Baking Class : Nge-CizZ di Rumah Teh Ais

Leave a comment

Ada lah salah satu member Sabumi, Teh Kalista a.k.a Teh Ais, yang bakulan kue dengan brand Veilcakes (cek IG-nya ya Sis @veilcakes_bdg) bersedia meluangkan waktunya yang berharga untuk mengajari para ibu yang haus ilmu membuat kue yang endes banget.

Awalnya kelas ini akan dibuka untuk member.. tapiiii karena kuota terbatas hanya untuk 10 orang, dan begitu ditawarkan ke Pengurus banyak yang berminat, maka kelas dibuka khusus untuk Pengurus, dengan syarat para peserta baking class harus bersedia berbagi ilmu bakingnya ke member lain di wilayahnya. 

Dan disepakatilah tanggal 12 Oktober 2017 sebagai hari eksekusi. Namun menjelang hari-H, kami mendapat kabar tentang demo para sopir angkot perihal transportasi online, yang mana mereka akan berhenti beroperasi selama tiga hari, khawatir juga akan menjadi kendala mobilitas emak-emak yang rata-rata angkoters, gocarers, dan grabers ini. 

Lah, pada kenyataannya, mereka batal demo pada hari itu, sementara kami sudah menyepakati tanggal yang lain, yaitu tanggal 17 Oktober 2017, hari Selasa.

*

Isu demo sopir angkot masih berhembus, plus driver transportasi online juga katanya mau ikutan demo, namun hari Selasa itu kami memantapkan langkah untuk tetap melaksanakan baking class di kediaman Teh Kalista ‘Ais’ yang terletak di Jalan Cisitu Indah VI. 

Perjuangan banget ya untuk sampai ke rumahnya. Kalau saya, sebagai roker (rombongan kereta, pen) sejati, dari Stasiun Bandung harus sambung, alhamdulillah, hanya satu kali angkot ke arah Cisitu. Naik aja… dan tunggu si angkot berhenti di pemberhentian terakhir di sekitar Jalan Cisitu Indah IV. 

Setelah itu, dengan mengandalkan GPS, saya dan Akhtar pun berjalan kaki menuju tujuan yang ternyata lumayan jauh juga. Hitung-hitung olahraga, batin saya menghibur diri. 

Alhamdulillah kami sampai di rumah Teh Ais sebelum jam 10. Sempat salah mengambil jalan juga, alhamdulillah berpapasan sama Teh Dyah yang tampak sedang menelepon meminta petunjuk jalan.

Walaupun dijadwalkan mulai jam 10, pada kenyataannya kami baru mulai jam 10.30. Teh Ais membagikan salinan resep kue (hanya nama bahan dan takarannya), sementara langkah-langkah membuatnya disampaikan sambil kami praktik.

Hari itu kami akan membuat “Molten Cheesetarts” dan “Blueberry Cheesecake Tartletts”. Dari namanya saja sudah kebayang lezatnya kue ini. Apalagi Teh Ais memberi kami resep premium yang telah melalui bebebebeberapa kali percobaan, sementara kami mendapatkannya cuma-cuma dalam satu kali pertemuan. Maka, tidak ingin kehilangan kesempatan belajar baking langsung dari ahlinya, kami bersiap dengan alat tulis masing-masing, mencatat langkah-langkah pembuatan dan tips-tipsnya, termasuk merek bahannya.

Berikut saya coba uraikan resep dan langkah membuatnya ya… 

Ada 3 resep yang kami coba:

1. Cheese custard untuk isian molten cheesetarts

2. Pate sucree, apa ya istilah bahasa Indonesianya? Hehe.. bahkan cara mengucapkannya dengan betul pun saya ga tau.. huhu, gagal menyimak nih pas bagian ini. Intinya ini tuh pastrynya gitu. Kalau tampak di foto seperti kulit pie ya, karena menggunakan cetakan pie. Tapi percaya deh, yang ini lebih enak daripada kulit pie yang biasa saya makan, bener-bener premium.

3. Simple cheesecake batter untuk isian blueberry cheesecake tartletts.

*

Cheese Custard

Pertama, kami membuat cheese custard, satu resep bisa untuk 36 cup ukuran hmm.. diameter 5 cm kali ya, ngira-ngira aja ini mah sambil liat penggaris hehe. Bahan-bahannya sbb:

300 gr cream cheese

60 gr cheddar cheese (kami pakai yang quickmelt)

300 ml milk (kami pakai UHT)

80 gr butter

60 gr sugar (gula pasir yang halus cocok untuk kue)

25 gr cornstarch (maizena)

2 eggs

1 tsp vanilla (pasta)

2 tbs lemon juice

Cara membuatnya:

1. Creamcheese, cheddar cheese, milk, butter, sugar dipanaskan dengan teknik au bain marie, alias ditim. Caranya dengan menggunakan panci berisi air yang dididihkan terlebih dahulu, lalu bahan-bahan dicampurkan di wadah yang lebih besar daripada panci, letakkan wadah berisi bahan-bahan diatas panci berisi air. Ditim sambil didiaduk-aduk sampai semua bahan tercampur.

