Lalu… Tangerang

Leave a comment

2 minggu di Tangerang

*

Sejauh ini keluarga kecilku selalu pindah dari satu ‘kesumukan’ ke ‘kesumukan’ yang lain…

Jember yang agak hareudang… ke Pasuruan yang hareudang pisan… ke Jakarta yang semua orang mafhum akan kesumukannya… sempat ngadem di Bandung beberapa bulan, dan sekarang di Ciledug Tangerang yang bikin badan lengket karena keringat…

Kalau orang dewasa tentu lebih mudah menyetting diri, menaikturunkan standar kenyamanan agar tetap kerasan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang selalu jadi soal adalah anak-anak… yang standar kenyamanannya kadang gak langsung kita pahami, tanpa dialami sebelumnya.

Sebagai contoh, kontrakan sebelumnya di Jakarta yang menurut saya sudah nyaman, ternyata tidak membuat Akhtar bertahan lebih dari 3 bulan. Lebih tepatnya, saya yang kibar-kibar bendera putih duluan karena tak kunjung bisa mengatasi Akhtar yang selalu minta keluar rumah, berjalan jauuuh, atau sekedar berdiri di dekat rel kereta sampai 1 atau 2 jam… bahkan pernah lebih.

Dari pengalaman itu… kami mengevaluasi beberapa hal dan menetapkan kriteria tambahan untuk kontrakan berikutnya, apalagi kalau masih di metropolitan… diantaranya, punya teras dan pagar rumah sendiri, jalan di depan rumah tidak terlalu ramai, kalau bisa sih agak jauh dari jalan besar, dan maunya yang luas…

Nah… setelah suami setahun di Jakarta, dan hampir dipastikan tidak akan pindah tugas paling ngga untuk setahun ke depan, akhirnya keluarga kecil kami memutuskan hijrah lagi, kali ini mencoba peruntungan di Tangerang. Banyak syaratnya waktu mulai mencari iklan kontrakan di internet… selain yang disebutkan di atas, juga… kalau bisa di Ciledug, kalau bisa lagi di Jalan Tanah 100. Karena ada adik sekeluarga yang tinggal juga di kawasan itu.

Alhamdulillah… rezekinya anak-anak dapat kontrakan yang nyaman, bersih, baru, dan luas, punya pagar rumah sendiri, tapi tidak terlalu mahal, jalan depan rumah yang tidak terlalu ramai, di pemukiman penduduk yang tetangganya ramah-ramah, dan lokasinya di Jalan Tanah 100. Cocok!

image

Sejauh ini anak-anak kelihatan kerasan tinggal disini… kalau Akhtar bosan, ada sepupunya yang bisa diajak main bareng atau sekedar bersepeda ke tukang sayur… masalahnya hanya… disini agak gerah, jadi belum ada seminggu, yang kata orang ‘keringat buntet’ mulai muncul di beberapa bagian tubuh Akhtar dan Ahnaf.

Tangerang Rasa Jawa

Yang menarik, lingkungan disini didominasi pendatang dari Jawa. Sependengaran saya sih kayaknya kebanyakan Jateng atau Yogya. Para ‘pendatang’ ini sebenarnya sudah tinggal puluhan tahun dan meletakkan fondasi-fondasi kehidupan bermasyarakat disini. Mereka hidup mapan, berkeluarga, dan bermatapencarian disini. Kekeluargaannya kental sekali… kalau kata seseorang mah, ‘guyub’ ceunah. Bukan sekali dua kali tiba-tiba ada yang menyapa dengan ramah waktu bersepeda dengan Akhtar… yang ternyata mereka adalah tetangga yang selisih 1 sampai 2 rumah dari kontrakan. Bahkan sempat terkesima karena disapa dengan sangat ramah oleh ibu penjual gorengan yang jarak tempat jualannya ratusan meter dari kontrakan, harus melewati beberapa gang sebelum sampai di kontrakan kami, “Tinggal dimana Dek? Kok kayak baru lihat ya…”. Wow!

