Yang Dirindukan dari Ciledug

2 Comments

Pindahan


Sudah satu bulan saya dan anak-anak resmi pindah dari kontrakan di Ciledug, saat ini menempati rumah pribadi di Padalarang. Kami pindah lebih dulu dengan hanya membawa sekoper pakaian, sementara barang-barang baru diangkut sepekan kemudian, tepatnya pada 27 Agustus 2017. Dengan kecepatan beberes seperti kura-kura, plus ‘bantuan’ dari anak-anak, suasana rumah baru terasa homy 2 pekan kemudian.

Ciledug, walaupun cukup jauh dari kampung halaman, dan cuacanya panas, tetap menyimpan seenggaknya satu kelebihan yang ga dimiliki lingkungan rumah saya di Padalarang. Yaituu… jajanannya murah-murah.  

Di kontrakan Ciledug, yang terletak di wilayah Sudimara Barat itu, dari pagi sampai malam tidak berhenti penjaja makanan lewat dekat rumah. Dengan rasa yang pas, harganya pun cukup bersahabat.

Sebagai perbandingan harga nih ya… kalau pagi-pagi itu biasanya lewat penjual bubur sumsum. Dengan merogoh kocek 3000-4000 kami sudah menikmati semangkuk bubur sumsum hangat plus beberapa butir candil, cukup mengenyangkan untuk sarapan. Sementara di Padalarang, kami harus membayar minimal 5000 untuk seporsi bubur sumsum.

Kalau masih kurang kenyang, agak siangan dikit lewat penjual pecel sayur. Saya sempat ternganga waktu membeli sepiring pecel sayur+gendar dan sepiring lagi bihun goreng+gendar, artinya 2 piring, dengan total harga hanya 7000. Sementara, 11-12 dengan pecel, di dekat rumah Padalarang ada yang jual lotek, yang seporsinya lebih sedikit dibandingkan dengan sepiring pecel sayur, harganya sudah 6000.

Lagi nih… rujak, salah satu makanan favorit saya, bisa lewat 3 kali dalam sehari, ada tukang yang lewat jam 10 pagi, jam 1 siang, dan jam 2 siang. Saya paling sering beli yang jam 2 siang. Pertama kali beli, karena belum tau harga, saya beli seporsi, terserah abangnya mau kasih berapa. Ternyata dia kasih rujak sepiring penuh seharga 7000, dimakan berkali-kali pun rasanya ga habis-habis. Akhirnya selanjutnya, saya beli 5000 saja, itu pun bisa saya makan berdua bareng suami kalau pas lagi di rumah. Sementara di Padalarang, saya harus merogoh 6000 untuk seporsi rujak, porsinya terlalu sedikit buat saya, kadang beli satu bungkus terasa kurang.

Ada lagi nih… sore hari, penjual cendol favorit Akhtar akan lewat sekitar jam 3 atau 4. Pada awalnya kami biasa beli 4000 dimakan bertiga (saya, Akhtar, Ahnaf), lama-lama bosen juga, jadi beli cukup 3000, lalu saya merasa 2000 cukup untuk Akhtar sendiri, kadang malah bersisa. Intinya, 2000 itu udah porsi pas untuk sekali makan. Sementara cendol di dekat rumah Padalarang, dipatok harganya 5000 per porsi. Hiks.

Lalu, di Ciledug juga cukup banyak penjual bakso, dan untuk ukuran tukang bakso keliling, rasanya enak. Dengan rasa yang enak itu, kami sudah kenyang dengan mengeluarkan uang 7000. Kalau di Padalarang, kadang rasa bakso keliling ga seenak rasa bakso yang dijual di warungan, yang mana berarti harganya pun lebih mahal.

Oh ya, ada yang ketinggalan nih. Gorengan. Kalau pagi-pagi, dekat ibu sayur langganan suka ada yang jual gorengan. Satu potongnya besar-besar, tapi harganya hanya 1000 per potong, yang mana dengan harga segitu, kami hanya mendapat sepotong gorengan yang lebih kecil di Padalarang.

Ya begitu lah… bagusnya di rumah Padalarang intensitas jajan sehari bisa dikurangi, karena rumah kami masuk gang kecil yang cukup sepi, sangat jarang penjual makanan lewat, jadi harus selalu sedia makanan/ camilan di rumah karena ga bisa mengharap ada tukang jualan lewat depan rumah saat kami lapar. Hihi.

