Pertanyaan Berulang

Leave a comment

Akhtar (3,5 tahun) dan mungkin juga anak-anak lain seusianya, sangat senang mengajukan pertanyaan yang sama, dengan jawaban yang harus sama beeerrrrulang-ulang. Lucunya… ia akan gusar ketika kita memberikan jawaban berbeda dari biasanya.

Sebagai contoh, tadi pagi ke Bapak Sayur naik sepeda lewat jalanan yang agak rusak, maka Akhtar pun bertanya,

“Kenapa jalannya rusak?” 

“Karena belum diperbaiki…”, saya asal jawab ga mau mikir.. hihi.

“Bukaaan… kenapa jalannya rusak, Miim?” tidak puas dengan jawaban pertama, ia bertanya lagi dengan penuh penekanan di awal dan akhir kalimat.

“Iya… kan banyak dilewatin mobil, jadi jalannya rusak”, jawab saya.

“Bukan… rusak karena air sama mobil, gitu Mimm…”

Oh iya! Saya baru inget… kapan hariiii waktu lewat jalan yang sama, Akhtar pun bertanya, “Kenapa jalannya rusak?” dan saya menjawab,

“Karena sering tergenang air terus sering dilewati mobil besar” 

***

Ada lagi yang lain. Ketika jalan-jalan naik sepeda dan menemukan sampah tidak pada tempatnya, Akhtar hampir selalu bertanya,

“Kok buangnya sembarangan sih?”

Dan saya… HARUS menanggapi seperti ini…

“Eh iya… kok buang sembarangan, ga boleh dong, ga boleh ditiru ya, buangnya harus di….”

“Tempat sampah” katanya melanjutkan.

Ada variasi jawaban lain kalau untuk kondisi ini,

A: “Kok buangnya sembarangan sih?”

M: “Boleh ga buang sembarangan?”

A: “Ga boleh”

Lalu percakapan berikutnya kurang lebih sama.

Gara-gara pertanyaan berulang soal sampah ini, kepikiran lain kali sepedaannya sambil bawa kantong sampah untuk memungut sampah yang masih bisa dimanfaatkan. Hehe…

***

Sebelumnya, saya pernah cerita tentang kebiasaan Akhtar yang bertanya,

“Kenapa matanya jadi orang?” Ketika hendak tidur.

Sekarang, pertanyaan itu hampir tidak pernah diajukan lagi, diganti dengan pertanyaan, 

“Kenapa punggungnya gatal?” Katanya gogoleran sambil menggaruk-garuk punggung. Dan saya harus menjawab,

“Karena punggung Akhtar keringetan”, jawab saya.

“Kenapa keringetan?”

“Karena panas…”

“Kenapa panas?”

Nah.. kalau pertanyaannya siang hari, akan saya jawab, “Karena ada matahari”. Kalau malam… kadang saya jawab juga “Karena ada matahari”. Ya kan? Matahari ada tapi ngga menampakkan diri… wkwk..

Sering lho kita (orangtua) di-KO Akhtar dengan pertanyaan beruntun seperti itu. Jawaban kami, akan menjadi pertanyaan berikutnya, teruuus seperti itu sampai kami tidak bisa menjawab pertanyaan. 

Kuncinya… jawabnya kudu jujur dan masuk akal, dengan kata-kata yang mudah dipahami anak seusia 3,5tahun. Kadang sampai juga ke pertanyaan yang rumit untuk dijawab dengan kata-kata sederhana, akhirnya dijawab dengan ‘bahasa orang dewasa’ yang kadang-kadang harus disisipi kata-kata ‘sulit’ untuk dipahami anak balita itu. Setelah itu, Akhtar biasanya hanya akan menanggapi, “Ooh gitu…” seolah-olah mengerti, lalu berhenti bertanya.

*** 

Soal menjawab pertanyaan dengan jujur ini kadang menjadi sulit ketika kita ingin menyembunyikan kebenaran. Butuh trik khusus, agar jawaban tetap jujur dan memuaskan anak.

