Jalan-Jalan ke Tamlan

Leave a comment


Tamlan atau TLL atau Taman Lalu Lintas atau Taman Ade Irma Suryani adalah salah satu taman bermain di Kota Bandung yang udah ngehits sejak saya masih TK, artinyaaa… sudah sejak 25 tahun yang lalu dong yaa… bahkan bisa jadi lebih tua lagi, karena saya ga hapal kapan resminya taman itu dibangun (cek masing-masing aja yaa ke google), bisa jadi sebelum saya lahir?!

Dulu itu, jalan-jalan ke Taman Lalu Lintas jadi semacam agenda wajib buat saya dan sepupu-sepupu ketika libur lebaran. Pilihannya hanya dua, ke Kebun Binatang Bandung atau Taman Lalu Lintas. Setidaknya tradisi tahunan itu masih berlangsung hingga saya SD kelas pertengahan.

Akhirnya, kemarin berkesempatan lagi mengunjungi TLL bersama anak-anak setelah dalam beberapa bulan terakhir ini TLL melakukan perbaikan dan pem”bagus”an pada beberapa bagiannya.


Sebelum kemarin, terakhir kali kesana adalah sekitar 3 tahun lalu, dalam rangka ikut kopdar Kumpulan Emak-Emak Blogger, kopdar pertama dan sekali-kalinya yang pernah saya ikutin semenjak suka nulis-nulis di blog.. haha.. maka tak pantas lah saya ini menyandang gelar “blogger”. Yang paling cocok adalah penulis buku harian digital aja :p

Keadaan TLL 3 tahun lalu dan hari-hari sekarang sungguh jauuuh berbeda. Yang paling berkesan dari kunjungan saya 3 tahun lalu, hmm tapi kesan buruk lho ya, adalah banyaknya tikar-tikar yang digelar begitu saja di area rumput/ tanah yang kosong, yang mana itu adalah tikar-tikar penjebak yang begitu kita mendudukinya, entah dari mana tiba-tiba si pemilik tikar akan langsung menghampiri dan minta uang sewa Rp 10.000, dan si terjebak ga bisa apa-apa kecuali (terpaksa) bayar.

Belajar dari pengalaman itu, tadinya saya hendak bawa tikar lipat sendiri dari rumah pas kunjungan kemarin, tapi urung dilakukan karena rempong cyin… dan ternyata melihat situasi disana sekarang, memang tikar itu kalaupun dibawa gak akan terpakai juga, karena: pertama, hujan… kedua, area taman yang dulu dipakai menggelar tikar sekarang dibatasi oleh tali-tali sehingga pengunjung tidak bisa masuk, entah akan seterusnya seperti itu, atau hanya sementara aja sampai renovasi selesai.

Salah satu bangunan baru yang mencolok adalah mushalla yang dibuat luasss… alhamdulillah yah, bisa tetap nyaman beribadah walaupun di tempat yang ramai. Berharap kebun binatang Bandung pun merenovasi mushallanya. Terakhir kesana setahun yang lalu kondisinya sungguh memprihatinkan :(

Kami sempat duduk-duduk sebentar di selasarnya untuk menghabiskan bekal makanan, lalu lanjut jalan-jalan keliling taman dimulai dengan jalan di atas jembatan yang cukup panjang.


Karena kami kesana hari Senin, jadinya sepiii… tapi sejujurnya saya lebih suka jalan pas sepi-sepi gini, jadi bisa puas menikmati pemandangan sekitar yang terlihat bersih dan asri. Kalau terlalu ramai… hmm… kita mafhum ya karakter orang Indonesia, -sedihnya- dimana ada kerumunan biasanyaaa disana pula akan ada sampah berserakan.

Dari jembatan, kami langsung menuju bagian belakang taman tempat kereta mini beroperasi. Disana kita (usia 2 tahun ke atas) harus membayar Rp 5.000/ orang untuk bisa naik wahana kereta mini. Walaupun kelilingnya ga jauh-jauh amat, yang penting anak-anak hepi :). Dari atas kereta itu pula, kami bisa melihat kolam renang yang masih dalam proses renovasi.

Setelah itu lanjuuut kita naik ke rumah pohon, yang jadi persinggahan terakhir kami sebelum pulang, pas banget nyampe di atas sana hujan turun semakin deras, jadi kita bisa berlama-lama duduk di rumah pohon yang nyaman sambil berteduh.

Hepi? Hepi dong… dan yang bikin hepi terutama karena melihat anak-anak menikmati kunjungannya kesana.

 

Advertisements

Akhtar dan Alquran

Leave a comment

Salah satu kasih sayang Allah untuk keluarga kami adalah dikaruniakannya kepada kami seorang anak yang cukup lekat dengan Alquran. 

Tentang pentingnya kelekatan anak dengan Alquran sebenarnya baru saya sadari beberapa waktu ini saja, sekitar 1+ tahun terakhir, sejak ikut belajar via whatsapp dengan salah seorang member Sabumi, yang anaknya sudah hapal beberapa juz sebelum usianya 7 tahun.

Beberapa usaha yang beliau lakukan diantaranya, selalu memperdengarkan murottal Alquran dalam setiap kesempatan dan menjaga pendengaran anaknya dari hal-hal yang tidak bermanfaat, maka dari itu bahkan di jalan pun si anak selalu diperdengarkan Alquran lewat music player.  

Wah… saya sih (waktu itu) belum segitunya sama Akhtar. Walaupun punya VCD murottal juz 30, ya hanya sesekali saja diputar. Malah waktu bayi lebih banyak diperdengarkan musik anak-anak berbahasa Inggris dari tablet (itu lho…. tablet s*msung yang raib dari tas si Mpap waktu naik ojek ke kantor… #gagalmoveon).

