My Black Book isn’t Blackberry

Leave a comment

Haha…tentu saja disini kita tidak sedang membicarakan blackberry kan?
Lagian blackberry siapa yang akan kita bicarakan sementara aku ga punya.
Hmmm…teringat satu buku hitam yang aku beli dengan gaji pertamaku.
Jangan berpikir terlalu rumit tentang frase ‘buku hitam’ itu. Aku menyebutnya seperti itu hanya karena buku itu memang benar-benar berwarna hitam.
Apa yang istimewa?
Karena buku itu adalah diary-ku yang ke 5.
Awalnya, aku bilang pada buku itu….”Nanti kamu tak ceritain kisah-kisah pribadiku ya…dimana hanya aku, kamu, dan Allah yang tahu…”.
Hah…untungnya aku tidak sampai hati menceritakan kisah itu…”Tragis!”, komentar sepupuku.
Ya…walaupun pada akhirnya aku tak pernah mengisi buku itu, sampai tadi malam aku ingin menuliskan mimpi-mimpiku disana.

Terinspirasi oleh video tentang seseorang yang menuliskan mimpi-mimpinya, dan satu per satu mimpi itu pun terwujud.
Dan teringat pada beberapa peristiwa di masa lalu dimana mimpi-mimpiku terwujud karena aku menuliskannya.
Aku pernah menulis besar-besar di kertas yang kutempel di dinding kostan targetku selama 1 semester…semester 3 kalo tidak salah.
Disitu…aku menulis…salah satunya…
More

Lanjutannya PUTUS

Leave a comment

Di putus sebelumnya, aku cerita tentang kunjunganku ke kampus beberapa hari yang lalu. Kunjungan??? Kayak ibu-ibu pejabat ajah..hehe.

Kalo dibaca-baca, cerita sebelumnya malah ga sedikitpun membahas tentang putus sekolah yang awalnya pengen aku ceritain.
Maka, inilah lanjutannya…..

Jadi…..
Setelah keluar dari SBA, aku sengaja menuju pintu keluar gerbang kampus melalui jalan depan gazebo, karena sebelumnya sekilas aku berpapasan dengan Ibu Gorengan.
Dari jarak yang cukup jauh Ibu Gorengan sudah menyapaku dengan matanya yang berbinar….
“Ya Allah Neng…..alhamdulillah….ketemu lagi sekarang….duuhh…ibu tuh inget terus sama Eneng-Eneng teh…udah pada lulus teh kemana, pada ga keliatan….”, sambut Ibu Gorengan ketika aku mendekatinya.
“Iya Ibu, sekarang udah pada kerja. Ada juga yang masih di Bandung, tapi kan udah ga pernah lagi ke kampus”
“Alhamdulillah atuh Neng, kalo udah pada kerja mah…Ibu tuh inget terus………………..”
Maka mengalirlah ceritanya….tentangku, tentangnya, tentang sakitnya…..
“Neng…mukanya bersih ya kalo udah kerja, liat nih kulit muka Ibu mah ngelupas-ngelupas, kena matahari”, katanya sambil menunjukkan bagian kulit hidungnya yang mengelupas.
“Belum lagi kemarin-kemarin mah Ibu tuh sakit ampe dua kali dirawat di Hasan Sadikin”
“Astaghfirullah Bu, kok bisa?”
“Iya…..yang nganterin aja anak-anak FE sini, dijengukin ke rumah sakit, sampai pada datang ke rumah juga, suami Ibu ampe bilang, ‘Malu atuh Bu, jangan nyusahin orang terus’, ya..gimana atuh Neng, yang ngasih sakit kan Allah…”

…………Panjang……………………..

