“Playdate Perdana” Sabumi

4 Comments

image

Alhamdulillah, akhirnya terlaksana juga “playdate perdana” Sabumi, komunitas keluarga homeschooling khusus muslim di Bandung.

Mengapa saya merasa perlu menambahkan tanda kutip? Karena sebelum playdate tadi siang sudah beberapa kali Sabumi mengadakan kegiatan, baik sebelum menjadi Sabumi, maupun setelah resmi bernama Sabumi. Tapi, kegiatan yang acaranya dikhususkan untuk anak-anak sepertinya baru kali ini. Sementara kegiatan-kegiatan sebelumnya biasanya lebih banyak efektif untuk orangtuanya, tidak ada agenda khusus untuk anak-anak.

Sabumi sendiri terbentuk ketika beberapa ibu merasa butuh komunitas yang mensupport keluarga pesekolahrumah khusus muslim di Kota Bandung, yang saat itu sepertinya belum terlihat. Sementara ada komunitas lain, yang secara nilai kurang cocok dengan nilai yang ingin kami tanamkan sebagai keluarga muslim. Maka, terbentuklah, komunitas HS Muslim Bandung, saat itu. Nama Sabumi sendiri baru muncul belakangan. Itu pun awalnya bernama Sakola Bumi sebenarnya, maksudnya ‘menyundakan’ istilah sekolah rumah, namun akhirnya dipakai nama Sabumi karena Sakola Bumi sendiri sudah digunakan oleh salah satu keluarga HS sebagai ‘trademark’ mereka.

Pada kenyataannya sih komunitas ini tidak sekedar untuk keluarga pegiat HS, tak sedikit yang anak-anaknya bersekolah formal, namun ingin menambah wawasan mengenai pendidikan anak dengan bergabung dengan Sabumi. Bahkan, kalo saya amati, justru komunitas ini kebanyakan berisi keluarga dengan anak-anak yang bahkan belum berusia sekolah, jadi tidak bisa dibilang HS-ers juga.

Namun kini Sabumi melebur dengan HSMN (HS Muslim Nusantara). Komunitas HS muslim yang cakupannya lebih luas, yang berkembang pesat belakangan ini. HSMN sendiri basis komunitasnya di grup whatsapp, jadi akhirnya grup inti Sabumi di whatsapp pun membuka diri untuk orangtua lain yang mau bergabung. Saat ini sudah terbentuk 2 grup dengan kuota masing-masing 90an. Kalau soal HSMN hubungannya dengan Sabumi, ada yang lebih bisa menjelaskan sepertinya.

***

image

Playdate kali ini mendapat respon yang luar biasa dari ibu-ibu di grup. Walaupun dari pengumuman acara s.d hari-H terbilang mepet, kurang dari 1 minggu, mungkin cuma 4 hari ya, tapi ibu-ibu antusias sekali untuk ikut. Total pendaftar dalam list, dari 2 grup Sabumi, mencapai 45 orang. Yang hadir berdasarkan daftar hadir ada 32 orang ibu, dengan kurang lebih 42 orang anak, belum dihitung beberapa ayah yang datang dan ibu yang belum isi daftar hadir. Wow kan?

Nah, di playdate tadi siang kami punya kegiatan membuat cat dengan bahan yang bersahabat, edible, alias bisa dimakan. Walaupun tidak dimasak, sepertinya sih memang aman dimakan, buktinya tadi siang ada ananda yang masih merangkak memasukkan kuas belepotan cat ke mulut, dan baik-baik aja hehe.

Adapun yang menyiapkan materinya kali ini Teh Devi, yang sudah mencoba membuat cat tersebut di rumah. Bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain:

4 sdm soda kue
2 sdm cuka
1/2 sdt larutan gula
2 sdm tepung maizena
Pewarna makanan

Cara membuatnya adalah:
1. Campur soda kue dan cuka di dalam baskom kecil, aduk rata
2. Setelah tercampur, masukkan larutan gula dan maizena, aduk rata
3. Bagi adonan cat ke tempat-tempat kecil, lalu beri pewarna sesuka hati

Takaran bahan-bahannya bisa disesuaikan dengan tingkat kekentalan cat yang diinginkan.

Dan… jadilah cat buatan kami.

image

Anak-anak dibiarkan melukis bersama di atas kertas roti yang dibentangkan sepanjang terpal tempat kami duduk.

image

Selesai sesi mencat, kurang lebih 1 jam, kami menggelar potluck yang dibawa masing-masing untuk dimakan bersama. Tentu saja setelah membersihkan tangan dari cat kemudian membaca doa sebelum makan.

image

Setelah cacap cicip makanan sana sini, giliran Teh Rochma mengajari anak-anak lagu tentang Sentuhan di sesi berikutnya, sentuhan seperti apa ke bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh.

image

Lalu, sesi selanjutnya adalah mendongeng oleh Kak Idzma dan Kido, tentang sentuhan juga, dan cerita tentang KPK, dapat pin keren juga lho dari KPK.

image

Seru kan? Ini baru yang pertama lho, insyaAllah, playdate akan dilakukan secara rutin, dan tidak kalah seru dari playdate tadi siang. Yang pasti sih saya udah ga sabar :)

Foto: dokumentasi pribadi, foto WA dr Teh Liza, dan Teh Hilda Sabumi 1

Dua Tahun Bersama Akhtar

Leave a comment

*late post

image

Lama gak update blog, dan saya khususkan menulis hari ini untuk sedikit flashback kehidupan Akhtar 2 tahun ke belakang.

