Menjual Buku

Leave a comment

Seumur-umur (ngaku sebagai pecinta buku), baru kali ini saya menjual buku-buku koleksi pribadi saya. Buku yang rata-rata masih sangat bagus, beberapa malah terlihat baru, walaupun sudah bertahun-tahun disimpan.

Kalau soal buku saya termasuk yang ‘apik’ banget. Saya ga suka melihat buku saya terlipat, selembar pun. Saya ga suka lihat buku saya kotor. Saya ga suka lihat buku saya sobek. Dll. Aturan yang ‘ketat’ ini lah yang kemudian membuat orang lain segan meminjam buku ke saya.

Dipikir-pikir, sikap seperti itu ada ruginya juga. Karena jadi tidak banyak orang yang merasakan manfaat dari buku-buku saya. Padahal saya pun paling hanya membaca 1 kali, terutama buku-buku fiksi/ novel dan sejenisnya, kecuali buku-buku yang sangat-sangat menarik hingga saya bisa membacanya lebih dari satu kali.

Buku koleksi saya itu kemudian semakin menumpuk, rak buku pun sudah ga muat lagi. Puluhan (atau ratusan?) buku akhirnya harus disimpan di dalam kardus. Sudah beberapa kali saya menyeleksi buku-buku itu. Mana yang layak dipertahankan, mana yang dikeluarkan dari koleksi. Tapi, biasanya tidak banyak yang saya keluarkan dengan pertimbangan,

Sayang ah, kan bisa diwariskan ke anak cucu…

Sayang ah, siapa tau pengen dibaca lagi…

Sayang ah, kan suatu saat pengen buka ruang baca untuk umum, which means butuh koleksi buku yang banyaaak dari berbagai genre

Duluuuu, memang saya jenis pembaca segala genre, dari berbagai latar pemikiran penulis. Belakangan saya berpikir, bahwa ga semua buku mesti kita baca, ga semua hal mesti kita tahu, tahu sedikit hal tapi paham lebih dalam kan lebih bermanfaat, daripada tahu banyak hal tapi hanya permukaannya.

Lagipula, seiring dengan berkembangnya pengetahuan/ pengalaman, ada buku-buku yang kontennya ternyata ga sesuai dengan nilai-nilai yang saya percayai sekarang, bahkan saya punya lho novel grafis yang di dalamnya terselip bagian yang vulgar (p*rn*). Novel yang bagus banget menurut saya dari jalan cerita, grafis, dan latar belakang tempat dan waktunya, tapi kecolongan di bagian yang ‘ngga-ngga’nya itu… karena saya hampir selalu ‘memakan bulat-bulat’ rekomendasi dari orang lain di grup pembaca buku.

Seleksi besar-besaran saya mulai lakukan beberapa bulan kemarin. Pada tahap pertama saya berhasil mengeluarkan puluhan buku yang sekiranya tidak akan pernah saya baca lagi, dan saya rasa saya pun tidak ingin mewariskannya ke anak-anak.

Belasan buku saya wariskan ke sepupu saya di SMA yang sedang ada program perpus kelas di sekolahnya. Belasan lain masih menumpuk, entah mau diapakan.

Seleksi berikutnya saya lakukan bulan lalu. Kali ini, karena buku-bukunya masih bagus dan cukup populer (dilihat dari tema/ judul dan penulisnya), maka saya putuskan untuk menjualnya, lewat shopee… silakan cek toko saya ya sis :p https://shopee.co.id/asri_putri

Dan, ga menyangka responnya sangat bagus. Banyak yang berminat… sayangnya.. saya lagi di Tangerang sementara semua stok ada di Bandung, jadi beberapa pesanan terpaksa saya tunda prosesnya. Ya.. rezeki ga kemana :)

Nah, melihat respon yang baik pada buku-buku bekas ini, saya jadi kepikiran jualan buku bekas online saja haha… yaa semoga ada jalannya. Karena dari duluuu saya emang bercita-cita pengen punya usaha yang berkaitan dengan buku tapi belum ada usaha apa pun untuk mewujudkannya. *basiloe* *tekegeura* wkwk…

Advertisements

Kok Gak Keliatan?

2 Comments

Ini cerita tentang hamil saya yang kata beberapa orang, “Kok gak keliatan?”

‘Gak keliatan’ disini, bisa berarti dua hal.
Yang pertama, ada beberapa orang yang melihat perut saya tidak sebesar perut orang hamil dengan usia kehamilan yang sama.
Yang kedua, ‘gak keliatan’ is ‘gak keliatan’. Ada beberapa orang yang bahkan gak ngeh kalau saya hamil. Hehh???