Terinspirasi dari cerita tentang anak penghapal Alquran itu, akhirnya saya coba terapkan itu ke Akhtar. Waktu itu Akhtar sudah hapal 99 Asmaul Husna pada usia 2+ tahun, karena sangat sering diperdengarkan lantunan Asmaul Husna… kenapa kok saya ga kepikiran menerapkan itu juga untuk metode menghapal Alquran? Ah ya… jawabannya, karena kami pun orangtuanya belum sebegitu lekat dengan Alquran. Sedih…

Ternyata, memperdengarkan Alquran terus menerus pada anak, menghasilkan dampak yang luar biasa pada perkembangan hapalannya. Anak-anak itu cepat… sangat cepat sekali menyerap dan menghapal… bahkan tanpa menghapal. 

Dengan bermodalkan hp yang saya pakai sehari-hari, saya download aplikasi Alquran dari playstore. Dari beberapa reciter/ qori yang tersedia di aplikasi, saya pilih Syaikh Mishari Rasyid, yaa… lagi-lagi terinspirasi dari anak penghapal Alquran itu yang juga memfavoritkannya. Lalu, mulailah dari situ saya putarkan murottal Alquran hampir sepanjang hari.

Awalnya Akhtar hanya mendengarkan murottal sambil tetap beraktivitas yang lain, lalu tahap berikutnya ia mulai mendengar sambil memegang hp dan ‘membaca’ ayat demi ayat dari hp saya. Selanjutnya, tanpa saya paksa, ia mulai minta untuk diperdengarkan Alquran, misalnya ketika akan tidur. Lama-lama, mendengar sambil mengikuti bacaan sang qori, dan setelah itu… ya jalani saja sesuai dengan tahapannya.

Yang amazed adalah ketika melihat Akhtar bisa membaca Alquran, tanpa pernah saya ajari. Walaupun masih jauh dari sempurna hukum-hukum tajwidnya, bahkan masih suka salah membaca harakat-nya, tapi Akhtar sudah bisa membaca huruf demi huruf, hingga selesai satu ayat… dua ayat… dst.

Puncaknya adalah ketika awal November 2017 lalu, Akhtar mampu membaca 1 juz Alquran, yaitu juz 30. Saya pikir, ia bisa melakukannya karena hapal. Tapi ketika saya tantang untuk tasmi tanpa membaca, katanya “Akhtar ga hapal kalau ga baca”, terutama untuk surat-surat yang cukup panjang. Ma syaa Allah… laa quwwata illa billah… sesungguhnya saya ga melakukan apapun untuk membuat Akhtar seperti itu. Murni, semuanya atas pertolongan dan kasih sayang Allah.

Kadang-kadang saya perhatikan juga bacaan Akhtar. Untuk beberapa kesalahan, ia enggan dikoreksi, tapi sekarang jika sedikit-sedikit saya koreksi, ia menerima. 

Sekarang, hapalannya sudah lebih banyak dari saya. Bahkan Akhtar juga hapal potongan ayat-ayat yang sering ia dengar, yang tersebar di beberapa surat dalam Alquran. Duh rasanya malu kalau kita ga bersikap yang sama terhadap Alquran. Kini, hapalan saya mandeg, tilawah pun belum rutin jadwalnya.

Mungkin ini baru tahap awal banget mendekatkan anak dengan Alquran. PR selanjutnya masih banyaaaak banget, terutama bagaimana membuat anak-anak kelak menjadikan Alquran sebagai rujukan pertama dan utama dalam menyelesaikan berbagai permasalahan hidup. 

Bismillah… 

Workshop Menggambar

Leave a comment

IMG-20171027-WA0011

Sabtu, 28 Oktober 2017, bertepatan dengan 8 Shafar 1439 H, Akhtar ikut workshop menggambar yang diadakan oleh @sworks.idn. Acaranya diadakan di Cafe Photo Coffee Kota Baru Parahyangan. Cocok! Deket banget, sayang untuk dilewatkan. Akhirnya sesekali bisa ngerasain juga, berangkat nganter Akhtar berkegiatan hanya setengah jam sebelum acara.. biasanya kalau acara di Bandung, saya bahkan menyiapkan diri dan mengondisikan Akhtar sehari sebelumnya.

Sebenarnya, pemberitahuan acara ini sudah ada di grup Sabumi jauh sebelum hari-H, yang menerima pendaftaran adalah Teh Uwie, yang mana ia adalah teman dari si pemilik acara. Namun saya baru mendaftarkan Akhtar pada H-2 itu pun setelah ada reminder dari Teh Uwie. Saya menunda-nunda mendaftarkan Akhtar mengingat usianya masih 4 tahun, sementara acara itu sebenarnya ditujukan untuk anak minimal 5 tahun.

*

Setibanya di lokasi, Om Pengajar Gambar sudah mulai membuat gambar pertamanya di papan tulis kecil di depan anak-anak peserta workshop yang berjumlah kurang lebih 15 orang. Tugas pertama anak-anak adalah menggambar benda yang disiapkan si Om di depan. Ada cangkir, wadah makanan, wadah saus.

Pada awalnya, Akhtar tampak bingung dengan instruksi si Om, lalu saya jelaskan lebih terang, kemudian dengan sigap Akhtar pun mulai menggambar menirukan apa yang sudah tergambar di papan tulis, sampai proses mewarnai.

Jpeg

Tugas berikutnya, anak-anak diberi kertas yang lebih besar lalu diberi instruksi untuk menggambar benda-benda sekitar yang dilihat. Lagi-lagi Akhtar tampak bingung, hihi. Lalu saya memberi beberapa petunjuk, “Ayo Akhtar gambar yang Akhtar lihat, atau Akhtar lihat ke jalan tuh.. disana lihat apa saja? Nanti Akhtar gambar ya…”.

