Akhtar dan Pap

2 Comments

“Akhtar sayang banget sama Mpap… kangeeen…”, teriaknya sambil ‘dadah-dadah’ dari balik jendela ruang tamu ke arah Pap yang baru saja selangkah keluar dari gerbang rumah.

Ya, inilah ritual kami sepekan sekali. Yang seringkali mengharukan adalah celotehan Akhtar ketika mengantar Papnya pergi, bikin bapeeerrr.

Pernah suatu hari yang lain, belum lagi berjam-jam dari keberangkatan Papnya, si sulung ini menghampiri saya yang sedang bersiap-siap shalat, terlihat raut sedih dari wajahnya.

“Akhtar kenapa?”, tanya saya.
“Akhtarnya sedih karena Pap pulang”, jawabnya dengan wajah murung. Lalu saya berusaha menghibur sebisanya.

Saya shalat, dengan konsentrasi terpecah, karena merasakan Akhtar gelisah, bolak balik ke dalam lalu keluar kamar tidur, lalu ke dalam dan keluar lagi. Dari tempat saya shalat (di ruangan sebelah kamar tidur) saya bisa mendengar Akhtar menjatuhkan badannya di atas ranjang lalu bangkit lagi.

Selesai saya shalat, ia menghampiri saya dengan tangis tertahan, “Akhtar sayang sama Mpap”. Saya dekap tubuhnya dan usap-usap punggungnya, “Iya Akhtar, sabar ya, nanti kan Pap pulang lagi kesini”.

*

Kebiasaannya yang lain lagi, jika Papnya bersiap-siap akan berangkat, Akhtar akan berkata, “Pap kerjanya disini aja”, lalu hanya akan di’amin’kan oleh kami. 

Setelah itu Akhtar akan mengantar Pap sampai teras dan beberapa dialog yang seringkali terjadi adalah seperti ini:

“Nanti pulangnya hari apa?” Papnya akan menjawab Jumat atau Sabtu.

“Pulangnya naik apa?” Papnya akan menjawab naik bus atau kereta, kadang-kadang travel.

Lalu ditutup dengan, “Hati-hati yaaa… kalau Akhtar kangen nanti telepon yaa… dadaaah”. Papnya akan mengucapkan salam dan Akhtar baru akan masuk setelah Pap hilang dari pandangan.

*

Apa yang saya rasakan dengan ini?

Yang pertama-tama, bersyukur. Bersyukur karena walaupun secara fisik tidak bisa bersama setiap hari, saya melihat Akhtar dan Papnya memiliki kedekatan hati. Insya Allah ini akan menjadi bekal yang sangat penting untuk perkembangannya. Kedekatan dengan ayah dikatakan memiliki banyak manfaat diantaranya bisa membuat anak tumbuh menjadi seorang yang percaya diri, cerdas, stabil emosinya, dan lain-lain, bisa ditelusur di google hehe.

Yang kedua, bersyukur lagi, karena Akhtar mampu mengungkapkan perasaannya secara terbuka kepada orangtuanya. Bersyukur karena saya ga biasa seperti itu, pun suami saya kepada orangtuanya. Keterbukaan menunjukkan kepercayaan, dan semoga Akhtar akan tetap seperti itu, terutama kelak di masa-masa pra baligh atau menuju dewasa, dimana ia akan bercerita/ bertanya segala hal kepada orangtuanya terlebih dahulu sebelum mencari yang lain. 

Advertisements

Oleh-Oleh Workshop

Leave a comment

Dua hari kemarin, tanggal 24-25 Februari 2018, saya mengikuti workshop membuat kurikulum pendidikan rumah anak usia dini, yang mana pematerinya adalah Teh Mierza Miranti, pemilik blog klastulistiwa.com dan praktisi homeschooling yang saat ini berdomisili di Kota Bogor.

Mumpung masih anget dan inget, saya bagikan sedikit yang saya dapat di workshop tersebut berdasarkan catatan dan ingatan saya yang ngga seberapa. Khususnya saya tulis disini sebagai pengingat bagi saya untuk mengamalkan ilmu yang sudah saya terima.

Poin-poin yang saya catat terutama terkait dengan tips-tips parenting dan beberapa hal lain yang saya anggap ‘baru’ dan mencerahkan. Sementara materi yang bisa dengan mudah di telusur di mesin pencarian, seperti definisi beberapa terminologi, tidak saya masukkan di tulisan ini. 