Sejauh pengalaman saya yang baru 2 minggu disini, langka sekali menemukan orang yang tidak berlogat Jawa. Dari pemilik rumah, tetangga, ketua RT, pedagang roti keliling, penjaja bakso, penjaga warung, pengangkut sampah, sampai orang-orang yang saya dengar sedang ngobrol di pinggir jalan pun berbahasa Jawa. Panggilan Bukde, Pakde, dan sejawatnya jadi ga asing terdengar di telinga. Saya pun jadi agak latah sebenarnya, kalau belanja ke warung sayur lalu dilayani oleh penjual berlogat Jawa dan dikelilingi ibu-ibu pembeli yang berlogat Jawa juga, ada sedikit usaha untuk men’jawa-jawa’kan logat saya. Ini persis seperti yang saya lakukan waktu di Pasuruan dulu… saya mencoba mengikuti logat setempat agar tidak terdengar asing, karena sekalinya saya pernah ‘keceplosan’ berlogat Sunda, beberapa orang melirik saya dengan ekspresi ‘aneh’. Wkwkwk…

Alhamdulillah…
(P)indah-(p)indah itu memang indah :)

Menikmati Masa yang Akan Dirindukan

Leave a comment

Akhtar tidak punya banyak mainan di rumah, hanya ada satu kardus ukuran sedang berisi mainan, itu pun lebih banyak mainannya waktu masih bayi. Akhirnya ia lebih suka mengeksplorasi seisi rumah dan memainkan apapun yang menarik baginya daripada memainkan mainannya. Saya membiarkannya, selama tidak membahayakan.

Sering kali saya terkagum-kagum dengan ‘kreativitas’-nya bermain, namun di kala lain saya banyak-banyak beristighfar mengurut dada agar sabar mendapati rumah yang berantakan.

Suatu saat ketika bermain dengan Akhtar, saya tiba-tiba teringat sebuah video pendek yang menceritakan seorang ayah dan anaknya.

Diceritakan, mereka berdua sedang duduk di taman. Si anak yang telah dewasa sedang membaca koran, sementara sang ayah yang sudah renta hanya duduk memerhatikan seekor burung gereja.
Lalu si ayah bertanya, “Burung apa itu?”. Anaknya melihat burung itu sekilas lalu menjawab, “Burung gereja”. Tak lama kemudian si ayah kembali bertanya “Burung apa itu?”. Agak kesal si anak menjawab “Burung gereja”. Lalu si ayah mengajukan lagi pertanyaan yang sama berulang kali, pada akhirnya si anak marah dan membentak ayahnya.

Si ayah lalu beranjak pergi, tak lama kemudian kembali membawa sebuah buku dan menyuruh anaknya membaca halaman tertentu.

Di buku itu tertulis cerita si ayah ketika si anak masih kecil. Si anak baru pertama kali melihat burung gereja dan bertanya berulang kali, “Ayah burung apa itu?”. Ayahnya menjawabnya berulang kali dan memeluk anaknya setiap kali mengajukan pertanyaan yang sama itu.

Endingnya mengharukan, rasanya saat itu juga ingin pulang dan memeluk kedua orangtua saya.

Saya pertama kali melihat video itu sebelum punya anak. Kini, setelah punya anak yang mulai aktif bermain saya jadi paham apa yang dikatakan si ayah dalam buku hariannya itu.

Anak seusia Akhtar sangat senang melakukan hal ‘sederhana’ yang sama berulang-ulang. Dan saya pun harus membantunya berulang-ulang. Bisa satu, dua, tiga, bahkan sepuluh kali atau lebih. Satu, dua, tiga kali saya akan memeluknya bangga dan memujinya, “Hebat!”. Pada hitungan berikutnya, saya lebih banyak harus bersabar menunggui Akhtar bermain tanpa mau ditinggalkan.

Contoh kecilnya, Akhtar sangat suka menutup jendela dari dalam rumah, dan saya harus membukanya kembali agar ia bisa menutupnya lagi, lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Sederhana kan? Tapi untuk permainan sesederhana itu saya harus menunda pekerjaan lain.

Contoh lain, Akhtar sangat suka menutup laci-laci plastik berulang kali, memutar tombol mesin cuci berulang kali, menutup topless berulang kali, dan banyak hal lain berulang kali. Saya? Mau tak mau harus duduk sabar mendampingi Akhtar sambil mengerjakan hal-hal yang sebaliknya.

Tapi… setiap detik momen itu sangat layak untuk dinikmati. Bertahun-tahun dari sekarang, saat-saat ‘membosankan’ itu akan menjadi saat-saat yang sangat dirindukan, kenangan yang tidak bisa diputar kembali, kecuali melalui video atau foto-foto, itu pun kalau sempat diabadikan. Jangankan bertahun-tahun yang akan datang, sekarang pun saya sering memutar video Akhtar yang masih bayi tanpa bosan, berulang kali.