2. Campurkan telur, yang sudah dikocok di wadah terpisah, ke dalam bahan-bahan yang ditim, aduk.

3. Masukkan maizena yang sudah terlebih dahulu dilarutkan dengan sedikit susu UHT. Aduk terus agar tidak menggumpal, sampai mengental.

4. Angkat dari kompor. Masukkan pasta vanilla dan perasan lemon. Cicipi. Bisa ditambahkan gula pasir lalu aduk lagi sampai larut jika kurang manis.

5. Masukkan ke dalam plastik segitiga/ piping bag, biarkan hangat, lalu dinginkan di dalam lemari pendingin. 

*

Pate Sucree

Karena prosesnya yang cukup lama (harus dua kali masuk lemari pendingin), Teh Ais sehari sebelumnya sudah membuat puluhan pastry, dan hari itu kami membuat sisanya yang dibutuhkan.

Adapun resepnya adalah sebagai berikut (satu resep untuk 15 pastry) 

1 egg yolk

1 tbs milk

1/2 tsp vanilla

200 gr flour

50 gr icing sugar

1/2 tsp salt

100 gr cold butter

Cara membuatnya:

1. Campur egg yolk, milk, vanilla

2. Di wadah terpisah campur flour, icing sugar, salt, dan cold butter potong dadu (cold butter baru keluar dari lemari es)

3. Bahan campuran di poin 2 dimikser dengan pengaduk khusus, katanya kalau pakai mikser biasa khawatir rusak mesinnya. Kalau ngga ada, gunakan pastry cutter. Dimikser sampai teksturnya seperti pasir.

4. Masukkan bahan campuran di poin 1 dengan bahan campuran 2, diaduk dengan tangan sampai kalis. Masukkan ke dalam plastik, masukkan ke dalam lemari es kurang lebih 1 jam.

Sementara menunggu, kami istirahat makan siang dulu dan shalat dzuhur.

Penyelesaian:

1. Timbang adonan per 20 gr, caranya adonan dibulat-bulatkan terlebih dahulu lalu ratakan di cetakan pie. Cetakan ga usah dioles-oles mentega dulu.

2. Jika sudah, masukkan di freezer sampai keras

3. Nah ini yang menarik, sebelum dioven, adonan dalam cetakan pie diberi pemberat berupa kertas kue/ papercup yang diisi kurang lebih sesendok beras. Tujuannya biar ga ngembang ke atas. Kebayang sih, waktu saya pertama kali bikin kue pie, adonan mengembang sampai memenuhi cetakan pie.

4. Oven 180/ 170 dercel sampai kecoklatan. Pemberat bisa diambil saat adonan masih setengah matang.

*

Simple Cheesecake Batter

Bahan-bahannya:

200 gr cream cheese, ditim sebentaaar aja sampai lembut

50 gr icing sugar

1 tsp vanilla

1 medium egg

Cara membuat:

1. Cream cheese yang sudah ditim campur dengan icing sugar, gunakan mikser.

2. Masukkan vanilla dan egg, dimikser jangan terlalu lama, jangan sampai terlalu encer.

3. Masukkan ke dalam piping bag.

*

Nah yang terakhir adalah penyelesaian. 

Siapkan pastry yang sudah matang tadi. Kita bikin 2 bentuk pastry. Ada yg pinggirannya bergelombang khas kue pie gitu, yang ini untuk blueberry cheesecake tartletts. Ada yang pinggirannya rata, mencetaknya di dalam loyang muffin lalu ditekan menggunakan alat kayu entah-namanya-itu. Hasil akhirnya kayak mangkuk gitu, bentuk yang ini digunakan untuk molten cheesetart. Ini mah sih untuk variasi aja. Mau dua-duanya dibikin pake cetakan pie pun ga masalah.

Untuk blueberry cheesecake tartletts, kita siapin juga selai blueberry (kami pakai merek paletta) dan filling coklat (kami pakai merek tulip). 

Untuk isian blueberry: Pertama-tama isikan selai blueberry secukupnya, lalu isikan cheesecake batter sampai memenuhi kulit pastry. Dengan bantuan tusuk gigi kita hias bagian atasnya dengan cheesecake batter yg diberi pewarna ungu. Teknik ngehiasnya yang jelas susah dijelaskan dengan kata-kata hehe. Pokoknya begitu.