Ya, Akhtar tepat 2 tahun hari ini, 9 Juni 2015. Waktu yang singkat namun merangkum banyak kejadian dalam keluarga kami.

Akhtar lahir di sebuah rumah bersalin, bagian dari Rumah Sakit PTPN, di Kota Jember dalam kondisi rumah sakit yang ‘seadanya’. Saya bilang ‘seadanya’ karena saya berharap lebih dari sekedar seadanya itu. Namun itu pilihan, saya yang memilih menunggu saat-saat melahirkan di dekat suami, karena bagi saya itu lebih nyaman. Tapi ‘risiko’nya tidak banyak rumah sakit yang bisa jadi pilihan, mengingat Jember tidak sebesar Bandung, apalagi Jakarta. Pada akhirnya menjelang hari H, saya justru dijemput dan diantar ke RS oleh teman kantor suami, Mas Hadi, dan istrinya yang baik hati, karena malam itu suami masih dalam perjalanan pulang dari Surabaya untuk menjemput mertua saya dari Bandung.

Proses kelahiran yang diharapkan normal pun akhirnya berakhir caesar. Saya sendiri merasa dokter kandungannya tidak terlalu support normal, atau hanya perasaan saya saja? Karena dalam berkomunikasi, saya merasa beliau agak menjatuhkan mental saya untuk bisa melahirkan normal. Lagi-lagi itu konsekuensi dari pilihan saya, beliau adalah satu-satunya dokter kandungan perempuan terdekat, yang harus saya pilih karena suami hanya mengizinkan saya diperiksa oleh dokter kandungan perempuan.

Dengan kondisi seadanya pun, rumah sakit belum support IMD untuk kelahiran caesar, dan setelah lahir Akhtar langsung saja diberi formula dengan merek yang diminta dipilih oleh keluarga. Sementara saya masih di ruang ICU sampai 6 jam, dan menahan haus 2 jam terakhir karena saya tidak diperbolehkan minum sebelum efek obat biusnya hilang. Sampai berkali-kali saya minta minum, dalam keadaan setengah sadar saya seperti mendengar perawat mengatakan saya ‘ga sabaran’.

Ya itu sekelumit Akhtar di rumah sakit pada hari-hari pertamanya. Pelajaran bagi saya, agar lain kali (jika melahirkan lagi) lebih mengetahui hak-hak apa saja yang akan kita dapat/ tidak kita dapatkan sebagai pasien, juga penjelasan mendetail mengenai tindakan yang dilakukan RS dan konsekuensinya untuk pasien. Penting, untuk mendapatkan pengalaman melahirkan yang menyenangkan.

Beruntung, saya merasa terobati dengan dokter anak yang pertama menangani Akhtar, dokter Ayu yang ramah dan lembut menangani anak. Beliau mengunjungi saya di ruang rawat dan memeriksa kondisi Akhtar sebelum kami meninggalkan RS, yang Alhamdulillah semua dalam kondisi baik.

Akhtar tumbuh sehat, hanya pada bulan ke 10 ada ‘sedikit’ masalah dengan pertumbuhan Akhtar yang berturut-turut selama 2 bulan tidak mengalami kenaikan berat badan, sehingga badannya cenderung kecil dibanding anak seumurnya. Dan setelah diperiksakan ke beberapa dokter anak, terakhir ke dr Yulia di Bandung, beliau mendiagnosis Akhtar TB dan harus terapi obat anti TB selama minimal 6 bulan. Bukan hal yang mudah namun saya masih bisa lega dan bersyukur saat itu, karena dokter tidak mendiagnosis penyakit yang lebih berbahaya, berat, atau susah diobati.

Semakin sering kami bolak balik ke RS, semakin kami merasa harus bersyukur karena dalam antrian ke dokter, tak jarang kami mengantri bersama orangtua yang anaknya mengalami sakit yang tidak ringan.

Makanya, saya merasa tidak terbebani menjalaninya, hanya sesekali deg-degan melihat timbangan Akhtar yang tiap bulan tidak bertambah signifikan walaupun pengobatan terus berjalan. Ketika pada akhirnya pertengahan Februari 2015 pengobatan Akhtar dianggap cukup oleh dokter, berat badannya tidak mengalami kenaikan signifikan dibanding sebelum terapi, hanya naik sekitar 1,4 kg saja, dan Akhtar masih saja berpostur kecil dibanding anak seusianya. 