Dari beberapa rumah kontrakan yang kami tempati, dengan mengabaikan cuaca yang panas, rumah kontrakan di Ciledug adalah yang ternyaman. Tidak heran karena kami adalah penghuni pertama di rumah itu. 

Sejauh ini, sudah 4 rumah yang kami tempati sejak Akhtar lahir… 

Pertama, rumah di Jember, banyak cicak, nyamuk, dan bermasalah dengan air dan saluran pembuangannya yang mampet. 

Kedua, rumah di Pasuruan, alhamdulillah tidak ada masalah dengan air, tapi gerah dan banyak sekali nyamuk.

Ketiga, rumah di Pasar Minggu. Saya sebenarnya merasa nyaman disini. Air deras, bersih, dan pemilik kontrakan sangat baik. Kalaupun ada kekurangan, kekurangannya yaitu susah sinyal internet dan kurang sirkulasi udara.

Keempat, rumah Ciledug, yang menurut saya paling ideal untuk rumah kontrakan. Minusnya dapurnya bocor kalau hujan deras, di luar itu sih ga ada keluhan, hanya kalau malam Ahnaf susah tidur karena cukup gerah.

Ya begitu lah suka duka pindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Dengan berbekal pengalaman di rumah kontrakan sebelumnya, biasanya kita akan punya standar tertentu untuk rumah kontrakan berikutnya. Yang menyenangkan dari berpindah-pindah itu adalah kami ga bosan dengan lingkungan yang itu-itu aja. Setelah ini pun (walaupun udah rumah sendiri) masih ada kemungkinan kami akan pindah lagi jika menemukan hunian yang lebih ideal. Semoga semua berjalan sesuai rencana. Aamiin…

Advertisements

Lalu… Tangerang

Leave a comment

2 minggu di Tangerang

*

Sejauh ini keluarga kecilku selalu pindah dari satu ‘kesumukan’ ke ‘kesumukan’ yang lain…

Jember yang agak hareudang… ke Pasuruan yang hareudang pisan… ke Jakarta yang semua orang mafhum akan kesumukannya… sempat ngadem di Bandung beberapa bulan, dan sekarang di Ciledug Tangerang yang bikin badan lengket karena keringat…

Kalau orang dewasa tentu lebih mudah menyetting diri, menaikturunkan standar kenyamanan agar tetap kerasan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang selalu jadi soal adalah anak-anak… yang standar kenyamanannya kadang gak langsung kita pahami, tanpa dialami sebelumnya.

Sebagai contoh, kontrakan sebelumnya di Jakarta yang menurut saya sudah nyaman, ternyata tidak membuat Akhtar bertahan lebih dari 3 bulan. Lebih tepatnya, saya yang kibar-kibar bendera putih duluan karena tak kunjung bisa mengatasi Akhtar yang selalu minta keluar rumah, berjalan jauuuh, atau sekedar berdiri di dekat rel kereta sampai 1 atau 2 jam… bahkan pernah lebih.

Dari pengalaman itu… kami mengevaluasi beberapa hal dan menetapkan kriteria tambahan untuk kontrakan berikutnya, apalagi kalau masih di metropolitan… diantaranya, punya teras dan pagar rumah sendiri, jalan di depan rumah tidak terlalu ramai, kalau bisa sih agak jauh dari jalan besar, dan maunya yang luas…

Nah… setelah suami setahun di Jakarta, dan hampir dipastikan tidak akan pindah tugas paling ngga untuk setahun ke depan, akhirnya keluarga kecil kami memutuskan hijrah lagi, kali ini mencoba peruntungan di Tangerang. Banyak syaratnya waktu mulai mencari iklan kontrakan di internet… selain yang disebutkan di atas, juga… kalau bisa di Ciledug, kalau bisa lagi di Jalan Tanah 100. Karena ada adik sekeluarga yang tinggal juga di kawasan itu.