***

Homeschooling karena kecewa dengan persekolahan. Yes or no?

Jangan memutuskan HS karena anak memiliki masalah di sekolah. Contoh: 

– mengalami perundungan (bullying) 

– tidak memahami pelajaran tertentu

HS adalah pilihan yang nantinya akan ditanyakan/ dipertanggungjawabkan di akhirat, bukan pelarian atau obat. 

Jika anak mengalami masalah di sekolah, maka selesaikan dulu masalahnya, obati dulu penyakitnya. Keputusan HS harus di atas alasan/ landasan yang benar. 

Fenomena zaman sekarang, orang yang terpapar medsos tanpa memahami literasi media cenderung mengaplikasikan apa yang terjadi di dunia maya ke dunia nyata. Misalnya: perilaku lari dari masalah. Perilaku seperti left group, unfriend, block, unfollow, ketika seseorang tidak menyenangi sesuatu di dunia maya, diaplikasikan di dunia nyata dengan lari dari masalah, bukan menyelesaikannya.

*

Visi keluarga muslim Homeschooling

Visi 666 –> At Tahrim ayat 6

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”

Sebagian peserta workshop, ada yang ragu-ragu menjawab, “Masuk surga”, ketika ditanya tentang visi, sebelum kemudian tercerahkan dengan visi 666 ini.

Setiap orang yang meninggal dalam keadaan beriman akan masuk surga, dengan rahmat Allah, hanya… bagaimana perjalanannya menuju surga? Karena tidak ada jaminan seseorang bisa lolos dari api neraka.

Maka, setiap melakukan tindakan/ aktivitas bersama anak dan keluarga, pikirkan dulu 

“Apakah bermanfaat untuk akhiratku?”

*

Mengajarkan TAUHID yang BENAR kepada anak

Orangtua jangan jadi wasilah bagi anak untuk menyekutukan Allah. Misalnya dengan memberikan tontonan yang mengandung syirik, lalu anak mengikutinya, contoh: cerita ibu peri/ jin yang mengabulkan permintaan apapun.

Kita bertanggungjawab pada apa yang kita masukkan ke dalam rumah kita, seperti televisi, buku, mainan, dll. 

Ketika memilih tontonan, hati-hati dengan subliminal message (pesan terselubung) pada acara tersebut.

Kalau anak meminta sesuatu suruh minta ke Allah, bahkan untuk hal yang kecil sekalipun. 

Contoh dialognya:

Anak: “Bunda, ade mau permen”

Ibu (tidak mengizinkan anak makan permen): “Mintanya sama Allah ya, berdoa semoga Allah bukakan hati Bunda agar mau ngasih permen ke ade”

Kalau memang orangtua tidak mau mengabulkan permintaan anak, tetaplah konsisten, jangan mudah luluh karena terharu dengan doa anak.

*

Tentang doa untuk orangtua

QS Al Isra 24

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

Berharap anak mendoakan kita dengan doa tersebut? Maka penuhi dulu syaratnya, yaitu:

Didiklah mereka waktu kecil

*

Tentang mengajak anak yang belum baligh belajar shalat

Contoh dialog:

“Nak, mau shalat maghrib?”, ibu bersiap untuk shalat, mengajak anaknya.

“Ngga mau”

“Ya udah nanti ikut shalat isya ya… ”

Jangan sekali-kali menjawab 

“Ya udah ga apa-apa”

Karena itu “apa-apa”

Tahapan shalat sebelum anak 7 tahun:

– thaharah

– Alfatihah dan surat-surat pendek

– wudhu

– ajari shalat

– mendampingi

– pembiasaan

– ajakan yang positif (seperti contoh di atas)

*

Jadwal vs target

HS tidak perlu terlalu kaku seperti sekolah, dengan menetapkan jadwal hari ini, jam segini sampai jam segitu harus belajar apa.

Lebih tepat menggunakan ‘target’ apa yang ingin kita ajarkan ke anak-anak dalam kurun waktu tertentu.

Contoh yang diterapkan Teh Mierza di rumahnya. 

Target 1 hari, mempelajari:

2 ilmu diniyah

2 pekerjaan umum

2 pelajaran umum

Orangtua yang memberi silabus, anak yang memilih apa yang mau ia pelajari.