Yeaah, asal dikasih clue ‘menggambar apa yang dilihat di jalan’ Akhtar langsung saja lancar menggambar yang biasa dia gambar, apa lagi kalo bukan tentang kemacetan di jalan raya. Hanya saja di luar ekspektasi, Akhtar pun menambahkan beberapa gambar lain selain mobil macet, seperti gambar masjid di pinggir jalan, gambar burung, matahari, awan, dan lampu lalu lintas.

Om Pengajar berkeliling mengecek gambar anak-anak, lalu berhenti agak lama di dekat Akhtar, “Wah keren nih gambarnya, sampai penuh gini”. Saya tersenyum dengan cara si Om memotivasi anak-anak untuk menyelesaikan gambarnya. Eh tapi, setelah berkeliling ke meja anak-anak lain, ia kembali lagi ke Akhtar dan memberi komentar yang sama.

Dalam hati saya berpikir, “Eh apa beneran terkesan sama gambar Akhtar? Padahal kan itu mah yang biasa digambar Akhtar tiap hari”.

Setelah beberapa lama, si Om meminta anak-anak menceritakan gambarnya ke depan satu per satu. Karena tidak ada yang menawarkan diri maju duluan, akhirnya si Om (lagi-lagi) manggil Akhtar. Akhtar ke depan dan berbicara pelaaan sekali, di luar kebiasaannya yang biasa teriak-teriak dimana pun.

Lalu, terakhir..

walaupun ini bukan lomba gambar, namun di tengah acara tadi si Om menjanjikan akan memberi hadiah kepada Juara 1-3. Kriteria juaranya seperti apa? Saya pun ga tau… yang pasti Akhtar dipanggil ke depan sebagai juara 1. Horeee… katanya sih karena Akhtar berani menggunakan banyak warna dalam gambarnya.

Jpeg

Alhamdulillah… sepasang sepatu pun dibawa pulang sebagai hadiahnya :)

Oh ya, dengan ikut acara ini, saya jadi mempertimbangkan les gambar untuk Akhtar. Tujuan utamanya sih, agar Akhtar bisa menggunakan media gambar untuk membantu proses belajarnya setiap hari. Lagipula, tiada hari tanpa menggambar bagi Akhtar, hanya kadang gambarnya terlalu itu-itu aja, jadi berharap gambarnya bisa berkembang dengan ikut les gambar. Soal kapan dan dimana, itu yang belum terpikirkan… berharap ada kelas menggambar di dekat sini sih.. heuheu. Balada warga kota Bandung coret.

Adapun kalau ada ekses lain dari mendalami gambar, misalnya menghasilkan karya yang bisa bermanfaat untuk orang banyak, maka itu adalah bonusnya.

 

Perdana Tampil

Leave a comment

Ceritanya saya daftar seminar Orangtuaku Guruku yang merupakan acara kolaborasi tiga komunitas, yaitu Sabumi, HEBAT, dan komunitas HS Pewaris Bangsa, pada hari Kamis, 26 Oktober 2017. Satu hari, Uni Dessy, panitia acara dari Sabumi bikin tawaran menarik di grup Pengurus Sabumi, intinya mah butuh satu orang anak lagi (usia PAUD) buat tasmi surat pendek. Ga pikir panjang, langsung ngajuin Akhtar deh. Tujuannya… buat ngelatih Akhtar aja biar pede tampil di depan umum. Jadi… sekali mendayung dua pulau terlampaui. Saya bisa ikut seminar dan Akhtar bisa ikutan eksis dikit di acara itu.

Persiapannya yang paling penting adalah sounding-sounding ke Akhtar dan membuat dia se-excited mungkin dengan acara itu…

“Akhtar nanti hari Kamis baca surat pendek yaa di depan teman-teman”

“Eh Dhuha ikutan juga lho.. nanti baca surat pendek sama-sama Dhuha ya”

“Akhtar hari Kamis bangun trus mandi pagi-pagi ya… kan Akhtar mau naik kereta api ke Bandung, mau tampil”

“Nanti ada Chia juga lho… yang pinjemin Akhtar mainan dapur-dapuran”

Ketika menyampaikan itu, ekspresi dibuat se-excited mungkin, seolah-olah ga ada momen yang paling penting di hari itu selain “tampil baca surat pendek” hehe.

Pada hari H, kami datang tepat waktu sesuai info dari Uni Dessy, jam 8 pagi sudah ada di lokasi acara, yaitu di salah satu ruangan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bandung, Jalan Seram, agar bisa latihan sebentar untuk mengondisikan anak-anak dan memperlihatkan panggung kecil tempat mereka akan tampil pada jam 9-nya.

Selain Akhtar, bersiap juga Chia, Maryam, Sarah, dan Dhuha, tak lupa membawa hasil karya masing-masing yang akan dipamerkan di depan nanti. Akhtar, tak lain, membawa satu map hasil menggambarnya.

Rencananya, bersama-sama mereka akan tasmi surat Al Fiil. Eh saya salah mengira sebelumnya, saya kira satu anak akan membaca satu surat, maka dua hari sebelum hari H saya tanya ke Akhtar, “Akhtar mau baca surat apa?” Dan Akhtar bilang mau baca surat Al Qariah. Alhasil, pada hari itu, setelah anak-anak membaca Al Fiil bersama-sama, Akhtar lanjut tasmi Al Qariah sendirian.

Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar, Akhtar berani maju ke depan walaupun suaranya ga selantang biasanya, dan sempat bilang, “Akhtar mau tampil lagi”.

