Makan di Toko

Leave a comment

Dalam kamus bahasa Akhtar, makan di toko artinya makan di restoran cepat saji. Akhtar menamai aktivitas ini secara spontan sekitar beberapa bulan yang lalu, ketika dalam suatu perjalanan pulang dari Bayah (Kab Lebak) kami mampir di rest area dan makan di restoran ayam Pak Tua.

Setelah itu selama beberapa waktu, ketika melihat restoran ‘toko’ di rest area manapun, Akhtar akan berseru, “Akhtar pernah makan disitu!”


Selanjutnya, Akhtar pernah merasa terkesan ketika diajak makan di restoran berlambang M di Cimahi, yang di dalamnya terdapat playground kecil.
Lalu, ingat terus pernah memesan menu ayam, nasi, dan minuman teh buah di restoran dengan krim keju sebagai kekhasannya. 

Sepele ya? Hehe… karena jarang makan di toko, aktivitas yang dilakukan sesekali ini menjadi istimewa bagi Akhtar. 

Tetaplah jarang ‘makan di toko’ ya Akhtar. Karena sesungguhnya yang Akhtar makan itu junkfood… :p

Mim, Suka Ga?

Leave a comment

Sebelumnya saya pernah bercerita tentang Akhtar yang suka mengajukan pertanyaan berulang.

Saya pun bercerita tentang Akhtar yang hobi memberi pertanyaan beruntun.

Nah, sekarang Akhtar senang mengombinasikan keduanya. Akhtar senang mengajukan pertanyaan beruntun yang berulang.

Salah satu yang hampir selalu ditanyakan tiap hari adalah ini… (lihat gambar)

Akhtar akan bertanya, “Mim, suka mobil ini ga?” katanya sambil menunjuk mainan mobil-mobilan yang disusun berbaris.

Dan saya, harus menjawab, “Suka”. Sesekali saya jawab “Ga suka”, namun dia akan mengulang-ulang pertanyaannya hingga saya menjawab “Suka”, sesuai keinginannya.

Lalu… Pertanyaan berulang dan beruntun pun dimulai..

“Kenapa suka?”

“Karena bagus”

“Kenapa bagus?”

“Karena rapi”

“Kenapa rapi?”

“Karena Akhtar pintar menyusunnya”

“Kenapa Akhtar pintar?”

“Karena Akhtar sering memainkannya”

“Kenapa Akhtar sering mainkan?”

“Karena Akhtar suka”

“Kenapa Akhtar suka?”

“Karena kan mainan kesukaan Akhtar”, saya mulai kehilangan ide menjawab.

“Oh”, tutupnya singkat

Saya menghembuskan nafas, lega…

***

Ada lagi…

Polanya kurang lebih sama dengan percakapan di atas, dimulai dengan…

“Mim, suka ini ga?”

“Suka”

“Kenapa suka?”

“Karena bagus”

“Kenapa bagus?”

“Karena berwarna-warni”

“Kenapa berwarna-warni?”

“Karena diberi pewarna”

“Kenapa diberi pewarna?”

“Kan biar bagus”

Nah lho… muter-muter… bingung kan? Apalagi sayaaa.. ^^’

***

Menilai Ke-Worthed-an

2 Comments

Ngerti po ra sama judulnya? Hehe…

Jadi, semenjak punya anak dan mulai ‘ngeh’ sama dunia per-ibu-ibu-an, salah satunya seputar pendidikan anak, saya jadi ngeh juga ternyata ada banyaaaaaaak sekali penjual buku-buku anak di luaran sana (dalam konteks ini yang jualan online saja ya). Ada penjual ‘independen’ yang menjual berbagai jenis buku anak dari berbagai penerbit, dengan rentang harga yang sangat variatif, dari yang murah banget sampai mahal banget. Ada yang mengkhususkan diri menjual buku-buku bekas berkualitas. Ada juga yang hanya menjual buku-buku dari penerbit tertentu, dengan bertindak sebagai book advisor, sales atau seller, dan istilah sejenis.

