Tentang Bunda

Leave a comment

Lagi-lagi… membuka-buka draft lama yang belum terpublish, dan saya menemukan tulisan ini telah tersimpan selama 9 tahun (30 Jan 2009). Lupa juga sih pernah menulis ini, dan lupa juga beberapa tokoh yang saya ceritakan disini.

Tapi sangat mungkin, keputusan saya empat tahunan lalu untuk merumahkan diri dipengaruhi oleh pemikiran saya ini lima tahun sebelumnya ketika saya baru saja lulus kuliah dan bekerja.

Ini pemikiran saya 9 tahun yang lalu, ketika saya hanya mengamati, belum merasakan. Kini, saya tahu, seorang ibu bagaimanapun kondisinya, tinggal di rumah atau bekerja, kasih sayangnya utuh untuk anak-anaknya.

***

Akhirnya, selesai juga kubaca buku ‘Catatan Hati Bunda’nya Asma Nadia. Bagus. Ceritanya menarik dan menyentuh. Sepertinya itu adalah sebuah diary yang dibukukan. Jadi, banyak hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang diangkat menjadi tema suatu cerita. Belajar satu hal lagi tentang dunia parenting. Diam-diam selama ini aku suka mengamati orang tua-orang tua muda menghadapi anak-anak balita mereka.

 

Dari hasil pengamatan itu…

 

Aku belajar dari Uni (panggilan hormat pada seorang guruku) tentang pendidikan anak. Bagaimana seorang Uni yang ‘sangat pendidik’ membuat ruang depan rumah, yang biasanya dipakai kebanyakan orang sebagai ruang tamu, menjadi lebih mirip perpustakaan dan taman bermain anak-anak dengan berbagai tempelan poster dan mainan-mainan edukatif. Ruangan depan itu pun selalu terbuka untuk anak-anak tetangganya, kebetulan Uni tinggal di sebuah gang kecil, beberapa rumah diantaranya ditinggali oleh keluarga muda, yang perhatiannya terhadap pendidikan anak tidak sebesar Uni. Hasilnya? Seorang putri yang cerdas dan bisa bersosialisasi baik dengan siapapun, padahal belum genap tiga tahun.

 

Lagi…aku pun belajar dari Teteh (panggilan hormatku pada seorang guru yang lain). Ibu dari dua orang anak. Teteh selalu melibatkan anak tertuanya setiap beribadah kepada Allah. Ketika waktu shalat tiba, anaknya selalu diajak serta berwudhu. Dibiarkannya si anak berdiri di sampingnya ketika shalat, dan dengan sendirinya si anak itu pun mengikuti gerakan-gerakan Umi dan imamnya, dengan gaya khas anak kecil tentunya, padahal umurnya belum lagi dua tahun.

 

Di lain kesempatan aku pun mengagumi keluarga lain yang memiliki anak cerdas, si kutu buku, padahal usianya belum lagi lima tahun. Bagaimana ‘memaksa’ anak sekecil itu memiliki hobi membaca?

 

Kemudian…aku pun tak luput mengamati dosenku di kampus. Kadang dia bercerita tentang keluarganya. Hanya sedikit. Tapi dari sedikit itu aku jadi sedikit tahu bagaimana dia mendidik anak-anaknya di rumah. “Kalau anak-anak melakukan sesuatu yang tidak kami kehendaki, saya ga pernah bilang, ‘Jangan!’, tapi bertanya kepada mereka, ‘Kakak kenapa melakukan itu?’, itu akan lebih membuka komunikasi antara orang tua dan anak”, katanya suatu hari.

 

Suatu hari di kost, si Ibu Kost dikunjungi cucu-cucunya dari Padang, dua orang anak yang masih kecil-kecil, masing-masing berusia enam dan empat tahun. Senangnya bisa ikut berkenalan dengan mereka. Dalam suatu obrolan kami, seorang teman bertanya tentang pekerjaan orang tua mereka. Sampai pada suatu pertanyaan, “Umi kerja apa, Sayang?”. Dengan wajah polosnya, dan mata berbinar setiap menjawab pertanyaan dari kami, dia menjawab, “Sekarang Umi udah ga kerja, soalnya aku dan Afi (menyebut salah seorang adiknya) ga ngebolehin”. Lugu…tapi menyentuh. Anak-anak itu menginginkan Umi-nya selalu ada di rumah mendampingi mereka, walaupun yang kutahu, masing-masing dari mereka memiliki seorang pengasuh.

