Sa-Bandros Ngabandungan Bandung

Leave a comment

image

Foto: http//infobandung.co.id

Salah satu ikon baru di Kota Bandung yang diresmikan pada masa kepemimpinan Kang Emil adalah Bandros. Bandros atau Bandung Tour on The Bus sudah menarik perhatian warga sejak pertama kali launching pada malam tahun baru 2014 lalu. Dengan desainnya yang cantik, berbadan merah – yang kebetulan warna favorit saya – dan bertingkat dua – hari gini dimana lagi menemukan bus bertingkat di Indonesia? Kecuali yang dipakai sebagai bus wisata (ex: di Kota Solo dan Jakarta) – Bandros menjadi primadona baru yang sangat cocok untuk diajak foto bersama :D

Yeay… warga Sabumi pun akhirnya berkesempatan ngabandungan Bandung dari atas Bandros. Agenda playdate yang diumumkan di grup WA beberapa hari sebelum pelaksanaan ini disambut antusias oleh warga Sabumi. Kuota bus 40 orang dewasa pun terisi penuh dalam waktu beberapa hari sejak pengumuman. Bagi yang ‘kurang beruntung’ karena telat daftar atau telat bayar :p, ‘terpaksa’ harus menunggu di Taman Lansia untuk ikut kegiatan berikutnya yang gak kalah seruuu..

Lalu, bagaimana sih kalau kita pengen naik Bandros?

Yang perlu diketahui, bahwa sekarang Bandros hanya melayani penumpang rombongan, 1 bus minimal 30 orang dengan biaya Rp 800.000. Untuk jadwal pastinya kita bisa tanya langsung melalui contact person-nya. Atau langsung datang aja ke Taman Cibeunying, yang merupakan titik keberangkatan Bandros, biasanya ada Bapak Bandros yang standby disana. Ataauu… pantengin aja deh ya Twitternya @BusBandros, termasuk jika Anda penumpang perorangan.

Setelah deal soal jadwal, segera melakukan reservasi dengan sejumlah DP, agar jadwal kita ga lepas ke rombongan lain.

Sesuai rencana, Sabumi akhirnya dapat jadwal keberangkatan hari Selasa 18 Agustus 2015 pukul 09.00 WIB. Sejak pukul 08.00, ibu-ibu dan anak-anaknya mulai berdatangan ke meeting point. Namun berita kurang menyenangkan datang, sang Bandros tidak menunjukkan tanda-tanda kehadirannya sampai mendekati pukul 09.00 karena ada perbaikan yang diharapkan bisa selesai sebelum jam 10.00. Waduh… anak-anak (atau emak-emaknya? ;p) yang sudah berharap besar bisa naik jam 9 kecewa berat nih.

Eeetapii, ternyata banyak alternatif kegiatan asyik yang bisa dilakukan selama menunggu kok. Taman Cibeunying ini cukup nyaman untuk tempat anak berlari-lari, atau sekedar mengamati tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitarnya. Jadi, berombongan akhirnya kami memutuskan berjalan-jalan santai mengitari Taman Cibeunying dan mengamati bunga-bungaan yang dijual di kios-kios tanaman hias tepat di belakang taman.

Tak lama dari itu, bus merah cantik itu pun tampak di seberang taman. Waahh…

image

Masuknya antri ya Bu Ibu… sesuai jam kedatangan tentu saja, jadi yang datang duluan boleh memilih tempat duduk dimanapun.

Saya sebagai pendatang #apa atulah pendatang# ke 3 memilih duduk di bangku atas paling depan sebelah kiri. Ternyata, satu bangku yang diperuntukkan 2 orang itu sempit banget untuk diduduki 2 orang dewasa, dan lorong antar bangkunya pun tidak terlalu lebar. Padahal sebelumnya kita berpikir bisa ngegelar tikar di atas seandainya anak-anak ga kebagian tempat duduk hehe… Daan bertambah berdesakanlah kita karena satu bangku diduduki 2 orang dewasa + 2 anak di pangkuan masing-masing.

image

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika naik Bandros, terutama jika duduk di atas:

1. Selama perjalanan kita diharuskan duduk kecuali di jalan-jalan tertentu yang dibolehkan oleh si pemandu untuk berdiri. Kenapa harus duduk, padahal enak kan ya sambil berdiri, lebih leluasa mengedarkan pandang ke penjuru jalanan Bandung. Boleh lah kalau memaksa berdiri, dengan resiko tersangkut di ranting pohon atau kabel listrik #ih syerem ah >_<

Kita seringnya ga ngeh ya, kalau keliling-keliling Kota Bandung pemandangan kita hanya sebatas yang bisa kita lihat setinggi mata, padahal kalau sedikit mendongak ke atas, terlihat kabel-kabel listrik pabaliut yang signifikan sekali mengurangi keindahan Kota. Semogaaa… Kang Emil segera merealisasikan program nanem kabel-kabel itu di dalam tanah, yah walaupun bukan proses yang mudah, tapi bukan tidak mungkin kan?

2. Bawa topi, bukan PAYUNG, soalnya panaasss. Saya dong bela-belain beli payung H-1 ngeBandros, dan ternyataaa.. ga kepake. Yaa.. itu, lagi-lagi salah satu alasannya karena ranting dan kabel listrik yang malang melintang di atas jalanan Bandung. Salah duanya, karena mengganggu orang yang duduk di sebelah, depan, dan belakang kita.

