Balita Tidak Boleh Diajari Membaca?

Leave a comment

Saya beprinsip untuk tidak terlalu dini mengajari Akhtar membaca. Apa urgensinya? Saya pikir. Bukankah lebih baik anak seusia itu diajari adab-adab baik yang akan menjadi kebiasaannya hingga dewasa? Mendekatkan anak dengan buku di usia dini bukan dengan mengajarinya membaca, tapiii.. dengan membacakannya buku.

Tapi… prinsip itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Akhtar (terlanjur) bisa membaca di usianya yang saat itu masih 3 tahun 2 bulan. Itu pun bukan saya yang mengajari, melainkan neneknya. Ada perasaan bersalah ketika melihat Akhtar diajari membaca, “Sudah.. sudah.. ga usah.. nanti aja.. masih terlalu kecil..”. Tapi toh saya melihat Akhtar menikmati proses belajarnya. Saya membuat banyak batasan agar Akhtar tidak terlalu sering diajari membaca. Namun anak-anak itu cepat sekali menyerap pelajaran. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mempelajari hal baru.

Setelah saya pikir ulang… rasanya ga ada salahnya anak balita bisa membaca. Ambil positifnya aja.. di waktu-waktu tertentu ia bisa menjadi pembelajar mandiri dengan memilih dan membaca buku yang diinginkannya. 

Bagi Anda yang ingin mengajari anak membaca di usia dini, saya ingin berbagi sedikiiit tips berdasarkan pengalaman saya. 

1. Niat

Setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya kan? Periksa dulu niat di hati masing-masing, dengan tujuan apa mengajari anak usia dini membaca? Kalau hanya untuk menuai pujian atau membuat anak terlihat menonjol dibandingkan anak lain, urungkan dulu niat untuk mengajari mereka membaca.

2. Beri Rangsangan yang Tepat

Anak-anak tidak ujug-ujug tertarik pada sesuatu kalau sebelumnya kita tidak mengenalkannya pada hal tersebut. 

Sebenarnya, menurut saya rangsangan yang paling tepat agar anak mau belajar membaca adalah dengan mengenalkannya pada buku, rutin membacakannya, dan memperlihatkan budaya senang membaca di hadapannya. 

Di samping itu, kita bisa menempel poster huruf-huruf agar anak bisa mulai mengenal simbol huruf dan ‘membacanya’ setiap saat.

3. Metode yang Tepat

Setiap orangtua yang mengamati perkembangan anaknya, pasti paham metode belajar seperti apa yang cocok diterapkan pada anaknya.

Dalam hal membaca, Akhtar pakai buku belajar membaca yang disusun neneknya untuk mengajari murid-murid kelas 1 di sekolah. Jadi, Akhtar belajar sambil duduk manis memerhatikan buku.

Anak yang lain mungkin belajar sambil bergerak, loncat-loncat, berkisah, crafting… de el el. Orangtua masing-masing yang paling tahu kan :)

4. Jangan Dipaksa

Menurut saya ini poin yang paling penting. Jangan memaksa anak pra sekolah, apalagi anak usia dini, belajar membaca kalau mereka tidak ingin. Jangan membanding-bandingkan satu anak dengan yang lain. Jangan baper kalau lihat anak seusia anak kita memiliki kemampuan yang tidak dimiliki anak kita. Fokus aja pada perkembangan anak kita, dengan terus memberi rangsangan yang tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

5. Sebisa mungkin, anak diajari membaca oleh orangtuanya sendiri.

Menurut saya, hal itu memberikan beberapa keuntungan, diantaranya: Membangun kedekatan orangtua dengan anak. Trus HEMAT cuy.. haha. Daaan… keuntungan yang tidak terhitung adalah… pahala yang tidak terputus jika si anak menggunakan kemampuannya untuk kebaikan. Iya… amal jariyah dari ilmu yang bermanfaat kan? :)

Maka, setelah anak bisa membaca, tugas kita berikutnya adalah mengarahkan anak untuk membaca ilmu-ilmu yang baik saja, antara lain dengan memfasilitasinya dengan buku-buku yang bermanfaat untuk kehidupan dunia, terutama akhiratnya.

***

Okey… panjang ya… Haha…

Kalau sedikit saya simpulkan…

Buku itu katanya jendela dunia, kuncinya adalah dengan membaca. Tapi sekedar ‘bisa membaca’ tidak menjadikannya bisa menjelajahi dunia. Maka ajari mereka untuk mencintai ilmu, dan menjadi sebaik-baiknya manusia dengan ilmu tersebut. 

