Sabana Homestay

Leave a comment

Saya hendak menuntaskan tulisan dua pekan lalu yang ga kelar-kelar. Salah satu episode trip ke Yogya kemarin. Rasanya sayang jika tidak diabadikan, karena ini pengalaman pertama kami tinggal di homestay.

***

Ketika memilih penginapan untuk tinggal di Yogya, tentu saja hotel sudah kami coret dari opsi. Kenapa? Karena kami akan menginap sampai 5 malam, maka hotel bukan lah pilihan yang bijak untuk dompet.

Pilihan pertama dan utama jatuh pada homestay. Di awal saya sudah me-list kriteria homestay yang dicari. Pertama, dekat dari UGM. Kedua, yang utama adalah lingkungannya aman untuk anak. Kemudian ada dapur, kulkas, dan kalau bisa ada rice cooker juga.

Hasil meng-googling, saya menemukan beberapa homestay yang dirasa memenuhi kriteria yang saya cari. Sekalian waktu itu saya copy link alamatnya ke adik saya yang tinggal di Yogya untuk memastikan lokasinya nyaman dan aman untuk anak atau ngga.

Hingga pilihan terakhir jatuh pada Sabana Homestay, karena Sabana yang paling memenuhi apa yang saya butuhkan.

Lokasinya tidak terlalu jauh dari UGM. Saya cek pakai aplikasi gojek, jaraknya kurang lebih 3,6 km ke kampus MM UGM dengan ongkos gopay hanya 5.000 rupiah.

Ada kulkas dan dapur mungil plus peralatan masak dasar juga sehingga memungkinkan saya menyiapkan masakan sederhana untuk anak-anak.

Ada halaman cukup luas di depan sehingga anak-anak bisa aman bermain disana. Dan menurut info dari adik saya. Jalan depan rumahnya kecil dan tidak banyak dilalui kendaraan.

Terakhir, review di internet bagus-bagus. Katanya pemiliknya ramah, suasana homey, kamar bersih, dll dll.

*

Turun dari Argowilis sekitar jam 16.00 hari itu, kami langsung meluncur ke Sabana Homestay. Jaraknya 3 km-an dari stasiun.

Sesampainya disana disambut oleh pemiliknya yang bernama Mas Daniel. Bagi yang muslim, juga disuguhi sedikit kejutan dengan tertempelnya salib di atas pintu ruang tamu. Hihi. It’s ok.

Sebagaimana konsep homestay, kami tinggal satu lingkungan bersama keluarga pemilik homestay. Di bagian belakang rumah tinggal mereka, terdapat beberapa kamar yang disewakan kepada tamu.

Berdasarkan rekomendasi Mas Daniel, kami memilih kamar deluxe dengan dua tempat tidur single, kamar mandi dalam, ada air panas, AC, dan wifi yang kenceng. Katanya kamar deluxe ini yang paling luas, sehingga paling cocok untuk yang membawa tiga anak kecil seperti kami.

Namun jangan dibayangkan kamarnya seluas kamar hotel lho ya. Luasnya kurang dari 12 meter persegi. Memilih homestay artinya kita harus menghilangkan mindset nginep di hotel.

Namun jangan khawatir, kamar tidur dan kamar mandinya bersih, dan kami mendapatkan pinjaman kasur tambahan secara cuma-cuma, walaupun seharusnya bayar. Saya catat hal ini sebagai salah satu kelebihan homestay. Karena dikelola secara kekeluargaan, jadi pemiliknya ga itungan. Bahkan saya dapat pinjaman rice cooker juga, tanpa biaya tambahan.

Selama di homestay saya menonaktifkan paket data saya dan mengandalkan wifi-nya yang kenceng. Mungkin karena tamunya sedikit juga kali ya. Kami disana berbarengan dengan seorang tamu dari Jepang di sebelah kamar kami dan seorang muslimah dari Belanda yang saat kami ke sana sedang tidak berada di Yogyakarta.

Sabana ini terletak di Gang Sawo yang berada di Jalan Urip Sumoharjo. Jalan Urip ini jalanan besar yang kiri kanannya terdapat pertokoan, perkantoran, mal-mal, dan beberapa supermarket. Jadi mudah saja kalau ada keperluan membeli apa-apa.