Alhamdulillah… rezekinya anak-anak dapat kontrakan yang nyaman, bersih, baru, dan luas, punya pagar rumah sendiri, tapi tidak terlalu mahal, jalan depan rumah yang tidak terlalu ramai, di pemukiman penduduk yang tetangganya ramah-ramah, dan lokasinya di Jalan Tanah 100. Cocok!

image

Sejauh ini anak-anak kelihatan kerasan tinggal disini… kalau Akhtar bosan, ada sepupunya yang bisa diajak main bareng atau sekedar bersepeda ke tukang sayur… masalahnya hanya… disini agak gerah, jadi belum ada seminggu, yang kata orang ‘keringat buntet’ mulai muncul di beberapa bagian tubuh Akhtar dan Ahnaf.

Tangerang Rasa Jawa

Yang menarik, lingkungan disini didominasi pendatang dari Jawa. Sependengaran saya sih kayaknya kebanyakan Jateng atau Yogya. Para ‘pendatang’ ini sebenarnya sudah tinggal puluhan tahun dan meletakkan fondasi-fondasi kehidupan bermasyarakat disini. Mereka hidup mapan, berkeluarga, dan bermatapencarian disini. Kekeluargaannya kental sekali… kalau kata seseorang mah, ‘guyub’ ceunah. Bukan sekali dua kali tiba-tiba ada yang menyapa dengan ramah waktu bersepeda dengan Akhtar… yang ternyata mereka adalah tetangga yang selisih 1 sampai 2 rumah dari kontrakan. Bahkan sempat terkesima karena disapa dengan sangat ramah oleh ibu penjual gorengan yang jarak tempat jualannya ratusan meter dari kontrakan, harus melewati beberapa gang sebelum sampai di kontrakan kami, “Tinggal dimana Dek? Kok kayak baru lihat ya…”. Wow!

Sejauh pengalaman saya yang baru 2 minggu disini, langka sekali menemukan orang yang tidak berlogat Jawa. Dari pemilik rumah, tetangga, ketua RT, pedagang roti keliling, penjaja bakso, penjaga warung, pengangkut sampah, sampai orang-orang yang saya dengar sedang ngobrol di pinggir jalan pun berbahasa Jawa. Panggilan Bukde, Pakde, dan sejawatnya jadi ga asing terdengar di telinga. Saya pun jadi agak latah sebenarnya, kalau belanja ke warung sayur lalu dilayani oleh penjual berlogat Jawa dan dikelilingi ibu-ibu pembeli yang berlogat Jawa juga, ada sedikit usaha untuk men’jawa-jawa’kan logat saya. Ini persis seperti yang saya lakukan waktu di Pasuruan dulu… saya mencoba mengikuti logat setempat agar tidak terdengar asing, karena sekalinya saya pernah ‘keceplosan’ berlogat Sunda, beberapa orang melirik saya dengan ekspresi ‘aneh’. Wkwkwk…

Alhamdulillah…
(P)indah-(p)indah itu memang indah :)

Pelajaran dari Masa Kecil

Leave a comment

Banyak buku parenting dan psikologi anak beredar di pasaran. Satu atau dua-nya pernah saya baca.

Beberapa bahasan kadang hanya saya baca selewat lalu, sehingga ketika sampai pada halaman terakhir, apa yang sudah dibaca di halaman-halaman sebelumnya seperti menguap begitu saja.

Sebenarnya akan lebih mudah diingat jika kita mengaitkan bahasan di buku tersebut dengan kejadian yang pernah kita alami di masa kecil.

Jika ditelusuri, kita pun sangat mungkin menemukan benang merah antara karakter dan sifat kita saat ini dengan cara orangtua mendidik kita di masa kecil.

Ada beberapa kejadian spesifik di masa lalu yang saya ingat hingga saat ini. Kejadian-kejadian ini saya simpulkan sebagai ‘kesalahan’ komunikasi orang-orang dewasa kepada anak-anak.

Peribahasa “Pengalaman adalah guru yang terbaik” menjadi relevan dikaitkan dengan tulisan ini. Kejadian-kejadian itu menjadi sedikit bekal bagi saya untuk belajar berkomunikasi yang baik dengan anak-anak.

Kejadian 1

Waktu itu mungkin saya masih TK atau SD kelas 1 (lupa…). Mamah tidak shalat karena sedang menstruasi, sementara saya tidak pernah melihat Bapa tidak shalat karena alasan yang sama.
Lalu saya bertanya, “Laki-laki mensnya kapan?”
Sambil lalu Mamah menjawab, “Kalau laki-laki mah mencret.”
Saya menganggap jawaban itu sebagai kebenaran dan menyimpannya dalam memori selama bertahun-tahun.