Untuk isian coklat, lakukan yang sama seperti isian blueberry, yakni: isikan coklat filling, lalu cheesecake batter, hias atasnya dengan coklat coverture (lempengan coklat bentuk bulat kecil-kecil).

Oven sampai permukaan cheesecake batter-nya ga nempel ketik disentuh.

Untuk penyelesaian molten cheesetarts:

Isikan cheese custard pada kulit tart, oles dengan kuning telur (campuran kuning telur+sedikit susu UHT), panggang sebentar dengan api atas untuk mendapatkan efek terbakar.

Selesai deh…

Kata Teh Ais sih molten cheesetart ini nikmat dimakan hangat, sementara blueberry cheesecake enak dimakan dingin. Bagi saya, ga ada bedanya, hangat maupun dingin, tetap enaaaaak banget.

Sampai azan ashar berkumandang, kami masih berkutat di dapur Teh Ais.. tinggal menunggu kue-kue itu keluar dari oven. 

Keseluruhannya selesai kurang lebih jam 16.00. Kue hasil praktik dibagi untuk sembilan orang, masing-masing mendapat 9 buah, belum lagi ada beberapa yang dicicipi bersama-sama disana. Alhamdulillah puas banget… untuk ganti bahan, kami hanya membayar Rp 30.000. Kursus baking mana coba yang cuma bayar 30 rebu? Dijamin ga ada!

Terakhir… acara wajibnya adalah foto-foto dan penyerahan bingkisan dari Sabumi untuk Teh Ais.

*

Selesai?

Baking class selesai… 

Sementara hari itu saya dan Akhtar baru sampai rumah jam setengah 9 karena kereta yang harusnya berangkat jam 17.44, baru datang ke Stasiun Bandung 2 jam kemudian. :(

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal…

Advertisements

(Bukan) Mesin Cuci Otomatis

Leave a comment

Jadi…

Gadget pertama yang saya prioritaskan untuk miliki ketika mulai tinggal bersama-sama suami (sebelumnya kami kost masing-masing) adalah mesin cuci. Dan pilihan kami jatuh pada mesin cuci otomatis front loading ini, dengan bayangan indah… “Nanti tinggal masukin cucian, tekan tombol, ditinggal masak, ditinggal boci, ditinggal jalan-jalan, dan… tadaaaa… pakaian pun bersih siap jemur”

Mesin cuci ini tepatnya dibeli sekira dua minggu sebelum Akhtar lahir. 

Namun… sebagai yang NGGA berpengalaman membeli mesin cuci otomatis sebelumnya, ada hal-hal PENTING yang luput dari pertimbangan kami, sehingga bayangan indah hanya angan-angan heuheu…

1. Mesin cuci otomatis butuh aliran air yang deras dan tekanan kuat

Maka… pada awal pengoperasiannya di rumah Jember, saya mengeluh karena mesin cuci tidak bekerja seperti yang dibayangkan. Seringkali si mesin berhenti di tengah-tengah proses mencuci, kadang bisa mencuci sampai selesai tapi lamanyaaaaa minta ampun. 

Ya jelas… tekanan air di rumah lemah. Tidak cocok untuk mesin cuci kami. Pada akhirnya, beberapa bulan terakhir di Jember kami harus menitipkan cucian di tukang laundry. Hiks banget ga sih…

2. Seharusnya ada satu keran khusus untuk memasang selang mesin cuci, jadi selang inlet tidak lepas pasang terus menerus

Sebenarnya bisa kok selang inlet ini dipasang hanya ketika mencuci, lalu dicabut lagi ketika selesai mencuci, tapi masalahnya (bodohnya kamiii…) kami ga ngeh bahwa selang itu tidak mesti dilepas bautnya setiap kali dilepas dari keran, cukup lepaskan tautannya.. ah ngerti kan ya maksudnya?

Enam bulan bersama si mesin cuci di Jember, akhirnya kami pindah ke Pasuruan. Alhamdulillah tidak ada masalah lagi dengan aliran air disana… hanya saja… hanya ada 1 keran yang memungkinkan untuk disambungkan dengan mesin cuci, dan itu letaknya di kamar mandi, jadi mau tidak mau si selang harus selalu dilepaspasang tiap kami menggunakan kamar mandi. 

Sekali dua kali ga masalah, lama-lama selang mesin yang terhubung ke keran longgar juga dan air tidak bisa masuk dengan sempurna, lebih banyak air yang terbuang. 

Alhasil… mesin tetap bekerja, di saat bersamaan kami pun banyak membuang air. Heuheu…

3. Mesin cuci ini tidak cocok buat yang sering pindahan

That’s why… mesin ini berat bangeeeedd… karena dia ditujukan untuk menetap di satu lokasi saja.

Sementara kami… dalam kurun 5 tahun, sudah 5 kali mesin ini diangkutpindahkan. 