Dan benar sesuai info adik saya, walaupun hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari Jalan Urip, jalanan depan homestay adalah jalanan yang sepi. Lingkungannya aman, nyaman, dan bersih. Sehingga pada hari kedua dan seterusnya saya melepas anak-anak main di halaman bersama anak-anak lain tanpa saya awasi. Bahkan Akhtar sempat izin pergi ke warung dan saya izinkan, tanpa pengawasan.

Oh ya, anak-anak disana dapat teman main baru, anak-anak pemilik homestay. Namanya Panca (6 tahun), Keila (taksiran saya sekitar 4 tahun), dan Arahdi (seumuran Ahnaf, 2 tahunan).

Pada hari pertama, anak-anak full hanya bermain di dalam kamar. Baru pada hari kedua dan seterusnya, saya sengaja membuka pintu kamar -apalagi jika si Mas Jepang itu sudah keluar kamarnya- sehingga anak-anak bebas main keluar kamar.

Dan, memang udah naturalnya anak-anak ya… baru berkenalan, tau-tau mereka sudah asyik main saja di teras rumah depan. Walaupun pada awalnya saya perhatikan Akhtar hanya berdiri di pojok halaman memerhatikan anak-anak yang lain bermain.

Secara keseluruhan, saya puas dan senang tinggal di Sabana. Terutama karena anak-anak pun merasa senang dan nyaman dengan suasana dan teman-teman barunya.

Tinggal di homestay juga memungkinkan kita ‘mengenal’ masyarakat sekitarnya. Seperti pada malam pertama, saya membeli makan malam ke warung dekat homestay dan dilayani oleh ibu baik hati yang bahkan hampir hendak menunjukkan dapurnya untuk memperlihatkan masakan bakmoy yang asing di telinga saya.

Kemudian saya pun sempat berbelanja 3 kali ke ibu penjual sayur keliling. Dan pada pertemuan kedua, saya sudah percaya untuk menyimpan uang kembalian di si ibu.

Tinggal di homestay membuka wawasan baru tentang alternatif penginapan yang bisa dipilih jika ke Yogya, selain hotel. Dan sepertinya, karena warga Yogya itu sudah terbiasa menerima tamu, wisatawan, pendatang, dari berbagai wilayah/ negara jadi mereka begitu luwes melayani orang-orang asing yang berkunjung. Ramah, hangat, dan tulus, seperti di rumah sendiri :)

Advertisements

Manajemen Sampah di Rumah

Leave a comment

Sudah tak terhitung berapa kali saya menata perabotan di rumah sejak resmi pindah kesini setahun++ yang lalu (Agustus 2017).

Pindah sini pindah sana, keluarkan ini masukkan itu, geser kiri geser kanan, demikian seterusnya sampai saya menemukan posisi yang pas untuk setiap benda itu.

Termasuk juga soal ‘menata’ sampah.

Dulu sih saya memasukkan sampah dalam satu keresek, mengikatnya, lalu menaruhnya di halaman depan sampai petugas sampah mengangkutnya sepekan sekali setelah sampah-sampah itu mengeluarkan bau busuk.

Namun, sejak lebih concern pada pengelolaan sampah rumah tangga, dan mengetahui bahayanya jika mereka berakhir di TPA, maka saya mulai mengatur ulang bagaimana barang-barang yang terlanjur menjadi sampah itu dipilah dan disimpan di dalam rumah dahulu sampai waktunya dikirim ke tujuan masing-masing.

Karena perihal sampah ini, rumah saya tidak pernah beres belakangan ini. Saya sudah tahu sumber ketidakberesan ini adalah karena sistem pemilahan dan penyimpanan sampah yang belum efektif.

Kecuali sampah organik, yang sudah punya komposter sebagai terminal sejak beberapa bulan lalu, sampah-sampah plastik dan kertas adalah masalah tersendiri bagi saya. Terutama sampah plastik, terutama plastik kemasan, terutamaaa ketika saya belum tahu, bahwa ada perusahaan/ komunitas tertentu yang menerima sampah kemasan, sementara bank sampah belum mau menerima sampah jenis ini.

Awalnya, karena tidak tega melihat mereka berakhir di TPA, saya hanya mengumpulkannya di dalam keranjang besar, dan satu-satunya cara yang terpikir adalah dengan membuat ecobricks. Tapi bikin ecobricks itu bikin hayati lelah. Makanya saya merasakan euforia ketika tahu ada social enterprise, sebuah perusahaan pengelola sampah (search: waste4change) yang mau menerima berbagai jenis sampah plastik. Langsung saja semua sampah itu saya keluarkan dan kelompokkan berdasarkan jenisnya. Sejauh ini saya hanya mampu membuat kategori seperti ini:

– kresek

– plastik bening

– plastik kemasan

– plastik mika

– botol plastik bening

– botol tidak bening (apa sih ya nyebutnya)

– serpihan plastik

Yang saya sebut terakhir itu adalah plastik-plastik kecil seperti bekas potongan kemasan, yang saya sendiri tidak yakin apakah perusahaan tersebut mau mengelolanya atau tidak.