Nah… sejujurnya penjual di kategori terakhir ini lah yang pada mulanya meracuni saya dengan ‘doktrin’ betapa sangat pentingnya buku untuk anak yang berkualitas dari segi konten (ilustrasi, isi cerita, dan nilai moral yang disampaikan) dan fisik (kualitas kertas yang digunakan). Tapi… ada tapinya… buku-buku yang mereka jual pada umumnya mahal (jutaan). Tentu saja mahal dan tidak itu relatif ya, tergantung kemampuan dan kebutuhan orang per orang, tapi secara pribadi saya memasukkannya dalam kategori MAHAL.

Mungkin kalau dikalkulasi ulang, harga per buku terhitung standar ya (baca: terjangkau secara umum), hanya… sistem penjualan mereka biasanya per set/ paket, dalam satu paket bisa berisi sampai belasan buku, tambah mahal lagi kalau dilengkapi e-pen.

Itu lah strategi marketingnya, pertama… si penjual menciptakan kebutuhan, membuat calon pembeli merasa harus memiliki buku ini, sehingga semahal apapun pembeli akan mengusahakannya.

Apa yang salah? Tidak ada. Penjual, untuk barang apapun, pasti menargetkan menjual sebanyak-banyaknya barang, meraup sebanyak-banyaknya untung, diantaranya dengan jualan sistem paket seperti itu. 

Pun pembeli, selama membeli karena memang butuh, dan menilai seimbang antara investasi yang dikeluarkan dengan kualitas barang, lalu merasa buku-buku itu akan mengoptimalkan proses belajar anak-anaknya di rumah, ya ga ada yang salah kan.

Yang terasa ‘salah’ bagi saya adalah, ketika ukuran worthed ga worthed, urgent ga urgent itu dipaksakan dari salah satu pihak, ambil lah dalam hal ini penjual. 

Sejujurnya saya sempat amat sangat tertarik membeli buku-buku mahal itu untuk Akhtar. Namun kemudian… saya menimbang ulang urgensinya (untuk keluarga kami yaa.. disini saya bicara atas nama pribadi, preferensi keluarga lain bisa jadi berbeda).

Pertama, di lihat dari sisi keuangan keluarga. Sanggupkah membayarnya? Pada umumnya karena sulit mencari orang yang mampu membayar tunai di awal, buku-buku itu dijual dengan sistem arisan bisa sampai 10 bulan. Jika memutuskan ikut arisan, pertanyaan berikutnya, apakah sanggup berkomitmen membayar iuran bulanannya tepat waktu? Untuk saat ini saya jawab NO.

Kedua, adakah buku-buku lain yang lebih murah dengan tema yang kurang lebih sama, yang bisa mensubstitusi buku-buku mahal ini? Ternyata menurut pengamatan saya, banyak buku-buku murah yang secara konten tidak jauh berbeda dengan buku-buku mahal itu. Abaikan perbedaan kualitas kertas yang digunakan dan fitur e-pennya yaa.

Dengan mempertimbangkan sedikit hal di atas, maka (untuk saat ini, entah ke depannya yaa) saya memutuskan untuk tidak membeli buku-buku itu.

Kebutuhan buku untuk Akhtar saat ini sudah tercukupi dengan buku-buku yang lebih murah. Akhtar sudah tahu cara memperlakukan buku dengan baik agar tetap terjaga (tidak sobek, kotor, dsb) jadi tidak butuh buku-buku yang anti air atau anti sobek, pun Ahnaf sudah bisa membuka-buka buku berkertas tipis tanpa sobek. Kalau pun menyobeknya sedikit ya tidak apa-apa, kan investasi untuk bukunya pun tidak mahal.

Dari segi konten, untuk saat ini sudah tercukupi dari buku-buku yang lebih murah. Untuk buku-buku agama (asmaul husna, kisah nabi-nabi, hadits, juz amma, kumpulan doa-doa, dtt) saya lebih selektif memilihkannya untuk Akhtar. Yang harus dicek adalah rekam jejak penerbitnya, profil dan latar belakang penulisnya, sampai daftar pustaka, apakah bersumber dari ilmu-ilmu yang shahih? Untuk buku agama ini, saya memfavoritkan beberapa penerbit buku anak yang kontennya ‘aman’ menurut saya, diantaranya PQids, Alkautsar Kids, Zikrul Kids, ada lagi tapi saya lupa. Nama-nama yang asing ya? Tapi bagus kok… bisa dicek sesekali.