Lalu, apa sih yang kita dapet setelah naik Bandros?

Kalau kita menyimak penjelasan dari tour guide dengan seksama, kita bisa dapet banyaaak sekali wawasan baru tentang bangunan-bangunan tua di Kota Bandung – penggunaannya dulu dan sekarang, siapa perancangnya – dan sekilas sejarah nama-nama jalan yang dilewatin Bandros. Ternyata, Bung Karno, Sang Proklamator, pun punya kedekatan emosional dengan Kota Bandung, mengingat beberapa gedung merupakan rancangan Wolff Schoemaker, yang diasisteni Soekarno.

Wolff Schoemaker, nama asing yang baru saya dengar itu, ternyata adalah guru besar pertama ITB – sebelumnya ITB bernama Technische Hoogeschool Bandoeng. Dulu, ITB hanya punya satu jurusan yaitu teknik sipil yang memang sengaja dibuat oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli untuk pembangunan di Hindia Belanda. Di ITB lah Soekarno menuntut ilmu dan menjadi asisten Wolff Schoemaker dalam merancang gedung-gedung, diantaranya Hotel Preanger.

Yang sedikit mencengangkan adalah ketika kita melewati 'gedung apalah itu' yang ternyata di atas pintu masuknya terpahat patung beberapa laki-laki yang *maaf* telanjang bulat.

Terus, baru pada tau kaan *gw aja kali* kalau ternyata jumlah bulatan di atas Gedung Sate itu menyimbolkan jumlah uang Gulden yang dihabiskan untuk pembangunan gedung tersebut, yang kalau dirupiahkan dengan kurs saat ini nilainya fantastis.

Belum lagi fakta, bahwa pada zamannya, fashion yang populer di kalangan atas Bandung justru baru populer di Eropa 3-4 bulan setelahnya. Makanya, Bandung disebut Paris Van Java, hmm… kenapa ga dibalik ya, Paris adalah Bandung Van Europe? Dan di Jalan Braga lah pusat mode itu bersumber, dimana 'peragaan fashion' tergelar di sepanjang jalan itu.

Wajah Bandung tempo dulu itu pula yang membuat para pemimpin dunia yang hadir di KAA tercengang, mereka tidak membayangkan, negara yang baru 10 tahun merdeka memiliki kota dengan penataan indah seperti Kota Bandung.

Ah, pokoknya mah banyak lagi deh info-info yang kalau saya ga naik Bandros mungkin ga pernah tahu. Berhubung waktu naik Bandros kemarin saya riweuh nutupin kepala karena panas, saya pengeeen banget naik Bandros lagi tapi duduk di bawah.. semoga kesampaian yaa… terutama sama suami yang belum pernah naik *hihi*

image

“Ta Mim!”

Leave a comment

image

Pakai baju, ganti celana, “Ta Mim!”
Ambil minum, ambil makan, ambil sendok “Ta Mim!”
Gendong, ya Nabi a am aika, “Ta Mim!”
Dorong sepeda, “Ta Mim!”
Apa-apa Ta Mim…

Itu lah satu frase yang hampir dua minggu ini menjadi trending topic di rumah kami. Ta Mim, atau dalam bahasa manusia dewasa berarti ku Mim, atau sama Mim.

Sejak Akhtar berhasil disapih akhir Ramadhan yang lalu, atau sekitar pertengahan bulan Juli ini, ada 2 perasaan yang mendominasi saya.

Yang pertama, tentu saja lega. Alhamdulillah bisa tuntas menyusui Akhtar selama 2 tahun, bahkan lebih 1 bulan. Saya pun kembali melirik baju-baju lama, tapi masih bagus yang tidak berkancing depan, untuk saya pakai lagi. Dan tentu saja, saya juga bisa lebih leluasa meninggalkan Akhtar seharian jika ada keperluan.

Yang kedua, sedih. Sedih banget :( Bener banget berarti ‘teori’ teman saya, yang harus disapih itu sebenarnya bukan anaknya, tapi ibunya. Anak akan siap disapih kapan pun kalau ibu sudah siap menyapih. Saya makin mensyukuri nikmat menyusui justru setelah tidak menyusui. Betapa ternyata menyusui tidak hanya membuat anak nyaman, namun ibu pun nyaman. Karena ‘kangen’ menyusui itu, satu dua kali setelah disapih saya sendiri yang berinisiatif menyusui Akhtar, padahal Akhtar ga minta, untungnya ga keterusan haha…

Kesedihan lain karena berkurang lah salah satu ketergantungan Akhtar sama saya. Namun, ternyata Akhtar meminta perhatian dalam bentuk lain, yaitu “Ta Mim!”. Apa-apa harus Mim yang melakukan. Bahkan ke WC pun satu dua kali saya pernah membawa Akhtar karena dia sama sekali ga mau ditinggal.

Memang Ta Mim ini tidak terjadi sepanjang hari sepanjang waktu, namun semenjak disapih intensitasnya meningkat signifikan. Mungkin secara naluri Akhtar tahu ada ‘seseorang lain’ yang akan merebut perhatian saya, maka dia pun meminta perhatian dengan berlebihan, termasuk dengan mengamuk atau tantrum jika keinginannya tidak terpenuhi.