Setelah beberapa hari lalu mengirim sampah-sampah itu ke waste4change, kini saya mulai bisa menata ulang sistem pengelolaan sampah di rumah, yang mana hasil akhirnya untuk sekarang adalah sebagai berikut:

– Sampah organik masuk ke komposter. Saya pakai compost bag dari EasyGrow ukuran 79 liter.

– Sampah kertas saya masukkan secara terpilah ke dalam satu keranjang besar. Sementara ini saya pilah sbb: buku bekas, kertas A4 bekas coretan anak-anak, kertas campur-campur, karton dan dus kemasan, kotak minuman. Rencananya segera saya kirim ke bank sampah.

– Sampah bersih dan kering, selain kertas (mostly plastik-plastik), saya masukkan ke satu keranjang belum terpilah. Rencana selanjutnya akan saya pilah juga di awal agar pekerjaan memilah tak menumpuk.

– Sampah plastik kotor saya langsung masukkan ke bak cuci piring, untuk dicuci berbarengan dengan peralatan dapur. Setelah kering dan bersih dimasukkan ke keranjang sampah yang saya sebut di poin sebelumnya.

– Dan… Saya pun masih menyiapkan satu wadah sampah khusus untuk pospak, karena walaupun berusaha berclodi buat 2 anak bayi, ada kalanya saya masih pakaikan pospak terutama jika keluar rumah seharian.

Ya, baru segini ini lah kemampuan saya, di luar itu juga terus berusaha mencegah sampah baru masuk ke dalam rumah.

Karena 100% zerowaste rasanya belum mungkin, sekarang sih target realistisnya adalah mengirim sesedikiiit mungkin sampah ke TPA, kalau bisa zero to landfill. Sudah dua pekan berjalan ‘hanya’ membuang pospak. Bukan berarti tidak ada yang lain sama sekali. Di dalam rumah saya masih berjibaku dengan sampah-sampah lain yang berusaha saya pilah dan olah.

Dan tidak melupakan, bahwa sumber pencemaran lingkungan bukan hanya dari sampah-sampah yang secara fisik terlihat. Limbah-limbah cair dari dapur dan kamar mandi juga perlu kita pikirkan. Juga berbagai efek negatif terhadap lingkungan dari peralatan listrik yang kita gunakan atau gaya hidup yang kita jalani.

***

Every baby step matters…

Yang masih ragu untuk memulai, pikirkan, bumi seperti apa yang akan diwariskan kepada anak cucu kelak?

#shineonbatch2

Kematian sebagai Pengingat

Leave a comment

Sudah dua orang teman (terhitung dekat) yang anak-anaknya meninggal karena kanker.

Yang pertama adalah Quinn (putri Gipu) yang meninggal persis satu hari sebelum Akhtar lahir. Dan hari ini Arkan (putra Karlina).

Walau tidak mengenakkan, berita-berita kematian seperti itu sangat efektif membuat diri ini termenung, mengingat betapa dekat kematian itu, tak kenal usia.

Mereka yang ditakdirkan meninggal di usia yang sangat muda, bahkan sebelum baligh, sudah mendapat jaminan kebahagiaan di akhirat kelak.

“Anak-anak orang mukmin ditanggung Nabi Ibrahim di surga”. [HR Ibnu Hibban 1826, dishohihkan oleh Syeikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ 3/155]

Referensi: https://bimbinganislam.com/kedudukan-anak-kecil-dan-bayi-muslim-ketika-meninggal/

Lah kita, apa kabar? Dimana kita akan berakhir, surga atau bukan? Ah menyebutkannya langsung pun sudah mengerikan.

Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan
(HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani).

Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.

Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/2822-kematian-yang-kembali-menyadarkan-kita.html

Berita kematian seorang anak pun membuat saya semakin mensyukuri nikmat memiliki anak-anak yang sehat.

Salah satu cara mensyukurinya adalah dengan memberikan pendidikan terbaik kepada mereka. Yang terbaik itu yang seperti apa? Tentu saja yang sumbernya dari Allah dan RasulNya. Karena Allah sudah menurunkan manual book, maka buku cara pengoperasian itu yang kudu sering dibaca dan dipelajari biar hidup ga error.