Sampai akhirnya sampailah pada topik:
“Anak-anak Ibu gimana? Masih sekolah kan?”
“Yang kedua mah udah ngga Neng…”
“Allah….”, lirihku dalam hati.
“Kok bisa? Sejak kapan?”
“Baru kok Neng. Padahal Ibu tuh udah bilang, ‘jangan mikirin biaya, yang penting sekolah, masalah biaya sekolah itu urusan Ibu’, tapi tetap saja anak Ibu tuh maksa pengen putus sekolah, ‘kasihan lah sama Ibu’, katanya gitu”

Aku terlambat…………tiba-tiba aku merasa tidak berguna.
Anak yang baru menyelesaikan kelas 1 SMP itu….yang belum sedikitpun mengecap bangku kelas 2 SMP, harus PUTUS, dan aku merasa terlambat. Haruskah lingkaran kemiskinan berulang pada keluarga si Ibu?

“Terus anak Ibu yang paling kecil gimana?”
“Masih Neng, baru masuk SD, kalo yang kecil mah Ibu usahain pengen bisa nyekolahin sampe kuliah”
“Iya atuh Bu…..dikuliahin di FE sini aja lah Bu…biar bisa sama-sama Ibu”, alhamdulillah, syukurku dalam hati, Ibu Gorengan masih punya cita-cita tinggi untuk menyekolahkan anaknya hingga kuliah.
“Iya Neng, siapa tau yang kecil ini yang ngangkat keluarga Ibu”, amin…amin…amin….dalam hati.

Semoga Bu…semoga….semoga Ibu bisa mencapai harapan Ibu…

Semoga saya bisa bantu…semoga…

Semoga bukan gara-gara SBY – Boediono

Leave a comment

Malam ini diadakan pendeklarasian cawapres pendamping Pak SBY pada Pilpres 2009 di Sabuga, Bandung.
Heboh beneeerrrrr…..
Begitu buka kompas, detik, tempo, bahkan forum diskusi isinya kebanyakan membahas acara tersebut, termasuk siapa aja yang diundang, perwakilan dari partai politik mana aja yang datang, sampai ke hal-hal yang remeh temeh, seperti warna dan model baju seperti apa yang dikenakan oleh Pak SBY dan keluarganya. Eh ada lagi yang lebih remeh, yaitu harga jahit baju yang dikenakan SBY malam ini, jenis bahan, dan penjahitnya sekalian. Hahaha…ga percaya? Buka aja detik.
Tapi disini (tentu saja) saya tidak akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan acara tersebut, karena sudah terlalu banyak orang yang membahasnya di situs-situs diatas, mungkin juga di situs-situs lain yang belum sempat terjelajah, saya hanya terpancing untuk menulis ketika mendengar kata BANDUNG sebagai tempat yang dipilih SBY sebagai kota dideklarasikannya beliau menjadi Capres.

Yang langsung terlintas di benak saya ketika mendengar berita itu adalah, “Waw…bakal semacet dan seramai apa Bandung malam ini?”. Di akhir minggu seperti ini, acara ‘seheboh’ itu (kalo bisa dibilang heboh) diadakan di gedung yang juga tidak terlalu jauh dari ke-Gubernur-an, hotel yang dipilih oleh rombongan SBY pun adalah hotel di Jalan Dago yang merupakan salah satu jalan yang ramai dikunjungi orang saat hari biasa apalagi weekend tiba, dan tamu-tamu yang diundang pasti menambah kontribusi kemacetan di Kota Bandung, belum lagi membayangkan akan ketatnya pengamanan bahkan mungkin sampai berkilo-kilo meter dari tempat acara berlangsung.