Sebagai info saja, bahwa sampai tulisan ini dibuat usia kehamilan saya sudah 30 minggu plus 3 hari, kalau dihitung bulan berarti sama dengan 7,5 bulan, alias hampir 8 bulan. Tapi kan usia kehamilan tidak bisa disamakan dengan usia bayi dalam kandungan, karena usia kehamilan dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT). Jadi kalau untuk mengetahui usia kandungan sebenarnya, biasanya saya menambahkan dua minggu dari HPHT, artinya kandungan saya kira-kira sekarang ini menginjak 7 bulan, masuk trimester ketiga, yang mana semestinya perut sudah membulat sebesar bola basket hehe, tapi biasanya orang-orang sudah ngeh sama bumil yang masuk trimester kedua kok.

Lain kejadian dengan saya. Bahkan sampai usia sekitaran +/- 7 bulan, masih ada aja yang ga ngeh kalo saya hamil. Hehehehe …

Contohnya:

Sekitar kurang dari sebulan yang lalu, Mbak yang satu bus jemputan dengan saya menyapa saya di kantin, “Mbak lagi hamil, ya?”
Teman saya yang lain menimpali, “Ya ampun Mbaak, masa tiap hari se-bus ga tau?”
Saya cuma cengengesan.

Kemudian beberapa hari yang lalu, selepas jam kantor saya jalan bersisian dengan seorang Mbak menuju parkiran bus jemputan. Saya curiganya si Mbak ini baru tahu saya hamil, karena baru seminggu terakhir ini dia manggil saya “Bumil”, padahal kami cukup sering berpapasan, saling menyapa, atau bertemu di pengajian mingguan yang diadakan forum kajian Muslimah disini, “Iiih … bumil … udah berapa bulan sih?”
“Sekarang 7 bulan.”
“Hahh! Serius?? Kok keciilll???”
Saya cuma cengengesan.

Beberapa hari yang lalu juga, ketika bertemu segerombol Ibu-Ibu satu unit tapi ngantor di gedung berbeda, salah seorang diantaranya bertanya sambil ngelus-ngelus perut saya, “Berapa bulan sih ini?”
“Tujuh Bu”
“Tujuh bulan segini mah kecill, dulu saya hamil tujuh bulan udah gede banget, jalan udah ngangkang-ngangkang”, Ibu yang lain menimpali.
Saya cuma cengengesan.

Dan yang paling cetar membahana adalah kejadian beberapa hari lalu. Waktu saya ke toilet dan bertemu Mbak Cleaning Service, sempatlah kami berbincang sebentar, topiknya waktu itu Family Gathering di Dufan yang diadakan tanggal 6 April 2013 yang lalu.
“Ikut ke Dufan, Mbak?”, tanya saya.
“OB–OB disini gak ada yang daftarin Mbak, jadinya kita pada gak dapet tiket kesana. Mbak berangkat ya Mbak?”, jawabnya, sambil tangannya tetap sibuk mengepel lantai toilet.
“Iya, Mbak”
“Sama siapa? Mbak-nya enak ya masih single, bisa puas-puasin tuh Mbak maen disana”
Saya ternganga sejenak, “Lho Mbak, saya udah nikah lho, lagi hamil malah”
“Hah?? Oh ya??? Ya ampun Mbak, selama ini kirain belum nikah … Ya Allah … udah hamil juga tho?? Udah berapa bulan?”
Saya nggubrak?!*&%

Nah begitulah kira-kira beberapa kejadian tentang hamil saya yang, katanya, gak keliatan.

Sebenarnya saya sih merasa perut saya seperti orang hamil 7 bulan pada umumnya. Hanya setelah dianalisis, ada beberapa hal yang mungkin membuat perut saya tidak terlalu terlihat:

Pertama, karena saya lebih sering pakai baju yang longgar dengan kerudung panjang menutupi bagian perut. Kalau sekali-sekali saya pakai kaos atau baju yang agak ngepas badan, walaupun kerudung tetap panjang sampai menutupi perut, keliatan besar juga kok perutnya.

Kedua, apa karena saya juga cenderung menutup-nutupi ya? Hihihi. Jangan berpikir saya tidak mensyukuri kehamilan saya yaaa … ngga dong! Ini merupakan anugerah yang amat sangat patut untuk disyukuri. Namun terkadang saya sibuk dengan pikiran orang terhadap saya, apalagi orang-orang di sekeliling kost yang padahal tidak terlalu kenal saya. Kadang merasa aneh sendiri, padahal siapa peduli ya, ada bumil, tinggal sendirian di kost? Suaminya mana??? Nyatanya kalau suami pulang, malah saya senang kalau orang melihat saya sedang hamil :D

Ketiga, mungkin karena saya tinggi. Entahlah, tapi kata beberapa orang, mungkin salah satu alasannya itu. Jadi, dengan ukuran perut yang sama dengan bumil yang sama usia kehamilannya, saya terlihat lebih langsing.

