Per-Toilet-an

4 Comments

image

Belum satu menit saya menyelonjorkan kaki, hendak bersantai sejenak, tiba-tiba Akhtar terdengar ngomel ngomel
“Tah budak teh… yaaah… tah budak teh tah…”, katanya.

Feeling saya, “Waduh… ga beres nih!
Jangan-jangan…

Saya bergegas berdiri dan menghampiri Akhtar di dekat kamar mandi…
Tuh kaan…” saya berkata dalam hati melihat Akhtar berdiri kaku dengan celana yang sudah basah.

“Ah Akhtar mah nya… pup di celana ah Akhtar mah, ga boleh kayak gitu dong”, kata.. saya? Bukaan… itu Akhtar sendiri yang menyeracau.

Okey… lain kali sebaiknya kami jangan mengungkapkan kalimat-kalimat menyalahkan dan bernada kecewa seperti itu lagi… karena ditiru dengan sempurna oleh si toddler itu –”

Untung, suasana hati saya sedang baik. Dengan lembut saya bimbing Akhtar ke kamar mandi, lalu membersihkannya.

***

Every Mom Has Her Own Battle

… dan arena pertarungan saya ada di area kamar mandi/ toilet.

Akhtar termasuk yang terlambat saya kenalkan tentang cara menggunakan toilet. Usia hampir 3 tahun Akhtar baru lepas dari diapers dan setelah itu kemampuannya menggunakan toilet macam Syahrini saja… maju mundur canciiik…

Kenapa se l a m b a  a   a    t itu?

Karena… saya yang terlambat siap. Dari artikel yang pernah saya baca, toilet training itu bisa dimulai ketika ibu dan anak merasa siap, kemudian informasi yang sepotong itu saya jadikan pembenaran untuk berkali-kali menunda toilet training sampai akhirnya dimulai menjelang usia 3 tahun.

Proses TT resminya dimulai sebelum pindah ke Ciledug, sekitar awal 2016 ini. Kala itu milestonenya, Akhtar ga mau lagi pakai diaper karena “Malu… kan Akhtar sudah besar, pake celana dalam aja..”, katanya. Saat itu pun ia mulai paham bahwa pup dan pee itu tempatnya di kamar mandi, walaupun… sampai beberapa lama di Ciledug Akhtar masih mengompol karena tidak sempat dibawa ke kamar mandi.

Beberapa waktu kemudian, kemajuannya adalah Akhtar mengajak ke kamar mandi ketika rasa ingin pipis sudah tak tertahan lagi… tapiii… Akhtar masih pipis di celana di dalam kamar mandi.

Beberapa waktu kemudian, Akhtar sudah bisa mengajak pipis ke kamar mandi. Kalau pup? Jangan tanya deh… masih berproses sampai sekarang.

Nah, sekitar 3 minggu ini saya merasa ada kemunduran signifikan dari proses TT Akhtar, tepatnya kemunduran itu dimulai seminggu sebelum Lebaran, dimana Akhtar sangat susaaaah diajak ke kamar mandi walaupun terlihat sudah sangat ingin pipis, akhirnya beberapa kali mengompol di celana, di luar maupun di dalam kamar mandi.

Stress… iya… pada awalnya…

Pada akhirnya, saya menurunkan tensi dan berusaha berdamai dengan keadaan sambil sedikiiiit demi sedikiiiit berproses maju. Karena… ketika awal-awal TT dan saya ‘terlalu keras’ justru hasilnya kontradiktif. Akhtar semakin sulit diarahkan, dan saya stress!!!

Sebenarnya…
Kenapa TT ini menjadi sulit… karena dalam paradigma saya TT itu memang sulit, dan melelahkan, dan meng’hueks’kan, dan… dan… ah intinya saya bahkan sudah takut untuk mengajari anak TT jauuuh sebelum TT itu dimulai. Jadi, dimana letak salahnya? Ada di pikiran saya! Iya gue yang salah… bukan Cinta dan sahabat-sahabatnya… -apa sih.. mulai gilak-

Tapiii… ya sudah lah yah let it flow ajah… ngalir ajah… tapi tetap diarahkan pada muara yang dituju… :)

Jangan dorong!

Leave a comment

“Jangan dorong-dorong atuuuh!!”
Terdengar suara Akhtar berteriak dari depan rumah.

Sebelumnya, 4 orang balita sedang bermain, bercanda, dan tertawa-tawa riang di teras rumah Enin, lalu diakhiri sesi foto bersama yang berakhir ricuh, karena para balita saling bertabrakan, dan -mungkin- tanpa sengaja saling mendorong.

