Memilih …

11 Comments

Tinggal menghitung hari saja saya di perusahaan ini. Tidak butuh sepuluh jari untuk menghitung mundur, cukup dua jari. Hampir 3 tahun saya disini, tidak jauh berbeda dengan masa SMP dan SMA saya. Untuk 2 jenjang pendidikan itu, dulu saya lulus dengan berurai air mata. Di satu sisi bahagia karena telah menyelesaikan pendidikan dan bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, di sisi lain juga sedih karena harus berpisah dengan lingkungan dan teman-teman yang selama beberapa tahun itu memberi warna dalam hidup. Apalagi di depan mata terbentang hidup yang masih misteri, entah akan menyenangkan atau malah suram.

Sama halnya seperti hari ini, ada perasaan bahagia, karena saya akan meninggalkan pekerjaan ini dengan segala dukanya. Tidak lagi lembur sampai tidur di kantor atau menghadapi deadline yang menekan. Membayangkan work-life balance yang selama ini saya idam-idamkan saja sudah membuat hati saya membuncah bahagia. Padahal … hidup saya setelah meninggalkan pekerjaan ini juga penuh ketidakpastian. Mungkin lebih suram? Apalagi saat ini saya belum mendapatkan pekerjaan dimanapun, sebagian besar orang yang mengetahui ini mempertanyakan kenekadan saya. Bukan nekad, saya memutuskan hal ini secara sadar dan penuh pertimbangan.

Tapi … tiba-tiba merasa sedih … terutama karena hari ini saya mulai meminta tandatangan ke beberapa orang untuk keperluan clearance. Beberapa orang dari mereka bertanya, “Dapat dimana?”, mungkin basa-basi yang disampaikan kepada siapapun yang mau resign. Dan diakhiri dengan “Oke, good luck ya … “. Sampai akhirnya, tadi saya sempat berpapasan dengan seorang staf admin di depan lift yang melihat saya membawa-bawa clearance form. Beberapa hari sebelumnya kami sempat mengobrol banyak hal, termasuk membicarakan rencana resign saya. Saya dengan Bapak ini boleh dibilang cukup sering berinteraksi.
“Clearance ya Mbak?”, sapanya sambil lalu, sambil menuju pintu lift yang sedari tadi ditunggunya.
“Iya Pak, lusa sih efektifnya … “
“Ooh … mari Mbak”, tutupnya buru-buru sambil masuk ke dalam lift.
Mungkin hanya perasaan saya saja, cuma saya sempat melihat matanya berkaca-kaca, dan dia mengusapnya dengan punggung telapak tangannya.

Seketika merasa sedih, mengingat betapa banyak yang akan saya tinggalkan disini sebagai konsekuensi atas keputusan saya ini. Teman-teman saya, pekerjaan saya yang menantang dan menyenangkan (pekerjaan disini tidak selamanya tidak menyenangkan kok … ), kesempatan belajar yang terbuka lebar, kesempatan berkarier dengan jenjang yang jelas … dan banyak hal.

Tapi hidup itu sendiri adalah pilihan bukan? Klise terdengar. Dan pilihan-pilihan yang kita ambil semestinya mendekatkan kita pada apa yang ingin kita tuju di masa depan. Sebagian orang memang memiliki target jangka panjang di perusahaan ini, dan saya tidak mesti ikut-ikutan jika itu tidak sejalan dengan apa yang ingin saya capai.

Seumpama naik busway ke Kelapa Gading dari Bendungan Hilir (sambil mengingat-ingat perjalanan saya setiap ke klien di Kelapa Gading hehehe), dengan menggunakan bus jurusan Blok M-Stasiun Kota, saya harus transit di Halte Harmoni, dan sebagian lain melanjutkan perjalanan ke arah Stasiun Kota. Mungkin beberapa orang yang lain turun di halte sebelum sampai di Stasiun Kota.