Ada pula aktivitas yang bisa ditetapkan jadwalnya, seperti bangun, tidur, shalat, makan, mandi, dst.

*

Tentang manajemen waktu

Menurut Teh Mierza, bagi beliau bukan manajemen waktu yang penting, tetapi prioritas. 

Misal:

Ketika anak meminta kita menemaninya belajar, sementara kita memilih untuk sibuk beberes misalnya, maka anak akan menilai bahwa prioritas orangtuanya adalah rumah rapi, bukan anak-anak. 

*

Tujuan beraktivitas

Apapun aktivitasnya, kata kuncinya adalah “Apa manfaatnya aktivitas tersebut untuk akhiratku?”

Setiap aktivitas harus punya tujuan.

Misal, kita hendak mengajak anak ke kebun binatang, maka komunikasikan kepada anak, “Ayo ke kebun binatang, kita belajar a, b, c, d, dst”

Tetapkan niatnya dulu, walaupun di kebun binatang lebih banyak mainnya.

Kalau perlu bikin ceklis, apa saja yang mau dipelajari. 

Mau belajar apa? 

– sains

– bahasa

– sosial

– dst

Sebelum berangkat, “sarapan ilmu” dulu. Diskusikan dengan anak, mau belajar apa. Jangan berangkat dalam keadaan kosong. Hal ini lah yang biasa terjadi pada mahasiswa di negara kita. Seharusnya mahasiswa datang ke kelas untuk bertanya pada dosen, bukan hanya duduk menerima materi saja.

*

Tentang adab belajar

Ingat… yang benar itu bermain sambil belajar, bukan belajar sambil bermain. Penting untuk mempelajari adab belajar.

Para orang shalih terdahulu, belajar adab dahulu sebelum ilmu.

Misal, meminta anak untuk duduk anteng/ konsentrasi pada suatu materi selama rentang waktu tertentu. Rentang konsentrasi (jumlah menit si anak mampu duduk anteng) ekuivalen dengan usianya.

Anak 4 tahun harus bisa konsentrasi setidaknya 4 menit menyimak suatu materi pelajaran, setelah itu beri jeda bagi anak untuk melakukan aktivitas lain selama beberapa waktu, lalu kembali lagi belajar selama minimal 4 menit, dst.

*

Pembelajaran dengan lagu

Musik/ lagu dalam proses belajar membuat konsentrasi anak terdistraksi.

Lagu itu terdiri dari dua unsur yaitu nada dan isi. Bagus kalau yang masuk adalah isinya, tapi apakah siap dengan resikonya dimana anak hanya menangkap nadanya saja tanpa isi?

Karena lagu itu melalaikan, mengalihkan, mengganggu; atau mendistraksi. 

Bahkan metode belajar montessori yang dikembangkan BUKAN oleh orang Islam pun tidak menggunakan lagu dalam aktivitas belajar mereka, dengan alasan yang sama seperti di atas. Didukung pula oleh penelitian yang menemukan fakta yang sama.

*

Berkata Baik atau Diam

Lebih banyak memberi contoh daripada berkata-kata. 

Contoh: kisah seorang Arab Badui yang kencing di masjid. Rasulullah tidak memarahinya, namun langsung mengambil air dan menyiram bekas kencing tersebut, untuk memberi contoh kepada sahabat-sahabatnya cara membersihkan najis dari kencing tersebut.

Komunikasi efektif a la Nabi:

1. Tujuan atau niat. Sebelum berbicara, pikirkan dulu apa niat berbicara itu. 

2. Pikirkan kandungan makna dan pilihan katanya.

Ketika mengajari anak, lebih baik duduknya berdampingan. Kecuali untuk pelajaran yang mana guru dan murid butuh berhadapan, seperti tahsin.

*

Kurikulum Muslim HS

Apa yang dipelajari?

Aqidah

Fiqih

Adab

Alquran (tahsin, tahfidz)

Hadits

Sirah nabi dan sahabat

Bahasa Arab

Menulis (syair)

Bicara di depan umum

Bahasa asing lain

Fisik

*

(Semakin) Selektif Memilih Buku Anak

Leave a comment

Seiring semakin kritisnya si anak 4,5 tahun, seringkali saya mendapat pertanyaan-pertanyaan tak terduga yang kemudian membawa saya ikut bertanya dalam hati, “Oh iya ya.. kenapa bisa gitu ya…”.

