Kadal Nguntal Negoro

3 Comments

Jadi, setelah hampir 3 tahun tinggal di Jakarta, baru sekali saja saya ke Taman Ismail Marzuki, yaitu hari ini (29/10/11).

Tertarik kesana setelah melihat iklan pertunjukan “Kadal nguntal negoro, korup siji korup kabeh” di Metro TV beberapa hari terakhir. Pertunjukan ini merupakan ide kreatif dari Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, dan Agus Noor (sekaligus sutradara). Diselenggarakan selama dua hari 29-30 Oktober 2011, pada jam 20.00. Yah, malam sekali. Sampai akhirnya saya cek website TIM dan mendapati bahwa ada pertunjukan jam 14.00 pada hari Sabtu. Oke … berangkat, kali ini sama Oya aja.

Pertunjukan diadakan di Graha Bhakti Budaya. Dari tiga kelas tiket, kami pilih yang paling murah, yaitu Balkon dengan harga tiket Rp75ribu, nomor kursi W19 dan W20, baris paling depan di balkon, lurus menghadap panggung. Padahal dengan hanya menambah Rp25ribu kami sudah bisa membeli tiket VIP, hanya saja posisi duduknya paling pinggir di sebelah kiri penonton VVIP, walaupun cukup dekat dengan panggung tapi sepertinya tidak cukup nyaman. Sementara tiket VVIP bisa didapat dengan Rp200ribu.

Acara dimulai tepat waktu, dibuka oleh Butet sebagai perwakilan tim kreatif disusul dengan satu lagu yang dibawakan oleh Djaduk Ferianto dan Silir Sujiwati, diiringi Orkes Sinten Remen. Sementara itu tirai merah dibuka, dan beberapa orang  mengatur setting tempat di panggung, sehingga tampaklah pemandangan di kantor polisi.

Pertunjukan dibagi ke dalam beberapa segmen, dengan latar tempat di Kantor Polisi, Kejaksaan Tinggi-Tinggi Sekali, Hotel Prodeo, Pengadilan yang (kok) Bermeja Biru? dan Penjara. Diceritakan kejadian dalam setiap adegan terjadi di Afrika Selatan. Kenapa Afsel? Biar jauh dari Indonesia. Cari amaaan … :p

Pertunjukan ini bercerita tentang proses hukum penuh dengan permainan kotor para aparat hukum yang korupsi. Mulai dari oknum Polisi, diperankan oleh Trio GAM, yang menerima laporan korupsi namun tidak mau mengusutnya karena pelakunya adalah gubernur di daerah kerja mereka, kemudian pengacara, diperankan oleh Indro Warkop dibantu oleh Dibyo Primus, yang mau melakukan apapun untuk kliennya demi uang, sampai Hakim, Jaksa dan Panitera yang kembali diperankan oleh Trio GAM yang bahu membahu untuk membebaskan tersangka koruptor, serta seorang pejabat gubernur korup yang aneh, diperankan oleh Susilo Nugroho. Kenapa aneh? Karena dia keukeuh ingin didakwa sebagai koruptor.

Pemeran pendukung lainnya diantaranya Udin Semekot si pemilik sepeda yang dijebak rambu-rambu polisi, Yu Ningsih sebagai istri sang koruptor. Butet sempat masuk sebentar sebagai jurnalis. Lalu, kami sempat dikejutkan oleh kemunculan seorang ‘wanita’ cantik dengan legging merah, rok mini motif kotak-kotak tartan, baju merah, blazer bermotif kulit macan, topi merah berbentuk baret, dan lipstik merah menyala, sepatu hak tinggi, memegang payung transparan dan membawa  stik golf. Cantik … pasti para penonton laki-laki kecewa setelah tahu dia adalah waria. OMG … Merlyn Sofyan ini ternyata Ratu Waria Indonesia. Kiamat lah dunia … tepok jidat nyamuk. Dia berperan sebagai saksi kunci dalam persidangan sang koruptor.

