Officially, Nangkuban

Leave a comment

image

Selamat Ahnaf…
Ayo kita mengeksplorasi dunia mulai dari satu injakan kecil di atas kasur… :)

image

Di sisi lain,
“Ayo Ade… anikuban anikuban… ayo maju Ade…” Akhtar sambil tepuk tangan girang menyemangati Ahnaf yang mulai ngalangsud dengan bantuan kedua kaki, tangan, perut, dan… mukanya.

Ngomongnya yang Betul (part-2)

Leave a comment

image

Ada satu kucing tetangga yang sok kenal sok dekat banget sejak kami tiba di rumah kontrakan ini. Kucingnya lucuuu, bener deh, corak bulunya unik, walaupun sebenarnya si kucing ini hanya kucing kampung.

Sukanya masuk-masuk pagar rumah, lalu masuk rumah tanpa permisi. Ya eyalah. Seperti kejadian tadi pagi, si kucing sudah mulai caper sejak pintu rumah dibuka, seperti tau apa yang dituju, si kucing berjalan mengarah ke dapur… tapi berhasil dihalau keluar rumah.

Beberapa lama kemudian, saya kaget sekaligus bingung, karena si kucing tetiba melintas di depan mata saya dari arah dapur menuju pintu keluar dengan langkah percaya diri dan wajah tanpa dosa. Saya langsung ke dapur lalu menemukan beberapa sampah sudah keluar dari tempatnya.

Setelah berhasil mengusirnya keluar, kucing itu masih berusaha masuk melalui jendela yang terbuka, saya menepuk-nepuk badan dan kepalanya, “Keluaarr… ayo ayo keluaarr!”
Lalu… alarm mungil saya berbunyi, “Mim… ga boleh pukul-pukul ya…” saya melirik ke arah suara, dan melihat Akhtar berdiri dengan ekspresi kaget dan alis mengerut.
“Oh iya… maaf… meng maaf ya udah pukul-pukul. Ayo cepat keluar!”
“Mim… ngomongnya yang betul”
“Oh iya… meng sayang ayo keluar yuk…”, kata saya sambil mendorong lembut si kucing keluar pintu. Mamaaakk!

Rupanya si kucing pantang menyerah, dia tetap masuk keluar berkali-kali dari jendela lalu ke pintu… sampai saya tersenyum kecil mendengar dialog Akhtar dengan kucing, “Meng ga boleh masuk ya sayang, keluar ya meng” katanya sambil mendekatkan wajah ke arah kucing.

Oalaah…

Makasih Akhtar sudah mengingatkan Mim untuk bersikap lembut pada binatang :)

Nguber Uber

Leave a comment

Hari ini untuk ketiga kalinya menggunakan jasa Uber sejak berada di Tangerang dalam dua minggu ini. Dan hanya satu masalahnya… kontrakan kami agak sulit ditemukan oleh si sopir Uber walaupun sudah menggunakan GPS… heuh…

Bahkan hari ini kami membatalkan 2 request ke Uber karena si mobil tak juga sampai ke tempat kami, salah satu mobil malah nyasar sampai ke arah Bintaro.. Lho? Lho? Jauh amat…

Ketika cek aplikasi di ponsel saya pun, si posisi mobil di GPS itu kayaknya ga realtime… misal terlihat di Jalan A, tapi begitu menelepon si sopir, ternyata posisi mobil sebenarnya di Jalan Z, kan jauh yak?

Menggelikan karena waktu yang dihabiskan untuk menunggu jemputan lebih luamaa dibandingkan waktu tempuh kami ke tempat tujuan. Nunggu mobilnya setengah jam, padahal perjalanan kurang lebih hanya sepuluh menit, dengan ongkos kurang dari 20 ribu. Ya elah…

*curhatpentinggapenting*

Lalu… Tangerang

Leave a comment

2 minggu di Tangerang

*

Sejauh ini keluarga kecilku selalu pindah dari satu ‘kesumukan’ ke ‘kesumukan’ yang lain…

Jember yang agak hareudang… ke Pasuruan yang hareudang pisan… ke Jakarta yang semua orang mafhum akan kesumukannya… sempat ngadem di Bandung beberapa bulan, dan sekarang di Ciledug Tangerang yang bikin badan lengket karena keringat…

Kalau orang dewasa tentu lebih mudah menyetting diri, menaikturunkan standar kenyamanan agar tetap kerasan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang selalu jadi soal adalah anak-anak… yang standar kenyamanannya kadang gak langsung kita pahami, tanpa dialami sebelumnya.

Sebagai contoh, kontrakan sebelumnya di Jakarta yang menurut saya sudah nyaman, ternyata tidak membuat Akhtar bertahan lebih dari 3 bulan. Lebih tepatnya, saya yang kibar-kibar bendera putih duluan karena tak kunjung bisa mengatasi Akhtar yang selalu minta keluar rumah, berjalan jauuuh, atau sekedar berdiri di dekat rel kereta sampai 1 atau 2 jam… bahkan pernah lebih.

