ART

Leave a comment

Sudah masuk pekan kedua sejak saya mempekerjakan asisten di rumah, yang tak lain adalah bibi saya sendiri, istri dari paman kandung saya.

Sebenarnya sudah sejak lama beliau mengirim sinyal-sinyal mau membantu di rumah, hanya saja saya (sok-sokan) merasa masih bisa mengerjakannya sendiri.

Hingga, belakangan ini saya merasa kewalahan, apalagi Aliya mulai merangkak kemana-mana. Makin tidak terkendali. Dan lagi, pola tidur Ahnaf masih sangat berantakan, malam bangun, dan siang tidur hampir sepanjang hari. Sehingga saya kurang tidur dan sering tidak bergairah mengerjakan pekerjaan rumah.

Karena namanya asisten, jadi Bi Lia hanya membantu mengerjakan yang tidak bisa saya kerjakan sendiri. Saya memintanya datang ke rumah dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore hari. Untuk jamnya tidak saya batasi, silakan datang jam berapa saja setelah urusan di rumahnya selesai, masih ada suami dan anak bungsunya yang lebih berhak mendapat perhatiannya, kan? Yang penting, tugasnya di rumah saya beres.

Pekerjaan hariannya terutama bersih-bersih rumah (semua bagian) dan mencuci peralatan dapur. Tambahannya adalah menjemur dan kadang melipat pakaian, juga memasak. Urusan mencuci pakaian masih saya lakukan sendiri, termasuk cuci clodi.

Meski tidak semua pekerjaan diambilalihnya, saya merasa sangat terbantu dengan keberadaannya. Saya jadi punya waktu lebih untuk memikirkan dan mengerjakan hal lain.

Saya jadi bisa mencuci clodi setiap hari, sehingga mendukung keinginan saya untuk meminimalisir sampah pospak (popok sekali pakai). Ahnaf pun sekarang beralih lagi ke clodi, setelah proses toilet training-nya gagal total beberapa bulan yang lalu sehingga ia harus kembali menggunakan pospak.

Saya mulai bisa memilah kertas berisi coretan anak-anak, mana yang hendak disimpan dan mana yang dibuang, kemudian menyusunnya di binder, yang selama ini hanya tertumpuk tak beraturan di lemari penyimpanan.

Saya juga mulai ada waktu untuk memilah sampah, dan menyusun rencana untuk mengirimkannya ke tempat penampungan sesuai jenis sampahnya.

Saya mulai bisa membuka-buka lagi buku, dan menemukan inspirasi dari sana.

Saya mulai berpikir untuk mengatur jadwal kegiatan anak-anak dan bertekad untuk hidup lebih teratur. Aamiin…

Sedikit demi sedikit mulai mengurai kekacaubalauan yang terjadi di rumah, dan salah satu titik mulanya adalah dengan mempekerjakan asisten rumah tangga.

Saya salut dengan ibu-ibu di luaran sana yang hidupnya tetap terorganisasi dengan baik meski tanpa asisten. Ternyata saya belum sampai level itu. Saya masih sering terdistraksi jika di hadapan saya ada beberapa pekerjaan yang kudu diselesaikan. Hasilnya, tidak semua bisa saya kerjakan maksimal. Dan bahaya kalau yang terabaikan adalah kebutuhan dasar anak-anak.

ART adalah partner kita dalam mengurus rumah. Maka ada adab-adab yang harus dijaga dan hak-hak yang harus ditunaikan. Terlebih jika ia juga seorang muslim, terrrrlebih lagi jika ia masih dalam lingkaran keluarga dekat kita.

Mengenai adab terhadap pembantu, maka the one and only Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasalam adalah pemberi contoh terbaik. Diantaranya bagaimana beliau memperlakukan sahabat Anas bin Malik, yang menjadi pembantunya selama 10 tahun.

Saya kurang pandai menceritakan kembali, kisahnya bertebaran di banyak sumber, silakan cari sendiri. Hanya berharap dan berusaha, semoga saya mampu meneladaninya.

#shineonbatch2

Advertisements

Berbenah (1)

1 Comment

Berbenah adalah kata yang dipilih untuk menerjemahkan kata tidy up dalam buku The Life-Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo, seorang konsultan berbenah asal Jepang, yang memperkenalkan metode KonMari yang fenomenal itu.

