Buah Tangan dari Delatinos – Kajian Ust Fauzil Adhim

2 Comments

Ahad, 22 Mei 2016, untuk pertama kalinya ikut kajian keislaman sejak tinggal di Tangerang, semoga ke depannya bisa istiqamah mengejar ilmu ke berbagai majelis yang terjangkau dari sini.

Materi kajian di Masjid Al Aqsha Delatinos BSD ini disampaikan oleh Ust Fauzil Adhim, seorang penulis produktif yang concern dengan parenting islami. Temanya disesuaikan dengan momen Ramadhan yang sudah di depan mata, yaitu “Menyiapkan Anak untuk Ramadhan Terbaik”

Ada beberapa hal dari penjelasan beliau yang luput saya catat, namun poin utamanya tetap SAMPAI.
Bahwa… IMAN adalah sebaik-baiknya bekal dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

Kajian dibuka dengan penjelasan Surat Luqman Ayat 13.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَيَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ(13)

“….. Yaa bunayya… Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”

Ustaz mengupasnya dari sisi bahasa…
Yaa bunayya… adalah panggilan sayang kepada anak.
Laa… Janganlah… merupakan kata perintah… dalam hal ini adalah perintah untuk tidak menyekutukan Allah.
Kemudian, dilanjutkan dengan penjelasan, mengapa JANGAN menyekutukan Allah, karena merupakan kezaliman yang besar.

Nah, dalam konteks yang lain, urutan: panggilan sayang, diikuti kalimat perintah, disertai penjelasan menjadi formula yang powerful untuk menghujamkan pemahaman kepada anak, termasuk ketika mengajarkan berpuasa.

Sebelum anak berusia 7 tahun, yang menjadi fokus orangtua adalah:
● menanamkan Iman (cek lagi Rukun Iman), juga dengan membacakan kisah orang-orang shalih
● menyentuh/ menghidupkan hatinya
● menjadikan anak senang/ bangga kepada amal shalih, bukan membanggakan diri karena melakukan amal shalih yaa
menumbuhkan semangat mampu melakukan yang lebih baik, lagi dan lagi

Sudahkah anak memiliki sikap tsiqah kepada orangtua, sehingga kita lebih mudah menyentuh hati mereka? Hindarilah hati yang keras dan bicara yang melengking seperti suara keledai, seburuk-buruknya suara adalah suara keledai, seperti yang difirmankan Allah dalam QS Luqman ayat 19.

Sudahkah kita menyampaikan qaulan sadiida (perkataan yang benar), yaitu mengatakan kejujuran, tidak menghindari kebohongan, dan tidak menutupi kebenaran kepada anak?

Anak akan menunjukkan respek kepada orangtua jika orangtua memiliki kedekatan dengan anak-anak, senantiasa lah meluangkan waktu untuk anak-anak, serta memiliki kepedulian dan itikad-itikad baik kepada mereka.

*

Seringkali kita melihat orangtua yang sudah mengajarkan balita berpuasa. Boleh?

Boleehh…
Pada usia ini, orangtua sebanyak mungkin memberikan kabar gembira tentang Ramadhan dengan menunjukkan antusiasme kita menyambut Ramadhan. Orangtua bisa menawari anak, “Mau ikut shaum ga?”. Ingat… menawari bukan menyuruh. Tujuannya untuk mengajarkan anak tertib dalam hal ibadah.

Selain mengajarkan puasa yang secara harfiah diartikan sebagai ‘menahan lapar dan dahaga’, ada yang tak kalah penting untuk kita lakukan, yaitu menjaga Ramadhan agar tidak bergeser maknanya. Diantaranya dengan mengontrol PENGELUARAN KONSUMSI, lain hal dengan sedekah yang memang seharusnya diperbanyak yaaa…

Tipsnya? Tidak menyediakan makanan istimewa saat berbuka, sediakan makanan biasa seperti hari-hari di luar Ramadhan, sehingga anak belajar untuk tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, yang ‘lazim’ dilakukan orang-orang saat ini. Justru… istimewakan makan sahurnya, karena salah satu tantangan anak yang baru belajar shaum adalah sulitnya bangun sahur. Melibatkan anak mengambil keputusan menu sahur akan menjadi momen istimewa bagi anak.

