Buku Favorit Ade

Leave a comment

“Aaa.. aaa.. aaa… ” Ade sedikit berteriak sambil berusaha menarik buku dari dalam boks buku. Saya keluarkan satu per satu buku yang sekiranya ‘aman’ untuk Ade, yaitu boardbooks yang ga mudah sobek dan buku-buku murceeeu yang sobek pun ga bakal bikin saya meradang hehe.

Tapi… Ade tampak acuh pada buku-buku yang saya sodorkan. Dia tetap berusaha meraih SATU buku yang terhimpit di antara buku yang lain.

A ha… saya baru paham, lalu saya keluarkan buku yang Ade maksud.


Yap… Ade suka buku tentang kereta api ini. Mungkin karena melihat Akhtar sering minta dibacakan buku ini. Di saat lain, Ade membolak-balik sendiri buku ini. Ketika saya tanya, “Coba tunjuk mana kereta apinya… ” Ade akan menempelkan telunjuknya pada buku, kadang tepat pada gambar keretanya, kadang tidak. Jadi perintah saya baru dipahami sampai “Coba tunjuk…”. 

“Ba.. ba.

Menyimpan Telur

Leave a comment

 ​

Saya lagi mimikin Ade di kamar, tetiba dari arah ruang depan terdengar Akhtar -yang lagi maniiiisss banget- menawarkan bantuan.

“Mim.. Akhtar masukin telurnya ke kulkas yaaa…”

Sebelumnya kami baru saja ke warung membeli telur.

“Oh no…”, batin saya… “Bagaimana kalau telur-telur itu jatuh… pecah… duuh…”

“Miiimm… telurnya masukin ke kulkas yaaa?”

Sekali lagi terdengar Akhtar berteriak, karena saya tak kunjung menjawab.

“I… Iyaaa…” saya mengiyakan ragu.

Tak lama, anak 3,5 tahun itu melintasi pintu kamar dengan langkah hati-hati, kedua tangannya memegang wadah berisi telur.

“Hati-hati yaa.. pelan-pelan…” saya mengingatkan sambil menajamkan pendengaran… waspada.

Tidak sampai satu menit, Akhtar masuk kamar membawa wadah kosong, dan berujar bangga, “Sudaaah…”

“Makasih ya… jazakallah…” ujar saya di mulut. Sementara dalam hati… “Ha? Cepet amat… ditaruh dimana telur-telurnya?!” masiiih saja menduga yang ‘ngga-ngga’.

Selesai mimik Ade, saya langsung menuju kulkas, mengecek ‘hasil kerja’ Akhtar. 

Dan…

Terlihat telur-telur itu tersusun rapi, pada tempatnya. Tidak ada telur pecah, bahkan tidak sedikit pun terdengar suara ketika satu per satu telur dipindahkan ke dalam kulkas. Kekhawatiran saya tidak terbukti… sama sekali.

Kalau saja saya menolak bantuan Akhtar tadi… dia akan kehilangan banyak sekali kesempatan untuk belajar hari ini…

Pertanyaan Berulang

Leave a comment

Akhtar (3,5 tahun) dan mungkin juga anak-anak lain seusianya, sangat senang mengajukan pertanyaan yang sama, dengan jawaban yang harus sama beeerrrrulang-ulang. Lucunya… ia akan gusar ketika kita memberikan jawaban berbeda dari biasanya.

Sebagai contoh, tadi pagi ke Bapak Sayur naik sepeda lewat jalanan yang agak rusak, maka Akhtar pun bertanya,

“Kenapa jalannya rusak?” 

“Karena belum diperbaiki…”, saya asal jawab ga mau mikir.. hihi.

“Bukaaan… kenapa jalannya rusak, Miim?” tidak puas dengan jawaban pertama, ia bertanya lagi dengan penuh penekanan di awal dan akhir kalimat.

“Iya… kan banyak dilewatin mobil, jadi jalannya rusak”, jawab saya.

