Baking Class : Nge-CizZ di Rumah Teh Ais

Leave a comment

Ada lah salah satu member Sabumi, Teh Kalista a.k.a Teh Ais, yang bakulan kue dengan brand Veilcakes (cek IG-nya ya Sis @veilcakes_bdg) bersedia meluangkan waktunya yang berharga untuk mengajari para ibu yang haus ilmu membuat kue yang endes banget.

Awalnya kelas ini akan dibuka untuk member.. tapiiii karena kuota terbatas hanya untuk 10 orang, dan begitu ditawarkan ke Pengurus banyak yang berminat, maka kelas dibuka khusus untuk Pengurus, dengan syarat para peserta baking class harus bersedia berbagi ilmu bakingnya ke member lain di wilayahnya. 

Dan disepakatilah tanggal 12 Oktober 2017 sebagai hari eksekusi. Namun menjelang hari-H, kami mendapat kabar tentang demo para sopir angkot perihal transportasi online, yang mana mereka akan berhenti beroperasi selama tiga hari, khawatir juga akan menjadi kendala mobilitas emak-emak yang rata-rata angkoters, gocarers, dan grabers ini. 

Lah, pada kenyataannya, mereka batal demo pada hari itu, sementara kami sudah menyepakati tanggal yang lain, yaitu tanggal 17 Oktober 2017, hari Selasa.

*

Isu demo sopir angkot masih berhembus, plus driver transportasi online juga katanya mau ikutan demo, namun hari Selasa itu kami memantapkan langkah untuk tetap melaksanakan baking class di kediaman Teh Kalista ‘Ais’ yang terletak di Jalan Cisitu Indah VI. 

Perjuangan banget ya untuk sampai ke rumahnya. Kalau saya, sebagai roker (rombongan kereta, pen) sejati, dari Stasiun Bandung harus sambung, alhamdulillah, hanya satu kali angkot ke arah Cisitu. Naik aja… dan tunggu si angkot berhenti di pemberhentian terakhir di sekitar Jalan Cisitu Indah IV. 

Setelah itu, dengan mengandalkan GPS, saya dan Akhtar pun berjalan kaki menuju tujuan yang ternyata lumayan jauh juga. Hitung-hitung olahraga, batin saya menghibur diri. 

Alhamdulillah kami sampai di rumah Teh Ais sebelum jam 10. Sempat salah mengambil jalan juga, alhamdulillah berpapasan sama Teh Dyah yang tampak sedang menelepon meminta petunjuk jalan.

Walaupun dijadwalkan mulai jam 10, pada kenyataannya kami baru mulai jam 10.30. Teh Ais membagikan salinan resep kue (hanya nama bahan dan takarannya), sementara langkah-langkah membuatnya disampaikan sambil kami praktik.

Hari itu kami akan membuat “Molten Cheesetarts” dan “Blueberry Cheesecake Tartletts”. Dari namanya saja sudah kebayang lezatnya kue ini. Apalagi Teh Ais memberi kami resep premium yang telah melalui bebebebeberapa kali percobaan, sementara kami mendapatkannya cuma-cuma dalam satu kali pertemuan. Maka, tidak ingin kehilangan kesempatan belajar baking langsung dari ahlinya, kami bersiap dengan alat tulis masing-masing, mencatat langkah-langkah pembuatan dan tips-tipsnya, termasuk merek bahannya.

Berikut saya coba uraikan resep dan langkah membuatnya ya… 

Ada 3 resep yang kami coba:

1. Cheese custard untuk isian molten cheesetarts

2. Pate sucree, apa ya istilah bahasa Indonesianya? Hehe.. bahkan cara mengucapkannya dengan betul pun saya ga tau.. huhu, gagal menyimak nih pas bagian ini. Intinya ini tuh pastrynya gitu. Kalau tampak di foto seperti kulit pie ya, karena menggunakan cetakan pie. Tapi percaya deh, yang ini lebih enak daripada kulit pie yang biasa saya makan, bener-bener premium.