“Jangan doroooong!” Akhtar kembali berteriak setengah menjerit.

Dua orang dewasa menghampiri para balita. Tampak Akhtar berteriak marah dan mendorong sepupunya. Sepupunya, yang berusia 2 bulan lebih tua dari Akhtar, hanya diam menatap Akhtar dengan polos dan bingung, seperti tidak memahami situasi yang terjadi… pastinya karena si sepupu tidak merasa mendorong, atau tidak sengaja mendorong.

Setelah dilerai dengan menjauhkan Akhtar dari kerumunan itu, kakinya tetap menendang-nendang, tetap berteriak marah. Akhirnya… menangis.

***

Situasi kedua…

Masih di hari yang sama dengan kejadian pertama. Akhtar bermain dengan sepupunya yang lain di ruang tamu.

Tiba-tiba sepupunya menepuk-nepuk kepala Akhtar. Akhtar bereaksi spontan dengan nada biasa -tidak marah seperti di situasi sebelumnya-,
“Jangan pukul-pukul… kan Akhtar sakit kalau dipukul-pukul…”

Seperti mendapat ‘A ha! moment’ saya tersenyum melihatnya…

***

Secara khusus, saya belum mengajarkan materi ‘self defense‘ kepada Akhtar. Apa yang selama ini kami -orangtua- lakukan adalah ‘melakukan hal yang semestinya’, seperti berkata,

“Ga boleh cubit/ gigit/ pukul ya… kan sakit…”
Membela diri

Atau,
“Ga boleh coret-coret di buku itu ya… itu kan punya Mim untuk dibaca…”
Mempertahankan hak milik

Atau,
“Ga boleh corat coret di tembok rumah yaaa… kan ini bukan rumah Akhtar…”
Menjelaskan hak milik orang lain

Melihat apa yang dilakukan Akhtar, melawan saat diperlakukan tidak baik, saya bisa sedikit tenang jika suatu waktu Akhtar lepas dari pengawasan saat bermain dengan anak-anak lain -maklum emaknya parnoan haha-. ‘Hanya’ butuh diajari untuk mengendalikan emosi dan menilai situasi, tidak terlalu reaktif seperti di situasi pertama, agar sikapnya tidak jadi bumerang yang merugikan diri sendiri (contoh ‘kecil’ di atas adalah… menangis).

‘Membela diri’ ini merupakan bekal penting bagi anak dalam pergaulannya dengan orang lain. Kemampuan membela diri dapat membentuknya menjadi anak yang percaya diri dan tidak rendah diri. Mengapa ‘percaya diri’ penting? Karena dari satu sifat itu akan berkembang sifat-sifat lain yang, serius deh, bisa ngaruh banyak dalam kehidupan anak.

Dari sikap percaya diri itu, kita bisa menjadi orang yang berani mengambil keputusan sendiri, tidak hanya ikut-ikutan karena tidak berani menolak.

Seringkali, tanpa/ dengan sadar, orang-orang dewasa di sekitar anak yang justru melanggar hak anak untuk membela dirinya.

Misal,
Ketika ada anak lain merebut mainan anak kita, dan anak kita mencoba merebutnya kembali, sering orangtua berkata, “Ga apa-apa ya… berbagi ya… mainnya sama-sama ya… ” dan kalimat sejenisnya. Padahal jelas mainan itu adalah milik anak kita, dan mereka berhak untuk meminjamkan/ tidak meminjamkannya kepada anak lain.

Pun saya suka merasa tidak nyaman ketika anak saya yang selalu dimenangkan jika situasinya anak saya yang merebut mainan anak lain, karena sikap seperti itu jika berlangsung terus menerus bisa saja membuat anak saya menjadi orang yang egois, mau menang sendiri, merasa paling benar, menggantungkan diri kepada orang lain, dan suka menyalahkan situasi.

Sok tau yaa guwe… haha… apa yang saya catat disini hanya berdasarkan pengalaman tanpa didukung teori ini dan itu… *tutupmuka*

Saya sendiri dalam situasi-situasi tertentu adalah orang yang sangaaat tidak percaya diri… sering rasanya saya menyia-nyiakan kesempatan baik yang orang lain percayakan kepada saya, karena saya merasa tidak yakin pada kemampuan diri sendiri.
senyum getir

Dan, pengalaman adalah sebaik-baiknya pelajaran :)

Si Romantis

Leave a comment

Suatu ketika:

Mim maaf ya… Akhtar suka marah-marah sama Mim
Meleleh

Atau:

Mim jangan sedih, Awoh kan ga suka liat Mim sedih
Dududu…

Kejadian kemarin siang:

Akhtar berdiri di mulut pintu kamar, saya baru saja selesai shalat…

Mim… Akhtar sayang sama Mim“, jalan mendekat lalu memeluk.
Huuug

Mim juga sayang sama Akhtar“, balas memeluk.