Jadi ingat acara kunjungan SBY ke kampus saya sekitar dua tahun yang lalu. Saat itu saya masih nge-kost tidak jauh dari kampus, bisa ditempuh dengan berjalan kaki kurang dari 10 menit (dengan catatan langkah panjang dan tidak leha-leha….), maka sangat terasa suasana persiapan penyambutan Sang Presiden yang dalam beberapa hal menyulitkan aktivitas kami di kampus.
Kebetulan saat itu acara berlangsung pada hari Minggu, dan praktis semua kegiatan kampus yang kebetulan dijadwalkan pada hari itu pun ditiadakan.
Pengamanan sangat ketat. Ketika pagi itu saya hendak ke ATM kampus untuk mengecek kiriman orangtua, saya ‘disambut’ oleh entah berapa truk anggota kepolisian yang berjaga-jaga di sekitar monumen perjuangan rakyat Jawa Barat di seberang kampus. Pemandangan yang lebih ‘mengerikan’ saya saksikan di sekitar kampus saya, di sekelilingnya banyak anggota TNI berjaga-jaga siaga dengan senjata mereka yang (mungkin) sewaktu-waktu bisa menyalak apabila dibutuhkan.
Yang lebih tidak mengenakkan adalah karena pada hari itu saya menjadwalkan jalan-jalan ke daerah Jalan Merdeka, yang mana bisa ditempuh dengan satu kali angkot dari depan kampus sampai ke depan tempat tujuan.
Tapi ‘gara-gara’ ada acara itu, semua angkot yang melalui jalan depan kampus saya diubah jalurnya untuk sementara waktu, dan saya terpaksa berjalan beberapa ratus meter sampai menemukan angkot yang dimaksud, sejauh itu pun saya masih berpapasan dengan para anggota kepolisian dan TNI yang berjaga-jaga lengkap dengan senjata mereka.
Maka ketika mengetahui hari ini diadakan acara yang melibatkan Pak SBY di Bandung, bahkan banyak petinggi negara dan perwakilan partai politik yang datang, saya langsung membayangkan betapa…betapa…betapa…ah entahlah…
Yang pasti saya berharap semoga sopir-sopir angkot tidak kehilangan kesempatan mendapatkan rejekinya hanya gara-gara para penumpangnya membatalkan niat untuk keluar rumah gara-gara ada acara di Sabuga itu, semoga para pedagang makanan yang berjualan di sepanjang Jalan Juanda (yang pasti dilewati oleh rombongan SBY dari Sheraton menuju Sabuga) tidak di’usir’ malam ini gara-gara orang nomor 1 di Indonesia itu mau lewat, semoga…..Bandung tidak macet…Hahaha…kalo ini harapan yang dengan yakin saya katakan ‘sia-sia’, kalaupun macet semoga masyarakat Bandung tidak ada yang dirugikan dengan kemacetan dan kesulitan mendapatkan kendaraan umum gara-gara adanya acara dalam rangkaian pemilihan PEMIMPIN BANGSA ini.

Pertanyaannya sekarang adalah….
Berapa banyak kata ‘gara-gara’ dalam postingan saya di atas??? Hahahaha….
Semoga bukan gara-gara SBY-Boediono saya jadi menulis postingan tidak jelas seperti ini.

ELLO….

Leave a comment

Di radio klien, sayup-sayup terdengar lagu yang dinyanyikan Ello, beberapa orang di situ berkomentar (bergosip – tepatnya) tentang Ello.

Masa bodo dengan Ello dan gossip-gossipnya….

Karena…seketika itu, ingatanku langsung terbang ke masa 4 tahun lalu, di masa aku mengenal sesosok lain bernama Ello.

Ello yang kuning, Ello yang ganteng, Ello yang……..berekor.

Oh…Ello..Ello…satu-satunya kucing yang membuatku penasaran karena begitu sulit menaklukkan hatinya. Dia jinak. Peliharaan Teteh tetangga kamar di kostan. Tapi…dia sama sekali tidak mau didekati apalagi dibelai. Sesekali aku sempat sedikit menyentuhnya (hanya menyentuh) ketika dia lengah, itupun langsung ditanggapi dengan ‘jutek’.

Nama aslinya adalah Yellow. Sederhana, karena bulunya kuning. 

Tapi apa yang menarik? Di kalangan kucing-kucing, dan di antara banyak kucing yang kukenal sepanjang hidupku, dialah kucing yang paling ‘cakep’. Seandainya di dunia perkucingan ada dunia selebritis dan model, maka bisa dipastikan dia menjadi salah satu top modelnya. Hehehe…

Ini beneran lho…tidak bermaksud melebih-lebihkan cerita. Bahkan teman kostanku yang lain, yang tidak punya perhatian khusus sama kucing mengakui bahwa Ello itu….ganteng dan cool. Hahaha…

Tenang…tenang…setelah tulisan ini diturunkan, kalian ngga perlu menganggapku ngga normal, karena bilang si Ello ganteng lah, si Ello cool lah, aku masih menyukai makhluk sesama spesiesku kok. Hoho.. .