Masalah muncul ketika kami memindahkan mesin dari Padalarang ke kontrakan Pasar Minggu, si mesin tiba-tiba tidak mau berputar, setelah memanggil tukang servis, ternyata masalahnya hanya karena ada kabel yang bergeser/ berubah posisi bla bla bla. Dan masalah kembali muncul ketika mesin ini dipindahkan dari rumah Abah ke rumah Akhtar, padahal ‘hanya’ dibawa nyeberang jalan aja beberapa puluh meter.

Kini…

Mesin cuci ini teronggok di pojok ruangan dekat kamar mandi… 

Sudah 2 kali memanggil tukang servis, katanya harus diganti water levelnya, yaitu sensor untuk mengatur jumlah air yang masuk ke dalam mesin cuci, sementara saya menunda untuk memperbaikinya, dan bertahan dengan mesin cuci (tidak) otomatis ini. Lucu… karena saya harus memasukkan air secara manual dengan gayung lewat wadah untuk memasukkan sabun cuci agar mesin tetap berputar.

Lama-lama hayati lelah… jadi sudah beberapa hari ini saya berhenti menggunakannya dan menitipkan cucian ke rumah Abahnya anak-anak. Karena jika tetap menggunakan mesin ini: 

– durasinya jadi lebih lama… bisa sampai 2 jam bahkan lebih baru selesai… listrik oh listrik, kami jadi lebih sering mengisi pulsa listrik

– belum tentu bersih. Karena setelah berjam-jam mencuci dengan air yang tidak memadai itu, saya biasanya tes salah satu baju dengan menguceknya di dalam ember, daann.. masih bersabun

– lebih cepat merusak pakaian, karena terlalu lama diputar di dalam mesin.

Opsinya sekarang…

– Ganti mesin cuci >> tapi nunggu ada budget dulu

– Memanggil kembali tukang servis dan mengganti water levelnya >> iya kalau masalahnya disitu, kalau ngga? 

– Menitipkan cucian di rumah Abah

– Mengangkut mesin cuci dari rumah Abah yang sebenarnya punya kami juga, yang kami beli waktu ngontrak di Ciledug.

– Bersabar >> paling penting ya ini… jangan banyak mengeluh dan berusaha menikmati episode drama si mesin cuci ini.. eaa.. 

Mengandung Curhat

Leave a comment

Yep, postingan kali ini mengandung curhat tentang mengandung anak ketiga. 

Hamil ketiga ga ketauan awal mulanya. Pokoknya suatu hari di usia Ahnaf yang ke 15 bulan, saya haid untuk yang pertama kalinya sejak melahirkan. Tidak tahu persis tanggalnya. Makanya saya ga pernah bisa jawab setiap ditanya HPHT. Setelah itu ga pernah haid lagi, dan saya ga berpikir akan kemungkinan hamil lagi. Karena sebelumnya sudah terlalu lama ga haid (9 bulan hamil Ahnaf+15 bulan setelah melahirkan), jadi saya ga begitu ngeh tentang kapan seharusnya haid bulan berikutnya.

Singkat cerita, memasuki bulan Syaban, menjelang Ramadhan, saya merasakan badan terasa lebih cepat lelah, sering merasa pusing, dan sedikit mual. Kenapa saya pakai patokan bulan hijriyah? Karena saya ingat, awal puasa Ramadhan waktu itu terasa berat buat saya. Tak lama dari mulai sering merasa pusing dan mual itu, masuklah bulan Ramadhan, dan hampir setiap hari saya merasa lemaassss… maunya tiduran terus, apalagi di siang hari yang panas. Untuk beranjak sholat pun kadang-kadang merasa susah menegakkan badan.

Sebetulnya saya sempat menyampaikan ke suami sebelum Ramadhan, “Jangan-jangan hamil lagi…” karena waktu itu sudah jalan dua minggu selalu merasa mual setiap hari. Namun, saya berusaha mengabaikannya… tidak pula penasaran untuk segera membeli testpack.

Di pekan kedua Ramadhan, akhirnya saya memutuskan menggunakan testpack. Alasannya… karena saya merasa ga sanggup puasa, dan ingin mengambil keringanan beberapa hari untuk ga puasa, tapi harus dipastikan dulu, rukhsah itu diambil dalam rangka apa? Kalau memang hamil, kan saya bisa ambil keringanan tidak puasa karena hamil.

Seperti yang sudah diduga, hasilnya memang positif, dan keesokan harinya saya tidak puasa sampai 7 hari berikutnya. Ketika merasa tubuh sudah cukup fit, saya kembali berpuasa di pekan terakhir Ramadhan.

