Dino

Leave a comment

Saya perhatikan, banyak sekali anak, terutama anak laki-laki, yang menggandrungi dinosaurus dan kawanannya. Dari yang sekedar tahu dan sesekali membahasnya, sampai yang terobsesi sehingga mengetahui segala hal tentang per-dino-an.

Bagaimana sikap saya, sebagai ibu 2 anak laki-laki yang berpotensi menyukai hal tersebut?

Pertama,

Dengan pertimbangan logika

Sejak awal saya tidak secara sengaja memperkenalkan ada makhluk bernama dinosaurus kepada anak-anak. Jika sekarang mereka tahu, pasti karena input dari luar. Bisa dari film atau media-media lain dan pengaruh lingkungan.

Dulu memang kami punya 2 buku tentang dino, buku lama bekas adik saya (Aden), saya biasanya tidak menampakkannya di hadapan anak-anak, hingga beberapa waktu lalu Akhtar menemukannya sendiri dan dia langsung suka. Tapi sekarang sudah saya singkirkan dari rak buku demi menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak saya yakini jawabannya. Karena secara logika, saya sendiri tidak meyakini pernah adanya makhluk tersebut di muka bumi ini.

Secara logika pula saya berpikir, binatang zaman dahulu mungkin berukuran raksasa karena manusia pertama pun diciptakan dalam wujud yang sangat besar dibandingkan dengan manusia sekarang. Perihal bentuknya sama dengan binatang sekarang atau tidak, Allah Yang Maha Mengetahui.

Secara logika (lagi), saya tidak habis pikir, bagaimana manusia modern zaman sekarang bisa mengira-ngira wujud berbagai hewan purbakala hanya dengan mengumpulkan tulang-belulang yang tersebar tidak beraturan.

Kedua,

Dengan pertimbangan agama

Pertimbangan ini justru muncul belakangan, setelah saya sadar bahwa segala permasalahan seharusnya dikembalikan kepada Islam. Islam pasti punya jawabannya.

Dan dari hasil pencarian itu, saya menemukan artikel ini:

Adakah Dinosaurus Dalam Islam?

… yang penjelasannya sangat logis sekaligus juga berdasar pada dalil dari Alquran.

Secara singkat, saya rangkumkan beberapa poin dari tulisan tersebut yang terkait langsung dengan pembahasan tentang dino:

Poin pertama,

Pahami tentang realita. Realita ada dua, yaitu realita syar’i (yang disebutkan dalam Alquran dan sunnah Nabi) dan realita kauni (kejadian di alam dunia yang kita ketahui, maupun yang belum kita ketahui).

Contoh realita kauni adalah adanya listrik dan gelombang radio. Kita meyakini keberadaannya sekalipun kita tidak pernah melihatnya. Tapi kita percaya itu realita karena kita bisa merasakan pengaruhnya.

Poin kedua,

Pahami tentang teori. Teori bukan 100 persen realita. Kita bisa mengingat-ingat zaman sekolah dulu, bagaimana teori tentang suatu pengetahuan berkembang bahkan berubah dari waktu ke waktu, tergantung mana yang lebih kuat dan lebih bisa dibuktikan sesuai realita.

Tapi sekali lagi, teori bukan realita. Maka dudukkan ia pada tempatnya.

Ingat juga dulu, bagaimana Teori Darwin masuk dalam kurikulum pelajaran sejarah di sekolah, dan selama beberapa lama anak-anak sekolah meyakini dirinya keturunan kera, tak terkecuali saya.

Kini sudah banyak yang meyakini teori itu bohong. Apalagi dalam Islam, teori itu bertentangan dengan banyak nash dalam Alquran.

Dinosaurus, teori atau realita?

Dinosaurus adalah teori yang masih bertahan, sehingga dengan alasan ilmiah, banyak orang yang masih meyakininya hingga sekarang.

Sebagai sebuah teori, maka tempatkan ia sebagai teori yang bisa saja benar atau salah.

