Anak Ketiga, Semakin Minimalis

Leave a comment

Teringat 4,5 tahun yang lalu, ketika menyambut kelahiran Akhtar, betapa banyak barang keperluan bayi yang disiapkan, kalau dikonversi ke dalam rupiah, yaaa lumayaaan banget sih pengeluaran kala itu.
Tidak hanya membeli yang pokok, seperti baju, celana, popok, kain alas ompol, dan bedong, barang yang sifatnya sekunder, bahkan yang sifatnya hanya pelengkap penderita pun, yang kalaupun ga ada sebenarnya ga apa-apa, juga masuk dalam list belanja kami.

Belum lagi kebutuhan ngASI, seperti pompa ASI, tas penyimpan ASI, botol-botol ASI, dll, yang waktu itu masuk daftar belanja karena memperkirakan masih ada satu bulan lagi masa bekerja sebelum akhirnya resmi resign. Nyatanya… benda-benda itu pun hanya dipakai sebentar banget karena saya diizinkan tidak masuk kerja sejak menyerahkan surat resign sampai resmi resign sebulan kemudian. 

Belanja setelahnya tidak kalah banyak. Semisal, membeli pakaian yang harus lucu, lengkap dari kepala hingga kaki… dan tidak cukup satu. Terhitung berkali-kali kami mengunjungi salah satu toko perlengkapan bayi favorit, Lavie yang di Jalan Hasanudin Bandung itu lhooo, tidak hanya karena butuh, tetapi juga ingin. Malah lebih banyak ingin-nya kayaknya, daripada butuh-nya. Hehehe. 

Menjelang masuk masa MPASI, belanja peralatan tempur MPASI pun sampai satu kontainer kecil (kini, kontainer itu jadi tempat menyimpan mainan anak-anak).

Lalu… bandingkanlah dengan anak kedua.

Semenjak hamil Ahnaf, udah dibawa santaaaay ajaaah… yang bikin rada ga santai adalah Akhtar yang luar biasa ‘sholeh’nya. 

Dalam hal belanja menjelang kelahiran, pengeluaran untuk belanja ini itu menjadi sangat jauuuuh berkurang dibandingkan anak pertama, karena apa? Karena:

Pertama… barang-barang Akhtar banyak yang masih layak pakai.

Kedua… berdasarkan pengalaman, ternyata banyak barang yang ga perlu diada-adain, karena emang ga perlu ada.

Ketiga… ngiriiit.

Bisa dibilang, belanja untuk keperluan baby Ahnaf ini dibuat seefektif dan seefisien mungkin. Dengan mengeluarkan sumber daya (baca: duiiit) yang sedikit, kami berbelanja barang-barang yang memang sangat dibutuhkan saja sesuai tahapan usianya. Semuanya berdaya guna dan tidak tersia-sia. 

Untuk Ahnaf, kami hanya membeli tambahan beberapa stel baju new born, selusin alas ompol, tambahan kain bedong, kursi mandi bayi, dan beberapa item lain, yang kesemuanya digunakan secara optimal.

Bagaimana dengan anak ketiga?

Yaaa… apalagi anak ketiga.

Berbekal promo diskon dari suatu marketplace, maka kami hanya membeli sekitar satu lusin stel pakaian bayi tanpa yang lainnya. Baru setelah lahir membeli lagi beberapa barang lain karena dirasa perlu. Tidak ke toko perlengkapan bayi favorit lagi (rempong ceuuu..), cukup ke Borma terdekat haha. 

Borma adalah pasar swalayan yang ngetop di seantero Bandung, punya banyak cabang, bener-bener sagala aya, dan murah.

Bisa dibilang, Aliya ini bayi minimalis (banget). Entah ya… seiring berjalannya waktu, bisa jadi Aliya yang paling banyak belanja dari yang pokok sampai perintilannya, mengingat ia adalah anak perempuan pertama di keluarga kami, tidak mungkin pakai baju lungsuran dari kakak-kakaknya. *sambil ngelirik Ahnaf yang separuh koleksi bajunya adalah lungsuran dari Akhtar*

Advertisements

Pena dan Kertas, Senjata Para Penuntut Ilmu

Leave a comment

Jadi yah… belakangan ini saya lagi seneeeeeng banget mencatat. Mencatat is suatu pekerjaan yang sudah saya tinggalkan sejaaak lulus kuliah xx tahun yang lalu.

Duh… ga sampai hati ngisi si xx itu, menyadari ternyata udah lama yaaa si xx itu… padahal masih serasa anak kampus kemaren malem. 

Nah, sejak masuk kerja, praktis semua pekerjaan dilakukan di komputer, kalau pun butuh pena dan kertas hanya untuk oret-oretan. Dan tulisan tangan saya yang aslinya memang tidak bisa rapi, jadi semakin berantakan. Bahkan ada satu ketika, dimana saya merasa tangan saya cepat lelah jika menulis, dan… kaku.

Namun, kegiatan belajar online a la emak-emak zaman now memaksa saya kembali ke kebiasaan lama untuk mencatat. Awalnya karena HSI. Di awal-awal pelajaran, saya rajiiiin sekali mencatat di buku tulis yang saya sediakan khusus untuk HSI ini. Namun satu dua kesempatan, saya luput mencatat, karena ga sempat ataupun ga ada pulpen, dan itu berpengaruh pada konsistensi saya mencatat. Melihat ada beberapa ‘bolong’ di buku catatan HSI saya (materi HSI disampaikan setiap hari) membuat mood mencatat agak terganggu (baca: males.. haha). 