 

Tapi, di lain waktu, aku seringkali melihat manajerku menelpon orang-orang di rumahnya, terutama para pengasuh anak-anaknya, “Si Kakak udah makan? Sama apa? Udah tidur siang? Udah mandi belum? PR-nya gimana…udah dikerjain? Les ga tadi siang?”. Pertanyaan bertubi-tubi itu seringkali terdengar ketika dia sedang berada di kantor maupun klien.

Lain lagi cerita seorang Ibu yang kewalahan menghadapi anaknya yang terus menerus menangis semenjak ditinggal pengasuhnya. Bahkan dekapan Ibu kandungnya pun tidak membuat si anak lebih tenang. Prihatin, tanpa disadari, fungsi seorang ibu mungkin sudah diambil alih oleh seorang pengasuh.


Ada
lagi cerita dari saudaraku. Dia bekerja di tempat yang menawarkan gaji tinggi, memang. Semua kebutuhan lahiriah anaknya terpenuhi, memang. Bahkan keluarga muda ini bisa dibilang mapan dalam hal materi walaupun saudaraku ini baru bekerja kurang lebih empat tahun di tempatnya bekerja sekarang. Tapi…sehari-hari anaknya dititipkan di rumah kakek-neneknya bersama seorang pengasuh. Pergi pagi, bahkan sebelum anaknya bangun, dan pulang pada sore hari ketika anaknya mungkin sudah tak ingin lagi bermain. Sedih.

 

“Yang penting adalah kualitas pertemuan, bukan kuantitasnya”, kata seseorang. Aku ga membantah. Itu benar. Tapi, sebagai seorang anak, bagaimana jika aku menuntut kedua-duanya, baik kuantitas maupun kualitas pertemuan dengan orang tua. Kupikir, semua anak pun menginginkan hal yang sama. Bisa berinteraksi lebih lama dengan orang tua mereka. Bahkan, dulu, ketika aku masih benar-benar tinggal di rumah beserta orang tua, hal yang paling kunantikan adalah saat-saat kepulangan Bapak dari kantor. Walaupun setelah berada di rumah pun tidak banyak yang beliau lakukan untuk kami, anak-anaknya. Tapi kami merasa lebih tenang dan nyaman mengetahui orang tua kami ada untuk kami.

Dari para orangtua itulah aku belajar…dan masih akan terus belajar, sampai aku menyampaikan tulisan berikutnya. See yah…

***

Advertisements

Akhtar dan Pap

2 Comments

“Akhtar sayang banget sama Mpap… kangeeen…”, teriaknya sambil ‘dadah-dadah’ dari balik jendela ruang tamu ke arah Pap yang baru saja selangkah keluar dari gerbang rumah.

Ya, inilah ritual kami sepekan sekali. Yang seringkali mengharukan adalah celotehan Akhtar ketika mengantar Papnya pergi, bikin bapeeerrr.

Pernah suatu hari yang lain, belum lagi berjam-jam dari keberangkatan Papnya, si sulung ini menghampiri saya yang sedang bersiap-siap shalat, terlihat raut sedih dari wajahnya.

“Akhtar kenapa?”, tanya saya.
“Akhtarnya sedih karena Pap pulang”, jawabnya dengan wajah murung. Lalu saya berusaha menghibur sebisanya.

Saya shalat, dengan konsentrasi terpecah, karena merasakan Akhtar gelisah, bolak balik ke dalam lalu keluar kamar tidur, lalu ke dalam dan keluar lagi. Dari tempat saya shalat (di ruangan sebelah kamar tidur) saya bisa mendengar Akhtar menjatuhkan badannya di atas ranjang lalu bangkit lagi.

Selesai saya shalat, ia menghampiri saya dengan tangis tertahan, “Akhtar sayang sama Mpap”. Saya dekap tubuhnya dan usap-usap punggungnya, “Iya Akhtar, sabar ya, nanti kan Pap pulang lagi kesini”.

*

Kebiasaannya yang lain lagi, jika Papnya bersiap-siap akan berangkat, Akhtar akan berkata, “Pap kerjanya disini aja”, lalu hanya akan di’amin’kan oleh kami. 