3. Simple cheesecake batter untuk isian blueberry cheesecake tartletts.

*

Cheese Custard

Pertama, kami membuat cheese custard, satu resep bisa untuk 36 cup ukuran hmm.. diameter 5 cm kali ya, ngira-ngira aja ini mah sambil liat penggaris hehe. Bahan-bahannya sbb:

300 gr cream cheese

60 gr cheddar cheese (kami pakai yang quickmelt)

300 ml milk (kami pakai UHT)

80 gr butter

60 gr sugar (gula pasir yang halus cocok untuk kue)

25 gr cornstarch (maizena)

2 eggs

1 tsp vanilla (pasta)

2 tbs lemon juice

Cara membuatnya:

1. Creamcheese, cheddar cheese, milk, butter, sugar dipanaskan dengan teknik au bain marie, alias ditim. Caranya dengan menggunakan panci berisi air yang dididihkan terlebih dahulu, lalu bahan-bahan dicampurkan di wadah yang lebih besar daripada panci, letakkan wadah berisi bahan-bahan diatas panci berisi air. Ditim sambil didiaduk-aduk sampai semua bahan tercampur.

2. Campurkan telur, yang sudah dikocok di wadah terpisah, ke dalam bahan-bahan yang ditim, aduk.

3. Masukkan maizena yang sudah terlebih dahulu dilarutkan dengan sedikit susu UHT. Aduk terus agar tidak menggumpal, sampai mengental.

4. Angkat dari kompor. Masukkan pasta vanilla dan perasan lemon. Cicipi. Bisa ditambahkan gula pasir lalu aduk lagi sampai larut jika kurang manis.

5. Masukkan ke dalam plastik segitiga/ piping bag, biarkan hangat, lalu dinginkan di dalam lemari pendingin. 

*

Pate Sucree

Karena prosesnya yang cukup lama (harus dua kali masuk lemari pendingin), Teh Ais sehari sebelumnya sudah membuat puluhan pastry, dan hari itu kami membuat sisanya yang dibutuhkan.

Adapun resepnya adalah sebagai berikut (satu resep untuk 15 pastry) 

1 egg yolk

1 tbs milk

1/2 tsp vanilla

200 gr flour

50 gr icing sugar

1/2 tsp salt

100 gr cold butter

Cara membuatnya:

1. Campur egg yolk, milk, vanilla

2. Di wadah terpisah campur flour, icing sugar, salt, dan cold butter potong dadu (cold butter baru keluar dari lemari es)

3. Bahan campuran di poin 2 dimikser dengan pengaduk khusus, katanya kalau pakai mikser biasa khawatir rusak mesinnya. Kalau ngga ada, gunakan pastry cutter. Dimikser sampai teksturnya seperti pasir.

4. Masukkan bahan campuran di poin 1 dengan bahan campuran 2, diaduk dengan tangan sampai kalis. Masukkan ke dalam plastik, masukkan ke dalam lemari es kurang lebih 1 jam.

Sementara menunggu, kami istirahat makan siang dulu dan shalat dzuhur.

Penyelesaian:

1. Timbang adonan per 20 gr, caranya adonan dibulat-bulatkan terlebih dahulu lalu ratakan di cetakan pie. Cetakan ga usah dioles-oles mentega dulu.

2. Jika sudah, masukkan di freezer sampai keras

3. Nah ini yang menarik, sebelum dioven, adonan dalam cetakan pie diberi pemberat berupa kertas kue/ papercup yang diisi kurang lebih sesendok beras. Tujuannya biar ga ngembang ke atas. Kebayang sih, waktu saya pertama kali bikin kue pie, adonan mengembang sampai memenuhi cetakan pie.

4. Oven 180/ 170 dercel sampai kecoklatan. Pemberat bisa diambil saat adonan masih setengah matang.

*

Simple Cheesecake Batter

Bahan-bahannya:

200 gr cream cheese, ditim sebentaaar aja sampai lembut

50 gr icing sugar

1 tsp vanilla

1 medium egg

Cara membuat:

1. Cream cheese yang sudah ditim campur dengan icing sugar, gunakan mikser.

2. Masukkan vanilla dan egg, dimikser jangan terlalu lama, jangan sampai terlalu encer.

3. Masukkan ke dalam piping bag.

*

Nah yang terakhir adalah penyelesaian. 