Namun, sebagai orang Islam kita pun perlu tahu, bahwa tidak ada satu pun dalil yang menyebutkan tentang dinosaurus. Karena itu, selayaknya kita tidak memaksakan dalil Alquran dan sunnah untuk memihak teori tersebut.

Andai dinosaurus itu benar-benar ada di masa silam, kita meyakini bahwa Alquran maupun sunnah tidak menolaknya. Karena Alquran dan sunnah tidak menolak kebenaran. Alquran justru datang untuk menjelaskan realita.

Dan poin terpenting, dalam artikel tersebut ada pada dua paragraf terakhir…

Tahu dan tidak tahu dinosaurus, tidaklah menambah iman maupun mengurangi iman. Karena Alquran dan hadist tidak menyinggung hal ini. Andai kita meyakini dinosaurus itu ada, tidaklah keyakinan ini akan mengantarkkan kita ke surga atau membawa kita pada kebahagiaan, demikian pula sebaliknya.

Alquran dan sunnah telah menjelaskan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk bisa hidup bahagia. Akan lebih berharga jika kita gunakan waktu ini untuk mengkaji hal yang manfaat, yang kita butuhkan dalam keseharian kita.

*

Bagaimana saya menyikapi anak-anak yang bertanya tentang dinosaurus?

Dalam kehidupan sehari-hari, meski kita tidak sepenuhnya meyakini teori dino, kita ga bisa lepas 100% dari hal-hal berbau dino.

Kita akan menemukan di sekitar kita film-film bertema hewan purbakala, museum yang menjelaskan teori dino, taman bermain bertema dino, bahkan buku tentang hewan seringkali memasukkan teori ini dalam satu bab khusus, dan semua hal itu selalu menggugah rasa ingin tahu anak-anak.

Jika ditanya, biasanya di awal saya berikan pengantar bahwa dino hanya dugaan dan tidak pernah dijelaskan Allah dalam Alquran. Sampai situ biasanya Akhtar jawab, “Iya ngerti“. Karena sudah sering saya menyampaikannya.

Jika masih bertanya-tanya, dan pasti akan bertanya, saya menjelaskan dengan teori yang saya tahu, dengan selipan disana-sini, kata-kata seperti…

“Menurut teori…

“Katanya…

“Ini untuk pengetahuan saja…

Dan tetap diingatkan bahwa dino tidak pernah disebutkan dalam Alquran.

Tapi… pada akhirnya bawa santai aja. Mereka tidak akan selamanya bertanya-tanya tentang dino. Tetap arahkan mereka pada tujuannya sebagai manusia yang diciptakan untuk beribadah kepada Allah, sehingga mereka bisa memilah mana yang penting untuk akhirat mereka dan yang sia-sia.

Advertisements

Throw Back : Jakarta, 2012

Leave a comment

Tulisan yang belum selesai. Tapi sayang jika diabaikan…

Cerita 7 tahun lalu di Jakarta

***

Taksi yang saya tunggu untuk menjemput suami di Bandara Soetta tak kunjung datang. Dua jam berlalu, panggilan telepon saya ke Call Center taksi itu hanya disambut suara mesin penjawab, “Maaf, semua operator kami sedang melayanai pelanggan lain, silahkan menunggu”. Selang satu menit, saya kembali menghubungi dan selalu mendapat jawaban yang sama. Putus asa saya pun menghempaskan tubuh ke atas kasur dan memejamkan mata. Saat itu jam menunjukkan pukul 11 malam, diperkirakan suami saya mendarat tidak lebih dari 10 menit lagi.

Tiba-tiba ponsel saya bergetar. Saya terperanjat terbangun dari tidur singkat, panggilan dari suamiku, pasti dia sudah mendarat beberapa saat yang lalu.

“Dimana?”

“Masih di kos”, jawabku dengan suara datar

tentu saja ini semua diluar rencana, seharusnya saat itu saya menunggu di pintu kedatangan terminal 1 A, kemudian naik bis bandara langsung menuju Bandung. Nyatanya saya hanya terbaring lelah diatas kasur dengan mata hampir terpejam menunggu kabar dari Taxi yang sebenarnya sudah kupesan 2 jam sebelumnya.