Dari pengalaman itu… kami mengevaluasi beberapa hal dan menetapkan kriteria tambahan untuk kontrakan berikutnya, apalagi kalau masih di metropolitan… diantaranya, punya teras dan pagar rumah sendiri, jalan di depan rumah tidak terlalu ramai, kalau bisa sih agak jauh dari jalan besar, dan maunya yang luas…

Nah… setelah suami setahun di Jakarta, dan hampir dipastikan tidak akan pindah tugas paling ngga untuk setahun ke depan, akhirnya keluarga kecil kami memutuskan hijrah lagi, kali ini mencoba peruntungan di Tangerang. Banyak syaratnya waktu mulai mencari iklan kontrakan di internet… selain yang disebutkan di atas, juga… kalau bisa di Ciledug, kalau bisa lagi di Jalan Tanah 100. Karena ada adik sekeluarga yang tinggal juga di kawasan itu.

Alhamdulillah… rezekinya anak-anak dapat kontrakan yang nyaman, bersih, baru, dan luas, punya pagar rumah sendiri, tapi tidak terlalu mahal, jalan depan rumah yang tidak terlalu ramai, di pemukiman penduduk yang tetangganya ramah-ramah, dan lokasinya di Jalan Tanah 100. Cocok!

image

Sejauh ini anak-anak kelihatan kerasan tinggal disini… kalau Akhtar bosan, ada sepupunya yang bisa diajak main bareng atau sekedar bersepeda ke tukang sayur… masalahnya hanya… disini agak gerah, jadi belum ada seminggu, yang kata orang ‘keringat buntet’ mulai muncul di beberapa bagian tubuh Akhtar dan Ahnaf.

Tangerang Rasa Jawa

Yang menarik, lingkungan disini didominasi pendatang dari Jawa. Sependengaran saya sih kayaknya kebanyakan Jateng atau Yogya. Para ‘pendatang’ ini sebenarnya sudah tinggal puluhan tahun dan meletakkan fondasi-fondasi kehidupan bermasyarakat disini. Mereka hidup mapan, berkeluarga, dan bermatapencarian disini. Kekeluargaannya kental sekali… kalau kata seseorang mah, ‘guyub’ ceunah. Bukan sekali dua kali tiba-tiba ada yang menyapa dengan ramah waktu bersepeda dengan Akhtar… yang ternyata mereka adalah tetangga yang selisih 1 sampai 2 rumah dari kontrakan. Bahkan sempat terkesima karena disapa dengan sangat ramah oleh ibu penjual gorengan yang jarak tempat jualannya ratusan meter dari kontrakan, harus melewati beberapa gang sebelum sampai di kontrakan kami, “Tinggal dimana Dek? Kok kayak baru lihat ya…”. Wow!

Sejauh pengalaman saya yang baru 2 minggu disini, langka sekali menemukan orang yang tidak berlogat Jawa. Dari pemilik rumah, tetangga, ketua RT, pedagang roti keliling, penjaja bakso, penjaga warung, pengangkut sampah, sampai orang-orang yang saya dengar sedang ngobrol di pinggir jalan pun berbahasa Jawa. Panggilan Bukde, Pakde, dan sejawatnya jadi ga asing terdengar di telinga. Saya pun jadi agak latah sebenarnya, kalau belanja ke warung sayur lalu dilayani oleh penjual berlogat Jawa dan dikelilingi ibu-ibu pembeli yang berlogat Jawa juga, ada sedikit usaha untuk men’jawa-jawa’kan logat saya. Ini persis seperti yang saya lakukan waktu di Pasuruan dulu… saya mencoba mengikuti logat setempat agar tidak terdengar asing, karena sekalinya saya pernah ‘keceplosan’ berlogat Sunda, beberapa orang melirik saya dengan ekspresi ‘aneh’. Wkwkwk…

Alhamdulillah…
(P)indah-(p)indah itu memang indah :)

Ngomongnya yang Betul

Leave a comment

Akhtar sangat menguji kesabaran saya dua minggu terakhir ini… hampir tiap hari menangis hanya karena hal yang sepele. Pun tidak jarang terbangun malam-malam lalu menangis tanpa alasan.