Selama terapi itu, jarang sekali saya menceritakan hal ini kepada orang lain. Hanya keluarga dekat dan beberapa teman saja yang pernah saya beritahu. Alasannya, saya tidak ingin orang mengasihani/ merasa prihatin atas kondisi Akhtar, toh walaupun ‘sakit’ Akhtar berkembang normal seperti anak lainnya, bahkan dalam beberapa hal dia melampaui anak seumurnya. Kedua, sakitnya Akhtar ‘tidak ada apa-apanya’ dibandingkan dengan beberapa anak yang saya ceritakan di atas, tidak ada yang perlu dikeluhkan, kami hanya mengusahakan pengobatan terbaik untuk Akhtar, bahkan walaupun harus menemui dokter sampai ke Malang dan Surabaya waktu itu, gara-gara saya tidak percaya pada dokter yang pernah menangani Akhtar di Pasuruan (waktu itu).

Dalam kondisi ini, saya belajar satu hal lagi tentang empati, bahwa rasanya tidak bijak menceritakan secara luas tentang sakitnya anak kita, padahal di luar sana, mungkin banyak orangtua yang ‘menginginkan’ anaknya ‘hanya’ mengalami sakit seperti anak kita.

Selesai terapi, rasanya saya seperti keluar dari penjara yang sangat pengap, masyaAllah, legaaaa banget, setidaknya saya tidak harus menyiapkan obat Akhtar lagi setiap setengah jam sebelum sarapan.

Kini, memasuki dua tahun, Akhtar mulai menunjukkan sisi ‘devil’nya, semakin sering tantrum, tapi pada akhirnya saya mengintrospeksi diri dan mungkin ini merupakan teguran atas cara asuh kami yang di beberapa hal kurang tepat. Kami seringkali terlalu cepat menuruti permintaan Akhtar dengan alasan ‘daripada nangis’, ga tega atau ga enak ‘berbagi’ suara tangis anak sama tetangga.

Tantrum Akhtar mulai sering ‘kambuh’ sejak kami pindah ke Jakarta. Di Jakarta kontrakan kami tidak punya halaman, dan Akhtar cepat bosan dengan aktivitas dalam rumah, pada akhirnya setiap hari dia selalu merengek sekali, dua kali, bahkan lebih, meminta bermain keluar rumah, lebih tepatnya berdiri di pinggir rel kereta melihat KRL lewat. Belum lagi, pada malam harinya, dia seperti tidak kehabisan energi untuk terus beraktivitas sampai dini hari.

Karena merasa kewalahan, saya pun pada akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di Padalarang dibanding kontrakan di Jakarta.

Tiga hari terakhir ini saya mencoba lebih sabar, dan berkomitmen mempraktikkan sedikit ilmu tentang mengatasi anak tantrum. Diantaranya tidak cepat menuruti keinginan Akhtar ketika tantrum. Ternyata ‘hanya’ butuh ‘sedikit’ sabar, ‘sedikit’ tenaga untuk menahan tubuh Akhtar yang meronta dalam pelukan, ‘sedikit’ tega, ‘sedikit’ berbagi keributan dengan tetangga, hingga pada akhirnya Akhtar berhenti sendiri menangis dan bersikap lebih manis. Ternyata cara itu membuahkan hasil, kini sikapnya lebih mudah dikendalikan.

Sebagai orangtua baru, kami masih terus belajar dan belajar. Berbekal sedikit pengalaman bersama Akhtar 2 tahun ini, kami tidak akan mengulangi hal-hal yang semestinya tidak dilakukan kepada calon adik Akhtar yang saat ini sudah 10 minggu berada dalam rahim saya.

Pindah, lagi…

2 Comments

“Siap-siap pindah lagi, kata Pinca”, kata suami saya singkat melalui Whatsapp tanggal 17 Maret 2015 lalu.
Kalau sekedar ‘siap-siap’ sih dari awal memutuskan kerja di bank terbesar dan tersebar di Indonesia ini, berarti suami emang mesti selalu siap dipindah-pindah, lah wong wis teken kontrak kudu siap ditempatkan di seluruh Indonesia bahkan di daerah pelosok, sepelosok-pelosoknya. Pertanyaan pentingnya adalah, pindah kemana???

“Belum tau, antara Kanwil atau Kanpus”, jawab suami saya.
Jadi, kemungkinannya adalah Malang atau Jakarta. Hmm… not bad lah, pindah ke kota besar setidaknya memberi kami lebih banyak pilihan pada berbagai akses pendidikan, kesehatan, transportasi, hiburan, de el el.

image

Tapi, ada tapinya juga.
Malang terlalu dekat dari Pasuruan, hanya berjarak tempuh 1 s.d 2 jam, sehingga tidak berpengaruh signifikan pada pengurangan ongkos mudik dan waktu tempuh ke kampung halaman.

Sementara Jakarta, walaupun hanya 2 jam dari Bandung, tapi kota itu terlalu besar dan keras, untuk keluarga kecil seperti kami dengan seorang bocah yang belum genap 2 tahun. Lagipula, di lubuk hati yang terdalam, ada sedikit enggan untuk kembali ke Jakarta, haha. Jakarta, buat saya, adalah salah satu kota di Indonesia yang masuk urutan buncit sebagai kota yang akan saya pilih untuk saya tinggali.

Bagaimanapun, surat keputusan sudah turun. Malang atau Jakarta?