Siapkan pastry yang sudah matang tadi. Kita bikin 2 bentuk pastry. Ada yg pinggirannya bergelombang khas kue pie gitu, yang ini untuk blueberry cheesecake tartletts. Ada yang pinggirannya rata, mencetaknya di dalam loyang muffin lalu ditekan menggunakan alat kayu entah-namanya-itu. Hasil akhirnya kayak mangkuk gitu, bentuk yang ini digunakan untuk molten cheesetart. Ini mah sih untuk variasi aja. Mau dua-duanya dibikin pake cetakan pie pun ga masalah.

Untuk blueberry cheesecake tartletts, kita siapin juga selai blueberry (kami pakai merek paletta) dan filling coklat (kami pakai merek tulip). 

Untuk isian blueberry: Pertama-tama isikan selai blueberry secukupnya, lalu isikan cheesecake batter sampai memenuhi kulit pastry. Dengan bantuan tusuk gigi kita hias bagian atasnya dengan cheesecake batter yg diberi pewarna ungu. Teknik ngehiasnya yang jelas susah dijelaskan dengan kata-kata hehe. Pokoknya begitu.

Untuk isian coklat, lakukan yang sama seperti isian blueberry, yakni: isikan coklat filling, lalu cheesecake batter, hias atasnya dengan coklat coverture (lempengan coklat bentuk bulat kecil-kecil).

Oven sampai permukaan cheesecake batter-nya ga nempel ketik disentuh.

Untuk penyelesaian molten cheesetarts:

Isikan cheese custard pada kulit tart, oles dengan kuning telur (campuran kuning telur+sedikit susu UHT), panggang sebentar dengan api atas untuk mendapatkan efek terbakar.

Selesai deh…

Kata Teh Ais sih molten cheesetart ini nikmat dimakan hangat, sementara blueberry cheesecake enak dimakan dingin. Bagi saya, ga ada bedanya, hangat maupun dingin, tetap enaaaaak banget.

Sampai azan ashar berkumandang, kami masih berkutat di dapur Teh Ais.. tinggal menunggu kue-kue itu keluar dari oven. 

Keseluruhannya selesai kurang lebih jam 16.00. Kue hasil praktik dibagi untuk sembilan orang, masing-masing mendapat 9 buah, belum lagi ada beberapa yang dicicipi bersama-sama disana. Alhamdulillah puas banget… untuk ganti bahan, kami hanya membayar Rp 30.000. Kursus baking mana coba yang cuma bayar 30 rebu? Dijamin ga ada!

Terakhir… acara wajibnya adalah foto-foto dan penyerahan bingkisan dari Sabumi untuk Teh Ais.

*

Selesai?

Baking class selesai… 

Sementara hari itu saya dan Akhtar baru sampai rumah jam setengah 9 karena kereta yang harusnya berangkat jam 17.44, baru datang ke Stasiun Bandung 2 jam kemudian. :(

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal…

Advertisements

Ramadhan Ceria Bersama Sabumi

Leave a comment

image

Alhamdulillah… terlaksana juga salah satu program Ramadhan Sabumi tahun ini. Mengambil kesempatan bulan penuh keberkahan, dimana satu kebaikan mendatangkan banyak kebaikan yang lain, Sabumi bekerjasama dengan Kidzsmile Foundation mengadakan Senyum Ramadhan di PAUD Ceria, daerah Tanggulan, Dago Pojok.

image

Senyum Ramadhan sendiri sebenarnya merupakan kegiatan tahunan Kidzsmile yang mana mereka berbagi senyum dengan anak-anak di beberapa kota di Indonesia melalui permainan dan dongeng edukatif. Konsep Senyum Ramadhan Kidzsmile adalah berbagi dengan apa yang ada, namun mereka membuka kesempatan kepada siapa pun yang ingin berdonasi. Maka, Sabumi mengambil peran sebagai perantara bagi para donatur yang ingin memeriahkan Senyum Ramadhan ini dengan berbagai bentuk donasi.

