Buku Anak

Leave a comment

Memiliki anak membuat saya -tentu saja- lebih melek terhadap buku-buku anak. Daftar belanja buku pun bergeser. Yang dulu semasa lajang memilih buku untuk kesenangan pribadi aja… Seperti novel-novel keluaran terbaru, buku-buku rekomendasi pembaca Goodreads (btw masih eksis ngga ya sosmed perbukuan ini?!), dan buku-buku yang membuat kita, eh saya, merasa keren ketika membacanya. Hihi…

Setelah punya anak, alokasi uang belanja buku lebih banyak untuk buku anak-anak. Saya sih paling hanya beli satu atau dua buku terkait agama atau parenting per berapa bulan sekali. Itu pun awet bacanya alias ga kelar-kelar hahahaha. Antara males baca, ga sempet, dan mumet mraktekinnya… hadeuh.

Terkait isi buku pun menjadi lebih selektif, mengingat banyak buku-buku zaman old yang pada akhirnya dikeluarkan dari rak buku karena isinya sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan zaman now. Maka, jika sekali-kalinya beli buku lebih memilih buku yang bersifat referensi (eh tepat ga ya penggunaan kata referensi disini), yang saya maksud adalah buku-buku yang bisa kita baca kapanpun jika kita membutuhkan informasi tertentu, bukan buku sekali baca yang setelah itu hanya dipajang di rak buku. Masuk kategori ini adalah buku-buku sejarah dan agama.

Balik lagi ke buku anak…

Dalam 5 tahun terakhir saya (sedikit) memerhatikan dinamika buku-buku anak, dan mendapatkan fakta menggembirakan ketika sekarang ini buku-buku bagus (dari segi konten, bahan kertas, dan ilustrasi) tidak hanya milik penerbit buku-buku mahal. Bahkan banyak buku favorit saya (yang saya paksakan jadi buku favorit anak-anak juga haha) bukanlah buku-buku mahal yang berharga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah, melainkan ‘hanya’ buku-buku tipis murah namun konten dan ilustrasinya amat memikat.

Kini banyak pula buku-buku anak Islami yang gambar makhluk hidupnya sudah dihilangkan bagian wajah atau bagian tubuh tertentu demi tidak meniru ciptaan Allah.

Seiring dengan pesatnya perkembangan buku-buku murah berkualitas ini, saya merasa (hanya berdasarkan perasaan saya aja lho yaa…) promosi buku berharga jutaan yang biasa dijual secara arisan itu semakin hari semakin sedikit bahkan menghilang dari timeline medsos saya. Saya pun bersyukur bahwa dulu tidak sempat memiliki buku-buku tersebut walaupun sangat ingin. Karena secara hitung-hitungan mak irit macam saya, buku-buku tersebut tidak masuk dalam radar budget saya.

Oh ya tentang konten buku, orangtua sangat dimudahkan dengan bermunculannya penerbit buku khusus anak muslim sehingga kita tidak selalu harus memeriksa setiap halaman buku secara detail, namun cukup kenali latar belakang penerbitnya dan kita bisa yakin tentang keshahihan isi buku tersebut.

Karena tidak sedikit buku anak yang terkesan Islami nyatanya kurang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Advertisements

Api Tje Tje Menjadi Eta Api

Leave a comment

Dibuang sayang
-drafted 23 June 2018-

Tempo hari saya pernah bercerita tentang Ahnaf yang menyebut kereta api dengan api tje tje. Nah sejak beberapa waktu lalu, saya luput ingat kapan tepatnya, Ahnaf mulai mengganti kata api tje tje dengan eta api. Bagus dong ya.. jadi lebih bisa dipahami oleh selain kami, orangtuanya.

Ngomong-ngomong, kemampuan berbahasa Ahnaf berkembang cukup pesat belakangan ini. Banyak kata yang sudah mampu diucapkannya dengan jelas, bentes kata orang Sunda mah. Dan Ahnaf pun sudah bisa merangkai kalimat pendek hingga 4 kata. Beberapa rangkaian kata dengan langgam khasnya yang menggemaskan juga kerap meriuhkan keseharian kami.

Dan dalam beberapa hari terakhir, Ahnaf pun sudah bisa mengucapkan namanya dengan lebih jelas, biasanya terucap Ahaf, sekarang Anaf. Lumayceu lah yaw walaupun masih hilang satu huruf.

