Motivasi Menulis

Leave a comment

Jaraaaang ada (atau malah ga ada?!) kegiatan yang bisa konsisten saya lakukan… selain menulis di blog. Terhitung hampir sepuluh tahun saya ngeblog sejak pertama kali mem-posting tulisan pada Juni 2008. Waktu itu saya masih mahasiswa tingkat akhir yang butuh ‘pelarian’ dari kemumetan mengerjakan skripsi.

Meski sudah 10 tahun, saya bukanlah blogger yang punya banyak penggemar, lantas mendapatkan rentetan respon di kolom komentar. Ngga. Saya ini semacam ngeblog dalam kesunyian. Halah. Pembaca setia blog saya adalah… SAYA SENDIRI. Tak jarang di banyak kesempatan, saya membuka-buka lagi tulisan lama dan menemukan inspirasi dari sana. Atau sekedar mengingat-ingat kejadian yang pernah saya ceritakan di blog, untuk kemudian bertanya pada diri sendiri, “Oh pernah ya ngalamin ini” atau “Oh pernah ya nulis tentang ini”. 

Dalam perjalanannya selama 10 tahun itu, motivasi menulis pun berganti-ganti. Dari yang awaaall banget hanya sekedar untuk curhat (sebagai pengganti buku diary yang udah ga zaman pada masa itu), lalu ganti lagi jadi untuk berkomunitas, yang kemudian saya bergabung di sebuah komunitas blogger dan menemukan beberapa teman disana (sekarang udah engga), kemudian dengan ikut komunitas tersebut, saya jadi termotivasi untuk mendapatkan hadiah dengan mengikuti give away dan tantangan menulis (tapi ini udah engga juga), dan sekarang kembali lagi, motivasi saya menulis hanya untuk curhat.

Terkhusus sejak menikah lalu punya anak, cerita saya lebih banyak berputar-putar di sekitar urusan rumah dan anak-anak.

Ketika menulis tentang anak-anak ini, saya punya motivasi tersendiri. Saya ingin, suatu hari nanti anak-anak membaca tulisan-tulisan saya dan menemukan sesuatu sebagai pelajaran. Atau membaca doa dan harapan saya untuk mereka yang tak jarang saya sisipkan di beberapa tulisan, untuk kemudian diwujudkan. Atau sekedar kenangan, bagaimana mereka bertumbuh dan berkembang. Selain mereka juga bisa membaca buah pikir dan pengalaman ibunya yang dengan itu mereka bisa mengenal saya lebih dalam. Dan, bila saya meninggal sebelum mereka mencapai baligh, saya berharap tulisan di blog ini menjadi salah satu pedoman pengasuhan. Yah… umur kan siapa yang bisa menebak? :)

Dan, saat ini saya merasa cukup dengan anak-anak sebagai motivasi bagi saya untuk terus menulis dan menulis lagi. 

Advertisements

Pena dan Kertas, Senjata Para Penuntut Ilmu

Leave a comment

Jadi yah… belakangan ini saya lagi seneeeeeng banget mencatat. Mencatat is suatu pekerjaan yang sudah saya tinggalkan sejaaak lulus kuliah xx tahun yang lalu.

Duh… ga sampai hati ngisi si xx itu, menyadari ternyata udah lama yaaa si xx itu… padahal masih serasa anak kampus kemaren malem. 

Nah, sejak masuk kerja, praktis semua pekerjaan dilakukan di komputer, kalau pun butuh pena dan kertas hanya untuk oret-oretan. Dan tulisan tangan saya yang aslinya memang tidak bisa rapi, jadi semakin berantakan. Bahkan ada satu ketika, dimana saya merasa tangan saya cepat lelah jika menulis, dan… kaku.

Namun, kegiatan belajar online a la emak-emak zaman now memaksa saya kembali ke kebiasaan lama untuk mencatat. Awalnya karena HSI. Di awal-awal pelajaran, saya rajiiiin sekali mencatat di buku tulis yang saya sediakan khusus untuk HSI ini. Namun satu dua kesempatan, saya luput mencatat, karena ga sempat ataupun ga ada pulpen, dan itu berpengaruh pada konsistensi saya mencatat. Melihat ada beberapa ‘bolong’ di buku catatan HSI saya (materi HSI disampaikan setiap hari) membuat mood mencatat agak terganggu (baca: males.. haha). 

Akhirnyaa… kebiasaan mencatat setiap detail yang diucapkan Ustadz di audio materi pun hilang sudah, berganti dengan… menuliskannya pada aplikasi notes di ponsel, walaupun tidak selalu dilakukan.