Semua orang punya tujuan masing-masing, dan tidak ada yang salah dengan tujuan-tujuan itu selama kita bisa mempertanggungjawabkannya kan? Tanggung jawab kepada orang tua kita, kepada orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita, kepada masyarakat sosial, atau kepada siapapun dengan siapa kita berinteraksi, dan yang terpenting adalah tanggung jawab kepada Allah. 

Tentang status saya setelah resign mungkin akan terdengar mengkhawatirkan, atau bahkan memalukan? Tapi saya tidak sedang diam, saya bergerak dan terus berusaha. Saya juga membawa bekal yang cukup untuk tetap bertahan sampai situasi lebih pasti. Yang terpenting saya percaya pada Allah. Dia Mendengar doa-doa saya. Dia Penolong saya. Dan saya tidak perlu merasa merana, karena keputusan saya ini tidak membawa saya pada posisi yang lebih rendah dibandingkan teman-teman saya yang lain. Saya percaya diri pada apa yang saya miliki saat ini, dan saya punya mimpi yang tidak akan tergadaikan, walaupun nanti saya sampai pada keadaan terdesak. Ah, tapi keadaan saya tidak seburuk itu kok :)

Selebihnya yang terpikir dalam otak saya adalah rentetan rencana yang InsyaAllah menjadikan saya pribadi yang lebih baik dan bernilai, membawa saya menuju mimpi masa depan saya … yang mana rencana-rencana itu akan susah dijalankan seandainya saya masih berada di tempat ini :)

Allah tahu seberapa keras kita berusaha, jadi … tetap semangat ya ;)

The Desperado Auditor

Leave a comment

Gimana nggak?
Senior dan manajer udah nagih-nagih dari kapan hari, sementara klien ga bisa kooperatif.
Serba salah…karena efeknya amat sangat kecil sekali ketika saya mencoba mem-push klien untuk segera memenuhi permintaan data saya.
Pernah suatu hari saya follow up data melalui telepon dari kantor, entah berapa kali dalam sehari saya nelpon ke kantor klien untuk menagih hal yang sama.
Belum lagi surat elektronik pun saya kirimkan, dan ketika sore itu saya menelepon lagi…untuk terakhir kalinya pada hari itu, si klien malah menjawab, “Gimana mau ngerjain, dikit-dikit nelpon, dikit-dikit minta”
Oke….saya ber-postive thinking saja kalo klien sedang menyelesaikan permintaan saya. Tapi beberapa hari kemudian setelah kejadian itu, saat saya akhirnya memutuskan untuk menemui mereka langsung, data yang diminta sama sekali belum tersedia.
Hoho…belum pernah saya mengeluh masalah klien sampai hari ini. Tapi kejadian tadi pagi cukup membuat saya kesal sehingga cukup memberi saya energi untuk meluapkan emosi kekesalan saya.

Semalam saya menginap di hotel dekat kompleks industri.
Seperti biasa, mobil klien akan mengantarkan saya sampai depan pintu lobi hotel,
seperti biasa sebelum turun saya nitip pesan sama si Sopir, “Pak besok jemput jam sekian ya…”
seperti biasa, si Sopir akan mengiyakan sambil berkata, “Iya Mbak, nanti saya sampaikan ke yang jaga besok”
Tidak seperti biasa, malam itu saya meminta sopir menjemput saya lebih pagi. Jam setengah 8, bahkan sebelum jam kantor resmi klien dimulai.
Kenapa? Pekerjaan saya masih banyak. Semalam senior saya kembali menanyakan progress pekerjaan. Saya ga mau disalahkan, saya juga tidak ingin menyalahkan klien, karena nyatanya untuk menemukan nomor dokumen yang saya butuhkan perlu melakukan beberapa tahap, dari mulai men-sort daftar transaksi per perusahaan supplier, kemudian men-sort-nya lagi berdasarkan tanggal transaksi, baru kemudian ditemukan nomor dokumen yang dicari.
Saya merasa sudah cukup ‘membela’ klien dengan beralasan seperti itu ketika senior mempertanyakan, “Kok dari 103 transaksi baru 10 yang di-vouching? Berarti besok dateng lebih pagi ya?”
Okay….ga masalah…lagipula dari awal saya udah meniatkan buat pergi lebih pagi dari biasanya.