Ahnaf pun mulai masuk tahap bertanya “Ini apa?” yang saya perhatikan bukan bermaksud untuk tahu apa yang ditanyakannya, melainkan karena ia memang senang mengucapkannya. Ia hanya menuntut kami meresponnya lalu dengan segera ia akan menanggapi “Ooh xxx ya” xxx itu maksudnya ia mengulang jawaban yang ia dengar.

Barakallah Ahnaf. Semoga tumbuh sehat jadi anak sholeh dan cerdas :*

Semua Gak Boleh

Leave a comment

Kata Akhtar…

Akhtar ga suka Ade Ahnaf, Akhtar sukanya Ade Aliya, karena Ahnaf sudah ada sejak Akhtar masih 2 tahun, jadi udah bosen.

Akhtar ga suka Ade Ahnaf. Katanya Ahnaf ga lucu karena udah besar. Yang lucu itu Ade Aliya karena masih bayi. Lalu saya menimpali, “Berarti Akhtar juga ga lucu dong?”. Akhtar lalu menjawab, “Iya… Kalau Akhtar dan Ade Ahnaf itu kasep, kalau Ade Aliya lucu karena masih bayi”. Hmm oke deh.

Akhtar bilang, ga suka Ade Ahnaf karena Ahnaf suka berantakin mainan Akhtar. “Semua mainan punya Akhtar dan Ade Aliya. Ade Ahnaf ga boleh main,” kata Akhtar setengah berteriak.

***

Perubahan signifikan sikap Akhtar terhadap Ahnaf terjadi beberapa bulan ke belakang. Akhtar jadi sering bersikap ‘memusuhi’ Ahnaf, satu dua kali terlihat mengasari juga dengan mendorong atau menyubitnya terlalu gemas, atau berteriak di depan muka Ahnaf hingga Ahnaf merasa ketakutan lalu berlindung di pelukan saya.

Yang lucu adalah beberapa hari kemarin…

Ahnaf main warung-warungan, lalu Akhtar melarangnya karena katanya Akhtar mau main juga.

Lalu saya alihkan Ahnaf untuk bermain kereta api balok-balok. Tetiba Akhtar keluar dari warung-warungannya dan bilang mau main kereta api aja.

“Ya udah Dek, main balok kayu yuk…”. Ajak saya sambil sedikit melirik ke arah Akhtar. Akhtar terlihat mengawasi gerak gerik adiknya. Lalu serta-merta ia menghampiri kami yang sedang main balok kayu. “Akhtar juga mau mainan balok”.

“Dek, kita main mobil-mobilan aja yuk”, kata saya sambil memilih beberapa mainan mobil favorit Ahnaf.

Akhtar yang sedang membuat bangunan dari balok-balok kayu tampak diam memerhatikan saya dan Ahnaf, mungkin mencari akal bagaimana merebut mainan mobil yang dipakai Ahnaf.

Hingga tiba-tiba, “Akhtar mau pakai mobil-mobilannya, kan ini mobilnya harus dimasukkan ke garasi”, katanya lagi sambil memperlihatkan bangunan balok-balok yang disusunnya membentuk garasi.

Saya kesal sekaligus geli, lalu sedikit mengomel soal…

“Mainnya bareng-bareng……”

“Ini mainan Ade Ahnaf juga……”

“Ade Ahnaf yang duluan, Akhtar harus izin dulu Ade kalau mau pinjam……”

“Lalu Ade Ahnaf bolehnya main apa kalau semua ga boleh?”

Yang dipungkasi dengan kalimat paripurna dari Akhtar.

“Semua mainan punya Akhtar dan Ade Aliya, Ahnaf ga boleh main!”

***

Ya begitu lah keseharian kami dengan 1 balita dan 2 batita ini. Seru seru nggemesin dan ngangenin gitu sih hihi. Adapun soal keras kepala dan egonya Akhtar, saya mencoba memaklumi sambil sedikit demi sedikit mengarahkannya agar bersikap lebih baik, walaupun hasilnya (terlihat) nihil untuk saat ini.

Lagi pun tidak selalu Akhtar seperti itu. Ada kalanya ia bersikap manis juga terhadap Ahnaf.