IMG-20171026-WA0022

Selain itu, Sabumi juga menampilkan Ayeman, yang mempresentasikan kegiatannya sebagai homeschooler, dalam bahasa Inggris. Wow, semuanya berdecak kagum. Sesekali tertawa dengan celetukan dan tingkah Ayeman yang menggemaskan ^^

IMG-20171026-WA0023

Tentang Seminar Orangtuaku Guruku

Seminar ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Pak Abdul Gaos dari Dinas Pendidikan Kota Bandung, yang mengurusi Dikmas dan PAUD, serta Pak Sardin, seorang dosen Pendidikan Luar Sekolah UPI. Keduanya dihadirkan sehubungan dengan seminar yang memang ditujukan untuk orangtua anak-anak usia dini yang tidak ‘menyekolahkan’ anak-anaknya di PAUD formal.

Sebenarnyaaa… saya tidak fulll mengikuti seluruh materi seminar, pasalnya, walaupun Akhtar anteng main sama teman-temannya, tetap saja beberapa kali ia menginterupsi. Namun beberapa poin (yang saya rasa penting) sempat saya catat, diantaranya:

  1. Kedua pembicara adalah orang yang pro-HS, walaupun tidak menjalankan HS di keluarganya.
  2. Kehadiran pihak dari pemerintah semakin menegaskan bahwa HS adalah legal, didukung oleh undang-undang, sebagai salah satu pilihan pendidikan di luar sekolah. Namun, Pemkot Bandung masih kesulitan mendata jumlah anak usia dini yang menerima PAUD. Data yang masuk tidak riil karena hanya mendata anak-anak yang terdaftar di PAUD formal, sementara yang belajar di luar itu (misal, rumah atau komunitas – ex: Sabumi) tidak terdata.
  3. Menurut Pak Sardin, dua hal yang mendorong HS itu adalah adanya keyakinan (bahwa orangtua mampu mendidik anak-anaknya di rumah) dan ada ketidakpuasan pada sistem pendidikan di luar rumah (baca: sekolah).
  4. Anak-anak HS harus jadi bagian masyarakat yang inklusif (jangan eksklusif), orangtua jangan hanya fokus mendidik anak sendiri, namun juga harus ikut membangun lingkungan yang baik. Anak-anak kita adalah anak bangsa, anak tetangga atau anak-anak lain di lingkungan kita pun anak bangsa. Kalau anak kita yang HS sukses, namun misal, anak tetangga ada yang jadi pencuri, itu akan jadi beban untuk bangsa, membuat lingkungan tidak aman dan akan berpengaruh terhadap anak kita yang HS.
  5. Pak Sardin, diselingi dengan candaan, membuat beberapa perbandingan PAUD di Indonesia dan negara lain (negara mana tepatnya, tidak disebutkan, hanya tampaknya negara yang memiliki sistem pendidikan yang lebih baik dibanding dengan Indonesia), diantaranya:  di negara lain, PAUD terintegrasi dengan tempat kerja. Ketika anak masuk PAUD, maka ibu/ orangtua tetap produktif bekerja, misal setelah antar anak ke sekolah, ibu bekerja di tempat kerja atau kembali ke rumah untuk mengerjakan hal-hal yang produktif di rumah. Sementara di Indonesia, Pak Sardin melihat ibu-ibu di Indonesia banyak mengisi waktu menunggu anak PAUD dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, misal nunggu ya nunggu aja gitu di luar kelas.
  6. Perbandingan yang lain juga perihal gurunya. Dimana di luar negeri anak-anak PAUD cenderung lebih dibebaskan untuk beraktivitas yang mereka sukai, guru cukup menghampiri anak satu per satu, bertanya tentang apa yang sedang dikerjakan anak? Apa yang anak dapatkan dari aktivitas yang dilakukannya? Lalu memintanya bercerita kepada teman-temannya. Suara guru dibuat lebih rendah dari anak-anak, tidak memberikan terlalu banyak instruksi dan mendikte aktivitas anak.
  7. Ada anggapan di kita, bahwa sekolah itu untuk membentuk uniformity, alias penyeragaman. Padahal anak-anak kita unik dan memiliki kelebihan masing-masing, tidak usah diseragamkan. Semua yang di dunia ini sudah berubah, kecuali ruang kelas, katanya sembari becanda.
  8. Yang menarik lagi, Pak Sardin mengetes kita untuk mengecek bakat, apakah berkembang atau tidak. Lalu, kami diminta menggambarkan atau membayangkan, ketika disuruh menggambar bebek, kemana kepala bebek itu menghadap? Kalau jawabannya ‘ke kiri’ berarti Anda korban uniformity sekolah haha.. saya pun deng.. :p

Apa lagi yaa.. sisanya sih kalau dari Pak Abdul Gaos banyak memberikan info-info kebijakan Diknas Kota Bandung terkait program pendidikan masyarakat secara umum (bukan hanya PAUD), juga mengutip beberapa kata Pak Walkot, alias Kang Emil tentang pendidikan, seperti… bahwa belajar bisa dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Dari Pak Sardin banyak menyampaikan poin-poin yang sifatnya teoritis mengenai tahap-tahap perkembangan anak, tahapan berpikir, lingkungan belajar, de el el banyaak, dengan mencantumkan sumber bacaannya.

Di akhir, ada sesi tanya jawab, beberapa penanya sebenarnya bertanya hal-hal dasar tentang homeschooling, yang mana untuk pengetahuan tersebut sudah pernah saya dapatkan selama mengikuti kegiatan Sabumi atau mencari informasi dari internet.

Tentang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung

Salah satu lagi yang menarik dari aktivitas hari itu adalah venue-nya.