Selama hampir tiga jam itu saya dibuat terbahak-bahak oleh dialog para pemeran. Terutama saya suka Pak Susilo Nugroho di segmen Hotel Prodeo, sepertinya dia improve banyak dari skenario. Celetukannya  walaupun hanya berupa satu kata “ho oh” mengundang penontonnya terbahak. Semua pemain bermain lepas, dialog-dialognya jenaka dan cerdas. Inilah komedi yang sebenarnya, bahwa tidak harus dengan kekerasan, menertawakan kesialan orang lain, dan menghina fisik lawan main untuk membuat orang tertawa.

Kesimpulannya, saya puas. Walaupun kadang-kadang para pemain keseleo lidah dan sempat menyebut-nyebut Indonesia, padahal di awal diceritakan settingnya di Afsel. Lalu, ketika di pengadilan, kata tersangka dan terdakwa sepertinya digunakan interchangeably, padahal sepengetahuan saya yang awam bahasa hukum, tersangka dan terdakwa memiliki ‘level’ yang berbeda. Dan saran saya, Anda sebaiknya membawa seorang translator basa Jawa jika menonton pertunjukan berikutnya di Indonesia Kita, karena banyak sekali celetukan-celetukan basa Jawanya.

Kadal Nguntal Negoro, merupakan pertunjukan keenam yang digarap ‘Indonesia Kita’, sekaligus yang terakhir tahun ini. Indonesia Kita, menurut Agus Noor, merupakan sebuah upaya bersama untuk terus memupuk semangat menjadi Indonesia, melalui kesenian dan kebudayaan.
“Jangan kapok menjadi Indonesia”, kata Butet, bahwa memproses keindonesiaan adalah pekerjaan yang harus terus menerus dilakukan.
Dan jangan pernah menyebut korupsi itu sebagai budaya, karena kalau korupsi itu budaya maka pelakunya disebut … budayawan.

Advertisements

Book Fair Lagi ….

Leave a comment

Tepat seminggu yang lalu aku ke Islamic Book Fair (IBF) di Istora Senayan.
Agak memaksakan diri sih. Padahal sisa lelah setelah lembur seminggu penuh belum juga habis.
Hanya aku teringat janji pada Kakak Iparku dua minggu sebelumnya, untuk membelikannya buku sebagai hadiah ulang tahunnya awal Maret lalu.
Agak memaksakan diri juga, terutama karena hari itu adalah hari terakhir IBF 2010, walaupun sebenarnya aku sedang tidak berhasrat membeli buku. Dan beginilah aku, ketika tidak ingin membeli buku, maka buku apapun menjadi tidak menarik buatku.

More

Nama-Nama Kucing….

18 Comments

Pagi ini tiba-tiba saja kami membicarakan tentang nama-nama binatang peliharaan.
Gara-garanya…kami menemukan seekor kucing (lutu..) di pinggir jalan kompleks kostan.
Seperti biasa, aku memanggil…”Mengkiii…”, refleks. Kebiasaankah? Mungkin. Yang pasti sejak kuliah di Bandung dan menemukan banyak kucing di lingkungan kostan aku ga pernah absen menyapa kucing-kucing itu dengan panggilan sayang ‘mengki’, atau sekedar…’ckckck’, sebisa mungkin menarik perhatian kucing-kucing itu agar menoleh padaku.

Salah seorang temanku memanggil, “Puuusss…”, direspon dengan cuekan sang kucing.
“Manggil kucing jangan pake panggilan yang pasaran. Mereka juga bosen kalo terus dipanggil ‘puuuss’, atau, ‘meeenggg’, atau ‘meoongg’ “, celotehku.
Maka, “Mengkiiii…”, dan kucing itu ternyata tetap cuek. Wkwkwk…
Baru setelah aku men-“ckckck”-nya, si kucing menoleh.