Jadi, nikmati saja. Memang masanya :)

Akhtar 9 Months

Leave a comment

image

Yeaayy… Akhtar tepat 9 bulan hari ini. Alhamdulillah, perkembangannya sangat baik sesuai umurnya. Berarti sudah 3 bulan Akhtar makan MPASI, sejauh ini berjalan lancar dan sesuai rencana, yaitu makan MPASI rumahan. Kalau ini sih tantangan buat emaknya, gimana biar ga males masak, karena kalau males dipastikan Akhtar cuma bisa kerokan, maksudnya makan pisang kerok, alpukat kerok, buah naga kerok, dan kerokan-kerokan lainnya :p

Jauh hari sebelum MPASI, saya membekali diri dengan beragam ilmu tentang MPASI. Saya bergabung dengan milis tentang MPASI sejak Akhtar masih tiga bulan dan membaca dokumen-dokumen yang tinggal download dari milis tersebut. Saya pun mengikuti setiap perbincangan di milis, pada awalnya. Lama-lama saya bosan tahu apa yang sering (banget) di-sharing tentang MPASI di milis itu. Diantaranya tentang MPASI pertama apa? Anak GTM bagaimana? Yang masalah GTM ini saya catat baik-baik di kepala, sekaligus menjadi sedikit kekhawatiran bagi saya.

Awalnya saya lumayan strict soal MPASI ini. Saya catat makanan apa saja yang boleh dan belum boleh untuk bayi sesuai umurnya. Menu dan jadwal makan MPASI Akhtar pun berdasarkan itu. Namanya juga anak baru mulai makan, jadi khawatir belum siap jika dikasih ini itu yang tidak sesuai umurnya.

Tapi setelah dua sampai tiga bulan menyiapkan MPASI Akhtar, saya mulai berani keluar dari daftar makanan itu, dan sebisa mungkin memberi lebih banyak variasi makanan ke Akhtar, tidak selalu dengan 4DR (four days rule) yang biasa disarankan untuk pengenalan jenis-jenis makanan. Hal tersebut berani saya lakukan karena sejauh ini Akhtar tidak pernah menunjukkan gejala alergi untuk jenis makanan apapun, dan kami, orangtuanya pun, tidak punya histori alergi apapun.

Si GTM yang dikhawatirkan pun beberapa kali terjadi. Masalah anak susah makan ini ternyata sukses juga menguras kesabaran, mengaduk-aduk emosi, dan membuat mood saya buruk. Walaupun sudah banyak sekali pembahasan tentang GTM di milis MPASI, selalu, solusinya berakhir pada, “Banyakin stok sabar aja yaaa…”. Dan itu lah yang (dengan keras) coba saya lakukan. Lagipula GTM-nya Akhtar (menurut saya) masih dalam tahap yang wajar. Tidak sampai menolak makanan sama sekali atau menyembur-nyemburkan makanan. Walaupun pernah juga dia GTM setelah suapan pertama. Tapi begitu diperhatikan, ternyata GTM-nya Akhtar ini bukan karena ia gak mau makan apapun. Bisa jadi karena pada saat itu ia tidak suka dengan makanan yang disajikan, atau tekstur makanannya yang membuat dia susah menelan, atau mengantuk dan terlalu lelah untuk makan. Kalau penyebabnya sudah ketahuan, jadi lebih mudah mengatasinya.

Walaupun banyak tantangannya, teteuup saya menikmati sekali masa-masa emas ini yang suatu saat nanti pasti sangat saya rindukan… lihat bayi baru lahir aja, udah kangeeeen Akhtar baru lahir :p

Ragrag, A Milestone?

5 Comments

You know ragrag? Itu artinya Gubrag! Jatuh dari ketinggian.

Teringat beberapa waktu lalu sempat ngobrol dengan seorang teman soal bayi yang jatuh dari ranjang. Lalu, bergurau saya berkata, “Kayaknya bayi itu emang mesti ya jatuh dari tempat tidur, minimal satu kali”. Saya bicara seperti itu bukan tanpa dasar. Berdasarkan apa yang saya perhatikan, bukan sekali itu saja saya mendengar, bahkan menyaksikan sendiri bayi terjatuh dari ranjang, maka kejadian seperti itu menjadi tidak asing bagi saya, bahkan saya anggap wajar.

Dua hari yang lalu, siang hari ketika hujan turun lebat, sehingga suara-suara apapun di dalam rumah tersamarkan, saya yang sedang di ruang depan mendengar suara “Blug!” agak kencang dari arah kamar.