Nah, ketika Akhtar menangis seringkali saya bilang, “Coba Akhtar ngomongnya yang betul…” agar Akhtar berhenti menangis dan mengungkapkan keinginannya. Ngomong yang betul? Maksudnya gimana? Abstrak banget sih guwe :D

Gara-gara itu Akhtar jadi senang sekali menggunakan kata-kata itu sebagai senjata jika saya bicara sedikit keras… seperti bernada membentak… padahal maksudnya berbicara tegas…

Misalnya, ketika Akhtar sulit sekali diajak mandi “Akhtar, mandi dulu baru boleh main mobil-mobilan!”, dengan nada sedikit tegas.
“Mim ngomongnya yang betul”, Akhtar menimpali saya dengan sedikit rengekan.
Lalu saya ‘mengoreksi’ nada bicara saya menjadi lebih halus…

Ga kebayang ya? Ibaratkan… puding susu dan puding sutera, puding susu saja sudah lembut membelai lidah menurut saya, tapi Akhtar malah menuntut puding sutera. Masuk ga sih analoginya… :D

Ini bertolak belakang dengan sebelumnya, ketika nada bicara saya mulai meninggi, Akhtar tahu berarti saya mulai kesal, biasanya dia yang langsung bilang Maaf dengan ekspresi penuh penyesalan, lalu memeluk kaki saya.

Kini lebih banyak saya yang harus mengoreksi kata-kata saya, memeluk, lalu meminta maaf kepada Akhtar..

“Mim minta maaf ya.. udah bicara keras ke Akhtar”
Akhtar biasanya hanya membalas dengan anggukan kecil.

‘Ngomongnya yang betul’ ini sebenarnya jadi seperti alarm buat saya… ketika mulai kehilangan kendali dalam berkata-kata kepada Akhtar..

Imaginer Zoo

Leave a comment

A : Mim, ayo kita lihat gajah yuk…
M : Hayuk…

Lalu Akhtar berlari ke kamar, saya mengikutinya (pura-pura) excited dengan apa yang akan ditunjukkannya…

A : Mim, ayo kita angkat bantalnya… bismillaahirrahmaanirrahiim…

lalu Akhtar mengangkat bantal dan melemparkannya ke sembarang arah

A : Ituuu gajahnya adaaaaa…

Akhtar berteriak excited karena ‘menemukan gajah di bawah bantal’

A : Gajahnya bobo… gajah bangun gajaaah…

sambil tangannya menepuk-nepuk kasur

Di lain kesempatan,

A : Mim, ayo kita lihat ikan yuk Mim..
M : Ayo…

Lalu kami duduk bersebelahan di salah satu anak tangga…

A : Mim ikannya kasih makan Mim…

sambil membuat gerakan tangan seolah-olah sedang melemparkan makanan ke kolam. Saya pun ikut memberi makan ‘ikan-ikan’.

Ada lagi,

A : Mim, ayo kita lihat kambing Mim…
M : Ayo…

Lalu Akhtar menarik tangan saya, menuju pojok ruangan dekat mesin cuci…

A : Ini Mim kambingnya

Akhtar menunjuk sudut di pojok ruangan

A : Ayo kasih makan kambingnya yuk…

Lalu kami pun berjongkok, memeragakan kegiatan seolah-olah sedang memberi makan kambing…

Hihi… seruu… dan saya menyebutnya permainan Imaginer Zoo… kebun binatang dengan binatang-binatang khayalan Akhtar yang kandangnya tersebar di berbagai sudut ruangan, tak mustahil binatang sebesar gajah atau sapi pun bisa bersembunyi di balik bantal… dan hanya di dunia khayal Akhtar, kami bisa menyuapi semut makan rumput.

Dan, bermain pura-pura seperti ini banyaaak sekali manfaatnya untuk anak. Silakan cari artikel yang bisa lebih lengkap menjelaskannya. Kalau yang saya lihat dari Akhtar, bermain pura-pura ini meningkatkan kemampuan bahasa dan kreativitasnya, serta kemampuannya memecahkan masalah. Hampir selalu ada hal baru yang dipelajari setiap mengulangi permainan yang sama… misal perbendaharaan nama-nama hewannya bertambah, atau dialognya yang semakin dalam.

Sedangkan bagi saya, bermain seperti ini menjadi hiburan tersendiri yang bisa melepaskan penat…

Ibuuuu…

Leave a comment

Entah mendengar dari mana dan siapa yang mengajari, belakangan ini Akhtar senang memanggil saya ‘Ibu’. Panggilan ini digunakan bergantian dengan ‘Mim’ yang sudah biasa digunakan…

Panggilan ‘Ibu’ ini tidak hanya digunakan dalam keadaan sadar, bahkan dalam keadaan setengah sadar pun, misal ketika terbangun dari tidur, Akhtar seringkali refleks memanggil-manggil saya ‘Ibu’.

“Ibuuuu… Ibu sini Ibu… Ibu tungguu…”

Dan lama-lama saya merasa nyaman juga dengan panggilan baru itu… Kalau sesekali Akhtar memanggil saya Ibu, saya pun akan menyebut diri sendiri sebagai ‘Ibu’

“Iya Nak, Ibu disini…”

:D

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,687 other followers