Tapi setelah sahur, tak jarang ngantuk melanda bukan? Jangankan anak-anak, orang dewasa pun seringkali tidak bisa menahan kantuk apalagi setelah shalat subuh. Padahal tidur setelah subuh adalah hal yang tidak disukai. Salah satu akibatnya adalah perasaan tidak nyaman pada tubuh. Kalau ini terjadi pada anak-anak yang belajar puasa, mereka bisa tergoda untuk membatalkan puasanya karena merasa tidak enak badan.

Maka daripada ituuu… jagalah anak agar tidak tertidur saat melewati waktu syuruk, jaga agar tidak tertidur sampai dhuhur. Berikan mainan, tapiii bukan game online atau gadget yang melenakan yaa. Barulah boleh tidur siang sebelum/ setelah waktu dhuhur, mereka akan merasa bersemangat ketika bangun, sehingga ‘terselamatkan’ lah puasa mereka hari itu.

Berkaitan dengan gadget, yang paling penting bukan menjauhkan anak dari bendanya, melainkan menjauhkan anak dari kotorannya. Jauhkan anak dari konten-konten yang berbahaya, salah satu caranya dengan memproteksi gadget dengan aplikasi khusus atau settingan tertentu (Ustaz menjelaskannya secara teknis). Bekali anak dengan IMAN yang kuat, itulah sebaik-baik benteng pertahanan.

*

Anak-anak seringkali melontarkan pertanyaan ‘sederhana’ yang membuat orang-orang  dewasa terlonjak karena bingung harus menjawab apa. Termasuk jika ada anak yang bertanya, “Mi, kok dia makan siang-siang sih? Kenapa ga puasa?”

Nah, ini sih sudah naik ke level berikutnya. Setelah anak merasa bangga pada amal shalih, maka tugas ‘berat’ berikutnya adalah menumbuhkan semangat memperbaiki orang lain, menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ceritakan pahala besar yang Allah janjikan bagi orang yang mengajak orang lain pada kebaikan. Tanamkan pada diri anak untuk merasa tidak senang pada kezaliman, sekecil apapun, contohnya memotong antrian. Ketika hal-hal kecil seperti itu mampu mereka lakukan, maka akan lebih mudah mengajak mereka memperbaiki hal-hal yang lebih besar.

***

Ini Mobil Apa?

Leave a comment

image

Ada sekontainer kecil penuh dengan buku anak-anak di pojok ruang tamu. Beberapa buku dibeli baru-baru ini,
namun banyak juga buku yang dibeli sebelum Akhtar lahir, bahkan sebelum saya menikah. Buku yang sebenarnya saya beli untuk adik saya, yang ‘terlanjur’ tidak senang membaca.

Di antara cukup banyak buku itu, hanya sedikit saja yang menarik perhatian Akhtar. Setiap kali minta dibacakan, ia tidak beranjak dari buku-buku favoritnya, yang hanya 5 atau 6 buku.

Belakangan ini, ia menunjukkan ketertarikan yang lebih pada buku-buku yang lain. Suatu hari terlihat Akhtar mengaduk-aduk kontainer buku dan mengambil buku tentang mobil dan motor, serta buku traktor dan alat-alat berat. Yak.. buku-buku yang saya beli sebelum menikah itu…

Dengan antusias ia membuka setiap halamannya, dan pertanyaan yang sama keluar dari mulutnya, “Ini mobil apa?” atau “Ini motor apa?”

Nah… timbul ‘persoalan’. Buku-buku itu bisa minta di’baca’kan 3 sampai 4 kali dalam sehari. Akhtar hanya akan menunjuk gambar-gambar di buku, dan kami harus menjawab setiap pertanyaan “Ini mobil apa?” yang keluar dari mulutnya.