Saya baru pertama kali berkunjung ke perpus Pemkot Bandung itu, dan saya terkesan mulai dari memasuki halamannya. Terletak di Jalan Seram Nomor 3, tempat itu memiliki halaman yang luas dan bersih dengan banyak bangku-bangku permanen disana. Untuk menuju ke perpustakaan di lantai 1 (lobi) kita harus menaiki tangga, ada juga jalur khusus untuk pengguna kursi roda.

Memasuki lobi, kita disuguhkan banyak bundelan koran dan majalah serta kursi meja untuk membaca.

Dari lobi ke arah kiri ada perpustakaan untuk buku-buku umum, dari lobi ke arah kanan ada perpustakaan untuk buku anak-anak usia TK dan SD. Tempatnya nyaman, bisa untuk anak-anak lari-larian, lompat-lompatan, dan emaknya nunggu sambil lesehan wkwk.

Jam operasional perpustakaan yaitu pukul 08.00-15.00, jam 12.00-13.00 istirahat. Tidak ada keterangan harinya, dan saya lupa bertanya. Jika ingin jadi anggota, cukup mendaftar dengan menyerahkan fotokopi KTP, buku bisa dipinjam (hanya) untuk jangka waktu 1 minggu. Yah..  hopeless deh…

*foto-foto menyusul, mun inget :p

Alhamdulillah, hari itu jadi pengalaman yang berharga untuk saya dan Akhtar…

Baking Class : Nge-CizZ di Rumah Teh Ais

Leave a comment

Ada lah salah satu member Sabumi, Teh Kalista a.k.a Teh Ais, yang bakulan kue dengan brand Veilcakes (cek IG-nya ya Sis @veilcakes_bdg) bersedia meluangkan waktunya yang berharga untuk mengajari para ibu yang haus ilmu membuat kue yang endes banget.

Awalnya kelas ini akan dibuka untuk member.. tapiiii karena kuota terbatas hanya untuk 10 orang, dan begitu ditawarkan ke Pengurus banyak yang berminat, maka kelas dibuka khusus untuk Pengurus, dengan syarat para peserta baking class harus bersedia berbagi ilmu bakingnya ke member lain di wilayahnya. 

Dan disepakatilah tanggal 12 Oktober 2017 sebagai hari eksekusi. Namun menjelang hari-H, kami mendapat kabar tentang demo para sopir angkot perihal transportasi online, yang mana mereka akan berhenti beroperasi selama tiga hari, khawatir juga akan menjadi kendala mobilitas emak-emak yang rata-rata angkoters, gocarers, dan grabers ini. 

Lah, pada kenyataannya, mereka batal demo pada hari itu, sementara kami sudah menyepakati tanggal yang lain, yaitu tanggal 17 Oktober 2017, hari Selasa.

*

Isu demo sopir angkot masih berhembus, plus driver transportasi online juga katanya mau ikutan demo, namun hari Selasa itu kami memantapkan langkah untuk tetap melaksanakan baking class di kediaman Teh Kalista ‘Ais’ yang terletak di Jalan Cisitu Indah VI. 

Perjuangan banget ya untuk sampai ke rumahnya. Kalau saya, sebagai roker (rombongan kereta, pen) sejati, dari Stasiun Bandung harus sambung, alhamdulillah, hanya satu kali angkot ke arah Cisitu. Naik aja… dan tunggu si angkot berhenti di pemberhentian terakhir di sekitar Jalan Cisitu Indah IV. 

Setelah itu, dengan mengandalkan GPS, saya dan Akhtar pun berjalan kaki menuju tujuan yang ternyata lumayan jauh juga. Hitung-hitung olahraga, batin saya menghibur diri. 

Alhamdulillah kami sampai di rumah Teh Ais sebelum jam 10. Sempat salah mengambil jalan juga, alhamdulillah berpapasan sama Teh Dyah yang tampak sedang menelepon meminta petunjuk jalan.

Walaupun dijadwalkan mulai jam 10, pada kenyataannya kami baru mulai jam 10.30. Teh Ais membagikan salinan resep kue (hanya nama bahan dan takarannya), sementara langkah-langkah membuatnya disampaikan sambil kami praktik.

Hari itu kami akan membuat “Molten Cheesetarts” dan “Blueberry Cheesecake Tartletts”. Dari namanya saja sudah kebayang lezatnya kue ini. Apalagi Teh Ais memberi kami resep premium yang telah melalui bebebebeberapa kali percobaan, sementara kami mendapatkannya cuma-cuma dalam satu kali pertemuan. Maka, tidak ingin kehilangan kesempatan belajar baking langsung dari ahlinya, kami bersiap dengan alat tulis masing-masing, mencatat langkah-langkah pembuatan dan tips-tipsnya, termasuk merek bahannya.

Berikut saya coba uraikan resep dan langkah membuatnya ya… 

Ada 3 resep yang kami coba:

1. Cheese custard untuk isian molten cheesetarts

2. Pate sucree, apa ya istilah bahasa Indonesianya? Hehe.. bahkan cara mengucapkannya dengan betul pun saya ga tau.. huhu, gagal menyimak nih pas bagian ini. Intinya ini tuh pastrynya gitu. Kalau tampak di foto seperti kulit pie ya, karena menggunakan cetakan pie. Tapi percaya deh, yang ini lebih enak daripada kulit pie yang biasa saya makan, bener-bener premium.