Akhirnyaa… kebiasaan mencatat setiap detail yang diucapkan Ustadz di audio materi pun hilang sudah, berganti dengan… menuliskannya pada aplikasi notes di ponsel, walaupun tidak selalu dilakukan.

Mengingat berharganya ilmu yang disampaikan, dan… menyadari ternyata saya tidak punya catatan yang baik selama belajar hampir 2 tahun di HSI, maka saya bertekad untuk memulai kembali kebiasaan baik itu walaupun terlambat. Alhamdulillah… silsilah 8, yaitu pembahasan tentang kitab Qawa’idul Arba, bisa saya catat lengkap dari halaqah pertama sampai terakhir.

Ternyata, bagi saya, ada 2 item penting (banget) yang membuat kegiatan mencatat menjadi lebih menyenangkan… yaitu… pulpen yang enakeun dan buku tulis yang baru dan bagus (kalau ada). 

Kalau buku tulis sih ga bagus-bagus amat sebenarnya, saya hanya memanfaatkan notebook berukuran A4 yang sisa banyaaaak dari tempat kerja lama, karena dulu dijatah 1 bulan dapat pembagian stationery dan tidak selalu habis saya gunakan dalam 1 bulan. Penting juga untuk memisahkan catatan berdasarkan pelajarannya.

Yang berpengaruh banget dalam menumbuhkan semangat mencatat adalah PENA atau PULPEN yang enakeuun

Sebenarnya ada pulpen favorit saya dari merek tertentu (clue: yang menerbangkan pesawat terbang :p), namun harganya lumayan, masih di bawah 20 ribu sih, tapi karena harganya segitu itu jadi ga dijual di toko ATK dekat rumah yang konsumennya rata-rata anak sekolah deket sini. Jadi, saya mencari substitusinya, dan sejauh ini favorit saya adalah pulpen gel keluaran snowman dan joyko, yang harganya bahkan ga lebih dari empat ribu rupiah.

Kenapa pulpen menjadi item penting? Ini sehubungan dengan tulisan tangan saya yang amat sangat terpengaruh dengan jenis pulpen yang digunakan. Kalau yang digunakan pulpen yang standar macam pulpen-pulpen pembagian di seminar gitu lah, saya ga tahan lama menulis bagus, paling hanya satu atau dua kalimat pertama yang keliatan bagus, selanjutnya tulisan dah macam resep dokter aja. Mending kalau kebaca hahaha…

Entah lah kenapa… tapi menulis dengan pulpen biasa-biasa aja itu butuh effort lebih besar menurut saya. Maca cih? Butuh tenaga lebih besar untuk mengeluarkan tinta dari pulpen dibandingkan jika kita menggunakan pulpen gel jenis tertentu yang lebih bisa meliuk-liuk di atas kertas.

Dan efek mencatat itu luar biasa lho. Tidak sama antara mengetik di notes ponsel dengan mencatat di kertas. 
Ketika mengetik di ponsel, seringkali saya tidak perlu menulis satu kata utuh, karena di fitur dictionary secara otomatis keluar pilihan kata-kata yang mungkin akan saya ketik. Memudahkan memang… tetapi lumayan berefek pada penguasaan/ kecepatan menghapal materi yang kita catat.

Mencatat dengan media pena dan kertas, melibatkan lebih banyak indera yang memungkinkan kita menghapal lebih cepat materi yang dicatat. Mengetik dengan hanya dua jempol tentu akan berbeda efeknya dibandingkan dengan mencatat dengan melibatkan seluruh jari tangan, bahkan juga telapak dan pergelangan tangan.

Selain itu, mencatat juga membuat kita lebih fokus pada setiap huruf dan kata yang kita torehkan di kertas. Tidak sekedar lalu karena ada bantuan dictionary atau fitur delete/ remove/ cut/ copy/ paste seperti mengetik di gawai, mencatat di kertas butuh konsentrasi lebih karena jika salah tulis, maka akan lebih banyak waktu yang terbuang, alias terjadi ketidakefisienan. 

Maka, dengan mempertimbangkan kedua hal itu saja (sementara belum nemu hal-hal lain) mencatat tidak hanya perihal aktivitas otot tangan, namun juga otak. 

Yuk ah, biasakan lagi mencatat… (self reminder)

Nekad

Leave a comment

Nekad…

Itulah kata pertama yang terlintas dalam pikiran ketika mengambil novel setebal nyaris 700 halaman itu dan menyerahkannya ke kasir. Apalagi proses tertumbuknya mata pada novel bersampul putih itu terjadi tanpa sengaja.

Hari itu, 31 Desember 2017, agak memaksa, saya mengajak suami ke toko buku diskon di Palasari. Sebenarnya saya sudah ‘merengek’ dari sehari sebelumnya, karena suami mau pergi ke Bandung untuk mengambil hasil tes lab saya untuk persiapan kelahiran. Namun dengan pertimbangan waktu (biar cepet, katanya) dan kondisi kota Bandung yang diperkirakan macetos mengingat lagi libur panjang, akhirnya hanya suami yang berangkat, dengan seucap janji, “Kalau mau ke Bandung mah besok aja ya…”. Horee…

*

Akhirnya, berangkat juga keesokan harinya. Setelah mampir sebentar ke TSM yang ramaaaaiiii banget, kami pun naik angkot ke Palasari. 