Kadang saya menjawabnya dengan serius, duduk mendampingi Akhtar dan menjawab pertanyaan Akhtar dengan membaca jenis kendaraan yang tertulis di buku. Tapi kalau muaales dan bosan melanda, saya hanya menjawab asal sambil melakukan pekerjaan lain… Duh… maaf ya Akhtar :(

Sudah sampai pada masanya memang anak seusia Akhtar menanyakan apapun hal baru yang ia lihat. Teringat kejadian beberapa tahun lalu di sebuah kendaraan umum, saya duduk berhadapan dengan seorang Ayah yang memangku anak balitanya, sepanjang perjalanan anak itu tak berhenti bertanya “Itu apa?” “Itu apa?” “Itu apa?” sambil menunjuk apapun yang ia lihat di luar kendaraan. Tau reaksi saya saat itu? Jengah haha.. “Ya ampun ni anak ga bisa diem apa yaa”.
Mungkin karena hareudang maka saya membatin sejahad itu… -_-

Sebagai orangtua, kita bisa mengambil pilihan untuk bersabar mendampingi proses belajar anak-anak dengan mengalahkan rasa malas dan tidak sabaran, ataau…
mengikuti nafsu malas namun harus bersiap dengan masa depan dimana anak tidak menjadikan orangtua sebagai orang pertama yang ditanyainya dalam berbagai persoalan, tidak mau mendengarkan perkataan orangtua, bahkan tidak memercayai orangtua…

Hmm…
Kita bisa memilih…

Officially, Nangkuban

Leave a comment

image

Selamat Ahnaf…
Ayo kita mengeksplorasi dunia mulai dari satu injakan kecil di atas kasur… :)

image

Di sisi lain,
“Ayo Ade… anikuban anikuban… ayo maju Ade…” Akhtar sambil tepuk tangan girang menyemangati Ahnaf yang mulai ngalangsud dengan bantuan kedua kaki, tangan, perut, dan… mukanya.

Ngomongnya yang Betul (part-2)

1 Comment

image

Ada satu kucing tetangga yang sok kenal sok dekat banget sejak kami tiba di rumah kontrakan ini. Kucingnya lucuuu, bener deh, corak bulunya unik, walaupun sebenarnya si kucing ini hanya kucing kampung.

Sukanya masuk-masuk pagar rumah, lalu masuk rumah tanpa permisi. Ya eyalah. Seperti kejadian tadi pagi, si kucing sudah mulai caper sejak pintu rumah dibuka, seperti tau apa yang dituju, si kucing berjalan mengarah ke dapur… tapi berhasil dihalau keluar rumah.

Beberapa lama kemudian, saya kaget sekaligus bingung, karena si kucing tetiba melintas di depan mata saya dari arah dapur menuju pintu keluar dengan langkah percaya diri dan wajah tanpa dosa. Saya langsung ke dapur lalu menemukan beberapa sampah sudah keluar dari tempatnya.

Setelah berhasil mengusirnya keluar, kucing itu masih berusaha masuk melalui jendela yang terbuka, saya menepuk-nepuk badan dan kepalanya, “Keluaarr… ayo ayo keluaarr!”
Lalu… alarm mungil saya berbunyi, “Mim… ga boleh pukul-pukul ya…” saya melirik ke arah suara, dan melihat Akhtar berdiri dengan ekspresi kaget dan alis mengerut.
“Oh iya… maaf… meng maaf ya udah pukul-pukul. Ayo cepat keluar!”
“Mim… ngomongnya yang betul”
“Oh iya… meng sayang ayo keluar yuk…”, kata saya sambil mendorong lembut si kucing keluar pintu. Mamaaakk!

Rupanya si kucing pantang menyerah, dia tetap masuk keluar berkali-kali dari jendela lalu ke pintu… sampai saya tersenyum kecil mendengar dialog Akhtar dengan kucing, “Meng ga boleh masuk ya sayang, keluar ya meng” katanya sambil mendekatkan wajah ke arah kucing.