Percaya deh, saya udah mempraktikkan cara-cara menghadapi anak tantrum yang bertebaran dari banyak sumber di internet, hanya satu yang saya belum lulus, yaitu SABAR. Katanya, orang sabar, pantatnya lebar. Nah, saya belum cukup mampu melebarkan pantat untuk lebih sabar menghadapi Akhtar yang kadang-kadang sangat tidak bisa dipahami keinginannya. Maka sekali dua kali, sedikit bentakan pun akhirnya tak bisa saya tahan. Makanya, cooling down diperlukan dalam situasi ini. Saya menyingkir sejenak dari Akhtar sampai siap menghadapinya lagi, karena kalau tidak justru kekerasan dalam bentuk lain yang mungkin saya lakukan. Astaghfirullah…

Jadi, kalo satu saat Akhtar tantrum dan saya terlihat tidak peduli, sungguh bukan karena saya hanya memikirkan diri sendiri, tapi memang saya butuh waktu untuk meredakan emosi saya yang sudah pada puncaknya #curhat#

“Ta Mim!” ini lama-lama menjadi nyanyian yang terdengar merdu di telinga, apalagi kalau diucapkan Akhtar dengan suara dan langgam khasnya.

“Ta Mim… Ta Mim…” :D

Ramadhan Ceria Bersama Sabumi

Leave a comment

image

Alhamdulillah… terlaksana juga salah satu program Ramadhan Sabumi tahun ini. Mengambil kesempatan bulan penuh keberkahan, dimana satu kebaikan mendatangkan banyak kebaikan yang lain, Sabumi bekerjasama dengan Kidzsmile Foundation mengadakan Senyum Ramadhan di PAUD Ceria, daerah Tanggulan, Dago Pojok.

image

Senyum Ramadhan sendiri sebenarnya merupakan kegiatan tahunan Kidzsmile yang mana mereka berbagi senyum dengan anak-anak di beberapa kota di Indonesia melalui permainan dan dongeng edukatif. Konsep Senyum Ramadhan Kidzsmile adalah berbagi dengan apa yang ada, namun mereka membuka kesempatan kepada siapa pun yang ingin berdonasi. Maka, Sabumi mengambil peran sebagai perantara bagi para donatur yang ingin memeriahkan Senyum Ramadhan ini dengan berbagai bentuk donasi.

Bagi Sabumi sendiri, tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengajarkan kepada putra putri Sabumi bagaimana berempati dan berbagi kepada sesama, terutama kepada mereka yang kekurangan. Oleh karena itu, salah satu bentuk donasi yang dianjurkan adalah berupa bingkisan peralatan sekolah dan beberapa makanan ringan yang disiapkan sendiri oleh putra putri Sabumi. Tak lupa disisipi surat motivasi untuk sahabat-sahabat PAUD Ceria, agar mereka tak patah semangat mencapai cita-cita.

image

Tujuan lainnya tentu saja, Sabumi ingin berbagi keceriaan dengan sahabat PAUD Ceria dengan memberikan donasi dalam bentuk barang yang bisa digunakan jangka panjang oleh PAUD, seperti rak buku, container, mainan, karpet, papan tulis, dan beberapa item lain, serta sejumlah uang yang bisa dibelanjakan beberapa kebutuhan PAUD.

***

image

Apa sih yang Anda bayangkan tentang sekolah PAUD dan TK? Dinding kelas berwarna-warni yang digambari karakter-karakter lucu? Lemari besar penuh mainan dan buku? Panggung boneka? Halaman dengan ayunan, jungkat-jungkit, dan perosotan? Ah… jangan dibayangkan semua itu ada di PAUD Ceria.

Kelas-kelas PAUD ini hanya berupa ruangan sempit dan pengap tanpa jendela di bawah Masjid Ad Da’wah, di sebelah tempat wudhu dan kamar mandi. Luasnya hanya sekitar 5 x 4 meter, itupun digunakan untuk 3 jenjang kelas yang berbeda, yaitu PG, TK A, dan TK B.

PAUD ini terletak di Tanggulan yang termasuk daerah minus di Kota Bandung. Profil orangtua siswanya rata-rata Ibu Rumah Tangga atau ART, sementara para ayahnya adalah buruh serabutan.

image

Tapi, masyaAllah gurunya yang saat ini hanya dua dan hampir tak bergaji memiliki semangat membangun yang sangat besar.

Muridnya pada tahun ajaran terakhir ada 25 orang, dengan 3 guru (mulai tahun ajaran depan 1 guru resign karena gaji yang tidak memadai). Sebenarnya ditetapkan SPP 30-50 ribu /bulan setiap siswa. Namun dari 25 siswa, yang membayar paling banyak 6 orang, itu pun tidak rutin. Tapi meski begitu semua siswa masih boleh belajar di sana walau tidak membayar, maka bisa dikatakan PAUD ini gratis.

Mempertimbangkan hal tersebut, kami menyimpulkan PAUD Ceria ini memang layak menerima bantuan.