Seketika, “Akhtar!!!”, saya memekik, lalu segera berlari ke kamar, dan benar saja, Akhtar sudah dalam posisi telentang di lantai sambil menangis kencang. Guling kecil dan alas tidurnya pun tampak tergeletak di lantai.

Dengan sedikit ngaderegdeg (ngerti kan maksudnya? Haha), dengan tangan yang bergetar saya menggendong Akhtar dan berusaha menenangkannya. Untung tak lama kemudian Akhtar mulai tenang, tersenyum, dan main-main kembali.

Masalah ‘ragrag’ pada bayi ini, keesokannya saya segera mencari tahu di internet bagaimana efeknya. Sedikit bernafas lega karena menurut sebuah artikel di Kompas Female, orangtua tak perlu sampai terlalu khawatir. Meski berbahaya, sebagian besar benturan kepala yang dialami bayi tidaklah berdampak fatal. Walau teraba lembek atau lunak, struktur kepala bayi boleh dibilang relatif lebih aman terhadap trauma kepala, karena sambungan antartulang kepala atau tengkorak bayi relatif masih elastis, ubun-ubunnya masih terbuka atau belum menutup secara menyeluruh, sehingga tekanan yang terjadi karena benturan tak berakibat fatal, apalagi sampai mencederai otak.

Namun ada beberapa hal yang mesti dilakukan sbb:

Amati kondisi bayi
Bila setelah jatuh, bayi langsung menangis dan menggerak-gerakkan semua anggota badannya, maka langsung gendong dan tenangkan. Setelah ia tenang, baru lakukan pengamatan lebih lanjut, yaitu:

Ketahui bagian tubuh mana yang terbentur. Coba periksa dengan teliti, bagian tubuh mana yang terbentur apakah wajah, kepala, atau bagian tubuh lainnya.

Perhatikan kronologi kejadian. Perhatikan ketinggian saat ia terjatuh, lalu membentur media apakah (kursi, lantai, dan lain-lain). Ketahui juga proses jatuhnya, apakah langsung ke lantai atau terbentur sesuatu terlebih dahulu. Bagaimana posisi jatuhnya, apakah tengkurap, telungkup. Bagian mana yang terbentur.

Periksa kepala, kaki, dan tangan. Gerakkan tangan bayi, ke atas, samping, depan, dan rentangkan. Bila si kecil menangis atau bahkan menjerit, kemungkinan ada yang terasa sakit, periksa bagian mana yang terlihat lebam. Lakukan hal yang sama pada bagian kaki. Untuk kepala, coba tengokkan kepala bayi ke kanan dan kiri. Juga dekatkan dagu bayi ke dada secara perlahan. Bila ia menangis kemungkinan ia merasakan sakit. Jika ada keluhan seperti memar atau benjol, catat sebagai laporan saat datang ke dokter.

Ketahui apakah ada benjolan (hematom)
. Selanjutnya, periksa dengan cara raba seluruh bagian kepala untuk memastikan, adakah yang menjendol ataupun dekok di bagian kepala. Bila ubun-ubunnya terasa ada benjolan, kemungkinan terjadi peningkatan tekanan dalam otak lantaran adanya perdarahan atau edema otak. Bila ini terjadi, segera bawa ke dokter. Apalagi tampak benjolan di kepala, terutama di daerah samping kepala (temporal). Retak tulang yang terjadi di daerah ini dapat merobek pembuluh darah di dinding tulang kepala, sehingga mengakibatkan perdarahan.

Perhatikan fungsi penglihatan
. Gunakan senter sebagai alat bantu pemeriksaan mata, lalu lihatlah:
– Masih bereaksikah saat kita senter matanya: mengedip, menutup matanya atau kaget? Jika tidak, bawa segera bayi ke rumah sakit.
– Gerakkan senter ke kanan dan ke kiri, masih mampukah bayi mengikuti gerakan sinar? Jika tidak, ia harus segera dilarikan ke rumah sakit.
– Perhatikan pupil matanya, apakah pupil mata yang kiri dan kanan sama besar atau kecilnya saat kita senter satu per satu? Jika sama, kita bisa bernafas lega. Bila tidak, bayi perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut, seperti CT Scan.

Catatan:
* Lakukan pemeriksaan setiap 2—3 jam.
* Lakukan pengawasan atau observasi setidaknya hingga 3 hari ke depan.

