LQ

Leave a comment

Tetiba banyak status di timeline Facebook tentang testimoni liqo.

Liqo secara bahasa artinya pertemuan (cek google), tapi dalam hal ini, istilah ini identik dengan sistem pembinaan dan kaderisasi yang dilakukan oleh sekelompok atau sese-partai di Indonesia ini. Maka tak heran, status tentang liqo beberapa hari terakhir ini banyak diunggah oleh -setahu saya- kader partai tersebut.
Awalnya tidak tertarik mencari tahu lebih jauh, saya pikir ini hanya agenda partai aja sehubungan dengan mulai akan bergulirnya pilkada di beberapa daerah… tapi kok beberapa ada yang menyertakan kata-kata “bid’ah”? Seperti merasa tertuduh bahwa melakukan liqo itu bid’ah? Ah tapi saya juga tetap ga penasaran mencari tahu.

Sampai seseorang membahasnya di grup Pengurus Sabumi, katanya beredar video seorang ustadz yang menyatakan liqo itu bid’ah, hanya belum ketemu link asli video tersebut, jadi belum diketahui siapa ustadznya dan apa isi pernyataannya. 

Lah, saya kok malah jadi penasaran googling akhirnya, dan sampailah pada status seseorang, seseorang yang liqo saya pikir, tapi adabnya di medsos minus banget menurut saya heuheu… entah lah… kata-katanya cenderung provokatif dan berpotensi memecah belah antar kelompok.

Disitu si pemilik status memposting video satu menit ceramah Ustadz yang diduga membid’ahkan liqo, ustadz yang kadang-kadang saya ikuti kajiannya di TV.

Lalu saya putar video tersebut dan beginilah transkripnya… 

Moderator membacakan potongan pertanyaan… ga begitu menangkap dengan jelas karena kalimatnya ngga utuh dan suaranya kecil.

Jawaban Ustadz:

“Pertama, liqo itu sifatnya sangat mengikat. Yang kedua, liqo itu murabbinya kakak kelas, bukan seorang alim yang betul-betul berilmu. Sementara dalam Islam, menuntut ilmu itu kepada orang yang betul-betul kuat keilmuannya, Pak. Bukan kepada sembarangan orang. Karena kan dalam metode tarbiyah kan itu ada liqo, liqo, liqo, kakak kelas yang akan menjadi murabbi adek kelasnya. Kakak kelas punya liqo lagi sama kakak kelasnya demikian sampai tingkat yang paling tinggi. Yang tingkat ini ga boleh langsung naik ke atas ini Pak (lalu Ustadz menunjukkan gestur menggerakkan tangan dari bawah ke atas) harus ngikutin yang ini dulu (tangannya kembali ke bawah).

Seperti itu terikat dengan apa… (tangannya membuat gerakan memutar seperti lingkaran) ya… seperti itu, Ikhwatul islam. 

Ini metode yang tidak pernah diajarkan Rasulullah dan para sahabatnya.

Yang diajarkan oleh…. 

(video terpotong)

Beberapa poin yang saya ambil dari isu ini:

1. Berpikir jernih, mengedepankan berbaik sangka kepada sesama muslim. 
Apa yang disampaikan Ustadz tersebut hanya satu menit dari keseluruhan isi kajian beliau, yang mana sampai sekarang saya belum menemukan video utuh dari cuplikan kajian tersebut. 

2. Periksa track record Ustadz yang bersangkutan. Kalau saya pribadi termasuk yang cukup sering mengikuti kajian beliau sih walaupun hanya lewat TV. Dan sejauh ini lebih banyak membahas tauhid, inti ajaran Islam. Kalau ada isi kajiannya yang tersangkutpaut dengan suatu kelompok pun mungkin karena menjawab pertanyaan jamaah seperti di potongan video tersebut.

3. Ustadz tidak secara gamblang menyebut metode liqo itu bid’ah. Saya sih menangkap maksud, yang dikatakan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah itu metode berjenjangnya itu yang berguru ke kakak kelas, ke kakak kelasnya lagi, ke kakak kelasnya lagi, yang mana kakak kelas yang menjadi guru itu pun belum tentu orang yang paham ilmu secara mendalam. 