Buah Tangan dari Delatinos – Kajian Ust Fauzil Adhim

2 Comments

Ahad, 22 Mei 2016, untuk pertama kalinya ikut kajian keislaman sejak tinggal di Tangerang, semoga ke depannya bisa istiqamah mengejar ilmu ke berbagai majelis yang terjangkau dari sini.

Materi kajian di Masjid Al Aqsha Delatinos BSD ini disampaikan oleh Ust Fauzil Adhim, seorang penulis produktif yang concern dengan parenting islami. Temanya disesuaikan dengan momen Ramadhan yang sudah di depan mata, yaitu “Menyiapkan Anak untuk Ramadhan Terbaik”

Ada beberapa hal dari penjelasan beliau yang luput saya catat, namun poin utamanya tetap SAMPAI.
Bahwa… IMAN adalah sebaik-baiknya bekal dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

Kajian dibuka dengan penjelasan Surat Luqman Ayat 13.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَيَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ(13)

“….. Yaa bunayya… Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”

Ustaz mengupasnya dari sisi bahasa…
Yaa bunayya… adalah panggilan sayang kepada anak.
Laa… Janganlah… merupakan kata perintah… dalam hal ini adalah perintah untuk tidak menyekutukan Allah.
Kemudian, dilanjutkan dengan penjelasan, mengapa JANGAN menyekutukan Allah, karena merupakan kezaliman yang besar.

Nah, dalam konteks yang lain, urutan: panggilan sayang, diikuti kalimat perintah, disertai penjelasan menjadi formula yang powerful untuk menghujamkan pemahaman kepada anak, termasuk ketika mengajarkan berpuasa.

Sebelum anak berusia 7 tahun, yang menjadi fokus orangtua adalah:
● menanamkan Iman (cek lagi Rukun Iman), juga dengan membacakan kisah orang-orang shalih
● menyentuh/ menghidupkan hatinya
● menjadikan anak senang/ bangga kepada amal shalih, bukan membanggakan diri karena melakukan amal shalih yaa
menumbuhkan semangat mampu melakukan yang lebih baik, lagi dan lagi

Sudahkah anak memiliki sikap tsiqah kepada orangtua, sehingga kita lebih mudah menyentuh hati mereka? Hindarilah hati yang keras dan bicara yang melengking seperti suara keledai, seburuk-buruknya suara adalah suara keledai, seperti yang difirmankan Allah dalam QS Luqman ayat 19.

Sudahkah kita menyampaikan qaulan sadiida (perkataan yang benar), yaitu mengatakan kejujuran, tidak menghindari kebohongan, dan tidak menutupi kebenaran kepada anak?

Anak akan menunjukkan respek kepada orangtua jika orangtua memiliki kedekatan dengan anak-anak, senantiasa lah meluangkan waktu untuk anak-anak, serta memiliki kepedulian dan itikad-itikad baik kepada mereka.

*

Seringkali kita melihat orangtua yang sudah mengajarkan balita berpuasa. Boleh?

Boleehh…
Pada usia ini, orangtua sebanyak mungkin memberikan kabar gembira tentang Ramadhan dengan menunjukkan antusiasme kita menyambut Ramadhan. Orangtua bisa menawari anak, “Mau ikut shaum ga?”. Ingat… menawari bukan menyuruh. Tujuannya untuk mengajarkan anak tertib dalam hal ibadah.

Selain mengajarkan puasa yang secara harfiah diartikan sebagai ‘menahan lapar dan dahaga’, ada yang tak kalah penting untuk kita lakukan, yaitu menjaga Ramadhan agar tidak bergeser maknanya. Diantaranya dengan mengontrol PENGELUARAN KONSUMSI, lain hal dengan sedekah yang memang seharusnya diperbanyak yaaa…

Tipsnya? Tidak menyediakan makanan istimewa saat berbuka, sediakan makanan biasa seperti hari-hari di luar Ramadhan, sehingga anak belajar untuk tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, yang ‘lazim’ dilakukan orang-orang saat ini. Justru… istimewakan makan sahurnya, karena salah satu tantangan anak yang baru belajar shaum adalah sulitnya bangun sahur. Melibatkan anak mengambil keputusan menu sahur akan menjadi momen istimewa bagi anak.

Tapi setelah sahur, tak jarang ngantuk melanda bukan? Jangankan anak-anak, orang dewasa pun seringkali tidak bisa menahan kantuk apalagi setelah shalat subuh. Padahal tidur setelah subuh adalah hal yang tidak disukai. Salah satu akibatnya adalah perasaan tidak nyaman pada tubuh. Kalau ini terjadi pada anak-anak yang belajar puasa, mereka bisa tergoda untuk membatalkan puasanya karena merasa tidak enak badan.

