Sepatah Kata Maaf untuk Sahabat

2 Comments

Aisha memelukku erat sekali, air matanya mengambang, dengan susah payah ia menahannya agar tak jatuh. Dalam pelukannya aku tersedu.

“Aku akan baik-baik saja, sudah ya”, Aisha berusaha menghibur sambil mengusap-usap punggungku. Entah siapa sebenarnya yang lebih perlu dihibur.

Sambil menatapku dalam, Aisha berkata, “Ditta, kamu sahabat terbaikku selama ini. Jaga diri baik-baik ya. Jangan terlalu pendiam dan tertutup. Aku tahu potensimu besar sekali di bidang tulis menulis. Tunjukkanlah! Aku, memulai lembaran baruku di Inggris… Aku… ” Aisha tak menyelesaikan kalimat terakhirnya. Air matanya tak terbendung, tangisnya pecah.

“Aku ga bisa bawain apa-apa buat kamu, tapi camilan favoritmu ini selalu berhasil membuatmu rileks kan?” Aku memaksakan diri tersenyum sambil menjejalkan sebungkus Mister Potato ke dalam tasnya.

wpid-20140530_191928.jpg

 

“Makasih Ta. Ini… Kamu pernah bilang suka banget foto ini kan?” Aisha mengeluarkan selembar foto dari saku jaketnya.
“Suatu saat nanti kamu menyusulku kesana ya?”

***

Di bawah penerangan lampu meja di kamarku, aku mengamati foto itu.

wpid-article-2107297-11f2f79f000005dc-650_468x340.jpg

Big Ben

Beberapa kalimat tertulis di baliknya:

Aisha, jika kamu ke Inggris, kamu tidak boleh melewatkan tempat ini. Big Ben adalah landmark dan ikon Kota London dan Negara Inggris. Big Ben adalah menara jam paling terkenal di seluruh dunia. Letaknya di timur laut Houses of Parliament. Kalau di Indonesia mungkin seperti gedung MPR/ DPR ya. Waktu pertama kali kesana, Kakak terpesona dengan keindahan bangunannya. Kakak memotret hampir setiap sudut Big Ben dan Gedung Parlemen. Foto terbaik Kakak kirimkan untukmu.
Ingat nggak… Dulu kita sering melihat berita di TV tentang perayaan pergantian tahun dari berbagai kota di dunia? Salah satunya di Big Ben ini. Akhir tahun ini Kakak berencana merayakan tahun baru disana… Yeaaayy…

Sampaikan salam sayang buat Mama dan Papa ya…

Kak Adam

*****

Inggris. Itulah mimpi Aisha sejak SMA.
“Aku ingin melanjutkan cita-cita Kakak”, pandangannya menerawang.

Kak Adam, kakak Aisha, adalah seorang yang cemerlang. Selepas S1, tampaknya mudah saja bagi Kak Adam memperoleh beasiswa S2 ke Inggris. Tapi, takdir berkata lain, jauh dari keluarga ditambah kegiatannya yang padat membuat Kak Adam abai akan kesehatannya sendiri, hingga dia meninggal karena maag kronis yang dideritanya. Sejak saat itu, Aisha ‘Si Otak Pas-Pasan’ begitu dia menjuluki dirinya sendiri, tampak lebih serius dalam banyak hal, terutama belajar.

“Semua buat Kak Adam. Juga buat Mama Papa yang bahkan belum sempat melihat Kakak wisuda”, katanya suatu hari.

“Oh ya, kamu udah pernah lihat ini belum Ta”, Aisha mengeluarkan file binder lalu mengambil foto yang terselip di cover bindernya.

wpid-74758353.jpg

Old Trafford

“Ini foto terakhir yang Kak Adam kirim. Waktu itu Kakak menonton langsung pertandingan Manchester United di Old Trafford. Stadion Old Trafford adalah stadion terbesar kedua di Inggris, setelah Stadion Wembley di London, daya tampungnya hingga 76 ribu orang. Ternyata Kota Manchester itu sendiri tidak terlalu besar Ta, sedikit lebih kecil dari Kota Bandung, tapi jumlah penduduknya hanya seperlima penduduk Kota Bandung. Bayangkan, pasti sepi ya disana. Tapi hebat ya, kota sekecil itu punya klub-klub sepak bola bergengsi yang tersohor ke seluruh dunia”, aku mendengarkan ceritanya dengan seksama, sesekali aku menimpalinya dan berdecak kagum.

***

Selama Kak Adam di Inggris, acapkali Aisha dikirimi kartu pos atau foto-foto perjalanan Kak Adam. Walaupun di era digital ini foto bisa dengan mudah dikirim lewat email atau media sosial, Kak Adam tak pernah absen mengirim foto cetak yang kemudian diberi catatan di belakangnya.

Aisha mengumpulkannya dalam satu album yang diberi judul ‘Jika Aku ke Inggris…’. Judul itu terinspirasi dari kalimat pertama Kak Adam yang selalu ditulis di balik foto atau kartu posnya, “Aisha, jika kamu ke Inggris…”. Seperti yang tertulis di belakang foto Buckingham Palace yang pernah Aisha tunjukkan padaku.

wpid-buckingham-palace-11.jpg

Buckingham Palace

Aisha, jika kamu ke Inggris, kamu harus ke Buckingham Palace, siapa tahu bertemu langsung pangeran impianmu? Kamu masih ingat? Dulu kamarmu penuh sekali dengan poster dan pin up Prince William? Sampai-sampai kamu bikin kliping berisi semua artikel tentang dia. Katamu itu akan dihadiahkan padanya jika nanti bertemu. Hahaha.
Disana juga kamu bisa buktikan sendiri, yang menjulang tinggi di atas kepala penjaga istana itu, topi atau rambut? Haha.
Kalau kesini, pastikan bertepatan dengan prosesi pergantian penjaga istana ya. Prosesi tersebut menjadi daya tarik tersendiri buat para wisatawan.

wpid-buckingham_palace_guards.jpg

***

Selepas SMA, masa kuliah kami jalani di kota berbeda. Dengan kegigihannya, Aisha lolos ke kampus teknik ternama di Bandung, kampus Kak Adam juga, hanya beda jurusan, sementara aku tetap di Jakarta.