***

Alhamdulillah, dari hasil pengumpulan donasi selama kurang lebih 10 hari, terkumpul donasi dengan rincian sebagai berikut:

1. DONASI UANG

Total donasi : Rp 7.860.090, dan tidak semuanya berasal dari keluarga Sabumi.
Pengeluaran total untuk keperluan kegiatan belajar mengajar PAUD dan kesejahteraan guru sebesar Rp 3.010.270. Dan sisanya diberikan kepada Ibu Rahma, pemilik, kepala sekolah, sekaligus gurunya sebesar Rp 4.850.000 untuk berbagai kebutuhan PAUD.

2. DONASI BINGKISAN

Kami menerima total 33 bingkisan dari anak untuk anak.

Semuanya diserahkan kepada anak PAUD dan LDKM melalui tangan-tangan kecil putra putri Sabumi.

3. DONASI BARANG

1. Cat dinding Jotun 20 liter
2. Evamat puzzle bekas layak pakai
3. 1 container jumbo boneka bantal
4. 1 set rak besi merek Krisbow
5. Buku bacaan anak dan guru
6. Buku bantal dan bola kain
7. Puzzle anak
8. 5 tas anak
6. 6 paket hijab untuk guru dan remaja masjid putri
7. 2 bingkisan untuk remaja masjid putra
8. Abaca flashcard

Semoga Allah membalas kebaikan para donatur dengan kebaikan yang berlipat-lipat. Aamiin ya Rabbal’aalamiin.

Acara penyerahan donasi dan rangkaian kegiatannya berlangsung pada hari Rabu, 8 Juli 2015, atau 21 Ramadhan 1436 H di Masjid Ad Da’wah. Dihadiri hampir 20 orangtua Sabumi dan 20an putra-putrinya. Jumlah pastinya tidak tercatat. Serta guru-guru, dan para siswa PAUD beserta ibu-ibunya. Kalau dijumlah mungkin tidak akan kurang dari 80 orang.

image

Acara dibuka oleh Bu Rahma, kepala  sekolah PAUD, dengan berbagai nyanyian beserta gerakan-gerakannya, putra putri Sabumi pun berbaur dengan sahabat PAUD.

image

Selanjutnya, perkenalan singkat Sabumi yang diwakili Bunda Hani.

image

Setelah itu, barulah Ayah Idzma dari Kidzsmile mengambil alih acara. Diawali permainan tupai dan pohon yang lumayan heboh karena anak-anak berteriak dan berlarian kesana kemari. Meskipun begitu, semoga pesannya sampai ya… bahwa kita harus menjaga hutan kita agar pohon-pohon dan hewan-hewan bisa hidup nyaman di habitatnya.

Dilanjutkan penampilan dari beberapa anak Sabumi dan PAUD yang dengan berani maju ke depan menunjukkan kebolehannya bernyanyi.

Sabumi diwakili Sinnai nih, putranya Teh Devi.

image

image

Lalu, Ayah Idzma kembali mencuri perhatian anak-anak dengan boneka-boneka hewannya yang bisa ‘ngomong’ dan ‘bercerita’, kali ini ceritanya pun masih tidak jauh dari tema HUTAN. Dan tak ketinggalan ada Kido yang menjelaskan tentang sentuhan pada anggota tubuh kita, mana yang boleh dan tidak boleh.

image

Daan…

Pantauan di lapangan sempat terputus karena saya harus mengejar-ngejar Akhtar yang memaksa keluar masjid.

Hahaha…

Dilanjutkan acara pembagian bingkisan langsung oleh putra putri Sabumi, sahabat PAUD Ceria yang menerima pun semakin ceria, semoga bermanfaat ya Sahabat…

Acara selesai bertepatan dengan adzan dzuhur ditutup dengan doa dan foto-foto. Alhamdulillah, semua berjalan sesuai skedul.

Seru ya? Wah, kapan-kapan kalau Sabumi mengadakan kegiatan lagi insyaAllah ga kalah seru deh, apalagi keluarga Sabumi selalu semangat berpartisipasi dalam setiap kegiatan.

Sekarang waktunya kita fokus menjalani 10 hari terakhir Ramadhan tahun ini. Semoga kita bisa meraih keutamaan malam Lailatul Qadar. Semoga Ramadhan ini BUKAN Ramadhan terakhir untuk kita dan keluarga. Aamiin…

Foto: dokumentasi pribadi, file media grup whatsapp Sabumi dan Intibumi

“Playdate Perdana” Sabumi

8 Comments

image

Alhamdulillah, akhirnya terlaksana juga “playdate perdana” Sabumi, komunitas keluarga homeschooling khusus muslim di Bandung.

Mengapa saya merasa perlu menambahkan tanda kutip? Karena sebelum playdate tadi siang sudah beberapa kali Sabumi mengadakan kegiatan, baik sebelum menjadi Sabumi, maupun setelah resmi bernama Sabumi. Tapi, kegiatan yang acaranya dikhususkan untuk anak-anak sepertinya baru kali ini. Sementara kegiatan-kegiatan sebelumnya biasanya lebih banyak efektif untuk orangtuanya, tidak ada agenda khusus untuk anak-anak.