Maka daripada ituuu… jagalah anak agar tidak tertidur saat melewati waktu syuruk, jaga agar tidak tertidur sampai dhuhur. Berikan mainan, tapiii bukan game online atau gadget yang melenakan yaa. Barulah boleh tidur siang sebelum/ setelah waktu dhuhur, mereka akan merasa bersemangat ketika bangun, sehingga ‘terselamatkan’ lah puasa mereka hari itu.

Berkaitan dengan gadget, yang paling penting bukan menjauhkan anak dari bendanya, melainkan menjauhkan anak dari kotorannya. Jauhkan anak dari konten-konten yang berbahaya, salah satu caranya dengan memproteksi gadget dengan aplikasi khusus atau settingan tertentu (Ustaz menjelaskannya secara teknis). Bekali anak dengan IMAN yang kuat, itulah sebaik-baik benteng pertahanan.

*

Anak-anak seringkali melontarkan pertanyaan ‘sederhana’ yang membuat orang-orang  dewasa terlonjak karena bingung harus menjawab apa. Termasuk jika ada anak yang bertanya, “Mi, kok dia makan siang-siang sih? Kenapa ga puasa?”

Nah, ini sih sudah naik ke level berikutnya. Setelah anak merasa bangga pada amal shalih, maka tugas ‘berat’ berikutnya adalah menumbuhkan semangat memperbaiki orang lain, menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ceritakan pahala besar yang Allah janjikan bagi orang yang mengajak orang lain pada kebaikan. Tanamkan pada diri anak untuk merasa tidak senang pada kezaliman, sekecil apapun, contohnya memotong antrian. Ketika hal-hal kecil seperti itu mampu mereka lakukan, maka akan lebih mudah mengajak mereka memperbaiki hal-hal yang lebih besar.

***

Belajar tentang Seks A La A La Kami

Leave a comment

Pekan ini Akhtar banyak belajar tentang bagaimana menjaga, maaf, alat kelaminnya. Sesuai dengan yang pernah saya baca di buku tentang mengajarkan seksualitas pada anak, saya secara terang dari awal menyebut alat kelaminnya ‘penis’, tidak dengan kata kiasan lain yang justru akan mengaburkan maknanya. Akhtar sendiri selama ini menyebutnya ‘pipis’ karena waktu pertama kali diperkenalkan kata itu, Akhtar belum bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas.

Sedari bayi saya sudah mulai mengenalkan konsep ‘malu’ sama Akhtar. Malu kalau ga pakai baju atau celana, malu kalau Mim keluar rumah ga pakai kerudung, malu kalau penisnya kelihatan orang lain. Hmm, saya kurang tau deh, apakah tepat saya mengajarkan seperti itu, tapi sekarang Akhtar suka bilang, “Malu ih ga pake baju” ketika melihat orang di rumah hanya mengenakan kaos dalam, misalnya. Tadi pagi bahkan dia ‘menegur’ neneknya yang hanya mengenakan ciput saat mau keluar rumah, “Nin malu ga pake kerudung” katanya. Tapi, sekedar mengenalkan saja, saya sendiri belum tegas menerapkannya, jadi masih ada kala Akhtar berlari-lari di dalam rumah setelah mandi tanpa berpakaian.

Semuanya berawal di suatu pagi di kamar mandi… dududu kayak mau cerita apa aja….
Kurang lebih saya bilang, “Penis Akhtar ga boleh dipegang dan dilihat sembarang orang, yang boleh hanya Mim, Pap, Nin, dan dokter kalau sedang memeriksa, tapi harus dalam pengawasan Mim… dll “. Saya jelaskan juga tentang batasan aurat laki-laki dan bagaimana bertindak kepada orang asing yang memegang bagian tubuh yang tidak seharusnya dipegang sembarang orang. Akhtar mengerti? Mungkin belum.

Namun ternyata, Akhtar mengingat baik kata-kata saya itu… dengan bahasanya sendiri yang belum terstruktur, Akhtar ‘menceritakan’ kembali sedikit yang sudah saya jelaskan. Akhtar sudah menceritakannya berulang-ulang setiap sesi kamar mandi. Terlepas dia paham atau tidak, yang penting saya sudah menyampaikan, tinggal memahamkan.

Di hari berikutnya, saya mulai terapkan lebih tegas aturan menutup kamar mandi ketika mandi/ pup/ pee dan mengharuskan berpakaian di kamar. Pada kali pertama menutup kamar mandi saat mandi, Akhtar senang sekali, karena dia mendengar suaranya bergaung setiap berbicara. Hal ini memudahkan sekali, karena pada kesempatan berikutnya Akhtar sendiri yang meminta menutup kamar mandi dan menguncinya dari dalam.