Untuk buku-buku lain, banyak buku Akhtar yang dibeli di toko buku bekas. Ada juga yang bekas pakai omnya, atau hasil ngubek dari obralan. Buku-buku itu beberapa diantaranya jadi favorit Akhtar, seperti buku-buku tentang kendaraan, tentang hewan dan tumbuhan, dan tentang pertanian. 

Anak-anak itu ga pilih-pilih sama buku. Sekali suka, dia akan baca berrrrulang-ulang kali. Buku favorit Akhtar pun ada yang mahal, ada juga yang hanya 5000an – Akhtar sendiri yang pilih dari toko buku bekas dengan fisik yang jauh dari mulus. Di luar itu, orangtuanya yang bertanggung jawab memilihkan. Jadi yang menetapkan standar buku ‘bagus atau tidak’ itu juga orangtua. Dan di kemudian hari, standar yang sama mungkin akan digunakan oleh anak-anak kita ketika memilih buku.

Yang ingin saya sampaikan disini. Penjual sebaiknya tidak memukul rata kebutuhan akan buku/ alat peraga pendidikan lain untuk setiap orang. Banyak yang memang butuh (ini lah prospek sesungguhnya), namun banyak juga yang tidak. Yang tidak, bukan berarti tidak peduli dengan pendidikan anak, hanya pilihannya saja yang berbeda. Dan pembeli pun harus bisa menimbang-nimbang, apakah kebutuhannya akan buku harus dipenuhi dengan buku-buku mahal (yang secara kualitas saya akui memang baik) atau merasa cukup dengan buku lain yang lebih murah? Selebihnya ga usah saling nyinyir dengan pilihannya masing-masing. 

Pada akhirnya, keputusan ada pada pembeli. Maka jadilah pembeli yang selektif dan memahami value for money sebuah buku.

Lebaran Istimewa

1 Comment

Tulisan ini judulnya ‘dibuang sayang’. Seringkali saya hanya menulis di draft blog tanpa published. Kadang-kadang, kalau lagi moooood (kadang-kadang lho ya..), saya buka lagi satu per satu tulisan di draft, ada yang saya lanjutkan ceritanya dan akhirnya terpublish, banyak juga yang akhirnya ‘tidak berakhir jadi apa-apa’ saking ‘late post’nya, ide-ide sudah menguap entah kemana, dan kalau itu berupa cerita pengalaman, maka udah ga dapet ‘feel’nya untuk melanjutkan cerita. Udah basi dan krauk krauk…

Tapi karena cerita di bawah ini menurut saya ‘cukup’ istimewa, maka saya memutuskan untuk ngeposting juga. Istimewanya karena ada beberapa ‘momen pertama kalinya’ buat saya, buat anak-anak, dan buat saya dan suami.

***

Lebaran 2016

Salah satu yang istimewa dari Ramadhan tahun ini adalah bahwasanya ini adalah Ramadhan pertama saya dengan puasa full, tanpa batal, dalam 16 tahun terakhir sejak mendapat haid pertama.

Jika di 13 tahun sebelumnya saya batal karena haid, di 2013, separuh bulan saya ga puasa karena dalam masa nifas setelah melahirkan Akhtar. Setelah itu saya ga datang bulan sampai 13 bulan dan dengan percaya dirinya yakin bisa penuh menjalankan puasa Ramadhan 2014.

Qadarullah… saya mendapat haid pertama dalam 13 bulan itu justru dalam pekan terakhir Ramadhan 2014.

2015, saya kembali percaya diri bisa menjalankan puasa sebulan penuh. Waktu itu sedang hamil Ahnaf kurang lebih 3 bulan. Tapi pada suatu kunjungan ke dokter kandungan, si dokter menyarankan saya untuk tidak berpuasa demi kesehatan si janin. Ya sudah akhirnya 10 hari saya batal karena selang seling antara puasa dan tidak.

