Yang Dirindukan dari Ciledug

2 Comments

Pindahan


Sudah satu bulan saya dan anak-anak resmi pindah dari kontrakan di Ciledug, saat ini menempati rumah pribadi di Padalarang. Kami pindah lebih dulu dengan hanya membawa sekoper pakaian, sementara barang-barang baru diangkut sepekan kemudian, tepatnya pada 27 Agustus 2017. Dengan kecepatan beberes seperti kura-kura, plus ‘bantuan’ dari anak-anak, suasana rumah baru terasa homy 2 pekan kemudian.

Ciledug, walaupun cukup jauh dari kampung halaman, dan cuacanya panas, tetap menyimpan seenggaknya satu kelebihan yang ga dimiliki lingkungan rumah saya di Padalarang. Yaituu… jajanannya murah-murah.  

Di kontrakan Ciledug, yang terletak di wilayah Sudimara Barat itu, dari pagi sampai malam tidak berhenti penjaja makanan lewat dekat rumah. Dengan rasa yang pas, harganya pun cukup bersahabat.

Sebagai perbandingan harga nih ya… kalau pagi-pagi itu biasanya lewat penjual bubur sumsum. Dengan merogoh kocek 3000-4000 kami sudah menikmati semangkuk bubur sumsum hangat plus beberapa butir candil, cukup mengenyangkan untuk sarapan. Sementara di Padalarang, kami harus membayar minimal 5000 untuk seporsi bubur sumsum.

Kalau masih kurang kenyang, agak siangan dikit lewat penjual pecel sayur. Saya sempat ternganga waktu membeli sepiring pecel sayur+gendar dan sepiring lagi bihun goreng+gendar, artinya 2 piring, dengan total harga hanya 7000. Sementara, 11-12 dengan pecel, di dekat rumah Padalarang ada yang jual lotek, yang seporsinya lebih sedikit dibandingkan dengan sepiring pecel sayur, harganya sudah 6000.

Lagi nih… rujak, salah satu makanan favorit saya, bisa lewat 3 kali dalam sehari, ada tukang yang lewat jam 10 pagi, jam 1 siang, dan jam 2 siang. Saya paling sering beli yang jam 2 siang. Pertama kali beli, karena belum tau harga, saya beli seporsi, terserah abangnya mau kasih berapa. Ternyata dia kasih rujak sepiring penuh seharga 7000, dimakan berkali-kali pun rasanya ga habis-habis. Akhirnya selanjutnya, saya beli 5000 saja, itu pun bisa saya makan berdua bareng suami kalau pas lagi di rumah. Sementara di Padalarang, saya harus merogoh 6000 untuk seporsi rujak, porsinya terlalu sedikit buat saya, kadang beli satu bungkus terasa kurang.

Ada lagi nih… sore hari, penjual cendol favorit Akhtar akan lewat sekitar jam 3 atau 4. Pada awalnya kami biasa beli 4000 dimakan bertiga (saya, Akhtar, Ahnaf), lama-lama bosen juga, jadi beli cukup 3000, lalu saya merasa 2000 cukup untuk Akhtar sendiri, kadang malah bersisa. Intinya, 2000 itu udah porsi pas untuk sekali makan. Sementara cendol di dekat rumah Padalarang, dipatok harganya 5000 per porsi. Hiks.

Lalu, di Ciledug juga cukup banyak penjual bakso, dan untuk ukuran tukang bakso keliling, rasanya enak. Dengan rasa yang enak itu, kami sudah kenyang dengan mengeluarkan uang 7000. Kalau di Padalarang, kadang rasa bakso keliling ga seenak rasa bakso yang dijual di warungan, yang mana berarti harganya pun lebih mahal.

Oh ya, ada yang ketinggalan nih. Gorengan. Kalau pagi-pagi, dekat ibu sayur langganan suka ada yang jual gorengan. Satu potongnya besar-besar, tapi harganya hanya 1000 per potong, yang mana dengan harga segitu, kami hanya mendapat sepotong gorengan yang lebih kecil di Padalarang.