“Bukan… rusak karena air sama mobil, gitu Mimm…”

Oh iya! Saya baru inget… kapan hariiii waktu lewat jalan yang sama, Akhtar pun bertanya, “Kenapa jalannya rusak?” dan saya menjawab,

“Karena sering tergenang air terus sering dilewati mobil besar” 

***

Ada lagi yang lain. Ketika jalan-jalan naik sepeda dan menemukan sampah tidak pada tempatnya, Akhtar hampir selalu bertanya,

“Kok buangnya sembarangan sih?”

Dan saya… HARUS menanggapi seperti ini…

“Eh iya… kok buang sembarangan, ga boleh dong, ga boleh ditiru ya, buangnya harus di….”

“Tempat sampah” katanya melanjutkan.

Ada variasi jawaban lain kalau untuk kondisi ini,

A: “Kok buangnya sembarangan sih?”

M: “Boleh ga buang sembarangan?”

A: “Ga boleh”

Lalu percakapan berikutnya kurang lebih sama.

Gara-gara pertanyaan berulang soal sampah ini, kepikiran lain kali sepedaannya sambil bawa kantong sampah untuk memungut sampah yang masih bisa dimanfaatkan. Hehe…

***

Sebelumnya, saya pernah cerita tentang kebiasaan Akhtar yang bertanya,

“Kenapa matanya jadi orang?” Ketika hendak tidur.

Sekarang, pertanyaan itu hampir tidak pernah diajukan lagi, diganti dengan pertanyaan, 

“Kenapa punggungnya gatal?” Katanya gogoleran sambil menggaruk-garuk punggung. Dan saya harus menjawab,

“Karena punggung Akhtar keringetan”, jawab saya.

“Kenapa keringetan?”

“Karena panas…”

“Kenapa panas?”

Nah.. kalau pertanyaannya siang hari, akan saya jawab, “Karena ada matahari”. Kalau malam… kadang saya jawab juga “Karena ada matahari”. Ya kan? Matahari ada tapi ngga menampakkan diri… wkwk..

Sering lho kita (orangtua) di-KO Akhtar dengan pertanyaan beruntun seperti itu. Jawaban kami, akan menjadi pertanyaan berikutnya, teruuus seperti itu sampai kami tidak bisa menjawab pertanyaan. 

Kuncinya… jawabnya kudu jujur dan masuk akal, dengan kata-kata yang mudah dipahami anak seusia 3,5tahun. Kadang sampai juga ke pertanyaan yang rumit untuk dijawab dengan kata-kata sederhana, akhirnya dijawab dengan ‘bahasa orang dewasa’ yang kadang-kadang harus disisipi kata-kata ‘sulit’ untuk dipahami anak balita itu. Setelah itu, Akhtar biasanya hanya akan menanggapi, “Ooh gitu…” seolah-olah mengerti, lalu berhenti bertanya.

*** 

Soal menjawab pertanyaan dengan jujur ini kadang menjadi sulit ketika kita ingin menyembunyikan kebenaran. Butuh trik khusus, agar jawaban tetap jujur dan memuaskan anak.

Sebagai contoh, Akhtar ingin main ponsel, sementara saya ga mengizinkan. Maka saya sembunyikan ponsel itu. Ketika Akhtar bertanya, “Hapenya mana Mim?” 

Saya akan menjawab, “Hapenya disembunyikan dulu ya…”

“Ooh.. hapenya sembunyi ya…” Akhtar lantas puas dengan jawaban itu dan tidak menanyakan HP lagi. 

Hihi… yang barusan itu saya sebut ‘trik imbuhan’ :p

Sebelum menggunakan trik ini, pastikan Anda memahami bahasa Indonesia dengan baik dan benar ya.