Benar, anak-anak itu sangat polos. Daripada becanda dengan menyampaikan fakta yang tidak benar lebih baik memberi penjelasan ringan yang bisa dipahami.

Kejadian 2

Waktu itu masih usia SD atau TK (lupa…). Di rumah seorang saudara orang-orang sedang riweuh menyiapkan masakan untuk acara hajatan. Saya dan sepupu-sepupu bermain-main dengan ceria. Karena orang dewasa merasa terganggu, saya yang menaiki sandaran sofa ditegur, “Ngga ah ngga lucu… Ngga lucu…” dengan intonasi yang terdengar pura-pura marah.
Seketika saya terdiam, sakit hati dan ingin menangis.
Seharusnya ada cara lain untuk menegur kan? Saya merasa kata “Ngga lucu… Ngga lucu…” itu lumayan mematahkan kreativitas dalam bermain.

Kejadian 3

Waktu itu seseorang pernah bertanya, “Cita-citanya mau jadi apa?”
Saya jawab, “Guru TK”
Si penanya malah mempertanyakan, tanpa memberi saya kesempatan menjelaskan, “Kok cuma guru TK? Yang lain dong”. Padahal maksud saya adalah saya mengajar di TK yang saya dirikan sendiri. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi menyebut guru TK sebagai cita-cita, walaupun dalam hati terbayang-bayang memiliki TK sendiri, dengan banyak mainan disana-sini.

Jadi… jangan mematahkan cita-cita anak. Seringkali anak-anak hanya butuh didengarkan. Akan lebih baik jika si penanya bertanya, “Mengapa ingin jadi guru TK?”. Ya kan?

Kejadian 4

Waktu itu malam hari, listrik di rumah sedang mati. Saya, kakak, adik, dan Mamah berkumpul di ruang tengah sambil bercerita-cerita. Ngobrol-ngobrol-ngobrol, lalu saya berimajinasi pergi ke kota sendirian naik kendaraan umum. Waktu tempuh ke Kota dari tempat tinggal kami waktu itu sekitar 1 jam. Cukup jauh untuk seorang anak kelas 1 SD bepergian sendiri, walaupun hanya dalam imajinasi.
Alih-alih mendukung, Mamah menakut-nakuti tentang tersesat di kota, ngga bisa pulang, lalu menggelandang jadi anak jalanan.
Semalaman itu saya jadi sulit tertidur, bahkan rewel dan menangis karena membayangkan jadi gelandangan.

Seperti anak-anak lain pada umumnya, masa kecil saya pun diwarnai berbagai imajinasi. Kadang orang dewasa lupa pernah jadi anak kecil yang suka berimajinasi juga, sehingga secara tak sadar mematahkan imajinasi anak-anak karena menganggapnya mustahil.

Kejadian 5

Waktu itu mungkin saya masih kelas 3 atau 4 SD, adik saya masih TK.
Sore itu saya mengajak adik ikut ke rumah guru untuk mengerjakan PR.
Kebetulan guru itu punya anak batita. Di ruang depan rumah guru terpajang sebuah wayang. Adik mengubah-ubah suaranya lalu mengajak ngobrol si anak guru dengan memainkan wayang itu.
Adik beberapa kali mengucapkan kata ‘silaing’, dalam bahasa Indonesia artinya ‘kamu’, yang sering dia dengar dari dalang sungguhan jika sedang memainkan wayang. Dan si guru serta merta menegur, “Jangan bicara kasar ya, nanti diikutin sama adiknya”
Adik saya tampak tidak enak hati, lalu tiba-tiba terdiam sampai waktu pulang.
Saya sebagai kakaknya sebenarnya tersinggung, karena saya tahu betul adik saya tidak pernah berkata kasar di rumah. Lagipula dia menggunakan kata yang dianggap kasar itu karena dia sedang bermain peran sebagai wayang.
Saya merasa seharusnya sebagai guru, si ibu guru tersebut punya cara yang lebih baik untuk menegur adik saya.