Ya begitu lah… bagusnya di rumah Padalarang intensitas jajan sehari bisa dikurangi, karena rumah kami masuk gang kecil yang cukup sepi, sangat jarang penjual makanan lewat, jadi harus selalu sedia makanan/ camilan di rumah karena ga bisa mengharap ada tukang jualan lewat depan rumah saat kami lapar. Hihi.

Dari beberapa rumah kontrakan yang kami tempati, dengan mengabaikan cuaca yang panas, rumah kontrakan di Ciledug adalah yang ternyaman. Tidak heran karena kami adalah penghuni pertama di rumah itu. 

Sejauh ini, sudah 4 rumah yang kami tempati sejak Akhtar lahir… 

Pertama, rumah di Jember, banyak cicak, nyamuk, dan bermasalah dengan air dan saluran pembuangannya yang mampet. 

Kedua, rumah di Pasuruan, alhamdulillah tidak ada masalah dengan air, tapi gerah dan banyak sekali nyamuk.

Ketiga, rumah di Pasar Minggu. Saya sebenarnya merasa nyaman disini. Air deras, bersih, dan pemilik kontrakan sangat baik. Kalaupun ada kekurangan, kekurangannya yaitu susah sinyal internet dan kurang sirkulasi udara.

Keempat, rumah Ciledug, yang menurut saya paling ideal untuk rumah kontrakan. Minusnya dapurnya bocor kalau hujan deras, di luar itu sih ga ada keluhan, hanya kalau malam Ahnaf susah tidur karena cukup gerah.

Ya begitu lah suka duka pindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Dengan berbekal pengalaman di rumah kontrakan sebelumnya, biasanya kita akan punya standar tertentu untuk rumah kontrakan berikutnya. Yang menyenangkan dari berpindah-pindah itu adalah kami ga bosan dengan lingkungan yang itu-itu aja. Setelah ini pun (walaupun udah rumah sendiri) masih ada kemungkinan kami akan pindah lagi jika menemukan hunian yang lebih ideal. Semoga semua berjalan sesuai rencana. Aamiin…

Advertisements

Lebaran Istimewa

1 Comment

Tulisan ini judulnya ‘dibuang sayang’. Seringkali saya hanya menulis di draft blog tanpa published. Kadang-kadang, kalau lagi moooood (kadang-kadang lho ya..), saya buka lagi satu per satu tulisan di draft, ada yang saya lanjutkan ceritanya dan akhirnya terpublish, banyak juga yang akhirnya ‘tidak berakhir jadi apa-apa’ saking ‘late post’nya, ide-ide sudah menguap entah kemana, dan kalau itu berupa cerita pengalaman, maka udah ga dapet ‘feel’nya untuk melanjutkan cerita. Udah basi dan krauk krauk…

Tapi karena cerita di bawah ini menurut saya ‘cukup’ istimewa, maka saya memutuskan untuk ngeposting juga. Istimewanya karena ada beberapa ‘momen pertama kalinya’ buat saya, buat anak-anak, dan buat saya dan suami.

***

Lebaran 2016

Salah satu yang istimewa dari Ramadhan tahun ini adalah bahwasanya ini adalah Ramadhan pertama saya dengan puasa full, tanpa batal, dalam 16 tahun terakhir sejak mendapat haid pertama.

Jika di 13 tahun sebelumnya saya batal karena haid, di 2013, separuh bulan saya ga puasa karena dalam masa nifas setelah melahirkan Akhtar. Setelah itu saya ga datang bulan sampai 13 bulan dan dengan percaya dirinya yakin bisa penuh menjalankan puasa Ramadhan 2014.

Qadarullah… saya mendapat haid pertama dalam 13 bulan itu justru dalam pekan terakhir Ramadhan 2014.

2015, saya kembali percaya diri bisa menjalankan puasa sebulan penuh. Waktu itu sedang hamil Ahnaf kurang lebih 3 bulan. Tapi pada suatu kunjungan ke dokter kandungan, si dokter menyarankan saya untuk tidak berpuasa demi kesehatan si janin. Ya sudah akhirnya 10 hari saya batal karena selang seling antara puasa dan tidak.