JAKARTA!!!

image

Keluarga di kampung halaman menyambut dengan suka cita, menyisakan saya yang berdebar-debar membayangkan ibukota yang suasananya membuat orang cepat ‘panas’ dan berprasangka tidak baik pada orang yang tak dikenal.

Fiuhh… Ibu kota, sambut lah keluarga keluarga kecil kami dengan ramah :)

image

Dan hari pertama mengetahui berita tersebut, saya sibuk meng-google, dengan kata kunci tak jauh-jauh dari
“Kontrakan di daerah….”
“Sewa rumah di….”
“Sewa kost di….”
bahkan nekad pula saya ketikkan
“Sewa apartemen di….”

Pusiiiing pala Barbie…

Di Pasuruan ini, kami tinggal selama hampir 1,5 tahun di sebuah rumah dalam kompleks perumahan yang aman tenteram, dengan 2 kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah, kamar mandi, dapur, masih ditambah halaman belakang dan carport dengan biaya sewa 6 juta per tahun. Murah? Alhamdulillah… dapat harga teman, berhubung si pemilik rumah kenalan suami saya. Tapi kalaupun lebih mahal, saya rasa ga akan mahal-mahal amat.

Di Jakarta, mendapatkan harga sewa segitu dengan spesifikasi rumah seperti di atas, hanya mimpi. Kami melipatgandakan budget untuk rumah 3 s.d 4 kali dari harga sewa di Pasuruan, dan itu pun, kalau sekedar mencari di internet, susahnya minta ampun, banyak pertimbangannya.

Pertama, soal jarak dan akses transportasi umum/ pribadi ke kantor. Pilih yang dekat kantor, harga sewa mahal banget. Pilih yang jauh dari kantor, transportnya yang agak merepotkan.

Kedua, walaupun saya dan suami pernah tinggal di Jakarta dalam waktu yang cukup lama, namun kondisinya sekarang kami membawa batita, yang sedang dalam masa perkembangan yang sangat pesat. Maka, lingkungan tempat tinggal menjadi hal yang paling kami pertimbangkan.

Dengan kriteria yang ‘hanya’ dua itu saja, plus pertimbangan dari budget yang ga seberapa, pada akhirnya hasil berasyik masyuk dengan si google hari itu pun NIHIL.

Kalaupun ada rumah yang masuk budget, kondisinya kalau sekedar dilihat dari foto terlihat kurang nyaman ditinggali. Dengan budget tak seberapa, memang kami tidak bisa berharap banyak.

Blusukan, ala Mr Presiden, menjadi salah satu jalan terefektif menemukan kontrakan yang sreg di hati. Dan itu berarti baru akan kami lakukan awal April nanti berbarengan dengan kepindahan kami ke Jakarta.

Ya Allah… permudahlah…

Emak-Emak Hebat, Katanyaaa…

Leave a comment

Beberapa hari yang lalu, seseorang, entah siapa, meng-add saya di grup beranggotakan hampir 12.000 orang yang menamakan dirinya emak-emak hebat. Kadang beberapa post dari grup tersebut muncul di timeline saya. Awalnya saya tidak merasa terusik, hanya saja setelah saya visit grupnya dan membaca postnya satu per satu, kok saya merasa isinya banyak yang ga sesuai dengan nama grupnya yang dalam asumsi saya berisi ibu-ibu tangguh, tidak cengeng, saling memotivasi, sharing soal ilmu ini itu, dan hal-hal positif lainnya. Malah lebih banyak yang curhat soal suami yang begini, mertua yang begitu, ipar yang begono, tetangga yang anu, galau karena ini itu, atau saya yang “da aku mah apa atuh”, yang mana kebanyakan bernada negatif dan pesimis, bahkan ada yang cenderung ke ghibah.

Satu hari, saya membaca post yang juga menyayangkan hal yang sama, kurang lebih isinya mempertanyakan, “Emang gak malu ya curhat masalah keluarga di grup?” Beberapa mengamini, namun ada juga yang berargumen kurang lebih seperti ini, “Saya kan juga ga kenal satu per satu anggota di grup ini, jadi fine-fine aja kalo mau curhat soal keluarga, toh gak akan ada yang tau siapa saya dan siapa keluarga saya”. Mungkin yang menulis itu salah satu oknum yang suka curhat di grup? Ga tau deh.

Ibu-ibu, bijak lah bersikap, santun bertutur. Yang punya masalah keluarga bukan hanya saya atau Anda seorang, bahkan mungkin banyak yang lebih berat masalahnya, namun memilih sarana yang lebih tepat untuk menyelesaikannya. Lagipula, di ruang publik seperti itu, belum tentu semua orang nyaman dengan yang kita sampaikan. Di ruang publik, maya ataupun nyata, kita ikut bertanggung jawab akan kenyamanan orang lain.

Pada akhirnya, hari ini saya leave dari grup tersebut. Salah satu yang membuat saya gerah adalah ketika seorang anggota grup mem-posting foto bayi yang diberi rokok oleh orangtuanya -kayaknya belakangan ini foto itu lagi heboh- dengan komentar nyinyir yang kurang lebih seperti ini, “Kok ada ya orangtua yang tega kayak gini sama anaknya”, tanpa mem-blur atau menyensor wajah si bayi. Lalu, status itu pun banjir komentar dengan nada hujatan kepada orangtua dan rasa iba kepada si bayi.