Kejadian 6

Saya agak lupa kejadiannya saat pelajaran agama di sekolah atau saat mengaji sore di masjid dekat rumah. Yang saya ingat waktu itu guru sedang menjelaskan shalat 5 waktu. Hanya saja saya merasa beliau memilih kata-kata yang tidak tepat dengan mengatakan (kurang lebih) begini, “Kalau belum bisa mengerjakan 5 waktu, kerjakan 3 waktu aja udah bagus”.
Saya menangkap itu sebagai ‘keringanan’, bahwa shalat 3 waktu sudah cukup. Itu pun yang menjadi excuse bagi saya ketika dulu sering belang betong shalatnya.

Apa jadinya kalau sampai sekarang saya nggak dapat pencerahan? Bisa-bisa saya dikira sesat… ckckck…

Kejadian 7

Waktu kelas 1 atau kelas 2 SD saya dan beberapa teman pernah kabur dari kelas karena melihat mobil puskesmas masuk halaman parkir sekolah. Kami takut karena takut disuntik.

Usia sebelum TK, mungkin masih 3 tahun, saya sangat ketakutan setiap pergi ke rumah seorang saudara karena harus melewati komplek tentara yang ada pos jaganya dengan sejumlah tentara berjaga-jaga sambil menenteng senjata.
Saya sembunyi di balik punggung Mamah karena takut ditembak.

dst… dst…

Familiar dengan situasi seperti itu? Sudah saatnya anak sekarang tidak ditakut-takuti dengan sosok dokter, tentara, polisi, hantu, bahkan orang gila.

Kejadian-kejadian lain … hmm … Nanti saya ingat-ingat lagi.

Teringat salah satu renungan di sebuah buku parenting, bahwa anak-anak kita akan hidup pada jaman yang berbeda dengan kita, maka didiklah anak sesuai jamannya. Artinya, cara orangtua mendidik kita dulu belum tentu cocok jika diterapkan pada anak-anak kita sekarang. Maka dari itu, sebagai orangtua mesti terus meng-upgrade diri, dan yang terpenting membekali anak-anak dengan ilmu agama yang sudah terbukti tak lekang oleh pergantian jaman.

Cerita Hape Pertama : Si Langsing Samsung C100

9 Comments

Ada lah hape pertama saya, Samsung C100 yang pernah saya bangga-banggakan. Sepuluh tahun yang lalu, Nokia masih menjadi merek hape pilihan sejuta umat dengan harga selangit, dan saya boleh berbangga menggenggam merek hape yang tidak umum pada saat itu namun dengan kualitas yang bisa dijagokan.

Kebetulan saya ber-SMA di sekolah berasrama penuh yang melarang KERAS (terpaksa saya capslock) siswanya membawa hape ke asrama. Namun, pada tahun ketiga, satu per satu teman saya pun mulai melanggar. Alasan klisenya… karena sudah kelas 3, banyak yang harus dikomunikasikan dengan orangtua terkait kelulusan, kelanjutan studi, dll, dan memiliki hape menjadi pilihan yang praktis dibanding harus mengantri setiap minggu di warnet.

Dengan alasan yang sama, saya pun membujuk memaksa orangtua membelikan saya hape. Keinginan itu terkabul ketika liburan sehabis Ujian Akhir Nasional (kalau sekarang UN) orangtua mengajak saya ke counter hape bekas di kota kami. Saat itu saya langsung jatuh cinta pada si cantik penuh warna nan slim dan elegan, Samsung C100. Harganya pas satu juta. Cukup mahal untuk hape second. Namun, setara dengan kondisinya yang hampir seperti baru.

Selesai liburan, saya akhirnya nekad juga membawa hape ke asrama karena melihat banyak teman saya pun melakukannya. Saat itu kebanyakan kami berpikir, kami sudah selesai ujian, jadi mungkin akan mendapat toleransi atas ‘kenakalan’ kami melanggar aturan sekolah. Ada juga yang dengan nada bercanda berkata, boleh kok bawa hape asal nggak ketahuan. Hehe.

Sebenarnya, guru penanggung jawab asrama masih memberi sedikiiit sekali kelonggaran dengan membolehkan siswa membawa hape, asal… hanya digunakan pada hari Minggu, di bawah pengawasan. Di sisa hari yang lain, hape harus dititipkan di ruang guru.

Maka, kami yang tetap nekad menyusupkan hape melakukan berbagai cara untuk menyembunyikannya. Terutama sebelum berkegiatan keluar kamar kami menyimpan hape serapi mungkin, karena sewaktu-waktu guru bisa merazia kamar tanpa diduga.