Walaupun terpisah jarak, kami tak putus berkomunikasi. Jika Aisha pulang ke Jakarta pasti kami bertemu, bahkan beberapa kali aku pun berkunjung ke Bandung.

Satu kali kunjungan ke Bandung, Aisha mengajakku ke kampusnya. Dengan bangga, dia menjelaskan setiap gedung yang kami lewati selama berkeliling. Lalu kami berhenti di gedung fakultasnya.

“Lihat Ta, ini ada beasiswa ke UK, pengumumannya hampir selalu ada setiap tahun. Lihat foto-foto yang jadi latar belakang poster ini. Hanya foto ini yang belum pernah dikirimkan Kak Adam,” lalu Aisha menunjuk pada sebuah foto bangunan berarsitektur gothic di poster itu.

wpid-westminster_abbey.jpeg

Westminster Abbey

“Ini Gereja Westminster Abbey. Letaknya tak jauh dari Big Ben yang terkenal itu. Sejak ratusan tahun yang lalu, gereja ini digunakan untuk penobatan raja-raja Inggris. Disana juga terdapat makam raja-raja, bangsawan, ilmuwan, dan orang-orang terkemuka di Inggris.”

Aku melihat matanya berbinar-binar setiap bercerita tentang Inggris.

***

Pada liburan terakhir sebelum kelulusannya. Kami membuat janji bertemu di kafe favorit kami di Jakarta. Aisha bilang, ada kejutan kecil untukku.

Seperti biasa, aku datang terlebih dahulu dari waktu yang telah dijanjikan, dan memesankan minuman favoritnya. Biasanya, dia akan datang, lalu senang sekali melihat minuman favoritnya sudah siap, menyeruput setengah gelasnya, dan bercerita panjang lebar tentang kegiatannya. Aku hanya sesekali menimpali dan tertawa bersama ceritanya.

Aku mengunyah Smax Balls sambil menunggu pesanan datang. Tak lama setelah pramusaji menghidangkan minuman pesanan, Aisha datang. Namun dia tidak sendiri. Inikah kejutan kecilnya?

“Taaa… Aku kangen bangeet sama kamu. Kenalin ini Atma… Kakak angkatanku di kampus, tapi udah lulus dan kerja di Kalimantan, kebetulan lagi liburan”, cerocosnya, menyisakan aku yang masih melongo mencoba menyesuaikan diri dengan situasi yang berbeda ini.

Ini kali pertama kali Aisha punya teman dekat pria.

***

Aisha memang penuh kejutan. Setelah ‘kejutan kecil’-nya tempo hari, ternyata dia masih menyiapkan kejutan lain untukku. Suatu siang dia menelepon:

“Taaa… Dengerin baik-baik ya, tarik nafaaas… Lepaskan… Siap? Aku… Lolos … Beasiswa ke Inggriiiisss!! Aaaarghh… Inggris Taa” Aku ikut histeris bersamanya. Di ujung telepon sana Aisha semangat sekali menceritakan proses seleksinya, nyaris tanpa jeda.

“Aku nanti di London Ta. Kalau Atma kesana, dia bisa sekalian ke Stadion Stamford Bridge-nya Chelsea. Klub jagoannya! Pasti dia seneng banget.”

wpid-0__102683688547_00.jpg.jpeg

Stamford Bridge

“Kamu udah kasih tau Atma?”, aku memotong.

“Hmm, belum Ta, bahkan aku ikut tes pun Atma gak tahu, tapi kan dia tahu, betapa besaaarrr keinginanku kuliah disana, ini hanya akan jadi kejutan kecil untuknya.”

Ya, Aisha selalu berhasil dengan ‘kejutan kecil’nya.

***

Namun reaksi Atma tak terduga. Dia mempertanyakan keseriusan hubungan mereka. Mereka berdebat hebat. Kebetulan ada aku disana.

“Kalau kamu mau hidup di luar negeri, kamu harus tahu, Aisha, tahun depan aku mendapat kesempatan ke Amerika, aku ingin kita segera menikah, dan kamu ikut aku kesana.”

“Ini bukan masalah luar negeri, ini Inggris, impianku!” Aisha membantah, nyaris berteriak.

Sejak saat itu hubungan mereka dingin.

Beberapa bulan kemudian, Atma memutuskan untuk mengakhirinya, hanya satu minggu sebelum keberangkatan Aisha,
“… aku memilih yang lain”, jelas Atma, kali ini Aisha tidak bisa membantah.

***

Hari itu, dua hari sebelum berangkat, aku menemani Aisha berkemas-kemas seharian di rumahnya. Ia bercerita banyak hal, juga tentang rasa yang belum berubah pada Atma.

“Ta, aku selalu bercita-cita ke tempat ini sama Atma.” Aisha menunjuk gambar pada kartu pos yang tertempel di dinding dekat meja belajarnya.

wpid-lem_londoneye.jpg

“London Eye ini kincir yang bisa mengangkut hingga 800 orang dalam satu putaran. Ada 32 kapsul yang masing-masing bisa diisi hingga 25 orang. Bayangkan, betapa besarnya kan? Pasti menyenangkan sekali melihat London dari ketinggian bersama orang yang kita sayangi”.

“Tau ga Ta, aku merasa akan lebih baik-baik saja kalau hubungan kami berakhir karena alasanku ke Inggris, tapi berakhir karena Atma memilih yang lain terasa amat menyakitkan, Ta. Siapapun wanita yang dipilih Atma, dia pasti istimewa.”

Entah dengan cara apa aku bisa menghiburnya saat itu. Aku merasa bersalah, sangat bersalah.