Oalaah…

Makasih Akhtar sudah mengingatkan Mim untuk bersikap lembut pada binatang :)

Nguber Uber

Leave a comment

Hari ini untuk ketiga kalinya menggunakan jasa Uber sejak berada di Tangerang dalam dua minggu ini. Dan hanya satu masalahnya… kontrakan kami agak sulit ditemukan oleh si sopir Uber walaupun sudah menggunakan GPS… heuh…

Bahkan hari ini kami membatalkan 2 request ke Uber karena si mobil tak juga sampai ke tempat kami, salah satu mobil malah nyasar sampai ke arah Bintaro.. Lho? Lho? Jauh amat…

Ketika cek aplikasi di ponsel saya pun, si posisi mobil di GPS itu kayaknya ga realtime… misal terlihat di Jalan A, tapi begitu menelepon si sopir, ternyata posisi mobil sebenarnya di Jalan Z, kan jauh yak?

Menggelikan karena waktu yang dihabiskan untuk menunggu jemputan lebih luamaa dibandingkan waktu tempuh kami ke tempat tujuan. Nunggu mobilnya setengah jam, padahal perjalanan kurang lebih hanya sepuluh menit, dengan ongkos kurang dari 20 ribu. Ya elah…

*curhatpentinggapenting*

Lalu… Tangerang

Leave a comment

2 minggu di Tangerang

*

Sejauh ini keluarga kecilku selalu pindah dari satu ‘kesumukan’ ke ‘kesumukan’ yang lain…

Jember yang agak hareudang… ke Pasuruan yang hareudang pisan… ke Jakarta yang semua orang mafhum akan kesumukannya… sempat ngadem di Bandung beberapa bulan, dan sekarang di Ciledug Tangerang yang bikin badan lengket karena keringat…

Kalau orang dewasa tentu lebih mudah menyetting diri, menaikturunkan standar kenyamanan agar tetap kerasan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang selalu jadi soal adalah anak-anak… yang standar kenyamanannya kadang gak langsung kita pahami, tanpa dialami sebelumnya.

Sebagai contoh, kontrakan sebelumnya di Jakarta yang menurut saya sudah nyaman, ternyata tidak membuat Akhtar bertahan lebih dari 3 bulan. Lebih tepatnya, saya yang kibar-kibar bendera putih duluan karena tak kunjung bisa mengatasi Akhtar yang selalu minta keluar rumah, berjalan jauuuh, atau sekedar berdiri di dekat rel kereta sampai 1 atau 2 jam… bahkan pernah lebih.

Dari pengalaman itu… kami mengevaluasi beberapa hal dan menetapkan kriteria tambahan untuk kontrakan berikutnya, apalagi kalau masih di metropolitan… diantaranya, punya teras dan pagar rumah sendiri, jalan di depan rumah tidak terlalu ramai, kalau bisa sih agak jauh dari jalan besar, dan maunya yang luas…

Nah… setelah suami setahun di Jakarta, dan hampir dipastikan tidak akan pindah tugas paling ngga untuk setahun ke depan, akhirnya keluarga kecil kami memutuskan hijrah lagi, kali ini mencoba peruntungan di Tangerang. Banyak syaratnya waktu mulai mencari iklan kontrakan di internet… selain yang disebutkan di atas, juga… kalau bisa di Ciledug, kalau bisa lagi di Jalan Tanah 100. Karena ada adik sekeluarga yang tinggal juga di kawasan itu.

Alhamdulillah… rezekinya anak-anak dapat kontrakan yang nyaman, bersih, baru, dan luas, punya pagar rumah sendiri, tapi tidak terlalu mahal, jalan depan rumah yang tidak terlalu ramai, di pemukiman penduduk yang tetangganya ramah-ramah, dan lokasinya di Jalan Tanah 100. Cocok!

image

Sejauh ini anak-anak kelihatan kerasan tinggal disini… kalau Akhtar bosan, ada sepupunya yang bisa diajak main bareng atau sekedar bersepeda ke tukang sayur… masalahnya hanya… disini agak gerah, jadi belum ada seminggu, yang kata orang ‘keringat buntet’ mulai muncul di beberapa bagian tubuh Akhtar dan Ahnaf.