Kalau memang beliau peduli, seenggaknya, paling minimal banget, menurut saya, laporkan akun pemilik foto tersebut ke pihak FB. Saya tidak tahu seberapa efektifkah cara itu, namun satu perbuatan kecil saya kira lebih baik daripada ratusan bualan besar. Bukankah dengan menshare hal yang seperti itu malah lebih mengeksploitasi si anak yang sejatinya tak tahu apa-apa itu?

Atau kalau mau lebih peduli lagi, kalau tangan sendiri tidak mampu merubah keadaan, bisa kan meminta perhatian tokoh-tokoh parenting/ pendidikan yang akunnya banyak bertebaran di FB melalui pesan pribadi atau me-mention-nya secara langsung? Pun kita tidak tahu seberapa efektif kah cara ini. Setidaknya, berbuat!

Namun, kalau tidak bisa berbuat apa-apa, lebih baik diam kan daripada menyebarkan foto itu ke lebih banyak orang? Apalagi tanpa memberi solusi.

Ya, tapi begitu lah dunia ibu-ibu. Semakin dimasuki semakin rumit dan rempong dan nyinyir dan bising dan… dan lain lain  :D

Saya bersyukur lebih banyak grup ibu-ibu yang menjadi tempat belajar dan berteman yang nyaman dan bermanfaat. Pintar-pintar saja kita memilih komunitas/ grup agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang kurang/ tidak bermanfaat.

-selesai-

Impian Kulinerku

2 Comments

Ada lah salah satu program favorit saya di channel National Geographic People yaitu Eat Street, yang juga menginspirasi saya bermimpi memiliki kedai makanan yang bisa mobile kemana-mana.

image

natgeotv.com

Acara ini meliput berbagai food truck ngetop di USA. Dengan pengambilan gambar makanan yang menarik, saya dibuat menelan ludah berkali-kali karena tampilan makanan dan ekspresi orang yang memakannya membuat makanan itu terlihat saaaaangat lezat.

image

natgeotv.com

Senang juga melihat para pengelola food truck yang sepertinya sangat mencintai pekerjaan mereka. Menyiapkan pesanan, melayani orang-orang yang antri mengular, dan puas melihat para pelanggannya kenyang dan senang.

Sampai-sampai saya bermimpi bisa melakukan hal yang sama. Ya, saya ingin punya kedai berjalan dengan menu istimewa yang dinanti-nanti oleh para pelanggan.

TENTANG FOOD TRUCK

Jadi, food truck itu katanya mulai menjamur ketika krisis keuangan, hmm.. yang 1998 atau 2007 gitu ya? Food truck muncul sebagai solusi makan yang murah, baik bagi penjual maupun pembelinya. Pada awal keramaiannya, food truck ini hanya menyajikan fast food ala Amerika, namun pada perkembangannya kini orang-orang disana bisa menikmati hidangan restoran mewah di sebelah sebuah truk makanan. Waw…

Intermezo: Tiba-tiba inget warung tenda Semanggi yang ramai tahun 1998an… hmm… pemicunya krisis keuangan juga bukan sih?

Sementara, sebenarnya food truck ini sudah muncul lama sekali sejak revolusi industri, dimana para pekerja membutuhkan makan siang yang cepat dan mudah dicapai. Yang mana ide memasak di dalam kendaraan itu datang dari zaman cowboy yang sering melakukan perjalanan berbulan-bulan menggiring ternak dari satu wilayah ke wilayah lain di USA. Salah satu gerobak yang mengiringi perjalanan mereka yaitu gerobak berisi persediaan makanan, lengkap dengan peralatan memasaknya.

Kira-kira begitu yang bisa saya simpulkan dari tayangan itu dan penjelasan tambahan dari program United Stuff of America. Maaf ya kalo salah salah, kalo lupa lupa, moga-moga ga disemprit ma yang punya acara hehe…

Merasa terinspirasi, membuat saya pun ingin memiliki sebuah Food Truck :)

Ngawang-ngawang?

Jadi, sebenarnya sudah sejak lama saya bermimpi punya usaha makanan, spesifiknya yang selalu terbayang-bayang sih toko kue/ cake. Kenapa? Karena biasanya cake itu bercitarasa manis dan saya penggila camilan manis, wehehehe… Lumayan menggebu waktu kuliah, namun tidak ada sedikitpun langkah nyata untuk mewujudkannya. Hadeuuh… Eh ada deng, saya rajin beli tabloid khusus resep makanan waktu itu bhihihihi…

Tapi ya impian itu hanya muncul selewat-selewat dalam kehidupan sehari-hari saya. Kadang inget kadang nggak. Nah, semenjak jadi cewek rumahan ini saya mulai menggali kembali impian-impian lama saya, memikirkan bagaimana mewujudkannya, daann… sayangnya hanya sebatas memikirkan, lagi-lagi belum ada langkah nyata. Heuheu… Bahkan cita-cita saya waktu masih SD muncul memenuhi salah satu ruang hati saya #eaaa, apa itu? Mendirikan dan mengajar anak-anak TK :)

Saya pikir, ga mudah dan ga murah mewujudkan impian yang dalam kasat mata membutuhkan sangat banyak uang itu, walaupun teorinya, ketika memulai bisnis, katanya modal utamanya adalah apa pun yang melekat pada diri kita, bukan uang. Tapi, uang, menurut saya, bisa menjadi pengungkit agar bisnis terbangun lebih cepat. KJSS #koreksijikasayasalah.