Sabumi sendiri terbentuk ketika beberapa ibu merasa butuh komunitas yang mensupport keluarga pesekolahrumah khusus muslim di Kota Bandung, yang saat itu sepertinya belum terlihat. Sementara ada komunitas lain, yang secara nilai kurang cocok dengan nilai yang ingin kami tanamkan sebagai keluarga muslim. Maka, terbentuklah, komunitas HS Muslim Bandung, saat itu. Nama Sabumi sendiri baru muncul belakangan. Itu pun awalnya bernama Sakola Bumi sebenarnya, maksudnya ‘menyundakan’ istilah sekolah rumah, namun akhirnya dipakai nama Sabumi karena Sakola Bumi sendiri sudah digunakan oleh salah satu keluarga HS sebagai ‘trademark’ mereka.

Pada kenyataannya sih komunitas ini tidak sekedar untuk keluarga pegiat HS, tak sedikit yang anak-anaknya bersekolah formal, namun ingin menambah wawasan mengenai pendidikan anak dengan bergabung dengan Sabumi. Bahkan, kalo saya amati, justru komunitas ini kebanyakan berisi keluarga dengan anak-anak yang bahkan belum berusia sekolah, jadi tidak bisa dibilang HS-ers juga.

Namun kini Sabumi melebur dengan HSMN (HS Muslim Nusantara). Komunitas HS muslim yang cakupannya lebih luas, yang berkembang pesat belakangan ini. HSMN sendiri basis komunitasnya di grup whatsapp, jadi akhirnya grup inti Sabumi di whatsapp pun membuka diri untuk orangtua lain yang mau bergabung. Saat ini sudah terbentuk 2 grup dengan kuota masing-masing 90an. Kalau soal HSMN hubungannya dengan Sabumi, ada yang lebih bisa menjelaskan sepertinya.

***

image

Playdate kali ini mendapat respon yang luar biasa dari ibu-ibu di grup. Walaupun dari pengumuman acara s.d hari-H terbilang mepet, kurang dari 1 minggu, mungkin cuma 4 hari ya, tapi ibu-ibu antusias sekali untuk ikut. Total pendaftar dalam list, dari 2 grup Sabumi, mencapai 45 orang. Yang hadir berdasarkan daftar hadir ada 32 orang ibu, dengan kurang lebih 42 orang anak, belum dihitung beberapa ayah yang datang dan ibu yang belum isi daftar hadir. Wow kan?

Nah, di playdate tadi siang kami punya kegiatan membuat cat dengan bahan yang bersahabat, edible, alias bisa dimakan. Walaupun tidak dimasak, sepertinya sih memang aman dimakan, buktinya tadi siang ada ananda yang masih merangkak memasukkan kuas belepotan cat ke mulut, dan baik-baik aja hehe.

Adapun yang menyiapkan materinya kali ini Teh Devi, yang sudah mencoba membuat cat tersebut di rumah. Bahan-bahan yang dibutuhkan antara lain:

4 sdm soda kue
2 sdm cuka
1/2 sdt larutan gula
2 sdm tepung maizena
Pewarna makanan

Cara membuatnya adalah:
1. Campur soda kue dan cuka di dalam baskom kecil, aduk rata
2. Setelah tercampur, masukkan larutan gula dan maizena, aduk rata
3. Bagi adonan cat ke tempat-tempat kecil, lalu beri pewarna sesuka hati

Takaran bahan-bahannya bisa disesuaikan dengan tingkat kekentalan cat yang diinginkan.

Dan… jadilah cat buatan kami.

image

Anak-anak dibiarkan melukis bersama di atas kertas roti yang dibentangkan sepanjang terpal tempat kami duduk.

image

Selesai sesi mencat, kurang lebih 1 jam, kami menggelar potluck yang dibawa masing-masing untuk dimakan bersama. Tentu saja setelah membersihkan tangan dari cat kemudian membaca doa sebelum makan.

image

Setelah cacap cicip makanan sana sini, giliran Teh Rochma mengajari anak-anak lagu tentang Sentuhan di sesi berikutnya, sentuhan seperti apa ke bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh.

image

Lalu, sesi selanjutnya adalah mendongeng oleh Kak Idzma dan Kido, tentang sentuhan juga, dan cerita tentang KPK, dapat pin keren juga lho dari KPK.

image

Seru kan? Ini baru yang pertama lho, insyaAllah, playdate akan dilakukan secara rutin, dan tidak kalah seru dari playdate tadi siang. Yang pasti sih saya udah ga sabar :)

Foto: dokumentasi pribadi, foto WA dr Teh Liza, dan Teh Hilda Sabumi 1

Dua Tahun Bersama Akhtar

Leave a comment

*late post

image

Lama gak update blog, dan saya khususkan menulis hari ini untuk sedikit flashback kehidupan Akhtar 2 tahun ke belakang.

Ya, Akhtar tepat 2 tahun hari ini, 9 Juni 2015. Waktu yang singkat namun merangkum banyak kejadian dalam keluarga kami.

Akhtar lahir di sebuah rumah bersalin, bagian dari Rumah Sakit PTPN, di Kota Jember dalam kondisi rumah sakit yang ‘seadanya’. Saya bilang ‘seadanya’ karena saya berharap lebih dari sekedar seadanya itu. Namun itu pilihan, saya yang memilih menunggu saat-saat melahirkan di dekat suami, karena bagi saya itu lebih nyaman. Tapi ‘risiko’nya tidak banyak rumah sakit yang bisa jadi pilihan, mengingat Jember tidak sebesar Bandung, apalagi Jakarta. Pada akhirnya menjelang hari H, saya justru dijemput dan diantar ke RS oleh teman kantor suami, Mas Hadi, dan istrinya yang baik hati, karena malam itu suami masih dalam perjalanan pulang dari Surabaya untuk menjemput mertua saya dari Bandung.