Terus, kapankah aku mulai bisa menaklukkan si Ello?

Entahlah. Tidak tahu pasti kapan dan bagaimana ceritanya, si Ello, pada akhirnnya, mulai mau dibelai. Sejak lahir dia tinggal di lingkungan kostan kami, dan tak ada satupun yang berhasil membuatnya mau dibelai, dan sebenarnya…..ngga ada yang peduli juga sih, selain aku, mungkin, dan salah satu teman gilaku, yang sama-sama suka ‘mengoda’ Ello. Dulu berbagai macam cara kami lakukan hanya untuk membuat Ello ‘melirik’ kami. Di beberapa kesempatan kami berhasil mengunci dia di dalam kamar dengan tipu muslihat ranjau ikan asin. Dan…kalap…Ello benar-benar kalap setiap terkunci di dalam kamar. Mengeong-ngeong, berusaha memanjat jendela, meraih-raih gagang pintu. Kami hanya tertawa. Mungkin yang ada di pikiran Ello saat itu, “Cewek-cewek gila ituu!!! Help meeeee…..mereka ingin menodaikuuuu…”.

Ah Ello…kami hanya ingin membelaimu. Itu saja. Tapi kamu terlalu sombong. Terlalu jual mahal. Terlalu sulit untuk ditaklukkan.

Beranjak dewasa, seperti kucing-kucing jantan pada umumnya, Ello pergi. Tanpa pamit. Saat itu, kami sudah mulai dekat dengan Ello. Dia sudah mulai mau dibelai, walaupun, tetap, dengan bujukan ikan asin. Si ganteng itu….si cool itu….entah dimana. I’m officially missing ‘him’?!

 

(Heu..heu…hatiku sedih, temanku menganggapku ‘gila’ setelah membaca tulisan ini…)

 

* Sumber gambar dari sini

Bandung Loves Me…. (Ms. G)

Leave a comment

Salah satu barang yang ada di daftar belanjaanku hari ini adalah tas gitar. Barang ini memang sudah kurencanakan untuk kubeli sehubungan dengan keinginanku memboyong gitar ke Jakarta.

Aku memang ga mahir bermain gitar. Gitu-gitu ajah…hasil belajarku secara otodidak. Padahal, dulu sebenarnya aku punya kesempatan belajar banyak tentang gitar dan cara memainkannya. Aku berkenalan dengan gitar sejak kelas 1 SMP, ketika keinginan Aa untuk memiliki gitar dipenuhi oleh Mamah. Waktu itu, aku hanya sesekali saja memainkannya. Beberapa kunci dasar bisa aku mainkan, tapi “Gitarnya terlalu besar, jari-jariku terlalu sulit memainkan kunci-kunci tertentu”, begitu batinku kala itu, sekaligus sempat mengakhiri perkenalanku dengan gitar selama beberapa waktu.

Di SMA, seorang temanku ada yang memboyong gitar dari rumahnya ke asrama. Aku jadi sering meminjamnya, walaupun seperti yang kukatakan tadi, permainan gitarku yah..gitu-gitu ajah. Tapi…terima kasih buat Dai yang membuatku lebih menyukai gitar. Dialah yang pertama kali mengajariku membunyikan senar dengan dipetik, dan menurutku itu cara bermain gitar yang menyenangkan. Hingga pernah di suatu masa di tahun ketiga SMAku aku jadi agak sedikit keranjingan main gitar, walaupun seperti yang kubilang tadi…permainan gitarku masih gitu-gitu ajah.