Sayangnya, saya kurang rajin mengabadikan pertanyaan-pertanyaan ‘ajaib’ itu sehingga lupa, anak pernah bertanya apa saja, apa yang sudah saya jawab sampai anak puas, apa yang belum saya jawab karena saya ga tahu jawabannya, apa yang jawabannya ngambang dan memaksa anak berhenti bertanya. 

Catatan: proyek berikutnya, mau bikin papan khusus untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan Akhtar

Salah satu hal kritis yang ia tanyakan adalah perihal binatang-binatang di buku yang bisa berperilaku seperti manusia, seperti berbicara, berpakaian, berdiri dengan dua kaki. “Kenapa?” Tanyanya. Saya seringkali ga bisa menjelaskan, selain mengatakan, “Itu hanya ilustrasi yang dibuat penulisnya…”, dan akan bersambung dengan kenapa-kenapa-kenapa yang lainnya. 

Padahal, ilustrasi binatang yang berperilaku seperti manusia itu juga banyak terdapat pada buku-buku anak islami lho. Ada juga buku anak islam yang secara konten bagus, ada dalil dan kisah yang shahihnya namun kekurangannya yaa itu… masih menggambarkan binatang-binatang yang bisa berbicara dan berpakaian laiknya manusia.

Dari situ saya berpikir ulang tentang menyeleksi buku anak. Ternyata buku berkonten islami saja tidak cukup, buku juga harus punya ilustrasi yang masuk akal. Anak-anak memang senang berimajinasi, tapi jangan sampai keluar dari fitrahnya. Bahwa pada asalnya, dimana pun di bumi Allah ini, binatang itu selamanya tidak akan berbicara seperti manusia, berpakaian seperti manusia, atau berdiri seperti manusia. 

Akhtar dan Alquran

Leave a comment

Salah satu kasih sayang Allah untuk keluarga kami adalah dikaruniakannya kepada kami seorang anak yang cukup lekat dengan Alquran. 

Tentang pentingnya kelekatan anak dengan Alquran sebenarnya baru saya sadari beberapa waktu ini saja, sekitar 1+ tahun terakhir, sejak ikut belajar via whatsapp dengan salah seorang member Sabumi, yang anaknya sudah hapal beberapa juz sebelum usianya 7 tahun.

Beberapa usaha yang beliau lakukan diantaranya, selalu memperdengarkan murottal Alquran dalam setiap kesempatan dan menjaga pendengaran anaknya dari hal-hal yang tidak bermanfaat, maka dari itu bahkan di jalan pun si anak selalu diperdengarkan Alquran lewat music player.  

Wah… saya sih (waktu itu) belum segitunya sama Akhtar. Walaupun punya VCD murottal juz 30, ya hanya sesekali saja diputar. Malah waktu bayi lebih banyak diperdengarkan musik anak-anak berbahasa Inggris dari tablet (itu lho…. tablet s*msung yang raib dari tas si Mpap waktu naik ojek ke kantor… #gagalmoveon).

Terinspirasi dari cerita tentang anak penghapal Alquran itu, akhirnya saya coba terapkan itu ke Akhtar. Waktu itu Akhtar sudah hapal 99 Asmaul Husna pada usia 2+ tahun, karena sangat sering diperdengarkan lantunan Asmaul Husna… kenapa kok saya ga kepikiran menerapkan itu juga untuk metode menghapal Alquran? Ah ya… jawabannya, karena kami pun orangtuanya belum sebegitu lekat dengan Alquran. Sedih…

Ternyata, memperdengarkan Alquran terus menerus pada anak, menghasilkan dampak yang luar biasa pada perkembangan hapalannya. Anak-anak itu cepat… sangat cepat sekali menyerap dan menghapal… bahkan tanpa menghapal. 

Dengan bermodalkan hp yang saya pakai sehari-hari, saya download aplikasi Alquran dari playstore. Dari beberapa reciter/ qori yang tersedia di aplikasi, saya pilih Syaikh Mishari Rasyid, yaa… lagi-lagi terinspirasi dari anak penghapal Alquran itu yang juga memfavoritkannya. Lalu, mulailah dari situ saya putarkan murottal Alquran hampir sepanjang hari.