2016 ini alhamdulillah akhirnya saya bisa full menjalankan puasa dalam kondisi menyusui Ahnaf, plus pertama kalinya membawa anak-anak untuk shalat Ied.

Sekali-sekalinya pernah ajak Akhtar untuk shalat ied (yaitu idul adha) adalah sekitar 2 tahun lalu… pada akhirnya saya ngga shalat juga karena sibuk ngejar-ngejar Akhtar yang bermain di pinggir kolam tak jauh dari shaf jamaah wanita.

Dan… lebaran tahun ini untuk pertama kalinya juga sejak punya anak, suami nekat ngajak nonton bioskop ninggalin anak-anak yang udah tertidur. 

Asik nih, tiket udah di tangan, cemilan udah siap plus minumannya, pintu studio pun sudah dibuka, dan kami sudah menemukan tempat duduk kami. Film belum juga mulai, layar masih menampilkan trailer film-film yang akan tayang dan beberapa iklan komersial ketika hp suami menerima pesan singkat.

“Ahnaf nangis”

Beberapa detik cuma cengo, ga bisa mikir. Waduh… kudu kumaha. Kita memutuskan menunggu sampai ada kabar baik dari rumah, tapi yang datang malah kabar buruk

“Ahnaf ngadat, ga mau berhenti nangis”

Saya mulai gelisah…

Dan beberapa menit kemudian akhirnya kami memutuskan meninggalkan bioskop tepat di detik pertama film diputar. 

Sepanjang jalan pulang saya hanya tersenyum-senyum geli mengingat betapa gatotnya kencan kami malam itu.

Akhirnya, cemilan (mahaaal T_T) yang dibeli di lobi bioskop pun kami habiskan sambil menonton film di depan layar kaca, di rumah.

***

Bukan Bayi Lagi

Leave a comment

Sejak dinyatakan resmi bisa berjalan dua bulan terakhir, tingkah Ahnaf tidak lagi seperti ‘bayi’. Jangkauan jelajahnya semakin luas, bahkan sampai kamar mandi. Beberapa kali lepas dari pengawasan, dan ketika dicari ke semua ruangan, ternyata Ahnaf sedang berdiri hendak naik ke atas kloset. 

Bahkan beberapa kali saya pernah membatalkan shalat karena Ahnaf menjauh dari area saya shalat. Karena pernah satu kejadian dia kabur ke kamar mandi saat saya shalat… untung ga jatuh, untung lantainya ga basah, untung dan untung… alhamdulillah.

Pun sekarang teu kaop lihat tangga, jojodog, boks, dan sabangsaningnya, biasanya langsung pengen manjat. Teu kaop lihat pintu depan terbuka, ya pengen keluar. Teu kaop lihat pintu apapun terbuka, ya pengen nutup. Seringkali masuk kamar sendiri, menutup pintu dari dalam, lalu teriak-teriak sambil menggedor-gedor pintu minta dibukakan. Pengecualian, ketika mengantar Papnya berangkat kerja, setelah mengikuti ‘ritual’ Akhtar (“Daah… nanti pulang semalem-malem ya.. HPnya dibawa ga? Nanti bisa telepon Akhtar ga? Dst dsb”), tanpa disuruh Ahnaf akan mendahului masuk rumah lalu menutup pintu. 

Ahnaf pun semakin menunjukkan ‘keras kepala’nya. Sudah bisa memaksakan kehendak dan meronta-ronta jika keinginannya tidak terpenuhi. Semakin banyak yang bisa ditirukannya dari orang-orang besar di sekelilingnya. ‘Baca’ buku dengan mulut berkomat kamit, atau menggerak-gerakkan kedua jempolnya di atas layar handphone, menirukan gerakan shalat, dan ikut tertawa dengan mulut terbuka lebar dan hidung ‘menyungging’ ketika melihat orang-orang tertawa. 

Pinternya Ahnaf, kalau saya mau membersihkan pup atau mengajaknya mandi, saya cukup membaca doa masuk kamar mandi, lalu tanpa digandeng atau diarahkan Ahnaf langsung berjalan sendiri menuju kamar mandi.