Setelah itu Akhtar akan mengantar Pap sampai teras dan beberapa dialog yang seringkali terjadi adalah seperti ini:

“Nanti pulangnya hari apa?” Papnya akan menjawab Jumat atau Sabtu.

“Pulangnya naik apa?” Papnya akan menjawab naik bus atau kereta, kadang-kadang travel.

Lalu ditutup dengan, “Hati-hati yaaa… kalau Akhtar kangen nanti telepon yaa… dadaaah”. Papnya akan mengucapkan salam dan Akhtar baru akan masuk setelah Pap hilang dari pandangan.

*

Apa yang saya rasakan dengan ini?

Yang pertama-tama, bersyukur. Bersyukur karena walaupun secara fisik tidak bisa bersama setiap hari, saya melihat Akhtar dan Papnya memiliki kedekatan hati. Insya Allah ini akan menjadi bekal yang sangat penting untuk perkembangannya. Kedekatan dengan ayah dikatakan memiliki banyak manfaat diantaranya bisa membuat anak tumbuh menjadi seorang yang percaya diri, cerdas, stabil emosinya, dan lain-lain, bisa ditelusur di google hehe.

Yang kedua, bersyukur lagi, karena Akhtar mampu mengungkapkan perasaannya secara terbuka kepada orangtuanya. Bersyukur karena saya ga biasa seperti itu, pun suami saya kepada orangtuanya. Keterbukaan menunjukkan kepercayaan, dan semoga Akhtar akan tetap seperti itu, terutama kelak di masa-masa pra baligh atau menuju dewasa, dimana ia akan bercerita/ bertanya segala hal kepada orangtuanya terlebih dahulu sebelum mencari yang lain. 

Para Maniak Kereta Api

Leave a comment

Salah satu kosakata yang dikuasai Akhtar ketika dulu mulai belajar bicara adalah “Ta api”, maksudnya kereta api. Saya rada lupa bagaimana mulanya ia begitu gandrung sama kereta api, karena waktu itu kami masih tinggal di Pasuruan dan sangat jarang melihat dan naik kereta api, kecuali kereta odong-odong yang beberapa kali dalam seminggu lewat depan kontrakan kami. Lain lagi kalau di Bandung, tepatnya di Padalarang, kereta api adalah salah satu alat transportasi andalan kami kalau mau nyaba kota.

Singkat cerita… tumbuhlah Akhtar jadi seorang maniak kereta api :p. Mula-mula suka menggambar pun yang digambar adalah mobil dan kereta api, bahkan sampai sekarang ga pernah bosan menggambar kereta api dengan berbagai jenisnya. Termasuk mainan pun, saat ini lagi suka banget mendorong-dorong kereta api yang ia susun dari balok-balok bangun. 


Di luar itu, ia pun cepat sekali menghapal nama-nama stasiun. Rute Kereta Bandung Raya dari Padalarang ke Cicalengka dan sebaliknya sudah ia hapal sejak lama. Bahkan rute kereta api Cibatu-Purwakarta, yang belum pernah dinaikinya ia hapal. Dan tak jarang ia meminta saya atau Papnya untuk mencarikan rute kereta api dari kota A ke B, misalnya dari Jakarta ke Bandung, lalu ia baca beberapa kali dan ia hapal.

Pun Akhtar sangat excited jika naik kereta api. Ia bisa bertahan tidak tidur sepanjang perjalanan Bandung-Jakarta, demi melihat ke luar jendela kereta api, mengamati, dan bertanya banyak hal. 

Di usia 2 tahun ketika kami masih tinggal di daerah Pasar Minggu, ia paling suka nangkring di pinggir rel melihat KRL lewat. Kalau bosan dan rewel di kontrakan, salah satu obat yang paling mujarab yaa memberinya tontonan kereta api dari youtube, namun karena sinyal di kontrakan sangat buruk, saya terpaksa mengajaknya ke pinggir rel, beberapa menit pertama, emak masih anteng nungguin, menit-menit berikutnya… emaknya yang jadi rungsing. Kebayang lah ya… nunggu di pinggir rel, ga ada tempat yang nyaman untuk duduk, banyak kendaraan lalu lalang, dan panas, secara di Jakarta.