Menurut KBBI daring, beberapa pengertian kata dengan kata dasar benah adalah sebagai berikut:

be·nah1, ber·be·nah v berkemas-kemas; memberes-bereskan; merapikan (perabotan dan sebagainya);

mem·be·nahi v 1 membereskan (tempat tidur dan sebagainya); mengemasi; 2 memperindah; merapikan: menjelang kunjungan Presiden, Wali Kota sibuk – wilayahnya; 3 mengurus: dia sudah dapat – dirinya, tidak lagi bergantung kepada orang tuanya;

pem·be·nah·an n proses, cara, perbuatan membenahi.

***

Sekitar satu bulan yang lalu saya meminjam buku, yang sudah lama ingin saya baca ini, dari seseMomom. Meski baru sekarang membaca bukunya, namun metode KonMari ini sudah saya ketahui sebelumnya dari bincang emak-emak di grup WA, dari beberapa tulisan/ artikel di internet, juga melihat praktiknya langsung dari gambar-gambar yang diunggah dengan tagar #konmari atau #konmariIndonesia di Instagram, dan sedikit-sedikit saya praktikkan.

Dengan membaca buku ini, saya mendapat gambaran lebih lengkap tentang KonMari. Beberapa prinsip penting dalam KonMari adalah sebagai berikut:

1. Secara garis besar, berbenah dibagi dalam (hanya) dua aktivitas yaitu, membuang dan memutuskan hendak menyimpan barang dimana. Proses berbenah harus diawali dengan membuang.

2. Kriteria barang yang disimpan adalah hanya barang-barang yang membangkitkan kebahagiaan (spark joy). Caranya adalah dengan memegangi setiap barang lalu bertanya pada diri sendiri “Apakah ini spark joy?“. Kalau jawabannya tidak, maka buang.

3. Berbenah secara tuntas itu hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup. Marie Kondo memberi batasan waktu 6 bulan untuk berbenah tuntas ini. Yang dilakukan sehari-hari hanya menggunakan dan mengembalikan barang ke tempatnya.

4. Berbenah berdasarkan kategori, bukan lokasi. Dalam buku ini, Marie Kondo menentukan urutan-urutan berbenah, dan tidak boleh dibolak balik, sebagai berikut: pakaian, buku, kertas, pernak pernik, barang bernilai sentimental.

5. Setiap barang memiliki ‘rumah’ masing-masing. Barang disimpan dengan tatanan sesederhana mungkin sehingga mudah untuk menyimpan (bukan mudah mengambil).

6. Metode KonMari hanya lah sarana, bukan tujuan. Ketika rumah kita rapi, kita akan menemukan apa yang sesungguhnya ingin dilakukan. Kondisi berantakan mengaburkan akar permasalahan yang sesungguhnya.

dll

***

KonMari di Rumah Kami

Secara umum, saya setuju dengan dua aktivitas utama KonMari, yaitu membuang dulu, menyimpan kemudian. Namun pada praktiknya, saya hanya menerapkan sebagian metode KonMari di rumah kami, menyesuaikan dengan sumber daya yang ada (tenaga, waktu, storage) dan prinsip pribadi yang tidak sama dengan Marie Kondo.

Yang kentara perubahannya adalah dalam hal menata pakaian. Seperti umumnya keluarga lain di Indonesia, kami memiliki lemari yang didesain untuk menyimpan pakaian menumpuk ke atas. Namun sudah dua bulanan ini, saya melipatnya a la KonMari dan meletakkannya dengan posisi berdiri lalu ditempatkan ke dalam kardus-kardus bekas yang dipercantik dengan kertas kado.

Menyimpan baju dengan cara ini menyisakan ruang yang cukup lebar di lemari, rencananya akan saya siasati dengan menambahkan rak sisipan dari pipa PVC, namun belum juga terlaksana.

Yang tidak banyak berubah adalah rak buku. Sebelum-sebelumnya memang sudah mengeluarkan cukup banyak koleksi buku tak terpakai/ tak terbaca, baik disumbangkan maupun dijual. Setelah membaca buku Marie Kondo, saya hanya mengeluarkan beberapa buku lagi, sehingga tidak terlalu nampak perbedaannya. Dibandingkan dengan bagian lain di rumah kami, rak buku adalah area yang paling terjaga kerapiannya selama ini.