Saat memasuki bangku kuliah…aku makin tertarik mempelajari gitar. Apalagi waktu itu kamarku bersebelahan dengan kamar cowok (2 tahun pertama kuliahku, aku kost di kost yang campur cowok-cewek) yang….wuih…keren deh….main gitarnya loh ya….bukan orangnya…hehe. Di waktu-waktu tertentu saat dia memainkan gitar, aku sengaja mengecilkan volume radioku (yang biasa kunyalakan 24 jam nonstop! Ini fakta lho…) demi mendengar petikan gitarnya yang menurutku keren bangeeeettt. Aku jadi makin tertarik pengen belajar main gitar. Beberapa kali aku berkesempatan meminjam gitar si tetangga sebelahku itu. Tapi ga bisa lama-lama….ga enak aja. Walaupun dia ga pernah minta balik, tapi tau diri lah…masa minjem lama-lama. Tapi…ya itu…permainan gitarku masih gitu-gitu ajah. Sebenarnya yang membuatku sangat ingin memiliki gitar adalah ketika suatu kali aku berkesempatan ikut latihan nasyid sama teman-temanku. Dengan suara pas-pasan, di bawah standar malah, aku memaksakan diri ikutan nasyid, karena keterbatasan personel saat itu. Salah seorang temanku, yang suaranya jauuuuhhh lebih oke dari aku terpaksa ga ikut nyanyi karena dia yang bertugas mainin gitar. Sempat dipertimbangkan, si dia harus tetap ikut nyanyi sambil main gitar, tapi….”Aku ga bisa nyanyi sambil main gitar”, katanya. Waktu itu beberapa temanku sempet melihatku bermain gitar, walaupun agak kacau. Teman-temanku terlalu berprasangka baik kalo aku bener-bener bisa main gitar dengan bener. Jadilah awalnya aku disuruh gantiin temenku yang bisa nyanyi n bisa main gitar itu untuk main gitar. Tapi karena keterbatasan waktu latihan pulalah, tawaran itu kutolak…daripada tim nasyid yang baru seumur cikur itu ancur….fatal kan. Hehehe…

Tapi melihat kemahiran temanku bermain gitar, lagi-lagi keinginanku belajar gitar muncul. Akhirnya 1,5 tahun lalu Mamah memenuhi keinginanku untuk memiliki gitar sendiri. Dengan adanya gitar di kostanku aku jadi lebih leluasa belajar main gitar. Tapi sampai sekarang permainan gitarku yah…masih gitu-gitu ajah…hehehe…

Seandainya ada kesempatan belajar main gitar dan teori-teorinya, suerrr…aku tertarik banget pengen ikutan. Ga ada kata terlambat untuk belajar kan?

Bandung Loves Me…. (C100 dan F400 -ku)

Leave a comment

C100-ku sudah saatnya diganti. Bahkan umur teknisnya pun sudah hampir tidak ada, terbukti dengan seringnya dia mati walaupun baterei diisi full. Dan dengan my first ma’isyah lah akhirnya aku memenuhi keinginanku mengganti C100-ku. Dari Kios Buku di Gelap Nyawang, perjalanan berikutnya yang kurencanakan adalah ke daerah Jalan Merdeka. Disana ada Bandung Indah Plaza, Gramedia, Bandung Electronik Centre, yang ketiganya memang kurencanakan akan kukunjungi.

Di BEC, aku langsung menuju ke dealer resmi HP Samsung (Wah…sebut merek deh…ga apa-apa ya?!), tanpa sedikit pun berminat melihat-lihat HP dari vendor lain. Selama 5 tahun menggunakan C100, belum pernah aku merasa kecewa, karena HP-ku ini termasuk tahan banting, dan ngerti gw banget (masa sih??). C100 inilah yang menjadi raga pertama bagi jiwa Mentariku. Maksudnya?

Jadi di suatu waktu di tahun ketiga SMA-ku, ketika HP sudah mulai menjadi kebutuhan setiap orang dan mulai bukan menjadi barang mewah lagi, aku mendapat hadiah ulang tahun berupa nomor Mentari dari seseorang. Padahal waktu itu aku ga punya HP, lagian sekolahku sangat ketat menyangkut penggunaan alat komunikasi pribadi itu di lingkungan sekolah. Jadilah selama beberapa bulan pertama sejak memiliki nomor itu, aku hanya bisa mengaktifkannya jika ada temanku yang bersedia meminjamkan HPnya. Salah seorangnya adalah seorang teman tetangga kamar yang sudah mulai nekat bawa HP ke sekolah, yang tanpa kuminta sering menawarkan HPnya untuk kupakai selama beberapa waktu. Dari situlah kami mulai menggunakan istilah ‘jiwa-raga’ untuk HP dan simcardnya. Dimana di banyak kesempatan temanku sering meminjamkan raganya untuk kurasuki oleh jiwaku yang membutuhkan komunikasi dengan jiwa-jiwa lain di luar benteng Tarnus sana. Hehe…