Bagi saya, berkunjung ke toko buku adalah suatu kemewahan. Dulu sih (sebelum nikah) bisa seminggu sekali ke toko buku, entah untuk beli buku, numpang baca, atau sekedar ngecek harga. Namun, sejak berbuntut, dengan budget dan mobilitas terbatas hehe, aktivitas itu bahkan mungkin hanya bisa dilakukan satu kali dalam rentang waktu berbulan-bulan. Kalaupun beli buku lebih sering lewat toko online, atau beli ke teman-teman Sabumi.

Saya udah berencana membeli beberapa buku buat Akhtar, namun hanya menemukan dua, yaitu buku tentang Mekah dan Baitul Maqdis. Sayangnya buku tentang Madinah, yang masih dalam satu seri, sudah tidak tersedia. 

Dan saya… sebenarnya berencana mencari buku Lapis-Lapis Keberkahan yang ditulis Salim A Fillah… namun… dalam proses menelusuri rak demi rak buku itu, yang saya temukan justru sekuel Supernova-nya Dee Lestari, novel ke 6 yang berjudul Intelegensi Embun Pagi (IEP). Novel 1 s.d 5 sudah tuntas saya baca dan menjadi koleksi novel yang saya pertahankan di antara sekian banyak novel lain yang sudah saya keluarkan dari rak buku. Intinya… sekuel ini yaa favorit saya banget. 

Saya mengambilnya dari rak buku, menimang-nimang buku yang masih tersegel itu, membaca sedikit sinopsis di sampul belakangnya, lalu meletakkannya kembali di rak, setelah melihat novel IEP itu adalah novel paling tebal di antara novel-novel Supernova sebelumnya. 

Lalu, saya berkeliling menyusuri rak-rak lain dengan pikiran yang ga fokus, ga tahu mau nyari buku apa, malah terbayang-bayang si IEP. Akhirnya saya kembali ke rak tempat IEP terpajang, saya ambil dan saya serahkan ke kasir hanya untuk bertanya, “Harganya jadi berapa setelah diskon?”. Setelah mendapatkan jawaban, saya kembalikan buku itu ke rak. 

Lanjut keliling-keliling dan tetap berakhir di depan si rak IEP itu hahaha… akhirnya saya ambil buku itu dan saya bawa ke hadapan suami, saya bilang, pengen beli buku ini tapi… tebel banget, takut ga kebaca, mubadzir, bla bla… mengingat terakhir membaca novel ya hampir 2 tahun lalu, yaitu novel Ayah karya Andrea Hirata. 

Eh tapi suami mengizinkan, “Sekalian lagi disini…”, katanya. Oke lah kalau begitu, saya pun memantapkan hati membelinya, urusan sempat dibaca atau ngga, itu mah belakangan haha. 

Nekad…

*

Tiga hari kemudian… 

… saya menutup halaman terakhir novel IEP dengan perasaan puas. 

Hanya tiga hari ternyata yang saya butuhkan untuk menuntaskan semuanya. Tentu bisa lebih cepat kalau dalam proses membacanya tidak disela dengan anak-anak yang meminta ini itu. Yaa tetap yang jadi prioritas anak-anak dong yes… Jadi berkali-kali terpaksa berhenti di tengah-tengah cerita yang lagi seru-serunya untuk memenuhi kebutuhan mereka. 

Eh… dan saya mau bilang, Supernova ini adalah sekuel yang paling ‘aneh’ menurut saya. Lah kok? Jadi… dengan pemilihan kata dan jalan cerita yang tidak biasa, sulit sebenarnya bagi saya untuk mengikuti imajinasi si penulis. Adapun imajinasi yang terbentuk di kepala saya juga sekedar ngawang-ngawang tanpa gambaran yang jelas, namun novel ini justru tidak membuat saya bosan membacanya dari awal sampai akhir. Pengennya lanjuuut terus sampai tamat. Dan setelah selesai, dipastikan saya tidak bisa menjelaskan kembali detail ceritanya, tapi saya ngerti gambaran utuh cerita dalam satu novel ini. Yaa sama halnya dengan novel pertama sampai kelimanya. Tidak satu pun yang bisa saya ceritakan secara detail alur ceritanya, tapi secara menyeluruh ya ngerti. 

Ibarat melihat suatu frame lukisan. Maka saya tahu bahwa lukisan tersebut adalah tentang pemandangan sesuatu, namun tidak terceritakan dengan kata-kata bahwa dalam frame itu ada hal-hal detail yang menjadi bagian penting dari keseluruhan isi pemandangan.

Bintang Lima buat Supernova, as always… 

Berguru pada yang Berilmu

Leave a comment

… terutama dalam tulisan ini saya khusus membicarakan ilmu agama yaa.

Jadi, kadang (apa sering?) kita (apa saya?) males dan bingung ya kalau cuma belajar agama hanya dengan membaca. Apalagi, kalau, seumpama nih, belajar fiqih, terus di satu bahasan di suatu buku itu dikemukakan pendapat berbagai ulama, dalil-dalilnya… endesway endebray, apa (saya) ga jadi tambah bingung? Yang buruk adalah ketika kita memutuskan mengambil pendapat ulama siapa dengan pertimbangan hawa nafsu kita.