Mengingat berharganya ilmu yang disampaikan, dan… menyadari ternyata saya tidak punya catatan yang baik selama belajar hampir 2 tahun di HSI, maka saya bertekad untuk memulai kembali kebiasaan baik itu walaupun terlambat. Alhamdulillah… silsilah 8, yaitu pembahasan tentang kitab Qawa’idul Arba, bisa saya catat lengkap dari halaqah pertama sampai terakhir.

Ternyata, bagi saya, ada 2 item penting (banget) yang membuat kegiatan mencatat menjadi lebih menyenangkan… yaitu… pulpen yang enakeun dan buku tulis yang baru dan bagus (kalau ada). 

Kalau buku tulis sih ga bagus-bagus amat sebenarnya, saya hanya memanfaatkan notebook berukuran A4 yang sisa banyaaaak dari tempat kerja lama, karena dulu dijatah 1 bulan dapat pembagian stationery dan tidak selalu habis saya gunakan dalam 1 bulan. Penting juga untuk memisahkan catatan berdasarkan pelajarannya.

Yang berpengaruh banget dalam menumbuhkan semangat mencatat adalah PENA atau PULPEN yang enakeuun

Sebenarnya ada pulpen favorit saya dari merek tertentu (clue: yang menerbangkan pesawat terbang :p), namun harganya lumayan, masih di bawah 20 ribu sih, tapi karena harganya segitu itu jadi ga dijual di toko ATK dekat rumah yang konsumennya rata-rata anak sekolah deket sini. Jadi, saya mencari substitusinya, dan sejauh ini favorit saya adalah pulpen gel keluaran snowman dan joyko, yang harganya bahkan ga lebih dari empat ribu rupiah.

Kenapa pulpen menjadi item penting? Ini sehubungan dengan tulisan tangan saya yang amat sangat terpengaruh dengan jenis pulpen yang digunakan. Kalau yang digunakan pulpen yang standar macam pulpen-pulpen pembagian di seminar gitu lah, saya ga tahan lama menulis bagus, paling hanya satu atau dua kalimat pertama yang keliatan bagus, selanjutnya tulisan dah macam resep dokter aja. Mending kalau kebaca hahaha…

Entah lah kenapa… tapi menulis dengan pulpen biasa-biasa aja itu butuh effort lebih besar menurut saya. Maca cih? Butuh tenaga lebih besar untuk mengeluarkan tinta dari pulpen dibandingkan jika kita menggunakan pulpen gel jenis tertentu yang lebih bisa meliuk-liuk di atas kertas.

Dan efek mencatat itu luar biasa lho. Tidak sama antara mengetik di notes ponsel dengan mencatat di kertas. 
Ketika mengetik di ponsel, seringkali saya tidak perlu menulis satu kata utuh, karena di fitur dictionary secara otomatis keluar pilihan kata-kata yang mungkin akan saya ketik. Memudahkan memang… tetapi lumayan berefek pada penguasaan/ kecepatan menghapal materi yang kita catat.

Mencatat dengan media pena dan kertas, melibatkan lebih banyak indera yang memungkinkan kita menghapal lebih cepat materi yang dicatat. Mengetik dengan hanya dua jempol tentu akan berbeda efeknya dibandingkan dengan mencatat dengan melibatkan seluruh jari tangan, bahkan juga telapak dan pergelangan tangan.

Selain itu, mencatat juga membuat kita lebih fokus pada setiap huruf dan kata yang kita torehkan di kertas. Tidak sekedar lalu karena ada bantuan dictionary atau fitur delete/ remove/ cut/ copy/ paste seperti mengetik di gawai, mencatat di kertas butuh konsentrasi lebih karena jika salah tulis, maka akan lebih banyak waktu yang terbuang, alias terjadi ketidakefisienan. 

Maka, dengan mempertimbangkan kedua hal itu saja (sementara belum nemu hal-hal lain) mencatat tidak hanya perihal aktivitas otot tangan, namun juga otak. 

Yuk ah, biasakan lagi mencatat… (self reminder)

Takut Apa?

2 Comments

Tiga hari yang lalu saya mengantar Akhtar ke dokter. Selama di ruang tunggu Akhtar bermain-main dengan seorang anak perempuan berusia 4 tahun yang menurut saya cerdas, tapi menurut ibunya anak ini ‘susah diatur, tidak bisa dilarang’.

Awalnya anak ini terlihat malu-malu, namun tak lama kemudian ia sudah ikut lari-lari di belakang Akhtar. Naik turun tangga, bahkan selonjoran dan guling-guling di lantai. Sementara ibunya hanya memerhatikan dari kursi tunggu, malah tampak kesal.