Bagaimana pun teuteup ya yang namanya cewek-cewek, seneng kalau dibilang kurus walaupun lagi hamil. Saya, salah satunya hehe

-edisi curhatan bumil kurus-

Aku ingin sendiri. Tolong jangan ganggu!

2 Comments

Tau tak? Dalam banyak kesempatan aku merasa lebih nyaman sendiri.

–          Kelas 3 SMA, aku lebih banyak pesiar sendiri (walaupun sebenarnya ga boleh lhooo…). Kenapa? Bisa jalan sendiri, fokus pada tujuan sendiri, ga melulu ngekor temen (karena seringan kalo pesiar bareng temen, mesti aku yang ngekor dia, bukan sebaliknya).

–          Aku suka menulis diary, dan bisa asyik sendiri dengan diaryku selama berjam-jam tanpa menghiraukan aktivitas di sekitarku. Aku merasa nyaman ketika ada ‘orang’ lain yang mendengarkan apapun yang aku utarakan.

–          Memasuki masa kuliah, aku semakin sadar aku suka sendiri. Aku akan mengunci diri di kamar kostku dan tidak menyahut panggilan teman-teman sebelah kamarku, ketika aku ingin sendiri.

–          Ketika mulai merasa bosan di kamar, aku akan pergi ke suatu tempat. Sekedar berjalan, tanpa perhatian yang fokus pada satu arah, melihat sekeliling, memerhatikan orang-orang, atau mampir di satu tempat makan, tanpa teman….karena aku ingin sendiri.

–          Bahkan ketika ada orang lain didekatku pun, aku bisa menyibukkan diri dengan kegiatanku sendiri, tanpa terlalu menanggapi apa yang mereka lakukan, ketika aku ingin sendiri.

Aku menikmati waktu-waktu sendiriku. Ketika aku bisa melakukan apapun yang ingin aku lakukan. Ketika aku bisa pergi kemanapun tanpa ada orang yang menghalangi.

Tapi …

Ga selamanya aku begitu…
Ada saat dimana aku membutuhkan banyak orang di sekitarku.
Yang membuat keramaian saat hatiku kosong.
Yang mendengarkan apapun yang aku bicarakan.
Yang menguatkan niatku untuk melakukan suatu pekerjaan.
Yang memotivasiku ketika aku jatuh.
Yang bersedia berbagi ketika aku butuh.
Yang menghiburku ketika aku terpuruk.
Aku bahagia memiliki banyak orang di sekitarku.

Tapi, jangan ganggu aku, ketika aku ingin sendiri!

*Sampai akhirnya aku sadar, bahwa aku tidak pernah benar-benar sendiri. Ada Dia yang bahkan lebih dekat dari urat leher :)

Swim … swim …

Leave a comment

Untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir … aku berenang!!!
Yap … pada libur hari kedua tanggal 25 Desember kemarin, di Tirtamulya, Cimahi.

Hmm … jadi inget, gimana awalnya aku jadi suka olahraga air ini.

Dan itu terjadi sejak … lebih dari 8 tahun yang lalu.
Ya, saat itu aku masih kelas 3 SMP. Salah satu ‘gaya renang’ yang bisa kupraktikkan adalah, meluncur, juga salah satu gaya primitif yang bisa dilakukan semua orang, yaitu gaya batu.

Hingga pada suatu hari, ketika aku memutuskan mendaftar ke TN, Mamah mendapat cerita bahwa ada tes renang untuk bisa masuk kesana. Ugh … aku kalah telak bahkan sebelum bertanding ketika mendapat kabar itu.
Maka, Mamah mencarikanku seorang pelatih renang. Aku ga pernah tahu, gimana ceritanya hingga akhirnya aku dikenalkan pada seorang pelatih renang yang juga penjaga kolam renang di Sanggariang, kolam renang plus klub renang, yang berada beberapa ratus meter dari sekolahku.
Dan, tahu? Jujur saja, latihan renang adalah kegiatan yang paling membuatku tertekan diantara kegiatan-kegiatan lain yang kuikuti di kelas 3 SMP. Aku benci ketika ada dua hari dalam seminggu yang harus aku isi dengan latihan renang. Aku benci karena aku tidak bisa berenang, dan aku semakin benci ketika dalam beberapa pertemuan, hasil latihanku tidak menampakkan kemajuan.