Pertama kali periksa…

Pertama kali periksa ke bidan dekat kontrakan di Ciledug, mungkin hampir 2 bulan setelah testpack, di usia kehamilan yang mungkin memasuki 3 bulanHal yang mustahil dilakukan jika ini hamil pertama haha.

Saya ingat, hamil Akhtar dulu, 2 minggu telat haid, saya langsung testpack, dan keesokan harinya langsung ke dokter, yang mana janin pun katanya ‘belum turun’, tidak tampak di layar USG.

Dan hamil Ahnaf, walaupun lebih cuek dari hamil pertama, saya masih telaten ke dokter setiap bulan, walaupun sudah ga disiplin mengonsumsi vitamin.

Reaksi pertama bidan waktu itu, “Hah.. kamu ga KB?” Matanya terbelalak sambil melihat ke arah Ahnaf yang berlari-lari di ruang tunggu. 

Iya.. iya.. saya ga KB. So what gitu lho? Saya jawab dalam hati.

Setelah periksa dan ngobrol sedikit tentang ina inu.. kami pun pulang, membawa vitamin untuk 30 hari ke depan, yang mana vitamin itu pun ga habis saya makan sampai sekarang.

Periksa kedua…

Saya baru periksa lagi sepekan yang lalu di RS Hermina Pasteur, 3 bulan dari periksa pertama. Hari itu, hari terakhir di tahun 1439 H. Suami sengaja mengambil cuti 1 hari agar bisa mengantar ke dokter. 

Kami berangkat tanpa tahu akan ke dokter siapa. Pokoknya ke siapapun yang praktik hari itu, karena tujuannya ingin melakukan USG agar diketahui perkiraan usia kandungan dan penampakan janin dalam rahim.. hihi.. kasian belum pernah dilihat sama sekali.

Dapatlah seorang dokter perempuan yang praktik jam 2 siang. Dan dia terkaget-kaget karena tidak mendapati histori pemeriksaan kehamilan pada buku periksa saya. Lebih kaget lagi karena mengetahui sejak hamil baru 1 kali periksa ke bidan. 

Di awal, beliau malah seakan ga percaya kalau saya hamil, dengan melontarkan pertanyaan, “Selama 5 bulan ini ga haid?”. Dweng! Saya beralasan, baru bisa periksa karena suami di luar kota, jadi ga ada yang nganter ke dokter. Padahal tentu saja alasan sebenarnya lebih dari itu. Hehe.
“Ga KB ya?”. Pertanyaan itu lagi. Saya hanya mengiyakan pelan. “Oh.. pantes”, timpalnya.

Pemeriksaan dilakukan cukup lama, dokter mengukur beberapa anggota tubuh janin untuk memperkirakan dengan lebih tepat berapa usia janin. Dan di akhir pemeriksaan, beliau menyimpulkan usia kandungan adalah 22 weeks. Yang mana 40 weeksnya akan jatuh pada 23 Januari 2018. 

Ketika beliau hendak meresepkan vitamin, saya bilang masih ada vitamin dari bidan. 

Pertanyaan dan pernyataan yang membuat tak nyaman

Hamil ketiga dengan jarak yang tidak terlalu jauh dengan anak kedua, menimbulkan reaksi beragam dari orang-orang. Umumnya, mereka akan terlihat kaget dan menyimpulkan ini sebagai ‘kebobolan’. 

Qadarullah…

Walaupun sudah menjalankan program ‘KB alami’, kalau Allah berkehendak, ya hamil juga kan? Sebaliknya, yang ber-KB pun belum tentu ‘bebas’ dari kemungkinan hamil. 

Lagi pula tidak ber-KB adalah pilihan saya, karena saya merasa tidak nyaman ada benda asing masuk ke dalam tubuh saya dengan cara yang saya kira tidak nyaman juga – cat: orang-orang menyarankan KB dengan spiral-

Adapun KB dengan cara lain (KB hormonal) punya efek samping lebih banyak pada tubuh.

Saya merasa tidak nyaman ketika orang-orang terkesan menyalahkan saya karena saya ga ber-KB, lalu hamil. Itu ga perlu, karena…

  • Walaupun belum merencanakan untuk memiliki anak ketiga, namun saya bahagia menjalani kehamilannya, bahagia membayangkan akan ada anggota keluarga baru di rumah kami. 
  • Bagaimanapun kondisi kehamilannya, direncanakan atau tidak, hal yang harus pertama kali diekspresikan adalah rasa syukur, bukan menyalahkan si ibu. Bersyukur karena Allah masih percaya menitipkan satu anak lagi pada keluarga kami. 
  • KB itu pilihan. KB itu bukan satu-satunya penentu penunda kehamilan. Kalau si ibu tidak memilih ber-KB, maka hargailah keputusannya.

Yeah, itu sekelumit tentang KB. 