Proses kelahiran yang diharapkan normal pun akhirnya berakhir caesar. Saya sendiri merasa dokter kandungannya tidak terlalu support normal, atau hanya perasaan saya saja? Karena dalam berkomunikasi, saya merasa beliau agak menjatuhkan mental saya untuk bisa melahirkan normal. Lagi-lagi itu konsekuensi dari pilihan saya, beliau adalah satu-satunya dokter kandungan perempuan terdekat, yang harus saya pilih karena suami hanya mengizinkan saya diperiksa oleh dokter kandungan perempuan.

Dengan kondisi seadanya pun, rumah sakit belum support IMD untuk kelahiran caesar, dan setelah lahir Akhtar langsung saja diberi formula dengan merek yang diminta dipilih oleh keluarga. Sementara saya masih di ruang ICU sampai 6 jam, dan menahan haus 2 jam terakhir karena saya tidak diperbolehkan minum sebelum efek obat biusnya hilang. Sampai berkali-kali saya minta minum, dalam keadaan setengah sadar saya seperti mendengar perawat mengatakan saya ‘ga sabaran’.

Ya itu sekelumit Akhtar di rumah sakit pada hari-hari pertamanya. Pelajaran bagi saya, agar lain kali (jika melahirkan lagi) lebih mengetahui hak-hak apa saja yang akan kita dapat/ tidak kita dapatkan sebagai pasien, juga penjelasan mendetail mengenai tindakan yang dilakukan RS dan konsekuensinya untuk pasien. Penting, untuk mendapatkan pengalaman melahirkan yang menyenangkan.

Beruntung, saya merasa terobati dengan dokter anak yang pertama menangani Akhtar, dokter Ayu yang ramah dan lembut menangani anak. Beliau mengunjungi saya di ruang rawat dan memeriksa kondisi Akhtar sebelum kami meninggalkan RS, yang Alhamdulillah semua dalam kondisi baik.

Akhtar tumbuh sehat, hanya pada bulan ke 10 ada ‘sedikit’ masalah dengan pertumbuhan Akhtar yang berturut-turut selama 2 bulan tidak mengalami kenaikan berat badan, sehingga badannya cenderung kecil dibanding anak seumurnya. Dan setelah diperiksakan ke beberapa dokter anak, terakhir ke dr Yulia di Bandung, beliau mendiagnosis Akhtar TB dan harus terapi obat anti TB selama minimal 6 bulan. Bukan hal yang mudah namun saya masih bisa lega dan bersyukur saat itu, karena dokter tidak mendiagnosis penyakit yang lebih berbahaya, berat, atau susah diobati.

Semakin sering kami bolak balik ke RS, semakin kami merasa harus bersyukur karena dalam antrian ke dokter, tak jarang kami mengantri bersama orangtua yang anaknya mengalami sakit yang tidak ringan.

Makanya, saya merasa tidak terbebani menjalaninya, hanya sesekali deg-degan melihat timbangan Akhtar yang tiap bulan tidak bertambah signifikan walaupun pengobatan terus berjalan. Ketika pada akhirnya pertengahan Februari 2015 pengobatan Akhtar dianggap cukup oleh dokter, berat badannya tidak mengalami kenaikan signifikan dibanding sebelum terapi, hanya naik sekitar 1,4 kg saja, dan Akhtar masih saja berpostur kecil dibanding anak seusianya. 

Selama terapi itu, jarang sekali saya menceritakan hal ini kepada orang lain. Hanya keluarga dekat dan beberapa teman saja yang pernah saya beritahu. Alasannya, saya tidak ingin orang mengasihani/ merasa prihatin atas kondisi Akhtar, toh walaupun ‘sakit’ Akhtar berkembang normal seperti anak lainnya, bahkan dalam beberapa hal dia melampaui anak seumurnya. Kedua, sakitnya Akhtar ‘tidak ada apa-apanya’ dibandingkan dengan beberapa anak yang saya ceritakan di atas, tidak ada yang perlu dikeluhkan, kami hanya mengusahakan pengobatan terbaik untuk Akhtar, bahkan walaupun harus menemui dokter sampai ke Malang dan Surabaya waktu itu, gara-gara saya tidak percaya pada dokter yang pernah menangani Akhtar di Pasuruan (waktu itu).

Dalam kondisi ini, saya belajar satu hal lagi tentang empati, bahwa rasanya tidak bijak menceritakan secara luas tentang sakitnya anak kita, padahal di luar sana, mungkin banyak orangtua yang ‘menginginkan’ anaknya ‘hanya’ mengalami sakit seperti anak kita.

Selesai terapi, rasanya saya seperti keluar dari penjara yang sangat pengap, masyaAllah, legaaaa banget, setidaknya saya tidak harus menyiapkan obat Akhtar lagi setiap setengah jam sebelum sarapan.