Contoh lain, belajar sirah nabawiyah. Saya punya satu buku sirah sejaaakkk…. zaman kuliah, dan sampai sekarang belum pernah membacanya sampai tuntas dari halaman pertama sampai terakhir. Seringkali bacanya nyekclok tergantung saat itu saya ingin tahu tentang apa dari kisah Rasulullah tersebut. Dan (hanya) membaca itu cepet lho, katakanlah ga sejam juga selesai satu bab atau mungkin lebih… tapi kita tidak mendapat wawasan lain selain dari apa yang kita baca. 

Berbeda dengan kita menuntut ilmu pada guru, membicarakan asal usul nenek moyang Rasulullah aja mungkin bisa 2 jam sendiri. Karena selain kisah yang bisa langsung kita baca dari buku, para guru itu juga biasanya memasukkan aspek lain dalam menyampaikan ilmunya, misal hikmah dari kisah, dalil dari Alquran dan Hadits terkait kisah tersebut, dll, sehingga fungsi sejarah sebagai pemberi pelajaran benar-benar terpenuhi.

Lain lagi belajar Alquran misalnya. Sebelum memasuki bulan Ramadhan yang lalu, saya membeli buku penjelasan tafsir Juz ‘Amma Ibnu Katsir dan buku Asbabun Nuzul ayat-ayat Alquran. Kenapa Juz ‘Amma? Karena surat-surat di juz 30 itu lah yang paling sering saya baca dalam shalat, maka memulai dengan belajar tafsir juz 30 menurut saya adalah langkah yang paling pas agar kita lebih khusyuk dalam shalat.

Beberapa tafsiran surat memang sudah saya baca tuntas, tapiii… ya sebatas yang saya baca dari buku aja dan cepat lupaaa. Ini mah dasar otak sayanya aja kali ya kurang bersifat spons hehe.

Lalu, kemudian saya bandingkan jika kita mengikuti kajian tafsir yang disampaikan orang berilmu (baca: ustadz). Bahas surat Al Ikhlas ayat 1 aja bisa 5 menit sendiri. Satu ayat ditafsirkan dengan ayat-ayat Alquran yang lain, didukung hadits-hadits yang berkaitan, ditinjau dari sisi bahasa, dll dll. Rasanya menjadi lebih kaya ilmu dan padat makna.

Soal belajar tafsir ini, kita juga mesti berhati-hati sih, karena dalam pembukaan di buku tafsir juz ‘amma yang saya punya itu, haram hukumnya menafsirkan ayat dengan akal. Ayat ditafsirkan lagi dengan ayat Alquran yang lain, lalu dengan hadits Rasulullah, lalu dengan pemahaman para sahabat, dst. –kudu ngecek lagi bukunya ini mah-. Maka jangan heran, zaman now, banyaaaak orang-orang yang menafsirkan Alquran hanya dengan akal dan hawa nafsunya, lantas jadi keblinger. Seolah pinter (karena orang macam ini biasanya pandai beretorika) tapi ya jadinya kok nabrak ayat Alquran sana sini.

Contoh lain… belajar tauhid. Inilah inti dari ajaran Islam. Yes, TAUHID. Mau beribadah sebanyak apapun, kalau tanpa tauhid atau keyakinan bahwa Allah satu-satunya Rabb yang patut disembah, ya useless. Mau beramal secanggih apapun, kalau di dalamnya masih ada unsur- unsur kesyirikan, ya sia-sia.

Dan belajar tauhid ini, walaupun terlihat sesederhana membaca syahadat atau belajar rukun iman, nyatanya kalau digali lebih dalam bisa sampai banyaaaaaak sekali bahasannya. Disitu lah pula, kita perlu guru.

Dan di era sekarang ini, jika saya seorang ibu rumah tangga dengan mobilitas terbatas, ingin menuntut ilmu, sudah banyak sarana yang disediakan secara online, yang mana itu sangat memudahkan sekali kita belajar agama, seperti beberapa hal yang saya contohkan di atas. 

Saya sendiri berusaha mengoptimalkan HP saya untuk belajar, lebih spesifiknya dengan memanfaatkan aplikasi whatsapp.
Banyak grup-grup belajar agama online dengan berbagai metode atau sistem belajar, kita tinggal pilah pilih yang mana yang paling cocok dengan ritme keseharian/ rutinitas kita. 

Dan terlebih penting lagi, jangan salah pilih guru, jangan malas mengecek rekam jejaknya terlebih dahulu, rekomendasi dari teman-teman juga akan sangat membantu.


Beberapa grup yang saya ikuti:


Halaqah Silsilah Ilmiyah
yang dikelola Ustadz Abdullah Roy, seorang pengajar kajian berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi, doktor dalam bidang aqidah dari Universitas Islam Madinah.

Grup ini yang paling berkesan buat saya sejauh ini. Saking berkesannya, sampai pernah beberapa kali saya summon di beberapa posting sebelumnya kan.

Kurikulumnya runut, membahas tuntas tentang iman, pengajarnya kredibel, materi didukung dengan dalil-dalil yang jelas dan tegas.


Sistem belajarnya:

Senin-Jumat setiap pagi (jam 6) diberi materi dalam bentuk audio sekitar 3-7 menitan.

Sore harinya (jam 16) soal kuis diaktifkan di web HSI. 

Setiap pekan ada evaluasi pekanan (untuk materi yang telah disampaikan Senin-Jumat-nya).