Disinilah seninya, seni menyembunyikan hape. Ada yang disembunyikan di ember penuh cucian. Disembunyikan di dalam sepatu yang kemudian dijemur seolah-olah baru dicuci. Disembunyikan di kantong baju lalu baju digantung di jemuran. Disembunyikan di dalam tas bekas di gudang asrama. Ada juga yang memasukkannya secara paksa ke dalam kasur busa. Saya, termasuk yang bodoh dan tidak berpengalaman, dengan polosnya hanya menyimpannya di tas baju yang dalam satu tarikan retsleting sudah menampakkan dengan terang si hape itu. Ya, jadi hape saya tertangkap pada hari kedua saya menggunakannya. Apes, saya tidak menyangka guru-guru melakukan razia pada hari itu. Lucunya, salah seorang teman yang membiarkan hapenya tergeletak begitu saja di kasur malah aman. Saya meratapi kebodohan keapesan saya. Huhu…

Singkat cerita, saya baru bisa mengambil barang sitaan itu pada hari-hari terakhir sebelum kelulusan. Bertahun-tahun setelah kejadian itu saya masih menggunakannya. Hape itu menemani 4 tahun masa kuliah saya, sampai akhirnya terpaksa harus dimuseumkan pada tahun pertama saya bekerja, karena dia bertahan hidup jika, dan hanya jika, dihubungkan ke sumber listrik.

Saya memensiunkan Samsung C100 pada tahun 2009, setelah pengabdiannya selama 5 tahun. Saya memenuhi janji untuk menggunakannya sampai dia benar-benar tidak bisa digunakan. Pada saat itu, hape-hape tipe baru banyak bermunculan, dan hape pertama saya termasuk hape usang yang bahkan harga second-nya pun tidak sampai 300 ribu rupiah, bahkan kurang.

Sampai saat ini, saya masih bisa ingat bagaimana rasanya menggenggam tubuhnya yang licin dan kokoh, mendengar ringtone khasnya, dan melihat bentuknya dalam bayangan saya, walaupun performa terakhirnya sudah babak belur disana sini.

image

Samsung C100

Saya rindu hape penuh kenangan ituh :)

image

Ngontrak

6 Comments

Rumah AC-4

Disini lah kami tinggal, di sebuah rumah kontrakan 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan area menjemur yang luasnya, jika ditambah teras dan halaman depan yang cukup memarkir sebuah mobil, tidak kurang dari 100 meter persegi. Luas, bahkan terlampau luas untuk kami yang hanya tinggal bertiga.

Sebenarnya tidak tepat juga jika dikatakan ‘ngontrak’, toh kami tidak membayar sepeser pun untuk tinggal disini hehe. Hanya kebetulan saja rumah ini sudah ditinggalkan penghuni sebelumnya sebelum masa sewa habis pada Desember 2013. Penghuni sebelumnya itu ya rekan kantor suami saya, dan rumah ini jatah kontrakan dari kantor.

Yang namanya ngontrak, atau lebih tepatnya, numpang :D, kita tidak bisa menuntut rumah ini tampil prima. Pada hari pertama menginjakkan kaki disini, kami sudah dihadapkan pada masalah. Dan seiring dengan waktu, masalah-masalah lain pun bermunculan. Mulai dari pompa air mati sehingga kami mengalami krisis air, keran bocor, bak bocor, pipa PAM bocor hingga tagihan air mencapai angka 7 digit (gila gak tuh!?), kusen rapuh karena rayap, saluran air mampet, air hujan merembesi dinding, dapur banjir, dll.

Belum lagi hadirnya makhluk-makhluk kecil, seperti cicak, semut, rayap, nyamuk, kadang-kadang lalat, kecoa, dan tikus.
Saya yang biasanya gelisah hanya gara-gara ada seekor cicak di dinding kamar, kini bisa dengan santai melihat cicak yang merayap di lantai, jendela, atau rak TV. Banyaknya cicak disini mungkin karena pasokan nyamuk yang melimpah juga ya.

Yang paling menjengkelkan adalah semut. Semut hitam, semut merah, dan semut pirang (???). Sebentar saja kita meninggalkan makanan atau piring bekas makan di lantai, jangan tunggu sampai 5 menit semut-semut itu sudah datang mengerubungi.