Sesekali saya ajak juga Akhtar naik KRL kalau rewelnya udah level advance, yang mana jalan menuju stasiun pun butuh perjuangan banget. Akhtar waktu itu masih 2 tahun, belum cukup aman untuk diminta berjalan sendiri di pinggir jalan raya yang ramai, maka harus digendong dalam kondisi saya yang lagi hamil Ahnaf saat itu, sementara naik kendaraan pun nanggung banget karena jarak ke stasiun tidak terlalu jauh. Terjauh, kami pernah naik sampai Depok aja. KRL sangat nyaman dinaiki di luar jam berangkat dan pulang kantor yang sangat padat.

Nah sekarang, sedikit banyak pasti terpengaruh dari Akhtar, Ahnaf sangat sukaaaaa kereta api. Ia menyebutnya… “Api… api… ” jika mendengar suara kereta api atau sekedar melihat rel. Bahkan sepertinya, bagi ia sekarang, apalagi kalau sedang berada di dalam kereta, yang di maksud dengan api adalah rel kereta api. Ahnaf sangat senang kalau dibawa ke stasiun, “Api.. api… “, katanya, lalu ketika dibawa masuk ke dalam kereta api, ia akan bingung, mana kereta apinya? Maka ia hanya akan menunjuk-nunjuk rel di luar kereta dan menyebutnya “Api…”.

Tak jarang Ahnaf memaksa jalan ke pinggir rel hanya untuk melihat kereta api lewat. Ia tidak akan mau pulang sampai melihat setidaknya satu rangkaian kereta api. Mujur kalau memang pas jadwalnya kereta lewat, kalau ngga… yaaa nunggu lama. Tapi, ia hanya akan memaksa melihat kereta api ke Abah atau Papnya (kalau lagi di rumah). Ia ga pernah memaksa ke siapapun lagi, termasuk ke saya. Alhamdulillah yah… :p

Tapi ya itu, permintaannya itu ga kenal waktu. Bisa ujug-ujug minta kapan pun, bahkan pernah pada larut malam. 

Tak jauh beda dengan Akhtar, saat ini Ahnaf pun lagi senang mendorong-dorong kereta api mainan yang disusun kakaknya dari balok-balok itu… maka timbul persoalan, karena kakaknya tidak pernah mau meminjamkan, akhirnya Ahnaf ngalah. Sebagai ‘pelampiasan’, kalau pas Akhtar tidur, dan Ahnaf belum, Ahnaf akan memainkan kereta balok itu lamaaaa sekali, bahkan saya perhatikan pernah sampai 2 jam. Yang ia kerjakan hanya mendorong-dorong kereta api keliling ruangan, sambil mulutnya sesekali meniru suara kereta api atau suara neng nong neng nong yang biasa ia dengar dari stasiun. 

Ya begitu lah… kisah kami dan kereta api :p

Penting banget yaaaa 

Yang Dirindukan dari Ciledug

2 Comments

Pindahan


Sudah satu bulan saya dan anak-anak resmi pindah dari kontrakan di Ciledug, saat ini menempati rumah pribadi di Padalarang. Kami pindah lebih dulu dengan hanya membawa sekoper pakaian, sementara barang-barang baru diangkut sepekan kemudian, tepatnya pada 27 Agustus 2017. Dengan kecepatan beberes seperti kura-kura, plus ‘bantuan’ dari anak-anak, suasana rumah baru terasa homy 2 pekan kemudian.

Ciledug, walaupun cukup jauh dari kampung halaman, dan cuacanya panas, tetap menyimpan seenggaknya satu kelebihan yang ga dimiliki lingkungan rumah saya di Padalarang. Yaituu… jajanannya murah-murah.  

Di kontrakan Ciledug, yang terletak di wilayah Sudimara Barat itu, dari pagi sampai malam tidak berhenti penjaja makanan lewat dekat rumah. Dengan rasa yang pas, harganya pun cukup bersahabat.

Sebagai perbandingan harga nih ya… kalau pagi-pagi itu biasanya lewat penjual bubur sumsum. Dengan merogoh kocek 3000-4000 kami sudah menikmati semangkuk bubur sumsum hangat plus beberapa butir candil, cukup mengenyangkan untuk sarapan. Sementara di Padalarang, kami harus membayar minimal 5000 untuk seporsi bubur sumsum.