Setiap hal kecil ia tanyakan, seperti misal ketika kami berada di dekat lift dia menanyakan gambar-gambar yang tertempel di pintu lift,

“Ini kenapa?” tanyanya sambil menunjuk gambar seorang ibu yang berbaring di ranjang.

“Itu ibunya baru punya dedek”, jawab saya sambil menunjuk gambar ranjang bayi di sebelah ranjang si ibu.

“Kalau ini adiknya kenapa?” tanyanya sambil menunjuk gambar seorang anak kecil di ruang rawat.

“Itu adiknya sakit”, jawab saya.

“Sakit apa?”

“Kenapa sakit?”

Lalu ketika pintu lift terbuka, dia penasaran kenapa tiba-tiba ada orang yang keluar dari balik pintu lift itu.

“Orang itu dari mana?” tanyanya, lalu melangkahkan kaki hendak masuk ke dalam lift.

“Jangan masuk Kakak, nanti kebawa naik, Mamanya nanti bingung nyariin”, larang saya sambil menarik tangannya.

“Naik? Kenapa naik? Naik kemana?”

Pokoknya apapun yang saya katakan selalu menimbulkan pertanyaan baru.

Saya yang saat itu sambil mengawasi Akhtar sempat kewalahan dengan pertanyaan-pertanyaannya yang menuntut untuk dijawab.

Saya membayangkan 2 atau 3 tahun dari sekarang pun mungkin Akhtar punya rasa ingin tahu yang sangat besar seperti anak ini, hmm… siapkah saya?

Tak jauh dari lift, ada tangga menuju ke lantai atas, Akhtar mulai naik-naik, pun anak ini mengikuti sambil terus bertanya ini itu, “Adek mau kemana? Adeknya ga mau diem ya? Adeknya nakal ya?”

Ketika saya membawa Akhtar turun, anak ini bertanya, “Kenapa turun?”

“Takut ah naik-naik”, jawab saya sekenanya.

“Takut apa?”

Takut? Oh ya… takut apa ya? Tetiba saya merasa salah menjawab. Saya sempat tertegun beberapa saat hingga menemukan kalimat yang (mungkin) cocok untuk menjawabnya, “Takut nanti Mama-nya nyariin”

“Hmm… nanti kalau dipanggil dokter gak kedengeran kalau Kakak ke atas”, saya berusaha menerangkan dengan alasan lain.

Diam-diam saya mengambil pelajaran, “Mungkin lain kali saya harus lebih berhati-hati menggunakan kata takut untuk anak, kecuali punya alasan yang rasional”, batin saya.

Yang Tersisa dari Saya Setelah Ricuh Semalam

Leave a comment

Hanya ingin menuliskan pecahan-pecahan ‘umpatan’ dari hasil nonton lawakan di TV semalam yang susah (baca: malas) saya rangkai dalam satu cerita utuh. Daripada jadi status Facebook atau kicauan di Twitter yang satu per satu tergerus oleh lini waktu, mending saya post di blog.

*****

Siapa yang mereka perjuangkan? Rakyat? Masa sih? Baiklah, lebih baik berpikir bahwa tidak semua yang di gedung itu busuk.

*

Semua orang ingin bicara, tapi tak ada satu pun yang mau mendengar.

*

Tidak adakah cara yang lebih santun untuk menginterupsi? Selain mengetuk-ngetuk kepala mic, bersahut-sahutan, bahkan meneriakkan kata-kata sampah dan mengolok-olok yang sedang berbicara. Memalukan.

*

Toh cepat atau lambat harga BBM akan tetap naik kan? Kalau tidak sekarang, ya nanti. Lalu, apakah setiap kenaikan harga BBM akan direspon dengan aksi unjuk rasa? Berpikirlah untuk mencari energi alternatif selain BBM, atau kembali bekerja, berpikirlah cara untuk meningkatkan penghasilan. Ya, saya tahu tidak mudah, tapi mungkin, kan?

*

Boleh berpikir sadis ga? Saya membayangkan layar TV tiba-tiba gelap setelah sebelumnya terdengar bunyi ledakan dan teriakan panik orang-orang di dalam gedung kura-kura. Astaga, maaf, semoga tidak terjadi.

*

Para polisi itu juga mungkin punya sahabat yang mahasiswa, adik yang mahasiswa, tetangga yang mahasiswa, percayalah, seandainya boleh memilih, pasti mereka memilih untuk tidak berhadap-hadapan dengan kalian, para mahasiswa. Bersikaplah dewasa.