Dan per tanggal 24 Januari 2009 kemaren secara resmi jiwa mentariku berpindah ke raga F400, HP Samsung keluaran terbaru yang fiturnya paling sesuai dengan kebutuhanku. Sejak di BEC pula aku mulai mengabaikan C100-ku…betapa malangnya. Tapi aku berencana masih akan menggunakan C100ku sebelum akhirnya kumuseumkan suatu saat nanti, alasan utamanya karena disana masih tersimpan banyak nomor temanku yang belum sempat kupindahkan ke F400 ku.

Tapi ada satu kejadian yang membuatku tiba-tiba sangat merindukan C100ku. Saat itu tanggal 25 Januari subuh. Aku terbangun karena mendengar alarm C100ku berbunyi, sangat nyaring. Padahal saat itu, C100 tidak lagi kunyalakan, bahkan sekarang dia hanyalah sebuah raga yang kesepian tanpa jiwa. Tapi fitur autopower alarmnya bisa tetap membuat alarm berbunyi walaupun HP dalam keadaan tidak aktif. Aku terbangun dan berusaha mencari C100ku. Biasanya dia berada di dekatku di atas kasur, tapi yang kutemukan di dekatku hanyalah F400-ku. Sampai akhirnya aku menemukan C100ku masih tersimpan di dalam tas, belum berpindah sejak di dealer Samsung tempatku membeli F400.

Duh…sedih juga rasanya melihat C100-ku tampak tersia-sia, tapi dia tetap setia membangunkanku di kala tiba waktuku untuk terbangun dari lelapku dan menegakkan raga ini di hadapan Allah untuk menunaikan shalat Subuh.

Thank you, My Red C100…..

Bandung Loves Me…. (Sudut Favoritku di kamar)