Sebagai contoh, Akhtar ingin main ponsel, sementara saya ga mengizinkan. Maka saya sembunyikan ponsel itu. Ketika Akhtar bertanya, “Hapenya mana Mim?” 

Saya akan menjawab, “Hapenya disembunyikan dulu ya…”

“Ooh.. hapenya sembunyi ya…” Akhtar lantas puas dengan jawaban itu dan tidak menanyakan HP lagi. 

Hihi… yang barusan itu saya sebut ‘trik imbuhan’ :p

Sebelum menggunakan trik ini, pastikan Anda memahami bahasa Indonesia dengan baik dan benar ya.

*belagu*

***

Apa lagi ya…

Hmm…

Udah deh kayaknya…

Ga jelas…

   

Ade…

Leave a comment

“Adeee…” begitu lah kami lebih sering memanggilnya, daripada Ahnaf. Ade yang kini sudah berusia 12 bulan, alias 1 tahun… ah ngga… sebut aja 12 bulan, terkesan ‘lebih bayiiik’ gitu lho :p

Ade yang kaleeemm… tapi belakangan ini lagi sering bikin ‘jengkel’ Mimnya karena sering terbangun malam-malam lalu teriak-teriak sambil guling-guling di atas kasur, entah ingin apa. Kepanasan ya De? *gebergeber* 

Ade yang lagi rajin belajar jalan… dua langkah… tiga langkah…rekor sampai lima langkah… grasa grusu melangkah memanfaatkan momen, sebelum hilang keseimbangan lalu terjatuh. Sering Mim bilang, “Ade sedikit-sedikit aja jalannya… tenang… t e n a n g…” walaupun Mim tau Ade ga paham.

Ade yang pemakan segalaaa… hampir memakan apapun yang Mim sodorkan di depan mulut Ade. Tapi, perawakannya tetap kecil, yah ini mah udah turunan. Yang penting sehat ya Dee.

Bahagianya Mim, karena sejauh ini Mim tidak mampu mengingat, kapan Ade menolak makanan karena GTM? Rasanya baru sekali dua kali, ketika pernah Ade sedikit demam atau tumbuh gigi. Itu pun tidak lama, dan tidak sampai GTM yang bikin Mim khawatir.

Ade itu seriiiing banget digangguin Aa. Kadang Mim lihat jempol kaki Aa udah nempel di muka Ade. Kadang punggung Ade diinjak. Atau didorong-dorong badannya karena menyentuh sedikit mainan Aa. Kadang dibentak karena mengambil mobil-mobilan Aa. Eh tapi… di luar itu… Ade paling keras terbahaknya justru kalau lagi main sama Aa. Disitu Mim merasa tenang. Di masa depan… Ade dan Aa akan jadi saudara yang saling menyayangi, saling membantu dalam kebaikan… aamiin.

Pinterrrnya Ade itu karena udah bisa ngambil sendiri buku dalam boks. Lalu membuka-buka sendiri buku tersebut dan ‘membacanya’, “Ab… ab… ba… baa…” katamu. Dan Mim amazed karena sesekali Ade membuka buku-buku berkertas tipis tanpa menyobek kertasnya. Walaupun lebih sering Mim larang karena takut bukunya rusak (huhu…) atau Mim tukar dengan buku lain yang walau rusak pun ga apa-apa.

Ade yang hampir ‘tidak memiliki barang pribadi’ kecuali sebagian pakaian, karena yang lainnya berbagi sama Aa… buku-buku, mainan, peralatan makan. Irit atau pelit sih Mim? Entahlah… rasa hati ingin menyebutnya sederhana, bersahaja, tapi mungkin masih jauh untuk masuk krieria itu. Prinsip Mim… selama suatu barang masih berfungsi layak sesuai maksud pembuatan, berarti belum perlu untuk diperbarui. *pelitlomim* *hush*

Ade yang mulai suka menirukan gerakan orang-orang sekitar. Ketika mendengar adzan Ade langsung memasukkan jempol ke dalam mulut. Lho De, mau ngapain? Oh ternyata maksudnya meniru Aa yang suka memberi kode ‘diam’ dengan menempelkan telunjuk di depan mulut “ssst… sssttt… dengerin adzan dulu” kata Aa berbisik-bisik.