Mim maaf ya…

Iya Mim juga minta maaf suka marah sama Akhtar

Maaf ya Akhtar sering ompol di celana

Iya… Akhtar ga boleh kayak gitu lagi ya

Lalu, Akhtar pun keluar kamar melanjutkan kegiatan bermainnya.

Tidak sampai 5 menit…

Ayooo… sepeda-sepedaan… cepetaann… Mim ayo Mim cepaaaatt“, Akhtar merengek sambil menarik saya ke arah pintu keluar… daaan susahnya dibujuk untuk menunda keinginannya…

Bubar deh roromantisan… -_-‘

Em-pe-a-si

1 Comment

Tidak banyak yang saya ingat dari proses MPASI awal Akhtar. Walaupun untuk persiapannya saya banyak membaca berbagai referensi soal menyiapkan MPASI, pada praktiknya, saya adalah ibu yang malas berempong-rempong ria memasak makanan bayi untuk Akhtar, dan tidak cukup sabar mencoba berbagai usaha agar anak selalu mau mangap. Kesalahan yang tidak ingin saya ulangi kepada Ahnaf yang tidak lama lagi genap berusia 6 bulan.

Karena pemberian MPASI yang ‘berantakan’ plus proses pengobatan suatu hal yang cukup lama saat itu, Akhtar memang cenderung kecil dan kurus untuk bayi seusianya, salah satu yang membuat saya stress! Apalagi kalau sampai mendengar omongan orang dan melihat bayi lain yang gemuk-gemuk.

Suatu pagi saya pernah menangis sepulang dari tukang sayur. Saya berpapasan dengan ibu tetangga yang sedang mendorong stroller cucunya. Tampak bayi yang gemuk dan terlihat sehat, kalau ga salah berumur 8 bulan waktu itu. Saya tanya berat badannya, More

Mengenal Buku

Leave a comment

Ada lima tahap yang dilalui anak dalam proses mengenal sampai ‘memahami’ isi sebuah buku. Sebenarnyaaa… ini hanya tulisan subjektif atas apa yang saya perhatikan pada Akhtar sih. Hehe…
Dan pastinya setiap anak punya keunikan sendiri dalam memperlihatkan ketertarikannya pada buku.

Tahap pertama, anak hanya membuka-buka buku dan melihat-lihat gambarnya.

Kedua, anak membuka buku dan bertanya, “Ini apa?” sambil menunjuk gambar-gambar yang belum dikenalnya.

Ketiga, anak ‘membaca’ buku tanpa meminta bantuan orangtua. Ia membuka-buka buku dan menyebut nama gambar di buku dengan tepat.

Keempat, anak kembali bertanya, “Ini apa?” tidak bermaksud untuk bertanya, tapi mengetes. Orangtua mulai ‘waspada’ di tahap ini, karena ga bisa lagi menjawab asal. Anak akan mengoreksi jawaban kita, kadang dengan nada kesal, kalau berulang-ulang kita membuat kesalahan.

Kelima, anak mulai meminta kita membacakan tulisan yang lebih panjang dan bertanya lebih mendalam.

Keenam, anak bisa menceritakan isi buku, dengan ‘bahasa sendiri’. Tahap paling ‘lucu’ menurut saya, karena sering keluar kosakata baru yang tidak ada dalam kamus manapun.

Eh kok enam? Katanya lima?

Penting? :D

Buah Tangan dari Delatinos – Kajian Ust Fauzil Adhim

2 Comments

Ahad, 22 Mei 2016, untuk pertama kalinya ikut kajian keislaman sejak tinggal di Tangerang, semoga ke depannya bisa istiqamah mengejar ilmu ke berbagai majelis yang terjangkau dari sini.

Materi kajian di Masjid Al Aqsha Delatinos BSD ini disampaikan oleh Ust Fauzil Adhim, seorang penulis produktif yang concern dengan parenting islami. Temanya disesuaikan dengan momen Ramadhan yang sudah di depan mata, yaitu “Menyiapkan Anak untuk Ramadhan Terbaik”

Ada beberapa hal dari penjelasan beliau yang luput saya catat, namun poin utamanya tetap SAMPAI.
Bahwa… IMAN adalah sebaik-baiknya bekal dalam menjalankan ibadah Ramadhan.