Cara mensyukuri yang lain adalah dengan senantiasa mendoakan kebaikan untuk mereka. Diantaranya agar mereka selalu sehat, diberi umur panjang yang berkah, yaaa walaupun panjang pendeknya masa hidup hanya Allah yang tahu. Pun kita tak tahu, siapa yang akan meninggal duluan, kita atau anak-anak kita?

Kalaupun kita ditakdirkan meninggal sebelum anak-anak dewasa, maka bekal utama bagi mereka adalah pengetahuan tentang Allah, karena jika mereka mengenal Allah niscaya mereka tidak akan tersesat.

Sementara bekal yang sifatnya harta benda/ keduniaan, bukanlah yang paling utama. Walaupun tidak menafikan hal itu juga perlu dan lebih baik jika kita tidak meninggalkan keluarga dalam keadaan lemah, diantaranya lemah finansial.

Lagipula setiap manusia diciptakan sudah satu paket dengan jatah rezekinya, ‘hanya tinggal’ usaha bagaimana cara menjemputnya. Sekali lagi, yang perlu dibekalkan kepada mereka adalah batas-batasnya, apa yang boleh/ tidak boleh menurut aturan Sang Pencipta.

Dan… Kalaupun ditakdirkan di antara anak-anak kita ada yang meninggal terlebih dahulu, lagi-lagi keimanan yang kuat kepada Allah lah yang membuat orangtua bertahan. Bertahan untuk tidak menyesali takdir, atau kufur terhadap takdir Allah. Mengimani bahwa apapun yang terjadi adalah kehendak Allah yang sudah dicatatkan 50 ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.

Sesungguhnya, apa yang saya tuliskan di atas ‘hanya’ sekedar tulisan. Dan yang menuliskan tidak se-ideal dengan yang dituliskan. Saya masih belajar.

#shineonbatch2

Kemana Becak Yogya?

Leave a comment

Salah satu kekhasan Yogyakarta adalah becak yang menjadi moda transportasi andalan para wisatawan, dan penduduk lokal juga saya kira.

Dulu sih (sepengamatan saya), becak-becak itu jamak terlihat di setiap ruas jalan kota, baik di area wisata seperti Malioboro, maupun bukan.

Beberapa tahun lalu mereka masih menawarkan diri mengantar wisatawan ke semua tujuan dengan ongkos hanya 5.000 rupiah. Walaupun secara hitung-hitungan rasanya ga masuk akal, tapi yaa biasanya mereka mendapat fee juga dari pemilik tempat yang dikunjungi wisatawan yang mereka antar.

Saya sih sejujurnya tidak pernah tergoda naik becak 5.000 karena ragu dengan ongkos yang terlalu murah itu, khawatir kecele lalu diharuskan bayar mahal di akhir. Alasan lainnya karena males juga kalau diantar ke tempat-tempat yang ngga ada di daftar tujuan kita.

Ga berarti saya ‘anti’ becak ya. Empat tahunan lalu di Yogya, kami masih menggunakan becak dalam perjalanan dari Malioboro ke penginapan. Becak menjadi pilihan terbaik saat itu karena taksi agak sulit didapat.

Kalau naik becak, jangan menawar terlalu sadis. Lebih mahal daripada taksi adalah wajar, secara mereka menguras keringat lebih banyak daripada sopir taksi.

Selama di Yogya sekarang ini, sebenarnya saya ngga ngeh dengan ke(tidak)beradaan para becak ini, sampai Selasa malam lalu kami berdiri di depan pintu masuk Galeria Mall menunggu jemputan taksi online. Dari arah jalan depan Galeria terlihat becak berisi seorang penumpang dikayuh oleh seorang bapak tua.

Seketika hati terenyuh dan saya tersadar akan suatu kenyataan, bahwa sejak sampai di Yogyakarta dua hari sebelumnya, saya belum melihat satu becak pun. Ya mungkin saya yang tidak terlalu memperhatikan, mungkin juga karena saya yang ngga keluar-keluar dari homestay, mungkin karena homestay saya ga terletak di jalan yang banyak dilalui becak. Dan kemungkinan lain yang terlintas dalam pikiran saya. Cuma saya yakin, becak-becak di Yogya memang tidak sebanyak dulu.