Kini, memasuki dua tahun, Akhtar mulai menunjukkan sisi ‘devil’nya, semakin sering tantrum, tapi pada akhirnya saya mengintrospeksi diri dan mungkin ini merupakan teguran atas cara asuh kami yang di beberapa hal kurang tepat. Kami seringkali terlalu cepat menuruti permintaan Akhtar dengan alasan ‘daripada nangis’, ga tega atau ga enak ‘berbagi’ suara tangis anak sama tetangga.

Tantrum Akhtar mulai sering ‘kambuh’ sejak kami pindah ke Jakarta. Di Jakarta kontrakan kami tidak punya halaman, dan Akhtar cepat bosan dengan aktivitas dalam rumah, pada akhirnya setiap hari dia selalu merengek sekali, dua kali, bahkan lebih, meminta bermain keluar rumah, lebih tepatnya berdiri di pinggir rel kereta melihat KRL lewat. Belum lagi, pada malam harinya, dia seperti tidak kehabisan energi untuk terus beraktivitas sampai dini hari.

Karena merasa kewalahan, saya pun pada akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di Padalarang dibanding kontrakan di Jakarta.

Tiga hari terakhir ini saya mencoba lebih sabar, dan berkomitmen mempraktikkan sedikit ilmu tentang mengatasi anak tantrum. Diantaranya tidak cepat menuruti keinginan Akhtar ketika tantrum. Ternyata ‘hanya’ butuh ‘sedikit’ sabar, ‘sedikit’ tenaga untuk menahan tubuh Akhtar yang meronta dalam pelukan, ‘sedikit’ tega, ‘sedikit’ berbagi keributan dengan tetangga, hingga pada akhirnya Akhtar berhenti sendiri menangis dan bersikap lebih manis. Ternyata cara itu membuahkan hasil, kini sikapnya lebih mudah dikendalikan.

Sebagai orangtua baru, kami masih terus belajar dan belajar. Berbekal sedikit pengalaman bersama Akhtar 2 tahun ini, kami tidak akan mengulangi hal-hal yang semestinya tidak dilakukan kepada calon adik Akhtar yang saat ini sudah 10 minggu berada dalam rahim saya.

Pindah, lagi…

2 Comments

“Siap-siap pindah lagi, kata Pinca”, kata suami saya singkat melalui Whatsapp tanggal 17 Maret 2015 lalu.
Kalau sekedar ‘siap-siap’ sih dari awal memutuskan kerja di bank terbesar dan tersebar di Indonesia ini, berarti suami emang mesti selalu siap dipindah-pindah, lah wong wis teken kontrak kudu siap ditempatkan di seluruh Indonesia bahkan di daerah pelosok, sepelosok-pelosoknya. Pertanyaan pentingnya adalah, pindah kemana???

“Belum tau, antara Kanwil atau Kanpus”, jawab suami saya.
Jadi, kemungkinannya adalah Malang atau Jakarta. Hmm… not bad lah, pindah ke kota besar setidaknya memberi kami lebih banyak pilihan pada berbagai akses pendidikan, kesehatan, transportasi, hiburan, de el el.

image

Tapi, ada tapinya juga.
Malang terlalu dekat dari Pasuruan, hanya berjarak tempuh 1 s.d 2 jam, sehingga tidak berpengaruh signifikan pada pengurangan ongkos mudik dan waktu tempuh ke kampung halaman.

Sementara Jakarta, walaupun hanya 2 jam dari Bandung, tapi kota itu terlalu besar dan keras, untuk keluarga kecil seperti kami dengan seorang bocah yang belum genap 2 tahun. Lagipula, di lubuk hati yang terdalam, ada sedikit enggan untuk kembali ke Jakarta, haha. Jakarta, buat saya, adalah salah satu kota di Indonesia yang masuk urutan buncit sebagai kota yang akan saya pilih untuk saya tinggali.

Bagaimanapun, surat keputusan sudah turun. Malang atau Jakarta?

JAKARTA!!!

image

Keluarga di kampung halaman menyambut dengan suka cita, menyisakan saya yang berdebar-debar membayangkan ibukota yang suasananya membuat orang cepat ‘panas’ dan berprasangka tidak baik pada orang yang tak dikenal.

Fiuhh… Ibu kota, sambut lah keluarga keluarga kecil kami dengan ramah :)

image

Dan hari pertama mengetahui berita tersebut, saya sibuk meng-google, dengan kata kunci tak jauh-jauh dari
“Kontrakan di daerah….”
“Sewa rumah di….”
“Sewa kost di….”
bahkan nekad pula saya ketikkan
“Sewa apartemen di….”

Pusiiiing pala Barbie…

Di Pasuruan ini, kami tinggal selama hampir 1,5 tahun di sebuah rumah dalam kompleks perumahan yang aman tenteram, dengan 2 kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah, kamar mandi, dapur, masih ditambah halaman belakang dan carport dengan biaya sewa 6 juta per tahun. Murah? Alhamdulillah… dapat harga teman, berhubung si pemilik rumah kenalan suami saya. Tapi kalaupun lebih mahal, saya rasa ga akan mahal-mahal amat.

Di Jakarta, mendapatkan harga sewa segitu dengan spesifikasi rumah seperti di atas, hanya mimpi. Kami melipatgandakan budget untuk rumah 3 s.d 4 kali dari harga sewa di Pasuruan, dan itu pun, kalau sekedar mencari di internet, susahnya minta ampun, banyak pertimbangannya.