2016 ini alhamdulillah akhirnya saya bisa full menjalankan puasa dalam kondisi menyusui Ahnaf, plus pertama kalinya membawa anak-anak untuk shalat Ied.

Sekali-sekalinya pernah ajak Akhtar untuk shalat ied (yaitu idul adha) adalah sekitar 2 tahun lalu… pada akhirnya saya ngga shalat juga karena sibuk ngejar-ngejar Akhtar yang bermain di pinggir kolam tak jauh dari shaf jamaah wanita.

Dan… lebaran tahun ini untuk pertama kalinya juga sejak punya anak, suami nekat ngajak nonton bioskop ninggalin anak-anak yang udah tertidur.

Asik nih, tiket udah di tangan, cemilan udah siap plus minumannya, pintu studio pun sudah dibuka, dan kami sudah menemukan tempat duduk kami. Film belum juga mulai, layar masih menampilkan trailer film-film yang akan tayang dan beberapa iklan komersial ketika hp suami menerima pesan singkat.

“Ahnaf nangis”

Beberapa detik cuma cengo, ga bisa mikir. Waduh… kudu kumaha. Kita memutuskan menunggu sampai ada kabar baik dari rumah, tapi yang datang malah kabar buruk

“Ahnaf ngadat, ga mau berhenti nangis”

Saya mulai gelisah…

Dan beberapa menit kemudian akhirnya kami memutuskan meninggalkan bioskop tepat di detik pertama film diputar.

Sepanjang jalan pulang saya hanya tersenyum-senyum geli mengingat betapa gatotnya kencan kami malam itu.

Akhirnya, cemilan (mahaaal T_T) yang dibeli di lobi bioskop pun kami habiskan sambil menonton film di depan layar kaca, di rumah.

***

Lalu… Tangerang

Leave a comment

2 minggu di Tangerang

*

Sejauh ini keluarga kecilku selalu pindah dari satu ‘kesumukan’ ke ‘kesumukan’ yang lain…

Jember yang agak hareudang… ke Pasuruan yang hareudang pisan… ke Jakarta yang semua orang mafhum akan kesumukannya… sempat ngadem di Bandung beberapa bulan, dan sekarang di Ciledug Tangerang yang bikin badan lengket karena keringat…

Kalau orang dewasa tentu lebih mudah menyetting diri, menaikturunkan standar kenyamanan agar tetap kerasan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang selalu jadi soal adalah anak-anak… yang standar kenyamanannya kadang gak langsung kita pahami, tanpa dialami sebelumnya.

Sebagai contoh, kontrakan sebelumnya di Jakarta yang menurut saya sudah nyaman, ternyata tidak membuat Akhtar bertahan lebih dari 3 bulan. Lebih tepatnya, saya yang kibar-kibar bendera putih duluan karena tak kunjung bisa mengatasi Akhtar yang selalu minta keluar rumah, berjalan jauuuh, atau sekedar berdiri di dekat rel kereta sampai 1 atau 2 jam… bahkan pernah lebih.

Dari pengalaman itu… kami mengevaluasi beberapa hal dan menetapkan kriteria tambahan untuk kontrakan berikutnya, apalagi kalau masih di metropolitan… diantaranya, punya teras dan pagar rumah sendiri, jalan di depan rumah tidak terlalu ramai, kalau bisa sih agak jauh dari jalan besar, dan maunya yang luas…

Nah… setelah suami setahun di Jakarta, dan hampir dipastikan tidak akan pindah tugas paling ngga untuk setahun ke depan, akhirnya keluarga kecil kami memutuskan hijrah lagi, kali ini mencoba peruntungan di Tangerang. Banyak syaratnya waktu mulai mencari iklan kontrakan di internet… selain yang disebutkan di atas, juga… kalau bisa di Ciledug, kalau bisa lagi di Jalan Tanah 100. Karena ada adik sekeluarga yang tinggal juga di kawasan itu.