Jika selesai 25 materi audio (5 pekan) diadakan evaluasi lagi. Sepekan sebelum dan sesudah evaluasi 5 pekanan ini biasanya ada libur seminggu.

Kuis ini sifatnya sangat mengikat, kudu dikerjain karena menentukan keberlangsungan kita di grup, karena ada sistem ‘remove’ dari grup kalau nilai ga mencukupi/ rashib. Maka perlu komitmen kuat untuk bersungguh-sungguh belajar.

Nyatanya, walaupun HSI ini ‘hanya’ meminta waktu kita anggaplah 10 menit per hari, banyak juga yang keluar di tengah jalan. 

Kedua, grup Bimbingan Islam, atau BIAS. Grup ini sudah saya ikuti sebelum saya ikut HSI. Setiap hari admin akan mengirim audio plus transkrip kajian ke grup khusus materi. Padahal ya audio kajiannya itu juga singkat-singkat, namun karena sistemnya yang ga mengikat (ga ada kuis macam HSI) jadi saya ga selalu mengikuti materinya. Materinya mencakup banyak hal: aqidah, ibadah, muamalah, sirah, dll. Dan yang bawainnya juga banyak Ustadz. Saya cenderung pemilih hehe… milih materi (yang dirasa menarik) dan asatidz (yang penyampaiannya dirasa asik). Hadeuh…

Yang ketiga, grup Belajar Bahasa Arab Online (BAO). Nah ini grup yang baru-baru ini saja saya ikuti, mungkin baru 2 bulanan. Sebenarnya, sebelumnya sudah berkali-kali dapat info belajar bahasa Arab online dari beberapa penyelenggara, ada yang berbayar, juga ada yang gratis. Rata-rata sistemnya mengikat. Karena belajar bahasa Arab (dan bahasa apapun, saya pikir) kan perlu kesinambungan ya kalau mau hasilnya optimal. 

Kenapa akhirnya yang saya pilih BAO? Karena sistemnya yang menurut saya cocok sama rutinitas harian saya di rumah. Karena prioritas belajar online pertama saya adalah HSI, yang masih akan berlangsung lamaaa ke depan, maka sistem di BAO yang 2 kali materi dan 1 kali tugas dalam 1 pekan, menurut saya udah paling pas. Plusnya, materi (yang diambil dari durusul lughoh ini) lumayan ringan untuk diikuti, bisa sembari saya ajari Akhtar juga, sedikiiit demi sedikiiit. Jadi kepentingannya saya belajar bahasa Arab ini, selain untuk diri sendiri juga untuk disampaikan ke anak-anak. 

Sementara, tiga grup tersebut untuk saat ini udah cukup. Dan tidak mencukupkan diri dengan belajar online saja. Baca buku tetep dilakoni (walaupun banyak malesnya ahahahaha), dan sesekali ikut kajian offline. 

***

Akhir kata…

Ilmu itu bukan yang kita hapalkan, tapi yang kita amalkan.

Para Maniak Kereta Api

Leave a comment

Salah satu kosakata yang dikuasai Akhtar ketika dulu mulai belajar bicara adalah “Ta api”, maksudnya kereta api. Saya rada lupa bagaimana mulanya ia begitu gandrung sama kereta api, karena waktu itu kami masih tinggal di Pasuruan dan sangat jarang melihat dan naik kereta api, kecuali kereta odong-odong yang beberapa kali dalam seminggu lewat depan kontrakan kami. Lain lagi kalau di Bandung, tepatnya di Padalarang, kereta api adalah salah satu alat transportasi andalan kami kalau mau nyaba kota.

Singkat cerita… tumbuhlah Akhtar jadi seorang maniak kereta api :p. Mula-mula suka menggambar pun yang digambar adalah mobil dan kereta api, bahkan sampai sekarang ga pernah bosan menggambar kereta api dengan berbagai jenisnya. Termasuk mainan pun, saat ini lagi suka banget mendorong-dorong kereta api yang ia susun dari balok-balok bangun. 


Di luar itu, ia pun cepat sekali menghapal nama-nama stasiun. Rute Kereta Bandung Raya dari Padalarang ke Cicalengka dan sebaliknya sudah ia hapal sejak lama. Bahkan rute kereta api Cibatu-Purwakarta, yang belum pernah dinaikinya ia hapal. Dan tak jarang ia meminta saya atau Papnya untuk mencarikan rute kereta api dari kota A ke B, misalnya dari Jakarta ke Bandung, lalu ia baca beberapa kali dan ia hapal.

Pun Akhtar sangat excited jika naik kereta api. Ia bisa bertahan tidak tidur sepanjang perjalanan Bandung-Jakarta, demi melihat ke luar jendela kereta api, mengamati, dan bertanya banyak hal. 

Di usia 2 tahun ketika kami masih tinggal di daerah Pasar Minggu, ia paling suka nangkring di pinggir rel melihat KRL lewat. Kalau bosan dan rewel di kontrakan, salah satu obat yang paling mujarab yaa memberinya tontonan kereta api dari youtube, namun karena sinyal di kontrakan sangat buruk, saya terpaksa mengajaknya ke pinggir rel, beberapa menit pertama, emak masih anteng nungguin, menit-menit berikutnya… emaknya yang jadi rungsing. Kebayang lah ya… nunggu di pinggir rel, ga ada tempat yang nyaman untuk duduk, banyak kendaraan lalu lalang, dan panas, secara di Jakarta.