Lalu, Ade pun ikut sujud menempelkan kening ke sajadah ketika melihat Mim shalat. Kadang-kadang diawali dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi seperti takbiratul ihram.

Ade yang sudah muncul ‘ego’nya dan ingin melakukan beberapa pekerjaan sendiri. Ingin memegang gelas sendiri, ingin makam sendiri. Tapiii… seringnya Mim terlalu malas untuk meladeni Ade… kalau minum dan makan sendiri pasti ada baju yang kudu diganti, ada lantai yang basah dan kotor. Padahal, disitu lah Ade belajar. Maafkan Mim ya De yang pamalesan ini… *maafin kagak nih?* 

Menjual Buku

Leave a comment

Seumur-umur (ngaku sebagai pecinta buku), baru kali ini saya menjual buku-buku koleksi pribadi saya. Buku yang rata-rata masih sangat bagus, beberapa malah terlihat baru, walaupun sudah bertahun-tahun disimpan.

Kalau soal buku saya termasuk yang ‘apik’ banget. Saya ga suka melihat buku saya terlipat, selembar pun. Saya ga suka lihat buku saya kotor. Saya ga suka lihat buku saya sobek. Dll. Aturan yang ‘ketat’ ini lah yang kemudian membuat orang lain segan meminjam buku ke saya.

Dipikir-pikir, sikap seperti itu ada ruginya juga. Karena jadi tidak banyak orang yang merasakan manfaat dari buku-buku saya. Padahal saya pun paling hanya membaca 1 kali, terutama buku-buku fiksi/ novel dan sejenisnya, kecuali buku-buku yang sangat-sangat menarik hingga saya bisa membacanya lebih dari satu kali.

Buku koleksi saya itu kemudian semakin menumpuk, rak buku pun sudah ga muat lagi. Puluhan (atau ratusan?) buku akhirnya harus disimpan di dalam kardus. Sudah beberapa kali saya menyeleksi buku-buku itu. Mana yang layak dipertahankan, mana yang dikeluarkan dari koleksi. Tapi, biasanya tidak banyak yang saya keluarkan dengan pertimbangan,

Sayang ah, kan bisa diwariskan ke anak cucu…

Sayang ah, siapa tau pengen dibaca lagi…

Sayang ah, kan suatu saat pengen buka ruang baca untuk umum, which means butuh koleksi buku yang banyaaak dari berbagai genre

Duluuuu, memang saya jenis pembaca segala genre, dari berbagai latar pemikiran penulis. Belakangan saya berpikir, bahwa ga semua buku mesti kita baca, ga semua hal mesti kita tahu, tahu sedikit hal tapi paham lebih dalam kan lebih bermanfaat, daripada tahu banyak hal tapi hanya permukaannya.

Lagipula, seiring dengan berkembangnya pengetahuan/ pengalaman, ada buku-buku yang kontennya ternyata ga sesuai dengan nilai-nilai yang saya percayai sekarang, bahkan saya punya lho novel grafis yang di dalamnya terselip bagian yang vulgar (p*rn*). Novel yang bagus banget menurut saya dari jalan cerita, grafis, dan latar belakang tempat dan waktunya, tapi kecolongan di bagian yang ‘ngga-ngga’nya itu… karena saya hampir selalu ‘memakan bulat-bulat’ rekomendasi dari orang lain di grup pembaca buku.

Seleksi besar-besaran saya mulai lakukan beberapa bulan kemarin. Pada tahap pertama saya berhasil mengeluarkan puluhan buku yang sekiranya tidak akan pernah saya baca lagi, dan saya rasa saya pun tidak ingin mewariskannya ke anak-anak.

Belasan buku saya wariskan ke sepupu saya di SMA yang sedang ada program perpus kelas di sekolahnya. Belasan lain masih menumpuk, entah mau diapakan.