Kalau masih kurang kenyang, agak siangan dikit lewat penjual pecel sayur. Saya sempat ternganga waktu membeli sepiring pecel sayur+gendar dan sepiring lagi bihun goreng+gendar, artinya 2 piring, dengan total harga hanya 7000. Sementara, 11-12 dengan pecel, di dekat rumah Padalarang ada yang jual lotek, yang seporsinya lebih sedikit dibandingkan dengan sepiring pecel sayur, harganya sudah 6000.

Lagi nih… rujak, salah satu makanan favorit saya, bisa lewat 3 kali dalam sehari, ada tukang yang lewat jam 10 pagi, jam 1 siang, dan jam 2 siang. Saya paling sering beli yang jam 2 siang. Pertama kali beli, karena belum tau harga, saya beli seporsi, terserah abangnya mau kasih berapa. Ternyata dia kasih rujak sepiring penuh seharga 7000, dimakan berkali-kali pun rasanya ga habis-habis. Akhirnya selanjutnya, saya beli 5000 saja, itu pun bisa saya makan berdua bareng suami kalau pas lagi di rumah. Sementara di Padalarang, saya harus merogoh 6000 untuk seporsi rujak, porsinya terlalu sedikit buat saya, kadang beli satu bungkus terasa kurang.

Ada lagi nih… sore hari, penjual cendol favorit Akhtar akan lewat sekitar jam 3 atau 4. Pada awalnya kami biasa beli 4000 dimakan bertiga (saya, Akhtar, Ahnaf), lama-lama bosen juga, jadi beli cukup 3000, lalu saya merasa 2000 cukup untuk Akhtar sendiri, kadang malah bersisa. Intinya, 2000 itu udah porsi pas untuk sekali makan. Sementara cendol di dekat rumah Padalarang, dipatok harganya 5000 per porsi. Hiks.

Lalu, di Ciledug juga cukup banyak penjual bakso, dan untuk ukuran tukang bakso keliling, rasanya enak. Dengan rasa yang enak itu, kami sudah kenyang dengan mengeluarkan uang 7000. Kalau di Padalarang, kadang rasa bakso keliling ga seenak rasa bakso yang dijual di warungan, yang mana berarti harganya pun lebih mahal.

Oh ya, ada yang ketinggalan nih. Gorengan. Kalau pagi-pagi, dekat ibu sayur langganan suka ada yang jual gorengan. Satu potongnya besar-besar, tapi harganya hanya 1000 per potong, yang mana dengan harga segitu, kami hanya mendapat sepotong gorengan yang lebih kecil di Padalarang.

Ya begitu lah… bagusnya di rumah Padalarang intensitas jajan sehari bisa dikurangi, karena rumah kami masuk gang kecil yang cukup sepi, sangat jarang penjual makanan lewat, jadi harus selalu sedia makanan/ camilan di rumah karena ga bisa mengharap ada tukang jualan lewat depan rumah saat kami lapar. Hihi.

Dari beberapa rumah kontrakan yang kami tempati, dengan mengabaikan cuaca yang panas, rumah kontrakan di Ciledug adalah yang ternyaman. Tidak heran karena kami adalah penghuni pertama di rumah itu. 

Sejauh ini, sudah 4 rumah yang kami tempati sejak Akhtar lahir… 

Pertama, rumah di Jember, banyak cicak, nyamuk, dan bermasalah dengan air dan saluran pembuangannya yang mampet. 

Kedua, rumah di Pasuruan, alhamdulillah tidak ada masalah dengan air, tapi gerah dan banyak sekali nyamuk.

Ketiga, rumah di Pasar Minggu. Saya sebenarnya merasa nyaman disini. Air deras, bersih, dan pemilik kontrakan sangat baik. Kalaupun ada kekurangan, kekurangannya yaitu susah sinyal internet dan kurang sirkulasi udara.

Keempat, rumah Ciledug, yang menurut saya paling ideal untuk rumah kontrakan. Minusnya dapurnya bocor kalau hujan deras, di luar itu sih ga ada keluhan, hanya kalau malam Ahnaf susah tidur karena cukup gerah.