***

Sudah hampir setengah jam kami berkeliling keliling mencari penginapan. Argo Taxi sudah diangka 124 ribu, sesekali saya melirik jam dan argo itu bergantian. Hingga sampailah kami di depan sebuah bangunan yang lebih terlihat seperti rumah yang di depannya terpampang tulisan “House Of Arsonia, Kost & Transit”. Gerbangnya terkunci, dan Cafe di depannya pun sepertinya sudah tutup dari tadi, hanya sebuah bel yang kita andalkan waktu itu, hanya dengan sekali tekan, seorang penjaga keluar dari dalam rumah kemudian menghampiri kami, beruntung masih ada kamar kosong untuk kami malam itu.

Saat itu sudah pukul 1 malam. Pada akhirnya suamiku yang menjemput ke kost malam itu. Melihat kondisi lalu lintas yang masih padat walau sudah lewat tengah malam, membuat suamiku berkeputusan untuk shalat Idul Adha di Jakarta. Idul Adha keduaku di Jakarta.

***

Kami terbangun jam setengah 6 pagi. Terlalu terang untuk shalat shubuh. Beberapa minggu terakhir, siang hari memang terasa lebih panjang di Jakarta. Pada hari-hari kerja, saya mengatur alarm jam 5 pagi, dan sepagi itu semburat terang dengan warna ufuk jingga kebiruan sudah tampak dari balik gedung tinggi di kawasan Sudirman, sebelah timur kost saya. Dan pada jam 6an, ketika saya pulang dari kantor, warna alam belum terlalu gelap.

Pun pagi itu. Maka dengan sedikit panik, kami menyiapkan diri untuk shalat ied dengan terburu-buru. Kalau di rumah, mungkin mamah sudah teriak-teriak.

.

.

Berkuda

Leave a comment

Sempat saya mengeluhkan lokasi rumah saat ini yang jauh dari tempat berkegiatan anak. Jauh dari komunitas-komunitas belajar anak yang rata-rata berada di Kota Bandung.

Perihal ini, pada asalnya manusia itu emang tukang ngeluh ya heuheu.

Sebenarnya sempat berlangsung juga beberapa kali kegiatan di rumah Akhtar, dengan mengundang beberapa teman Akhtar, hanya saja cuma bertahan hingga 3 atau 4 (?) kali pertemuan. Semangat menurun karena partisipannya pun tidak begitu banyak.

Sampai suatu waktu, kelas Sabumi mengadakan fieldtrip ke Padalarang, tepatnya wisata militer ke Pusdikkav yang berlokasi di Tatar Gilingwesi di Kota Baru Parahyangan.

Meski Akhtar sudah ngga ikut kelas Sabumi semester ini, tapi kami dapat kesempatan ikut fieldtrip karena saya masih ada di grup Pengurus Sabumi.

Salah satu kegiatan di Pusdikkav adalah naik kuda. Setiap anak mendapat kesempatan naik kuda satu kali putaran lapangan berkuda, tak terkecuali Akhtar.

Iseng tapi serius, eh gimana sih, saya tanya ke Bapak Pemandu, barangkali ada les berkuda untuk umum, ternyata ada. Hati saya melonjak kegirangan, karena berkuda adalah salah satu kegiatan fisik yang saya ingin anak-anak mempelajarinya, terutama karena olahraga ini sesuai dengan anjuran Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

Tak menunggu lama Akhtar langsung ikut latihan berkuda perdananya selang dua hari dari kunjungan kami ke Pusdikkav, dan Akhtar sangat menikmati kegiatan barunya sejak pertama kali ia naik ke punggung kuda.

Latihan berkuda berlangsung dua kali sepekan, yaitu setiap hari Kamis siang dan Ahad pagi. Diantara yang lain, Akhtar adalah yang paling kecil, meski demikian dengan modal keberanian dan kepercayaan dirinya, ia bisa mengikuti arahan dari pelatih.