Ada lagi pertanyaan yang bikin saya ga nyaman.

“Kalau anaknya cowok lagi gimana?”

Gubraks!

Emang kenapa kalau anak saya cowok lagi? Situ ada urusan apa? Kasarnya sih pengen jawab gitu haha…

Orang kadang suka mengekspresikan sesuatu yang tidak perlu. Seperti ketika saya melahirkan Ahnaf. Ada aja komentar seakan menyesalkan, “Cowok lagi ya… ayo coba lagi”. Seolah-olah mereka lebih tahu yang terbaik daripada Yang Menakdirkan. Padahal kami tidak ada masalah dengan itu. Yang saya bayangkan sejak mengetahui anak kedua kemungkinan laki-laki lagi justru, “Wah menyenangkan ya ada 2 anak seperti Akhtar di rumah ini”.

Pun untuk anak ketiga ini pun saya tidak berharap akan terlahir laki-laki atau perempuan. Sama aja. Asalkan sehat. 

Minta kepada Allah agar diberikan anak dengan jenis kelamin tertentu pun sesekali saya lakukan. Ya, saya berdoa diberi anak perempuan. Namun, ketika nanti terlahir laki-laki pun, kebahagiaan saya tidak akan berkurang. Alhamdulillah… Alhamdulillah… berarti kami dipercaya menyiapkan satu lagi calon suami shaleh dari rumah ini.



Destruktif

Leave a comment

Kadang suka agak sulit memaklumi anak-anak (seumuran, lebih tua, atau lebih muda dari Akhtar) yang perilaku bermainnya bersifat ‘destruktif’. Emm, entah tepat kah saya menggunakan kata ini. 

Destruktif yang saya maksud disini… misalnya: 

menghancurkan mainan balok susun yang telah rapi, 

melempar-lemparkan kepingan puzzle sampai hilang beberapa pieces,

menabrak-nabrakkan atau melemparkan mainan,

main gegelutan dengan media boneka/ robot,

Dan seterusnya.

Anak-anak? Seperti itu? Wajar bukan?

Nah itulah… apa masalahnya di saya yang terlalu ‘perfeksionis’ soal cara bermain ya? Pokoknya saya merasa anak seusia Akhtar, bahkan kurang, seharusnya sudah bisa memainkan mainan sesuai peruntukannya. 

Sebagai orangtua, kita juga ga bisa dong terus memaklumi perilaku mereka dengan dalih “Namanya juga anak-anak…”. Toh, mereka sebenarnya bisa diajari kok untuk bermain yang baik dan benar. Justru karena masih anak-anak seharusnya pembiasaan itu dilakukan.

Anak satu tahun melempar, ya wajar, karena mereka ada pada tahap perkembangan itu. Tapi sedikit demi sedikit kan kita bisa mengarahkannya bagaimana bermain yang benar.

Terlebih jika yang dimainkan adalah mainan orang lain. Ada adabnya. Bagaimana adab meminjam, “Boleh pinjam?” Dan tidak memaksa jika tidak dipinjamkan, apalagi mengambilnya tanpa izin. Bagaimana adab memainkannya, tentunya dengan sewajarnya, tidak merusaknya, sehingga mainan dikembalikan tanpa kurang suatu apapun.

Memang kudu selektif memilihkan teman main untuk anak. Untuk balita, maka yang lebih perlu diseleksi justru orangtuanya. Akan lebih menenangkan jika teman balita kita datang dari orangtua yang punya prinsip pengasuhan yang sama dengan kita. 

Playdate Perdana di Rumah Akhtar

2 Comments

20170913

Ini sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, bahkan sejak rumah ini belum bisa ditempati, bahwa kelak saya ingin menjadikan rumah ini salah satunya sebagai tempat aktivitas anak-anak, dalam hal ini Akhtar dan Ahnaf, juga teman-temannya.

Demi merealisasikannya, kemarin saya melakukan ‘langkah kecil’ dengan mengadakan playdate kecil-kecilan di rumah.

Sejak resmi pindah kesini sekira sebulan yang lalu, saya sudah mewacanakannya dengan Teh Uwie (Sabumi) yang orang Cimahi, tapi tak kunjung terealisasi karena satu dan lain hal (intinya mah belum sempet ajah hehe). Pun playdate kemarin, Rabu 13 September 2017, pun sebenarnya terhitung dadakan, karena baru direncanakan matang 2 hari sebelum pelaksanaannya. Kalau saya sebenarnya lebih cocok dengan cara ‘dadak mendadak’ begini untuk playdate… karena kalau direncanakan terlalu dini dan terlalu banyak kepala yang mengusulkan waktu pelaksanaan dan teknis kegiatannya, seringnya malah ga jadi.