Bagi Sabumi sendiri, tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengajarkan kepada putra putri Sabumi bagaimana berempati dan berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang kekurangan. Oleh karena itu, salah satu bentuk donasi yang dianjurkan adalah berupa bingkisan peralatan sekolah dan beberapa makanan ringan yang disiapkan sendiri oleh putra putri Sabumi. Tak lupa disisipi surat motivasi untuk sahabat-sahabat PAUD Ceria, agar mereka tak patah semangat mencapai cita-cita.

image

Tujuan lainnya tentu saja, Sabumi ingin berbagi keceriaan dengan sahabat PAUD Ceria dengan memberikan donasi dalam bentuk barang yang bisa digunakan jangka panjang oleh PAUD, seperti rak buku, container, mainan, karpet, papan tulis, dan beberapa item lain, serta sejumlah uang yang bisa dibelanjakan beberapa kebutuhan PAUD.

***

image

Apa sih yang Anda bayangkan tentang sekolah PAUD dan TK? Dinding kelas berwarna-warni yang digambari karakter-karakter lucu? Lemari besar penuh mainan dan buku? Panggung boneka? Halaman dengan ayunan, jungkat-jungkit, dan perosotan? Ah… jangan dibayangkan semua itu ada di PAUD Ceria.

Kelas-kelas PAUD ini hanya berupa ruangan sempit dan pengap tanpa jendela di bawah Masjid Ad Da’wah, di sebelah tempat wudhu dan kamar mandi. Luasnya hanya sekitar 5 x 4 meter, itupun digunakan untuk 3 jenjang kelas yang berbeda, yaitu PG, TK A, dan TK B.

PAUD ini terletak di Tanggulan yang termasuk daerah minus di Kota Bandung. Profil orangtua siswanya rata-rata Ibu Rumah Tangga atau ART, sementara para ayahnya adalah buruh serabutan.

image

Tapi, masyaAllah gurunya yang saat ini hanya dua dan hampir tak bergaji memiliki semangat membangun yang sangat besar.

Muridnya pada tahun ajaran terakhir ada 25 orang, dengan 3 guru (mulai tahun ajaran depan 1 guru resign karena gaji yang tidak memadai). Sebenarnya ditetapkan SPP 30-50 ribu /bulan setiap siswa. Namun dari 25 siswa, yang membayar paling banyak 6 orang, itu pun tidak rutin. Tapi meski begitu semua siswa masih boleh belajar di sana walau tidak membayar, maka bisa dikatakan PAUD ini gratis.

Mempertimbangkan hal tersebut, kami menyimpulkan PAUD Ceria ini memang layak menerima bantuan.

***

Alhamdulillah, dari hasil pengumpulan donasi selama kurang lebih 10 hari, terkumpul donasi dengan rincian sebagai berikut:

1. DONASI UANG

Total donasi : Rp 7.860.090, dan tidak semuanya berasal dari keluarga Sabumi.
Pengeluaran total untuk keperluan kegiatan belajar mengajar PAUD dan kesejahteraan guru sebesar Rp 3.010.270. Dan sisanya diberikan kepada Ibu Rahma, pemilik, kepala sekolah, sekaligus gurunya sebesar Rp 4.850.000 untuk berbagai kebutuhan PAUD.

2. DONASI BINGKISAN

Kami menerima total 33 bingkisan dari anak untuk anak.

Semuanya diserahkan kepada anak PAUD dan LDKM melalui tangan-tangan kecil putra putri Sabumi.

3. DONASI BARANG

1. Cat dinding Jotun 20 liter
2. Evamat puzzle bekas layak pakai
3. 1 container jumbo boneka bantal
4. 1 set rak besi merek Krisbow
5. Buku bacaan anak dan guru
6. Buku bantal dan bola kain
7. Puzzle anak
8. 5 tas anak
6. 6 paket hijab untuk guru dan remaja masjid putri
7. 2 bingkisan untuk remaja masjid putra
8. Abaca flashcard

Semoga Allah membalas kebaikan para donatur dengan kebaikan yang berlipat-lipat. Aamiin ya Rabbal’aalamiin.