4 Comments

Setelah seharian menghabiskan waktu (dan duit hehe..) mengunjungi beberapa tempat di Kota Bandung, walaupun dengan bawaan yang masih lengkap dari Jakarta, akhirnya aku sampai juga di rumah. Ada satu hal yang sangat ingin kulihat di rumah, yaitu kamar dan rak buku baruku. Suatu hari beberapa hari sebelum kepulanganku ke Bandung, Mamah ngesms, “Put lemari baju dan rak bukunya udah beres”. Alhamdulillah… Sejak ‘meninggalkan’ rumah selepas SMP dulu, aku memang ga pernah punya kamar sendiri. Sampai SMP, aku masih punya tempat tidur sendiri, meja belajar sendiri, dan lemari sendiri. Tapi sejak aku masuk SMA berasrama di Magelang, segala barang-barang pribadi itu tak lagi berada di ruangan pribadiku. Semuanya Mamah pindahkan ke ruangan berlabel “Kamar anak-anak”. “Efisiensi ruangan..”, kilah Mamah, “Lagian kan Put cuma pulang setahun dua kali, itupun ga sampai sebulan di rumah”. Iya, ga apa-apa, aku sama sekali ga keberatan. Apalagi pekerjaan Bapak menuntut kami berpindah-pindah rumah dinas. Dan selama aku di SMA, tercatat sudah dua rumah dinas yang keluargaku singgahi. Di dua rumah itulah aku mulai tidak memiliki kamar sendiri. Hal itu berlanjut sampai aku kuliah. Aku kuliah di Bandung, sementara keluargaku di Kuningan. Walaupun jarak Bandung-Kuningan ga sejauh jarak Magelang-Kuningan, tapi kebiasaanku jauh dari orang tua membuatku jarang pulang ke rumah, walaupun misalnya ada beberapa hari libur yang memungkinkanku menghabiskan waktu bersama kelurga. “Males…”, alasanku, yang kadang membuat teman-temanku terheran-heran, “Emang ga kangen ya sama keluarga?”. “Bukannya ga kangen, cuma rasanya cape di jalan, apalagi kalo liburnya sekedar dua atau tiga hari”. Begitulah….saat kuliah pun aku ga memiliki kamar sendiri di rumah. Dan kost-an, walaupun bukan hak milik, jadi tempat favorit dan private banget ketika aku menginginkan kesendirian. Bahkan aku bisa dengan mudahnya mengabaikan teriakan teman-teman yang memanggilku dari luar kamar jika aku benar-benar tidak ingin diganggu (Maaf ya Pren). Paling mereka hanya akan mengira, “Oh..Put-nya lagi ga ada di kamar”. Seiring waktu berlalu, Bapak pun mendekati usia pensiunnya. Tepatnya bulan Maret tahun ini Bapak pensiun. Dan inilah yang seringkali Mamah sesalkan, sehingga tak henti-hentinya mengingatkan anak-anaknya agar jangan melakukan kesalahan serupa, yaitu, belum memiliki rumah sendiri bahkan ketika Bapak hampir pensiun. Rumahku di Bandung baru mulai dibangun sekitar 3 tahun yang lalu, itupun dikerjakan dalam rentang waktu yang cukup lama. Karena bisa dibayangkan, sungguh berat untuk kedua orang tuaku yang berpenghasilan PNS membiayai pembangunan rumah sambil membiayai (saat itu) dua anak yang masih kuliah, seorang anak yang beranjak kuliah, dan seorang anak yang masih sekolah. Tapi, Alhamdulillah…kebutuhan pokok kami (anak-anaknya) sebagai mahasiswa dan siswa tidak pernah terabaikan. Bahkan aku hampir selalu mendapatkan apa yang kubutuhkan untuk menunjang kuliahku. Kembali pada pembicaraan soal ‘Kamar Pribadi’, akhirnya aku mendapatkannya lagi setelah tujuh tahun tidak pernah memilikinya. Yang lebih menyenangkan, perabotan di kamarku juga semuanya baru (kecuali tempat tidur). Dan adalah sudut favoritku di kamar…..di suatu sisi kamar dimana berdiri sebuah rak buku disana. Sudah lama aku menginginkannya. Koleksi bukuku memang tidak terlalu banyak, tapi aku sangat membutuhkan rak buku yang layak untuk melindungi buku-bukuku dari berbagai hal yang membuat buku-bukuku kotor, kusut, terlipat, atau hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Kata teman-teman kuliahku dulu, “Kamu overprotective ya Put sama buku…”. Bukan begitu, tapi….bisa juga begitu. Aku bisa kehilangan nafsu membaca jika menyaksikan buku yang kubaca ‘jelek’. Lagipula aku hanya berusaha memperlakukan buku-bukuku sesuai haknya. Ada yang bilang, “Makin kusut berarti tuh buku makin sering dibaca”. Hmmm…ga juga. Walaupun sering dibaca, kalo yang baca ngga jorok, buku akan tetep kelihatan seperti baru. Masih berkaitan dengan buku, bahkan aku pernah merasa dongkol sampai lebih dari seminggu gara-gara buku-bukuku kotor ketumpahan jus, yang warna dan baunya ga bisa hilang sampai sekarang. Waktu itu, aku tampak sedikit menyalahkan temanku yang kuanggap jadi tersangka, sampai akhirnya aku merelakan buku-buku itu tidak kembali ke kondisinya semula. Di waktu yang lain, temanku dengan sangat rapi membungkus bukuku dalam kantong plastik ketika hendak meminjamnya, “Takut kotor dan kehujanan…”, katanya. Dan yang paling lucu, temanku membelikanku buku baru yang sama persis dengan bukuku yang dipinjamnya hanya karena bukuku jatuh dan sedikit kotor. Hahaha…mereka terlalu berlebihan menilaiku overprotective terhadap buku. Padahal ketika menyaksikan bukuku teraniaya, aku paling cuma berekspresi sangat kaget sesaat setelah buku itu mendapat perlakuan yang tidak layak, dan melupakannya beberapa lama kemudian.

Older Entries