Lalu sehabis mandi, saya pakaikan handuk di dalam kamar mandi dan langsung bawa Akhtar ke kamar untuk berpakaian. Sebelumnya saya masih memberi kelonggaran Akhtar mau berpakaian dimana, tapi kali ini saya paksa Akhtar masuk kamar untuk berpakaian.

Nah tadi pagi, dia keukeuh nongkrong di depan TV setelah mandi lalu membujuk saya memakaikan baju disana. Saya bilang, “Ya udah kalau gak mau di kamar, Mim ga pakein baju” lalu saya duduk di meja makan sambil cemal cemil.

Semenit dua menit dia masih bertahan di depan TV menonton acara favoritnya, di menit berikutnya Akhtar mengajak saya ke kamar dan meminta dipakaikan baju. Saya tersenyum penuh kemenangan.

Tapi saya belum boleh berpuas diri.. masih banyak, banyaaak sekali PR saya untuk membimbing Akhtar mencapai milestone yang seharusnya… yang pada umumnya… sudah dicapai anak seusianya. Yang lebih berat lagi adalah berusaha konsisten, tegas, dan sabar menerapkan aturan yang sudah diajarkan.

** Semangat Mim… Semangat Akhtar…**

Akhtar dan Gadget

Leave a comment

image

Salah satu kesalahan saya dalam hal pengasuhan Akhtar adalah terlalu dini memperkenalkannya pada gadget (baca: ponsel pintar, khusus untuk tulisan ini). Akhtar sudah berinteraksi dengan aplikasi di gadget sejak sebelum berumur 1 tahun.

Bukan karena saya tidak tahu akibat buruknya -saya termasuk yang rajin membaca artikel-artikel parenting sejak sebelum Akhtar lahir- namun saya lah yang mudah tergoda dengan ‘kemudahan’ dan ‘kepraktisan’ gadget sebagai pengganti pengasuh jika satu saat saya lelah, atau harus mengerjakan hal lain, atau males… #eh

Memang bukan hal-hal yang buruk yang saya sajikan dari gadget, banyak hal baik juga yang didapat Akhtar, semisal kosakata yang bertambah, tahu alfabet dan huruf-huruf hijaiyah, pengetahuan tentang bentuk dan warna, hapal beberapa asma Allah, dll, namun itu seharusnya tidak menjadikan alasan bagi saya, sebagai orangtua, untuk memberikan gadget terlalu dini pada anak, karena aktivitas fisik (motorik) lebih mereka butuhkan daripada sekedar menatap layar gadget. Selain efek kecanduan yang mengerikan, hiiyyy…

Nah, akibatnya saya rasakan sekarang. Saya sebenarnya berusaha sangat membatasi Akhtar berinteraksi dengan gadget, belum tentu 1 minggu sekali, atau 2 minggu sekali. Intinya, sangat jarang. Namun, satu kali saja terpapar, maka saya butuh sekurangnya 2 hari untuk ‘menetralisir’ pikirannya agar tidak teringat mainannya di gadget.

Kasus terakhir terjadi 2 hari lalu. Saya sedang duduk dekat laptop sambil memainkan HP, ketika Akhtar menghampiri dan meminta bermain huruf-huruf dari laptop. Maksudnya, dia ingin mengetik huruf-huruf di aplikasi word, hal ini sudah beberapa kali dilakukan. Dia akan mengetikkan satu per satu huruf dari keyboard kemudian membaca huruf yang tertampil di layar.
Malam itu, cukup lama kami di depan layar karena saya pun membuatkan bentuk-bentuk di word. Akhtar hanya tinggal meminta mau bentuk apa dan warna apa, lalu saya buatkan. Lamaaa sekali ga bosan-bosan sementara malam semakin larut, dan saya semakin mengantuk. Akhirnya keluarlah ‘solusi pamungkas’ dari saya, “Akhtar, kita nonton video mobil-mobilan di kamar yuk” yang langsung ditanggapi Akhtar dengan cepat tanpa ba bi bu, dengan resiko yang sudah saya perkirakan sebelumnya diantaranya:

1. Akhtar nonton ga akan sebentar, artinya tidur akan lebih larut dari biasanya
2. Keesokan paginya ketika bangun Akhtar akan meminta nonton lagi, apalagi kalau memorinya sebelum tidur adalah sedang menonton video mobil
3. Tidurnya gelisah, bukan tak mungkin dia terbangun malam-malam dan langsung meminta menonton
4. Satu atau dua hari ke depan, Akhtar akan terus menerus meminta gadget, sangat mungkin menjadi rewel.

Oke lah… saya pikir, kali ini saja (beberapa kasus sebelumnya pun, saya selalu ‘berjanji’ seperti itu heuheu). Benar-benar berpikir pendek saking ngantuknya.