4. Hati-hati provokator pemecah belah umat. Salah satunya, penyebar potongan video ini. Ah entahlah siapa mulanya yang menyebarkan potongan video ini, yang saya temukan ya seseorang di facebook itu, yang mana setelah saya cek histori status dan web yang dikelolanya memang isinya kurang menentramkan dan kurang santun cara bertuturnya, seperti di salah satu status orang tersebut berkata, “Liqo dibilang bid’ah, mukamu pun bid’ah”. Saya sih percaya, kata-kata yang keluar itu cerminan dari bersih/ kotornya hati.

5. Saling menghargai pilihan masing-masing, terus berusaha mencari ilmu dari sumber yang shahih. 

Wallahu’alam… 

Secara pribadi saya pun ada kesan-kesan tersendiri dengan metode liqo ini, plus minus tentunya. Mungkin akan dicurhatin di tulisan berikutnya 

Advertisements

(Bukan) Mesin Cuci Otomatis

Leave a comment

Jadi…

Gadget pertama yang saya prioritaskan untuk miliki ketika mulai tinggal bersama-sama suami (sebelumnya kami kost masing-masing) adalah mesin cuci. Dan pilihan kami jatuh pada mesin cuci otomatis front loading ini, dengan bayangan indah… “Nanti tinggal masukin cucian, tekan tombol, ditinggal masak, ditinggal boci, ditinggal jalan-jalan, dan… tadaaaa… pakaian pun bersih siap jemur”

Mesin cuci ini tepatnya dibeli sekira dua minggu sebelum Akhtar lahir. 

Namun… sebagai yang NGGA berpengalaman membeli mesin cuci otomatis sebelumnya, ada hal-hal PENTING yang luput dari pertimbangan kami, sehingga bayangan indah hanya angan-angan heuheu…

1. Mesin cuci otomatis butuh aliran air yang deras dan tekanan kuat

Maka… pada awal pengoperasiannya di rumah Jember, saya mengeluh karena mesin cuci tidak bekerja seperti yang dibayangkan. Seringkali si mesin berhenti di tengah-tengah proses mencuci, kadang bisa mencuci sampai selesai tapi lamanyaaaaa minta ampun. 

Ya jelas… tekanan air di rumah lemah. Tidak cocok untuk mesin cuci kami. Pada akhirnya, beberapa bulan terakhir di Jember kami harus menitipkan cucian di tukang laundry. Hiks banget ga sih…

2. Seharusnya ada satu keran khusus untuk memasang selang mesin cuci, jadi selang inlet tidak lepas pasang terus menerus

Sebenarnya bisa kok selang inlet ini dipasang hanya ketika mencuci, lalu dicabut lagi ketika selesai mencuci, tapi masalahnya (bodohnya kamiii…) kami ga ngeh bahwa selang itu tidak mesti dilepas bautnya setiap kali dilepas dari keran, cukup lepaskan tautannya.. ah ngerti kan ya maksudnya?

Enam bulan bersama si mesin cuci di Jember, akhirnya kami pindah ke Pasuruan. Alhamdulillah tidak ada masalah lagi dengan aliran air disana… hanya saja… hanya ada 1 keran yang memungkinkan untuk disambungkan dengan mesin cuci, dan itu letaknya di kamar mandi, jadi mau tidak mau si selang harus selalu dilepaspasang tiap kami menggunakan kamar mandi. 

Sekali dua kali ga masalah, lama-lama selang mesin yang terhubung ke keran longgar juga dan air tidak bisa masuk dengan sempurna, lebih banyak air yang terbuang. 

Alhasil… mesin tetap bekerja, di saat bersamaan kami pun banyak membuang air. Heuheu…

3. Mesin cuci ini tidak cocok buat yang sering pindahan

That’s why… mesin ini berat bangeeeedd… karena dia ditujukan untuk menetap di satu lokasi saja.

Sementara kami… dalam kurun 5 tahun, sudah 5 kali mesin ini diangkutpindahkan. 

Masalah muncul ketika kami memindahkan mesin dari Padalarang ke kontrakan Pasar Minggu, si mesin tiba-tiba tidak mau berputar, setelah memanggil tukang servis, ternyata masalahnya hanya karena ada kabel yang bergeser/ berubah posisi bla bla bla. Dan masalah kembali muncul ketika mesin ini dipindahkan dari rumah Abah ke rumah Akhtar, padahal ‘hanya’ dibawa nyeberang jalan aja beberapa puluh meter.