More

Merenung…

Leave a comment

Sehari yang lalu aku mendapat kabar gembira dari seorang teman SMA tentang rencananya menikah pada tanggal 22 November depan.
Menikah dengan seseorang yang telah mengikatnya dalam hubungan pertunangan sejak beberapa tahun yang lalu….Wow…luar biasa…aku bahkan tidak pernah berpikir untuk bertunangan selama itu.
Sayang, agak kurang memungkinkan memenuhi undangannya mengingat lokasinya yang nun jauh di Jambi sana.
Pernahkah terbayangkan di sela kebahagiaan menggenapkan dien itu ada suatu peristiwa yang harus memisahkan kita dengan seseorang yang sangat kita sayangi, seseorang yang sangat mengenal kita sejak kita dilahirkan ke dunia.
Tadi pagi aku menerima sebuah SMS dari seorang temanku yang lain, menyampaikan berita duka tentang meninggalnya Ibunda temanku yang akan menikah itu, tadi pagi, karena sakit.
Kehilangan seseorang yang sangat kita cintai pada suatu waktu, dan mendapatkan seorang pendamping seumur hidup pada saat yang hampir bersamaan. Mampukah kita tetap bersyukur? Semoga kamu tetap diberi kekuatan ya Asti Sayang….

Jadi teringat kejadian beberapa minggu yang lalu.
More

Ramadhan Pertamaku….

Leave a comment

….sebagai seseorang yang bekerja….

Dan rasanya???
Berbeda!

Ga kerasa nih hawa-hawa Ramadhannya.
H-1 masih disibukkan dengan kerjaan yang ituuuuhhh…
Jam setengah 6, masih berkutat dengan dokumen-dokumen ituh…
Sementara sesekali aku melirik jam, memperkirakan, jam berapa sampai di Kost kalau baru kelar di kantor setelah Maghrib?
Sementara malam ini adalah malam pertama Ramadhan kami.
Malam pertama kami menjalankan Tarawih tahun ini.
Berkali-kali aku berkata…”Aduuuhh…aku mau pulang cepet nih, jam 6 kudu udah balik, mau ngejar tarawihan pertama..”
“Emang penting banget ya tarawih pertama?”, seseorang menimpali.
Yaaaa….gitu deh.

Dan menjelang Maghrib, belum juga melihat tanda-tanda orang mau balik. Tapi tekadku sudah buladh…bodo amat dengan kerjaan yang masih banyak…Tuhanku memanggilku…aku harus menemuinya malam ini. Setelah hampir setahun melewati hari-hari yang hampa tanpa Allah-ku (huhuhu..)…aku ga mau melewatkan pertemuanku dengan Allahku malam ini.

Maka selepas shalat Maghrib…segera…semua barang bawaanku, termasuk kerjaanku, aku bereskan dan masukkan ke tas…Huff…harusnya semua kerjaan ini beres hari ini, karena mulai Senin besok aku training sampai 2 minggu berikutnya, tapi Allah memanggilku….aku harus cepat pulang…

More

Curhat wae nya…

Leave a comment

Curhatanku di Milis KAMUS FE 2004…
Ga ada salahnya aku share juga disini…

***

Assalamu’alaykum….

Sedang merindukan masa-masa di kampus bersama orang-orang yang senantiasa…
mengembangkan senyumnya untuk saya…
mengucapkan salam dan mendoakan saya…
menjabat tangan dan memeluk saya….
membuat saya merasa sebagian beban di hati berkurang, karena tau….
ada saudara2 se-IMAN yang selalu mengingatkan saya dengan CARA YANG BAIK,
yang TIDAK MENYAKITI HATI,
dengan rangkaian kata yang MENYEJUKKAN HATI.