Sementara rayap membuat rumah ini tidak pernah benar-benar bersih dari remahan kayu. Dalam suasana yang sangat sunyi, saya bisa mendengar kusen-kusen kayu berkeretakan dilalap rayap. Alhasil, beberapa kusen pintu dan jendela tidak berfungsi dengan baik, beberapa ada yang tidak bisa ditutup atau sebaliknya, susah dibuka.

Kabar baiknya, satu-satunya tikus di rumah ini ditemukan mati di tempat jemuran sekitar sebulan yang lalu. Maka tikus bisa dicoret dari daftar makhluk kecil yang menjengkelkan di kontrakan.

Kalau mau mengeluh, maka daftar keluhan itu tidak akan pernah selesai. Tapi mengeluh tidak mengubah kondisi apapun kan? Malah semakin menutup mata saya atas hal lain yang lebih patut disyukuri. Kenyataan bahwa kami tinggal tanpa membayar disini, bukankah harus sangat disyukuri? Apalagi kami dititipi pohon pepaya yang buahnya aduhai lebatnya, hehe.

Belakangan, saya malah menganalogikan numpang di kontrakan ini kayak kita numpang hidup di dunia. Allah kasih segalanya cuma-cuma. Manusia saja yang seringkali gak bersyukur atas nikmat Allah yang cuma-cuma ini. Memang, Allah tidak akan mengubah suatu kaum kecuali kaum tersebut yang mau mengubah dirinya sendiri. Tapi ada kalanya kita tidak bisa mengubah apapun pemberian dari Allah, given, sudah dari sononya, misal hal-hal terkait fisik. Yang perlu kita lakukan, sabar dan syukur saja, dengan begitu Allah akan menambah nikmatNya untuk kita.

InsyaAllah :)

*Lagipula, kalau ngontrak rumah kan kita masih bisa berharap agar bisa segera pindah ya… hehehe*

Gegar Budaya

Leave a comment

Apakah tidak berlebihan disebut gegar budaya, sementara saya masih belum beranjak dari Pulau Jawa?

Semua berawal dari suatu pagi, ketika saya dan suami menerima undangan syukuran pernikahan (ngunduh mantu) dari tetangga persis sebelah rumah. Yang agak mengherankan, dan luput tidak kami tanyakan ke si pengantar undangan adalah, undangannya ada dua. Undangan pertama layaknya kartu undangan biasa yang didesain cantik, dan yang kedua hanya tercetak di atas selembar kertas HVS berwarna.
Image
Kami tidak terlalu meneliti kedua undangan tersebut, sehingga dengan cepat menyimpulkan, undangan yang tercetak di kertas HVS itu mungkin koreksi atas undangan yang satunya lagi. Kami baca disana acaranya tanggal 2 November 2013, pukul 10.00 WIB.

Pada hari H, kami masih bersiap-siap dengan santai ketika pada pukul 10.00 dari rumah sebelah terdengar MC membacakan susunan acaranya, mulai dari pembacaan ayat suci Alquran, sambutan-sambutan, sampai ceramah dari Kiai, doa, dan ramah tamah. Saya hanya fokus pada acara terakhir, yang biasanya jadi inti dari keseluruhan acara, yaitu ramah tamah hehe, dan itu acara ke 7. Maka kami bersiap-siap tanpa terburu-buru.

Ketika keluar rumah sekitar pukul 10.30, di depan gerbang rumah, kami terheran-heran melihat di halaman rumah si empunya hajat sampai ke jalanan di depannya, para tamu undangan, yang mana adalah bapak-bapak, duduk di atas karpet yang disediakan. Kebanyakan berpakaian baju takwa dan peci, seperti pengajian. Karena disana cukup sesak, maka kami hanya berdiri di depan gerbang rumah kami, sambil mendengarkan ceramah pernikahan dari seorang Kiai.

Ketika ceramah selesai, kemudian ditutup dengan doa, selanjutnya acara ramah tamah (yang kami tunggu-tunggu), namun tak satupun tamu undangan yang beranjak dari tempat duduknya, karena hidangan sudah tersedia di depan tempat mereka duduk. Setelah itu, mereka bubar. Dan karpet-karpet segera dibereskan.