*

Membayangkan, di-suatu-tempat-entah-dimana, sekelompok kecil orang sedang tertawa-tawa iblis sambil menyaksikan tayangan unjuk rasa dan rapat DPR yang ricuh. Ah, sudahlah, saya hanya terlalu banyak menonton film … fiksi.

*

Naikkan lah harga BBM setinggi kau suka, agar hanya orang super kaya yang mampu membawa mobil mereka ke jalan. Jadi gak macet kan? Sebagai kompensasinya, bangunkan kami transportasi publik yang aman dan nyaman, dengan harga terjangkau dan kapasitas memadai. Kalau hal itu sudah dilakukan dan ternyata kota-kota besar masih sama macetnya dengan sekarang, maka pemerintah boleh tenang karena berarti rakyatnya banyak yang sudah kaya.

*

Menurut laporan salah satu portal berita, terdapat beberapa kerusakan akibat unjuk rasa kemarin. Pagar pembatas tol rusak, pagar dan taman di halaman DPR juga rusak, terdapat banyak coretan pada gerbang Gedung DPR dan jalan raya. Dengan apa semua itu diperbaiki? Uang negara kan? Padahal katanya negara lagi susah, entah sesusah apa. Nah, lain kali unjuk rasa jangan sampai ganggu fasilitas dan ketertiban umum ya, kalau para pekerja -yang tiap bulan gajinya dipotong pajak- atau pengusaha ga bisa ke tempat kerja gara-gara terhambat kalian yang berunjuk rasa, nanti yang menutup biaya buat benerin fasilitas yang rusak siapa?

*

Mahasiswa ini kadang besar kepala. Mereka pikir cara seperti ini bisa merobohkan pemerintahan yang sekarang? Sejarah memang berulang, mereka boleh melihat pada kejadian di tahun 1998. Tapi peristiwa dulu dan sekarang terjadi dengan dua alasan yang tidak sama, dalam kondisi yang berbeda. Apa susahnya dulu aparat menghalau mahasiswa yang berdemo? Bahkan kalau mau, mereka bisa mengerahkan pasukan yang jumlahnya lebih besar dengan peralatan yang memadai untuk bisa mengamankan massa. Bukan kalian, para mahasiswa, satu-satunya sebab yang dapat menggoyang pemerintahan. Heuh, maaf saya banyak bual ya, saya tidak mengerti sejarah, hanya sedikit berusaha menggunakan logika.

***

Mungkin saya juga tidak lebih baik dari siapapun yang saya bicarakan di atas. Hanya menulis yang ingin saya ungkapkan, selebihnya saya tetap berkarya dengan apa yang bisa saya lakukan. Kamu tahu kenapa? Karena saya cinta Indonesia.

Bertualang … yang ingin saya lakukan! (2)

Leave a comment

Malioboro pada Senin pagi tidak seramai pada akhir pekan. Masih sangat pagi, beberapa penjual souvenir di trotoar Malioboro baru membuka lapak jualan mereka, beberapa penjual bahkan masih menyusun barang mereka di rak-rak jualan. Dari Stasiun Tugu, tanpa tujuan saya berjalan menyusuri pinggiran Malioboro, penjual di trotoar lebih banyak tidak melakukan apa-apa. Saya pun hanya berpapasan dengan kurang dari 10 orang yang terlihat seperti pelancong, sisanya saya perkirakan penduduk asli yang beraktivitas di sekitar Malioboro.

Tidak ada acara belanja-belanja hari ini! Saya bertekad. Para penjual yang melihat saya lewat, menawari saya barang mereka. Saya hanya menolak dan melempar senyum. Dalam keadaan sepi pengunjung seperti ini, lebih baik tidak mampir ke satu lapak jualan pun karena saya tipe yang tidak tahan rayuan penjual. Lebih dari itu, saya tidak jago menawar. Namun saya sempat berhenti sebentar di lapak yang menjual pernak-pernik yang segera saya tinggalkan ketika penjualnya mulai merayu saya membeli.

Ganjil sebenarnya pakaian saya hari itu. Saya tidak membawa baju selain yang saya pakai waktu berangkat dan yang saya pakai ke pesta. Untung saya tidak membeli baju pesta yang terlalu banyak pernak-perniknya, hanya gamis simple yang tetap kelihatan agak ganjil kalau saya pakai jalan-jalan apalagi dengan menggendong sebuah ransel agak besar. Beruntung selembar pashmina menyelamatkan saya dari tatapan heran orang-orang yang berpapasan dengan saya.