Seleksi berikutnya saya lakukan bulan lalu. Kali ini, karena buku-bukunya masih bagus dan cukup populer (dilihat dari tema/ judul dan penulisnya), maka saya putuskan untuk menjualnya, lewat shopee… silakan cek toko saya ya sis :p https://shopee.co.id/asri_putri

Dan, ga menyangka responnya sangat bagus. Banyak yang berminat… sayangnya.. saya lagi di Tangerang sementara semua stok ada di Bandung, jadi beberapa pesanan terpaksa saya tunda prosesnya. Ya.. rezeki ga kemana :)

Nah, melihat respon yang baik pada buku-buku bekas ini, saya jadi kepikiran jualan buku bekas online saja haha… yaa semoga ada jalannya. Karena dari duluuu saya emang bercita-cita pengen punya usaha yang berkaitan dengan buku tapi belum ada usaha apa pun untuk mewujudkannya. *basiloe* *tekegeura* wkwk…

Celoteh Akhtar [1]

Leave a comment

*

Al Wahsi
Akhtar ngompol untuk yang kedua kalinya hari itu. Bekas ompol semalam pun belum dibersihkan, hanya ditutup kain dan bantal, eladalah siangnya malah ngompol lagi…

M : Akhtar mah ngompol terus ah… jadi tambah luas deh kasur yang kena ompolnya…

Dia menanggapi… 

mengejutkan…

A : Al wahsi* artinya maha luas… jadi ompol adalah al-wah-si

M : -_-‘

*maksudnya Al Waasi’ dalam Asma’ul Husna

– Nov 2016 –


**

Al Kahfi

Suatu hari Jumat…

A : Mim baca Al Kahfi…

Katanya, minta perhatian.

M : Iya.. sok

A : Al kahfiii… mal kahfiii… wamaa adrooka mal kahfiii…

M : -_-‘

– Nov 2016 –


***

Do’a Bocor

Mim buka pintu rumah.

M : Wah ternyata hujan… allahumma…..

A: … shoyyibannaafiaan…

M: Hujan itu salah satu waktu mustajabnya berdoa

A: Ya Allah… Ya Allah… semoga ga bocor lagi ya. 

Hari sebelumnya langit-langit dapur bocor.

A : Kok ga bocor lagi ya? 

Eh doi malah balik nanya.

M: Kan udah diperbaiki

A: Kalo bocor doanya gimana kalo bocor?

M: (mikir) Ya kayak tadi Akhtar berdoa aja, semoga ga bocor lagi ya Allah…

A : Ooh… 

– 22 Nov 2016 –


****

Takut

Akhtar lagi suka nahan pipis dua minggu terakhir. Seringkali baru mau ke kamar mandi setelah pipis udah sampai ujuuung…

Mim ngebujuk…

M : Akhtar ga boleh nahan pipis dong… waktu kecil Mim suka nahan pipis juga, habis itu pipisnya sakiiiitt. Trus kalau pipis Mim nangis karena sakit… 

Melanjutkan cerita dengan ekspresif

M : Abis itu mah Mim ga mau lagi nahan pipis, takut pipisnya sakit lagi.

A : Mim… takut itu kepada Allah…

M : Eh… hmm…speechless

– 17 Des 2016 –


*****


Ayo Belanja ke Warung!

Leave a comment

Gerai-gerai retail modern (baca: minimarket), yang sekarang ini menjamur hingga ke kampung-kampung, berdasarkan penelusuran saya di google, dikelola oleh korporasi besar yang mana pemiliknya tidak akan langsung jatuh miskin, bahkan jika seluruh masyarakat berhenti berbelanja ke minimarketnya.

Bandingkan… dengan warung kecil tetangga kita. Dimana pemiliknya, sekaligus yang melayani kita berbelanja mungkin menggantungkan pendapatan keluarganya dari omzet warungnya.

Mengingat hal tersebut… masih enggan kah kita berbelanja ke warung-warung kecil dan lebih memilih i*domaret atau a*famart demi alasan kenyamanan dan kepraktisan? 