Ya begitu lah suka duka pindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Dengan berbekal pengalaman di rumah kontrakan sebelumnya, biasanya kita akan punya standar tertentu untuk rumah kontrakan berikutnya. Yang menyenangkan dari berpindah-pindah itu adalah kami ga bosan dengan lingkungan yang itu-itu aja. Setelah ini pun (walaupun udah rumah sendiri) masih ada kemungkinan kami akan pindah lagi jika menemukan hunian yang lebih ideal. Semoga semua berjalan sesuai rencana. Aamiin…

Lebaran Istimewa

1 Comment

Tulisan ini judulnya ‘dibuang sayang’. Seringkali saya hanya menulis di draft blog tanpa published. Kadang-kadang, kalau lagi moooood (kadang-kadang lho ya..), saya buka lagi satu per satu tulisan di draft, ada yang saya lanjutkan ceritanya dan akhirnya terpublish, banyak juga yang akhirnya ‘tidak berakhir jadi apa-apa’ saking ‘late post’nya, ide-ide sudah menguap entah kemana, dan kalau itu berupa cerita pengalaman, maka udah ga dapet ‘feel’nya untuk melanjutkan cerita. Udah basi dan krauk krauk…

Tapi karena cerita di bawah ini menurut saya ‘cukup’ istimewa, maka saya memutuskan untuk ngeposting juga. Istimewanya karena ada beberapa ‘momen pertama kalinya’ buat saya, buat anak-anak, dan buat saya dan suami.

***

Lebaran 2016

Salah satu yang istimewa dari Ramadhan tahun ini adalah bahwasanya ini adalah Ramadhan pertama saya dengan puasa full, tanpa batal, dalam 16 tahun terakhir sejak mendapat haid pertama.

Jika di 13 tahun sebelumnya saya batal karena haid, di 2013, separuh bulan saya ga puasa karena dalam masa nifas setelah melahirkan Akhtar. Setelah itu saya ga datang bulan sampai 13 bulan dan dengan percaya dirinya yakin bisa penuh menjalankan puasa Ramadhan 2014.

Qadarullah… saya mendapat haid pertama dalam 13 bulan itu justru dalam pekan terakhir Ramadhan 2014.

2015, saya kembali percaya diri bisa menjalankan puasa sebulan penuh. Waktu itu sedang hamil Ahnaf kurang lebih 3 bulan. Tapi pada suatu kunjungan ke dokter kandungan, si dokter menyarankan saya untuk tidak berpuasa demi kesehatan si janin. Ya sudah akhirnya 10 hari saya batal karena selang seling antara puasa dan tidak.

2016 ini alhamdulillah akhirnya saya bisa full menjalankan puasa dalam kondisi menyusui Ahnaf, plus pertama kalinya membawa anak-anak untuk shalat Ied.

Sekali-sekalinya pernah ajak Akhtar untuk shalat ied (yaitu idul adha) adalah sekitar 2 tahun lalu… pada akhirnya saya ngga shalat juga karena sibuk ngejar-ngejar Akhtar yang bermain di pinggir kolam tak jauh dari shaf jamaah wanita.

Dan… lebaran tahun ini untuk pertama kalinya juga sejak punya anak, suami nekat ngajak nonton bioskop ninggalin anak-anak yang udah tertidur.

Asik nih, tiket udah di tangan, cemilan udah siap plus minumannya, pintu studio pun sudah dibuka, dan kami sudah menemukan tempat duduk kami. Film belum juga mulai, layar masih menampilkan trailer film-film yang akan tayang dan beberapa iklan komersial ketika hp suami menerima pesan singkat.

“Ahnaf nangis”

Beberapa detik cuma cengo, ga bisa mikir. Waduh… kudu kumaha. Kita memutuskan menunggu sampai ada kabar baik dari rumah, tapi yang datang malah kabar buruk

“Ahnaf ngadat, ga mau berhenti nangis”

Saya mulai gelisah…

Dan beberapa menit kemudian akhirnya kami memutuskan meninggalkan bioskop tepat di detik pertama film diputar.

Sepanjang jalan pulang saya hanya tersenyum-senyum geli mengingat betapa gatotnya kencan kami malam itu.

Akhirnya, cemilan (mahaaal T_T) yang dibeli di lobi bioskop pun kami habiskan sambil menonton film di depan layar kaca, di rumah.