3. Simple cheesecake batter untuk isian blueberry cheesecake tartletts.

*

Cheese Custard

Pertama, kami membuat cheese custard, satu resep bisa untuk 36 cup ukuran hmm.. diameter 5 cm kali ya, ngira-ngira aja ini mah sambil liat penggaris hehe. Bahan-bahannya sbb:

300 gr cream cheese

60 gr cheddar cheese (kami pakai yang quickmelt)

300 ml milk (kami pakai UHT)

80 gr butter

60 gr sugar (gula pasir yang halus cocok untuk kue)

25 gr cornstarch (maizena)

2 eggs

1 tsp vanilla (pasta)

2 tbs lemon juice

Cara membuatnya:

1. Creamcheese, cheddar cheese, milk, butter, sugar dipanaskan dengan teknik au bain marie, alias ditim. Caranya dengan menggunakan panci berisi air yang dididihkan terlebih dahulu, lalu bahan-bahan dicampurkan di wadah yang lebih besar daripada panci, letakkan wadah berisi bahan-bahan diatas panci berisi air. Ditim sambil didiaduk-aduk sampai semua bahan tercampur.

2. Campurkan telur, yang sudah dikocok di wadah terpisah, ke dalam bahan-bahan yang ditim, aduk.

3. Masukkan maizena yang sudah terlebih dahulu dilarutkan dengan sedikit susu UHT. Aduk terus agar tidak menggumpal, sampai mengental.

4. Angkat dari kompor. Masukkan pasta vanilla dan perasan lemon. Cicipi. Bisa ditambahkan gula pasir lalu aduk lagi sampai larut jika kurang manis.

5. Masukkan ke dalam plastik segitiga/ piping bag, biarkan hangat, lalu dinginkan di dalam lemari pendingin. 

*

Pate Sucree

Karena prosesnya yang cukup lama (harus dua kali masuk lemari pendingin), Teh Ais sehari sebelumnya sudah membuat puluhan pastry, dan hari itu kami membuat sisanya yang dibutuhkan.

Adapun resepnya adalah sebagai berikut (satu resep untuk 15 pastry) 

1 egg yolk

1 tbs milk

1/2 tsp vanilla

200 gr flour

50 gr icing sugar

1/2 tsp salt

100 gr cold butter

Cara membuatnya:

1. Campur egg yolk, milk, vanilla

2. Di wadah terpisah campur flour, icing sugar, salt, dan cold butter potong dadu (cold butter baru keluar dari lemari es)

3. Bahan campuran di poin 2 dimikser dengan pengaduk khusus, katanya kalau pakai mikser biasa khawatir rusak mesinnya. Kalau ngga ada, gunakan pastry cutter. Dimikser sampai teksturnya seperti pasir.

4. Masukkan bahan campuran di poin 1 dengan bahan campuran 2, diaduk dengan tangan sampai kalis. Masukkan ke dalam plastik, masukkan ke dalam lemari es kurang lebih 1 jam.

Sementara menunggu, kami istirahat makan siang dulu dan shalat dzuhur.

Penyelesaian:

1. Timbang adonan per 20 gr, caranya adonan dibulat-bulatkan terlebih dahulu lalu ratakan di cetakan pie. Cetakan ga usah dioles-oles mentega dulu.

2. Jika sudah, masukkan di freezer sampai keras

3. Nah ini yang menarik, sebelum dioven, adonan dalam cetakan pie diberi pemberat berupa kertas kue/ papercup yang diisi kurang lebih sesendok beras. Tujuannya biar ga ngembang ke atas. Kebayang sih, waktu saya pertama kali bikin kue pie, adonan mengembang sampai memenuhi cetakan pie.

4. Oven 180/ 170 dercel sampai kecoklatan. Pemberat bisa diambil saat adonan masih setengah matang.

*

Simple Cheesecake Batter

Bahan-bahannya:

200 gr cream cheese, ditim sebentaaar aja sampai lembut

50 gr icing sugar

1 tsp vanilla

1 medium egg

Cara membuat:

1. Cream cheese yang sudah ditim campur dengan icing sugar, gunakan mikser.

2. Masukkan vanilla dan egg, dimikser jangan terlalu lama, jangan sampai terlalu encer.

3. Masukkan ke dalam piping bag.

*

Nah yang terakhir adalah penyelesaian. 

Siapkan pastry yang sudah matang tadi. Kita bikin 2 bentuk pastry. Ada yg pinggirannya bergelombang khas kue pie gitu, yang ini untuk blueberry cheesecake tartletts. Ada yang pinggirannya rata, mencetaknya di dalam loyang muffin lalu ditekan menggunakan alat kayu entah-namanya-itu. Hasil akhirnya kayak mangkuk gitu, bentuk yang ini digunakan untuk molten cheesetart. Ini mah sih untuk variasi aja. Mau dua-duanya dibikin pake cetakan pie pun ga masalah.

Untuk blueberry cheesecake tartletts, kita siapin juga selai blueberry (kami pakai merek paletta) dan filling coklat (kami pakai merek tulip). 

Untuk isian blueberry: Pertama-tama isikan selai blueberry secukupnya, lalu isikan cheesecake batter sampai memenuhi kulit pastry. Dengan bantuan tusuk gigi kita hias bagian atasnya dengan cheesecake batter yg diberi pewarna ungu. Teknik ngehiasnya yang jelas susah dijelaskan dengan kata-kata hehe. Pokoknya begitu.

Untuk isian coklat, lakukan yang sama seperti isian blueberry, yakni: isikan coklat filling, lalu cheesecake batter, hias atasnya dengan coklat coverture (lempengan coklat bentuk bulat kecil-kecil).

Oven sampai permukaan cheesecake batter-nya ga nempel ketik disentuh.

Untuk penyelesaian molten cheesetarts:

Isikan cheese custard pada kulit tart, oles dengan kuning telur (campuran kuning telur+sedikit susu UHT), panggang sebentar dengan api atas untuk mendapatkan efek terbakar.

Selesai deh…

Kata Teh Ais sih molten cheesetart ini nikmat dimakan hangat, sementara blueberry cheesecake enak dimakan dingin. Bagi saya, ga ada bedanya, hangat maupun dingin, tetap enaaaaak banget.