Sesekali saya ajak juga Akhtar naik KRL kalau rewelnya udah level advance, yang mana jalan menuju stasiun pun butuh perjuangan banget. Akhtar waktu itu masih 2 tahun, belum cukup aman untuk diminta berjalan sendiri di pinggir jalan raya yang ramai, maka harus digendong dalam kondisi saya yang lagi hamil Ahnaf saat itu, sementara naik kendaraan pun nanggung banget karena jarak ke stasiun tidak terlalu jauh. Terjauh, kami pernah naik sampai Depok aja. KRL sangat nyaman dinaiki di luar jam berangkat dan pulang kantor yang sangat padat.

Nah sekarang, sedikit banyak pasti terpengaruh dari Akhtar, Ahnaf sangat sukaaaaa kereta api. Ia menyebutnya… “Api… api… ” jika mendengar suara kereta api atau sekedar melihat rel. Bahkan sepertinya, bagi ia sekarang, apalagi kalau sedang berada di dalam kereta, yang di maksud dengan api adalah rel kereta api. Ahnaf sangat senang kalau dibawa ke stasiun, “Api.. api… “, katanya, lalu ketika dibawa masuk ke dalam kereta api, ia akan bingung, mana kereta apinya? Maka ia hanya akan menunjuk-nunjuk rel di luar kereta dan menyebutnya “Api…”.

Tak jarang Ahnaf memaksa jalan ke pinggir rel hanya untuk melihat kereta api lewat. Ia tidak akan mau pulang sampai melihat setidaknya satu rangkaian kereta api. Mujur kalau memang pas jadwalnya kereta lewat, kalau ngga… yaaa nunggu lama. Tapi, ia hanya akan memaksa melihat kereta api ke Abah atau Papnya (kalau lagi di rumah). Ia ga pernah memaksa ke siapapun lagi, termasuk ke saya. Alhamdulillah yah… :p

Tapi ya itu, permintaannya itu ga kenal waktu. Bisa ujug-ujug minta kapan pun, bahkan pernah pada larut malam. 

Tak jauh beda dengan Akhtar, saat ini Ahnaf pun lagi senang mendorong-dorong kereta api mainan yang disusun kakaknya dari balok-balok itu… maka timbul persoalan, karena kakaknya tidak pernah mau meminjamkan, akhirnya Ahnaf ngalah. Sebagai ‘pelampiasan’, kalau pas Akhtar tidur, dan Ahnaf belum, Ahnaf akan memainkan kereta balok itu lamaaaa sekali, bahkan saya perhatikan pernah sampai 2 jam. Yang ia kerjakan hanya mendorong-dorong kereta api keliling ruangan, sambil mulutnya sesekali meniru suara kereta api atau suara neng nong neng nong yang biasa ia dengar dari stasiun. 

Ya begitu lah… kisah kami dan kereta api :p

Penting banget yaaaa 

Menurunkan Standar

Leave a comment

Salah satu cara ibu-ibu untuk tetap ‘waras’ adalah dengan menurunkan standar dan memundurkan target. Salah satu lho ya… ada pula ibu-ibu setrong yang ternyata bisa tetap survive di tengah badai cobaan rumah tangga.. haha apa seh.

Misal nih ya, dari sebulan yang lalu, ketika Ahnaf berusia 22 bulan, saya udah menargetkan pada usia 24 bulan, selain sapih ASI tentu saja, Ahnaf juga kudu bisa terbiasa pipis di kamar mandi.

Pembiasaan ini sebenarnya sudah mulai dilakukan sejak di Ciledug, namun yaaa ituu, ga bisa konsisten, akhirnya prosesnya mundur maju. Sebulan yang lalu, prosesnya lumayan maju, popok kain Ahnaf bisa kering seharian, kadang kecolongan pipis di popok sesekali. Tapi yaa hanya baru siang hari. Saya pikir tak apa lah bertahap mulai dari siang.

Nah, semenjak saya ga nyuci di rumah (dititipkan ke rumah mamah), maka dengan terpaksa saya menggunakan pospak again (nangiiiiss… liat tumpukan popok basah bekas pakai di pojokan dekat kamar mandi), maafkan aku wahai alam :( . Dan yang bikin tambah nangis, hal ini berpengaruh sangat signifikan terhadap proses toilet training Ahnaf. Boleh dibilang semua kembali ke awal. Ahnaf yang biasanya sangat kooperatif untuk diajak pipis di kamar mandi, sekarang akan berakhir nangis kalau dipaksa ke kamar mandi.

Oke… tarik nafas… (jangan lupa) hembuskan. Akhirnya saya turunkan standar. “Oke De, tak mengapa pipis di popok lagi, tapi kalau bangun pagi tetap harus pipis di kamar mandi yaa.. “. Dan rupanya ini pun tak bekerja. Akhirnya… demi menjaga kewarasan, saya menghentikan dulu proses TT Ahnaf. Kadang-kadang saya masih ajak Ahnaf pipis di WC, tapi ga mempan.

Mungkin perlu satu per satu dikelarin. Berhubung sapih pun belum mulus, saya akhirnya fokus dulu ke sapih Ahnaf, sapih 100%, yang mana ia harus udah ga minta nenen dalam kondisi apapun. Prosesnya sudah hampir sempurna, hanya saja sesekali Ahnaf masih merengek di pangkuan sambil menunjuk-nunjuk PD dan bilang “neneh”. Dan masih ada ekses negatif dari sapih ini yang juga belum 100% selesai.