Kami memiliki dua rak buku ukuran (kurang lebih) 200×60 cm di rumah, dan berencana tidak (atau belum?) menambah rak lain. Jadi, maksimal buku yang dimiliki adalah sebanyak yang bisa ditampung di rak tersebut.

Kertas merupakan salah satu yang sulit saya sortir, terutama jika kertas itu berisi coretan anak-anak. Ahh.. rasanya sayaaaang sekali untuk membuangnya. Mungkin akan lebih tepat kertas jenis ini dikelompokkan sebagai barang-barang sentimental yang dibereskan belakangan.

Sementara prinsip KonMari dalam menyortir kertas adalah buang semuanya, kecuali yang masih dipakai, diperlukan dalam kurun waktu tertentu, dan harus disimpan.

Barang yang tidak ingin saya simpan, saya kumpulkan di ruang depan hingga memenuhi separuh dari ruang tersebut. Banyak! Barang-barang tersebut sudah punya tujuan baru masing-masing, namun belum dikirim terkait kendala teknis daaan pendanaan. Hihi.

Selama ini ada sebagian barang tak terpakai yang saya timbun di lemari atau kontainer plastik, namun saya memantapkan hati untuk mengeluarkan (hampir) semua barang itu. Kok hampir? Karena masih ada beberapa yang saya simpan, dengan pertimbangan (mungkin) nanti akan saya pakai lagi.

Nah kan udah ga sama dengan KonMari? Makanya saya bilang, hanya menerapkan sebagian. Karena nyatanya, saya masih sering memakai kembali barang lama yang saat ini tidak terpakai. Contohnya, pakaian. Memakainya sampai usang adalah pilihan saya.

Berbeda dengan KonMari, saya membereskan berdasarkan ruangan, karena barang kami relatif sedikit dan satu kategori barang sudah terkumpul di satu ruangan yang sama (kecuali yang belum).

Daaan… Berbenah masih berlangsung hingga sekarang. Berkejaran dengan pekerjaan harian yang harus selesai setiap hari juga.

***

Bersambung yaa…

***

#shineonbatch2

Eating Clean #makanbenar #makanpintar

2 Comments

Saya pertama kali mendengar istilah eating clean kurang dari dua pekan yang lalu dari sebuah buku yang saya beli di salah satu jaringan toko buku terbesar di Indonesia, a.k.a Gramedia hehe

Buku tersebut berjudul Aku Pintar Makan Sehat, yang ditulis oleh Inge Tumiwa-Bachrens, seorang pegiat dan pelaku pola makan sehat.

Buku ini ditujukan untuk anak-anak usia 4-12 tahun dan merupakan salah satu buku dari Eating Clean Series, yang kesemuanya terdiri dari 4 buku.

*

Bagaimana buku ini bisa berada di tangan saya?

Ceritanya sekitar dua pekan lalu kami berlibur ke Jakarta. Sebelum berangkat suami saya minta diingatkan bahwa ia memiliki voucher Gramedia senilai lumayan-lah yang masa berlakunya hampir habis.

Maka di Jakarta kami sempatkan berkunjung ke Gramedia terdekat dari penginapan, dengan tujuan utama menukar voucher dengan sejumlah buku.

Saya sama sekali tidak merencanakan akan membeli buku apa. Hanya saya berniat membeli buku yang isinya mudah dipraktikkan terutama mengenai pengelolaan rumah tangga.

Di Gramedia kami hanya punya waktu sekitar 1 jam sebelum toko tersebut tutup. Setelah berkeliling mencari buku yang mungkin saya minati sembari digerecokin anak-anak yang minta cepat pulang, saya menemukan buku ini justru di rak belakang kasir berjejer bersama buku lain dari Eating Clean Series.

Penulisnya belum pernah saya dengar namanya, pun konsep eating clean-nya belum saya pahami yang seperti apa, walaupun setelah saya baca, saya ingat memiliki teman yang berpola makan yang sama, namun tidak pernah menggunakan istilah eating clean. Hanya saja saya tertarik dengan ilustrasi di dalam buku yang berupa gambar khas anak-anak dan bahasa yang digunakan amat mudah dipahami.

*

Pembahasan di buku ini diawali dengan pertanyaan, “Mengapa kita harus makan?