Dan betul saja… Akhtar nonton sampai tertidur, lalu terbangun dini hari dan langsung menangis tantrum karena didapatinya HP sudah tidak ada ketika dia terbangun. Sampai subuh lah dia menangis. Siangnya pun sempat tantrum, total hari itu 3 kali, karena… meminta nonton tapi ga saya kasih. Ternyata lebih melelahkan menunggui anak menangis karena kita ga menuruti keinginannya daripada menahan sedikit kantuk seperti malam sebelumnya.

Di suatu titik, saya meledak dan meninggikan nada suara saya sampai sedikit menghempaskan tubuh akhtar ke tempat tidur… duh yang salah siapa? Pemicunya saya dan saya melampiaskan kesalahan pada anak yang ngga ngerti apa-apa.

Ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya sudah beberapa kali saya mengambil keputusan salah seperti itu, memberikan Akhtar gadget dan hasilnya kurang lebih seperti yang saya perkirakan di atas. Setelah kejadian, barulah saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi… yg ‘entah kenapa’ selalu saya langgar sendiri.

Entah kenapa?! Mikiiirrr, kalo kata Ca Lontong mah :p

Udah gitu aja…

**introspeksi**

“Ta Mim!”

Leave a comment

image

Pakai baju, ganti celana, “Ta Mim!”
Ambil minum, ambil makan, ambil sendok “Ta Mim!”
Gendong, ya Nabi a am aika, “Ta Mim!”
Dorong sepeda, “Ta Mim!”
Apa-apa Ta Mim…

Itu lah satu frase yang hampir dua minggu ini menjadi trending topic di rumah kami. Ta Mim, atau dalam bahasa manusia dewasa berarti ku Mim, atau sama Mim.

Sejak Akhtar berhasil disapih akhir Ramadhan yang lalu, atau sekitar pertengahan bulan Juli ini, ada 2 perasaan yang mendominasi saya.

Yang pertama, tentu saja lega. Alhamdulillah bisa tuntas menyusui Akhtar selama 2 tahun, bahkan lebih 1 bulan. Saya pun kembali melirik baju-baju lama, tapi masih bagus yang tidak berkancing depan, untuk saya pakai lagi. Dan tentu saja, saya juga bisa lebih leluasa meninggalkan Akhtar seharian jika ada keperluan.

Yang kedua, sedih. Sedih banget :( Bener banget berarti ‘teori’ teman saya, yang harus disapih itu sebenarnya bukan anaknya, tapi ibunya. Anak akan siap disapih kapan pun kalau ibu sudah siap menyapih. Saya makin mensyukuri nikmat menyusui justru setelah tidak menyusui. Betapa ternyata menyusui tidak hanya membuat anak nyaman, namun ibu pun nyaman. Karena ‘kangen’ menyusui itu, satu dua kali setelah disapih saya sendiri yang berinisiatif menyusui Akhtar, padahal Akhtar ga minta, untungnya ga keterusan haha…

Kesedihan lain karena berkurang lah salah satu ketergantungan Akhtar sama saya. Namun, ternyata Akhtar meminta perhatian dalam bentuk lain, yaitu “Ta Mim!”. Apa-apa harus Mim yang melakukan. Bahkan ke WC pun satu dua kali saya pernah membawa Akhtar karena dia sama sekali ga mau ditinggal.

Memang Ta Mim ini tidak terjadi sepanjang hari sepanjang waktu, namun semenjak disapih intensitasnya meningkat signifikan. Mungkin secara naluri Akhtar tahu ada ‘seseorang lain’ yang akan merebut perhatian saya, maka dia pun meminta perhatian dengan berlebihan, termasuk dengan mengamuk atau tantrum jika keinginannya tidak terpenuhi.

Percaya deh, saya udah mempraktikkan cara-cara menghadapi anak tantrum yang bertebaran dari banyak sumber di internet, hanya satu yang saya belum lulus, yaitu SABAR. Katanya, orang sabar, pantatnya lebar. Nah, saya belum cukup mampu melebarkan pantat untuk lebih sabar menghadapi Akhtar yang kadang-kadang sangat tidak bisa dipahami keinginannya. Maka sekali dua kali, sedikit bentakan pun akhirnya tak bisa saya tahan. Makanya, cooling down diperlukan dalam situasi ini. Saya menyingkir sejenak dari Akhtar sampai siap menghadapinya lagi, karena kalau tidak justru kekerasan dalam bentuk lain yang mungkin saya lakukan. Astaghfirullah…

Jadi, kalo satu saat Akhtar tantrum dan saya terlihat tidak peduli, sungguh bukan karena saya hanya memikirkan diri sendiri, tapi memang saya butuh waktu untuk meredakan emosi saya yang sudah pada puncaknya #curhat#

“Ta Mim!” ini lama-lama menjadi nyanyian yang terdengar merdu di telinga, apalagi kalau diucapkan Akhtar dengan suara dan langgam khasnya.