Di hari berikutnya, dalam beberapa perjalanan menggunakan taksi online, saya mencoba memerhatikan jalanan, dan becak memang agak langka saya temukan di sepanjang jalan. Jikapun ada, selalu terlihat kosong tak berpenumpang di pinggir jalan, ditunggui oleh para pengayuhnya yang rata-rata sudah tua. Rasanya patah hati, terutama karena saya merasa tidak berdaya melakukan apa-apa, selain tetap duduk nyaman di taksi online yang melaju kencang dan ber-AC.

Sementara, para pengendara motor berjaket hijau terlihat lebih banyak berseliweran di berbagai ruas jalan.

Apa karena itu?

Zaman memang berubah, di masa yang serba-ingin-cepat ini, becak bukanlah pilihan alat transportasi yang efisien untuk berpindah tempat, selain itu juga karena ongkosnya bisa lebih mahal dan tidak pasti di awal. Kalau yang menerapkan budget minimalis untuk traveling macam sayah, udah pasti becak dicoret dari pilihan transportasi. Heuheu.

Baca punya baca, becak kayuh memang sudah menurun jumlahnya di Yogya, bahkan disebut hampir punah, tergantikan oleh becak motor yang sebenarnya ilegal. Dan saya rasa becak kayuh kini paling banyak beroperasi di daerah-daerah wisata dan menyempit fungsinya sebagai becak wisata.

Btw, jika sempat nanti ke Yogya, sesekali tetaplah menggunakan becak, agar mereka tetap lestari. Karena tanpa becak, Yogyakarta bagai gudeg tanpa krecek… #naonsih #efeklaper

On Our Way to Yogyakarta

Leave a comment

Kota Yogyakarta adalah salah satu kota yang mendapat tempat istimewa di hati saya, dan suami saya, dengan alasan berbeda. Saya tidak pernah tinggal di Yogya, tidak seperti kakak, ipar, dan adik saya yang selama bertahun-tahun tinggal disana. Namun Yogya, berkali-kali menjadi tempat ‘pelarian’ saya sejak SMA, bahkan menjadi salah satu kota impian saya untuk tinggal sementara.

Pertama kali ke Yogya itu ya saat SMA di Magelang. Waktu tempuh yang singkat membuat Yogya menjadi salah satu tujuan dalam beberapa kegiatan sekolah, seperti study tour.

Selain itu, sebagai sekolah dengan akar kemiliteran yang cukup kuat (saat itu), kegiatan napak tilas rute gerilya Panglima Soedirman menjadi kegiatan yang wajib diikuti oleh siswa kelas 1 di awal pendidikannya.

Nah saat itulah pertama kalinya saya menginjakkan kaki di provinsi istimewa itu. Bukan di kotanya memang, namun di salah satu pantai (saya luput mengingat nama pantainya, Parang Tritis, atau bukan?) dengan bukit batu yang terjal, dan panas. Dari sanalah kami memulai perjalanan RPS (Rute Panglima Soedirman) sampai beberapa kilometer selanjutnya.

Berikut dan berikutnya… Saya beberapa kali ke Yogya sebagai anggota Gita Bahana Nusantara Marching Band yang diundang untuk tampil dalam beberapa acara disana. Biasanya pada bulan Agustus untuk memeriahkan peringatan HUT RI, atau pada event lain yang saya tidak ingat, apa saja.

Lain kesempatan, Yogya juga beberapa kali menjadi tempat tujuan pesiar (keluar kampus pada saat week end) dan cuti (liburan) pendek. Memang tujuannya mainstream saja, yaitu sekitaran Malioboro dan Keraton, tapi setiap perjalanan selalu memberi kesan yang berbeda.

Pun saya pernah memiliki asa berkuliah di Yogya. Saat itu (kalau tidak salah) pertama kalinya ada UM UGM (Ujian Masuk UGM), dan teman-teman saya banyaaak sekali yang ikut. Jadi, ya saya ikut-ikutan juga, walaupun entah mau memilih jurusan apa. Dan dengan modal ikut-ikutan juga akhirnya (dengan sangat PD-nya) saya memilih FK UGM, karena teman-teman saya banyak yang memilih itu, walaupun yang lulus hanya segelintir orang. Tentu saja tidak termasuk saya.

Saat itu, siswa yang ikut UM diberi izin khusus keluar kampus untuk mengurus keperluan UM. Jadi ada dua kali ke Yogya dalam rangka mengurus UM, yang pertama saat pendaftaran UM di kampus UGM (Grha Sabha Pramana), yang kedua saat ujian, kalau tidak salah di kampus UNY.