Awalnya Akhtar hanya mendengarkan murottal sambil tetap beraktivitas yang lain, lalu tahap berikutnya ia mulai mendengar sambil memegang hp dan ‘membaca’ ayat demi ayat dari hp saya. Selanjutnya, tanpa saya paksa, ia mulai minta untuk diperdengarkan Alquran, misalnya ketika akan tidur. Lama-lama, mendengar sambil mengikuti bacaan sang qori, dan setelah itu… ya jalani saja sesuai dengan tahapannya.

Yang amazed adalah ketika melihat Akhtar bisa membaca Alquran, tanpa pernah saya ajari. Walaupun masih jauh dari sempurna hukum-hukum tajwidnya, bahkan masih suka salah membaca harakat-nya, tapi Akhtar sudah bisa membaca huruf demi huruf, hingga selesai satu ayat… dua ayat… dst.

Puncaknya adalah ketika awal November 2017 lalu, Akhtar mampu membaca 1 juz Alquran, yaitu juz 30. Saya pikir, ia bisa melakukannya karena hapal. Tapi ketika saya tantang untuk tasmi tanpa membaca, katanya “Akhtar ga hapal kalau ga baca”, terutama untuk surat-surat yang cukup panjang. Ma syaa Allah… laa quwwata illa billah… sesungguhnya saya ga melakukan apapun untuk membuat Akhtar seperti itu. Murni, semuanya atas pertolongan dan kasih sayang Allah.

Kadang-kadang saya perhatikan juga bacaan Akhtar. Untuk beberapa kesalahan, ia enggan dikoreksi, tapi sekarang jika sedikit-sedikit saya koreksi, ia menerima. 

Sekarang, hapalannya sudah lebih banyak dari saya. Bahkan Akhtar juga hapal potongan ayat-ayat yang sering ia dengar, yang tersebar di beberapa surat dalam Alquran. Duh rasanya malu kalau kita ga bersikap yang sama terhadap Alquran. Kini, hapalan saya mandeg, tilawah pun belum rutin jadwalnya.

Mungkin ini baru tahap awal banget mendekatkan anak dengan Alquran. PR selanjutnya masih banyaaaak banget, terutama bagaimana membuat anak-anak kelak menjadikan Alquran sebagai rujukan pertama dan utama dalam menyelesaikan berbagai permasalahan hidup. 

Bismillah… 

Balita Tidak Boleh Diajari Membaca?

Leave a comment

Saya beprinsip untuk tidak terlalu dini mengajari Akhtar membaca. Apa urgensinya? Saya pikir. Bukankah lebih baik anak seusia itu diajari adab-adab baik yang akan menjadi kebiasaannya hingga dewasa? Mendekatkan anak dengan buku di usia dini bukan dengan mengajarinya membaca, tapiii.. dengan membacakannya buku.

Tapi… prinsip itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Akhtar (terlanjur) bisa membaca di usianya yang saat itu masih 3 tahun 2 bulan. Itu pun bukan saya yang mengajari, melainkan neneknya. Ada perasaan bersalah ketika melihat Akhtar diajari membaca, “Sudah.. sudah.. ga usah.. nanti aja.. masih terlalu kecil..”. Tapi toh saya melihat Akhtar menikmati proses belajarnya. Saya membuat banyak batasan agar Akhtar tidak terlalu sering diajari membaca. Namun anak-anak itu cepat sekali menyerap pelajaran. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mempelajari hal baru.

Setelah saya pikir ulang… rasanya ga ada salahnya anak balita bisa membaca. Ambil positifnya aja.. di waktu-waktu tertentu ia bisa menjadi pembelajar mandiri dengan memilih dan membaca buku yang diinginkannya. 

Bagi Anda yang ingin mengajari anak membaca di usia dini, saya ingin berbagi sedikiiit tips berdasarkan pengalaman saya. 

1. Niat

Setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya kan? Periksa dulu niat di hati masing-masing, dengan tujuan apa mengajari anak usia dini membaca? Kalau hanya untuk menuai pujian atau membuat anak terlihat menonjol dibandingkan anak lain, urungkan dulu niat untuk mengajari mereka membaca.

2. Beri Rangsangan yang Tepat

Anak-anak tidak ujug-ujug tertarik pada sesuatu kalau sebelumnya kita tidak mengenalkannya pada hal tersebut. 

Sebenarnya, menurut saya rangsangan yang paling tepat agar anak mau belajar membaca adalah dengan mengenalkannya pada buku, rutin membacakannya, dan memperlihatkan budaya senang membaca di hadapannya. 