Meninggalkan keramaian Malioboro, saya terus berjalan luruuus sampai di persimpangan, dimana saya melihat Kantor Pos Besar berdiri di seberang jalan. Saya berhenti sejenak, mengabadikan beberapa spot, termasuk entah-namanya-keraton-apa di sebelah kanan saya. Ingin rasanya masuk, tapi dari luar bangunan itu terlihat sangat sepi. Maka saya hanya duduk-duduk di depannya, beberapa kali menjepret ke arah keraton itu, ke tugu tepat di seberang keraton, dan ke kantor pos besar seberang jalan.

Tanpa tujuan pula saya mengambil jalan menjauhi Kantor Pos Besar, menyusuri Jalan Ahmad Dahlan ke arah barat. Kelihatannya lebih teduh dibandingkan dengan arah sebaliknya. Di kanan kiri, jalan trotoar langsung berbatasan dengan pintu-pintu toko, tanpa halaman. Ternyata jalan ini berujung di perempatan besar. Saya memutuskan kembali, menyusuri jalan kembali ke arah Kantor Pos Besar di sisi jalan satunya.

Sampai kembali di Kantor Pos Besar, saya melihat alun-alun dari jauh. Ah ya, saya ingat pernah kesana sebelumnya. Ketika liburan bersama 8 teman SMA dulu, sedang ada semacam pasar malam disana. Dari kejauhan kami melihat tumpukan baju, benar-benar menggunung, yang dijual bahkan dengan harga 1000 rupiah (atau lebih murah?) per potong. Ya, baju bekas. Kami tertarik dengan teriakan si pedagang, ketika mendekat, kami baru melihat bahwa itu baju bekas, yang benar-benar bekas.

Senin menjelang siang itu, alun-alun sepi. Saya berjalan di sepanjang jalan pinggiran alun-alun, beberapa becak melintas dan menawari saya tumpangan. Tidak! Saya menolak dan lagi-lagi hanya melempar senyum. Saya tidak jago menawar. Lagi-lagi alasan itu yang membenak.

Dalam keadaan yang cukup lelah setelah berjalan hampir tiga jam, bagai menang lotere berhadiah bedug raksasa, senang sekali menemukan papan pengarah menuju Masjid Gedhe. Masjid itu berada di salah satu sisi di seberang alun-alun. Sebelum masuk ke kompleks Masjid, saya menemukan pelataran cukup luas di depan gerbang besar. Kemudian ada dua gerbang lebih kecil dengan tembok cukup tinggi yang membatasi saya dengan kompleks Masjid Gedhe.

Desain masjid yang unik. Tidak berdinding, lebih seperti pendopo, dan tentu saja luas. Saya kagum melihat langit-langitnya, dan tiang-tiang tinggi yang menyangganya, beberapa kali saya jepret dengan kamera HP saya. Saya duduk di dekat salah satu tiang, menyelonjorkan kaki, dan mengeluarkan buku bacaaan saya. Namun perhatan saya teralih pada anak-anak SD yang datang bersama guru-guru mereka berhamburan memasuki masjid, tampak guru-guru itu mengatur murid-muridnya membentuk shaf. Lalu mereka mulai sholat dengan bacaan dinyaringkan. Rupanya, pelajaran sholat. Setelah satu rakaat, langsung salam. Mereka berlarian di dalam Masjid. Mereka pikir lapangan sepak bola? :) Senang sekali melihatnya.

Angin pagi menjelang siang saat itu cukup ampuh membuat saya mengantuk. Setelah berjalan hampir tiga jam, saya lelah dan tertidur, bangun ketika orang-orang mulai berdatangan sholat dhuhur. Saya merapikan jilbab dan pakaian saya. Bergegas meninggalkan masjid, saya sedang tidak sholat. Dan kamu tahu? Saya berjalan kaki lagi menuju Malioboro, teman saya menunggu di Mal Malioboro untuk makan siang.

Saya senang, suatu saat saya akan melakukannya lagi. Ke Yogya lagi? Tentu saja, nanti. Tapi maksud saya, saya akan melakukannya lagi, pergi ke suatu kota, turun dimana pun dan saya akan susuri kota itu entah sampai mana ujungnya, seharusnya nanti saya lebih banyak berbincang dengan penduduk lokal dan menemukan sisi lain dari kota itu.

Sampai satu hari saya punya ide, bagaimana kalau saya mulai dari terminal bus? Pergi ke salah satu terminal bus, naik bus apapun yang ingin saya naiki, kemanapun itu, dan berpetualang. Kali itu saya tidak akan sendirian, tapi berdua dengan teman perjalanan yang paling menyenangkan :)

Mungkin kamu? Mau ikut?