More

Sip: Puput

2 Comments

Tiba-tiba ingin kembali ke masa lalu, ke masa SD dan SMP-ku dulu ketika surat menyurat dengan teman-teman, yang bahkan diantaranya tidak kukenal, menjadi suatu hal yang menyenangkan.
Kenangan tentang hal itu tiba-tiba muncul di tengah-tengah training yang tidak membosankan sebenarnya, hanya membuat sebagian dari peserta (termasuk saya tentu saja) mengantuk dan tidak berkonsentrasi pada materi yang disampaikan pembicara.
Untuk mengalihkan kantuk, beberapa kali saya mulai menyusun ‘draft’ yang akan saya posting di blog, tapi setiap ‘draft’ itu tidak pernah selesai, hmm..sedang berada pada titik mandek, saat semua ide di kepala sangat susah dituangkan secara tertulis. Sementara, saya merasa menulis itu penting, apalagi ketika merasa tidak ada seorang pun yang bisa menanggapi isi kepala saya atau seenggaknya mendengarkan curhatan-curhatan ga penting saya.
Ketika saya terbangun lagi setelah terkantuk-kantuk bahkan tertidur untuk ke….sekian….kalinya, tiba-tiba teringat kebiasaan lucu masa SD, sampai membuat saya sesekali tersenyum … geli.
Gimana ngga geli, kebiasaan waktu kelas 1 SD itu memang … lucu, dan … menyenangkan.

Pada satu hari, saya mulai menulis beberapa surat yang saya sampaikan ke beberapa teman main di kelas. Isinya bisa ditebak, isi kepala anak SD:

More

Muhasabah Cinta Seorang Istri

3 Comments

Wuiiiihhhh……judulnya ngeriiiiii….
Hehehehe…padahal judul diatas aku catut dari judul buku terbarunya (terbitan October 2009) Asma Nadia dkk.
Bukunya Asma Nadia gituu…sok pasti aku beli, walaupun isinya kebanyakan membahas tentang kehidupan suami-istri dengan berbagai tipe suami-nya. Mayaaannn…bisa intip-intip dikit kehidupan rumah tangga para penulisnya.
Menarik deh, di halaman pertama setelah daftar isi ada tulisan Mba Asma tentang, “Kenapa kamu ingin menikah?”
Nah lho…..ada yang bisa jawab ga tuh? Pasti bisa dooong apalagi yang udah pada nikah. Tapi kalau aku yang ditanya kayak gitu pasti jawabnya, “Hmmm….apa ya?!”, sambil mesem-mesem ga jelas. Nah lho….parah nih gueee.

Btw, semalam juga aku abis dari nikahan teman SMA-ku, yang pada akhirnya menikah dengan kakak kelas kami dari SMA yang sama.
Jeyuk ma’em jeyuk lagi deh….
Nikahannya meriah sekali…..temen-temenku banyak juga yang dateng, sayang…aku dateng telat, jadi ga kebagian makanan juga..hiks..hiks..hiks..yang penting kebagian foto-foto bareng anak-anak deh..hehehe.
Ga berapa lama disana, anak-anak udah pada ngajakin pulang, padahal aku pikir masih pada lanjut mau ngumpul bareng, atau makan bareng (ngarep mode:on), soal’e nih perut keroncongan, untung kalah ma suara musik hiburannya jadi ga kentara bunyi keroncongnya. Kan ndak lucu tho….masa di tempat kondangan perut bikin orkes sendiri.

Dan….
(alur ceritanya udah mulai ga nyambung ama judulnya nih..hehehe…kebiasaan)
More

Ketika menemukan seseorang dengan kepribadian yang mirip denganmu…..

Leave a comment

Apa yang kamu pikirkan?
Aku hanya berkata dalam hati, “Nih orang kok gue bangeettt!”
Itulah yang pertama kali terlintas dalam pikiranku ketika beberapa kali aku melihat seniorku grasak grusuk mencari sesuatu di dalam tasnya…
“Bentar deh Put, kunci mobil gue mana ya?”, sambil tangannya sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.
Atau pada kesempatan yang lain…
“Eh gue udah masukin dompet ke dalam tas belum ya? Bentar Put, gue cari dulu…”. dengan setengah panik tangannya terus sibuk menjelajahi seisi tas.
“Handphone gue…jangan-jangan ketinggalan”, padahal dia hanya menaruhnya di dalam tas pada letak yang tidak semestinya.
Dan aku cuma bisa berkata dalam hati….”Ada juga orang kayak gue”.
Iya…kayak gue….yang seringkali harus mengeluarkan seisi tas untuk mencari kunci kamar, atau terpaksa harus menelusuri seisi kamar cuma buat nyari dompet.
Terlepas dari sifat pelupaku, itu adalah salah satu kebiasaan burukku. Menaruh barang pada tempat yang tidak semestinya.
Yang aku heran, aku seringkali lupa, dimana terakhir kali aku menaruh sesuatu, padahal barang itu baru kugunakan beberapa saat sebelumnya.
Dan betapa jengkelnya ketika menemukan barang-barang itu berada di tempat yang sebenarnya mudah dijangkau, di tempat tidur, tapi ketutupan selimut, di meja rias, tapi berbaur dengan benda-benda lain yang menyamarkannya, di dalam tas yang sehari sebelumnya kugunakan.
More

Older Entries