***

Satu tahun berlalu sejak keberangkatan Aisha, beberapa kali ia mengirimiku foto atau kartu pos. Salah satunya foto di depan museum The Beatles ini:

wpid-beatles_story.jpg

The Beatles Museum

Ditta, aku berkesempatan ke The Beatles Museum akhir pekan lalu. Letaknya di Liverpool. Jarak tempuhnya sekitar tiga sampai empat jam dari London. Aku tidak bisa bercerita banyak soal museumnya, sepanjang kunjunganku kesana aku ingat Papa terus. Pasti Papa seneng banget kalau aku ajak kesana, disana Papa bisa lihat semua hal tentang The Beatles, grup musik favoritnya itu.

Semakin sering Aisha mengabariku dari Inggris, semakin ingin aku segera menemuinya disana. Bukan hanya ingin, tapi aku memang harus menemuinya, secepatnya.

***

Kesempatan itu datang, aku melihat blog contest yang diadakan Mister Potato. Aku menertawai diriku sendiri. Sementara Aisha sudah mencapai mimpinya di Inggris, aku masih saja blogger setengah hati yang belum menerbitkan satu pun karya monumental. Bahkan belum ada satu pun tulisanku yang menang kontes blog.

“Semoga aku menang… Aku tidak tahu dengan cara apalagi aku bisa menyusul Aisha selain dengan cara seperti ini” Aku bertekad membuat karya terbaikku.

Sepanjang menulis, Mister Potato selalu setia menemaniku. Renyah keripiknya membuatku lupa waktu.

tmp_20140530_193453(2)1782240317

Sesekali aku melihat-lihat kembali foto atau kartu pos yang pernah dikirim Aisha. Mencari inspirasi.

Ketika sampai pada bagian yang menjelaskan, kenapa aku harus pergi ke Inggris, aku tercenung, mengambil nafas panjang lalu mengetikkan, “…demi sepatah kata maaf untuk sahabat…”

*****

Tiga bulan kemudian…

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Heathrow, London, salah satu bandara tersibuk di dunia. Aku bernafas lega, menggeliat lalu melenturkan badanku ke kiri dan kanan. Kuatur jam tangan menyesuaikan waktu setempat. Karena sudah mulai masuk musim panas, maka perbedaan London – Jakarta akan mengikuti kaidah GMT+6 atau lebih dikenal dengan masa British Summer Time (BST).

wpid-5484218_201307290213082.jpg

Hangat menyapa rombongan kami di luar bandara. Aku membuka jaket tebal yang kupakai, kali ini aku sedikit salah kostum. Kupikir di Eropa, musim panas pun akan tetap dingin. Nyatanya di London tidak. Dari bandara kami langsung menuju hotel untuk beristirahat. Tur baru akan dimulai esok pagi.

***

“Kamu hebat Ta, jalan-jalan gratis karena menulis? Keren banget!”
“Semua berkat ini Sha,” sahutku sambil mengeluarkan sebungkus Mister Potato.
“Aaah… Mister Potatoo!!” Aisha memekik senang. Detik berikutnya, berbagai cerita mengalir dari mulut Aisha, sesekali dia tertawa, kemudian termenung ketika menceritakan Kak Adam. Satu kali ia masih mengenang Atma, namun segera mengganti topik pembicaraan.

Siang itu tujuan tur kami adalah kawasan Big Ben di Westminster. Anggota tur dibebaskan menjelajah kawasan itu selama beberapa jam. Aku menggunakan kesempatan itu untuk bertemu Aisha di sebuah kafe tak jauh dari kawasan Big Ben.

“Oh ya, kamu belum cerita nih, ada kabar terbaru apa? Ngomong-ngomong kamu terlihat lebih… lebiiih pendiam sekarang”, Aisha menggeser kursinya semakin rapat ke meja, lalu membetulkan rambut yang menutupi telinganya, wajahnya mendekat ke wajahku.

Aku menarik nafas panjang, “Aisha… aku akan menikah…”
“Oh ya?!? Kok kamu gak pernah cerita sebelumnya?” Aisha membelalakkan matanya.
“Selamat ya Ta… Seneng banget dengernyaaa”, dia menggenggam tanganku sambil mengguncang-guncangkannya antusias.
“…dengan Atma”, dadaku terasa sesak ketika mengatakannya.
“Aisha… Maaf…”, aku melanjutkan kalimatku.

Aisha melonggarkan genggamannya, sedetik kemudian melepaskannya. Suasana berubah canggung seketika.

Mister Potato masih tersisa banyak di kemasannya. Tapi Aisha sama sekali tak berselera menyentuhnya. Setiap detik berjalan sangat lambat.

“Oh ya Ta, ini”, Aisha merogoh tas tangannya, “Aku sengaja menyetaknya untukmu waktu tahu kamu mau kesini… Sebagai penggemar Harry Potter, kamu harus kesana melihat Platform 9 3/4 itu. Tapi jangan sekali-kali menubrukkan badanmu ke temboknya ya, kecuali kamu menerima undangan dari Hogwarts.. hehe”. Aisha tertawa kecil, hampir tak terdengar.

wpid-platform-9-and-3-4-at-kings-cross-station-kings-cross-station-london-london.jpg

“Iya Sha, tempat itu masuk ke itinerary tur kami. Besok kami kesana”

Setengah jam berikutnya, kami lebih banyak diam. Demi Tuhan, sedetik bersamanya dalam kecanggungan seperti ini rasanya memakan waktu seumur hidupku.

Tik… Tok. . . T i k .  .  . T  o  k .  .  .

“Teeenngg”, suara Big Ben terdengar menggelegar, memecah beku diantara kami.

“Sudah saatnya pergi, aku harus menemui Profesorku sore ini”, katanya sambil melirik jam tangan. “Kamu tahu Ta? Selepas menyelesaikan studiku aku berencana bekerja beberapa waktu disini”.
“Jangan lupa.. pulang… ke Indonesia ya…”, aku sedikit terbata.