Bertualang … yang ingin saya lakukan! (1)

Leave a comment

Yogyakarta terbilang kota yang cukup sering saya kunjungi, apalagi selama tiga tahun saya tinggal di Magelang yang hanya berjarak tempuh kurang lebih satu jam dari Yogya.

Selalu ada alasan kembali ke Yogya.

Tiga bulan pertama di Magelang, kami satu angkatan SMA melakukan perjalanan menapaki jejak Panglima Besar Soedirman ketika gerilya dulu. Kami memulai perjalanan dari Parangtritis, berjalan menanjak menaiki bukit berbatu-batu, terjal, kering dan panas menuju Gunung Kidul. Sempat berhenti di rumah sangat sederhana yang katanya dulu jadi salah satu tempat persinggahan Jenderal Soedirman. Berjalan kaki berkilo-kilo meter (lupa persisnya) entah sampai desa apa namanya, disana kami finish di suatu masjid yang desainnya sangat mirip dengan Masjid Pangsar Sudirman di kampus kami. “Pasti masjid kampus kami terinspirasi dari masjid ini,” saya membatin.

Lebih dari satu tahun kemudian, Tim Marching Band beberapa kali membawa saya ikut tampil di Yogya dalam berbagai kegiatan. Kami tampil di stadion entah-apa-namanya-itu pada rangkaian kegiatan Agustusan atau hari besar nasional lainnya. Sebelum kembali ke Magelang, selalu saja ada acara mampir setidaknya ke Malioboro dan sekitarnya.

Pernah juga menghabiskan tiga hari libur bersama delapan teman SMA, menyewa dua kamar hotel dan jalan-jalan ke beberapa spot di Yogya. Istana Air adalah salah satu tempat yang kami kunjungi untuk pertama kalinya.

Lalu pada liburan yang lain, saya memilih tidak mudik ke kampung halaman. Di Graha hanya tersisa kurang dari 10 orang siswa putri, dan kami mulai merencanakan perjalanan liburan sendiri, diantaranya ke suatu pantai yang sepi di Purworejo, dan tentu saja Yogya, tidak jauh, lagi-lagi ke Malioboro dan sekitarnya.

Di akhir minggu, beberapa kali juga sempat pesiar ke Yogya. Sampai pernah telat kembali ke kampus, beruntung masih selamat dari hukuman. Mengingat setahun sebelumnya, waktu kelas 2, saya dan seorang teman pernah kena hukum lari tiga kali keliling track lapangan sepak bola pada jam satu siang, panas dan berdebu, disaksikan satu angkatan adik kelas 1 yang sedang apel siang gara-gara telat kembali ke kampus sepulang dari pesiar. Malu rasanya membayangkan apa yang ada di pikiran adik-adik saat itu, “Ooh … ini ya kakak-kakak yang tidak patut ditiru”. Heuh …

Di akhir kelas 3, beramai-ramai kami ke Yogya, lebih dari separuh angkatan saya mengikuti Ujian Masuk UGM, saya termasuk salah satu yang ikut-ikutan, bahkan memilih jurusan pun ikut-ikutan, tidak ada ide lain selain memilih FK karena banyak teman putri saya memilih jurusan itu. Dan dipastikan Yogya bukan kota tujuan selanjutnya setelah tiga tahun di Magelang, karena saya tidak lolos Ujian Masuk.

Dari sekian kali saya ke Yogyakarta, ada satu kali yang menyenangkan dan ingin saya ulangi suatu hari nanti, juga di kota-kota lain.

Hampir tiga tahun lalu, saya menerima undangan pernikahan dari salah seorang teman SMA saya di Banjarnegara, satu kota kecil di selatan Jawa Tengah. Itu salah satu perjalanan yang tidak terlalu saya rencanakan sebenarnya. Waktu itu saya berangkat dari Bandung dengan tujuan Magelang, janji berangkat bareng ke Banjarnegara bersama beberapa teman dari sana. Bolak balik sih, mengingat Banjarnegara sebenarnya berada di antara Bandung dan Magelang.

Dengan ketidakpastian saya datang ke agen bus Bandung-Yogya via Magelang di Jalan Juanda Bandung memastikan bus malam yang berangkat ke Magelang masih punya satu kursi kosong untuk saya. Ternyata ada. Dan siang itu saya menghabiskan beberapa jam di sekitar Dago membeli perlengkapan ke pesta pernikahan, dari mulai baju sampai tas dan sepatu. Sabtu malam itu saya berangkat dengan satu ransel dan satu kantong belanjaan. Saya baru memberitahu Mamah sesaat sebelum bus berangkat.
“Sama siapa Put?”, tanya Mamah.
“Banyak kok, satu bus”, jawab saya sambil melirik orang asing di samping saya.
Saya tersenyum.