Kini…

Mesin cuci ini teronggok di pojok ruangan dekat kamar mandi… 

Sudah 2 kali memanggil tukang servis, katanya harus diganti water levelnya, yaitu sensor untuk mengatur jumlah air yang masuk ke dalam mesin cuci, sementara saya menunda untuk memperbaikinya, dan bertahan dengan mesin cuci (tidak) otomatis ini. Lucu… karena saya harus memasukkan air secara manual dengan gayung lewat wadah untuk memasukkan sabun cuci agar mesin tetap berputar.

Lama-lama hayati lelah… jadi sudah beberapa hari ini saya berhenti menggunakannya dan menitipkan cucian ke rumah Abahnya anak-anak. Karena jika tetap menggunakan mesin ini: 

– durasinya jadi lebih lama… bisa sampai 2 jam bahkan lebih baru selesai… listrik oh listrik, kami jadi lebih sering mengisi pulsa listrik

– belum tentu bersih. Karena setelah berjam-jam mencuci dengan air yang tidak memadai itu, saya biasanya tes salah satu baju dengan menguceknya di dalam ember, daann.. masih bersabun

– lebih cepat merusak pakaian, karena terlalu lama diputar di dalam mesin.

Opsinya sekarang…

– Ganti mesin cuci >> tapi nunggu ada budget dulu

– Memanggil kembali tukang servis dan mengganti water levelnya >> iya kalau masalahnya disitu, kalau ngga? 

– Menitipkan cucian di rumah Abah

– Mengangkut mesin cuci dari rumah Abah yang sebenarnya punya kami juga, yang kami beli waktu ngontrak di Ciledug.

– Bersabar >> paling penting ya ini… jangan banyak mengeluh dan berusaha menikmati episode drama si mesin cuci ini.. eaa.. 

Mengandung Curhat

Leave a comment

Yep, postingan kali ini mengandung curhat tentang mengandung anak ketiga. 

Hamil ketiga ga ketauan awal mulanya. Pokoknya suatu hari di usia Ahnaf yang ke 15 bulan, saya haid untuk yang pertama kalinya sejak melahirkan. Tidak tahu persis tanggalnya. Makanya saya ga pernah bisa jawab setiap ditanya HPHT. Setelah itu ga pernah haid lagi, dan saya ga berpikir akan kemungkinan hamil lagi. Karena sebelumnya sudah terlalu lama ga haid (9 bulan hamil Ahnaf+15 bulan setelah melahirkan), jadi saya ga begitu ngeh tentang kapan seharusnya haid bulan berikutnya.

Singkat cerita, memasuki bulan Syaban, menjelang Ramadhan, saya merasakan badan terasa lebih cepat lelah, sering merasa pusing, dan sedikit mual. Kenapa saya pakai patokan bulan hijriyah? Karena saya ingat, awal puasa Ramadhan waktu itu terasa berat buat saya. Tak lama dari mulai sering merasa pusing dan mual itu, masuklah bulan Ramadhan, dan hampir setiap hari saya merasa lemaassss… maunya tiduran terus, apalagi di siang hari yang panas. Untuk beranjak sholat pun kadang-kadang merasa susah menegakkan badan.

Sebetulnya saya sempat menyampaikan ke suami sebelum Ramadhan, “Jangan-jangan hamil lagi…” karena waktu itu sudah jalan dua minggu selalu merasa mual setiap hari. Namun, saya berusaha mengabaikannya… tidak pula penasaran untuk segera membeli testpack.

Di pekan kedua Ramadhan, akhirnya saya memutuskan menggunakan testpack. Alasannya… karena saya merasa ga sanggup puasa, dan ingin mengambil keringanan beberapa hari untuk ga puasa, tapi harus dipastikan dulu, rukhsah itu diambil dalam rangka apa? Kalau memang hamil, kan saya bisa ambil keringanan tidak puasa karena hamil.

Seperti yang sudah diduga, hasilnya memang positif, dan keesokan harinya saya tidak puasa sampai 7 hari berikutnya. Ketika merasa tubuh sudah cukup fit, saya kembali berpuasa di pekan terakhir Ramadhan.