Jadi ingat juga, masa kecil saya dengan 2 saudara laki-laki yang berdekatan umurnya. Tiada hari tanpa ribut perihal masalah sepele, sesepele rebutan piring tertentu tiap mau makan (piring hadiah dari dept store doang haha) sampe rebutan merobek kalender harian di ruang tamu. Namun toh ketika salah satu dari kami pergi agak lama, misal menginap di rumah saudara, tetap rindu yang dirasa.

Kekhawatiran saya adalah takut tidak bisa menjaga perasaan salah satu anak sehingga merasa dibedakan dari saudaranya yang lain. Contohnya Ahnaf. Ahnaf yang lebih pendiam dibandingkan Akhtar ada kecenderungan menyimpan perasaan sedihnya sendiri. Misalnya ketika Akhtar melarangnya untuk melakukan ini dan itu, biasanya air matanya langsung menggenang, lalu bibirnya bergetar menahan tangis. Saya biasanya langsung merangkul dan menghiburnya, sambil membantunya mengenali perasaannya.

“Ade sedih, iya?”

“Ade kecewa?”

“Ade marah?”

Mendekap Ahnaf adalah cara ampuh untuk menghiburnya. Paling patah hati kalau pas Ahnaf sedih yang dipanggil adalah “Abah… Abah…” Seperti meminta perlindungan.

Ealah.. giliran Ahnaf dijemput sama Abah, Akhtar ga mau ketinggalan pengen diajak juga. Hadeuh…

Tuvalu

Leave a comment

-Catatan dua hari lalu-
Ada yang pernah dengar nama Tuvalu? Apa saya aja ya yang baru tahu!?
Saya baru pertama kali mendengarnya hari ini dari Akhtar. Pagi ini Akhtar membuat coretan-coretan abstrak seperti lautan, dan menjawab, “Ini Tuvalu”, ketika saya tanya “Ini gambar apa?”
Dahi saya berkernyit. Saya yakin pasti itu adalah nama suatu tempat yang ia baca dari buku Ensiklopedia Geografi favoritnya. Menurut penjelasannya juga, Tuvalu itu dekat Australia dan Fiji, dan jauuh dari Indonesia.
Maka saya  pun googling dan menemukan fakta unik tentang Tuvalu.
Jadi ternyata… Tuvalu adalah salah satu negara terkecil di dunia yang terletak di antara Australia dan Hawaii di Samudera Pasifik, berdekatan salah satunya dengan negara Fiji.
Yang menakjubkan adalah bentuk salah satu pulaunya yang memanjaaang dengan lebar yang sangaaaat kecil. Bisa dikatakan semua wilayah itu adalah pantai.

 

Sekilas melihat pulau ini tampak mengerikan yaa… sepertinya dengan hanya sekali sapuan ombak besar saja tenggelam lah negeri itu. Tapi karena kuasa Allah, hal itu tidak terjadi.

ENSIKLOPEDIA GEOGRAFI

Oh ya saya ingin bercerita sedikit tentang buku ensiklopedia geografi yang Akhtar punya.

Buku itu saya beli melalui danusnya Sabumi dengan harga obral. Pastinya karena stok lama dan barang sisa.

Satu set ensiklopedia geografi terdiri dari 6 buku besar hardcover. Sangat worthed dengan harga hanya 600 ribu yang dicicil 3 bulan. Tetap bernilai walaupun banyak informasi yang sudah usang, misalnya jumlah provinsi di Indonesia yang dipaparkan masih berjumlah 33.

Tapi buku itu sangat berharga sekali buat Akhtar. Setibanya buku itu di rumah, langsung saja menjadi salah satu favorit Akhtar. Akhtar suka melihat gambar-gambarnya yang bagus. Dan dalam waktu yang tidak lama Akhtar segera tahu nama-nama benua, negara-negara, bendera, termasuk Tuvalu ini yang luput dari pengetahuan emak bapaknya yang udah belajar geografi belasan tahun silam di bangku sekolahan.

Tugas saya selanjutnya adalah bagaimana mengintegrasikan pelajaran geografi ini dengan nilai-nilai Islam. Pe er banget yaaa dengan pengetahuan agama ortunya yang ecek ecek. Heuheu…

Makanya belajar Mak, jangan WA-an mulu.. bhahaha..

