kukis dengan chocochips, hanya saja ia tampaknya ga tertarik memakannya setelah kukis itu matang. Haha… Sebagian besar kukis di toples malah hancur, karena Ahnaf hanya memakan chocochips-nya.

***

IMG-20170913-WA0012

Untuk resep kukis coklatnya, saya coba bagi disini ya…

Kukis Coklat Chocochips

Bahan-bahan:

200 gr Margarin

200 gr Gula halus (kalau saya merasa segini terlalu manis, jadi kurangi aja takarannya)

2 butir kuning telur

2 sdm coklat bubuk

1 sdm maizena

1 sdm susu bubuk

1/4 sdt baking powder

300 gr tepung terigu

50 gr kacang mete ditumbuk halus (di resep aslinya ga ada)

Chocochips secukupnya

Cara membuat:

1. Margarin dan gula halus di-mixer sampai tercampur rata

2. Masukkan kuning telur, mixer

3. Masukkan coklat bubuk, maizena, susu bubuk, BP, mixer

4. Masukkan terigu sedikit demi sedikit, mixer

5. Lanjutkan mengadon dengan tangan jika sudah ga lengket di tangan. Masukkan kacang mete tumbuk. Tambahkan terigu sedikit demi sedikit sambil diadon sampai kalis

6. Cetak, beri chocochips di atasnya

7. Panggang dalam oven 180˚ selama 25 menit.

***

Pada hari H, yang hadir adalah Teh Uwie+Fatih, Teh Rini+Wildan dan Milki, dan Teh Indri+Echa dan Adin. Sedikitan ya? Tapiii tidak sedikit pun mengurangi kemeriahan playdate di rumah, terutama karena ada 3 ‘pemuda’ yang selama playdate tidak berhenti mengeksplorasi semua ruang dan semua mainan, dari mulai bermain-main standar di kamar main sampai memandikan 2 mobil besar di kamar mandi.

Lalu bagaimana dengan agenda bikin kukisnya? Ternyata anak-anak itu hanya bertahan sampai proses mencetak kue, ada yang bahkan hanya bertahan sampai membuat dough. Sisanya lebih banyak emak-emaknya yang mengerjakan. Tak apa lah ya, yang penting semua happy. Anak-anak happy, ibu-ibu pun happy karena bisa ngobrol sagala rupa plus membawa pulang masing-masing setoples kukis.

Rangkaian acara berakhir sampai adzan Ashar berkumandang, molor jauh dari yang direncanakan selesai pada jam makan siang. Ah tapi terlihat tidak ada yang keberatan kok, semuanya menunjukkan wajah lelah yang bahagia :)

Sekian laporan playdate perdana di rumah Akhtar. InsyaAllah kami akan mengadakan playdate-playdate selanjutnya dengan tema-tema memikat lainnya.

‘Sekolah’ Pertama Akhtar

Leave a comment

IMG-20140923-WA0005

Kurang lebih dua bulan terakhir saya bergabung di grup Indonesia Homeschoolers di FB. Homeschooling (HS) sebagai salah satu alternatif pendidikan informal memang menarik minat saya belakangan ini. Saya bergabung di grupnya pun dalam rangka mencari tahu lebih banyak tentang HS dengan belajar langsung dari pengalaman keluarga yang sudah menjalankannya. Terlepas nanti akan dijalankan di keluarga kami atau tidak, menarik sekali bagi saya untuk mempelajari berbagai model pendidikan untuk ditelaah plus dan minusnya sehingga kami dapat menerapkan model terbaik untuk pendidikan anak(-anak) nanti.