Alhamdulillah… rezekinya anak-anak dapat kontrakan yang nyaman, bersih, baru, dan luas, punya pagar rumah sendiri, tapi tidak terlalu mahal, jalan depan rumah yang tidak terlalu ramai, di pemukiman penduduk yang tetangganya ramah-ramah, dan lokasinya di Jalan Tanah 100. Cocok!

image

Sejauh ini anak-anak kelihatan kerasan tinggal disini… kalau Akhtar bosan, ada sepupunya yang bisa diajak main bareng atau sekedar bersepeda ke tukang sayur… masalahnya hanya… disini agak gerah, jadi belum ada seminggu, yang kata orang ‘keringat buntet’ mulai muncul di beberapa bagian tubuh Akhtar dan Ahnaf.

Tangerang Rasa Jawa

Yang menarik, lingkungan disini didominasi pendatang dari Jawa. Sependengaran saya sih kayaknya kebanyakan Jateng atau Yogya. Para ‘pendatang’ ini sebenarnya sudah tinggal puluhan tahun dan meletakkan fondasi-fondasi kehidupan bermasyarakat disini. Mereka hidup mapan, berkeluarga, dan bermatapencarian disini. Kekeluargaannya kental sekali… kalau kata seseorang mah, ‘guyub’ ceunah. Bukan sekali dua kali tiba-tiba ada yang menyapa dengan ramah waktu bersepeda dengan Akhtar… yang ternyata mereka adalah tetangga yang selisih 1 sampai 2 rumah dari kontrakan. Bahkan sempat terkesima karena disapa dengan sangat ramah oleh ibu penjual gorengan yang jarak tempat jualannya ratusan meter dari kontrakan, harus melewati beberapa gang sebelum sampai di kontrakan kami, “Tinggal dimana Dek? Kok kayak baru lihat ya…”. Wow!

Sejauh pengalaman saya yang baru 2 minggu disini, langka sekali menemukan orang yang tidak berlogat Jawa. Dari pemilik rumah, tetangga, ketua RT, pedagang roti keliling, penjaja bakso, penjaga warung, pengangkut sampah, sampai orang-orang yang saya dengar sedang ngobrol di pinggir jalan pun berbahasa Jawa. Panggilan Bukde, Pakde, dan sejawatnya jadi ga asing terdengar di telinga. Saya pun jadi agak latah sebenarnya, kalau belanja ke warung sayur lalu dilayani oleh penjual berlogat Jawa dan dikelilingi ibu-ibu pembeli yang berlogat Jawa juga, ada sedikit usaha untuk men’jawa-jawa’kan logat saya. Ini persis seperti yang saya lakukan waktu di Pasuruan dulu… saya mencoba mengikuti logat setempat agar tidak terdengar asing, karena sekalinya saya pernah ‘keceplosan’ berlogat Sunda, beberapa orang melirik saya dengan ekspresi ‘aneh’. Wkwkwk…

Alhamdulillah…
(P)indah-(p)indah itu memang indah :)

Menikmati Masa yang Akan Dirindukan

Leave a comment

Akhtar tidak punya banyak mainan di rumah, hanya ada satu kardus ukuran sedang berisi mainan, itu pun lebih banyak mainannya waktu masih bayi. Akhirnya ia lebih suka mengeksplorasi seisi rumah dan memainkan apapun yang menarik baginya daripada memainkan mainannya. Saya membiarkannya, selama tidak membahayakan.

Sering kali saya terkagum-kagum dengan ‘kreativitas’-nya bermain, namun di kala lain saya banyak-banyak beristighfar mengurut dada agar sabar mendapati rumah yang berantakan.

Suatu saat ketika bermain dengan Akhtar, saya tiba-tiba teringat sebuah video pendek yang menceritakan seorang ayah dan anaknya.