Adapun tema playdate yang diusulkan inginnya mulai dari mainan yang basic, misalnya membuat playdough. Namun, berpikir ulang, playdough itu membuatnya pakai bahan makanan (terigu, garam, dan minyak) tapi pada akhirnya dibuang, kan sayang ya… makanya saya berpikir gimana agar anak-anak tetap main dough, namun tidak sampai mubadzir. Akhirnya diputuskanlah untuk membuat kukis coklat.

Hari Ahad, 3 hari jelang playdate, saya dan Akhtar praktik membuat kukis coklat, dengan berbekal resep dari cookpad. Akhtar antusias banget dari mulai membuat adonan, sampai menghias kukis dengan chocochips, hanya saja ia tampaknya ga tertarik memakannya setelah kukis itu matang. Haha… Sebagian besar kukis di toples malah hancur, karena Ahnaf hanya memakan chocochips-nya.

***

IMG-20170913-WA0012

Untuk resep kukis coklatnya, saya coba bagi disini ya…

Kukis Coklat Chocochips

Bahan-bahan:

200 gr Margarin

200 gr Gula halus (kalau saya merasa segini terlalu manis, jadi kurangi aja takarannya)

2 butir kuning telur

2 sdm coklat bubuk

1 sdm maizena

1 sdm susu bubuk

1/4 sdt baking powder

300 gr tepung terigu

50 gr kacang mete ditumbuk halus (di resep aslinya ga ada)

Chocochips secukupnya

Cara membuat:

1. Margarin dan gula halus di-mixer sampai tercampur rata

2. Masukkan kuning telur, mixer

3. Masukkan coklat bubuk, maizena, susu bubuk, BP, mixer

4. Masukkan terigu sedikit demi sedikit, mixer

5. Lanjutkan mengadon dengan tangan jika sudah ga lengket di tangan. Masukkan kacang mete tumbuk. Tambahkan terigu sedikit demi sedikit sambil diadon sampai kalis

6. Cetak, beri chocochips di atasnya

7. Panggang dalam oven 180˚ selama 25 menit.

***

Pada hari H, yang hadir adalah Teh Uwie+Fatih, Teh Rini+Wildan dan Milki, dan Teh Indri+Echa dan Adin. Sedikitan ya? Tapiii tidak sedikit pun mengurangi kemeriahan playdate di rumah, terutama karena ada 3 ‘pemuda’ yang selama playdate tidak berhenti mengeksplorasi semua ruang dan semua mainan, dari mulai bermain-main standar di kamar main sampai memandikan 2 mobil besar di kamar mandi.

Lalu bagaimana dengan agenda bikin kukisnya? Ternyata anak-anak itu hanya bertahan sampai proses mencetak kue, ada yang bahkan hanya bertahan sampai membuat dough. Sisanya lebih banyak emak-emaknya yang mengerjakan. Tak apa lah ya, yang penting semua happy. Anak-anak happy, ibu-ibu pun happy karena bisa ngobrol sagala rupa plus membawa pulang masing-masing setoples kukis.

Rangkaian acara berakhir sampai adzan Ashar berkumandang, molor jauh dari yang direncanakan selesai pada jam makan siang. Ah tapi terlihat tidak ada yang keberatan kok, semuanya menunjukkan wajah lelah yang bahagia :)

Sekian laporan playdate perdana di rumah Akhtar. InsyaAllah kami akan mengadakan playdate-playdate selanjutnya dengan tema-tema memikat lainnya.

‘Sekolah’ Pertama Akhtar

Leave a comment

IMG-20140923-WA0005

Kurang lebih dua bulan terakhir saya bergabung di grup Indonesia Homeschoolers di FB. Homeschooling (HS) sebagai salah satu alternatif pendidikan informal memang menarik minat saya belakangan ini. Saya bergabung di grupnya pun dalam rangka mencari tahu lebih banyak tentang HS dengan belajar langsung dari pengalaman keluarga yang sudah menjalankannya. Terlepas nanti akan dijalankan di keluarga kami atau tidak, menarik sekali bagi saya untuk mempelajari berbagai model pendidikan untuk ditelaah plus dan minusnya sehingga kami dapat menerapkan model terbaik untuk pendidikan anak(-anak) nanti.