Kami berpamitan, namun tak sehangat ketika bertemu tadi…

Aku belum beranjak dari tempatku berdiri, menatap punggung Aisha yang bersiap pergi namun juga tak kunjung melangkah. Tiba-tiba dia berbalik, dan melangkah mendekat, “Oh ya Ta… apapun yang membuatmu bahagia, aku bahagia. Aku sudah menemukan hidup baruku disini” dia merangkulku hangat, bersamaan dengan lelehnya cairan hangat dari sudut mataku…
“Aisha, maaf…”. Tak terdengar jawaban apapun dari mulutnya. Hatiku tergores, sakit sekali.
“Bye, Ditta…”, ujarnya sambil melambaikan tangan. Seulas senyum tipisnya nampak samar.

Maafkan aku, Sha!

* Tulisan ini diikutkan dalam Blog Contest Ngemil Eksis Pergi ke Inggris yang diadakan oleh Mister Potato
** Seluruh jalan cerita adalah fiksi

S E R P I H A N

Leave a comment

Sabtu pagi yang cerah tidak menunjukkan firasat apapun akan datangnya suatu kejadian yang sangat tidak terduga.

Dengan bersemangat, tidak seperti sabtu-sabtu yang lain, sebelum jam 7 pagi aku sudah berdiri di pinggir jalan menunggu bus Damri arah Bandara Soekarno-Hatta lewat.

Aku turun di terminal 2F setelah menempuh perjalanan 45 menit dengan Damri. Lalu berdiri bersama puluhan orang lain di depan pintu kedatangan.

Sekejap kulirik jam tangan di tangan kananku, “Masih setengah jam lagi”, batinku. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari tempat makan terdekat untuk sarapan. Ya, disana ada restoran siap saji cap bapak tua berjenggot, aku bergegas berjalan ke arah sana, ketika tiba-tiba, di depan pintu masuk restoran, dia melintas, dia, yang jaraknya tidak sampai lima meter dari cuping hidungku itu pun masuk ke restoran itu. Aku terpaku di tempatku berdiri, urung melangkah.

***

“Biiip… Biiip… “, suara SMS masuk itu sangat khas, sekaligus menggetarkan hatiku setiap kali mendengarnya. Aku semakin tenggelam di bawah selimut yang menutupi semua bagian tubuhku. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin digoda orang serumah kalau sampai ketahuan tengah malam begini ber-SMS ria dengan seseorang yang ratusan kilometer jaraknya dari sini.

Setiap SMS yang masuk sukses membuat senyumku mengembang, ingin rasanya menyimpan semua SMS itu, namun HP monokrom keluaran tahun 1990-an itu tidak mampu melakukannya. Terlebih HP itu milik Papa. Maka setiap SMS yang masuk darinya langsung saja kuhapus untuk menghilangkan jejak.

***

Dari tempatku mematung kulihat dia berdiri di depan kasir sambil menunjuk-nunjuk menu yang terpampang pada display di belakang kasir. Tak lama, transaksi selesai, dia berbalik seraya membawa nampan dan makanan pesanannya. Refleks aku memalingkan wajahku ke arah lain, gugup, kubenahi rambutku.

***

“Aku suka kamu”, ucapnya lembut, pada satu kesempatan saat dia datang ke kotaku.
“Ha?”, aku ternganga tidak percaya pada ucapannya barusan.
Umurku 17 tahun, tapi baru sekali ini rasa sukaku tidak bertepuk sebelah tangan.
“Iya, aku suka kamu”, dia mengulangi kalimatnya, kali ini dengan tatapan lebih dalam.
“Ya udah…”, kataku polos.
“Ya udah apa?”, sambutnya tertawa sambil berusaha menjawil pipiku, aku membalasnya.
Kami tertawa.

***

Aku masih terpaku di dekat pintu restoran, menyibukkan diri dengan ponsel layar sentuhku. Sesekali aku melirik ke arah dia yang duduk menghadap luar, namun tak sedikit pun menyadari keberadaanku.

***

Dua tahun berlalu, dan kami masih bersama.

Hingga sampai pada satu hari menyesakkan dimana dia menunjukkan surat pindah tugasnya.
“Jauh sekali?”, air mataku mulai mengambang.
“Iya”, jawabnya pendek sambil membuang nafas.
“Terus?”, tanyaku.
“Yaa… Pindah”, pandangannya menerawang.
“Terus… Kita?”, kejarku.
“Tunggu aku ya”, jawabnya yakin, “Pada saatnya nanti aku akan datang menemui orangtuamu, pasti!”
Jawabannya memuaskanku. Seketika itu juga air mataku tumpah.

***

Terlalu lama tenggelam dengan ponselku, tiba-tiba dia sudah tidak ada di tempat duduknya. Dahiku mengernyit sambil mata menelusuri setiap titik di dalam restoran itu. Oh itu, dia terlihat di wastafel, di pojok ruang restoran.

***

Tidak, tidak pernah ada kabar, satu tahun kemudian semenjak kepindahannya ke tempat tugas yang baru. Tiba-tiba nomor ponselnya tidak aktif. Putus kontak. Tapi aku menunggu, karena dia yang memintaku menunggu.

Dua tahun hingga tiga tahun berlalu, pun tanpa kabar darinya. Aku menunggu? Inginnya begitu.

***

“Sayang… Nunggu dari tadi ya?”, aku terhenyak, suara itu begitu dekat, bahkan nafasnya pun terasa membelai daun telingaku.
“Sembilan tahun! Kamu pikir sebentar?”, ujarku setengah bergumam.
“Hahahaha… Kamu makin lucu deh Sayang…”
Suara tawanya yang khas, aku menoleh, suamiku!
“Bang! Kok ga telepon sih kalau sudah landing?”, aku merangkulnya erat.

Dari balik punggung suamiku, kulihat dia keluar restoran menyambut seorang wanita dan anak laki-laki, mungkin berumur 5 tahun. Bertubi-tubi dia mendaratkan ciumannya pada bocah yang menggeliat sambil tertawa-tawa geli dalam pelukannya.