Jadi, mulai dari beberapa minggu yang lalu, kalau Ahnaf minta nenen terutama pada menjelang tidur malam, salah satu cara untuk mengalihkan perhatiannya adalah dengan memberinya tontonan di youtube. Oke… blame me! Ini cara mengalihkan yang sangat buruk dampaknya, boleh jadi dia tersapih dari ASI, tapi PR selanjutnya adalah menyapihnya dari gadget.

Hal tersebut saya lakukan karenaaa… biasanya Ahnaf minta ASI itu di jam-jam ngantuk saya. Jam 10 malam ke atas. Dan saya memilih solusi jangka pendek dengan memberinya gadget, agar waktu tidur saya terselamatkan.. haha…

Nah, jadi setelah memundurkan target dengan tidak mulai dulu TT, saya fokus pada sapih Ahnaf, yang mana indikator keberhasilannya adalah ketika ia sama sekali tidak lagi meminta ASI dan tidak meminta penggantinya (gadget dkk).

Hal lain soal menurunkan standar ini…

Dalam 2 minggu terakhir, saya menurunkan standar soal kerapihan rumah dan masak memasak. Hiks… hiks… Kuncinya mah, tak apalah standar turun dikit demi gak stress… hehe… karena ketika saya memaksakan mengerjakan sesuatu, hasilnya justru kontraproduktif, dan efek terburuknya adalah saya menjadi ibu yang menyeramkan buat anak-anak karena menjadi gampang kesal… hiiii…

Apalagi saya moody-an… aslinya emang moody-an ditambah lagi karena lagi hamil keles ya… (duuh.. ciyan si dedek bayi dikambinghitamin… #eluselus), jadi saat mood memburuk, lebih baik tidak mengerjakan apapun. Tak peduli pun rumah udah kayak kapal pecah. Toh, rumah dengan toddler itu sudah naturenya pasti berantakan. So far sih berantakannya di rumah Akhtar masih terkontrol, dengan menerapkan metode Hyukmari :p semua barang sudah punya ‘rumah’nya masing-masing. Barang-barang tunawisma alias sampah, tinggal sisihkan ke tong. Jadi, hanya tinggal cari waktu yang tepat untuk beberes, semua akan kembali pada tempatnya masing-masing.

Lain lagi soal masak-memasak…

Jadi saya pernah merasa gini, “Hamil sekarang kok jadi rajin masak yaaa… praktik resep ini itu, sampai ngulek bumbu”. Ampun deh, ngulek bumbu itu salah satu proses masak yang paling saya hindari sejak dulu, tapi semenjak hamil, entah dapet kekuatan dari mana, yang pasti bukan dari bulan, dalam seminggu bisa 2-3 kali ngulek, dan kadang nguleknya ga dikit. Eh ternyata itu ga bertahan sampai hamil 7 bulan. Sekarang ketika kandungan sudah 7+++, jangankan untuk ngulek, ngiris aja mualesnya minta ampun :(

Berusaha berdamai dengan situasi, akhirnya saya menjadi lebih sering beli makan di luar, kalaupun masak, yang paling mudah yaa yang bisa langsung goreng, kalau sayuran yang bisa langsung kukus aja. Rutinitas belanja bahan makanan ke pasar yang biasanya saya lakukan sepekan sekali (saat bapaknya anak-anak ada di rumah) untuk dimasak selama sepekan ke depan pun terhenti. Sekarang belanja kalau benar-benar mau masak saja, apalagi belanja sayuran yang cepat membusuk. Kalau ke pasar lebih sering belanja buah, bisa total 5 kg 2-3 macam buah sekali beli. In syaa Allah kalau buah sih selalu habis, karena ga perlu diproses apa-apa, selain cuci dan kupas, kalau perlu.

Yah intinya mah… Bu… jangan terlalu mempush diri untuk selalu terlihat sebagai ibu yang ‘sempurna’. Sesekali turunkan standar, bukan untuk mundur, tapi untuk ngawahan alias ngambil ancang-ancang biar dapet lompatan yang lebih tinggi, loncatan yang lebih jauh. Dan jangan terlalu terlena dengan penurunan standar. Kalau kemalasan yang dibalut dalih penurunan standar dipelihara dan berlangsung lama, maka periksa kondisi ruhiyah kita… biasanya (kalau saya) berbanding lurus lho. Misal, kualitas sholat menurun, mengakibatkan kualitas hasil kerjaan di rumah turun.