Oke.. langsung aja kita kupas ya… Mengapa kita harus berbelanja ke warung?

Pertama… 

Warung-warung itu walaupun kecil namun fungsional lho. Memenuhi kebutuhan konsumsi dasar masyarakat di sekitarnya. Dari mulai bumbu dapur sehari-hari hingga kebutuhan kamar mandi. 

Warung pun biasanya menyediakan produk dalam kemasan ekonomis (baca: sachet) sehingga lebih ramah di kantong in case butuh suatu barang tapi tidak punya cukup uang untuk membeli barang tersebut dalam kemasan besar.

Kedua…

Menghindari konsumsi yang tidak perlu. 

Berbagai diskon atau promo di gerai retail modern kadang mengalihkan fokus kita dari catatan belanja yang seharusnya. Display produk pun diatur sedemikian rupa sehingga pembeli menjadi belanja lebih banyak. 

Belum lagi kalau belanja bersama anak. Mungkin ada pengeluaran lain yang sulit dihindari. 

Kalau tidak cukup kuat dengan godaan marketing mereka, maka cukuplah berbelanja ke warung tetangga.

Ketiga…

Terjadi interaksi sosial dengan pemilik warung. 

Pada umumnya, pemiliknya sendiri yang melayani kita berbelanja di warung. Di dunia yang semakin ‘dingin’ dan ‘asosial’ saat ini, interaksi hangat antar pembeli dan penjual di warung bisa menjadi salah satu obatnya.

Pembeli dan penjual bisa saling tahu nama masing-masing, bahkan penjual bisa tahu dimana rumah kita, tak jarang saling mengikhlaskan jika pembeli kurang bayar atau penjual kurang kembalian, atau mencatatnya sebagai deposit untuk pembelanjaan berikutnya. Ada saling percaya disitu, yang hampir tidak mungkin terjadi di minimarket. 

Hubungan yang baik dengan pemilik warung pun bisa mendatangkan bonus belanja ga terduga lho. Seperti mamah saya pernah diberi satu set cangkir oleh pemilik warung langganan.

Keempat…

Membantu pengusaha kecil lainnya.

Selain produk-produk kemasan pabrik besar, di warung juga tersedia barang produksi pengusaha-pengusaha kecil, pada umumnya berupa makanan ringan.

Kalau pernah memerhatikan beberapa penyuplai makanan ringan itu ke warung-warung, mereka adalah rakyat kecil yang menghantarkan produknya dari warung ke warung dengan hanya berkendara  motor, sepeda, gerobak, bahkan hanya dengan ditanggung make rancatan. (basa sunda hihi).

Saya ‘hanya’ ibu rumah tangga bergelar SE yang tidak (lagi) paham urusan hitung-hitungan perekonomian negara, ekspor, impor, anggaran negara, pajak, inflasi apalah inilah itulah. Yang paling mudah saya pahami adalah.. berbelanja ke warung adalah salah satu cara menggeliatkan aktivitas ekonomi di kalangan masyarakat ekonomi bawah.

Kelima…

Untuk barang-barang tertentu (bahan-bahan masakan terutama), kualitasnya lebih baik lho.

Contoh, yang sering saya beli… kacang ijo. Logikanya karena persediaan di warung itu sedikit, jadi perputarannya juga lebih cepat. Kacang ijo kemasan di gerai modern mungkin hasil pengemasan beberapa bulan lalu, karena melalui jalur distribusi yang lebih panjang sehingga barangnya tidak lagi fresh. Begitu pun bahan-bahan masak lain.

***

Jadi… kudu banget ya belanja ke warung?

Ya sebisa mungkin. Mungkin ada beberapa barang kebutuhan kita yang tidak tersedia di warung, ya sudah sesekali aja boleh lah ke minimarket.

Atau bisa juga dengan mencari barang tersebut ke warung/ toko yang lebih besar. Seperti, jika kita membutuhkan kemasan lebih besar untuk produk-produk tertentu. 

Eh tapi, kemasan plastik kecil di warung itu ga ramah lingkungan lho?