Acara penyerahan donasi dan rangkaian kegiatannya berlangsung pada hari Rabu, 8 Juli 2015, atau 21 Ramadhan 1436 H di Masjid Ad Da’wah. Dihadiri hampir 20 orangtua Sabumi dan 20an putra-putrinya. Jumlah pastinya tidak tercatat. Serta guru-guru, dan para siswa PAUD beserta ibu-ibunya. Kalau dijumlah mungkin tidak akan kurang dari 80 orang.

image

Acara dibuka oleh Bu Rahma, kepala  sekolah PAUD, dengan berbagai nyanyian beserta gerakan-gerakannya, putra putri Sabumi pun berbaur dengan sahabat PAUD.

image

Selanjutnya, perkenalan singkat Sabumi yang diwakili Bunda Hani.

image

Setelah itu, barulah Ayah Idzma dari Kidzsmile mengambil alih acara. Diawali permainan tupai dan pohon yang lumayan heboh karena anak-anak berteriak dan berlarian kesana kemari. Meskipun begitu, semoga pesannya sampai ya… bahwa kita harus menjaga hutan kita agar pohon-pohon dan hewan-hewan bisa hidup nyaman di habitatnya.

Dilanjutkan penampilan dari beberapa anak Sabumi dan PAUD yang dengan berani maju ke depan menunjukkan kebolehannya bernyanyi.

Sabumi diwakili Sinnai nih, putranya Teh Devi.

image

image

Lalu, Ayah Idzma kembali mencuri perhatian anak-anak dengan boneka-boneka hewannya yang bisa ‘ngomong’ dan ‘bercerita’, kali ini ceritanya pun masih tidak jauh dari tema HUTAN. Dan tak ketinggalan ada Kido yang menjelaskan tentang sentuhan pada anggota tubuh kita, mana yang boleh dan tidak boleh.

image

Daan…

Pantauan di lapangan sempat terputus karena saya harus mengejar-ngejar Akhtar yang memaksa keluar masjid.

Hahaha…

Dilanjutkan acara pembagian bingkisan langsung oleh putra putri Sabumi, sahabat PAUD Ceria yang menerima pun semakin ceria, semoga bermanfaat ya Sahabat…

Acara selesai bertepatan dengan adzan dzuhur ditutup dengan doa dan foto-foto. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai skedul.

Seru ya? Wah, kapan-kapan kalau Sabumi mengadakan kegiatan lagi insyaAllah ga kalah seru deh, apalagi keluarga Sabumi selalu semangat berpartisipasi dalam setiap kegiatan.

Sekarang waktunya kita fokus menjalani 10 hari terakhir Ramadhan tahun ini. Semoga kita bisa meraih keutamaan malam Lailatul Qadar. Semoga Ramadhan ini BUKAN Ramadhan terakhir untuk kita dan keluarga. Aamiin…

Foto: dokumentasi pribadi, file media grup whatsapp Sabumi dan Intibumi

“Playdate Perdana” Sabumi

9 Comments

image

Alhamdulillah, akhirnya terlaksana juga “playdate perdana” Sabumi, komunitas keluarga homeschooling khusus muslim di Bandung.

Mengapa saya merasa perlu menambahkan tanda kutip? Karena sebelum playdate tadi siang sudah beberapa kali Sabumi mengadakan kegiatan, baik sebelum menjadi Sabumi, maupun setelah resmi bernama Sabumi. Tapi, kegiatan yang acaranya dikhususkan untuk anak-anak sepertinya baru kali ini. Sementara kegiatan-kegiatan sebelumnya biasanya lebih banyak efektif untuk orangtuanya, tidak ada agenda khusus untuk anak-anak.

Sabumi sendiri terbentuk ketika beberapa ibu merasa butuh komunitas yang mensupport keluarga pesekolahrumah khusus muslim di Kota Bandung, yang saat itu sepertinya belum terlihat. Sementara ada komunitas lain, yang secara nilai kurang cocok dengan nilai yang ingin kami tanamkan sebagai keluarga muslim. Maka, terbentuklah, komunitas HS Muslim Bandung, saat itu. Nama Sabumi sendiri baru muncul belakangan. Itu pun awalnya bernama Sakola Bumi sebenarnya, maksudnya ‘menyundakan’ istilah sekolah rumah, namun akhirnya dipakai nama Sabumi karena Sakola Bumi sendiri sudah digunakan oleh salah satu keluarga HS sebagai ‘trademark’ mereka.