Di samping itu, kita bisa menempel poster huruf-huruf agar anak bisa mulai mengenal simbol huruf dan ‘membacanya’ setiap saat.

3. Metode yang Tepat

Setiap orangtua yang mengamati perkembangan anaknya, pasti paham metode belajar seperti apa yang cocok diterapkan pada anaknya.

Dalam hal membaca, Akhtar pakai buku belajar membaca yang disusun neneknya untuk mengajari murid-murid kelas 1 di sekolah. Jadi, Akhtar belajar sambil duduk manis memerhatikan buku.

Anak yang lain mungkin belajar sambil bergerak, loncat-loncat, berkisah, crafting… de el el. Orangtua masing-masing yang paling tahu kan :)

4. Jangan Dipaksa

Menurut saya ini poin yang paling penting. Jangan memaksa anak pra sekolah, apalagi anak usia dini, belajar membaca kalau mereka tidak ingin. Jangan membanding-bandingkan satu anak dengan yang lain. Jangan baper kalau lihat anak seusia anak kita memiliki kemampuan yang tidak dimiliki anak kita. Fokus aja pada perkembangan anak kita, dengan terus memberi rangsangan yang tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

5. Sebisa mungkin, anak diajari membaca oleh orangtuanya sendiri.

Menurut saya, hal itu memberikan beberapa keuntungan, diantaranya: Membangun kedekatan orangtua dengan anak. Trus HEMAT cuy.. haha. Daaan… keuntungan yang tidak terhitung adalah… pahala yang tidak terputus jika si anak menggunakan kemampuannya untuk kebaikan. Iya… amal jariyah dari ilmu yang bermanfaat kan? :)

Maka, setelah anak bisa membaca, tugas kita berikutnya adalah mengarahkan anak untuk membaca ilmu-ilmu yang baik saja, antara lain dengan memfasilitasinya dengan buku-buku yang bermanfaat untuk kehidupan dunia, terutama akhiratnya.

***

Okey… panjang ya… Haha…

Kalau sedikit saya simpulkan…

Buku itu katanya jendela dunia, kuncinya adalah dengan membaca. Tapi sekedar ‘bisa membaca’ tidak menjadikannya bisa menjelajahi dunia. Maka ajari mereka untuk mencintai ilmu, dan menjadi sebaik-baiknya manusia dengan ilmu tersebut. 

Buah Tangan dari Delatinos – Kajian Ust Fauzil Adhim

2 Comments

Ahad, 22 Mei 2016, untuk pertama kalinya ikut kajian keislaman sejak tinggal di Tangerang, semoga ke depannya bisa istiqamah mengejar ilmu ke berbagai majelis yang terjangkau dari sini.

Materi kajian di Masjid Al Aqsha Delatinos BSD ini disampaikan oleh Ust Fauzil Adhim, seorang penulis produktif yang concern dengan parenting islami. Temanya disesuaikan dengan momen Ramadhan yang sudah di depan mata, yaitu “Menyiapkan Anak untuk Ramadhan Terbaik”

Ada beberapa hal dari penjelasan beliau yang luput saya catat, namun poin utamanya tetap SAMPAI.
Bahwa… IMAN adalah sebaik-baiknya bekal dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

Kajian dibuka dengan penjelasan Surat Luqman Ayat 13.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَيَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ(13)

“….. Yaa bunayya… Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”

Ustaz mengupasnya dari sisi bahasa…
Yaa bunayya… adalah panggilan sayang kepada anak.
Laa… Janganlah… merupakan kata perintah… dalam hal ini adalah perintah untuk tidak menyekutukan Allah.
Kemudian, dilanjutkan dengan penjelasan, mengapa JANGAN menyekutukan Allah, karena merupakan kezaliman yang besar.

Nah, dalam konteks yang lain, urutan: panggilan sayang, diikuti kalimat perintah, disertai penjelasan menjadi formula yang powerful untuk menghujamkan pemahaman kepada anak, termasuk ketika mengajarkan berpuasa.