“Ta Mim… Ta Mim…” :D

Belajar Melalui Poster

Leave a comment

Sebagai penggemar Asma Nadia, saya mengoleksi banyak sekali buku beliau. Salah satu yang saya suka adalah buku Catatan Hati Bunda yang justru saya beli jauh sebelum menikah dan memiliki anak.

*Sebenarnya saya kurang yakin, yang akan saya ceritakan di tulisan ini tuh bagian dari buku Catatan Hati Bunda, atau buku Asma Nadia yang lainnya, kebetulan saat ini tidak sedang menyimpan bukunya di rumah kontrakan, hehehehe… *

Back to topic…

Setelah menikah, sebelum Akhtar lahir, saya menyempatkan diri membaca lagi buku itu. Ada satu bahasan menarik yang sangat melekat di ingatan saya, yaitu tentang poster, atau apapun itu yang ditempel di dinding.

Jadi, Mba Asma Nadia ini menggunakan poster sebagai salah satu media yang mudah dan murah untuk belajar anak-anak. Poster bisa menjadi bahan cerita yang tak akan habis-habisnya, seandainya orangtua ataupun pengasuh tidak punya bahan obrolan lagi untuk anak. Melalui satu poster yang sama, anak-anak bisa belajar hal yang baru setiap hari.

Kok bisa?

Misal, kita tempelkan poster gambar hewan. Hari ini mungkin anak akan belajar mengenali berbagai macam hewan, besok mungkin anak akan belajar tentang warna-warna bulu hewan, hari berikutnya mungkin anak akan belajar menghitung jumlah kaki hewan, dst dst…

Sebenarnya tidak harus poster, apapun bisa ditempel dinding, termasuk struk belanja mungkin? Atau daftar menu keluarga? Yang pasti salah satu tujuan penggunaan poster ini juga untuk merangsang anak ‘membaca’ setiap hari, setiap saat. Bahkan hasil belajar origami yang tak seberapa jelek ini pun saya tempel di dinding. Ngikik… hihi…

image

Nah, saya pun mencoba menerapkan ini di rumah. Dimulai dari menempel apa yang sudah tersedia, yaitu peta dunia dan peta Indonesia yang dimiliki suami jauh sebelum menikah. Tak sengaja, lewat depan rumahmu menemukan lipatan peta ini di antara tumpukan dokumen-dokumen bekas, ya sudah saya tempel sebagai pengganti wallpaper di ruang keluarga dan ruang tidur. Sekalian juga saya belajar geografi :D

image

Sebelum menempel peta itu, di rumah sudah tertempel pula poster hewan dan buah-buahan peninggalan penghuni lama rumah ini. Untuk seusia Akhtar, saya amati, dia hanya mengenali hewan yang wujudnya sudah pernah dia lihat langsung. Jadi, di poster hewan itu, Akhtar hanya mengenali kucing dan ayam.

image

Poster tidak mesti beli kok. Kita bisa membuatnya sendiri dengan modal kertas bekas dan spidol. Seperti poster alfabet, huruf hijaiyah, dan angka-angka ini yang saya buat di belakang kalender bekas.

image

Saya sebenarnya punya prinsip untuk tidak terlalu dini ‘memaksa’ anak belajar membaca, kecuali jika anaknya yang berminat dan meminta belajar. Tujuan dibuatnya poster huruf-huruf ini agar anak tidak asing dengan bentuk huruf dan angka, selain karena saya tidak pandai menggambar apapun selain huruf-huruf ini bhihihihi. Kalau dengan poster ini kemudian anak jadi hafal huruf, itu bonus, bukan tujuan utama.

Pun tanpa saya ajari, Akhtar sudah mengenali beberapa huruf alfabet dan hijaiyah, modalnya hanya poster dan nyanyi-nyanyi tanpa lelah… fiuh…

Nah, siapa yang sudah mempraktikannya di rumah? Mari berbagi pengalaman :)

[Buku] Pendidikan Anak Ala Jepang

5 Comments

image

Identitas Buku

Judul Buku : Pendidikan Anak Ala Jepang
Penulis : Saleha Juliandi dan Juniar Putri
Penerbit : Pena Nusantara
Cetakan : I, Oktober 2014
Tebal : xii + 173 halaman

***

Tuntas membaca buku “Pendidikan Anak Ala Jepang” membuat saya merasa, hmm… semakin miris dengan sistem pendidikan (formal) di Indonesia. Kapankah sistem pendidikan Indonesia akan menyamai atau, kalau boleh berangan-angan, melampaui Jepang, yang mana disana pendidikan karakter lebih dikedepankan daripada sekedar nilai-nilai mata pelajaran di atas kertas?