“Dulu waktu kerja otakku masih terbatas…”, kataku membuka percakapan yang disambut dengan, “Emang sekarang udah nggak?!” dari temanku. “Walah salah ngomong aku..”.
“Ya…pokoknya waktu masih kecil n belum terlalu kreatif”, ralatku…hehe. “Aku namain kucing pake nama-nama standar gitu. Kucing pertama n kedua-ku aku kasih nama Pusi n Pusi Junior”.
“Trus, makin kesini nama-nama kucingku makin bagus…”, alias makin mirip nama manusia. Mwahahaha….
“Aku pernah punya kucing namanya Ferdi..”
“Busyet..nama kucing tuh Put?”, timpal temanku.
“Iya…terus ada lagi kucingku namanya Mary”
“Yang paling lucu tuh, aku pernah punya kucing namanya Rio. Nah, si Ibu yang bantu-bantu di rumahku itu juga punya cucu namanya Rio! Makanya suka ga enak gitu kalo manggil si Rio ‘The Cat’ di depan si Ibu itu…wakakaka”

“Eh tapi temenku lebih parah lagi”, lanjutku. “Waktu itu dia nunjukin foto 2 hamster masing-masing berwarna putih n hitam eksotis di HPnya, ‘Liat deh Put…lucu kan???’, ‘Ih…apanya yang lucu?!’, gumamku. ‘Tau ga, yang item ini hamster kesayanganku, sekarang udah mati, namanya………..Putri.’ Haiya…nama gw dipake buat nama hamster???? Aaarrgghhh!!! ‘Makanya kalo denger nama kamu tuh aku langsung inget hamsterku ini’, heuheuheu…aku hanya tertawa miris”.

Tapi keknya yang paling normal tuh nama kucing-kucing di kostan waktu kuliah dulu deh….

Kucing pertama yang kukenal disana bernama Baong. Sempat bertanya-tanya juga sih, kok kucing betina semanis itu dikasih nama Baong. Ternyata setelah bertahun-tahun hidup bersama Baong, aku termasuk orang yang paling setuju tuh kucing dikasih nama Baong. Si Baong nih ternyata baongnya minta ampun….hiiiihhhhh…gemeeezzzzz

Selanjutnya si Baong ini punya sodara betina namanya Pengkor. Aku sih nebak-nebak aja mereka bersodara, walaupun kenyataannya warna bulu mereka sangat berbeda. Kenapa Pengkor? Ternyata karena ekornya bengkok gara-gara terbelit kabel waktu bayi, ntu cerita dari si Teteh tetangga kamar, pemilik kucing.

Dari perkawinannya dengan kucing jantan entah yang mana, si Baong punya anak 2 anak yang cakepnya minta ampun. Mereka 2 dari 5 anak angkatan pertama si Baong yang bertahan hidup. Namanya Putih dan Yellow. Sederhana, sesuai dengan warna rambut mereka. Tentang Yellow, udah aku pernah ceritain disini kan?

Terus, yang paling lucu n lugu itu adalah si Jalu. Namanya sih gagah, tapi sikapnya….mwahahaha…..aneh n bikin ilfil para kucing betina deh. Hahaha….lugu n (maaf) agak ‘tolol’. Tapi, aku malah jadi sayaaaaaannnnggg banget ma dia, karena aku ngerasa telah ber’kontribusi’ membuat dia kayak gitu.

Pada tahun ketiga kuliah, aku pindah ke kostan baru. Dan lagi-lagi disambut oleh kucing-kucing, kali ini lebih terawat. Kucing Persia gitu deh. Si kucing persia betina dewasa yang dipelihara si Ibu Kost bernama Rubi. Waktu pindahan itu, si Rubi baru melahirkan lima anak kucing yang empat diantaranya diniatkan akan dijual oleh si Ibu Kost, kecuali satu anak kucing yang berwarna paling beda, yang selanjutnya dikasih nama Bule.

Hehe…gitu deh.
Udah ah…
Intinya I Love Kucing
Tapi ga mau melihara……..kasian. (Lho?)
Di cerita selanjutnya ya…