Sumber artikel dari sini: http://female.kompas.com/read/2013/03/13/09313024/Jika.Bayi.Jatuh.dari.Tempat.Tidur

Kalau saya perhatikan sampai saat ini, kejadian jatuh kemarin tidak berdampak apa-apa sama Akhtar, bahkan saya tidak menemukan benjolan karena benturan atau tanda-tanda badannya yang sakit. Semoga memang tidak apa-apa.

Jadi, apakah ragrag adalah suatu milestone?

No! Itu murni karena kecerobohan orangtua… Heuh…

Maafin Mim ya Akhtar Sayang :*

 

Ngontrak

6 Comments

Rumah AC-4

Disini lah kami tinggal, di sebuah rumah kontrakan 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan area menjemur yang luasnya, jika ditambah teras dan halaman depan yang cukup memarkir sebuah mobil, tidak kurang dari 100 meter persegi. Luas, bahkan terlampau luas untuk kami yang hanya tinggal bertiga.

Sebenarnya tidak tepat juga jika dikatakan ‘ngontrak’, toh kami tidak membayar sepeser pun untuk tinggal disini hehe. Hanya kebetulan saja rumah ini sudah ditinggalkan penghuni sebelumnya sebelum masa sewa habis pada Desember 2013. Penghuni sebelumnya itu ya rekan kantor suami saya, dan rumah ini jatah kontrakan dari kantor.

Yang namanya ngontrak, atau lebih tepatnya, numpang :D, kita tidak bisa menuntut rumah ini tampil prima. Pada hari pertama menginjakkan kaki disini, kami sudah dihadapkan pada masalah. Dan seiring dengan waktu, masalah-masalah lain pun bermunculan. Mulai dari pompa air mati sehingga kami mengalami krisis air, keran bocor, bak bocor, pipa PAM bocor hingga tagihan air mencapai angka 7 digit (gila gak tuh!?), kusen rapuh karena rayap, saluran air mampet, air hujan merembesi dinding, dapur banjir, dll.

Belum lagi hadirnya makhluk-makhluk kecil, seperti cicak, semut, rayap, nyamuk, kadang-kadang lalat, kecoa, dan tikus.
Saya yang biasanya gelisah hanya gara-gara ada seekor cicak di dinding kamar, kini bisa dengan santai melihat cicak yang merayap di lantai, jendela, atau rak TV. Banyaknya cicak disini mungkin karena pasokan nyamuk yang melimpah juga ya.

Yang paling menjengkelkan adalah semut. Semut hitam, semut merah, dan semut pirang (???). Sebentar saja kita meninggalkan makanan atau piring bekas makan di lantai, jangan tunggu sampai 5 menit semut-semut itu sudah datang mengerubungi.

Sementara rayap membuat rumah ini tidak pernah benar-benar bersih dari remahan kayu. Dalam suasana yang sangat sunyi, saya bisa mendengar kusen-kusen kayu berkeretakan dilalap rayap. Alhasil, beberapa kusen pintu dan jendela tidak berfungsi dengan baik, beberapa ada yang tidak bisa ditutup atau sebaliknya, susah dibuka.

Kabar baiknya, satu-satunya tikus di rumah ini ditemukan mati di tempat jemuran sekitar sebulan yang lalu. Maka tikus bisa dicoret dari daftar makhluk kecil yang menjengkelkan di kontrakan.

Kalau mau mengeluh, maka daftar keluhan itu tidak akan pernah selesai. Tapi mengeluh tidak mengubah kondisi apapun kan? Malah semakin menutup mata saya atas hal lain yang lebih patut disyukuri. Kenyataan bahwa kami tinggal tanpa membayar disini, bukankah harus sangat disyukuri? Apalagi kami dititipi pohon pepaya yang buahnya aduhai lebatnya, hehe.

Belakangan, saya malah menganalogikan numpang di kontrakan ini kayak kita numpang hidup di dunia. Allah kasih segalanya cuma-cuma. Manusia saja yang seringkali gak bersyukur atas nikmat Allah yang cuma-cuma ini. Memang, Allah tidak akan mengubah suatu kaum kecuali kaum tersebut yang mau mengubah dirinya sendiri. Tapi ada kalanya kita tidak bisa mengubah apapun pemberian dari Allah, given, sudah dari sononya, misal hal-hal terkait fisik. Yang perlu kita lakukan, sabar dan syukur saja, dengan begitu Allah akan menambah nikmatNya untuk kita.