Aku memeluk suamiku semakin erat.
Air mataku menitik.
Perih.

*drama oh drama*
*inspired by bandara*

Cintaku Tertinggal di Toko Buku

5 Comments

“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya…. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Kebetulan yang menakjubkan.” — Tere Liye – Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah

… dan kebetulan itu bisa terjadi dimana saja, di moment-moment yang tidak terduga. Bisa saja di resepsi pernikahan seorang teman atau saudara, di acara reuni SMA, di pengajian remaja se-RW, di kegiatan Agustusan kelurahan, di tempat nge-gym, di mall, … hmm … abaikan yang terakhir, saya sudah pernah mencobanya dan gagal total, percayalah.
Lalu, sebagian orang mungkin bertemu jodohnya di tempat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bisa di kantor, atau di lingkungan rumah. Teman masa kecil tidak bisa diabaikan begitu saja kan?
Menyenangkan juga jika bertemu di tempat biasa kita melakukan hobi. Setidaknya kita sudah menemukan satu kesamaan tanpa melakukan usaha untuk mencarinya.
Di tempat-tempat lain juga bisa kan? Di acara seminar, di taman kota, di kolong jembatan, di tempat dugem, di ruang tunggu dokter, di kendaraan umum, di toko buku, atau … eits tunggu sebentar … toko buku?!
A ha! “Ide bagus … bertemu di toko buku”, saya mengangguk-angguk dan bergumam sendiri. Maka sejak memikirkan kemungkinan itu, selain karena doyan, saya punya misi khusus ke toko buku. HAHAHAHA #terbahakbahak.

Eh, tapi bagaimana pula orang sempat-sempatnya berpikir mencari jodoh di toko buku? Selama ini saja, saya biasanya hanya fokus pada rak-rak dan buku-buku yang saya cari. Sampai saya mengkhayalkan beberapa skenario seperti ini …

Di depan sebuah rak yang memajang buku-buku travelling, saya berdiri, sementara mata saya terus mencari buku tentang perjalanan keliling Eropa. Mata saya lalu tertumbuk pada satu buku di rak, baris kedua dari bawah, saya membungkuk dan hendak mengambil buku itu. Pada saat bersamaan ketika tangan saya hampir menyentuh sampul buku itu, sebuah tangan juga terjulur hendak mengambilnya. Saya urung mengambil, dan kembali ke posisi berdiri semula. Seorang pria muda berkulit sawo terlalu matang, si pemilik tangan yang terjulur itu sudah berdiri di hadapan saya.
“Suka travelling juga?”, sapanya ramah, sambil menjulurkan buku yang tadi hendak saya ambil.
“Iya”, jawab saya grogi, mengambil buku dari tangannya, ragu.
“Berencana keliling Eropa juga ya?”, tanyanya semakin ramah.
“Iya”, jawab saya tersenyum, masih terpesona dengan keramahannya.
“Rencananya mau kemana aja?”
… … …
dan kami pun mengobrol panjang lebar menceritakan rencana masing-masing, lalu melanjutkan obrolan seru itu di kafe dekat toko buku.

Ow ow … terlalu sinetron ya?

Atau bagaimana kalau skenarionya kayak gini …

Di antara rak majalah dengan rak buku-buku fashion, saya berjalan pelan sementara mata menelusuri rak majalah, tiba-tiba dari arah depan, seorang pria muda berjalan tergesa-gesa dengan mata tertuju pada buku yang sedang dibacanya. Dan … “Brak!!!”, kami bertabrakan. Dua buku yang saya pegang jatuh.
“Maaf … maaf … saya terburu-buru”, katanya sambil mengambilkan buku-buku saya yang jatuh.
Lalu, dia memerhatikan salah satu buku saya dan membaca judulnya. “Ah … ini dia yang saya cari dari tadi, di rak buku sebelah mana ya disimpannya?”, dia bertanya dengan mata yang tak lepas dari wajah saya.
Saya kikuk, lalu menunjuk salah satu rak di sudut belakang toko, “Ergh … disana”.
Matanya tetap tidak mengikuti arah telunjuk saya.
“Euhm, lagi ngga sibuk kan? Mau nunjukin langsung ngga dimana tepatnya?” Oooowh … senyumnya … saya tahu itu bermakna ‘lain’.
“Iya … boleh”, saya mengangguk pelan … memalingkan wajah ke arah lain dan tersenyum.
Eh … bukannya tadi dia bilang lagi terburu-buru?? Hush … abaikan!

Aduuh sinetron lagi!!!

Bagaimana kalau skenario yang ketiga ini:

Saya sedang asyik membaca di depan rak buku-buku Islam, ketika tiba-tiba seseorang menyapa, “Mbak …”
Seketika saya mendongak dan nampaklah di hadapan saya, seorang lelaki tersenyum sangat ramah. Sebelum sempat menjawab sapaannya saya terkesima melihat sekilas penampilannya. Kacamata berbingkai tipis membuatnya terlihat pintar (minimal ‘terlihat’ … hehehe), wajahnya bersih tanpa kumis dan jambang, rambutnya pendek dan rapi. Hemm, mungkin baru pulang kantor, karena dia masih mengenakan kemeja putih yang lengan panjangnya dilipat sampai bawah sikut, dia menatap saya tegas tapi lembut. Saya mencubit punggung telapak tangan saya sendiri,
“Ouch … sakit”, saya membatin, “Bukannya tadi saya sedang mengkhayal? Tapi yang di depan ini nyata, benar-benar nyata”
“I .. Iya, Mas?” saya menjawab tergeragap, berusaha tersenyum walaupun kaku.
“Mbak, udah nikah belum?” tanyanya kemudian.
“Apa??? Ya Tuhan, sungguh ini bukan mimpi, tapi tidak mesti secepat ini,” saya membatin, hati berdesir-desir.
“Mbak?”, tanyanya lagi, tak sabar menunggu jawaban saya.
“Be … belum Mas, belum … saya belum menikah!” saya menjawab dengan antusias, tiga kata ‘belum’ sekaligus. Saya tersenyum lebar, ekspresi saya sudah tidak terkontrol.
“Oh maaf, saya pikir sudah menikah. Tapi bisa dong dimintai pendapat? Diantara dua buku ini mana yang menurut Mbak lebih menarik?”, dia menunjukkan dua buku, kedua-duanya tentang wanita dan pernikahan masing-masing di tangan kanan dan kirinya, ah … kebetulan sekali, dua buku yang pernah saya baca. Ya … walaupun belum menikah, banyak buku pernikahan sudah saya lahap, habis!
Dalam hati saya melonjak-lonjak kegirangan. Cara pendekatan baru nih, setelah saya memilih salah satu buku itu, dia akan memberikan buku pilihan itu kepada saya.
“Mbak?”, tanyanya lagi, melihat saya hanya senyum-senyum sendiri.
“Yang ini aja Mas,” saya menunjuk buku di tangan kanannya, lalu dengan antusias (daaan … tidak terkontrol) menjelaskan dan membandingkan kedua buku itu.
“Ooh, ya ya … Oke kalau begitu. Terima kasih, Mbak, maaf sudah mengganggu”.
“Eh … sudah??” ekspresi senang saya seketika berubah jadi ekspresi heran, dan kecewa.
“Iya. Buku ini hadiah untuk istri saya, pasti dia suka. Terima kasih ya”, dia menjawab, dengan senyum terakhirnya yang paling manis, meninggalkan saya yang masih ternganga.

Ouuuhh … ssss**i**a**llll!

Sejak saat itu, saya mencoret “TOKO BUKU” dari list kemungkinan tempat-tempat menemukan jodoh.

Dalam Diam

Leave a comment

Pada waktu yang sudah kuperkirakan, dia turun dari angkutan kota di pinggir jalan beberapa meter dari depan warung kopi tempatku menunggu.

Sesaat dia merapikan baju dan rambut lurus sebahunya, mengeluarkan tongkat lipatnya dari dalam tas, lalu mengambil ancang-ancang hendak menyeberang.

Aku segera menghampirinya. Seperti menyadari keberadaanku, dia menengok ke arahku, lalu tersenyum, manis sekali. Tanpa basa basi, aku mengambil salah satu ujung tongkatnya, sementara dia memegang salah satu ujungnya yang lain.

Dan aku, menyeberangkannya.

***

Semua berawal dari sebulan yang lalu pada hari pertamaku masuk kantor baru, sebuah perusahaan penerbitan buku yang cukup berkembang sejak didirikan dua tahun terakhir. Beruntung, mereka mau menerimaku. Dengan berbekal pengalaman dalam organisasi kepenulisan dan rekomendasi dari seorang teman di organisasi tersebut, aku melamar sebagai staf editor. Mereka melakukan wawancara tertulis, langsung di depan calon atasanku. Aku diterima dan mulai bekerja sebulan yang lalu.

Pada hari pertamaku, aku berangkat lebih pagi dari jam kantor normal. Aku ingin memperkirakan berapa waktu perjalanan yang kubutuhkan dari kost sampai kantor, sekalian mengambil kesempatan melihat-lihat kantorku sebelum orang-orang datang.

Di sebuah warung kopi pinggir jalan, aku mampir sebentar hendak membeli sarapan. Ketika tak lama duduk, turunlah seorang perempuan dari sebuah angkutan kota. Rambutnya lurus terurai, mengenakan pakaian sederhana tapi pantas. Aku baru menyadari kesulitannya ketika dia berdiri mematung agak lama di pinggir jalan tanpa melakukan apapun. Beberapa kali dia berusaha menghentikan kendaraan dari arah kanannya namun tetap ragu melangkah. Aku menghampirinya. Menyadari ada orang di dekatnya, dia memintaku membantunya.

“Terima kasih”, ucapnya ketika kami sampai di seberang. Aku membiarkannya berjalan di depanku, lalu mengikutinya dari jarak beberapa meter untuk memastikan dia selamat sampai tempat tujuannya.

Di depan gedung sebuah lembaga kursus bahasa asing, dia berbelok dan masuk. Sesaat aku berdiri sampai dia menghilang di balik pintu, lalu berbalik arah kembali ke warung kopi pinggir jalan, dan bergegas menuju kantor baruku yang sebenarnya berlawanan arah dengan gedung dimana gadis itu masuk.

Aku tiba lima menit sebelum jam kantor, tidak ada waktu lagi untuk berkeliling melihat ruangan demi ruangan di kantor kecil itu. Tak apa, setidaknya aku berkesempatan membantu seorang gadis manis menyeberang jalan.

***

“Terima kasih”, aku tersadar setelah sampai seberang. Seperti biasa dia melemparkan senyum manisnya. Aku mengangguk dan balas tersenyum, seolah-olah dia melihatku. Lalu dia berjalan, dan seperti biasa aku mengikutinya beberapa meter di belakangnya.

Dan selalu begitu aktivitas pagiku sebulan terakhir. Aku menyandang status baru sebagai pengagum rahasianya. Tidak ada bincang-bincang atau sekedar bertanya kabar, lagi pula aku tidak punya cukup keberanian dan kemampuan untuk melakukannya, melihatnya tersenyum di pagi hari saja cukup memberiku energi untuk beraktivitas sepanjang hari.

Pada malam hari aku tidur lebih cepat. Selain untuk meredam rasa rinduku yang membuncah sampai ubun-ubun, aku ingin cepat malam berlalu sehingga bisa bertemu lagi dengannya di pagi hari.

*

Pada pagi yang lain, aku berangkat lebih cepat dari biasanya. Inilah saatnya, di tanganku aku menggenggam sebuah amplop berisi surat yang kutulis tangan. Hanya pertemanan yang ingin kutawarkan, walaupun aku tidak tahu bagaimana kami akan menjalani pertemanan ini.