Memang iya, kemasan sachet/ isi ulang sebenarnya tidak lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan kemasan botol/ kaca. Solusi terbaik sebenarnya dengan mulai menggunakan barang ramah lingkungan. Back to nature gitu lho. Cuci piring/ baju pakai klerak, mandi pakai jeruk nipis+soda, gosok gigi pakai batang siwak, bumbu masak pakai yang alami. Tapi, bagi yang belum mampu (karena saya pun belum…) hiks, solusinya adalah belanja ke toko yang lebih besar untuk mendapatkan produk dengan kemasan botol/ kaca. 

Kalau di dekat rumah saya di Padalarang, ada toko grosir kecil yang lumayan lengkap dan harga barangnya bisa lebih murah daripada di I*domaret dan A*famart lho. Toko-toko serupa juga banyak terdapat di pasar-pasar tradisional dimanapun.

***

Nah, cukup punya alasan kan sekarang untuk back to warung?

Ayo kembali berbelanja ke warung!

 


Balita Tidak Boleh Diajari Membaca?

Leave a comment

Saya beprinsip untuk tidak terlalu dini mengajari Akhtar membaca. Apa urgensinya? Saya pikir. Bukankah lebih baik anak seusia itu diajari adab-adab baik yang akan menjadi kebiasaannya hingga dewasa? Mendekatkan anak dengan buku di usia dini bukan dengan mengajarinya membaca, tapiii.. dengan membacakannya buku.

Tapi… prinsip itu berbanding terbalik dengan kenyataan. Akhtar (terlanjur) bisa membaca di usianya yang saat itu masih 3 tahun 2 bulan. Itu pun bukan saya yang mengajari, melainkan neneknya. Ada perasaan bersalah ketika melihat Akhtar diajari membaca, “Sudah.. sudah.. ga usah.. nanti aja.. masih terlalu kecil..”. Tapi toh saya melihat Akhtar menikmati proses belajarnya. Saya membuat banyak batasan agar Akhtar tidak terlalu sering diajari membaca. Namun anak-anak itu cepat sekali menyerap pelajaran. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mempelajari hal baru.

Setelah saya pikir ulang… rasanya ga ada salahnya anak balita bisa membaca. Ambil positifnya aja.. di waktu-waktu tertentu ia bisa menjadi pembelajar mandiri dengan memilih dan membaca buku yang diinginkannya. 

Bagi Anda yang ingin mengajari anak membaca di usia dini, saya ingin berbagi sedikiiit tips berdasarkan pengalaman saya. 

1. Niat

Setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya kan? Periksa dulu niat di hati masing-masing, dengan tujuan apa mengajari anak usia dini membaca? Kalau hanya untuk menuai pujian atau membuat anak terlihat menonjol dibandingkan anak lain, urungkan dulu niat untuk mengajari mereka membaca.

2. Beri Rangsangan yang Tepat

Anak-anak tidak ujug-ujug tertarik pada sesuatu kalau sebelumnya kita tidak mengenalkannya pada hal tersebut. 

Sebenarnya, menurut saya rangsangan yang paling tepat agar anak mau belajar membaca adalah dengan mengenalkannya pada buku, rutin membacakannya, dan memperlihatkan budaya senang membaca di hadapannya. 

Di samping itu, kita bisa menempel poster huruf-huruf agar anak bisa mulai mengenal simbol huruf dan ‘membacanya’ setiap saat.

3. Metode yang Tepat

Setiap orangtua yang mengamati perkembangan anaknya, pasti paham metode belajar seperti apa yang cocok diterapkan pada anaknya.

Dalam hal membaca, Akhtar pakai buku belajar membaca yang disusun neneknya untuk mengajari murid-murid kelas 1 di sekolah. Jadi, Akhtar belajar sambil duduk manis memerhatikan buku.