Selulus SMA saya tidak pernah ke Yogya lagi sampai akhirnya lulus kuliah dan bekerja. Suatu hari saya mendapat undangan pernikahan dari sahabat SMA saya di Banjarnegara, Jawa Tengah. Namun karena beberapa teman janjian berangkat bareng dari Magelang, akhirnya dari Bandung saya naik bis malam sendirian ke Magelang. Itu adalah perjalanan yang sangat tidak direncanakan.

Ketika itu seperti biasa saat week end saya pulang ke Bandung dari Jakarta, tapi tidak langsung ke rumah, saya memilih berjalan-jalan dulu di Kota Bandung dengan perasaan yang galau. Hadir di pernikahan sahabat saya itu, atau nggak. Akhirnya ya nekad aja berangkat sendiri. Masalah muncul ketika hari Minggu sorenya saya tidak mendapat bis pulang dari Magelang ke Jakarta. Akhirnya memutuskan untuk menginap satu malam di kost teman saya di Yogya agar bisa melakukan perjalanan dengan Taksaka pada Senin malamnya.

Pada waktu itu lah saya berkesempatan menyusuri jalanan Yogya, sendirian. Entah berapa kilometer yang ditempuh, dari Stasiun Yogyakarta, menyusuri Malioboro sampai Masjid Agung, lalu kembali lagi ke Malioboro.

Lamaaaa berselang, saya baru ke Yogya lagi ketika Akhtar berusia kurang lebih 1,5 tahun. Kami naik kereta api Argo Wilis dari Surabaya Gubeng. Di Yogya kami menginap di guest house yang beerrrtahun-tahun kemudian tampil di layar lebar sebagai tempat penginapannya Rangga dalam film AADC2.

Dan saat ini… Saya kembali dalam perjalanan ke Yogya, dengan suami dan tiga anak. Wow. Ngapain? Dalam rangka ngintilin suami yang harus kuliah selama sepekan di kampus UGM. Hihi. Perjalanan ini sudah direncanakan sejak kurang lebih sebulan yang lalu. Akhtar sangat excited ketika tahu kami akan berangkat ke Yogya pada hari Minggu. Sehingga berrrkali-kali ia bertanya “Hari Minggu kapan?” Walaupun untuk sampai hari-H masih ada beberapa pekan lagi.

Kami naik kereta api Argo Wilis jam 8.30 pagi ini dari Stasiun Bandung. Tujuan kami sesampainya ke Stasiun Yogya adalah Sabana Homestay. Semoga bisa nulis reviewnya di tulisan berikutnya.

ART

Leave a comment

Sudah masuk pekan kedua sejak saya mempekerjakan asisten di rumah, yang tak lain adalah bibi saya sendiri, istri dari paman kandung saya.

Sebenarnya sudah sejak lama beliau mengirim sinyal-sinyal mau membantu di rumah, hanya saja saya (sok-sokan) merasa masih bisa mengerjakannya sendiri.

Hingga, belakangan ini saya merasa kewalahan, apalagi Aliya mulai merangkak kemana-mana. Makin tidak terkendali. Dan lagi, pola tidur Ahnaf masih sangat berantakan, malam bangun, dan siang tidur hampir sepanjang hari. Sehingga saya kurang tidur dan sering tidak bergairah mengerjakan pekerjaan rumah.

Karena namanya asisten, jadi Bi Lia hanya membantu mengerjakan yang tidak bisa saya kerjakan sendiri. Saya memintanya datang ke rumah dua kali dalam sehari, yaitu pagi dan sore hari. Untuk jamnya tidak saya batasi, silakan datang jam berapa saja setelah urusan di rumahnya selesai, masih ada suami dan anak bungsunya yang lebih berhak mendapat perhatiannya, kan? Yang penting, tugasnya di rumah saya beres.

Pekerjaan hariannya terutama bersih-bersih rumah (semua bagian) dan mencuci peralatan dapur. Tambahannya adalah menjemur dan kadang melipat pakaian, juga memasak. Urusan mencuci pakaian masih saya lakukan sendiri, termasuk cuci clodi.

Meski tidak semua pekerjaan diambilalihnya, saya merasa sangat terbantu dengan keberadaannya. Saya jadi punya waktu lebih untuk memikirkan dan mengerjakan hal lain.