Rasa-rasanya sistem pendidikan kita tidak banyak berubah selama belasan tahun (atau puluhan tahun?) belakangan ini, kecuali perubahan kurikulum yang berganti hampir di setiap periode pemerintahan, itu pun kadang dibarengi pro dan kontra.

Tujuh belas tahun lalu, ketika mengikuti Ebtanas kelas 6 SD, kami sekelas mendapat contekan jawaban langsung dari wali kelas dan guru pengawas, dan saat ini pun masalah kebocoran soal UN atau contek menyontek massal sudah biasa menghiasi berita UN tiap tahun. Tapi toh tiap tahun berulang terus? Artinya tidak ada perbaikan? Itu hanya salah satu contoh persoalan saja. Persoalan lainnya? Bullying, pornografi, kekerasan guru terhadap murid, atau sesama murid, ah… makin panjang saja daftar kekhawatiran saya, membuat orangtua merasa semakin berat melepas anak-anaknya ke sekolah.

***

It takes a village to raise a child“, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Dan seperti itulah Jepang dalam membesarkan generasi mudanya. Tidak hanya orangtua dan guru yang mengambil peran mendidik dan melindungi anak-anak, orang-orang di lingkungan sekitarnya pun menempatkan diri sebagai pendidik dan pelindung anak-anak.

Misalnya, diceritakan di buku itu, ketika anak-anak SD berangkat sekolah, yang mana harus berjalan kaki dengan jalur tertentu, masyarakat yang dilalui dalam perjalanan menuju/ dari sekolah diberdayakan untuk menjaga anak-anak itu, demi memastikan keamanan dan keselamatan anak-anak hingga tiba di/ dari sekolah. Rasanya istimewa sekali ya jadi anak-anak di Jepang.

image

Diambil dari buku Pendidikan Anak Ala Jepang

Selain itu, di bawah ini saya catat beberapa hal unik, menurut saya, yang membedakan sekolah di Jepang dengan di Indonesia, pada umumnya:

Sekolah/ guru-guru disana menganggap semua anak pandai dan memiliki kelebihan masing-masing. Satu anak tidak dibanding-bandingkan dengan anak yang lainnya, maka tidak ada istilah si A lebih bodoh, atau si B lebih pantas mendapat hadiah, dsb, bahkan dalam suatu pesta olahraga antar siswa pun, semua siswa, tidak hanya yang jago di bidang olahraga, terlibat aktif dalam setiap perlombaan termasuk anak yang berkebutuhan khusus. Semua anak akan mendapat hadiah yang sama pada akhir acara, karena tujuan acara itu adalah untuk mencapai kesehatan bersama, lebih dari sekedar mencapai prestasi angka-angka.

image

Selain itu, sistem penilaian mereka di rapor tidak berupa angka dan tidak ada sistem rangking. Hanya ada 3 kategori nilai yaitu perlu ditingkatkan, bagus, dan sangat bagus. Tidak ada istilah tidak naik kelas, karena anak di’kelas’kan berdasarkan umurnya. Jika anak kurang bisa mengikuti pelajaran, maka tugas gurunya lah untuk membimbingnya secara khusus.

Anak-anak bersekolah harus di wilayah tempat tinggalnya, kalau di Indonesia setara kelurahan atau kecamatan kali ya? Karena jaraknya yang relatif dekat, maka anak-anak SD dst harus berjalan kaki ke sekolah. Sementara anak-anak TK naik jemputan. Hal itu sekaligus juga dapat mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya, mengurangi polusi, menghemat energi, dan membuat tubuh lebih bugar, kan?

Hmm, terpaksa saya harus membandingkannya lagi dengan Indonesia. Karena kadung ada persepsi sekolah unggulan, sekolah favorit, sekolah standar internasional, dan semacamnya, maka banyak orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya di sekolah dengan cap mentereng itu, dimanapun lokasinya.

Lagipula, sepertinya belum ada standar mutu tertentu untuk sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Jadi, sekolah yang bagus, sering memenangi perlombaan/ kejuaraan, fasilitasnya baik, dan lulusannya banyak diterima di sekolah unggulan di jenjang berikutnya itulah yang menjadi favorit, sayangnya predikat itu hanya disematkan pada sekolah-sekolah tertentu saja, sehingga terasa adanya kesenjangan antara satu sekolah dengan sekolah yang lainnya, padahal sama-sama dikelola oleh negara.