Kebetulan seminggu yang lalu, seseorang di grup, yang berdomisili di Bandung, menawarkan rumahnya untuk tempat bermain anak-anak usia s.d 6 tahun, maksimal 10 orang. Saya pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya tak berekspektasi banyak dari kegiatan ini, karena yang konfirm datang ternyata juga belum punya pengalaman HS, namun kesempatan berkenalan dan silaturahim dengan orang-orang baru lah yang membuat saya ‘memaksakan diri’ datang walaupun tempatnya lumayan sulit dijangkau dari Padalarang apalagi saya hanya berangkat berdua dengan Akhtar menggunakan angkutan umum. Alhamdulillah, karena yang punya rumah adalah juga pengusaha pakaian muslim, kami yang datang pun dihadiahi inner jilbab yang harga jual retailnya tak kurang dari 50 ribu. Silaturahim benar-benar membuka pintu rezeki :)

Intinya kegiatan kemarin isinya adalah perkenalan dan adaptasi anak-anak dengan teman-teman barunya. Sembari mengawasi anak-anak bermain, para ibu pun bertukar pikiran tentang pendidikan anak dan keluarga. Kebetulan sekali ada dua orang anak seusia Akhtar, yang sama-sama lahir bulan Juni 2013. Ya walaupun anak-anak ini hanya asyik sendiri dengan mainan-mainannya tapi Akhtar tampak menikmati kegiatannya.

wpid-img-20140923-wa0012.jpg

Menikmati Masa yang Akan Dirindukan

Leave a comment

Akhtar tidak punya banyak mainan di rumah, hanya ada satu kardus ukuran sedang berisi mainan, itu pun lebih banyak mainannya waktu masih bayi. Akhirnya ia lebih suka mengeksplorasi seisi rumah dan memainkan apapun yang menarik baginya daripada memainkan mainannya. Saya membiarkannya, selama tidak membahayakan.

Sering kali saya terkagum-kagum dengan ‘kreativitas’-nya bermain, namun di kala lain saya banyak-banyak beristighfar mengurut dada agar sabar mendapati rumah yang berantakan.

Suatu saat ketika bermain dengan Akhtar, saya tiba-tiba teringat sebuah video pendek yang menceritakan seorang ayah dan anaknya.

Diceritakan, mereka berdua sedang duduk di taman. Si anak yang telah dewasa sedang membaca koran, sementara sang ayah yang sudah renta hanya duduk memerhatikan seekor burung gereja.
Lalu si ayah bertanya, “Burung apa itu?”. Anaknya melihat burung itu sekilas lalu menjawab, “Burung gereja”. Tak lama kemudian si ayah kembali bertanya “Burung apa itu?”. Agak kesal si anak menjawab “Burung gereja”. Lalu si ayah mengajukan lagi pertanyaan yang sama berulang kali, pada akhirnya si anak marah dan membentak ayahnya.

Si ayah lalu beranjak pergi, tak lama kemudian kembali membawa sebuah buku dan menyuruh anaknya membaca halaman tertentu.

Di buku itu tertulis cerita si ayah ketika si anak masih kecil. Si anak baru pertama kali melihat burung gereja dan bertanya berulang kali, “Ayah burung apa itu?”. Ayahnya menjawabnya berulang kali dan memeluk anaknya setiap kali mengajukan pertanyaan yang sama itu.

Endingnya mengharukan, rasanya saat itu juga ingin pulang dan memeluk kedua orangtua saya.

Saya pertama kali melihat video itu sebelum punya anak. Kini, setelah punya anak yang mulai aktif bermain saya jadi paham apa yang dikatakan si ayah dalam buku hariannya itu.

Anak seusia Akhtar sangat senang melakukan hal ‘sederhana’ yang sama berulang-ulang. Dan saya pun harus membantunya berulang-ulang. Bisa satu, dua, tiga, bahkan sepuluh kali atau lebih. Satu, dua, tiga kali saya akan memeluknya bangga dan memujinya, “Hebat!”. Pada hitungan berikutnya, saya lebih banyak harus bersabar menunggui Akhtar bermain tanpa mau ditinggalkan.

Contoh kecilnya, Akhtar sangat suka menutup jendela dari dalam rumah, dan saya harus membukanya kembali agar ia bisa menutupnya lagi, lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Sederhana kan? Tapi untuk permainan sesederhana itu saya harus menunda pekerjaan lain.

Contoh lain, Akhtar sangat suka menutup laci-laci plastik berulang kali, memutar tombol mesin cuci berulang kali, menutup topless berulang kali, dan banyak hal lain berulang kali. Saya? Mau tak mau harus duduk sabar mendampingi Akhtar sambil mengerjakan hal-hal yang sebaliknya.