Kemudian, jawabannya dianalogikan dengan kendaraan yang membutuhkan bahan bakar untuk berjalan, pun manusia membutuhkan makanan untuk bisa hidup.

Jika kendaraan diisi, misal dengan air keran, selain mogok, ia pun akan rusak. Demikian juga jika manusia memakan makanan yang tidak sehat maka akan sakit.

Seperti halnya di jalan raya, kita pun memiliki lampu lalu lintas untuk makanan kita.

Lampu merah untuk segala makanan yang tidak boleh kita makan.

Lampu kuning untuk makanan yang sekali-kali boleh kita makan, tidak terlalu banyak dan sering.

Lampu hijau untuk makanan yang boleh kita makan.

Dan mulai dari sini lah terdapat perbedaan signifikan dari pola makan yang diterapkan oleh penulis dengan pola makan saya dan keluarga.

Lampu Merah

Yang termasuk makanan yang tidak boleh dimakan adalah junk food. Yang terdiri dari dua jenis yaitu makanan dan minuman dalam kemasan, dan fast food.

Alasan junk food tidak boleh dimakan adalah karena mengandung 7 bahan berbahaya, yaitu gula dan pemanis buatan, MSG, pewarna buatan, sirup jagung, bahan pengawet, perasa buatan, dan lemak tidak sehat.

Dalam buku ini semua makanan yang dibuat di pabrik termasuk junk food, termasuk di dalamnya adalah makanan-makanan yang oleh kebanyakan orang dipahami sebagai makanan sehat seperti susu kotak, yoghurt, keju, jus buah, sereal, dll.

Lampu Kuning

Diantara makanan/ minuman yang boleh sekali-kali dikonsumsi adalah susu sapi, namun lebih sehat jika mengonsumsi susu kambing, susu almon, atau susu dari kelapa.

Boleh juga sekali-kali memakan yoghurt dan keju yang bukan buatan pabrik.

Tidak juga makan makanan yang dibuat dari gandum atau tepung gandum, juga makanan lain yang memakai tepung seperti mie, roti, kue, pasta, pizza.

Lampu Hijau

Makanan yang boleh dimakan setiap hari adalah sayur dan buah-buahan, protein yang bukan buatan pabrik, makan nasi yang sehat yaitu nasi yang berasal dari beras hitam, cokelat, atau merah, itupun tidak terlalu banyak, makan lemak yang sehat, dan banyak minum air putih. Makan sehat dianjurkan lima kali dalam sehari.

Di akhir buku ini juga diingatkan tentang bahaya makanan kemasan, tidak hanya untuk tubuh, juga untuk lingkungan.

Secara garis besar, buku ini mendorong kita untuk memakan makanan alami, bukan buatan pabrik

*

Apa yang berbeda dengan pola makan yang diterapkan di rumah kami?

Standar makan sehat penulis jelas beberapa level lebih tinggi daripada standar makan sehat di keluarga kami.

Selama ini saya berpandangan bahwa selama makanan dimasak di rumah, maka sudah dikategorikan makanan sehat, karena kita tahu jenis dan kualitas bahan yang dimasukkan ke dalamnya. Walaupun masakan itu kita bubuhi garam, gula, kecap, saus tiram, dan menggunakan minyak goreng sawit yang kesemuanya adalah buatan pabrik.

Pola makan yang kami terapkan kurang lebih sama dengan rekomendasi pemerintah tentang pola gizi seimbang. Termasuk di dalamnya juga memasukkan nasi putih dan makanan dari tepung-tepungan sebagai sumber karbohidrat yang justru dikatakan tidak sehat di dalam buku ini.

Juga kami masih mengonsumsi susu sapi walaupun tidak rutin, dan beberapa produk dairy pabrikan, yang juga dikatakan tidak sehat dalam buku ini.

Kami juga masih mengonsumsi camilan manis dan gurih buatan pabrik, serta fast food seperti ayam krispi dan pizza, dan mengategorikannya di kelompok ‘lampu kuning’, bukan lampu merah seperti buku ini.

Selama ini malah tidak ada makanan ‘lampu merah’ dalam kamus kami. Semua makanan terutama yang alami dan dibuat di rumah sangat boleh dimakan. Sementara makanan pabrikan, boleh dimakan asal jangan terlalu sering dan banyak.