*belagu*

***

Apa lagi ya…

Hmm…

Udah deh kayaknya…

Ga jelas…

   

Ade…

Leave a comment

“Adeee…” begitu lah kami lebih sering memanggilnya, daripada Ahnaf. Ade yang kini sudah berusia 12 bulan, alias 1 tahun… ah ngga… sebut aja 12 bulan, terkesan ‘lebih bayiiik’ gitu lho :p

Ade yang kaleeemm… tapi belakangan ini lagi sering bikin ‘jengkel’ Mimnya karena sering terbangun malam-malam lalu teriak-teriak sambil guling-guling di atas kasur, entah ingin apa. Kepanasan ya De? *gebergeber* 

Ade yang lagi rajin belajar jalan… dua langkah… tiga langkah…rekor sampai lima langkah… grasa grusu melangkah memanfaatkan momen, sebelum hilang keseimbangan lalu terjatuh. Sering Mim bilang, “Ade sedikit-sedikit aja jalannya… tenang… t e n a n g…” walaupun Mim tau Ade ga paham.

Ade yang pemakan segalaaa… hampir memakan apapun yang Mim sodorkan di depan mulut Ade. Tapi, perawakannya tetap kecil, yah ini mah udah turunan. Yang penting sehat ya Dee.

Bahagianya Mim, karena sejauh ini Mim tidak mampu mengingat, kapan Ade menolak makanan karena GTM? Rasanya baru sekali dua kali, ketika pernah Ade sedikit demam atau tumbuh gigi. Itu pun tidak lama, dan tidak sampai GTM yang bikin Mim khawatir.

Ade itu seriiiing banget digangguin Aa. Kadang Mim lihat jempol kaki Aa udah nempel di muka Ade. Kadang punggung Ade diinjak. Atau didorong-dorong badannya karena menyentuh sedikit mainan Aa. Kadang dibentak karena mengambil mobil-mobilan Aa. Eh tapi… di luar itu… Ade paling keras terbahaknya justru kalau lagi main sama Aa. Disitu Mim merasa tenang. Di masa depan… Ade dan Aa akan jadi saudara yang saling menyayangi, saling membantu dalam kebaikan… aamiin.

Pinterrrnya Ade itu karena udah bisa ngambil sendiri buku dalam boks. Lalu membuka-buka sendiri buku tersebut dan ‘membacanya’, “Ab… ab… ba… baa…” katamu. Dan Mim amazed karena sesekali Ade membuka buku-buku berkertas tipis tanpa menyobek kertasnya. Walaupun lebih sering Mim larang karena takut bukunya rusak (huhu…) atau Mim tukar dengan buku lain yang walau rusak pun ga apa-apa.

Ade yang hampir ‘tidak memiliki barang pribadi’ kecuali sebagian pakaian, karena yang lainnya berbagi sama Aa… buku-buku, mainan, peralatan makan. Irit atau pelit sih Mim? Entahlah… rasa hati ingin menyebutnya sederhana, bersahaja, tapi mungkin masih jauh untuk masuk krieria itu. Prinsip Mim… selama suatu barang masih berfungsi layak sesuai maksud pembuatan, berarti belum perlu untuk diperbarui. *pelitlomim* *hush*

Ade yang mulai suka menirukan gerakan orang-orang sekitar. Ketika mendengar adzan Ade langsung memasukkan jempol ke dalam mulut. Lho De, mau ngapain? Oh ternyata maksudnya meniru Aa yang suka memberi kode ‘diam’ dengan menempelkan telunjuk di depan mulut “ssst… sssttt… dengerin adzan dulu” kata Aa berbisik-bisik.

Lalu, Ade pun ikut sujud menempelkan kening ke sajadah ketika melihat Mim shalat. Kadang-kadang diawali dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi seperti takbiratul ihram.

Ade yang sudah muncul ‘ego’nya dan ingin melakukan beberapa pekerjaan sendiri. Ingin memegang gelas sendiri, ingin makam sendiri. Tapiii… seringnya Mim terlalu malas untuk meladeni Ade… kalau minum dan makan sendiri pasti ada baju yang kudu diganti, ada lantai yang basah dan kotor. Padahal, disitu lah Ade belajar. Maafkan Mim ya De yang pamalesan ini… *maafin kagak nih?* 

Menjual Buku

Leave a comment

Seumur-umur (ngaku sebagai pecinta buku), baru kali ini saya menjual buku-buku koleksi pribadi saya. Buku yang rata-rata masih sangat bagus, beberapa malah terlihat baru, walaupun sudah bertahun-tahun disimpan.