Kebetulan seminggu yang lalu, seseorang di grup, yang berdomisili di Bandung, menawarkan rumahnya untuk tempat bermain anak-anak usia s.d 6 tahun, maksimal 10 orang. Saya pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya tak berekspektasi banyak dari kegiatan ini, karena yang konfirm datang ternyata juga belum punya pengalaman HS, namun kesempatan berkenalan dan silaturahim dengan orang-orang baru lah yang membuat saya ‘memaksakan diri’ datang walaupun tempatnya lumayan sulit dijangkau dari Padalarang apalagi saya hanya berangkat berdua dengan Akhtar menggunakan angkutan umum. Alhamdulillah, karena yang punya rumah adalah juga pengusaha pakaian muslim, kami yang datang pun dihadiahi inner jilbab yang harga jual retailnya tak kurang dari 50 ribu. Silaturahim benar-benar membuka pintu rezeki :)

Intinya kegiatan kemarin isinya adalah perkenalan dan adaptasi anak-anak dengan teman-teman barunya. Sembari mengawasi anak-anak bermain, para ibu pun bertukar pikiran tentang pendidikan anak dan keluarga. Kebetulan sekali ada dua orang anak seusia Akhtar, yang sama-sama lahir bulan Juni 2013. Ya walaupun anak-anak ini hanya asyik sendiri dengan mainan-mainannya tapi Akhtar tampak menikmati kegiatannya.

wpid-img-20140923-wa0012.jpg

Menikmati Masa yang Akan Dirindukan

Leave a comment

Akhtar tidak punya banyak mainan di rumah, hanya ada satu kardus ukuran sedang berisi mainan, itu pun lebih banyak mainannya waktu masih bayi. Akhirnya ia lebih suka mengeksplorasi seisi rumah dan memainkan apapun yang menarik baginya daripada memainkan mainannya. Saya membiarkannya, selama tidak membahayakan.

Sering kali saya terkagum-kagum dengan ‘kreativitas’-nya bermain, namun di kala lain saya banyak-banyak beristighfar mengurut dada agar sabar mendapati rumah yang berantakan.

Suatu saat ketika bermain dengan Akhtar, saya tiba-tiba teringat sebuah video pendek yang menceritakan seorang ayah dan anaknya.

Diceritakan, mereka berdua sedang duduk di taman. Si anak yang telah dewasa sedang membaca koran, sementara sang ayah yang sudah renta hanya duduk memerhatikan seekor burung gereja.
Lalu si ayah bertanya, “Burung apa itu?”. Anaknya melihat burung itu sekilas lalu menjawab, “Burung gereja”. Tak lama kemudian si ayah kembali bertanya “Burung apa itu?”. Agak kesal si anak menjawab “Burung gereja”. Lalu si ayah mengajukan lagi pertanyaan yang sama berulang kali, pada akhirnya si anak marah dan membentak ayahnya.

Si ayah lalu beranjak pergi, tak lama kemudian kembali membawa sebuah buku dan menyuruh anaknya membaca halaman tertentu.

Di buku itu tertulis cerita si ayah ketika si anak masih kecil. Si anak baru pertama kali melihat burung gereja dan bertanya berulang kali, “Ayah burung apa itu?”. Ayahnya menjawabnya berulang kali dan memeluk anaknya setiap kali mengajukan pertanyaan yang sama itu.

Endingnya mengharukan, rasanya saat itu juga ingin pulang dan memeluk kedua orangtua saya.

Saya pertama kali melihat video itu sebelum punya anak. Kini, setelah punya anak yang mulai aktif bermain saya jadi paham apa yang dikatakan si ayah dalam buku hariannya itu.

Anak seusia Akhtar sangat senang melakukan hal ‘sederhana’ yang sama berulang-ulang. Dan saya pun harus membantunya berulang-ulang. Bisa satu, dua, tiga, bahkan sepuluh kali atau lebih. Satu, dua, tiga kali saya akan memeluknya bangga dan memujinya, “Hebat!”. Pada hitungan berikutnya, saya lebih banyak harus bersabar menunggui Akhtar bermain tanpa mau ditinggalkan.

Contoh kecilnya, Akhtar sangat suka menutup jendela dari dalam rumah, dan saya harus membukanya kembali agar ia bisa menutupnya lagi, lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Sederhana kan? Tapi untuk permainan sesederhana itu saya harus menunda pekerjaan lain.

Contoh lain, Akhtar sangat suka menutup laci-laci plastik berulang kali, memutar tombol mesin cuci berulang kali, menutup topless berulang kali, dan banyak hal lain berulang kali. Saya? Mau tak mau harus duduk sabar mendampingi Akhtar sambil mengerjakan hal-hal yang sebaliknya.

Tapi… setiap detik momen itu sangat layak untuk dinikmati. Bertahun-tahun dari sekarang, saat-saat ‘membosankan’ itu akan menjadi saat-saat yang sangat dirindukan, kenangan yang tidak bisa diputar kembali, kecuali melalui video atau foto-foto, itu pun kalau sempat diabadikan. Jangankan bertahun-tahun yang akan datang, sekarang pun saya sering memutar video Akhtar yang masih bayi tanpa bosan, berulang kali.

Jadi, nikmati saja. Memang masanya :)

Older Entries