Dua anak dua rupa. Dari bibit yang sama, di bawah asuhan orangtua yang sama, Akhtar dan Ahnaf berkembang sangaaaat berbeda. Ahnaf itu lebih kaleeeeem dari Akhtar, tidak menjerit-jerit seperti kakaknya, tetap cool dan irit senyum jika bertemu orang lain. Tidak se-gedebaggedebug Akhtar, dan dalam banyak hal sangat kooperatif, misalnya dengan tidak menambah runyam suasana saat Akhtar nangis. 

***

Semoga duoA menjadi anak-anak yang kuat menghadapi zaman mereka, zaman yang semakin mendekati akhir. Menjadi muslim yang kokoh imannya, lurus aqidahnya, baik akhlaknya, bermanfaat bagi sesama… dan masih banyaaaak doa-doa tak terputus untuk mereka (serta anak dan keturunannya). 

Mendadak eungap…


Apa-Apa Sendiri

2 Comments

Sudah sejak 2 bulanan terakhir, Akhtar masuk fase ‘ingin melakukan segala hal sendiri’ dan ‘ingin selalu dilibatkan dalam hampir semua pekerjaan rumah’.

Akhtar sekarang lebih suka memakai baju sendiri. Mulanya ingin memasang kancing baju sendiri (dengan bantuan), lalu bertahap mau memakai semuanya sendiri, dari mulai baju dalam sampai luarannya. Ada masa dia merasa frustasi karena maunya mengerjakan sendiri tapi belum sempurna melakukannya, namun tidak mau dibantu. Akhirnya apa? Ya nangis… biarlah, namanya juga belajar ya Nak…

Sedikit-sedikit, urusan kamar mandi pun ingin dia lakukan sendiri. Seperti, menyabuni kaki sendiri (kalau badan masih dengan bantuan saya) dan menyiram bekas pipis dan pupnya sendiri. Pernah satu kali, saya siram bekas pup Akhtar sampai bersih… akibatnya dia nangis lalu memaksa diri harus pup lagi, sementara ‘stok’ pup di perutnya sudah habis, demiii.. nyiram pup sendiri..  wkwk…

*

Sementara dalam hal pekerjaan rumah, setelah beberapa kali kejadian dia nangis karena nggak diajak mengerjakan tugas rumahan, akhirnya saya hampir selalu mengajak Akhtar diantaranya untuk…

… memasukkan baju kotor ke mesin cuci, dan mengeluarkan baju bersih dari mesin cuci

… menjemur baju-baju kecil 

… menakar dan mencuci beras sendiri, plus menekan tombol ‘cook’ pada rice cooker

Dan.. apalagi ya…

*

Kemudian, dalam hal sholat pun Akhtar harus selalu diajak. Kadang sholatnya dobel. Misal, setelah sholat berjamaah di masjid, dia akan ikut sholat lagi di rumah bersama saya. 

Suatu waktu, saya pernah ngasih tahu soal sholat ba’da Maghrib dan ba’da Isya, dan sekarang kadang-kadang setelah sholat wajib, Akhtar pula yang mengingatkan saya untuk mengerjakan sholat rawatibnya. Siapa yang bisa menolak kalau yang mengingatkan adalah anak sendiri? Saya yang sudah hampir merapikan mukena pun akhirnya menuruti ajakannya.

*

Anak-anak itu lho ya… walaupun pada awalnya kita yang ‘mengajari’, sebenar-benarnya mereka lah yang justru lebih banyak mengingatkan, bahkan mengajari kita. 

Salah satu contoh, bukan sekali Akhtar menegur, “Mim kok pintu kamar mandinya dibuka sih? Kan malu auratnya kelihatan”, katanya ketika melihat saya memandikan Ahnaf dengan membiarkan pintu terbuka. Maka saya pun buru-buru menutup pintu kamar mandi. 

Anak-anak itu memang sudah ‘fitrah’ dari sananya, sudah sangat cenderung ingin selalu melakukan hal-hal yang baik. Maka, manfaatkan lah masa kanak-kanak mereka untuk menginstall segala sesuatu yang baik, terutama yang sesuai ajaran Allah dan RasulNya. Salah satu yang merusak ‘fitrah’ mereka adalah ‘ketidakkonsistenan’ orang-orang dewasa di sekitarnya. 