Kalau soal buku saya termasuk yang ‘apik’ banget. Saya ga suka melihat buku saya terlipat, selembar pun. Saya ga suka lihat buku saya kotor. Saya ga suka lihat buku saya sobek. Dll. Aturan yang ‘ketat’ ini lah yang kemudian membuat orang lain segan meminjam buku ke saya.

Dipikir-pikir, sikap seperti itu ada ruginya juga. Karena jadi tidak banyak orang yang merasakan manfaat dari buku-buku saya. Padahal saya pun paling hanya membaca 1 kali, terutama buku-buku fiksi/ novel dan sejenisnya, kecuali buku-buku yang sangat-sangat menarik hingga saya bisa membacanya lebih dari satu kali.

Buku koleksi saya itu kemudian semakin menumpuk, rak buku pun sudah ga muat lagi. Puluhan (atau ratusan?) buku akhirnya harus disimpan di dalam kardus. Sudah beberapa kali saya menyeleksi buku-buku itu. Mana yang layak dipertahankan, mana yang dikeluarkan dari koleksi. Tapi, biasanya tidak banyak yang saya keluarkan dengan pertimbangan,

Sayang ah, kan bisa diwariskan ke anak cucu…

Sayang ah, siapa tau pengen dibaca lagi…

Sayang ah, kan suatu saat pengen buka ruang baca untuk umum, which means butuh koleksi buku yang banyaaak dari berbagai genre

Duluuuu, memang saya jenis pembaca segala genre, dari berbagai latar pemikiran penulis. Belakangan saya berpikir, bahwa ga semua buku mesti kita baca, ga semua hal mesti kita tahu, tahu sedikit hal tapi paham lebih dalam kan lebih bermanfaat, daripada tahu banyak hal tapi hanya permukaannya.

Lagipula, seiring dengan berkembangnya pengetahuan/ pengalaman, ada buku-buku yang kontennya ternyata ga sesuai dengan nilai-nilai yang saya percayai sekarang, bahkan saya punya lho novel grafis yang di dalamnya terselip bagian yang vulgar (p*rn*). Novel yang bagus banget menurut saya dari jalan cerita, grafis, dan latar belakang tempat dan waktunya, tapi kecolongan di bagian yang ‘ngga-ngga’nya itu… karena saya hampir selalu ‘memakan bulat-bulat’ rekomendasi dari orang lain di grup pembaca buku.

Seleksi besar-besaran saya mulai lakukan beberapa bulan kemarin. Pada tahap pertama saya berhasil mengeluarkan puluhan buku yang sekiranya tidak akan pernah saya baca lagi, dan saya rasa saya pun tidak ingin mewariskannya ke anak-anak.

Belasan buku saya wariskan ke sepupu saya di SMA yang sedang ada program perpus kelas di sekolahnya. Belasan lain masih menumpuk, entah mau diapakan.

Seleksi berikutnya saya lakukan bulan lalu. Kali ini, karena buku-bukunya masih bagus dan cukup populer (dilihat dari tema/ judul dan penulisnya), maka saya putuskan untuk menjualnya, lewat shopee… silakan cek toko saya ya sis :p https://shopee.co.id/asri_putri

Dan, ga menyangka responnya sangat bagus. Banyak yang berminat… sayangnya.. saya lagi di Tangerang sementara semua stok ada di Bandung, jadi beberapa pesanan terpaksa saya tunda prosesnya. Ya.. rezeki ga kemana :)

Nah, melihat respon yang baik pada buku-buku bekas ini, saya jadi kepikiran jualan buku bekas online saja haha… yaa semoga ada jalannya. Karena dari duluuu saya emang bercita-cita pengen punya usaha yang berkaitan dengan buku tapi belum ada usaha apa pun untuk mewujudkannya. *basiloe* *tekegeura* wkwk…

Celoteh Akhtar [1]