Kajian dibuka dengan penjelasan Surat Luqman Ayat 13.

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَيَعِظُهُ يَابُنَيَّ لاَتُشْرِكْ بِاللهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمٌ(13)

“….. Yaa bunayya… Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”

Ustaz mengupasnya dari sisi bahasa…
Yaa bunayya… adalah panggilan sayang kepada anak.
Laa… Janganlah… merupakan kata perintah… dalam hal ini adalah perintah untuk tidak menyekutukan Allah.
Kemudian, dilanjutkan dengan penjelasan, mengapa JANGAN menyekutukan Allah, karena merupakan kezaliman yang besar.

Nah, dalam konteks yang lain, urutan: panggilan sayang, diikuti kalimat perintah, disertai penjelasan menjadi formula yang powerful untuk menghujamkan pemahaman kepada anak, termasuk ketika mengajarkan berpuasa.

Sebelum anak berusia 7 tahun, yang menjadi fokus orangtua adalah:
● menanamkan Iman (cek lagi Rukun Iman), juga dengan membacakan kisah orang-orang shalih
● menyentuh/ menghidupkan hatinya
● menjadikan anak senang/ bangga kepada amal shalih, bukan membanggakan diri karena melakukan amal shalih yaa
menumbuhkan semangat mampu melakukan yang lebih baik, lagi dan lagi

Sudahkah anak memiliki sikap tsiqah kepada orangtua, sehingga kita lebih mudah menyentuh hati mereka? Hindarilah hati yang keras dan bicara yang melengking seperti suara keledai, seburuk-buruknya suara adalah suara keledai, seperti yang difirmankan Allah dalam QS Luqman ayat 19.

Sudahkah kita menyampaikan qaulan sadiida (perkataan yang benar), yaitu mengatakan kejujuran, tidak menghindari kebohongan, dan tidak menutupi kebenaran kepada anak?

Anak akan menunjukkan respek kepada orangtua jika orangtua memiliki kedekatan dengan anak-anak, senantiasa lah meluangkan waktu untuk anak-anak, serta memiliki kepedulian dan itikad-itikad baik kepada mereka.

*

Seringkali kita melihat orangtua yang sudah mengajarkan balita berpuasa. Boleh?

Boleehh…
Pada usia ini, orangtua sebanyak mungkin memberikan kabar gembira tentang Ramadhan dengan menunjukkan antusiasme kita menyambut Ramadhan. Orangtua bisa menawari anak, “Mau ikut shaum ga?”. Ingat… menawari bukan menyuruh. Tujuannya untuk mengajarkan anak tertib dalam hal ibadah.

Selain mengajarkan puasa yang secara harfiah diartikan sebagai ‘menahan lapar dan dahaga’, ada yang tak kalah penting untuk kita lakukan, yaitu menjaga Ramadhan agar tidak bergeser maknanya. Diantaranya dengan mengontrol PENGELUARAN KONSUMSI, lain hal dengan sedekah yang memang seharusnya diperbanyak yaaa…

Tipsnya? Tidak menyediakan makanan istimewa saat berbuka, sediakan makanan biasa seperti hari-hari di luar Ramadhan, sehingga anak belajar untuk tidak berlebih-lebihan dalam berbuka, yang ‘lazim’ dilakukan orang-orang saat ini. Justru… istimewakan makan sahurnya, karena salah satu tantangan anak yang baru belajar shaum adalah sulitnya bangun sahur. Melibatkan anak mengambil keputusan menu sahur akan menjadi momen istimewa bagi anak.

Tapi setelah sahur, tak jarang ngantuk melanda bukan? Jangankan anak-anak, orang dewasa pun seringkali tidak bisa menahan kantuk apalagi setelah shalat subuh. Padahal tidur setelah subuh adalah hal yang tidak disukai. Salah satu akibatnya adalah perasaan tidak nyaman pada tubuh. Kalau ini terjadi pada anak-anak yang belajar puasa, mereka bisa tergoda untuk membatalkan puasanya karena merasa tidak enak badan.

Maka daripada ituuu… jagalah anak agar tidak tertidur saat melewati waktu syuruk, jaga agar tidak tertidur sampai dhuhur. Berikan mainan, tapiii bukan game online atau gadget yang melenakan yaa. Barulah boleh tidur siang sebelum/ setelah waktu dhuhur, mereka akan merasa bersemangat ketika bangun, sehingga ‘terselamatkan’ lah puasa mereka hari itu.