Sebelum anak berusia 7 tahun, yang menjadi fokus orangtua adalah:
● menanamkan Iman (cek lagi Rukun Iman), juga dengan membacakan kisah orang-orang shalih
● menyentuh/ menghidupkan hatinya
● menjadikan anak senang/ bangga kepada amal shalih, bukan membanggakan diri karena melakukan amal shalih yaa
menumbuhkan semangat mampu melakukan yang lebih baik, lagi dan lagi

Sudahkah anak memiliki sikap tsiqah kepada orangtua, sehingga kita lebih mudah menyentuh hati mereka? Hindarilah hati yang keras dan bicara yang melengking seperti suara keledai, seburuk-buruknya suara adalah suara keledai, seperti yang difirmankan Allah dalam QS Luqman ayat 19.

Sudahkah kita menyampaikan qaulan sadiida (perkataan yang benar), yaitu mengatakan kejujuran, tidak menghindari kebohongan, dan tidak menutupi kebenaran kepada anak?

Anak akan menunjukkan respek kepada orangtua jika orangtua memiliki kedekatan dengan anak-anak, senantiasa lah meluangkan waktu untuk anak-anak, serta memiliki kepedulian dan itikad-itikad baik kepada mereka.

*

Seringkali kita melihat orangtua yang sudah mengajarkan balita berpuasa. Boleh?

Boleehh…
Pada usia ini, orangtua sebanyak mungkin memberikan kabar gembira tentang Ramadhan dengan menunjukkan antusiasme kita menyambut Ramadhan. Orangtua bisa menawari anak, “Mau ikut shaum ga?”. Ingat… menawari bukan menyuruh. Tujuannya untuk mengajarkan anak tertib dalam hal ibadah.

Selain mengajarkan puasa yang secara harfiah diartikan sebagai ‘menahan lapar dan dahaga’, ada yang tak kalah penting untuk kita lakukan, yaitu menjaga Ramadhan agar tidak bergeser maknanya. Diantaranya dengan mengontrol PENGELUARAN KONSUMSI, lain hal dengan sedekah yang memang seharusnya diperbanyak yaaa…

Tipsnya? Tidak menyediakan makanan istimewa saat berbuka, sediakan makanan biasa seperti hari-hari di luar Ramadhan, sehingga anak belajar untuk tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, yang ‘lazim’ dilakukan orang-orang saat ini. Justru… istimewakan makan sahurnya, karena salah satu tantangan anak yang baru belajar shaum adalah sulitnya bangun sahur. Melibatkan anak mengambil keputusan menu sahur akan menjadi momen istimewa bagi anak.

Tapi setelah sahur, tak jarang ngantuk melanda bukan? Jangankan anak-anak, orang dewasa pun seringkali tidak bisa menahan kantuk apalagi setelah shalat subuh. Padahal tidur setelah subuh adalah hal yang tidak disukai. Salah satu akibatnya adalah perasaan tidak nyaman pada tubuh. Kalau ini terjadi pada anak-anak yang belajar puasa, mereka bisa tergoda untuk membatalkan puasanya karena merasa tidak enak badan.

Maka daripada ituuu… jagalah anak agar tidak tertidur saat melewati waktu syuruk, jaga agar tidak tertidur sampai dhuhur. Berikan mainan, tapiii bukan game online atau gadget yang melenakan yaa. Barulah boleh tidur siang sebelum/ setelah waktu dhuhur, mereka akan merasa bersemangat ketika bangun, sehingga ‘terselamatkan’ lah puasa mereka hari itu.

Berkaitan dengan gadget, yang paling penting bukan menjauhkan anak dari bendanya, melainkan menjauhkan anak dari kotorannya. Jauhkan anak dari konten-konten yang berbahaya, salah satu caranya dengan memproteksi gadget dengan aplikasi khusus atau settingan tertentu (Ustaz menjelaskannya secara teknis). Bekali anak dengan IMAN yang kuat, itulah sebaik-baik benteng pertahanan.

*

Anak-anak seringkali melontarkan pertanyaan ‘sederhana’ yang membuat orang-orang  dewasa terlonjak karena bingung harus menjawab apa. Termasuk jika ada anak yang bertanya, “Mi, kok dia makan siang-siang sih? Kenapa ga puasa?”

Nah, ini sih sudah naik ke level berikutnya. Setelah anak merasa bangga pada amal shalih, maka tugas ‘berat’ berikutnya adalah menumbuhkan semangat memperbaiki orang lain, menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ceritakan pahala besar yang Allah janjikan bagi orang yang mengajak orang lain pada kebaikan. Tanamkan pada diri anak untuk merasa tidak senang pada kezaliman, sekecil apapun, contohnya memotong antrian. Ketika hal-hal kecil seperti itu mampu mereka lakukan, maka akan lebih mudah mengajak mereka memperbaiki hal-hal yang lebih besar.