Karena tidak direncanakan, saya pun tidak merencanakan bagaimana caranya nanti kembali ke Jakarta. Saya hanya berpikir Minggu pagi sampai di Magelang, dan Minggu malam sudah duduk di bus malam menuju Jakarta. Di luar perkiraan, saya tidak mendapat bus pulang ke Jakarta. Saya memikirkan alasan bolos kerja hari Seninnya, dan melanjutkan liburan dadakan saya di Yogya.

Saya menumpang satu malam di kost teman saya. Tentu saja saya tamu yang tidak direncanakan. Hari Senin teman saya kembali beraktivitas, dan saya tidak mungkin sendirian di kost. Maka setelah mengantar membeli satu tiket kereta malam ke Jakarta, teman saya meninggalkan saya sendirian di Stasiun Tugu dekat Jalan Malioboro.

Cari 10 Titik Perbedaan!

10 Comments

Pasti tahu kan dengan permainan ini?
Dulu seringkali ada kuiz semacam ini di majalah Bobo.
Biasanya akan ditampilkan 2 buah gambar yang terlihat sama, namun jika diteliti terdapat perbedaan di beberapa titik.

Di postingan ini saya tidak akan memberikan 2 gambar yang mirip untuk Anda cari perbedaannya, postingan ini hanya terinspirasi oleh stasiun-stasiun tv yang mulai mengiklankan sinetron-sinetron Ramadhan mereka.
Lho apa hubungannya?

Tentu saja berhubungan, karena disini saya ingin mengajak Anda mencari 10 perbedaan antara sinetron yang bukan ditayangkan di bulan Ramadhan dengan sinetron yang ditayangkan di bulan Ramadhan. Baiklah … kita sedikit perluas dengan menyebut sinetron Ramadhan itu sebagai Sinetron Religi.

Yuk mari kita mulai …

Perbedaan pertama: Judul sinetron.
Kalau saya perhatikan, setidaknya di 3 stasiun tv swasta yang paling sering menayangkan sinetron, sinetron-sinetron biasanya diberi judul sesuai dengan nama pemeran utama mereka (biasanya pemeran wanita), atau bisa juga terdiri dari sebuah frase terdiri dari 2 atau 3 kata yang tetap mengandung nama pemeran utamanya, atau berupa suatu rangkaian kata yang tidak jelas maksudnya apa. Ya … tidak jelas, karena seringkali antara judul dengan isi cerita pada akhirnya tidak nyambung.
Maka, bermunculanlah sinetron-sinetron yang menyertakan nama pemeran utama mereka, seperti : Cinta Fitri Season XXX, Kemilau Cinta Kamila, Cahaya Cinta, Nada Cinta, Nikita, Olivia, Manohara, Lia, Kejora dan Bintang, Diva, Mutiara, Namaku Mentari … dan Asri (hehe … untung nama yang terakhir itu gak pernah jadi judul sinetron, dan semoga GAK ADA sinetron berjudul Asri … ngerusak pasaran aja :P)
Nah, apa bedanya dengan sinetron religi? Pada sinetron religi judul-judul sinetron dan nama pemeran utama biasanya terdengar lebih islami, seperti: Khadijah dan Khalifah, Khanza, Cinta Fitri Season Ramadhan, Kamila Penuh Hidayah, Muslimah, Anugerah, Taqwa, Ikhlas, Doa dan Karunia, Aisyah, Soleha, Aqso dan Madina, kenapa tidak sekalian saja pemeran utamanya bernama Baqarah …

Perbedaan kedua: Soundtrack.
Ya … sama halnya dengan sinetron, pada bulan Ramadhan, band-band dan para penyanyi pun ikut mengeluarkan album-album Ramadhan. Tiba-tiba banyak bermunculan lagu bertema Islam, dan dipakailah lagu-lagu mereka oleh production house sinetron religi, jadilah sinetron berjudul islami dengan soundtrack yang islami pula. Hanya saja, lagu-lagu islami ini biasanya terdengar sangat “pas-pasan” di kuping, untuk menghindari kata “kurang enak didengar”. Mungkin karena penggarapannya seadanya, hanya untuk diperdengarkan selama 1 bulan Ramadhan saja.