Berkaitan dengan gadget, yang paling penting bukan menjauhkan anak dari bendanya, melainkan menjauhkan anak dari kotorannya. Jauhkan anak dari konten-konten yang berbahaya, salah satu caranya dengan memproteksi gadget dengan aplikasi khusus atau settingan tertentu (Ustaz menjelaskannya secara teknis). Bekali anak dengan IMAN yang kuat, itulah sebaik-baik benteng pertahanan.

*

Anak-anak seringkali melontarkan pertanyaan ‘sederhana’ yang membuat orang-orang  dewasa terlonjak karena bingung harus menjawab apa. Termasuk jika ada anak yang bertanya, “Mi, kok dia makan siang-siang sih? Kenapa ga puasa?”

Nah, ini sih sudah naik ke level berikutnya. Setelah anak merasa bangga pada amal shalih, maka tugas ‘berat’ berikutnya adalah menumbuhkan semangat memperbaiki orang lain, menyeru kebaikan dan mencegah kemungkaran. Ceritakan pahala besar yang Allah janjikan bagi orang yang mengajak orang lain pada kebaikan. Tanamkan pada diri anak untuk merasa tidak senang pada kezaliman, sekecil apapun, contohnya memotong antrian. Ketika hal-hal kecil seperti itu mampu mereka lakukan, maka akan lebih mudah mengajak mereka memperbaiki hal-hal yang lebih besar.

***

Ini Mobil Apa?

Leave a comment

image

Ada sekontainer kecil penuh dengan buku anak-anak di pojok ruang tamu. Beberapa buku dibeli baru-baru ini,
namun banyak juga buku yang dibeli sebelum Akhtar lahir, bahkan sebelum saya menikah. Buku yang sebenarnya saya beli untuk adik saya, yang ‘terlanjur’ tidak senang membaca.

Di antara cukup banyak buku itu, hanya sedikit saja yang menarik perhatian Akhtar. Setiap kali minta dibacakan, ia tidak beranjak dari buku-buku favoritnya, yang hanya 5 atau 6 buku.

Belakangan ini, ia menunjukkan ketertarikan yang lebih pada buku-buku yang lain. Suatu hari terlihat Akhtar mengaduk-aduk kontainer buku dan mengambil buku tentang mobil dan motor, serta buku traktor dan alat-alat berat. Yak.. buku-buku yang saya beli sebelum menikah itu…

Dengan antusias ia membuka setiap halamannya, dan pertanyaan yang sama keluar dari mulutnya, “Ini mobil apa?” atau “Ini motor apa?”

Nah… timbul ‘persoalan’. Buku-buku itu bisa minta di’baca’kan 3 sampai 4 kali dalam sehari. Akhtar hanya akan menunjuk gambar-gambar di buku, dan kami harus menjawab setiap pertanyaan “Ini mobil apa?” yang keluar dari mulutnya.

Kadang saya menjawabnya dengan serius, duduk mendampingi Akhtar dan menjawab pertanyaan Akhtar dengan membaca jenis kendaraan yang tertulis di buku. Tapi kalau muaales dan bosan melanda, saya hanya menjawab asal sambil melakukan pekerjaan lain… Duh… maaf ya Akhtar :(

Sudah sampai pada masanya memang anak seusia Akhtar menanyakan apapun hal baru yang ia lihat. Teringat kejadian beberapa tahun lalu di sebuah kendaraan umum, saya duduk berhadapan dengan seorang Ayah yang memangku anak balitanya, sepanjang perjalanan anak itu tak berhenti bertanya “Itu apa?” “Itu apa?” “Itu apa?” sambil menunjuk apapun yang ia lihat di luar kendaraan. Tau reaksi saya saat itu? Jengah haha.. “Ya ampun ni anak ga bisa diem apa yaa”.
Mungkin karena hareudang maka saya membatin sejahad itu… -_-

Sebagai orangtua, kita bisa mengambil pilihan untuk bersabar mendampingi proses belajar anak-anak dengan mengalahkan rasa malas dan tidak sabaran, ataau…
mengikuti nafsu malas namun harus bersiap dengan masa depan dimana anak tidak menjadikan orangtua sebagai orang pertama yang ditanyainya dalam berbagai persoalan, tidak mau mendengarkan perkataan orangtua, bahkan tidak memercayai orangtua…

Hmm…
Kita bisa memilih…

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,719 other followers