***

Lalu… Tangerang

Leave a comment

2 minggu di Tangerang

*

Sejauh ini keluarga kecilku selalu pindah dari satu ‘kesumukan’ ke ‘kesumukan’ yang lain…

Jember yang agak hareudang… ke Pasuruan yang hareudang pisan… ke Jakarta yang semua orang mafhum akan kesumukannya… sempat ngadem di Bandung beberapa bulan, dan sekarang di Ciledug Tangerang yang bikin badan lengket karena keringat…

Kalau orang dewasa tentu lebih mudah menyetting diri, menaikturunkan standar kenyamanan agar tetap kerasan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang selalu jadi soal adalah anak-anak… yang standar kenyamanannya kadang gak langsung kita pahami, tanpa dialami sebelumnya.

Sebagai contoh, kontrakan sebelumnya di Jakarta yang menurut saya sudah nyaman, ternyata tidak membuat Akhtar bertahan lebih dari 3 bulan. Lebih tepatnya, saya yang kibar-kibar bendera putih duluan karena tak kunjung bisa mengatasi Akhtar yang selalu minta keluar rumah, berjalan jauuuh, atau sekedar berdiri di dekat rel kereta sampai 1 atau 2 jam… bahkan pernah lebih.

Dari pengalaman itu… kami mengevaluasi beberapa hal dan menetapkan kriteria tambahan untuk kontrakan berikutnya, apalagi kalau masih di metropolitan… diantaranya, punya teras dan pagar rumah sendiri, jalan di depan rumah tidak terlalu ramai, kalau bisa sih agak jauh dari jalan besar, dan maunya yang luas…

Nah… setelah suami setahun di Jakarta, dan hampir dipastikan tidak akan pindah tugas paling ngga untuk setahun ke depan, akhirnya keluarga kecil kami memutuskan hijrah lagi, kali ini mencoba peruntungan di Tangerang. Banyak syaratnya waktu mulai mencari iklan kontrakan di internet… selain yang disebutkan di atas, juga… kalau bisa di Ciledug, kalau bisa lagi di Jalan Tanah 100. Karena ada adik sekeluarga yang tinggal juga di kawasan itu.

Alhamdulillah… rezekinya anak-anak dapat kontrakan yang nyaman, bersih, baru, dan luas, punya pagar rumah sendiri, tapi tidak terlalu mahal, jalan depan rumah yang tidak terlalu ramai, di pemukiman penduduk yang tetangganya ramah-ramah, dan lokasinya di Jalan Tanah 100. Cocok!

image

Sejauh ini anak-anak kelihatan kerasan tinggal disini… kalau Akhtar bosan, ada sepupunya yang bisa diajak main bareng atau sekedar bersepeda ke tukang sayur… masalahnya hanya… disini agak gerah, jadi belum ada seminggu, yang kata orang ‘keringat buntet’ mulai muncul di beberapa bagian tubuh Akhtar dan Ahnaf.

Tangerang Rasa Jawa

Yang menarik, lingkungan disini didominasi pendatang dari Jawa. Sependengaran saya sih kayaknya kebanyakan Jateng atau Yogya. Para ‘pendatang’ ini sebenarnya sudah tinggal puluhan tahun dan meletakkan fondasi-fondasi kehidupan bermasyarakat disini. Mereka hidup mapan, berkeluarga, dan bermatapencarian disini. Kekeluargaannya kental sekali… kalau kata seseorang mah, ‘guyub’ ceunah. Bukan sekali dua kali tiba-tiba ada yang menyapa dengan ramah waktu bersepeda dengan Akhtar… yang ternyata mereka adalah tetangga yang selisih 1 sampai 2 rumah dari kontrakan. Bahkan sempat terkesima karena disapa dengan sangat ramah oleh ibu penjual gorengan yang jarak tempat jualannya ratusan meter dari kontrakan, harus melewati beberapa gang sebelum sampai di kontrakan kami, “Tinggal dimana Dek? Kok kayak baru lihat ya…”. Wow!

Sejauh pengalaman saya yang baru 2 minggu disini, langka sekali menemukan orang yang tidak berlogat Jawa. Dari pemilik rumah, tetangga, ketua RT, pedagang roti keliling, penjaja bakso, penjaga warung, pengangkut sampah, sampai orang-orang yang saya dengar sedang ngobrol di pinggir jalan pun berbahasa Jawa. Panggilan Bukde, Pakde, dan sejawatnya jadi ga asing terdengar di telinga. Saya pun jadi agak latah sebenarnya, kalau belanja ke warung sayur lalu dilayani oleh penjual berlogat Jawa dan dikelilingi ibu-ibu pembeli yang berlogat Jawa juga, ada sedikit usaha untuk men’jawa-jawa’kan logat saya. Ini persis seperti yang saya lakukan waktu di Pasuruan dulu… saya mencoba mengikuti logat setempat agar tidak terdengar asing, karena sekalinya saya pernah ‘keceplosan’ berlogat Sunda, beberapa orang melirik saya dengan ekspresi ‘aneh’. Wkwkwk…