Tangerang Rasa Jawa

Yang menarik, lingkungan disini didominasi pendatang dari Jawa. Sependengaran saya sih kayaknya kebanyakan Jateng atau Yogya. Para ‘pendatang’ ini sebenarnya sudah tinggal puluhan tahun dan meletakkan fondasi-fondasi kehidupan bermasyarakat disini. Mereka hidup mapan, berkeluarga, dan bermatapencarian disini. Kekeluargaannya kental sekali… kalau kata seseorang mah, ‘guyub’ ceunah. Bukan sekali dua kali tiba-tiba ada yang menyapa dengan ramah waktu bersepeda dengan Akhtar… yang ternyata mereka adalah tetangga yang selisih 1 sampai 2 rumah dari kontrakan. Bahkan sempat terkesima karena disapa dengan sangat ramah oleh ibu penjual gorengan yang jarak tempat jualannya ratusan meter dari kontrakan, harus melewati beberapa gang sebelum sampai di kontrakan kami, “Tinggal dimana Dek? Kok kayak baru lihat ya…”. Wow!

Sejauh pengalaman saya yang baru 2 minggu disini, langka sekali menemukan orang yang tidak berlogat Jawa. Dari pemilik rumah, tetangga, ketua RT, pedagang roti keliling, penjaja bakso, penjaga warung, pengangkut sampah, sampai orang-orang yang saya dengar sedang ngobrol di pinggir jalan pun berbahasa Jawa. Panggilan Bukde, Pakde, dan sejawatnya jadi ga asing terdengar di telinga. Saya pun jadi agak latah sebenarnya, kalau belanja ke warung sayur lalu dilayani oleh penjual berlogat Jawa dan dikelilingi ibu-ibu pembeli yang berlogat Jawa juga, ada sedikit usaha untuk men’jawa-jawa’kan logat saya. Ini persis seperti yang saya lakukan waktu di Pasuruan dulu… saya mencoba mengikuti logat setempat agar tidak terdengar asing, karena sekalinya saya pernah ‘keceplosan’ berlogat Sunda, beberapa orang melirik saya dengan ekspresi ‘aneh’. Wkwkwk…

Alhamdulillah…
(P)indah-(p)indah itu memang indah :)

Ngomongnya yang Betul

Leave a comment

Akhtar sangat menguji kesabaran saya dua minggu terakhir ini… hampir tiap hari menangis hanya karena hal yang sepele. Pun tidak jarang terbangun malam-malam lalu menangis tanpa alasan.

Nah, ketika Akhtar menangis seringkali saya bilang, “Coba Akhtar ngomongnya yang betul…” agar Akhtar berhenti menangis dan mengungkapkan keinginannya. Ngomong yang betul? Maksudnya gimana? Abstrak banget sih guwe :D

Gara-gara itu Akhtar jadi senang sekali menggunakan kata-kata itu sebagai senjata jika saya bicara sedikit keras… seperti bernada membentak… padahal maksudnya berbicara tegas…

Misalnya, ketika Akhtar sulit sekali diajak mandi “Akhtar, mandi dulu baru boleh main mobil-mobilan!”, dengan nada sedikit tegas.
“Mim ngomongnya yang betul”, Akhtar menimpali saya dengan sedikit rengekan.
Lalu saya ‘mengoreksi’ nada bicara saya menjadi lebih halus…

Ga kebayang ya? Ibaratkan… puding susu dan puding sutera, puding susu saja sudah lembut membelai lidah menurut saya, tapi Akhtar malah menuntut puding sutera. Masuk ga sih analoginya… :D

Ini bertolak belakang dengan sebelumnya, ketika nada bicara saya mulai meninggi, Akhtar tahu berarti saya mulai kesal, biasanya dia yang langsung bilang Maaf dengan ekspresi penuh penyesalan, lalu memeluk kaki saya.

Kini lebih banyak saya yang harus mengoreksi kata-kata saya, memeluk, lalu meminta maaf kepada Akhtar..

“Mim minta maaf ya.. udah bicara keras ke Akhtar”
Akhtar biasanya hanya membalas dengan anggukan kecil.

‘Ngomongnya yang betul’ ini sebenarnya jadi seperti alarm buat saya… ketika mulai kehilangan kendali dalam berkata-kata kepada Akhtar..

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,696 other followers