Sampai azan ashar berkumandang, kami masih berkutat di dapur Teh Ais.. tinggal menunggu kue-kue itu keluar dari oven. 

Keseluruhannya selesai kurang lebih jam 16.00. Kue hasil praktik dibagi untuk sembilan orang, masing-masing mendapat 9 buah, belum lagi ada beberapa yang dicicipi bersama-sama disana. Alhamdulillah puas banget… untuk ganti bahan, kami hanya membayar Rp 30.000. Kursus baking mana coba yang cuma bayar 30 rebu? Dijamin ga ada!

Terakhir… acara wajibnya adalah foto-foto dan penyerahan bingkisan dari Sabumi untuk Teh Ais.

*

Selesai?

Baking class selesai… 

Sementara hari itu saya dan Akhtar baru sampai rumah jam setengah 9 karena kereta yang harusnya berangkat jam 17.44, baru datang ke Stasiun Bandung 2 jam kemudian. :(

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal…

LQ

Leave a comment

Tetiba banyak status di timeline Facebook tentang testimoni liqo.

Liqo secara bahasa artinya pertemuan (cek google), tapi dalam hal ini, istilah ini identik dengan sistem pembinaan dan kaderisasi yang dilakukan oleh sekelompok atau sese-partai di Indonesia ini. Maka tak heran, status tentang liqo beberapa hari terakhir ini banyak diunggah oleh -setahu saya- kader partai tersebut.
Awalnya tidak tertarik mencari tahu lebih jauh, saya pikir ini hanya agenda partai aja sehubungan dengan mulai akan bergulirnya pilkada di beberapa daerah… tapi kok beberapa ada yang menyertakan kata-kata “bid’ah”? Seperti merasa tertuduh bahwa melakukan liqo itu bid’ah? Ah tapi saya juga tetap ga penasaran mencari tahu.

Sampai seseorang membahasnya di grup Pengurus Sabumi, katanya beredar video seorang ustadz yang menyatakan liqo itu bid’ah, hanya belum ketemu link asli video tersebut, jadi belum diketahui siapa ustadznya dan apa isi pernyataannya. 

Lah, saya kok malah jadi penasaran googling akhirnya, dan sampailah pada status seseorang, seseorang yang liqo saya pikir, tapi adabnya di medsos minus banget menurut saya heuheu… entah lah… kata-katanya cenderung provokatif dan berpotensi memecah belah antar kelompok.

Disitu si pemilik status memposting video satu menit ceramah Ustadz yang diduga membid’ahkan liqo, ustadz yang kadang-kadang saya ikuti kajiannya di TV.

Lalu saya putar video tersebut dan beginilah transkripnya… 

Moderator membacakan potongan pertanyaan… ga begitu menangkap dengan jelas karena kalimatnya ngga utuh dan suaranya kecil.

Jawaban Ustadz:

“Pertama, liqo itu sifatnya sangat mengikat. Yang kedua, liqo itu murabbinya kakak kelas, bukan seorang alim yang betul-betul berilmu. Sementara dalam Islam, menuntut ilmu itu kepada orang yang betul-betul kuat keilmuannya, Pak. Bukan kepada sembarangan orang. Karena kan dalam metode tarbiyah kan itu ada liqo, liqo, liqo, kakak kelas yang akan menjadi murabbi adek kelasnya. Kakak kelas punya liqo lagi sama kakak kelasnya demikian sampai tingkat yang paling tinggi. Yang tingkat ini ga boleh langsung naik ke atas ini Pak (lalu Ustadz menunjukkan gestur menggerakkan tangan dari bawah ke atas) harus ngikutin yang ini dulu (tangannya kembali ke bawah).

Seperti itu terikat dengan apa… (tangannya membuat gerakan memutar seperti lingkaran) ya… seperti itu, Ikhwatul islam. 

Ini metode yang tidak pernah diajarkan Rasulullah dan para sahabatnya.

Yang diajarkan oleh…. 

(video terpotong)

Beberapa poin yang saya ambil dari isu ini:

1. Berpikir jernih, mengedepankan berbaik sangka kepada sesama muslim. 
Apa yang disampaikan Ustadz tersebut hanya satu menit dari keseluruhan isi kajian beliau, yang mana sampai sekarang saya belum menemukan video utuh dari cuplikan kajian tersebut. 

2. Periksa track record Ustadz yang bersangkutan. Kalau saya pribadi termasuk yang cukup sering mengikuti kajian beliau sih walaupun hanya lewat TV. Dan sejauh ini lebih banyak membahas tauhid, inti ajaran Islam. Kalau ada isi kajiannya yang tersangkutpaut dengan suatu kelompok pun mungkin karena menjawab pertanyaan jamaah seperti di potongan video tersebut.

3. Ustadz tidak secara gamblang menyebut metode liqo itu bid’ah. Saya sih menangkap maksud, yang dikatakan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah itu metode berjenjangnya itu yang berguru ke kakak kelas, ke kakak kelasnya lagi, ke kakak kelasnya lagi, yang mana kakak kelas yang menjadi guru itu pun belum tentu orang yang paham ilmu secara mendalam. 

4. Hati-hati provokator pemecah belah umat. Salah satunya, penyebar potongan video ini. Ah entahlah siapa mulanya yang menyebarkan potongan video ini, yang saya temukan ya seseorang di facebook itu, yang mana setelah saya cek histori status dan web yang dikelolanya memang isinya kurang menentramkan dan kurang santun cara bertuturnya, seperti di salah satu status orang tersebut berkata, “Liqo dibilang bid’ah, mukamu pun bid’ah”. Saya sih percaya, kata-kata yang keluar itu cerminan dari bersih/ kotornya hati.