Pertama kali periksa…

Pertama kali periksa ke bidan dekat kontrakan di Ciledug, mungkin hampir 2 bulan setelah testpack, di usia kehamilan yang mungkin memasuki 3 bulanHal yang mustahil dilakukan jika ini hamil pertama haha.

Saya ingat, hamil Akhtar dulu, 2 minggu telat haid, saya langsung testpack, dan keesokan harinya langsung ke dokter, yang mana janin pun katanya ‘belum turun’, tidak tampak di layar USG.

Dan hamil Ahnaf, walaupun lebih cuek dari hamil pertama, saya masih telaten ke dokter setiap bulan, walaupun sudah ga disiplin mengonsumsi vitamin.

Reaksi pertama bidan waktu itu, “Hah.. kamu ga KB?” Matanya terbelalak sambil melihat ke arah Ahnaf yang berlari-lari di ruang tunggu. 

Iya.. iya.. saya ga KB. So what gitu lho? Saya jawab dalam hati.

Setelah periksa dan ngobrol sedikit tentang ina inu.. kami pun pulang, membawa vitamin untuk 30 hari ke depan, yang mana vitamin itu pun ga habis saya makan sampai sekarang.

Periksa kedua…

Saya baru periksa lagi sepekan yang lalu di RS Hermina Pasteur, 3 bulan dari periksa pertama. Hari itu, hari terakhir di tahun 1439 H. Suami sengaja mengambil cuti 1 hari agar bisa mengantar ke dokter. 

Kami berangkat tanpa tahu akan ke dokter siapa. Pokoknya ke siapapun yang praktik hari itu, karena tujuannya ingin melakukan USG agar diketahui perkiraan usia kandungan dan penampakan janin dalam rahim.. hihi.. kasian belum pernah dilihat sama sekali.

Dapatlah seorang dokter perempuan yang praktik jam 2 siang. Dan dia terkaget-kaget karena tidak mendapati histori pemeriksaan kehamilan pada buku periksa saya. Lebih kaget lagi karena mengetahui sejak hamil baru 1 kali periksa ke bidan. 

Di awal, beliau malah seakan ga percaya kalau saya hamil, dengan melontarkan pertanyaan, “Selama 5 bulan ini ga haid?”. Dweng! Saya beralasan, baru bisa periksa karena suami di luar kota, jadi ga ada yang nganter ke dokter. Padahal tentu saja alasan sebenarnya lebih dari itu. Hehe.
“Ga KB ya?”. Pertanyaan itu lagi. Saya hanya mengiyakan pelan. “Oh.. pantes”, timpalnya.

Pemeriksaan dilakukan cukup lama, dokter mengukur beberapa anggota tubuh janin untuk memperkirakan dengan lebih tepat berapa usia janin. Dan di akhir pemeriksaan, beliau menyimpulkan usia kandungan adalah 22 weeks. Yang mana 40 weeksnya akan jatuh pada 23 Januari 2018. 

Ketika beliau hendak meresepkan vitamin, saya bilang masih ada vitamin dari bidan. 

Pertanyaan dan pernyataan yang membuat tak nyaman

Hamil ketiga dengan jarak yang tidak terlalu jauh dengan anak kedua, menimbulkan reaksi beragam dari orang-orang. Umumnya, mereka akan terlihat kaget dan menyimpulkan ini sebagai ‘kebobolan’. 

Qadarullah…

Walaupun sudah menjalankan program ‘KB alami’, kalau Allah berkehendak, ya hamil juga kan? Sebaliknya, yang ber-KB pun belum tentu ‘bebas’ dari kemungkinan hamil. 

Lagi pula tidak ber-KB adalah pilihan saya, karena saya merasa tidak nyaman ada benda asing masuk ke dalam tubuh saya dengan cara yang saya kira tidak nyaman juga – cat: orang-orang menyarankan KB dengan spiral-

Adapun KB dengan cara lain (KB hormonal) punya efek samping lebih banyak pada tubuh.