Bisul

Leave a comment

Aliya bisul di kepala belakang, untuk kedua kalinya dalam sebulan terakhir.
Bisul pertama sampai sebesar kelereng. Awalnya hanya kulit yang tampak kemerahan, lama-lama seperti benjol, semakin lama semakin besar dan benjolannya terkonsentrasi di satu titik, membesar tapi tidak lebar. Seperti saya bilang, mirip kelereng, atau anggur mungkin lebih pas.
Benjolan itu bernanah dan bermata. Suatu hari pecah, dan benjolan pun berangsur-angsur hilang. Namun bekasnya jadi tidak ditumbuhi rambut. Kata Abah sih, memang begitu karakter si bisul. Bikin pitak.
Seminggu yang lalu, benjolan yang lain keluar di dekat bisul yang lama. Kali ini lebih banyak, dan sepertinya lebih sakit. Setiap dipegang, Aliya menangis.
Hasil bertanya ke beberapa teman, rata-rata tanggapannya sama. Katanya saya kebanyakan protein. Katanya kebanyakan makan telur. Sungguh… Selama ini kata-kata “Jangan kebanyakan makan telur nanti bisulan” saya anggap mitos. Pada akhirnya terkonfirmasi kebenarannya ketika memutuskan pergi ke dokter anak hari ini, dan mendapatkan saran yang sama, “Ibu coba berhenti makan telur seminggu ya, kita lihat apakah ada perubahan”.

Bisa jadi karena telur. Telur adalah bahan makanan yang wajib ada di rumah. Paling mudah untuk diolah. Males masak atau sempit waktu untuk memasak, tinggal goreng telur… Selesai.

Makanya ketika dokter bilang “Kita lihat apakah ada perubahan”, saya pastikan, ada. Saya yang berubah kudu lebih variatif dalam masak. Lah masa telor ceplok bae jeh.

Demikian.

Ga penting sih. Tapi biar inget aja, sejarah pitak di kepala Aliya. Hiks.

Drafted 13 Jun 2018/ 28 Ramadhan 1439/ @Masjid Habiburrahman Bandung

Gaya Hidup Hedonis…(kok yak yang dipikirin materiiiii mulu…)

Leave a comment

Udah lama ga ngeblog… Dan kembali buka-buka draft lama kemudian menemukan tulisan di bawah ini.

Ini pasti ditulis ketika saya masih kerja di salah satu KAP di Jakarta. Saat itu saya ditempatkan di tim yang kebanyakan beragama berbeda dengan saya, memiliki cara pandang dan gaya hidup juga yang sangat berbeda dengan saya terutama dalam hal memandang ‘uang’, dimana saya melihat diantara mereka sering melakukan ‘muslihat’ untuk mendapatkan pendapatan tambahan di rekening gajinya. Misal dengan me-mark up ongkos taksi untuk direimburse, atau me-mark up jam kerja.

Saya memang akhirnya terlibat disitu juga. Bukan saya yang ingin, tapi atasan pun menyuruh demikian. Pada akhirnya kecurangan-kecurangan ‘kecil’ itu saya anggap wajar. Dan nyatanya wajar terjadi di tim-tim kerja yang lain juga.

Padahal, rezeki itu bukan soal banyaknya harta. Itu adalah soal ketaatan kita juga kepada Allah. Jika kita jujur, insyaa Allah hasilnya pun lebih berkah, sehingga jumlah yang sedikit pun menjadi mencukupi.

Dan memang, masa itu adalah masa saya tanpa bimbingan dan tidak berpikir jauh ke depan. Sehingga berjuta-juta uang yang dihasilkan dari bekerja selama itu seringkali terasa tidak cukup sampai akhir bulan. Parahnya, ketika akhirnya memutuskan resign dari sana, saya tidak punya simpanan melainkan hanya sedikit.

Astaghfirullah, semoga Allah mengampuni keteledoran dan ketidakmampuan saya mengelola uang.

Padahal, seseorang tidak akan bergeser dari tempat berdirinya di hari kiamat nanti sebelum ditanya diantaranya dua hal. Hartanya… Dari mana ia peroleh, dan untuk apa ia habiskan.