5. Saling menghargai pilihan masing-masing, terus berusaha mencari ilmu dari sumber yang shahih. 

Wallahu’alam… 

Secara pribadi saya pun ada kesan-kesan tersendiri dengan metode liqo ini, plus minus tentunya. Mungkin akan dicurhatin di tulisan berikutnya 

(Bukan) Mesin Cuci Otomatis

Leave a comment

Jadi…

Gadget pertama yang saya prioritaskan untuk miliki ketika mulai tinggal bersama-sama suami (sebelumnya kami kost masing-masing) adalah mesin cuci. Dan pilihan kami jatuh pada mesin cuci otomatis front loading ini, dengan bayangan indah… “Nanti tinggal masukin cucian, tekan tombol, ditinggal masak, ditinggal boci, ditinggal jalan-jalan, dan… tadaaaa… pakaian pun bersih siap jemur”

Mesin cuci ini tepatnya dibeli sekira dua minggu sebelum Akhtar lahir. 

Namun… sebagai yang NGGA berpengalaman membeli mesin cuci otomatis sebelumnya, ada hal-hal PENTING yang luput dari pertimbangan kami, sehingga bayangan indah hanya angan-angan heuheu…

1. Mesin cuci otomatis butuh aliran air yang deras dan tekanan kuat

Maka… pada awal pengoperasiannya di rumah Jember, saya mengeluh karena mesin cuci tidak bekerja seperti yang dibayangkan. Seringkali si mesin berhenti di tengah-tengah proses mencuci, kadang bisa mencuci sampai selesai tapi lamanyaaaaa minta ampun. 

Ya jelas… tekanan air di rumah lemah. Tidak cocok untuk mesin cuci kami. Pada akhirnya, beberapa bulan terakhir di Jember kami harus menitipkan cucian di tukang laundry. Hiks banget ga sih…

2. Seharusnya ada satu keran khusus untuk memasang selang mesin cuci, jadi selang inlet tidak lepas pasang terus menerus

Sebenarnya bisa kok selang inlet ini dipasang hanya ketika mencuci, lalu dicabut lagi ketika selesai mencuci, tapi masalahnya (bodohnya kamiii…) kami ga ngeh bahwa selang itu tidak mesti dilepas bautnya setiap kali dilepas dari keran, cukup lepaskan tautannya.. ah ngerti kan ya maksudnya?

Enam bulan bersama si mesin cuci di Jember, akhirnya kami pindah ke Pasuruan. Alhamdulillah tidak ada masalah lagi dengan aliran air disana… hanya saja… hanya ada 1 keran yang memungkinkan untuk disambungkan dengan mesin cuci, dan itu letaknya di kamar mandi, jadi mau tidak mau si selang harus selalu dilepaspasang tiap kami menggunakan kamar mandi. 

Sekali dua kali ga masalah, lama-lama selang mesin yang terhubung ke keran longgar juga dan air tidak bisa masuk dengan sempurna, lebih banyak air yang terbuang. 

Alhasil… mesin tetap bekerja, di saat bersamaan kami pun banyak membuang air. Heuheu…

3. Mesin cuci ini tidak cocok buat yang sering pindahan

That’s why… mesin ini berat bangeeeedd… karena dia ditujukan untuk menetap di satu lokasi saja.

Sementara kami… dalam kurun 5 tahun, sudah 5 kali mesin ini diangkutpindahkan. 

Masalah muncul ketika kami memindahkan mesin dari Padalarang ke kontrakan Pasar Minggu, si mesin tiba-tiba tidak mau berputar, setelah memanggil tukang servis, ternyata masalahnya hanya karena ada kabel yang bergeser/ berubah posisi bla bla bla. Dan masalah kembali muncul ketika mesin ini dipindahkan dari rumah Abah ke rumah Akhtar, padahal ‘hanya’ dibawa nyeberang jalan aja beberapa puluh meter.

Kini…

Mesin cuci ini teronggok di pojok ruangan dekat kamar mandi… 

Sudah 2 kali memanggil tukang servis, katanya harus diganti water levelnya, yaitu sensor untuk mengatur jumlah air yang masuk ke dalam mesin cuci, sementara saya menunda untuk memperbaikinya, dan bertahan dengan mesin cuci (tidak) otomatis ini. Lucu… karena saya harus memasukkan air secara manual dengan gayung lewat wadah untuk memasukkan sabun cuci agar mesin tetap berputar.

Lama-lama hayati lelah… jadi sudah beberapa hari ini saya berhenti menggunakannya dan menitipkan cucian ke rumah Abahnya anak-anak. Karena jika tetap menggunakan mesin ini: 

– durasinya jadi lebih lama… bisa sampai 2 jam bahkan lebih baru selesai… listrik oh listrik, kami jadi lebih sering mengisi pulsa listrik

– belum tentu bersih. Karena setelah berjam-jam mencuci dengan air yang tidak memadai itu, saya biasanya tes salah satu baju dengan menguceknya di dalam ember, daann.. masih bersabun

– lebih cepat merusak pakaian, karena terlalu lama diputar di dalam mesin.

Opsinya sekarang…

– Ganti mesin cuci >> tapi nunggu ada budget dulu

– Memanggil kembali tukang servis dan mengganti water levelnya >> iya kalau masalahnya disitu, kalau ngga? 

– Menitipkan cucian di rumah Abah

– Mengangkut mesin cuci dari rumah Abah yang sebenarnya punya kami juga, yang kami beli waktu ngontrak di Ciledug.

– Bersabar >> paling penting ya ini… jangan banyak mengeluh dan berusaha menikmati episode drama si mesin cuci ini.. eaa.. 

Older Entries