Sekarang masuk bulan ketiga Akhtar latihan berkuda. Kemarin Akhtar baru saja jatuh dari atas kuda. Alhamdulillah… kuda dalam keadaan berjalan pelan, dan Akhtar jatuh dengan posisi yang benar sehingga tidak ada luka serius, hanya sedikit shock dan tidak mau diajak berbicara selama beberapa lama.

Saya bertanya, “Akhtar masih mau latihan berkuda kan?“. Khawatir ia trauma.

Dengan semangat, ia menjawab, “Iya“.

Penulis Tamu

Leave a comment

Untuk pertama kalinya, blog saya kedatangan penulis tamu nih. Tamu yang sangat istimewa. Di bawah ini adalah tulisan pertamanya yang di-publish di medsos, murni tanpa disunting sedikit pun.

Selamat menikmati ^^

***

Cerita Akhtar yusuf hamizan lahir di Jember

Assalamu’alaikum,saya suka menulis,kadang gambar kereta api,dan yang saya bisa,kadang kisah nabi,atau sejarah,itu sih saya bisa,paling yangbikin akhtar nangis saat ini adalah omaden (si geuleh),sekarang sih masih suka gitu hihihi,nah sekarang gambar ahnaf itu masih kereta,kadang stasiun seperti saya,ahnaf sih sudah bisa bicara’akhtar’ataupun aa akhtar,sampai saat ini saya masih suka gambar, gambar faforit adalah gerbang tol,

Akhtar mengammbar tol apa saja

Saya suka yang saya tau gerbang tol,kadang pula saya juga gambar yang lain,

Sekarang akhtar menulis,

Saya kadang menulis kisah nabi,kegiatan,maupun kisah,tapi sekarang saya sudah bosan menulis,bahkan sekarang nulis juga susah,saya suka lapar dan haus jika saya melihat makanan,

Tapi yang mudah harus nulis pendek pendek ya heuheu

Tamat semoga ketemu lagi dilain waktu

Cerita Celana Dalam

Leave a comment

Ada satu waktu, dimana Ahnaf susah sekali dipakaikan pakaian sehabis mandi. Ia menggelinjang bak cacing kepanasan, lalu berlarian kesana kemari dalam kondisi t****jang.

Episode itu belum berakhir hingga sekarang, kini dengan improvisasi. Celana dalam yang baru dipakaikan ia buka lagi sendiri, lalu ia berlarian kesana kemari.

Saya yang lelah, akhirnya terduduk pasrah sambil memegang celana dalam bergambar kepala gajah.

Di sisi lain, Akhtar sudah memakai celana dalamnya yang bergambar mobil polisi.

A ha!

Saya lalu menyentuh gambar mobil polisi di celana Akhtar, seolah-olah memencet tombol, lalu meminta Akhtar menirukan bunyi mobil polisi.

Uwiw uwiw uwiw…

Ayo Adek jadi gajah. Nanti gajahnya dikejar sama mobil polisi ya?”, sahut saya.

Tak disangka, Ahnaf menyambut ajakan itu dengan excited.

Dia segera mengenakan celana dalam bergambar gajahnya lalu menirukan bunyi gajah setelah saya tekan ‘tombol’nya.

Mobil dan gajahnya baru bisa jalan kalau sudah pakai baju…”, kata saya.

Maka mereka pun mengenakan pakaiannya tanpa paksaan. Setelah berpakaian lengkap, saya tekan lagi ‘tombol’nya, lalu mereka pun berlarian saling berkejaran. Mobil polisi mengejar gajah, atau sebaliknya.

Maka, dalam situasi ini, pantaslah jika parenting disebut seni.

***

*Cerita dari kejadian nyata dengan dialog yang dimodifikasi sesuai ingatan hehe.

Butu Mamam

Leave a comment

Ini cerita lama, tentang Ahnaf dan buku favorit pertamanya. Judulnya “Butu Mamam”.

Butu mamam???

Tentu saja itu hanya bahasa Ahnaf. Judul aslinya adalah Kenapa Kita Perlu Makan?