Diceritakan, mereka berdua sedang duduk di taman. Si anak yang telah dewasa sedang membaca koran, sementara sang ayah yang sudah renta hanya duduk memerhatikan seekor burung gereja.
Lalu si ayah bertanya, “Burung apa itu?”. Anaknya melihat burung itu sekilas lalu menjawab, “Burung gereja”. Tak lama kemudian si ayah kembali bertanya “Burung apa itu?”. Agak kesal si anak menjawab “Burung gereja”. Lalu si ayah mengajukan lagi pertanyaan yang sama berulang kali, pada akhirnya si anak marah dan membentak ayahnya.

Si ayah lalu beranjak pergi, tak lama kemudian kembali membawa sebuah buku dan menyuruh anaknya membaca halaman tertentu.

Di buku itu tertulis cerita si ayah ketika si anak masih kecil. Si anak baru pertama kali melihat burung gereja dan bertanya berulang kali, “Ayah burung apa itu?”. Ayahnya menjawabnya berulang kali dan memeluk anaknya setiap kali mengajukan pertanyaan yang sama itu.

Endingnya mengharukan, rasanya saat itu juga ingin pulang dan memeluk kedua orangtua saya.

Saya pertama kali melihat video itu sebelum punya anak. Kini, setelah punya anak yang mulai aktif bermain saya jadi paham apa yang dikatakan si ayah dalam buku hariannya itu.

Anak seusia Akhtar sangat senang melakukan hal ‘sederhana’ yang sama berulang-ulang. Dan saya pun harus membantunya berulang-ulang. Bisa satu, dua, tiga, bahkan sepuluh kali atau lebih. Satu, dua, tiga kali saya akan memeluknya bangga dan memujinya, “Hebat!”. Pada hitungan berikutnya, saya lebih banyak harus bersabar menunggui Akhtar bermain tanpa mau ditinggalkan.

Contoh kecilnya, Akhtar sangat suka menutup jendela dari dalam rumah, dan saya harus membukanya kembali agar ia bisa menutupnya lagi, lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Sederhana kan? Tapi untuk permainan sesederhana itu saya harus menunda pekerjaan lain.

Contoh lain, Akhtar sangat suka menutup laci-laci plastik berulang kali, memutar tombol mesin cuci berulang kali, menutup topless berulang kali, dan banyak hal lain berulang kali. Saya? Mau tak mau harus duduk sabar mendampingi Akhtar sambil mengerjakan hal-hal yang sebaliknya.

Tapi… setiap detik momen itu sangat layak untuk dinikmati. Bertahun-tahun dari sekarang, saat-saat ‘membosankan’ itu akan menjadi saat-saat yang sangat dirindukan, kenangan yang tidak bisa diputar kembali, kecuali melalui video atau foto-foto, itu pun kalau sempat diabadikan. Jangankan bertahun-tahun yang akan datang, sekarang pun saya sering memutar video Akhtar yang masih bayi tanpa bosan, berulang kali.

Jadi, nikmati saja. Memang masanya :)

Akhtar 9 Months

Leave a comment

image

Yeaayy… Akhtar tepat 9 bulan hari ini. Alhamdulillah, perkembangannya sangat baik sesuai umurnya. Berarti sudah 3 bulan Akhtar makan MPASI, sejauh ini berjalan lancar dan sesuai rencana, yaitu makan MPASI rumahan. Kalau ini sih tantangan buat emaknya, gimana biar ga males masak, karena kalau males dipastikan Akhtar cuma bisa kerokan, maksudnya makan pisang kerok, alpukat kerok, buah naga kerok, dan kerokan-kerokan lainnya :p

Jauh hari sebelum MPASI, saya membekali diri dengan beragam ilmu tentang MPASI. Saya bergabung dengan milis tentang MPASI sejak Akhtar masih tiga bulan dan membaca dokumen-dokumen yang tinggal download dari milis tersebut. Saya pun mengikuti setiap perbincangan di milis, pada awalnya. Lama-lama saya bosan tahu apa yang sering (banget) di-sharing tentang MPASI di milis itu. Diantaranya tentang MPASI pertama apa? Anak GTM bagaimana? Yang masalah GTM ini saya catat baik-baik di kepala, sekaligus menjadi sedikit kekhawatiran bagi saya.