(Mendadak) Aksi

Leave a comment

Jadi, sekitar seminggu menjelang HUT BRI yang perayaannya dilangsungkan di JCC hari Ahad 17 Desember 2017 lalu, suami mengajak saya dan anak-anak datang ke Jakarta. Tak lama dari ‘mengiyakan’ ajakannya, suami memberi kabar bahwa kami siap berangkat hari Sabtu (H-1 acara). Tiket kereta sudah siap dan hotel sudah booking. Wew… gercep juga :*

Selang sehari dari itu, suami mengabari akan ada aksi bela Palestina di Monas terkait pengakuan sepihak dari si Trump bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel. Ternyata letak hotel kami akan menginap pun sangat dekat dengan Monas (di Jalan Taman Kebon Sirih, sebelah BI). Maka tercetuslah.. “Ikut aksi dulu yuk…”

Maka sesuai rencana, pada hari H, pagi hari sebelum jam 7 kami sudah keluar kamar hotel dengan dresscode HUT BRI, tapi kami berjalan ke arah Monas. Bersama kami, dari arah Jalan Kebon Sirih juga bergerombol beberapa rombongan kecil dengan atribut aksi. Memasuki Jalan Thamrin menuju Monas, semakin banyak lagi orang beratribut aksi. Tidak sepadat yang saya bayangkan sebelumnya, mungkin karena masih terlalu pagi, bahkan kami masih bisa keluar masuk area Monas dengan leluasa dan tidak berdesakan. Area silang Monas pun baru penuh di bagian yang ada panggung utamanya, tempat beberapa orator mulai menyampaikan orasinya. 

Alhamdulillah bisa ikut ambil bagian di aksi tersebut, walaupun sebelumnya tidak direncanakan… walaupun tidak ada kontribusi signifikan selain kehadiran fisik kami disana hiks… walaupun tak berlama-lama disana… karena sekitar jam 9 kurang kami memutuskan meninggalkan Monas di saat hujan ringan mulai turun, menambah adem suasana. Ketika pergi dari Monas itu, kami berpapasan dengan orang-orang yang justru baru datang, makanya itu ketika sore harinya melihat berita, ternyata aksi bela Palestina hari itu ga sesepi yang kami lihat di pagi harinya. 

*

Menuju tujuan berikutnya, JCC, kami memesan taksi online dan menunggu mobilnya datang cukup lama. Ternyata… kami mendapat driver yang nyinyiran gitu deh sama aksi di Monas. Dia sih menyebutnya demo. Entahlah, walaupun mungkin terdengar bermakna sama, tapi kesan yang ditimbulkan itu berbeda ketika kita mendengar antara dua kata itu, aksi dan demo.

Si driver itu mengomentari ibu-ibu, sebagian membawa anak-anak yang terlihat berbondong-bondong jalan kaki menuju Monas. 

“Ibu-ibu itu apa ngerti ya maksud demo ini buat apa?”

Saya hanya tersenyum asyem dengan sedikit ber-hehe (mungkin tidak terdengar juga dari tempat duduk si driver) mendengar pertanyaan itu. Ingin rasanya menyahut apalah gitu ya… tapi berpikir ulang… rasanya lebih baik diam. 

Namun dalam hati saya menjawab, “In syaa Allah mereka ngerti Pak, Bapak aja mungkin yang ga ngerti. Ga ngerti untuk apa aksi dan ga ngerti kalau ibu-ibu juga ngerti”.

Lalu, tak lama ia kembali berkomentar, “Anak-anak juga ikut-ikutan, emangnya mereka ngerti.”

Saya kembali menjawab, lagi-lagi dalam hati, (Ealah… si gue ini) “Ya itu makanya diajakin aksi, biar mereka ngerti, kenapa harus bela Palestina”. 

Karena saya ga nyiapin amunisi yang cukup untuk menjawab kenyinyiran macam itu, maka saya memilih diam saja.

Kalau buat saya pribadi, selain untuk memberikan dukungan kita terhadap Palestina, aksi seperti kemarin dengan membawa anak-anak juga sebagai sarana mengenalkan kepada mereka tentang Palestina dan apa yang terjadi disana. Soal ini sih masih jadi PR juga, saya luput menceritakan tentang Palestina ke Akhtar, jadi saat jalan ke Monas itu ia masih bertanya-tanya, “Aksi apa?” “Palestina apa?”

Catet nih PR.

Aksi seperti kemarin pun membuat masyarakat lebih aware tentang isu ini. Setidaknya saya sih begitu. Saya yang fakir ilmu ini mulai meng-update lagi pengetahuan tentang Palestina, membaca-baca lagi tentang Palestina, dll.

Palestina, terkhusus Yerusalem, adalah tempat dimana Masjid Al Aqsha terletak, salah satu masjid penuh berkah bagi umat Islam selain Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Tujuan Isra Rasulullah, dan tempat dimana beliau Mi’raj lalu mendapat perintah shalat dari Allah. Masjid yang juga merupakan kiblat pertama umat Islam.

Yerusalem juga disebut-sebut sebagai kota suci bagi 3 agama, selain Islam, juga Kristen dan Yahudi. Yang sebenarnya membuat saya bertanya-tanya adalah, ketika Trump ngaku-ngaku Yerusalem sebagai ibukota ‘negara’ Israel, mengapa yang saya lihat vokal menyuarakan protes adalah orang Islam? Ya, karena Palestina negara mayoritas Islam. Tapi kenapa Kristen tidak? Bukankah itu kota suci mereka juga? Atau saya aja yang luput memerhatikan ya? Atau ini hanya terjadi di Indonesia yang mayoritas Islam juga ya? Pertanyaan awam banget nih ya, mungkin saya kudu lebih banyak baca buku sejarah ketimbang timeline FB atau chat whatsapp.. heuheu. Bahkan sempat saya lihat di Instagram, di foto terkait bela Palestina ini ada yang berkomentar, kurang lebih redaksinya seperti ini, “Kenapa sih ngadain aksi di hari Minggu, bikin macet aja, ngeganggu yang mau ke gereja”. Lho?

Older Entries