Lho? Saya dan suami hanya berpandangan heran. Udah? Gitu aja??

Terbingung-bingung kami menyimpulkan, mungkin seperti ini lah tradisi acara ngunduh mantu di Jember. Agak lama sampai kami ingat dua buah undangan yang kami terima beberapa hari sebelumnya.

Kali ini kami baca dengan lebih teliti, dan ahaa… Ini dia perbedaannya:

Di undangan pertama (kartu undangan desain cantik) tertulis:

Image
…..Resepsi Pernikahan……pada Sabtu, 2 November 2013, Pukul 18.00 WIB

Sementara di undangan kedua (undangan di kertas HVS) tertulis:

undangan walimah…..Walimatul Urusy pada Sabtu, 2 November 2013 Pukul 10.00 WIB

Got it! Itu adalah dua undangan untuk dua acara berbeda. Kata kuncinya adalah “Resepsi Pernikahan” dan “Walimatul Urusy”. Walaupun keduanya berarti Perayaan Pernikahan, rupanya di lingkungan saya sekarang keduanya bermakna beda berdasarkan konten acaranya.

Untungnya kami tidak melewatkan undangan resepsi pada sore harinya. Ada pengantin, ada hiburan musik, dan ada makan prasmanan :p

Meninggalkan Jakarta (1)

Leave a comment

Jakarta, dalam bayangan anak ‘kampung’ seperti saya adalah kota yang…hmm…kota bangeeettt. Identik dengan kemakmuran warganya, gedung-gedung bertingkat, para karyawan berdasi dan bergaji tinggi, mal-mal gemerlap, anak muda gaoool berbahasa setengah asing, dan hal-hal ‘ngota’ lain yang sebelumnya hanya bisa saya saksikan di layar kaca.

Jakarta terdengar jauh dan eksklusif. Ketika SMA, saya mengenal Jakarta hanya dari apa yang melekat pada teman-teman saya yang berasal dari sana. Sebagian besar dari mereka menggunakan sapaan lo-gw, ketimbang aku/saya-kamu, memiliki karakter percaya diri, dan sepertinya mengetahui lebih banyak hal daripada kami yang dari DAERAH. Ya, keeksklusifan itu makin terasa ketika ada penyebutan ANAK JAKARTA dan ANAK DAERAH, entah siapa yang memulai.

Selulus SMA dan kuliah di Bandung, Jakarta terdengar semakin dekat. Semakin banyak teman yang berasal dari sana, karakter mereka lebih beragam. Selain itu cerita tentang kerja di Jakarta menjadi perbincangan sehari-hari mahasiswa tingkat akhir di kampus saya. Sampai keinginan itu muncul, tidak muluk, saya ingin bekerja di Jakarta.

Bisa dihitung jari, berapa kali saya ke Jakarta sebelum lulus kuliah tahun 2008. Seingat saya, setelah karyawisata ke Jakarta kelas 3 SMA (2004), mungkin hanya 4 kali saya ke Jakarta lagi. Terakhir kali, pada tahun ke-empat kuliah saya membantu seorang dosen jadi ‘tukang ketik’ di workshop yang diikutinya. Disana saya tinggal di hotel berbintang di kawasan Harmoni. Dan benar saja, rasanya seperti orang kampung masuk kota. Di taksi dalam perjalanan pulang dari hotel menuju pool travel di Jalan Sudirman, saya dengan mulut menganga tidak berhenti ber-WOW melihat gemerlapnya Jakarta. Kebetulan, tempat-tempat yang saya lalui adalah landmarknya Kota Jakarta. Dari Harmoni melewati Istana Kepresidenan dan Monas, melewati Bundaran HI, berbagai gedung pemerintahan, dan bangunan tinggi lain yang sebagian adalah gedung-gedung kantor pusat dari berbagai perusahaan ternama.

Maka keinginan itu semakin menguat. Saya hanya ingin bekerja di Jakarta. Keinginan itu mulus saja tercapai, sehari setelah wisuda saya langsung berangkat ke Jakarta, menjalani hari pertama disana sebagai karyawan baru di sebuah kantor akuntan publik di Jalan Sudirman, salah satu ruas jalan yang mewakili apa yang saya bayangkan tentang Jakarta selama itu.

Namun, bulan pertama di Jakarta, saya sudah ingin pulang…

Older Entries