Sudah setengah jam aku menunggu di warung kopi langgananku, dan dia belum juga nampak. Dengan gelisah kulirik jam tangan, seharusnya dia datang 15 menit yang lalu. Aku berdiri, berjalan ke pinggir jalan, lalu melihat ke arah biasa angkotnya lewat. Beberapa angkot melintas tanpa berhenti.

Jam 8 kurang 15 menit. Aku mendengus kesal, kembali ke warung, membayar sarapanku, lalu berjalan dengan gusar menuju kantor. Seharian itu aku murung.

*

Seminggu berlalu, gadis itu tidak pernah tampak lagi. Berbagai pikiran buruk mulai mengacaukanku. Apakah dia sakit? Atau dia sudah tidak berkegiatan di tempat kursus itu? Jangan-jangan kecelakaan, bukankah dia sering bepergian sendirian? Argh, tidak mungkin, aku menggeleng kencang.

*

Dua minggu hingga emapat minggu belalu, keadaan tidak banyak berubah. Aku masih menunggunya setiap pagi di warung kopi, menunggunya sampai lewat 15 menit dari jam biasa dia turun dari angkot, dan … selalu kecewa.

*

Hingga suatu pagi, hampir dua bulan sejak dia tidak pernah tampak lagi, seperti biasa aku mampir di warung kopi pinggir jalan. Sudah tidak ada lagi harapan tersisa. Setiap kali kesana, aku hanya duduk dan memandang kosong ke pinggir jalan.

Saat itu, aku hampir saja tersedak kopi susu ketika seseorang yang wajahnya sangat kukenal turun dari angkutan kota. Secara refleks aku berdiri hendak menghampirinya, tapi urung menyadari ada sesuatu yang berbeda padanya.

Dia turun dari angkot bersama seorang lelaki, mungkin pacarnya, dan nampak celingak celinguk seperti mencari seseorang. Dia menunggu agak lama di pinggir jalan sambil sesekali melihat jam tangannya.

Melihat? Dia bisa melihat!

Aku tidak tahan melihatnya lama-lama … melihatnya bersama laki-laki itu. Aku segera meraih ranselku.

“Euuaaa uu aaaa”, tanyaku pada ibu penjaga warung. Aku menunjuk pisang goreng dan mengacungkan dua jari tangan, lalu mengangkat gelas berisi kopi susu yang tidak tandas kuminum. Suara sengauku meracau, mencoba berkomunikasi.

“Empat ribu lima ratus”, jawab Si Ibu Warung, jari-jarinya ikut memberi isyarat. Aku mengeluarkan uang lima ribuan dan langsung keluar tanpa mengambil kembaliannya.

Aku tertegun sejenak di depan warung. Di seberang jalan sana dia berjalan bersisian dengan lelaki itu.

Ah … aku patah hati.

Hujan Datang Terlambat

1 Comment

image

Hujan terlambat datang hari itu.
Walaupun tidak ada satu pun dari kami yang mengharapkannya.

Hari itu libur yang teduh, saat yang paling tepat untuk berpiknik. Ibu sedari pagi menyiapkan keranjang berisi roti, buah-buahan, snack, dan jus mangga, serta merapikan tikar tipis yang terhampar di sudut ruangan keluarga. Tikar itu Ibu lipat seringkas mungkin agar bisa muat ke dalam keranjang piknik.

Andai hujan datang lebih cepat hari itu, walaupun kami tidak mengharapkannya.

Sungguh, hujan tidak akan sedikit pun mengurangi kebahagiaan kami. Iya, aku pasti sedikit kecewa, tapi tidak akan membuatku sedih berkepanjangan seperti saat ini. Hujan pada hari libur bisa menahan siapapun untuk tidak keluar rumah. Kami menciptakan kehangatan di dalam rumah untuk melawan udara dingin dari luar. Ada banyak permainan yang bisa kami lakukan.

Aku akan bersembunyi, sementara Ayah menghitung sampai 25, lalu dia berkeliling rumah mencariku, dan pura-pura tidak melihat bahkan ketika ujung bajuku menyembul dari balik pintu. Setelah bosan, aku akan menunggangi Ayah dan berusaha mengejar Ibu yang berteriak-teriak seolah-olah ketakutan. Aku semakin semangat memacu Ayah, kuhentak-hentakkan kakiku gembira, dan menepuk-nepuk bahu Ayah agar dia ‘berlari’ lebih kencang. Ketika Ayah meringis karena lututnya kesakitan, dia akan tergeletak di atas lantai sambil masih tertawa-tawa, lalu aku mulai menggelitikinya, dan tangannya dengan sigap menangkap tubuhku, dalam posisi yang masih terlentang diangkatnya aku dengan kedua telapak kakinya, jemari kami saling menggenggam, walaupun takut aku tetap tertawa-tawa gembira.

Tapi hujan datang terlambat hari itu. Ibu kehabisan mentega untuk mengoles roti piknik kami, Ayah dengan sigap keluar rumah menuju warung terdekat dengan sepedanya. Tiba-tiba gerimis turun, namun semakin lebat, dan Ayah belum kembali.

Ayah datang, tapi tidak sendiri. Sekelompok pemuda yang biasa duduk-duduk di gardu depan kompleks perumahan dekat jalan besar mengangkatnya beramai-ramai. Seonggok sepeda penyok dibawa seorang pemuda yang lain. Ayah tertidur dan tidak pernah terbangun lagi.

Hujan seharusnya datang lebih cepat … karena hanya hujan yang akan menahan Ayah di rumah hari itu.

#gambar diambil dari sini

Bukan ‘Tanggal’, Apalagi ‘Kurma’, tapi … ‘Kencan’ … ya … a DATE!

6 Comments

Hari itu, waktu bukan lagi milikku … tapi milikmu, sepenuhnya.