Saya merasa tidak nyaman ketika orang-orang terkesan menyalahkan saya karena saya ga ber-KB, lalu hamil. Itu ga perlu, karena…

  • Walaupun belum merencanakan untuk memiliki anak ketiga, namun saya bahagia menjalani kehamilannya, bahagia membayangkan akan ada anggota keluarga baru di rumah kami. 
  • Bagaimanapun kondisi kehamilannya, direncanakan atau tidak, hal yang harus pertama kali diekspresikan adalah rasa syukur, bukan menyalahkan si ibu. Bersyukur karena Allah masih percaya menitipkan satu anak lagi pada keluarga kami. 
  • KB itu pilihan. KB itu bukan satu-satunya penentu penunda kehamilan. Kalau si ibu tidak memilih ber-KB, maka hargailah keputusannya.

Yeah, itu sekelumit tentang KB. 

Ada lagi pertanyaan yang bikin saya ga nyaman.

“Kalau anaknya cowok lagi gimana?”

Gubraks!

Emang kenapa kalau anak saya cowok lagi? Situ ada urusan apa? Kasarnya sih pengen jawab gitu haha…

Orang kadang suka mengekspresikan sesuatu yang tidak perlu. Seperti ketika saya melahirkan Ahnaf. Ada aja komentar seakan menyesalkan, “Cowok lagi ya… ayo coba lagi”. Seolah-olah mereka lebih tahu yang terbaik daripada Yang Menakdirkan. Padahal kami tidak ada masalah dengan itu. Yang saya bayangkan sejak mengetahui anak kedua kemungkinan laki-laki lagi justru, “Wah menyenangkan ya ada 2 anak seperti Akhtar di rumah ini”.

Pun untuk anak ketiga ini pun saya tidak berharap akan terlahir laki-laki atau perempuan. Sama aja. Asalkan sehat. 

Minta kepada Allah agar diberikan anak dengan jenis kelamin tertentu pun sesekali saya lakukan. Ya, saya berdoa diberi anak perempuan. Namun, ketika nanti terlahir laki-laki pun, kebahagiaan saya tidak akan berkurang. Alhamdulillah… Alhamdulillah… berarti kami dipercaya menyiapkan satu lagi calon suami shaleh dari rumah ini.



Destruktif

Leave a comment

Kadang suka agak sulit memaklumi anak-anak (seumuran, lebih tua, atau lebih muda dari Akhtar) yang perilaku bermainnya bersifat ‘destruktif’. Emm, entah tepat kah saya menggunakan kata ini. 

Destruktif yang saya maksud disini… misalnya: 

menghancurkan mainan balok susun yang telah rapi, 

melempar-lemparkan kepingan puzzle sampai hilang beberapa pieces,

menabrak-nabrakkan atau melemparkan mainan,

main gegelutan dengan media boneka/ robot,

Dan seterusnya.

Anak-anak? Seperti itu? Wajar bukan?

Nah itulah… apa masalahnya di saya yang terlalu ‘perfeksionis’ soal cara bermain ya? Pokoknya saya merasa anak seusia Akhtar, bahkan kurang, seharusnya sudah bisa memainkan mainan sesuai peruntukannya. 

Sebagai orangtua, kita juga ga bisa dong terus memaklumi perilaku mereka dengan dalih “Namanya juga anak-anak…”. Toh, mereka sebenarnya bisa diajari kok untuk bermain yang baik dan benar. Justru karena masih anak-anak seharusnya pembiasaan itu dilakukan.

Anak satu tahun melempar, ya wajar, karena mereka ada pada tahap perkembangan itu. Tapi sedikit demi sedikit kan kita bisa mengarahkannya bagaimana bermain yang benar.

Terlebih jika yang dimainkan adalah mainan orang lain. Ada adabnya. Bagaimana adab meminjam, “Boleh pinjam?” Dan tidak memaksa jika tidak dipinjamkan, apalagi mengambilnya tanpa izin. Bagaimana adab memainkannya, tentunya dengan sewajarnya, tidak merusaknya, sehingga mainan dikembalikan tanpa kurang suatu apapun.

Memang kudu selektif memilihkan teman main untuk anak. Untuk balita, maka yang lebih perlu diseleksi justru orangtuanya. Akan lebih menenangkan jika teman balita kita datang dari orangtua yang punya prinsip pengasuhan yang sama dengan kita. 

Yang Dirindukan dari Ciledug

Leave a comment

Pindahan


Sudah satu bulan saya dan anak-anak resmi pindah dari kontrakan di Ciledug, saat ini menempati rumah pribadi di Padalarang. Kami pindah lebih dulu dengan hanya membawa sekoper pakaian, sementara barang-barang baru diangkut sepekan kemudian, tepatnya pada 27 Agustus 2017. Dengan kecepatan beberes seperti kura-kura, plus ‘bantuan’ dari anak-anak, suasana rumah baru terasa homy 2 pekan kemudian.