Tapi… setiap detik momen itu sangat layak untuk dinikmati. Bertahun-tahun dari sekarang, saat-saat ‘membosankan’ itu akan menjadi saat-saat yang sangat dirindukan, kenangan yang tidak bisa diputar kembali, kecuali melalui video atau foto-foto, itu pun kalau sempat diabadikan. Jangankan bertahun-tahun yang akan datang, sekarang pun saya sering memutar video Akhtar yang masih bayi tanpa bosan, berulang kali.

Jadi, nikmati saja. Memang masanya :)

Pelajaran dari Masa Kecil

Leave a comment

Banyak buku parenting dan psikologi anak beredar di pasaran. Satu atau dua-nya pernah saya baca.

Beberapa bahasan kadang hanya saya baca selewat lalu, sehingga ketika sampai pada halaman terakhir, apa yang sudah dibaca di halaman-halaman sebelumnya seperti menguap begitu saja.

Sebenarnya akan lebih mudah diingat jika kita mengaitkan bahasan di buku tersebut dengan kejadian yang pernah kita alami di masa kecil.

Jika ditelusuri, kita pun sangat mungkin menemukan benang merah antara karakter dan sifat kita saat ini dengan cara orangtua mendidik kita di masa kecil.

Ada beberapa kejadian spesifik di masa lalu yang saya ingat hingga saat ini. Kejadian-kejadian ini saya simpulkan sebagai ‘kesalahan’ komunikasi orang-orang dewasa kepada anak-anak.

Peribahasa “Pengalaman adalah guru yang terbaik” menjadi relevan dikaitkan dengan tulisan ini. Kejadian-kejadian itu menjadi sedikit bekal bagi saya untuk belajar berkomunikasi yang baik dengan anak-anak.

Kejadian 1

Waktu itu mungkin saya masih TK atau SD kelas 1 (lupa…). Mamah tidak shalat karena sedang menstruasi, sementara saya tidak pernah melihat Bapa tidak shalat karena alasan yang sama.
Lalu saya bertanya, “Laki-laki mensnya kapan?”
Sambil lalu Mamah menjawab, “Kalau laki-laki mah mencret.”
Saya menganggap jawaban itu sebagai kebenaran dan menyimpannya dalam memori selama bertahun-tahun.

Benar, anak-anak itu sangat polos. Daripada becanda dengan menyampaikan fakta yang tidak benar lebih baik memberi penjelasan ringan yang bisa dipahami.

Kejadian 2

Waktu itu masih usia SD atau TK (lupa…). Di rumah seorang saudara orang-orang sedang riweuh menyiapkan masakan untuk acara hajatan. Saya dan sepupu-sepupu bermain-main dengan ceria. Karena orang dewasa merasa terganggu, saya yang menaiki sandaran sofa ditegur, “Ngga ah ngga lucu… Ngga lucu…” dengan intonasi yang terdengar pura-pura marah.
Seketika saya terdiam, sakit hati dan ingin menangis.
Seharusnya ada cara lain untuk menegur kan? Saya merasa kata “Ngga lucu… Ngga lucu…” itu lumayan mematahkan kreativitas dalam bermain.

Kejadian 3

Waktu itu seseorang pernah bertanya, “Cita-citanya mau jadi apa?”
Saya jawab, “Guru TK”
Si penanya malah mempertanyakan, tanpa memberi saya kesempatan menjelaskan, “Kok cuma guru TK? Yang lain dong”. Padahal maksud saya adalah saya mengajar di TK yang saya dirikan sendiri. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi menyebut guru TK sebagai cita-cita, walaupun dalam hati terbayang-bayang memiliki TK sendiri, dengan banyak mainan disana-sini.

Jadi… jangan mematahkan cita-cita anak. Seringkali anak-anak hanya butuh didengarkan. Akan lebih baik jika si penanya bertanya, “Mengapa ingin jadi guru TK?”. Ya kan?