*

Rencana Aksi Setelah Membaca Buku Ini

Buku dibaca untuk dipraktikkan dong ya…

Walaupun saya belum yakin, setidaknya dalam waktu dekat ini, untuk mempraktikkan makan sehat eating clean a la penulis, ada beberapa hal yang ingin saya ubah dari pola makan keluarga setelah membaca buku ini:

Satu,

Berdasarkan beberapa resep dalam buku tersebut, penulis mengganti minyak goreng sawit dengan minyak goreng kelapa, dan garam dapur dengan garam laut kasar.

Rencana aksi saya yang pertama adalah mengganti minyak goreng sawit dengan minyak goreng kelapa yang katanya tetap jernih walaupun digunakan berkali-kali.

Dua,

Semakin mengurangi konsumsi junk food (makanan/ minuman kemasan dan fast food). Serta menyetok lebih banyak sayur dam buah untuk camilan sehari-hari.

Mengapa selama ini kami sering mengonsumsi makanan kemasan? Karena lebih mudah dan awet disimpan.

Tiga,

Berhenti menggunakan bumbu-bumbu instan dan mulai meracik bumbu-bumbu masakan dari bahan alami.

Empat,

Sebagai seorang muslim, sangat perlu juga untuk mempelajari makan sehat dan hidup sehat a la Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam, sehingga apa yang kita lakukan tidak hanya menjadikan kita sehat, juga berpahala.

Kelima dan seterusnya akan bertambah sesuai waktu.

Namun, saya belum yakin untuk menerapkan ‘lampu merah’ di rumah. Jadi, semua makanan tetap boleh dimakan, hanya akan sangat dibatasi untuk konsumsi makanan tidak sehat buatan pabrik.

Bismillah…

***

Identitas buku

Judul : Aku Pintar Makan Sehat

Penulis : Inge Tumiwa-Bachrens

Penerbit : Kawan Pustaka

Ketebalan buku : 104 halaman

Tahun terbit : 2018 (cetakan pertama)

***

#shineonbatch2

Duduk, Diam, dan Dengarkan

2 Comments

Bukan kayak gituuu, lihatin Akhtar nih tangannya kayak gini

Salah rukuknya, punggungnya harus lurus, matanya lihat ke tempat sujud

Kalau sujud hidungnya harus nempel

Duduknya kayak gini nih

Pagi itu, Akhtar berdiri di sajadah imam menghadap teman-teman PAUD-nya yang sedang belajar shalat dhuha. Dengan suara melengking yang terdengar seantero masjid ia mempraktikkan gerakan shalat yang menurutnya benar.

Sementara itu, Kak Sani dan Kak Syiru pun sedang mendampingi anak-anak shalat, sambil mengajarkan bacaan shalatnya.

Dari kejauhan saya memerhatikan polah tingkah Akhtar yang tampak mendominasi teman-temannya. Sesekali ia menunjukkan ekspresi kesal dengan nada bicara sedikit gemas karena beberapa anak tidak mau mengikutinya.

Lama-lama saya gemas juga melihat Akhtar. Lantas menghampiri Kak Syiru untuk meminta izin bicara pada Akhtar.

Akhtar ngga ikut teman-temannya shalat dhuha?“, saya mengajak Akhtar bicara dengan sedikit berbisik dari balik mimbar dekat tempat imam.

Mim.. sebentar, Akhtar lagi ngajarin teman-teman gerakan shalat

Akhtarnya kok ga ikutan shalat?

Ia tampak tak menggubris perkataan saya.

Akhtar sini deh Mim mau bicara

Iih.. Mim jangan gitu..

Akhtar.. sini Mim mau bicara sebentar

Akhirnya ia menghampiri.

Akhtar, Kak Sani dan Kak Syiru kan lagi ngajarin teman-teman Akhtar shalat. Akhtar diam, jangan ikut bicara ya. Kalau Kak Sani dan Kak Syiru sedang bicara, Akhtar duduk, diam, dan dengarkan, oke?” Saya berkata dengan memberi penekanan pada kata-kata duduk, diam, dan dengarkan.

Saya mengulangnya sekali lagi, sampai Akhtar menjawab, “Oke“.