Awalnya saya lumayan strict soal MPASI ini. Saya catat makanan apa saja yang boleh dan belum boleh untuk bayi sesuai umurnya. Menu dan jadwal makan MPASI Akhtar pun berdasarkan itu. Namanya juga anak baru mulai makan, jadi khawatir belum siap jika dikasih ini itu yang tidak sesuai umurnya.

Tapi setelah dua sampai tiga bulan menyiapkan MPASI Akhtar, saya mulai berani keluar dari daftar makanan itu, dan sebisa mungkin memberi lebih banyak variasi makanan ke Akhtar, tidak selalu dengan 4DR (four days rule) yang biasa disarankan untuk pengenalan jenis-jenis makanan. Hal tersebut berani saya lakukan karena sejauh ini Akhtar tidak pernah menunjukkan gejala alergi untuk jenis makanan apapun, dan kami, orangtuanya pun, tidak punya histori alergi apapun.

Si GTM yang dikhawatirkan pun beberapa kali terjadi. Masalah anak susah makan ini ternyata sukses juga menguras kesabaran, mengaduk-aduk emosi, dan membuat mood saya buruk. Walaupun sudah banyak sekali pembahasan tentang GTM di milis MPASI, selalu, solusinya berakhir pada, “Banyakin stok sabar aja yaaa…”. Dan itu lah yang (dengan keras) coba saya lakukan. Lagipula GTM-nya Akhtar (menurut saya) masih dalam tahap yang wajar. Tidak sampai menolak makanan sama sekali atau menyembur-nyemburkan makanan. Walaupun pernah juga dia GTM setelah suapan pertama. Tapi begitu diperhatikan, ternyata GTM-nya Akhtar ini bukan karena ia gak mau makan apapun. Bisa jadi karena pada saat itu ia tidak suka dengan makanan yang disajikan, atau tekstur makanannya yang membuat dia susah menelan, atau mengantuk dan terlalu lelah untuk makan. Kalau penyebabnya sudah ketahuan, jadi lebih mudah mengatasinya.

Walaupun banyak tantangannya, teteuup saya menikmati sekali masa-masa emas ini yang suatu saat nanti pasti sangat saya rindukan… lihat bayi baru lahir aja, udah kangeeeen Akhtar baru lahir :p

Ragrag, A Milestone?

5 Comments

You know ragrag? Itu artinya Gubrag! Jatuh dari ketinggian.

Teringat beberapa waktu lalu sempat ngobrol dengan seorang teman soal bayi yang jatuh dari ranjang. Lalu, bergurau saya berkata, “Kayaknya bayi itu emang mesti ya jatuh dari tempat tidur, minimal satu kali”. Saya bicara seperti itu bukan tanpa dasar. Berdasarkan apa yang saya perhatikan, bukan sekali itu saja saya mendengar, bahkan menyaksikan sendiri bayi terjatuh dari ranjang, maka kejadian seperti itu menjadi tidak asing bagi saya, bahkan saya anggap wajar.

Dua hari yang lalu, siang hari ketika hujan turun lebat, sehingga suara-suara apapun di dalam rumah tersamarkan, saya yang sedang di ruang depan mendengar suara “Blug!” agak kencang dari arah kamar.

Seketika, “Akhtar!!!”, saya memekik, lalu segera berlari ke kamar, dan benar saja, Akhtar sudah dalam posisi telentang di lantai sambil menangis kencang. Guling kecil dan alas tidurnya pun tampak tergeletak di lantai.

Dengan sedikit ngaderegdeg (ngerti kan maksudnya? Haha), dengan tangan yang bergetar saya menggendong Akhtar dan berusaha menenangkannya. Untung tak lama kemudian Akhtar mulai tenang, tersenyum, dan main-main kembali.