Ketika orangtua mengajari A, maka lakukan juga A. Ketika anak memergoki kita melanggar A, jangan justru mencari pembenaran/ membela diri dengan hal yang bertentangan dengan A. 

Misal, saya mengajari Akhtar makan sambil duduk. Suatu waktu saya makan, dan Ade nangis ingin digendong. Maka saya pun menggendong Ade, lalu melanjutkan makan dengan posisi berdiri. Akhtar menegur, “Kok makannya sambil berdiri?”. Bisa saja saya beralasan, “Iya… kan sambil gendong Ade”. Tapi, akibatnya apa? Di kemudian hari mungkin anak akan jadi orang yang suka mencari-cari alasan/ pembenaran untuk kesalahan yang diperbuatnya, atau jadi ringan untuk melanggar aturan? Hiih… 

Maka… alih-alih membuat alasan, saya akhirnya memilih duduk, atau berhenti makan sementara. 

*

Ketika Akhtar ingin melakukan segalanya sendiri, artinya Akhtar sedang menuju kemandiriannya. Itu positif kan? Hanya saja yang masih harus diperbaiki secara bertahap adalah emosinya yang masih belum terkelola dengan baik. Masih sering merasa frustasi ketika belum bisa menyelesaikan tugas dengan baik, masih ngadat ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Dan.. memang menjadi lebih repot dan memakan waktu lebih lama ketika kita melibatkan anak-anak dalam pekerjaan. Tak jarang, kita jadi kesal karena hasilnya jadi lebih berantakan. Tapi, ini masa-masa emas untuk mengajari mereka mandiri dan tanggung jawab. Kerepotan saat ini hanya sementara kok.

Kalau kata seseorang mah, wajar kalau kita repot karena punya anak kecil. Yang ga wajar itu, kalau kita direpotkan anak-anak yang sudah beranjak besar. Bisa jadi karena kita salah mendidik mereka waktu kecil.

*

Oke.. mari berepot-repot sekarang, untuk bersenang-senang kemudian :p

Menyimpan Telur

Leave a comment

 ​

Saya lagi mimikin Ade di kamar, tetiba dari arah ruang depan terdengar Akhtar -yang lagi maniiiisss banget- menawarkan bantuan.

“Mim.. Akhtar masukin telurnya ke kulkas yaaa…”

Sebelumnya kami baru saja ke warung membeli telur.

“Oh no…”, batin saya… “Bagaimana kalau telur-telur itu jatuh… pecah… duuh…”

“Miiimm… telurnya masukin ke kulkas yaaa?”

Sekali lagi terdengar Akhtar berteriak, karena saya tak kunjung menjawab.

“I… Iyaaa…” saya mengiyakan ragu.

Tak lama, anak 3,5 tahun itu melintasi pintu kamar dengan langkah hati-hati, kedua tangannya memegang wadah berisi telur.

“Hati-hati yaa.. pelan-pelan…” saya mengingatkan sambil menajamkan pendengaran… waspada.

Tidak sampai satu menit, Akhtar masuk kamar membawa wadah kosong, dan berujar bangga, “Sudaaah…”

“Makasih ya… jazakallah…” ujar saya di mulut. Sementara dalam hati… “Ha? Cepet amat… ditaruh dimana telur-telurnya?!” masiiih saja menduga yang ‘ngga-ngga’.

Selesai mimik Ade, saya langsung menuju kulkas, mengecek ‘hasil kerja’ Akhtar. 

Dan…

Terlihat telur-telur itu tersusun rapi, pada tempatnya. Tidak ada telur pecah, bahkan tidak sedikit pun terdengar suara ketika satu per satu telur dipindahkan ke dalam kulkas. Kekhawatiran saya tidak terbukti… sama sekali.

Kalau saja saya menolak bantuan Akhtar tadi… dia akan kehilangan banyak sekali kesempatan untuk belajar hari ini…

Older Entries