Nah, gara-gara Eat Street ini mimpi saya sedikit bergeser, bukan membuka toko, tapi saya ingin mengendarai toko itu kemana-mana. Sebuah toko berjalan khusus makanan pencuci mulut, yang akan saya namai Candy Crush. Eh… kok… itu bukannya nama game? Wkwkwk…

image

Suatu malam di Bandung, saya dan suami pernah kencan ke Braga Culinary Night, banyak penjual jajanan yang melayani pembeli dari dalam mobil yang sudah dimodifikasi agar bisa untuk berjualan. Namun rata-rata mereka menggunakan mobil hanya seukuran VW Combi. Menurut saya itu langkah yang bagus sebagai awal, karena mengelola kendaraan yang lebih besar pasti membutuhkan dana yang lebih besar lagi. Dan saya perkirakan, dengan sotoynya tanpa riset apapun, hahaha, beberapa tahun ke depan akan ramai food truck-food truck kecil di Kota Bandung.

Ah, yaa.. gitu deh… itu impian saya…

Menunggu untuk diwujudkan :)

Belajar Melalui Poster

Leave a comment

Sebagai penggemar Asma Nadia, saya mengoleksi banyak sekali buku beliau. Salah satu yang saya suka adalah buku Catatan Hati Bunda yang justru saya beli jauh sebelum menikah dan memiliki anak.

*Sebenarnya saya kurang yakin, yang akan saya ceritakan di tulisan ini tuh bagian dari buku Catatan Hati Bunda, atau buku Asma Nadia yang lainnya, kebetulan saat ini tidak sedang menyimpan bukunya di rumah kontrakan, hehehehe… *

Back to topic…

Setelah menikah, sebelum Akhtar lahir, saya menyempatkan diri membaca lagi buku itu. Ada satu bahasan menarik yang sangat melekat di ingatan saya, yaitu tentang poster, atau apapun itu yang ditempel di dinding.

Jadi, Mba Asma Nadia ini menggunakan poster sebagai salah satu media yang mudah dan murah untuk belajar anak-anak. Poster bisa menjadi bahan cerita yang tak akan habis-habisnya, seandainya orangtua ataupun pengasuh tidak punya bahan obrolan lagi untuk anak. Melalui satu poster yang sama, anak-anak bisa belajar hal yang baru setiap hari.

Kok bisa?

Misal, kita tempelkan poster gambar hewan. Hari ini mungkin anak akan belajar mengenali berbagai macam hewan, besok mungkin anak akan belajar tentang warna-warna bulu hewan, hari berikutnya mungkin anak akan belajar menghitung jumlah kaki hewan, dst dst…

Sebenarnya tidak harus poster, apapun bisa ditempel dinding, termasuk struk belanja mungkin? Atau daftar menu keluarga? Yang pasti salah satu tujuan penggunaan poster ini juga untuk merangsang anak ‘membaca’ setiap hari, setiap saat. Bahkan hasil belajar origami yang tak seberapa jelek ini pun saya tempel di dinding. Ngikik… hihi…

image

Nah, saya pun mencoba menerapkan ini di rumah. Dimulai dari menempel apa yang sudah tersedia, yaitu peta dunia dan peta Indonesia yang dimiliki suami jauh sebelum menikah. Tak sengaja, lewat depan rumahmu menemukan lipatan peta ini di antara tumpukan dokumen-dokumen bekas, ya sudah saya tempel sebagai pengganti wallpaper di ruang keluarga dan ruang tidur. Sekalian juga saya belajar geografi :D

image

Sebelum menempel peta itu, di rumah sudah tertempel pula poster hewan dan buah-buahan peninggalan penghuni lama rumah ini. Untuk seusia Akhtar, saya amati, dia hanya mengenali hewan yang wujudnya sudah pernah dia lihat langsung. Jadi, di poster hewan itu, Akhtar hanya mengenali kucing dan ayam.

image

Poster tidak mesti beli kok. Kita bisa membuatnya sendiri dengan modal kertas bekas dan spidol. Seperti poster alfabet, huruf hijaiyah, dan angka-angka ini yang saya buat di belakang kalender bekas.

image

Saya sebenarnya punya prinsip untuk tidak terlalu dini ‘memaksa’ anak belajar membaca, kecuali jika anaknya yang berminat dan meminta belajar. Tujuan dibuatnya poster huruf-huruf ini agar anak tidak asing dengan bentuk huruf dan angka, selain karena saya tidak pandai menggambar apapun selain huruf-huruf ini bhihihihi. Kalau dengan poster ini kemudian anak jadi hafal huruf, itu bonus, bukan tujuan utama.