Tentang budaya masyarakat Jepang yang sangat senang membaca, ternyata karena sejak usia dini mereka sudah dikenalkan pada buku. Anak-anak di TK ataupun TPA dibacakan buku-buku cerita setiap hari. Dibacakan lho ya, bukan diajari membaca. Hmm, di Indonesia? Sayangnya, di usia TK anak-anak sudah ‘dipaksa’ belajar membaca, bahkan SD-SD tertentu mensyaratkan calon muridnya sudah bisa membaca sebagai syarat diterima di sekolah tersebut.

image

Poin berikutnya, guru menjadi profesi favorit dan bergengsi disana. Sebagai contoh, diungkapkan data bahwa perbandingan pelamar dengan kebutuhan guru TK disana adalah 4:1. Artinya, satu posisi profesi guru TK diperebutkan oleh 4 orang. Tidak dipaparkan sih di buku itu apa karena guru disana menerima tunjangan/ gaji yang besar atau bagaimana? Hanya katanya, hanya ada dua profesi yang pelakunya disebut sensei, yaitu profesi dokter dan guru. Guru disana pun mengajar muridnya dengan cara kreatif dan inovatif.

Selain itu mereka pun menjalin hubungan baik dengan para orangtua. Misal, pada awal tahun ajaran, guru kelas akan mengunjungi rumah muridnya satu per satu. Juga adanya buku penghubung yang menjelaskan perkembangan anak di sekolah, dan begitupun orangtua menuliskan kondisi anaknya di rumah.

Hal yang tidak umum terjadi di persekolahan Indonesia ya kan? Karena guru banyak yang lebih sibuk dengan urusan administrasi dan mengejar target menyelesaikan semua bahan pelajaran, sehingga terkesan kuantitas pelajaran lebih utama dibandingkan kualitas.

image

Di Jepang, sekolah tidak menyediakan kantin. Anak-anak membawa bekal dari rumah, atau sekolah yang menyediakan makan dengan standar kebersihan yang baik dan gizi yang seimbang.

Hal ini yang masih sangat sulit berlaku di Indonesia. Hal paling minimal yang bisa dilakukan sekolah kita adalah melarang anak-anak jajan di luar pagar sekolah dan menyediakan jajanan bermutu di dalam sekolah. Tapi jarang sekali saya menemukan sekolah yang di luar gerbangnya bersih dari pedagang jajanan.

Seharusnya pemerintah lebih concern terhadap hal ini, misalnya dengan mengeluarkan peraturan tertulis tentang larangan berjualan di sekitar gerbang sekolah, atau ada aturan dari sekolah yang melarang siswa jajan di luar gerbang sekolah. Karena bagaimanapun konsentrasi belajar siswa juga bisa dipengaruhi oleh apa yang masuk ke dalam perutnya.

***

Dan, banyak yang lainnya sebenarnya, tidak saya tulis satu per satu disini, membaca bukunya langsung akan lebih membuka wawasan.

Tapi, tidak ada yang sempurna di dunia ini, ya kan? Sebagus apapun sistem pendidikan Jepang, tetap ada celah yang mencederainya. Di buku lain yang berkisah tentang Jepang (lain waktu saya buat tulisannya juga ya), diceritakan masyarakat Jepang yang cenderung dingin dan kaku terhadap orang lain. Penulis di buku itu menceritakan bahwa ibu-ibu di Jepang cenderung dingin merespon anaknya yang jatuh. Di satu sisi, hal itu lah yang membentuk anak-anak Jepang menjadi pribadi pekerja keras dan ulet, namun, mungkin sikap dingin orangtua itu lah yang membentuk orang Jepang menjadi dingin dan kaku juga terhadap orang lain?

Selain itu, kita pun tak bisa menafikan fakta bahwa angka bunuh diri di Jepang sangat tinggi. Mungkin itu adalah ekses dari karakter mereka yang terlalu bekerja keras? Atau terlalu menuntut kesempurnaan? Atau karena kurangnya kehangatan di lingkungan sosial mereka? Sekali lagi, tidak ada yang sempurna, ya kan?

***

Kesimpulan dari saya sih, ambil yang baik, buang yang buruk.

Kita, orangtua, mungkin tidak bisa berbuat banyak menuntut sekolah (di Indonesia) berubah menjadi lebih ‘ramah anak’ atau menjadi ideal sesuai dengan yang kita impikan, tapi banyak hal yang bisa kita lakukan di rumah, yaitu dengan membekali anak dengan karakter baik yang kuat yang tidak mustahil akan mewarnai lingkungannya, termasuk lingkungan sekolahnya. Karena, tetap, sebagus apapun sekolah, orangtua lah yang paling bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anaknya.

-selesai-

Older Entries