Masalah ‘ragrag’ pada bayi ini, keesokannya saya segera mencari tahu di internet bagaimana efeknya. Sedikit bernafas lega karena menurut sebuah artikel di Kompas Female, orangtua tak perlu sampai terlalu khawatir. Meski berbahaya, sebagian besar benturan kepala yang dialami bayi tidaklah berdampak fatal. Walau teraba lembek atau lunak, struktur kepala bayi boleh dibilang relatif lebih aman terhadap trauma kepala, karena sambungan antartulang kepala atau tengkorak bayi relatif masih elastis, ubun-ubunnya masih terbuka atau belum menutup secara menyeluruh, sehingga tekanan yang terjadi karena benturan tak berakibat fatal, apalagi sampai mencederai otak.

Namun ada beberapa hal yang mesti dilakukan sbb:

Amati kondisi bayi
Bila setelah jatuh, bayi langsung menangis dan menggerak-gerakkan semua anggota badannya, maka langsung gendong dan tenangkan. Setelah ia tenang, baru lakukan pengamatan lebih lanjut, yaitu:

Ketahui bagian tubuh mana yang terbentur. Coba periksa dengan teliti, bagian tubuh mana yang terbentur apakah wajah, kepala, atau bagian tubuh lainnya.

Perhatikan kronologi kejadian. Perhatikan ketinggian saat ia terjatuh, lalu membentur media apakah (kursi, lantai, dan lain-lain). Ketahui juga proses jatuhnya, apakah langsung ke lantai atau terbentur sesuatu terlebih dahulu. Bagaimana posisi jatuhnya, apakah tengkurap, telungkup. Bagian mana yang terbentur.

Periksa kepala, kaki, dan tangan. Gerakkan tangan bayi, ke atas, samping, depan, dan rentangkan. Bila si kecil menangis atau bahkan menjerit, kemungkinan ada yang terasa sakit, periksa bagian mana yang terlihat lebam. Lakukan hal yang sama pada bagian kaki. Untuk kepala, coba tengokkan kepala bayi ke kanan dan kiri. Juga dekatkan dagu bayi ke dada secara perlahan. Bila ia menangis kemungkinan ia merasakan sakit. Jika ada keluhan seperti memar atau benjol, catat sebagai laporan saat datang ke dokter.

Ketahui apakah ada benjolan (hematom)
. Selanjutnya, periksa dengan cara raba seluruh bagian kepala untuk memastikan, adakah yang menjendol ataupun dekok di bagian kepala. Bila ubun-ubunnya terasa ada benjolan, kemungkinan terjadi peningkatan tekanan dalam otak lantaran adanya perdarahan atau edema otak. Bila ini terjadi, segera bawa ke dokter. Apalagi tampak benjolan di kepala, terutama di daerah samping kepala (temporal). Retak tulang yang terjadi di daerah ini dapat merobek pembuluh darah di dinding tulang kepala, sehingga mengakibatkan perdarahan.

Perhatikan fungsi penglihatan
. Gunakan senter sebagai alat bantu pemeriksaan mata, lalu lihatlah:
– Masih bereaksikah saat kita senter matanya: mengedip, menutup matanya atau kaget? Jika tidak, bawa segera bayi ke rumah sakit.
– Gerakkan senter ke kanan dan ke kiri, masih mampukah bayi mengikuti gerakan sinar? Jika tidak, ia harus segera dilarikan ke rumah sakit.
– Perhatikan pupil matanya, apakah pupil mata yang kiri dan kanan sama besar atau kecilnya saat kita senter satu per satu? Jika sama, kita bisa bernafas lega. Bila tidak, bayi perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut, seperti CT Scan.

Catatan:
* Lakukan pemeriksaan setiap 2—3 jam.
* Lakukan pengawasan atau observasi setidaknya hingga 3 hari ke depan.

Sumber artikel dari sini: http://female.kompas.com/read/2013/03/13/09313024/Jika.Bayi.Jatuh.dari.Tempat.Tidur

Kalau saya perhatikan sampai saat ini, kejadian jatuh kemarin tidak berdampak apa-apa sama Akhtar, bahkan saya tidak menemukan benjolan karena benturan atau tanda-tanda badannya yang sakit. Semoga memang tidak apa-apa.

Jadi, apakah ragrag adalah suatu milestone?