Ciledug, walaupun cukup jauh dari kampung halaman, dan cuacanya panas, tetap menyimpan seenggaknya satu kelebihan yang ga dimiliki lingkungan rumah saya di Padalarang. Yaituu… jajanannya murah-murah.  

Di kontrakan Ciledug, yang terletak di wilayah Sudimara Barat itu, dari pagi sampai malam tidak berhenti penjaja makanan lewat dekat rumah. Dengan rasa yang pas, harganya pun cukup bersahabat.

Sebagai perbandingan harga nih ya… kalau pagi-pagi itu biasanya lewat penjual bubur sumsum. Dengan merogoh kocek 3000-4000 kami sudah menikmati semangkuk bubur sumsum hangat plus beberapa butir candil, cukup mengenyangkan untuk sarapan. Sementara di Padalarang, kami harus membayar minimal 5000 untuk seporsi bubur sumsum.

Kalau masih kurang kenyang, agak siangan dikit lewat penjual pecel sayur. Saya sempat ternganga waktu membeli sepiring pecel sayur+gendar dan sepiring lagi bihun goreng+gendar, artinya 2 piring, dengan total harga hanya 7000. Sementara, 11-12 dengan pecel, di dekat rumah Padalarang ada yang jual lotek, yang seporsinya lebih sedikit dibandingkan dengan sepiring pecel sayur, harganya sudah 6000.

Lagi nih… rujak, salah satu makanan favorit saya, bisa lewat 3 kali dalam sehari, ada tukang yang lewat jam 10 pagi, jam 1 siang, dan jam 2 siang. Saya paling sering beli yang jam 2 siang. Pertama kali beli, karena belum tau harga, saya beli seporsi, terserah abangnya mau kasih berapa. Ternyata dia kasih rujak sepiring penuh seharga 7000, dimakan berkali-kali pun rasanya ga habis-habis. Akhirnya selanjutnya, saya beli 5000 saja, itu pun bisa saya makan berdua bareng suami kalau pas lagi di rumah. Sementara di Padalarang, saya harus merogoh 6000 untuk seporsi rujak, porsinya terlalu sedikit buat saya, kadang beli satu bungkus terasa kurang.

Ada lagi nih… sore hari, penjual cendol favorit Akhtar akan lewat sekitar jam 3 atau 4. Pada awalnya kami biasa beli 4000 dimakan bertiga (saya, Akhtar, Ahnaf), lama-lama bosen juga, jadi beli cukup 3000, lalu saya merasa 2000 cukup untuk Akhtar sendiri, kadang malah bersisa. Intinya, 2000 itu udah porsi pas untuk sekali makan. Sementara cendol di dekat rumah Padalarang, dipatok harganya 5000 per porsi. Hiks.

Lalu, di Ciledug juga cukup banyak penjual bakso, dan untuk ukuran tukang bakso keliling, rasanya enak. Dengan rasa yang enak itu, kami sudah kenyang dengan mengeluarkan uang 7000. Kalau di Padalarang, kadang rasa bakso keliling ga seenak rasa bakso yang dijual di warungan, yang mana berarti harganya pun lebih mahal.

Oh ya, ada yang ketinggalan nih. Gorengan. Kalau pagi-pagi, dekat ibu sayur langganan suka ada yang jual gorengan. Satu potongnya besar-besar, tapi harganya hanya 1000 per potong, yang mana dengan harga segitu, kami hanya mendapat sepotong gorengan yang lebih kecil di Padalarang.

Ya begitu lah… bagusnya di rumah Padalarang intensitas jajan sehari bisa dikurangi, karena rumah kami masuk gang kecil yang cukup sepi, sangat jarang penjual makanan lewat, jadi harus selalu sedia makanan/ camilan di rumah karena ga bisa mengharap ada tukang jualan lewat depan rumah saat kami lapar. Hihi.

Dari beberapa rumah kontrakan yang kami tempati, dengan mengabaikan cuaca yang panas, rumah kontrakan di Ciledug adalah yang ternyaman. Tidak heran karena kami adalah penghuni pertama di rumah itu. 