Pun tanpa saya ajari, Akhtar sudah mengenali beberapa huruf alfabet dan hijaiyah, modalnya hanya poster dan nyanyi-nyanyi tanpa lelah… fiuh…

Nah, siapa yang sudah mempraktikannya di rumah? Mari berbagi pengalaman :)

[Buku] Pendidikan Anak Ala Jepang

2 Comments

image

Identitas Buku

Judul Buku : Pendidikan Anak Ala Jepang
Penulis : Saleha Juliandi dan Juniar Putri
Penerbit : Pena Nusantara
Cetakan : I, Oktober 2014
Tebal : xii + 173 halaman

***

Tuntas membaca buku “Pendidikan Anak Ala Jepang” membuat saya merasa, hmm… semakin miris dengan sistem pendidikan (formal) di Indonesia. Kapankah sistem pendidikan Indonesia akan menyamai atau, kalau boleh berangan-angan, melampaui Jepang, yang mana disana pendidikan karakter lebih dikedepankan daripada sekedar nilai-nilai mata pelajaran di atas kertas?

Rasa-rasanya sistem pendidikan kita tidak banyak berubah selama belasan tahun (atau puluhan tahun?) belakangan ini, kecuali perubahan kurikulum yang berganti hampir di setiap periode pemerintahan, itu pun kadang dibarengi pro dan kontra.

Tujuh belas tahun lalu, ketika mengikuti Ebtanas kelas 6 SD, kami sekelas mendapat contekan jawaban langsung dari wali kelas dan guru pengawas, dan saat ini pun masalah kebocoran soal UN atau contek menyontek massal sudah biasa menghiasi berita UN tiap tahun. Tapi toh tiap tahun berulang terus? Artinya tidak ada perbaikan? Itu hanya salah satu contoh persoalan saja. Persoalan lainnya? Bullying, pornografi, kekerasan guru terhadap murid, atau sesama murid, ah… makin panjang saja daftar kekhawatiran saya, membuat orangtua merasa semakin berat melepas anak-anaknya ke sekolah.

***

It takes a village to raise a child“, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Dan seperti itulah Jepang dalam membesarkan generasi mudanya. Tidak hanya orangtua dan guru yang mengambil peran mendidik dan melindungi anak-anak, orang-orang di lingkungan sekitarnya pun menempatkan diri sebagai pendidik dan pelindung anak-anak.

Misalnya, diceritakan di buku itu, ketika anak-anak SD berangkat sekolah, yang mana harus berjalan kaki dengan jalur tertentu, masyarakat yang dilalui dalam perjalanan menuju/ dari sekolah diberdayakan untuk menjaga anak-anak itu, demi memastikan keamanan dan keselamatan anak-anak hingga tiba di/ dari sekolah. Rasanya istimewa sekali ya jadi anak-anak di Jepang.

image

Diambil dari buku Pendidikan Anak Ala Jepang

Selain itu, di bawah ini saya catat beberapa hal unik, menurut saya, yang membedakan sekolah di Jepang dengan di Indonesia, pada umumnya:

Sekolah/ guru-guru disana menganggap semua anak pandai dan memiliki kelebihan masing-masing. Satu anak tidak dibanding-bandingkan dengan anak yang lainnya, maka tidak ada istilah si A lebih bodoh, atau si B lebih pantas mendapat hadiah, dsb, bahkan dalam suatu pesta olahraga antar siswa pun, semua siswa, tidak hanya yang jago di bidang olahraga, terlibat aktif dalam setiap perlombaan termasuk anak yang berkebutuhan khusus. Semua anak akan mendapat hadiah yang sama pada akhir acara, karena tujuan acara itu adalah untuk mencapai kesehatan bersama, lebih dari sekedar mencapai prestasi angka-angka.

image

Selain itu, sistem penilaian mereka di rapor tidak berupa angka dan tidak ada sistem rangking. Hanya ada 3 kategori nilai yaitu perlu ditingkatkan, bagus, dan sangat bagus. Tidak ada istilah tidak naik kelas, karena anak di’kelas’kan berdasarkan umurnya. Jika anak kurang bisa mengikuti pelajaran, maka tugas gurunya lah untuk membimbingnya secara khusus.

Anak-anak bersekolah harus di wilayah tempat tinggalnya, kalau di Indonesia setara kelurahan atau kecamatan kali ya? Karena jaraknya yang relatif dekat, maka anak-anak SD dst harus berjalan kaki ke sekolah. Sementara anak-anak TK naik jemputan. Hal itu sekaligus juga dapat mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya, mengurangi polusi, menghemat energi, dan membuat tubuh lebih bugar, kan?

Hmm, terpaksa saya harus membandingkannya lagi dengan Indonesia. Karena kadung ada persepsi sekolah unggulan, sekolah favorit, sekolah standar internasional, dan semacamnya, maka banyak orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya di sekolah dengan cap mentereng itu, dimanapun lokasinya.