No! Itu murni karena kecerobohan orangtua… Heuh…

Maafin Mim ya Akhtar Sayang :*

 

Ngontrak

6 Comments

Rumah AC-4

Disini lah kami tinggal, di sebuah rumah kontrakan 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan area menjemur yang luasnya, jika ditambah teras dan halaman depan yang cukup memarkir sebuah mobil, tidak kurang dari 100 meter persegi. Luas, bahkan terlampau luas untuk kami yang hanya tinggal bertiga.

Sebenarnya tidak tepat juga jika dikatakan ‘ngontrak’, toh kami tidak membayar sepeser pun untuk tinggal disini hehe. Hanya kebetulan saja rumah ini sudah ditinggalkan penghuni sebelumnya sebelum masa sewa habis pada Desember 2013. Penghuni sebelumnya itu ya rekan kantor suami saya, dan rumah ini jatah kontrakan dari kantor.

Yang namanya ngontrak, atau lebih tepatnya, numpang :D, kita tidak bisa menuntut rumah ini tampil prima. Pada hari pertama menginjakkan kaki disini, kami sudah dihadapkan pada masalah. Dan seiring dengan waktu, masalah-masalah lain pun bermunculan. Mulai dari pompa air mati sehingga kami mengalami krisis air, keran bocor, bak bocor, pipa PAM bocor hingga tagihan air mencapai angka 7 digit (gila gak tuh!?), kusen rapuh karena rayap, saluran air mampet, air hujan merembesi dinding, dapur banjir, dll.

Belum lagi hadirnya makhluk-makhluk kecil, seperti cicak, semut, rayap, nyamuk, kadang-kadang lalat, kecoa, dan tikus.
Saya yang biasanya gelisah hanya gara-gara ada seekor cicak di dinding kamar, kini bisa dengan santai melihat cicak yang merayap di lantai, jendela, atau rak TV. Banyaknya cicak disini mungkin karena pasokan nyamuk yang melimpah juga ya.

Yang paling menjengkelkan adalah semut. Semut hitam, semut merah, dan semut pirang (???). Sebentar saja kita meninggalkan makanan atau piring bekas makan di lantai, jangan tunggu sampai 5 menit semut-semut itu sudah datang mengerubungi.

Sementara rayap membuat rumah ini tidak pernah benar-benar bersih dari remahan kayu. Dalam suasana yang sangat sunyi, saya bisa mendengar kusen-kusen kayu berkeretakan dilalap rayap. Alhasil, beberapa kusen pintu dan jendela tidak berfungsi dengan baik, beberapa ada yang tidak bisa ditutup atau sebaliknya, susah dibuka.

Kabar baiknya, satu-satunya tikus di rumah ini ditemukan mati di tempat jemuran sekitar sebulan yang lalu. Maka tikus bisa dicoret dari daftar makhluk kecil yang menjengkelkan di kontrakan.

Kalau mau mengeluh, maka daftar keluhan itu tidak akan pernah selesai. Tapi mengeluh tidak mengubah kondisi apapun kan? Malah semakin menutup mata saya atas hal lain yang lebih patut disyukuri. Kenyataan bahwa kami tinggal tanpa membayar disini, bukankah harus sangat disyukuri? Apalagi kami dititipi pohon pepaya yang buahnya aduhai lebatnya, hehe.

Belakangan, saya malah menganalogikan numpang di kontrakan ini kayak kita numpang hidup di dunia. Allah kasih segalanya cuma-cuma. Manusia saja yang seringkali gak bersyukur atas nikmat Allah yang cuma-cuma ini. Memang, Allah tidak akan mengubah suatu kaum kecuali kaum tersebut yang mau mengubah dirinya sendiri. Tapi ada kalanya kita tidak bisa mengubah apapun pemberian dari Allah, given, sudah dari sononya, misal hal-hal terkait fisik. Yang perlu kita lakukan, sabar dan syukur saja, dengan begitu Allah akan menambah nikmatNya untuk kita.

InsyaAllah :)

*Lagipula, kalau ngontrak rumah kan kita masih bisa berharap agar bisa segera pindah ya… hehehe*

Older Entries