Saya jadi bisa mencuci clodi setiap hari, sehingga mendukung keinginan saya untuk meminimalisir sampah pospak (popok sekali pakai). Ahnaf pun sekarang beralih lagi ke clodi, setelah proses toilet training-nya gagal total beberapa bulan yang lalu sehingga ia harus kembali menggunakan pospak.

Saya mulai bisa memilah kertas berisi coretan anak-anak, mana yang hendak disimpan dan mana yang dibuang, kemudian menyusunnya di binder, yang selama ini hanya tertumpuk tak beraturan di lemari penyimpanan.

Saya juga mulai ada waktu untuk memilah sampah, dan menyusun rencana untuk mengirimkannya ke tempat penampungan sesuai jenis sampahnya.

Saya mulai bisa membuka-buka lagi buku, dan menemukan inspirasi dari sana.

Saya mulai berpikir untuk mengatur jadwal kegiatan anak-anak dan bertekad untuk hidup lebih teratur. Aamiin…

Sedikit demi sedikit mulai mengurai kekacaubalauan yang terjadi di rumah, dan salah satu titik mulanya adalah dengan mempekerjakan asisten rumah tangga.

Saya salut dengan ibu-ibu di luaran sana yang hidupnya tetap terorganisasi dengan baik meski tanpa asisten. Ternyata saya belum sampai level itu. Saya masih sering terdistraksi jika di hadapan saya ada beberapa pekerjaan yang kudu diselesaikan. Hasilnya, tidak semua bisa saya kerjakan maksimal. Dan bahaya kalau yang terabaikan adalah kebutuhan dasar anak-anak.

ART adalah partner kita dalam mengurus rumah. Maka ada adab-adab yang harus dijaga dan hak-hak yang harus ditunaikan. Terlebih jika ia juga seorang muslim, terrrrlebih lagi jika ia masih dalam lingkaran keluarga dekat kita.

Mengenai adab terhadap pembantu, maka the one and only Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasalam adalah pemberi contoh terbaik. Diantaranya bagaimana beliau memperlakukan sahabat Anas bin Malik, yang menjadi pembantunya selama 10 tahun.

Saya kurang pandai menceritakan kembali, kisahnya bertebaran di banyak sumber, silakan cari sendiri. Hanya berharap dan berusaha, semoga saya mampu meneladaninya.

#shineonbatch2

Berbenah (1)

1 Comment

Berbenah adalah kata yang dipilih untuk menerjemahkan kata tidy up dalam buku The Life-Changing Magic of Tidying Up karya Marie Kondo, seorang konsultan berbenah asal Jepang, yang memperkenalkan metode KonMari yang fenomenal itu.

Menurut KBBI daring, beberapa pengertian kata dengan kata dasar benah adalah sebagai berikut:

be·nah1, ber·be·nah v berkemas-kemas; memberes-bereskan; merapikan (perabotan dan sebagainya);

mem·be·nahi v 1 membereskan (tempat tidur dan sebagainya); mengemasi; 2 memperindah; merapikan: menjelang kunjungan Presiden, Wali Kota sibuk – wilayahnya; 3 mengurus: dia sudah dapat – dirinya, tidak lagi bergantung kepada orang tuanya;

pem·be·nah·an n proses, cara, perbuatan membenahi.

***

Sekitar satu bulan yang lalu saya meminjam buku, yang sudah lama ingin saya baca ini, dari seseMomom. Meski baru sekarang membaca bukunya, namun metode KonMari ini sudah saya ketahui sebelumnya dari bincang emak-emak di grup WA, dari beberapa tulisan/ artikel di internet, juga melihat praktiknya langsung dari gambar-gambar yang diunggah dengan tagar #konmari atau #konmariIndonesia di Instagram, dan sedikit-sedikit saya praktikkan.

Dengan membaca buku ini, saya mendapat gambaran lebih lengkap tentang KonMari. Beberapa prinsip penting dalam KonMari adalah sebagai berikut:

1. Secara garis besar, berbenah dibagi dalam (hanya) dua aktivitas yaitu, membuang dan memutuskan hendak menyimpan barang dimana. Proses berbenah harus diawali dengan membuang.

2. Kriteria barang yang disimpan adalah hanya barang-barang yang membangkitkan kebahagiaan (spark joy). Caranya adalah dengan memegangi setiap barang lalu bertanya pada diri sendiri “Apakah ini spark joy?“. Kalau jawabannya tidak, maka buang.