Sejauh ini, sudah 4 rumah yang kami tempati sejak Akhtar lahir… 

Pertama, rumah di Jember, banyak cicak, nyamuk, dan bermasalah dengan air dan saluran pembuangannya yang mampet. 

Kedua, rumah di Pasuruan, alhamdulillah tidak ada masalah dengan air, tapi gerah dan banyak sekali nyamuk.

Ketiga, rumah di Pasar Minggu. Saya sebenarnya merasa nyaman disini. Air deras, bersih, dan pemilik kontrakan sangat baik. Kalaupun ada kekurangan, kekurangannya yaitu susah sinyal internet dan kurang sirkulasi udara.

Keempat, rumah Ciledug, yang menurut saya paling ideal untuk rumah kontrakan. Minusnya dapurnya bocor kalau hujan deras, di luar itu sih ga ada keluhan, hanya kalau malam Ahnaf susah tidur karena cukup gerah.

Ya begitu lah suka duka pindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Dengan berbekal pengalaman di rumah kontrakan sebelumnya, biasanya kita akan punya standar tertentu untuk rumah kontrakan berikutnya. Yang menyenangkan dari berpindah-pindah itu adalah kami ga bosan dengan lingkungan yang itu-itu aja. Setelah ini pun (walaupun udah rumah sendiri) masih ada kemungkinan kami akan pindah lagi jika menemukan hunian yang lebih ideal. Semoga semua berjalan sesuai rencana. Aamiin…

Playdate Perdana di Rumah Akhtar

2 Comments

20170913

Ini sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, bahkan sejak rumah ini belum bisa ditempati, bahwa kelak saya ingin menjadikan rumah ini salah satunya sebagai tempat aktivitas anak-anak, dalam hal ini Akhtar dan Ahnaf, juga teman-temannya.

Demi merealisasikannya, kemarin saya melakukan ‘langkah kecil’ dengan mengadakan playdate kecil-kecilan di rumah.

Sejak resmi pindah kesini sekira sebulan yang lalu, saya sudah mewacanakannya dengan Teh Uwie (Sabumi) yang orang Cimahi, tapi tak kunjung terealisasi karena satu dan lain hal (intinya mah belum sempet ajah hehe). Pun playdate kemarin, Rabu 13 September 2017, pun sebenarnya terhitung dadakan, karena baru direncanakan matang 2 hari sebelum pelaksanaannya. Kalau saya sebenarnya lebih cocok dengan cara ‘dadak mendadak’ begini untuk playdate… karena kalau direncanakan terlalu dini dan terlalu banyak kepala yang mengusulkan waktu pelaksanaan dan teknis kegiatannya, seringnya malah ga jadi.

Adapun tema playdate yang diusulkan inginnya mulai dari mainan yang basic, misalnya membuat playdough. Namun, berpikir ulang, playdough itu membuatnya pakai bahan makanan (terigu, garam, dan minyak) tapi pada akhirnya dibuang, kan sayang ya… makanya saya berpikir gimana agar anak-anak tetap main dough, namun tidak sampai mubadzir. Akhirnya diputuskanlah untuk membuat kukis coklat.

Hari Ahad, 3 hari jelang playdate, saya dan Akhtar praktik membuat kukis coklat, dengan berbekal resep dari cookpad. Akhtar antusias banget dari mulai membuat adonan, sampai menghias kukis dengan chocochips, hanya saja ia tampaknya ga tertarik memakannya setelah kukis itu matang. Haha… Sebagian besar kukis di toples malah hancur, karena Ahnaf hanya memakan chocochips-nya.

***

IMG-20170913-WA0012

Untuk resep kukis coklatnya, saya coba bagi disini ya…

Kukis Coklat Chocochips

Bahan-bahan:

200 gr Margarin

200 gr Gula halus (kalau saya merasa segini terlalu manis, jadi kurangi aja takarannya)

2 butir kuning telur

2 sdm coklat bubuk

1 sdm maizena

1 sdm susu bubuk

1/4 sdt baking powder

300 gr tepung terigu

50 gr kacang mete ditumbuk halus (di resep aslinya ga ada)

Chocochips secukupnya

Cara membuat:

1. Margarin dan gula halus di-mixer sampai tercampur rata

2. Masukkan kuning telur, mixer

3. Masukkan coklat bubuk, maizena, susu bubuk, BP, mixer

4. Masukkan terigu sedikit demi sedikit, mixer

5. Lanjutkan mengadon dengan tangan jika sudah ga lengket di tangan. Masukkan kacang mete tumbuk. Tambahkan terigu sedikit demi sedikit sambil diadon sampai kalis

6. Cetak, beri chocochips di atasnya

7. Panggang dalam oven 180˚ selama 25 menit.

***

Pada hari H, yang hadir adalah Teh Uwie+Fatih, Teh Rini+Wildan dan Milki, dan Teh Indri+Echa dan Adin. Sedikitan ya? Tapiii tidak sedikit pun mengurangi kemeriahan playdate di rumah, terutama karena ada 3 ‘pemuda’ yang selama playdate tidak berhenti mengeksplorasi semua ruang dan semua mainan, dari mulai bermain-main standar di kamar main sampai memandikan 2 mobil besar di kamar mandi.

Lalu bagaimana dengan agenda bikin kukisnya? Ternyata anak-anak itu hanya bertahan sampai proses mencetak kue, ada yang bahkan hanya bertahan sampai membuat dough. Sisanya lebih banyak emak-emaknya yang mengerjakan. Tak apa lah ya, yang penting semua happy. Anak-anak happy, ibu-ibu pun happy karena bisa ngobrol sagala rupa plus membawa pulang masing-masing setoples kukis.

Rangkaian acara berakhir sampai adzan Ashar berkumandang, molor jauh dari yang direncanakan selesai pada jam makan siang. Ah tapi terlihat tidak ada yang keberatan kok, semuanya menunjukkan wajah lelah yang bahagia :)

Sekian laporan playdate perdana di rumah Akhtar. InsyaAllah kami akan mengadakan playdate-playdate selanjutnya dengan tema-tema memikat lainnya.

Akhtar dan Kereta Api

Leave a comment

Akhtar sukaaa sekali menggambar. Dan tema gambar favoritnya selain mobil, adalah kereta api, sesekali menggambar yang lain juga. Sampai bosan saya ngeliatnya, tapi anaknya tampak enjoy, maka saya memilih menahan diri dari berkomentar, “Bosen…”. 

Gambarnya standar… ia akan membuat gerbong-gerbong kereta api, dalam satu halaman kertas bisa membuat beberapa rangkaian kereta api.

Namun yang saya perhatikan, gambarnya mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Dari yang dulu hanya menggambar gerbong-gerbong berbentuk oval dengan dua roda di bawahnya, lalu bentuknya semakin ‘jelas’ dengan tambahan jendela-jendela. Lalu jendelanya dibuat lebih variatif di setiap gerbongnya, gerbongnya pun mengalami perkembangan bentuk, dari yang hanya berbentuk persegi panjang, kadang ditambah ‘aksesoris’ tambahan di atasnya. 

Kemudian, Akhtar mulai memberi nama untuk kereta-keretanya. Awalnya saya yang menuliskan nama-namanya di atas gambar setiap rangkaian kereta api, namanya aneh-aneh… namun sekarang tak jarang Akhtar yang menuliskan keterangan nama kereta dengan nama-nama yang real. Argo Parahyangan, Argo Bromo Anggrek, Taksaka, Argo Wilis, Cirebon Ekspress, kereta barang… nama-nama itu dibacanya dari buku tentang kereta api, selain karena pengalamannya juga naik beberapa jenis kereta api.

Sekarang-sekarang, sering saya tanya hasil akhir gambarnya. Ternyata dari puluhan lembar gambar kereta api, ceritanya bisa berbeda-beda. 

Dari mulai latar tempatnya yang bisa di berbagai lokasi stasiun (paling sering Stasiun Padalarang) lengkap dengan penjelasan dimana lajurnya. Atau jenis gerbongnya, ia bisa tunjukkan mana gerbong eksekutif, bisnis, ekonomi, gerbong makan, bahkan gerbong mesin. Yang terbaru, ia menuliskan “DJARUM” dan “COKLAT” pada 2 badan kontainer berurutan yang diangkut rangkaian kereta barang, entah dimana pernah melihatnya…

Dll dst dsb dtt cpd ydd ybb… 

Older Entries