Untuk anak setipe Akhtar saya merasa perlu melakukannya karena kalau tidak ia akan bicara terus menerus bahkan di saat seharusnya ia diam.

***

Kejadian di PAUD kemarin itu mengingatkan saya untuk sedikit demi sedikit mengajarkan adab menuntut ilmu kepada Akhtar, termasuk di dalamnya adalah adab seorang murid terhadap gurunya. Karena keberkahan ilmu salah satunya didapat dengan berakhlak mulia terhadap guru.

Sejauh ini, belum pernah secara khusus saya sampaikan materi tersebut kepada Akhtar, hanya dari beberapa kelas PAUD terakhir saya mulai membiasakan Akhtar berpakaian rapi ke PAUD sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada guru dan ilmu, selain juga karena lokasi PAUD-nya berada di dalam masjid sehingga sudah semestinya ia berpakaian yang baik. Rapi, bersih, dan wangi.

***

Sebenarnya saya yang minta kemarin Bund.. Shalat dhuha sendiri-sendiri, tapi karena Azam dan Fattah gerakan Shalat nya masih belum teratur, akhirnya saya minta Akhtar. Dan karena Akhtar sepertinya mengerti kalo shalat dhuha itu munfarid, jadi Akhtar selesai shalat duluan”, demikian saya mendapat balasan pesan WA dari salah seorang guru PAUD Akhtar ketika saya membuka pembicaraan dengan memohon maaf jika Akhtar mengganggu konsentrasi teman-temannya saat belajar shalat dhuha kemarin.

Saya sejenak termenung. Pelajaran penting lainnya, tanyakan pada anak alasan yang mendasari tingkah lakunya, sebelum berprasangka.

#shineonbatch2

Lagi, Tentang Kereta Api

Leave a comment

Hey wargi Bandung, pengen jalan-jalan (agak) jauh tapi ga punya duit banyak? Coba deh naik kereta api lokal. Ada dua yang bisa dicoba yaitu KA lokal Bandung Raya jurusan Cicalengka-Padalarang PP dan KA lokal Cibatu-Purwakarta PP, keduanya melintasi stasiun Bandung. Tiketnya berturut-turut hanya 5000 dan 8000 rupiah sekali jalan. Murah apa murah banget?

Kalau untuk yang belum pernah atau jarang naik mah, perjalanan di kereta api ini sangat menghibur, terutama untuk anak-anak kecil.

Anak-anak kami termasuk yang gandrung sekali naik kereta api. Lagipula kereta api menjadi alat transportasi utama kami jika hendak ke Kota Bandung.

Meskipun sudah tak terbilang berapa kali mondar mandir berkereta api, paling sering untuk rute Padalarang-Cikudapateuh, anak-anak kami tetap sangat antusias ketika diajak naik kereta. Dan mereka selalu terlihat tertarik dengan apa yang dilihat sepanjang jalan, walaupun pemandangan serupa sudah mereka saksikan puluhan kali. Karena apa? Karena mereka selalu melihat sesuatu yang baru dalam setiap perjalanan, yang luput dari perhatian orang dewasa.

Lalu apa yang ditemukan di ujung perjalanan? Jika perjalanan berakhir di Padalarang, tempat yang kunjung-able itu diantaranya adalah kawasan Kota Baru Parahyangan yang memiliki beberapa tempat menarik seperti Puspa Iptek, Bale Seni Barli, nonton film 3D. Berbayar sih. Bagi penganut wisata ‘pelit bin minimalis’, ngampar di rerumputan sepanjang jalan Kota Baru sambil ngemilin perbekalan dari rumah juga udah menghibur haha. Atau berkunjung ke Masjid Al Irsyad, sekalian mengajari anak mencintai dan mempelajari adab-adab di masjid.

Kemarin, Sabumi pun baru mengadakan fieldtrip naik kereta api ke Plered, Purwakarta. Ada apa disana? Selain banyak penjual sate maranggi, dengan berjalan kurang lebih 10 menit dari stasiun, akan dijumpai tempat pembuatan gerabah. Anak-anak bisa ber-sensory play dengan meremas-remas, menekan-nekan, membentuk clay lalu memadatkannya pada cetakan yang sudah disediakan. Tanah liat yang sudah dibentuk harus dibakar selama 30 jam agar mengeras dan siap digunakan. Kemarin ditunjukkan pula tungku pembakarannya, besar dan panas (Allahu Akbar, panasnya api di dunia, apalagi…).