Buku ini diterbitkan oleh Ahlan, yaitu penerbit buku anak-anak bertema Islami sesuai sunnah.

Selang beberapa bulan, buku itu tak lagi mulus, saking seringnya dibacakan dan dibolak-balik Ahnaf. Sudah sering saya harus menyusun halaman demi halamannya yang sudah terlepas dari sampulnya.

Seperti malam ini.

Lalu teringat, saya pernah mau menulis tentangnya beberapa waktu lalu.

Halaman favorit Ahnaf, adalah yang ini…

Disana terdapat gambar makanan berdasarkan kategori zat gizinya.

Kami biasa berhenti lama di halaman ini. Ahnaf akan menyebutkan jenis makanan yang ingin ia ‘makan’, lalu saya akan berpura-pura mencomot makanan dari gambar lalu memasukkannya ke mulut Ahnaf, tak lupa dengan sound effect “Am…”.

Dan, satu hadits yang Ahnaf hafal melalui buku ini adalah “Laa dharara wa laa dhiraara”. Yang artinya tidak boleh melakukan sesuatu yang membahayakan diri sendiri atau orang lain.

Terkait dengan tema buku ini, yang disebut membahayakan diri sendiri adalah memakan makanan yang tidak sehat.

***

Menahan

Leave a comment

Secara bahasa, shiyam adalah menahan diri.

Nah soal ‘tahan-menahan’ ini, di Ramadhan tahun ini Akhtar masih sulit untuk diajak belajar berpuasa. Masih enggan dibangunkan sahur dan masih ga kuat kalau diminta untuk menahan diri dari makan dan minum pada jam-jam tertentu.

Tapi sebelum Ramadhan, ada perjanjian antara kami dengan Akhtar, berkaitan dengan ‘kebiasaan’nya yang masih suka tantrum.

Berawal dari suatu siang di bulan Syaban, ketika kami berkunjung ke rumah Abah, Akhtar excited melihat sepeda baru di depan rumah Tami, sepupu jauhnya.

Secara spontan, saya terpikir suatu penawaran,

“Akhtar mau sepeda juga?”

Lantas, ia meng-iya-kan.

“Tapi ada syaratnya, yaitu Akhtar ga boleh nangis selama bulan Ramadhan”

Dan, ia pun setuju.

Ternyata, cara tersebut cukup efektif.

Selama beberapa hari di awal Ramadhan, Akhtar ga nangis. Ia lebih bisa berlapang dada menerima kondisi-kondisi yang di bulan-bulan sebelumnya biasanya memicu tangis atau tantrumnya.

Memang tidak sepenuhnya mulus. Ada beberapa kejadian juga yang sampai membuat pecah tangisnya, tapi relatif mudah diredakan. Pernah pula satu atau dua kali tantrum, tapi relatif mudah dikendalikan. Biasanya, saya pakai jurus pamungkas dengan kata-kata,

“Akhtar kan janji ga menangis selama Ramadhan. Nanti ga jadi dong beli sepedanya…”

“Akhtar kan janji ga menangis selama Ramadhan, Akhtar ga boleh ingkar dong…”

Namun, karena beberapa kali ‘ingkar’, akhirnya beberapa waktu lalu saya merevisi isi perjanjiannya.

Saya meminta Akhtar menahan diri 7 hari lagi di bulan Syawal sebagai syarat dibelikannya sepeda. Dan, ia sepakat.

Tapi, baru saja 2 hari yang lalu untuk pertama kalinya Akhtar nangis heboh sebagaimana nangisnya kalau tantrum. Sedikit di luar kendali, saya bilang membatalkan janji saya membelikan Akhtar sepeda.

Belakangan saya berpikir, bahwa saya harus konsekuen dengan perkataan saya, saya harus benar-benar membatalkan perjanjiannya dong. Kalau tidak, bukankah berarti saya berdusta?

Hmm, karena dari awal saya sudah berniat membelikan Akhtar sepeda, maka saya harus memikirkan syarat tambahan sebagai gantinya…

Older Entries