Pada kenyataannya sih komunitas ini tidak sekedar untuk keluarga pegiat HS, tak sedikit yang anak-anaknya bersekolah formal, namun ingin menambah wawasan mengenai pendidikan anak dengan bergabung dengan Sabumi. Bahkan, kalo saya amati, justru komunitas ini kebanyakan berisi keluarga dengan anak-anak yang bahkan belum berusia sekolah, jadi tidak bisa dibilang HS-ers juga.

Namun kini Sabumi melebur dengan HSMN (HS Muslim Nusantara). Komunitas HS muslim yang cakupannya lebih luas, yang berkembang pesat belakangan ini. HSMN sendiri basis komunitasnya di grup whatsapp, jadi akhirnya grup inti Sabumi di whatsapp pun membuka diri untuk orangtua lain yang mau bergabung. Saat ini sudah terbentuk 2 grup dengan kuota masing-masing 90an. Kalau soal HSMN hubungannya dengan Sabumi, ada yang lebih bisa menjelaskan sepertinya.

***

image

Playdate kali ini mendapat respon yang luar biasa dari ibu-ibu di grup. Walaupun dari pengumuman acara s.d hari-H terbilang mepet, kurang dari 1 minggu, mungkin cuma 4 hari ya, tapi ibu-ibu antusias sekali untuk ikut. Total pendaftar dalam list, dari 2 grup Sabumi, mencapai 45 orang. Yang hadir berdasarkan daftar hadir ada 32 orang ibu, dengan kurang lebih 42 orang anak, belum dihitung beberapa ayah yang datang dan ibu yang belum isi daftar hadir. Wow kan?

Nah, di playdate tadi siang kami punya kegiatan membuat cat dengan bahan yang bersahabat, edible, alias bisa dimakan. Walaupun tidak dimasak, sepertinya sih memang aman dimakan, buktinya tadi siang ada ananda yang masih merangkak memasukkan kuas belepotan cat ke mulut, dan baik-baik aja hehe.

Adapun yang menyiapkan materinya kali ini Teh Devi, yang sudah mencoba membuat cat tersebut di rumah. Bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain:

4 sdm soda kue
2 sdm cuka
1/2 sdt larutan gula
2 sdm tepung maizena
Pewarna makanan

Cara membuatnya adalah:
1. Campur soda kue dan cuka di dalam baskom kecil, aduk rata
2. Setelah tercampur, masukkan larutan gula dan maizena, aduk rata
3. Bagi adonan cat ke tempat-tempat kecil, lalu beri pewarna sesuka hati

Takaran bahan-bahannya bisa disesuaikan dengan tingkat kekentalan cat yang diinginkan.

Dan… jadilah cat buatan kami.

image

Anak-anak dibiarkan melukis bersama di atas kertas roti yang dibentangkan sepanjang terpal tempat kami duduk.

image

Selesai sesi mencat, kurang lebih 1 jam, kami menggelar potluck yang dibawa masing-masing untuk dimakan bersama. Tentu saja setelah membersihkan tangan dari cat kemudian membaca doa sebelum makan.

image

Setelah cacap cicip makanan sana sini, giliran Teh Rochma mengajari anak-anak lagu tentang Sentuhan di sesi berikutnya, sentuhan seperti apa ke bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh.

image

Lalu, sesi selanjutnya adalah mendongeng oleh Kak Idzma dan Kido, tentang sentuhan juga, dan cerita tentang KPK, dapat pin keren juga lho dari KPK.

image

Seru kan? Ini baru yang pertama lho, insyaAllah, playdate akan dilakukan secara rutin, dan tidak kalah seru dari playdate tadi siang. Yang pasti sih saya udah ga sabar :)

Foto: dokumentasi pribadi, foto WA dr Teh Liza, dan Teh Hilda Sabumi 1