***

Belajar tentang Seks A La A La Kami

Leave a comment

Pekan ini Akhtar banyak belajar tentang bagaimana menjaga, maaf, alat kelaminnya. Sesuai dengan yang pernah saya baca di buku tentang mengajarkan seksualitas pada anak, saya secara terang dari awal menyebut alat kelaminnya ‘penis’, tidak dengan kata kiasan lain yang justru akan mengaburkan maknanya. Akhtar sendiri selama ini menyebutnya ‘pipis’ karena waktu pertama kali diperkenalkan kata itu, Akhtar belum bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas.

Sedari bayi saya sudah mulai mengenalkan konsep ‘malu’ sama Akhtar. Malu kalau ga pakai baju atau celana, malu kalau Mim keluar rumah ga pakai kerudung, malu kalau penisnya kelihatan orang lain. Hmm, saya kurang tau deh, apakah tepat saya mengajarkan seperti itu, tapi sekarang Akhtar suka bilang, “Malu ih ga pake baju” ketika melihat orang di rumah hanya mengenakan kaos dalam, misalnya. Tadi pagi bahkan dia ‘menegur’ neneknya yang hanya mengenakan ciput saat mau keluar rumah, “Nin malu ga pake kerudung” katanya. Tapi, sekedar mengenalkan saja, saya sendiri belum tegas menerapkannya, jadi masih ada kala Akhtar berlari-lari di dalam rumah setelah mandi tanpa berpakaian.

Semuanya berawal di suatu pagi di kamar mandi… dududu kayak mau cerita apa aja….
Kurang lebih saya bilang, “Penis Akhtar ga boleh dipegang dan dilihat sembarang orang, yang boleh hanya Mim, Pap, Nin, dan dokter kalau sedang memeriksa, tapi harus dalam pengawasan Mim… dll “. Saya jelaskan juga tentang batasan aurat laki-laki dan bagaimana bertindak kepada orang asing yang memegang bagian tubuh yang tidak seharusnya dipegang sembarang orang. Akhtar mengerti? Mungkin belum.

Namun ternyata, Akhtar mengingat baik kata-kata saya itu… dengan bahasanya sendiri yang belum terstruktur, Akhtar ‘menceritakan’ kembali sedikit yang sudah saya jelaskan. Akhtar sudah menceritakannya berulang-ulang setiap sesi kamar mandi. Terlepas dia paham atau tidak, yang penting saya sudah menyampaikan, tinggal memahamkan.

Di hari berikutnya, saya mulai terapkan lebih tegas aturan menutup kamar mandi ketika mandi/ pup/ pee dan mengharuskan berpakaian di kamar. Pada kali pertama menutup kamar mandi saat mandi, Akhtar senang sekali, karena dia mendengar suaranya bergaung setiap berbicara. Hal ini memudahkan sekali, karena pada kesempatan berikutnya Akhtar sendiri yang meminta menutup kamar mandi dan menguncinya dari dalam.

Lalu sehabis mandi, saya pakaikan handuk di dalam kamar mandi dan langsung bawa Akhtar ke kamar untuk berpakaian. Sebelumnya saya masih memberi kelonggaran Akhtar mau berpakaian dimana, tapi kali ini saya paksa Akhtar masuk kamar untuk berpakaian.

Nah tadi pagi, dia keukeuh nongkrong di depan TV setelah mandi lalu membujuk saya memakaikan baju disana. Saya bilang, “Ya udah kalau gak mau di kamar, Mim ga pakein baju” lalu saya duduk di meja makan sambil cemal cemil.

Semenit dua menit dia masih bertahan di depan TV menonton acara favoritnya, di menit berikutnya Akhtar mengajak saya ke kamar dan meminta dipakaikan baju. Saya tersenyum penuh kemenangan.

Tapi saya belum boleh berpuas diri.. masih banyak, banyaaak sekali PR saya untuk membimbing Akhtar mencapai milestone yang seharusnya… yang pada umumnya… sudah dicapai anak seusianya. Yang lebih berat lagi adalah berusaha konsisten, tegas, dan sabar menerapkan aturan yang sudah diajarkan.

** Semangat Mim… Semangat Akhtar…**

Older Entries