Kejadian 4

Waktu itu malam hari, listrik di rumah sedang mati. Saya, kakak, adik, dan Mamah berkumpul di ruang tengah sambil bercerita-cerita. Ngobrol-ngobrol-ngobrol, lalu saya berimajinasi pergi ke kota sendirian naik kendaraan umum. Waktu tempuh ke Kota dari tempat tinggal kami waktu itu sekitar 1 jam. Cukup jauh untuk seorang anak kelas 1 SD bepergian sendiri, walaupun hanya dalam imajinasi.
Alih-alih mendukung, Mamah menakut-nakuti tentang tersesat di kota, ngga bisa pulang, lalu menggelandang jadi anak jalanan.
Semalaman itu saya jadi sulit tertidur, bahkan rewel dan menangis karena membayangkan jadi gelandangan.

Seperti anak-anak lain pada umumnya, masa kecil saya pun diwarnai berbagai imajinasi. Kadang orang dewasa lupa pernah jadi anak kecil yang suka berimajinasi juga, sehingga secara tak sadar mematahkan imajinasi anak-anak karena menganggapnya mustahil.

Kejadian 5

Waktu itu mungkin saya masih kelas 3 atau 4 SD, adik saya masih TK.
Sore itu saya mengajak adik ikut ke rumah guru untuk mengerjakan PR.
Kebetulan guru itu punya anak batita. Di ruang depan rumah guru terpajang sebuah wayang. Adik mengubah-ubah suaranya lalu mengajak ngobrol si anak guru dengan memainkan wayang itu.
Adik beberapa kali mengucapkan kata ‘silaing’, dalam bahasa Indonesia artinya ‘kamu’, yang sering dia dengar dari dalang sungguhan jika sedang memainkan wayang. Dan si guru serta merta menegur, “Jangan bicara kasar ya, nanti diikutin sama adiknya”
Adik saya tampak tidak enak hati, lalu tiba-tiba terdiam sampai waktu pulang.
Saya sebagai kakaknya sebenarnya tersinggung, karena saya tahu betul adik saya tidak pernah berkata kasar di rumah. Lagipula dia menggunakan kata yang dianggap kasar itu karena dia sedang bermain peran sebagai wayang.
Saya merasa seharusnya sebagai guru, si ibu guru tersebut punya cara yang lebih baik untuk menegur adik saya.

Kejadian 6

Saya agak lupa kejadiannya saat pelajaran agama di sekolah atau saat mengaji sore di masjid dekat rumah. Yang saya ingat waktu itu guru sedang menjelaskan shalat 5 waktu. Hanya saja saya merasa beliau memilih kata-kata yang tidak tepat dengan mengatakan (kurang lebih) begini, “Kalau belum bisa mengerjakan 5 waktu, kerjakan 3 waktu aja udah bagus”.
Saya menangkap itu sebagai ‘keringanan’, bahwa shalat 3 waktu sudah cukup. Itu pun yang menjadi excuse bagi saya ketika dulu sering belang betong shalatnya.

Apa jadinya kalau sampai sekarang saya nggak dapat pencerahan? Bisa-bisa saya dikira sesat… ckckck…

Kejadian 7

Waktu kelas 1 atau kelas 2 SD saya dan beberapa teman pernah kabur dari kelas karena melihat mobil puskesmas masuk halaman parkir sekolah. Kami takut karena takut disuntik.

Usia sebelum TK, mungkin masih 3 tahun, saya sangat ketakutan setiap pergi ke rumah seorang saudara karena harus melewati komplek tentara yang ada pos jaganya dengan sejumlah tentara berjaga-jaga sambil menenteng senjata.
Saya sembunyi di balik punggung Mamah karena takut ditembak.

dst… dst…

Familiar dengan situasi seperti itu? Sudah saatnya anak sekarang tidak ditakut-takuti dengan sosok dokter, tentara, polisi, hantu, bahkan orang gila.

Kejadian-kejadian lain … hmm … Nanti saya ingat-ingat lagi.

Teringat salah satu renungan di sebuah buku parenting, bahwa anak-anak kita akan hidup pada jaman yang berbeda dengan kita, maka didiklah anak sesuai jamannya. Artinya, cara orangtua mendidik kita dulu belum tentu cocok jika diterapkan pada anak-anak kita sekarang. Maka dari itu, sebagai orangtua mesti terus meng-upgrade diri, dan yang terpenting membekali anak-anak dengan ilmu agama yang sudah terbukti tak lekang oleh pergantian jaman.

Older Entries