Leave a comment

*

Al Wahsi
Akhtar ngompol untuk yang kedua kalinya hari itu. Bekas ompol semalam pun belum dibersihkan, hanya ditutup kain dan bantal, eladalah siangnya malah ngompol lagi…

M : Akhtar mah ngompol terus ah… jadi tambah luas deh kasur yang kena ompolnya…

Dia menanggapi… 

mengejutkan…

A : Al wahsi* artinya maha luas… jadi ompol adalah al-wah-si

M : -_-‘

*maksudnya Al Waasi’ dalam Asma’ul Husna

– Nov 2016 –


**

Al Kahfi

Suatu hari Jumat…

A : Mim baca Al Kahfi…

Katanya, minta perhatian.

M : Iya.. sok

A : Al kahfiii… mal kahfiii… wamaa adrooka mal kahfiii…

M : -_-‘

– Nov 2016 –


***

Do’a Bocor

Mim buka pintu rumah.

M : Wah ternyata hujan… allahumma…..

A: … shoyyibannaafiaan…

M: Hujan itu salah satu waktu mustajabnya berdoa

A: Ya Allah… Ya Allah… semoga ga bocor lagi ya. 

Hari sebelumnya langit-langit dapur bocor.

A : Kok ga bocor lagi ya? 

Eh doi malah balik nanya.

M: Kan udah diperbaiki

A: Kalo bocor doanya gimana kalo bocor?

M: (mikir) Ya kayak tadi Akhtar berdoa aja, semoga ga bocor lagi ya Allah…

A : Ooh… 

– 22 Nov 2016 –


****

Takut

Akhtar lagi suka nahan pipis dua minggu terakhir. Seringkali baru mau ke kamar mandi setelah pipis udah sampai ujuuung…

Mim ngebujuk…

M : Akhtar ga boleh nahan pipis dong… waktu kecil Mim suka nahan pipis juga, habis itu pipisnya sakiiiitt. Trus kalau pipis Mim nangis karena sakit… 

Melanjutkan cerita dengan ekspresif

M : Abis itu mah Mim ga mau lagi nahan pipis, takut pipisnya sakit lagi.

A : Mim… takut itu kepada Allah…

M : Eh… hmm…speechless

– 17 Des 2016 –


*****


Ayo Belanja ke Warung!

Leave a comment

Gerai-gerai retail modern (baca: minimarket), yang sekarang ini menjamur hingga ke kampung-kampung, berdasarkan penelusuran saya di google, dikelola oleh korporasi besar yang mana pemiliknya tidak akan langsung jatuh miskin, bahkan jika seluruh masyarakat berhenti berbelanja ke minimarketnya.

Bandingkan… dengan warung kecil tetangga kita. Dimana pemiliknya, sekaligus yang melayani kita berbelanja mungkin menggantungkan pendapatan keluarganya dari omzet warungnya.

Mengingat hal tersebut… masih enggan kah kita berbelanja ke warung-warung kecil dan lebih memilih i*domaret atau a*famart demi alasan kenyamanan dan kepraktisan? 

Oke.. langsung aja kita kupas ya… Mengapa kita harus berbelanja ke warung?

Pertama… 

Warung-warung itu walaupun kecil namun fungsional lho. Memenuhi kebutuhan konsumsi dasar masyarakat di sekitarnya. Dari mulai bumbu dapur sehari-hari hingga kebutuhan kamar mandi. 

Warung pun biasanya menyediakan produk dalam kemasan ekonomis (baca: sachet) sehingga lebih ramah di kantong in case butuh suatu barang tapi tidak punya cukup uang untuk membeli barang tersebut dalam kemasan besar.

Kedua…

Menghindari konsumsi yang tidak perlu. 

Berbagai diskon atau promo di gerai retail modern kadang mengalihkan fokus kita dari catatan belanja yang seharusnya. Display produk pun diatur sedemikian rupa sehingga pembeli menjadi belanja lebih banyak. 

Belum lagi kalau belanja bersama anak. Mungkin ada pengeluaran lain yang sulit dihindari. 