Pertama, soal jarak dan akses transportasi umum/ pribadi ke kantor. Pilih yang dekat kantor, harga sewa mahal banget. Pilih yang jauh dari kantor, transportnya yang agak merepotkan.

Kedua, walaupun saya dan suami pernah tinggal di Jakarta dalam waktu yang cukup lama, namun kondisinya sekarang kami membawa batita, yang sedang dalam masa perkembangan yang sangat pesat. Maka, lingkungan tempat tinggal menjadi hal yang paling kami pertimbangkan.

Dengan kriteria yang ‘hanya’ dua itu saja, plus pertimbangan dari budget yang ga seberapa, pada akhirnya hasil berasyik masyuk dengan si google hari itu pun NIHIL.

Kalaupun ada rumah yang masuk budget, kondisinya kalau sekedar dilihat dari foto terlihat kurang nyaman ditinggali. Dengan budget tak seberapa, memang kami tidak bisa berharap banyak.

Blusukan, ala Mr Presiden, menjadi salah satu jalan terefektif menemukan kontrakan yang sreg di hati. Dan itu berarti baru akan kami lakukan awal April nanti berbarengan dengan kepindahan kami ke Jakarta.

Ya Allah… permudahlah…

Emak-Emak Hebat, Katanyaaa…

Leave a comment

Beberapa hari yang lalu, seseorang, entah siapa, meng-add saya di grup beranggotakan hampir 12.000 orang yang menamakan dirinya emak-emak hebat. Kadang beberapa post dari grup tersebut muncul di timeline saya. Awalnya saya tidak merasa terusik, hanya saja setelah saya visit grupnya dan membaca postnya satu per satu, kok saya merasa isinya banyak yang ga sesuai dengan nama grupnya yang dalam asumsi saya berisi ibu-ibu tangguh, tidak cengeng, saling memotivasi, sharing soal ilmu ini itu, dan hal-hal positif lainnya. Malah lebih banyak yang curhat soal suami yang begini, mertua yang begitu, ipar yang begono, tetangga yang anu, galau karena ini itu, atau saya yang “da aku mah apa atuh”, yang mana kebanyakan bernada negatif dan pesimis, bahkan ada yang cenderung ke ghibah.

Satu hari, saya membaca post yang juga menyayangkan hal yang sama, kurang lebih isinya mempertanyakan, “Emang gak malu ya curhat masalah keluarga di grup?” Beberapa mengamini, namun ada juga yang berargumen kurang lebih seperti ini, “Saya kan juga ga kenal satu per satu anggota di grup ini, jadi fine-fine aja kalo mau curhat soal keluarga, toh gak akan ada yang tau siapa saya dan siapa keluarga saya”. Mungkin yang menulis itu salah satu oknum yang suka curhat di grup? Ga tau deh.

Ibu-ibu, bijak lah bersikap, santun bertutur. Yang punya masalah keluarga bukan hanya saya atau Anda seorang, bahkan mungkin banyak yang lebih berat masalahnya, namun memilih sarana yang lebih tepat untuk menyelesaikannya. Lagipula, di ruang publik seperti itu, belum tentu semua orang nyaman dengan yang kita sampaikan. Di ruang publik, maya ataupun nyata, kita ikut bertanggung jawab akan kenyamanan orang lain.

Pada akhirnya, hari ini saya leave dari grup tersebut. Salah satu yang membuat saya gerah adalah ketika seorang anggota grup mem-posting foto bayi yang diberi rokok oleh orangtuanya -kayaknya belakangan ini foto itu lagi heboh- dengan komentar nyinyir yang kurang lebih seperti ini, “Kok ada ya orangtua yang tega kayak gini sama anaknya”, tanpa mem-blur atau menyensor wajah si bayi. Lalu, status itu pun banjir komentar dengan nada hujatan kepada orangtua dan rasa iba kepada si bayi.

Kalau memang beliau peduli, seenggaknya, paling minimal banget, menurut saya, laporkan akun pemilik foto tersebut ke pihak FB. Saya tidak tahu seberapa efektifkah cara itu, namun satu perbuatan kecil saya kira lebih baik daripada ratusan bualan besar. Bukankah dengan menshare hal yang seperti itu malah lebih mengeksploitasi si anak yang sejatinya tak tahu apa-apa itu?

Atau kalau mau lebih peduli lagi, kalau tangan sendiri tidak mampu merubah keadaan, bisa kan meminta perhatian tokoh-tokoh parenting/ pendidikan yang akunnya banyak bertebaran di FB melalui pesan pribadi atau me-mention-nya secara langsung? Pun kita tidak tahu seberapa efektif kah cara ini. Setidaknya, berbuat!

Namun, kalau tidak bisa berbuat apa-apa, lebih baik diam kan daripada menyebarkan foto itu ke lebih banyak orang? Apalagi tanpa memberi solusi.

Ya, tapi begitu lah dunia ibu-ibu. Semakin dimasuki semakin rumit dan rempong dan nyinyir dan bising dan… dan lain lain  :D

Saya bersyukur lebih banyak grup ibu-ibu yang menjadi tempat belajar dan berteman yang nyaman dan bermanfaat. Pintar-pintar saja kita memilih komunitas/ grup agar tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang kurang/ tidak bermanfaat.

-selesai-

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 2,763 other followers