Sebelum pulang setiap anak dioleh-olehi celengan gerabah. Untuk mengikuti rangkaian aktivitas di pabrik gerabah ini, kami membayar 20 ribu per anak. Akhtar sih kemarin sekalian beli claynya juga, 6000 dapat sekitar 2 kg, atau lebih? Entahlah, pokoknya berat.

Beberapa waktu yang lalu pernah juga berkereta hingga Purwakarta. Yang akan dijumpai di stasiun sana adalah tumpukan gerbong bekas yang kumuh dan usang, yang (menurut saya) justru instagramable. Kalau saya sih, jadi ingat sekolahannya Toto Chan, dan berpikir apa tidak lebih baik jika gerbong-gerbong bekas itu dimanfaatkan daripada menumpuk seperti itu? Misalnya disulap menjadi rumah mini fungsional untuk masyarakat kurang mampu.

#ShineOnBatch2

Sumedang

Leave a comment

Saya pernah tinggal di Sumedang dari tahun 1990 hingga 1996. Saya menghabiskan 2 tahun TK dan 4 tahun SD disana, tepatnya di daerah Buahdua. Komentar seorang teman kuliah saya yang asli Sumedang, ketika saya bercerita pernah tinggal di Buahdua adalah, “Di kampung dong”. Sejujurnya baru kali itu saya mendapat komentar seperti itu. Karena dalam memori masa kecil saya, Buahdua tidak se’kampung’ itu kok, walaupun memang lokasinya harus ditempuh dengan kurang lebih satu jam berkendara mobil dari Kota Sumedang.

Berlalu 22 tahun, sepekan yang lalu saya berkesempatan mengunjunginya lagi. Ya, Buahdua. Walaupun saat tinggal di Buahdua saya masih kecil, namun cukup banyak memori yang terekam dalam kepala saya tentang peristiwa dan berbagai tempat disana. Pun berkesan karena disana saya memulai kehidupan sosial saya dengan lingkungan di luar keluarga.

Dan rekaman saya tentang Buahdua 22 tahun lalu tidak jauh berbeda dengan realita saat ini. Daerah ini tidak banyak mengalami perubahan. Ada hutan yang masih tetap hutan hingga saat ini. Yang dulu sawah masih juga sawah. Jalan rayanya tidak bertambah lebar ataupun terlihat lebih mulus. Masih saja sepi dan tidak ada lampu jalan yang menerangi. Tidak nampak ada bangunan baru yang signifikan mengubah wajah daerah ini. Bahkan duo minimarket yang dalam kurun bertahun-tahun belakangan ini menjamur di berbagai pelosok negeri, hanya saya temukan satu di sepanjang jalan (untuk hal ini saya bersyukur sih).

Rumah dinas yang dulu pernah kami tinggali dari tahun 1990 s.d 1993 kini kosong tak terawat. Suasana lingkungannya masih sama seperti dulu. Bahkan rumah kedua kami disana, hingga kini sama sekali tidak berubah. Di sebelah kanannya masih berupa kebun yang rimbun dengan berbagai pepohonan.

Disana kami hanya mampir mengunjungi mantan ART yang selama 6 tahun bekerja untuk kami, Bi Eras namanya. Tidak banyak yang berubah dari beliau kecuali uban yang tumbuh hampir di sebagian besar kepalanya. Kini ia jadi pemilik warung sangaaat sederhana di kampungnya. Emejing lho… di kampung itu saya masih menemukan bangunan rumah panggung di seberang warung si Bibi. Selain itu kami menyempatkan makan di warung sate langganan yang tempatnya masih sama saja seperti dulu. Dari warung sate itu kami bisa melihat Masjid Buahdua yang tampaknya baru direnovasi, tempat kami dulu menghabiskan waktu sore untuk mengaji atau bermain-main di halamannya yang luas.

Di seberang masjid itu dulu ada TK PGRI, sekolah saya, namun kini sudah menjadi bangunan kantor kepala desa.

Sebelum napak tilas di daerah Buahdua, kami sempatkan mampir juga di pemandian air panas Cileungsing. Jaraknya mungkin sekitar 3 km sebelum Buahdua. Dulu tempat ini adalah tempat wisata langganan kami, tak lain karena tidak ada lagi tempat wisata di daerah situ.