Alhamdulillah…
(P)indah-(p)indah itu memang indah :)

Menikmati Masa yang Akan Dirindukan

Leave a comment

Akhtar tidak punya banyak mainan di rumah, hanya ada satu kardus ukuran sedang berisi mainan, itu pun lebih banyak mainannya waktu masih bayi. Akhirnya ia lebih suka mengeksplorasi seisi rumah dan memainkan apapun yang menarik baginya daripada memainkan mainannya. Saya membiarkannya, selama tidak membahayakan.

Sering kali saya terkagum-kagum dengan ‘kreativitas’-nya bermain, namun di kala lain saya banyak-banyak beristighfar mengurut dada agar sabar mendapati rumah yang berantakan.

Suatu saat ketika bermain dengan Akhtar, saya tiba-tiba teringat sebuah video pendek yang menceritakan seorang ayah dan anaknya.

Diceritakan, mereka berdua sedang duduk di taman. Si anak yang telah dewasa sedang membaca koran, sementara sang ayah yang sudah renta hanya duduk memerhatikan seekor burung gereja.
Lalu si ayah bertanya, “Burung apa itu?”. Anaknya melihat burung itu sekilas lalu menjawab, “Burung gereja”. Tak lama kemudian si ayah kembali bertanya “Burung apa itu?”. Agak kesal si anak menjawab “Burung gereja”. Lalu si ayah mengajukan lagi pertanyaan yang sama berulang kali, pada akhirnya si anak marah dan membentak ayahnya.

Si ayah lalu beranjak pergi, tak lama kemudian kembali membawa sebuah buku dan menyuruh anaknya membaca halaman tertentu.

Di buku itu tertulis cerita si ayah ketika si anak masih kecil. Si anak baru pertama kali melihat burung gereja dan bertanya berulang kali, “Ayah burung apa itu?”. Ayahnya menjawabnya berulang kali dan memeluk anaknya setiap kali mengajukan pertanyaan yang sama itu.

Endingnya mengharukan, rasanya saat itu juga ingin pulang dan memeluk kedua orangtua saya.

Saya pertama kali melihat video itu sebelum punya anak. Kini, setelah punya anak yang mulai aktif bermain saya jadi paham apa yang dikatakan si ayah dalam buku hariannya itu.

Anak seusia Akhtar sangat senang melakukan hal ‘sederhana’ yang sama berulang-ulang. Dan saya pun harus membantunya berulang-ulang. Bisa satu, dua, tiga, bahkan sepuluh kali atau lebih. Satu, dua, tiga kali saya akan memeluknya bangga dan memujinya, “Hebat!”. Pada hitungan berikutnya, saya lebih banyak harus bersabar menunggui Akhtar bermain tanpa mau ditinggalkan.

Contoh kecilnya, Akhtar sangat suka menutup jendela dari dalam rumah, dan saya harus membukanya kembali agar ia bisa menutupnya lagi, lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Sederhana kan? Tapi untuk permainan sesederhana itu saya harus menunda pekerjaan lain.

Contoh lain, Akhtar sangat suka menutup laci-laci plastik berulang kali, memutar tombol mesin cuci berulang kali, menutup topless berulang kali, dan banyak hal lain berulang kali. Saya? Mau tak mau harus duduk sabar mendampingi Akhtar sambil mengerjakan hal-hal yang sebaliknya.

Tapi… setiap detik momen itu sangat layak untuk dinikmati. Bertahun-tahun dari sekarang, saat-saat ‘membosankan’ itu akan menjadi saat-saat yang sangat dirindukan, kenangan yang tidak bisa diputar kembali, kecuali melalui video atau foto-foto, itu pun kalau sempat diabadikan. Jangankan bertahun-tahun yang akan datang, sekarang pun saya sering memutar video Akhtar yang masih bayi tanpa bosan, berulang kali.

Jadi, nikmati saja. Memang masanya :)

Older Entries