Lagipula, sepertinya belum ada standar mutu tertentu untuk sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Jadi, sekolah yang bagus, sering memenangi perlombaan/ kejuaraan, fasilitasnya baik, dan lulusannya banyak diterima di sekolah unggulan di jenjang berikutnya itulah yang menjadi favorit, sayangnya predikat itu hanya disematkan pada sekolah-sekolah tertentu saja, sehingga terasa adanya kesenjangan antara satu sekolah dengan sekolah yang lainnya, padahal sama-sama dikelola oleh negara.

Tentang budaya masyarakat Jepang yang sangat senang membaca, ternyata karena sejak usia dini mereka sudah dikenalkan pada buku. Anak-anak di TK ataupun TPA dibacakan buku-buku cerita setiap hari. Dibacakan lho ya, bukan diajari membaca. Hmm, di Indonesia? Sayangnya, di usia TK anak-anak sudah ‘dipaksa’ belajar membaca, bahkan SD-SD tertentu mensyaratkan calon muridnya sudah bisa membaca sebagai syarat diterima di sekolah tersebut.

image

Poin berikutnya, guru menjadi profesi favorit dan bergengsi disana. Sebagai contoh, diungkapkan data bahwa perbandingan pelamar dengan kebutuhan guru TK disana adalah 4:1. Artinya, satu posisi profesi guru TK diperebutkan oleh 4 orang. Tidak dipaparkan sih di buku itu apa karena guru disana menerima tunjangan/ gaji yang besar atau bagaimana? Hanya katanya, hanya ada dua profesi yang pelakunya disebut sensei, yaitu profesi dokter dan guru. Guru disana pun mengajar muridnya dengan cara kreatif dan inovatif.

Selain itu mereka pun menjalin hubungan baik dengan para orangtua. Misal, pada awal tahun ajaran, guru kelas akan mengunjungi rumah muridnya satu per satu. Juga adanya buku penghubung yang menjelaskan perkembangan anak di sekolah, dan begitupun orangtua menuliskan kondisi anaknya di rumah.

Hal yang tidak umum terjadi di persekolahan Indonesia ya kan? Karena guru banyak yang lebih sibuk dengan urusan administrasi dan mengejar target menyelesaikan semua bahan pelajaran, sehingga terkesan kuantitas pelajaran lebih utama dibandingkan kualitas.

image

Di Jepang, sekolah tidak menyediakan kantin. Anak-anak membawa bekal dari rumah, atau sekolah yang menyediakan makan dengan standar kebersihan yang baik dan gizi yang seimbang.

Hal ini yang masih sangat sulit berlaku di Indonesia. Hal paling minimal yang bisa dilakukan sekolah kita adalah melarang anak-anak jajan di luar pagar sekolah dan menyediakan jajanan bermutu di dalam sekolah. Tapi jarang sekali saya menemukan sekolah yang di luar gerbangnya bersih dari pedagang jajanan.

Seharusnya pemerintah lebih concern terhadap hal ini, misalnya dengan mengeluarkan peraturan tertulis tentang larangan berjualan di sekitar gerbang sekolah, atau ada aturan dari sekolah yang melarang siswa jajan di luar gerbang sekolah. Karena bagaimanapun konsentrasi belajar siswa juga bisa dipengaruhi oleh apa yang masuk ke dalam perutnya.

***

Dan, banyak yang lainnya sebenarnya, tidak saya tulis satu per satu disini, membaca bukunya langsung akan lebih membuka wawasan.

Tapi, tidak ada yang sempurna di dunia ini, ya kan? Sebagus apapun sistem pendidikan Jepang, tetap ada celah yang mencederainya. Di buku lain yang berkisah tentang Jepang (lain waktu saya buat tulisannya juga ya), diceritakan masyarakat Jepang yang cenderung dingin dan kaku terhadap orang lain. Penulis di buku itu menceritakan bahwa ibu-ibu di Jepang cenderung dingin merespon anaknya yang jatuh. Di satu sisi, hal itu lah yang membentuk anak-anak Jepang menjadi pribadi pekerja keras dan ulet, namun, mungkin sikap dingin orangtua itu lah yang membentuk orang Jepang menjadi dingin dan kaku juga terhadap orang lain?

Selain itu, kita pun tak bisa menafikan fakta bahwa angka bunuh diri di Jepang sangat tinggi. Mungkin itu adalah ekses dari karakter mereka yang terlalu bekerja keras? Atau terlalu menuntut kesempurnaan? Atau karena kurangnya kehangatan di lingkungan sosial mereka? Sekali lagi, tidak ada yang sempurna, ya kan?

***

Kesimpulan dari saya sih, ambil yang baik, buang yang buruk.

Kita, orangtua, mungkin tidak bisa berbuat banyak menuntut sekolah (di Indonesia) berubah menjadi lebih ‘ramah anak’ atau menjadi ideal sesuai dengan yang kita impikan, tapi banyak hal yang bisa kita lakukan di rumah, yaitu dengan membekali anak dengan karakter baik yang kuat yang tidak mustahil akan mewarnai lingkungannya, termasuk lingkungan sekolahnya. Karena, tetap, sebagus apapun sekolah, orangtua lah yang paling bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anaknya.

-selesai-

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,729 other followers