Perbedaan ketiga: Dialog-dialog lebih banyak menyertakan lafadz “Allah”.
Allah, subhanAllah, alhamdulillah, astaghfirullah, lailahailAllah, masya Allah …
Pada sinetron religi, kata-kata itu seringkali muncul dalam dialog, kalo perlu kutipan ayat atau terjemahan Al Quran pun disertakan.
Hanya kadang kalo diperhatikan, kata-kata itu digunakan tidak pada konteksnya.

Perbedaan keempat: Pemeran wanita berjilbab/ pemeran pria berpeci.
Pemeran utama wanita berjilbab di sinetron religi dimaksudkan untuk menunjukkan identitasnya sebagai muslimah yang taat. Tapi sinetron religi tidak puas hanya dengan menunjukkan identitas ke’muslimah’an pemain wanitanya, untuk lebih menegaskan ke’religi’an sinetron mereka, pemeran prianya pun kadang-kadang diberi peci sebagai tanda ketaatannya sebagai muslim.  
Hei tapi saya mau protes!!! Di sinetron-sinetron, wanita berjilbab seringkali berkarakter lembek, nrimo, pasrah yang tidak pada tempatnya, cengeng, lemah … ooh no … itu bukan muslimah yang tangguh!

Perbedaan kelima: “Pacaran” Islami.
Biar namanya sinetron religi, tema ceritanya masih sama, tentang kisah percintaan remaja. Cuma dikemas seolah-olah itu islami.
Ceritanya plain banget, misalnya:
anak band rock yang bandel jatuh cinta sama guru ngaji,
cowok yang ga pernah belajar agama jatuh cinta sama anak ustadz,
anak orang kaya yang sombong jatuh cinta sama anak orang miskin yang sholehah dan punya stock sabar gak abis-abis (sabar apa pasrah?),
pokoknya asal salah satu pemeran dari sepasang pemeran utama yang saling jatuh cinta itu pake kerudung atau peci, trus tinggal di pesantren, dan sering mengucapkan lapadz Allah, jadilah pacarannya itu seolah-olah islami *timpuk :p

Perbedaan keenam: Sinetron religi di bulan Ramadhan ditayangkan lebih malam.
Mungkin maksudnya agar tidak bentrok dengan jam tarawih atau jam orang buka puasa. Jadi, diharapkan orang-orang akan mendapat “siraman rohani” dari sinetron-sinetron itu setelah berbuka puasa dan tarawih. Mulia sekali yaa … *timpuklagi
Tapi … akan lebih baik jika malam-malam di bulan Ramadhan dimanfaatkan untuk ibadah-ibadah lain selain menonton “siraman rohani” dari sinetron religi ;)

Perbedaan ketujuh: ….
Harus saya lagi yang menemukannya? Ayo bantu saya nyari dong, sekalian untuk perbedaan ke delapan, ke sembilan, ke sepuluh, lebih bagus lagi kalau menemukan perbedaan ke sebelas dan seterusnya :D

Dari tulisan ini bisa dikembangkan ide untuk mencari titik-titik perbedaan antara:
Lagu-lagu band pada bulan Ramadhan dan bukan pada bulan Ramadhan
Berita infotainment pada bulan Ramadhan dan bukan pada bulan Ramadhan
Iklan TV pada bulan Ramadhan dan bukan pada bulan Ramadhan
Kostum para artis pada bulan Ramadhan dan bukan pada bulan Ramadhan
Berita-berita pada bulan Ramadhan dan bukan pada bulan Ramadhan
… untuk yang terakhir saya sebutkan, yang paling diuntungkan oleh bulan Ramadhan menurut saya para politikus korup yang beritanya lagi anget-angetnya sebelum Ramadhan ini, sepertinya acara berita di bulan Ramadhan nanti akan lebih banyak diwarnai berita tentang kenaikan harga barang-barang atau semrawutnya arus mudik lebaran, jadi … yuk dadah yuk bubye deh ya tuh berita-berita politik dan korupsi :P

Pesan saya: pintar-pintar lah memilih tayangan tv yang ingin ditonton, secara umum saya menilai sinetron-sinetron Indonesia itu tidak layak tonton, tapi ada beberapa yang memang bagus dan menyampaikan pesan positif kepada para penontonnya, sebut saja salah satunya sinetron Para Pencari Tuhan garapan Om Deddy Mizwar.
Yang terpenting dampingi anak-anak kecil di sekitar Anda ketika menonton tv, hmm, lebih oke kalau mereka diarahkan ke kegiatan yang lebih aktif lain selain menonton tv, ya kan? ;)

Sok tua gue yaa :P

Older Entries