*
Hari ketigaku di Jakarta, berada di lantai 7 sebuah gedung di kawasan elit SCBD Jalan Sudirman membuatku leluasa mengedarkan pandang ke gedung-gedung di luar sana. Dari sekian banyak gedung yang terlihat menjulang di kejauhan, hanya satu yang menarik seluruh perhatianku … The Plaza Semanggi.

Sebaris pesan singkat itu membuat konsentrasiku bubar, sekaligus membuat mataku yang terkantuk-kantuk terbuka lebar. Di ruangan training ini, bahkan aku tak bisa menangkap sedikit pun materi yang disampaikan. Aku hanya bolak balik mengecek inbox di ponselku, memastikan jam dan tempat yang dijanjikan, “Sepulang kantor di Plaza Semanggi”. Ya … a date!
Sesekali aku menengok ke luar jendela, ke Plaza Semanggi yang terlihat sangat dekat.

Aku mematut-matut diri di depan cermin rest room kantor, sempurna. Kusunggingkan sebuah senyum pada bayanganku, “Cantik”, batinku.

Kulangkahkan kaki dengan percaya diri menuju halte taksi di depan gedung, hari ini adalah pertemuan keduaku dengannya. Pertemuan pertama terjadi beberapa bulan lalu, cukup mengesankan, dan menjadi lebih mengesankan ketika berkali-kali setelah itu dia menghubungiku lewat telepon, “Pasti dia terkesan padaku”, lagi-lagi aku membatin.

SMSnya tadi siang adalah SMS pertamanya setelah cukup lama dia tidak menghubungiku, tepat ketika aku baru 3 hari menetap di kotanya. Momentum yang sempurna, mungkin ini pertanda baik … ah … senyum itu tak bisa lepas dari wajahku. Jalanan macet yang seharusnya menyebalkan tidak menjadi alasan bagiku untuk mengeluh. Desiran di hatiku menjadi sensasi nikmat tersendiri ketika taksi ini perlahan-lahan membawaku ke Plaza Semanggi.

Dia disana! Dengan posisi memunggungiku ketika aku masuk ke restoran itu. Aku berjalan perlahan, sehingga sempat memerhatikan apa yang dia lakukan selama menungguku. Seorang pelayan menghampiri mejanya dan menyajikan dua gelas minuman di depannya, “Bagaimana dia tahu aku akan menyukai minuman yang dipesannya?”. Abaikan, dia sudah berusaha bersikap manis.

Kami tinggal berjarak dua langkah lagi, aku mulai membuka mulut, dan, “Hai!”, sapaku, dia menengok, dan di saat yang sama seorang perempuan cantik mendekati meja kami, “Ooh ini Putri yang kamu ceritakan itu Sayang? Halo Putri, kenalkan saya Andini tunangan Deo”.

Selanjutnya, aku tidak tahu apakah kakiku masih menginjak bumi …

*inspired by …. The Plaza Semanggi
Tulisan ini mengandung 29% fakta 66% fiksi dan 5% mimpi :P

I R O N I

Leave a comment

Aku memuntahkan hasil kerjaku hari ini dari plastik hitam lusuh yang kusembunyikan di balik kemeja belelku. Seketika bau amis menyeruak, eergh … lain kali aku tidak akan mengambil plastik bekas dari tong sampah penjual ikan mentah di pasar.

Tiga buah dompet tampak di depanku. Dua diantaranya terlihat lebih bagus daripada satu yang lainnya.

Kuambil salah satunya, “Hehm … mahasiswa”, kataku sinis ketika membaca kartu identitasnya. “Aku yakin orangtuanya akan menyesal jika tahu untuk apa uang-uang kirimannya digunakan”.
Dompet ini kuambil dari saku belakang celana seorang mahasiswa di bus 213 jurusan Grogol ketika si pemilik dompet asyik bertelepon membuat janji foya-foya di mal bersama temannya. Aku dapati uang 150 ribu rupiah dan beberapa kartu plastik di dalamnya.

Dompet berikutnya milik seorang karyawati cantik yang lengah di halte depan Kantor Polda Jalan Sudirman tadi siang. Dari pakaian dan cara berdandannya, aku yakin uang 200 ribu rupiah di dompetnya ini hanya bernilai satu hari gaya hidupnya. Sekitar 5 atau 6 kartu berlogo beberapa bank aku temukan juga di dalamnya.

Dompet ketiga … lusuh. Kuperkirakan isinya tidak lebih dari 50 ribu rupiah. Kukeluarkan 3 lembar uang 10 ribuan dan 4 lembar uang ribuan dari dalamnya. Ah, ini dompet seorang kuli bangunan yang tertidur di depan mushola dekat proyeknya tadi siang. Maaf, aku tahu uang 34 ribu rupiah ini sangat berarti bagimu, tapi … setidaknya kamu memiliki pekerjaan.

Total 384 ribu rupiah. Kukantongi uang itu dan kubuang dompet-dompetnya setelah terlebih dahulu membakar semua kartu di dalamnya.

384 ribu rupiah, lebih dari cukup untuk membeli sepasang baju baru dan sebuah buku iqra yang kujanjikan pada adikku jika ia menamatkan 30 hari puasa pertamanya tahun ini.

Aku melangkah keluar dari tempat persembunyianku di belakang salah satu kios di Pasar Benhil. Para pemburu takjil mulai memadati jalan di depan pasar. Aku membaurkan diri dengan mereka, ikut memburu takjil untuk aku dan keluargaku berbuka puasa sore ini.

Kemudian, kukeluarkan sebuah ponsel dari saku kemejaku, ponsel yang aku ambil dari tas seorang ibu di bus transjakarta tadi pagi. Kuhubungi nomor seseorang yang diberi nama ‘Ayah’ di phonebooknya. “Halo … iya … iya handphone ini sekarang aman di tangan saya, kapan saya bisa mengembalikannya?”.
Semoga kebaikanku mengembalikan handphone ini cukup untuk menghapus dosa-dosaku hari ini.

* inspired by Teh Botol