Kalau tidak cukup kuat dengan godaan marketing mereka, maka cukuplah berbelanja ke warung tetangga.

Ketiga…

Terjadi interaksi sosial dengan pemilik warung. 

Pada umumnya, pemiliknya sendiri yang melayani kita berbelanja di warung. Di dunia yang semakin ‘dingin’ dan ‘asosial’ saat ini, interaksi hangat antar pembeli dan penjual di warung bisa menjadi salah satu obatnya.

Pembeli dan penjual bisa saling tahu nama masing-masing, bahkan penjual bisa tahu dimana rumah kita, tak jarang saling mengikhlaskan jika pembeli kurang bayar atau penjual kurang kembalian, atau mencatatnya sebagai deposit untuk pembelanjaan berikutnya. Ada saling percaya disitu, yang hampir tidak mungkin terjadi di minimarket. 

Hubungan yang baik dengan pemilik warung pun bisa mendatangkan bonus belanja ga terduga lho. Seperti mamah saya pernah diberi satu set cangkir oleh pemilik warung langganan.

Keempat…

Membantu pengusaha kecil lainnya.

Selain produk-produk kemasan pabrik besar, di warung juga tersedia barang produksi pengusaha-pengusaha kecil, pada umumnya berupa makanan ringan.

Kalau pernah memerhatikan beberapa penyuplai makanan ringan itu ke warung-warung, mereka adalah rakyat kecil yang menghantarkan produknya dari warung ke warung dengan hanya berkendara  motor, sepeda, gerobak, bahkan hanya dengan ditanggung make rancatan. (basa sunda hihi).

Saya ‘hanya’ ibu rumah tangga bergelar SE yang tidak (lagi) paham urusan hitung-hitungan perekonomian negara, ekspor, impor, anggaran negara, pajak, inflasi apalah inilah itulah. Yang paling mudah saya pahami adalah.. berbelanja ke warung adalah salah satu cara menggeliatkan aktivitas ekonomi di kalangan masyarakat ekonomi bawah.

Kelima…

Untuk barang-barang tertentu (bahan-bahan masakan terutama), kualitasnya lebih baik lho.

Contoh, yang sering saya beli… kacang ijo. Logikanya karena persediaan di warung itu sedikit, jadi perputarannya juga lebih cepat. Kacang ijo kemasan di gerai modern mungkin hasil pengemasan beberapa bulan lalu, karena melalui jalur distribusi yang lebih panjang sehingga barangnya tidak lagi fresh. Begitu pun bahan-bahan masak lain.

***

Jadi… kudu banget ya belanja ke warung?

Ya sebisa mungkin. Mungkin ada beberapa barang kebutuhan kita yang tidak tersedia di warung, ya sudah sesekali aja boleh lah ke minimarket.

Atau bisa juga dengan mencari barang tersebut ke warung/ toko yang lebih besar. Seperti, jika kita membutuhkan kemasan lebih besar untuk produk-produk tertentu. 

Eh tapi, kemasan plastik kecil di warung itu ga ramah lingkungan lho?

Memang iya, kemasan sachet/ isi ulang sebenarnya tidak lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan kemasan botol/ kaca. Solusi terbaik sebenarnya dengan mulai menggunakan barang ramah lingkungan. Back to nature gitu lho. Cuci piring/ baju pakai klerak, mandi pakai jeruk nipis+soda, gosok gigi pakai batang siwak, bumbu masak pakai yang alami. Tapi, bagi yang belum mampu (karena saya pun belum…) hiks, solusinya adalah belanja ke toko yang lebih besar untuk mendapatkan produk dengan kemasan botol/ kaca. 

Kalau di dekat rumah saya di Padalarang, ada toko grosir kecil yang lumayan lengkap dan harga barangnya bisa lebih murah daripada di I*domaret dan A*famart lho. Toko-toko serupa juga banyak terdapat di pasar-pasar tradisional dimanapun.

***

Nah, cukup punya alasan kan sekarang untuk back to warung?

Ayo kembali berbelanja ke warung!

 


Older Entries