Sayangnya saya belum tahu hal itu dari awal.

***

Hmmm…tiba-tiba kepikiran nulis kayak gini, melihat dan merasakan kenyataan di sekitar gw yang banyak diantara orang-orangnya (sepertinya) merupakan penganut hedonisme.

Indikasinya bisa dilihat dari sifat serakah terhadap materi yang dalam banyak hal membuat gw ga nyaman hidup di lingkungan kayak gini.

Mungkin mereka perlu belajar ilmu qanaah, rela menerima dan merasa cukup dengan apa yang dimiliki, serta menjauhkan diri dari sifat tidak puas dan merasa kurang yang berlebihan.

Tentang Hijrah

Leave a comment

Suatu sore beberapa minggu yang lalu (late post bangeeeet yaaa) saat nonton Kompas TV bersama suami, saya tergelitik dengan kata ‘hijrah’ yang digunakan pada running text untuk mengabarkan kepindahan seorang pemain sepakbola (entah siapa waktu itu) dari satu klub ke klub lainnya.

Komentar saya pertama-tama adalah… kenapa menggunakan kata hijrah, alih-alih pindah, atau kata lain yang semisal?

Emang kenapa kok kayak risih gitu?

Secara bahasa mungkin tidak masalah. Dari beberapa definisi yang saya temukan, hijrah itu artinya berpindah; memutuskan hubungan; meninggalkan yang tidak baik menuju ke yang lebih baik.

Jika, si pesepakbola XYZ hijrah dari klub ABC ke klub DEF, artinya dia pindah dari ABC ke DEF, memutuskan hubungan dengan klub ABC, atau beralih ke klub DEF yang dianggap lebih baik (dari sisi gaji, lingkungannya, fasilitasnya, atau desain jerseynya, hehe maksa) dsb.

Namun, karena saya orang Islam, maka mau tak mau, saya akan mendefinisikan kata hijrah, tidak hanya secara bahasa, namun juga secara syariat. Dan kata ini belakangan menjadi populer bersamaan dengan munculnya berbagai komunitas hijrah, dan berita hijrahnya beberapa artis, sampai ada istilah ‘artis hijrah’ segala. That’s good. Artinya semakin banyak orang paham tentang Islam sebagai jalan hidup bahagia dunia akhirat.

Lho malah bagus kan kalau kata ‘hijrah’ dipopulerkan oleh media sebesar Kompas TV?

Justru disitu lah masalahnya menurut saya. Karena:

Pertama…

Perlu diingat, yang memakai kata itu adalah media yang selama ini kurang berimbang dalam memberitakan Islam. Saya katakan demikian karena seringkali konten berita/ acara di stasiun TV tersebut berselisih pandang bahkan bertentangan dengan prinsip Islam. Jadi, jangan terlalu naif, jika suatu waktu media tersebut terlihat ‘bersahabat’ dengan Islam. Bisa jadi ada maksud terselubung atau pesan tersembunyi?

Saya jadi teringat, beberapa waktu lalu membaca buku memoar berjudul “Emak”. Buku itu sudah ada di koleksi saya sejak sebelum menikah, namun masih tersegel hingga akhir tahun lalu memutuskan membacanya.

Memoar itu diterbitkan oleh penerbit Kompas Gramedia. Pada mulanya, saya ‘terharu’ dengan penuturan penulis tentang tokoh emak di memoar tersebut yang digambarkan sebagai seseorang yang relijius. Tapi sejurus kemudian, saya waspada ketika mengingat siapa penerbitnya. Dan ke’waspada’an saya itu terbukti ketika di tengah-tengah buku, si penulis mulai menuangkan pemikirannya tentang Islam yang mengarah ke liberal.

Kedua…

Saya khawatir, perluasan makna kata ‘hijrah’ justru akan mendangkalkan makna sebenarnya. Orang-orang akan dengan mudah menggunakan kata tersebut dengan mengabaikan esensinya.

Jika hijrah hanya sebatas dimaknai pindah, maka maknanya bisa tergerus hanya sebatas perpindahan bersifat fisik yang orientasinya dunia.

*

Kita hidup di zaman fitnah. Tetap waspada. Karena ‘mereka’ punya cara yang sangat halus untuk mengalihkan umat Islam dari agamanya.

Older Entries