Wuihh…ada beberapa frase yang di-CAPITAL tuh??

Karena memang, penekanannya ada pada kata2 tsb.

Kok tiba2 jadi mellow gini???

Hahaha..seandainya ini bukan di kantor, bukan di hadapan rekan2 kerja lainnya, mungkin saat ini saya udah nangis…sesenggukan (hehe lebayyy),
mendapati betapa jauh rasa nyaman (seperti yang saya rasakan di kampus) itu dari saya, disini, saat ini.

Dari dulu…saya ngerasa ga pernah beda2in orang dalam pergaulan. Saya terbiasa dengan lingkungan yang majemuk,
dimana…
More

Ilmu Kontrol Ekspresi

7 Comments

Aktivitas ‘penting’ selain bekerja yang bisa dilakukan di kantor adalah bercakap-cakap dengan teman sekantor melalui STC (Sametime Connect).
Tapi…para pengguna STC yang menggunakan STC untuk mengobrolkan hal-hal yang ‘penting’ harus belajar satu hal tentang “Mengontrol Ekspresi”.

Lebih jelasnya, adalah dengan contoh:

Si Aku adalah seorang staf grade 1 yang duduk persis di depan seorang staf grade 2.
Si Aku akhir-akhir ini sering merasa bosan di tengah-tengah jam kerja, maka pada akhirnya…dia sering menyapa teman-temannya lewat STC, termasuk teman yang duduk persis di sebelahnya, yang hanya berjarak kurang dari setengah meter di sebelah kirinya.
Kadang-kadang….dia pun mengaktifkan yahoo messenger atau facebook di HPnya…berharap bisa bertemu temans lain di luar sana. Tapi kelemahan menggunakan alat ini adalah, terlihatnya aktivitas ‘penting’ yang kita lakukan.

Dan…STC pun bukan tanpa kelemahan yang menyulitkan. Si orang dengan obrolan ‘penting’ di STC harus pintar-pintar mengontrol ekspresi, atau lebih tepatnya mendatarkan ekspresi. Mau ngobrol tentang apapun, ekspresinya harus tetap sama, yaitu ekspresi ‘Sok Sibuk’ kadang kalau perlu dengan sedikit mengerutkan kening agar tampak sedang berpikir.
Yang susah adalah ketika kita terpaksa harus mengetikkan kata, “Hahahaha….” atau “Wekekekeke…” atau “Wakakaka…” atau ungkapan ketawa ngakak lainnya dengan tetap mempertahankan ekspresi datar. Rasanya……..tersiksa banget!

Tapi si Aku tak pernah kapok. Dia terus belajar, dan semakin hari semakin pandai saja dia menyembunyikan ekspresi (ngakak). Bahkan ilmu kebatinan (maksudnya ilmu ketawa dalam batin) pun telah dikuasainya.

Yah begitulah…sepenggal kisah Si Aku – Staf yang Kadang Suka Malas-Malasan –

Ini baru hebat…Senangnyaaa….

1 Comment

“Kenapa senang?”

Pertanyaan itu akan terjawab jika pertanyaan dimulai dari, “Dimanakah Put berada sekarang?”

Aku di kantor sekarang. Dan untuk pertama kalinya aku bisa posting di blog-ku tercintah ini dari kantor. Padahal sebelumnya boro-boro posting, masuk ke account wordpress-ku aja nda bisa.

Barusan iseng-iseng aja nengokin si Blog yang udah berminggu-minggu ngga di-update. Trus iseng-iseng juga masuk ke wordpress n masukin nama accountku, ternyata….Berhasil!!! Mulai saat ini aku bisa tiap hari ngupdate blog nih…hwehehehe…

Udah ah…back to work!!!!!!

Older Entries