Di tempat ini ada 2 kolam renang air hangat, juga bak-bak dalam kamar mandi untuk berendam air panas, dan puluhan pancuran air panas yang mengalir deras dari kolam penampungan di atasnya. Sebenarnya saya membayangkan, tempat ini akan mengalami perubahan signifikan yang menyenangkan. Ternyata tidak juga. Penampakannya kurang lebih masih sama dengan 22 tahun lalu. Malah mungkin lebih tidak menyenangkan karena fasilitasnya terlihat usang.

Sayang sekali, dengan potensi air panas ber-belerang yang mengalir deras dari sumbernya itu, nampaknya tidak lantas membuat Pemandian Air Panas Cileungsing ini dilirik oleh pemerintah setempat untuk dikembangkan lebih menarik lagi. Malah dijadikan tempat kesyirikan, dimana saya baru ngeh disitu ada kolam kecil yang dianggap keramat dan mengandung barokah.

***

Buku Anak

Leave a comment

Memiliki anak membuat saya -tentu saja- lebih melek terhadap buku-buku anak. Daftar belanja buku pun bergeser. Yang dulu semasa lajang memilih buku untuk kesenangan pribadi aja… Seperti novel-novel keluaran terbaru, buku-buku rekomendasi pembaca Goodreads (btw masih eksis ngga ya sosmed perbukuan ini?!), dan buku-buku yang membuat kita, eh saya, merasa keren ketika membacanya. Hihi…

Setelah punya anak, alokasi uang belanja buku lebih banyak untuk buku anak-anak. Saya sih paling hanya beli satu atau dua buku terkait agama atau parenting per berapa bulan sekali. Itu pun awet bacanya alias ga kelar-kelar hahahaha. Antara males baca, ga sempet, dan mumet mraktekinnya… hadeuh.

Terkait isi buku pun menjadi lebih selektif, mengingat banyak buku-buku zaman old yang pada akhirnya dikeluarkan dari rak buku karena isinya sudah tidak relevan lagi dengan kebutuhan zaman now. Maka, jika sekali-kalinya beli buku lebih memilih buku yang bersifat referensi (eh tepat ga ya penggunaan kata referensi disini), yang saya maksud adalah buku-buku yang bisa kita baca kapanpun jika kita membutuhkan informasi tertentu, bukan buku sekali baca yang setelah itu hanya dipajang di rak buku. Masuk kategori ini adalah buku-buku sejarah dan agama.

Balik lagi ke buku anak…

Dalam 5 tahun terakhir saya (sedikit) memerhatikan dinamika buku-buku anak, dan mendapatkan fakta menggembirakan ketika sekarang ini buku-buku bagus (dari segi konten, bahan kertas, dan ilustrasi) tidak hanya milik penerbit buku-buku mahal. Bahkan banyak buku favorit saya (yang saya paksakan jadi buku favorit anak-anak juga haha) bukanlah buku-buku mahal yang berharga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah, melainkan ‘hanya’ buku-buku tipis murah namun konten dan ilustrasinya amat memikat.

Kini banyak pula buku-buku anak Islami yang gambar makhluk hidupnya sudah dihilangkan bagian wajah atau bagian tubuh tertentu demi tidak meniru ciptaan Allah.

Seiring dengan pesatnya perkembangan buku-buku murah berkualitas ini, saya merasa (hanya berdasarkan perasaan saya aja lho yaa…) promosi buku berharga jutaan yang biasa dijual secara arisan itu semakin hari semakin sedikit bahkan menghilang dari timeline medsos saya. Saya pun bersyukur bahwa dulu tidak sempat memiliki buku-buku tersebut walaupun sangat ingin. Karena secara hitung-hitungan mak irit macam saya, buku-buku tersebut tidak masuk dalam radar budget saya.

Oh ya tentang konten buku, orangtua sangat dimudahkan dengan bermunculannya penerbit buku khusus anak muslim sehingga kita tidak selalu harus memeriksa setiap halaman buku secara detail, namun cukup kenali latar belakang penerbitnya dan kita bisa yakin tentang keshahihan isi buku tersebut.

Karena tidak sedikit buku anak yang terkesan Islami nyatanya kurang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Older Entries