Anak yang lain mungkin belajar sambil bergerak, loncat-loncat, berkisah, crafting… de el el. Orangtua masing-masing yang paling tahu kan :)

4. Jangan Dipaksa

Menurut saya ini poin yang paling penting. Jangan memaksa anak pra sekolah, apalagi anak usia dini, belajar membaca kalau mereka tidak ingin. Jangan membanding-bandingkan satu anak dengan yang lain. Jangan baper kalau lihat anak seusia anak kita memiliki kemampuan yang tidak dimiliki anak kita. Fokus aja pada perkembangan anak kita, dengan terus memberi rangsangan yang tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.

5. Sebisa mungkin, anak diajari membaca oleh orangtuanya sendiri.

Menurut saya, hal itu memberikan beberapa keuntungan, diantaranya: Membangun kedekatan orangtua dengan anak. Trus HEMAT cuy.. haha. Daaan… keuntungan yang tidak terhitung adalah… pahala yang tidak terputus jika si anak menggunakan kemampuannya untuk kebaikan. Iya… amal jariyah dari ilmu yang bermanfaat kan? :)

Maka, setelah anak bisa membaca, tugas kita berikutnya adalah mengarahkan anak untuk membaca ilmu-ilmu yang baik saja, antara lain dengan memfasilitasinya dengan buku-buku yang bermanfaat untuk kehidupan dunia, terutama akhiratnya.

***

Okey… panjang ya… Haha…

Kalau sedikit saya simpulkan…

Buku itu katanya jendela dunia, kuncinya adalah dengan membaca. Tapi sekedar ‘bisa membaca’ tidak menjadikannya bisa menjelajahi dunia. Maka ajari mereka untuk mencintai ilmu, dan menjadi sebaik-baiknya manusia dengan ilmu tersebut. 

Channel Telegram Favorit

Leave a comment

Puluhan tahun lalu, telegram adalah salah satu layanan kantor pos untuk menyampaikan pesan pendek jarak jauh secara cepat. Seiring berjalannya waktu telegram pun ditinggalkan karena orang-orang mulai berpindah ke pager, lalu ke HP hingga masa kini.

Telegram pada masa internet ini lebih dikenal sebagai salah satu aplikasi chatting, seperti whatsapp. Walaupun tidak sepopuler dan digunakan seluas whatsapp, telegram tetap menjadi salah satu aplikasi favorit saya, terutama karena ia menyediakan fitur ‘channel’ yang tidak saya temukan di aplikasi chat lain.

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar tentang apa itu ‘channel telegram’, udah banyak blog lain yang bahas, terlebih karena saya tidak punya kemampuan untuk menjelaskannya, hehe.

Disini saya akan berbagi beberapa channel telegram yang saya ikuti dan menjadi favorit saya… terutama channel-channel tentang kajian ilmu islam.


1. Yufid TV – @yufidtv – 
https://telegram.me/yufidtv

Konten:

– video pendek tausiyah dan ceramah para ustadz dengan berbagai tema

– video tata cara ibadah, misal yang pernah saya tonton tentang tata cara shalat nabi, tata cara mandi besar, dll.

– ceramah/ tausiyah yang dibuat motion graphic sehingga lebih menarik

– video slideshow artikel-artikel dari berbagai websites Islam

– Serial Bincang Ringan Angkringan (salah satu favorit saya -dan Akhtar. Pemerannya 2 orang laki-laki yang ngobrol ringan seputar agama di angkringan, dengan bahasa Jawa… berteks bahasa Indonesia juga tapinyaa.. hehe)

Daaan lain-lain… kece lah pokoknya.

2. Siroh Nabawiyyah – @sirohnabawiyyah – https://telegram.me/sirohnabawiyyah

Belajar siroh secara online bersama Ustadz Budi Ashari, ahli sejarah Islam.

Materi kajian berupa audio dibagikan di channel tiap Selasa pagi.

Channel ini membantu bangeeeut buat saya yang agak susah belajar siroh hanya dengan membaca buku, terlebih bahasannya mendalam. Kita diajak untuk tidak sekedar tahu peristiwa, namun juga mampu menggali hikmah/ pelajaran darinya.