InsyaAllah :)

*Lagipula, kalau ngontrak rumah kan kita masih bisa berharap agar bisa segera pindah ya… hehehe*

Hari Favorit Semua

Leave a comment

Tak ubahnya dengan pekerja kantoran, yang sepanjang minggu menunggu datangnya Sabtu-Minggu untuk liburan, saya pun, yang sehari-hari berada di rumah dan tidak memiliki jam kerja yang mengikat, mem-favorit-kan kedua hari tersebut.

Walaupun tidak ada yang berbeda dari aktivitas saya baik di hari biasa maupun hari Sabtu-Minggu, setidaknya saat weekend ada tenaga tambahan dari suami yang meringankan pekerjaan harian saya. Malah terkadang suami bisa jauh lebih rajin daripada saya. Menyapu dan mengepel semua bagian ruangan, atau mencuci peralatan makan dan masak bukan hal baru baginya.

Tak jarang pula, jika ada kendaraan, suami mengajak keluar rumah. Menyenangkan walaupun sekedar berputar-putar di sepanjang jalan kota, atau minimal jajan di minimarket dekat kompleks perumahan hehe.

Ada kalanya, Sabtu-Minggu menjadi waktu bermalas-malasan sepanjang hari, dimana kami hanya menenggelamkan diri di antara bantal dan guling, memainkan gadget, membaca buku, mengobrol santai, tanpa ingin melakukan hal lain. Lapar? Tinggal masak mie instan plus telor. Kegiatan yang sangat tidak saya sukai sebenarnya, makanya saya suka kesal kalau suami sudah menjalankan aksi malas seperti ini, karena malas itu menular kepada orang-orang sekitar. Colek

Dan sekarang sudah Jumat sore, hati sudah berbunga-bunga menyusun rencana kegiatan untuk besok. Yippiee…

Happy weekend all :*

Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga

Leave a comment

Saya mengambil judul postingan di atas dari judul buku yang baru selesai saya baca tadi malam. Buku itu adalah buku parenting ke…sekian yang sudah saya baca. Rasanya sudah setengah penuh kepala saya dijejali berbagai ‘teori’ tentang mendidik anak. Pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa kita tidak selalu bisa menerapkan cara mendidik yang sama ke setiap anak, karena satu satu dari mereka memiliki keunikan. Buku-buku parenting itu bagi saya menjadi pengingat bahwa anak adalah titipan dari Tuhan yang patut disyukuri, dijaga dan dididik baik-baik kembali ke fitrahnya sebagai makhluk Tuhan. Mengingat kembali Surat Adz Dzariyat ayat 56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, maka seharusnya hasil pendidikan itu bermuara pada tercapainya tujuan penciptaan manusia tersebut.

Buku karya Ayah Edy ini banyak mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia yang lebih sering mengutamakan nilai rapor daripada pembinaan moral, karakter, dan akhlak anak. Saya sadar bahwa saya berasal dari generasi yang dididik dengan cara seperti itu, mungkin sebagian besar pembaca buku itu juga, dimana pertanyaan, “Dapat rangking berapa di kelas?” atau “Ujian dapat nilai berapa?” menjadi tolok ukur kecerdasan dan keberhasilan orangtuanya mendidik anak. Anak-anak generasi saya dibentuk jadi robot penghapal dan dijejali banyak mata pelajaran tanpa paham implementasinya untuk apa. Sementara nilai-nilai kejujuran dikesampingkan karena orangtua dan guru hanya peduli pada berapa nilai yang tertera di kertas ujian daripada bagaimana usaha kami untuk mendapatkannya. Belajar pun menjadi kegiatan yang tidak fun karena selalu dipisahkan dari bermain. Padahal masa anak-anak adalah masanya bermain, meng-explore lingkungan sekitar dan menggali minat, bakat, dan potensi yang mana selalu unik ditemukan di setiap anak. Dengan cara bermain lah anak-anak belajar.

Buku ini adalah bagian dari gerakan Let’s Make Indonesian Strong from Home! gagasan Ayah Edy. Terlalu muluk jika kita bermimpi mengubah Indonesia menjadi negara yang kuat jika kita tidak terlebih dahulu mengubah unit terkecil dari negara, yaitu keluarga.

Semoga anak-anak kita kelak hidup di bumi Indonesia yang lebih damai, tenteram, jujur, adil, sejahtera, bahagia, sentausa…selama-lamanya, semuanya mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai saat ini…mulai dari keluarga kita masing-masing.

Bismillahirrahmaanirrahiim…selamat mengawali pekan ini dengan semangat menebar sebanyak-banyak manfaat :)

Older Entries