3. Tarbiyatul Aulad – @TarbiyatulAulad – https://telegram.me/TarbiyatulAulad

Konten:

– audio ceramah ustadz-ustadz yang berkaitan dengan parenting islami

– artikel-artikel tarbiyatul aulad

– silsilah nasihat dan bimbingan tarbiyatul aulad dalam bentuk eposter

– dll

4. Jadwal Kajian – @jadwalkajianID – https://telegram.me/jadwalkajianID

Info terkini kajian Islam di berbagai kota di Indonesia, bahkan beberapa negara luar juga.

Tapi… berhubung mobilitas terbatas, jadiiii.. diriku sekedar cuktau (alias cukup tau) aja ada kajian disini dan disono… :|

5. Tadabur Quran – @pptqattaqwa – https://telegram.me/pptqattaqwa

Sebenarnya ini channel resmi salah satu pesantren Alquran. 

Channel ini secara rutin membagikan tafsir ayat-ayat Alquran untuk kita renungkan.

InsyaAllah sumbernya shahih, diantaranya mengambil dari Tafsir Ibnu Katsir.

6. Bincang Parenting Fauzil Adhim – @MohammadFauzilAdhim – https://telegram.me/MohammadFauzilAdhim

Channel yang dikelola langsung oleh Ust. Fauzil Adhim. Berisi tulisan-tulisan beliau yang biasa di share di media sosial lain juga (FB).

Tapi, dengan channel telegram ini kita ga perlu khawatir tertinggal postingan beliau, yang terlama sekalipun.

7. Tausiyah Bimbingan Islam – @tausiyahbimbingan – https://telegram.me/tausiyahbimbingan

Pernah tahu atau malah udah join grup BiAS alias Bimbingan Islam di whatsapp? Yaitu kajian online yang sarat ilmu bangeeet.. setiap hari ada share audio kajian -plus teksnya sekalian- dari para ustadz. Betapa Allah mudahkan kita ya untuk menuntut ilmu dengan kemajuan teknologi saat ini, tinggal kitanya mau belajar atau tidak.

Nah, BiAS punya channel telegramnya juga, tapiii.. disini tidak ada sharing materi dari grup whatsapp. Biasanya ‘hanya’ berupa tausiyah singkat yang seringkali makjleb! Jleb! Jleb!

Dulu sih rutin banget ada postingan terbaru di channel BiAS, tapi belakangan jadi agak jarang.

***

Masih ada beberapa channel favorit sebenarnya, tapi dicukupkan sampai sini aja untuk malam ini.. (ngantuk euy, mana besok pagi mau jalan ke Ciledug lagi – eh kok curhat). Sisanya sih ada beberapa channel resmi website, lembaga, ataupun organisasi. Coba cari di blog sebelah hihi… (lho!?). Ciyus.. banyak keles yang ngelist referensi channel telegram mah.

Oh ya… buat yang belum tahu cara pakainya… pertama, tentu aja kudu install aplikasi telegram-nya.. channel telegram bisa dicari di kolom pencarian dengan mengetik ‘@’ terlebih dahulu… tuh nama-nama channel yang pake @ udah saya cantumin kan di atas.  

Trus nih ya.. yang pentiiiing banget kalau mau ngaji online… jangan salah pilih sumber belajar, pastikan ajarannya lurus sesuai Alquran dan Sunnah ya. Kalau ada artikel, diperiksa lagi referensinya dari mana. Kalau ada ustadz yang ga kita kenal, cari tau rekam jejaknya gimana. Kalau ada kesempatan untuk belajar offline, ya jabanin deh. 

Semoga Allah senantiasa memberi kita hidayah untuk terus memperbaiki diri, memudahkan kita untuk terus menuntut ilmu. 

Untuk diingat.. note to my self sebenernya ini mah… ilmu yang bermanfaat itu ilmu yang membuat kita semakin mengenal Allah, semakin dekat kepada Allah, semakin takut kepada Allah… ilmu apapun itu, termasuk ilmu-ilmu (yang terlihat) duniawi.

Kalau sekiranya ilmu itu justru berlaku sebaliknya… 

… jangan-jangan kita hanya menyia-nyiakan waktu :o

Older Entries