3. Berbenah secara tuntas itu hanya dilakukan sekali dalam seumur hidup. Marie Kondo memberi batasan waktu 6 bulan untuk berbenah tuntas ini. Yang dilakukan sehari-hari hanya menggunakan dan mengembalikan barang ke tempatnya.

4. Berbenah berdasarkan kategori, bukan lokasi. Dalam buku ini, Marie Kondo menentukan urutan-urutan berbenah, dan tidak boleh dibolak balik, sebagai berikut: pakaian, buku, kertas, pernak pernik, barang bernilai sentimental.

5. Setiap barang memiliki ‘rumah’ masing-masing. Barang disimpan dengan tatanan sesederhana mungkin sehingga mudah untuk menyimpan (bukan mudah mengambil).

6. Metode KonMari hanya lah sarana, bukan tujuan. Ketika rumah kita rapi, kita akan menemukan apa yang sesungguhnya ingin dilakukan. Kondisi berantakan mengaburkan akar permasalahan yang sesungguhnya.

dll

***

KonMari di Rumah Kami

Secara umum, saya setuju dengan dua aktivitas utama KonMari, yaitu membuang dulu, menyimpan kemudian. Namun pada praktiknya, saya hanya menerapkan sebagian metode KonMari di rumah kami, menyesuaikan dengan sumber daya yang ada (tenaga, waktu, storage) dan prinsip pribadi yang tidak sama dengan Marie Kondo.

Yang kentara perubahannya adalah dalam hal menata pakaian. Seperti umumnya keluarga lain di Indonesia, kami memiliki lemari yang didesain untuk menyimpan pakaian menumpuk ke atas. Namun sudah dua bulanan ini, saya melipatnya a la KonMari dan meletakkannya dengan posisi berdiri lalu ditempatkan ke dalam kardus-kardus bekas yang dipercantik dengan kertas kado.

Menyimpan baju dengan cara ini menyisakan ruang yang cukup lebar di lemari, rencananya akan saya siasati dengan menambahkan rak sisipan dari pipa PVC, namun belum juga terlaksana.

Yang tidak banyak berubah adalah rak buku. Sebelum-sebelumnya memang sudah mengeluarkan cukup banyak koleksi buku tak terpakai/ tak terbaca, baik disumbangkan maupun dijual. Setelah membaca buku Marie Kondo, saya hanya mengeluarkan beberapa buku lagi, sehingga tidak terlalu nampak perbedaannya. Dibandingkan dengan bagian lain di rumah kami, rak buku adalah area yang paling terjaga kerapiannya selama ini.

Kami memiliki dua rak buku ukuran (kurang lebih) 200×60 cm di rumah, dan berencana tidak (atau belum?) menambah rak lain. Jadi, maksimal buku yang dimiliki adalah sebanyak yang bisa ditampung di rak tersebut.

Kertas merupakan salah satu yang sulit saya sortir, terutama jika kertas itu berisi coretan anak-anak. Ahh.. rasanya sayaaaang sekali untuk membuangnya. Mungkin akan lebih tepat kertas jenis ini dikelompokkan sebagai barang-barang sentimental yang dibereskan belakangan.

Sementara prinsip KonMari dalam menyortir kertas adalah buang semuanya, kecuali yang masih dipakai, diperlukan dalam kurun waktu tertentu, dan harus disimpan.

Barang yang tidak ingin saya simpan, saya kumpulkan di ruang depan hingga memenuhi separuh dari ruang tersebut. Banyak! Barang-barang tersebut sudah punya tujuan baru masing-masing, namun belum dikirim terkait kendala teknis daaan pendanaan. Hihi.

Selama ini ada sebagian barang tak terpakai yang saya timbun di lemari atau kontainer plastik, namun saya memantapkan hati untuk mengeluarkan (hampir) semua barang itu. Kok hampir? Karena masih ada beberapa yang saya simpan, dengan pertimbangan (mungkin) nanti akan saya pakai lagi.

Nah kan udah ga sama dengan KonMari? Makanya saya bilang, hanya menerapkan sebagian. Karena nyatanya, saya masih sering memakai kembali barang lama yang saat ini tidak terpakai. Contohnya, pakaian. Memakainya sampai usang adalah pilihan saya.

Berbeda dengan KonMari, saya membereskan berdasarkan ruangan, karena barang kami relatif sedikit dan satu kategori barang sudah terkumpul di satu ruangan yang sama (kecuali yang belum).

Daaan… Berbenah masih berlangsung hingga sekarang. Berkejaran dengan pekerjaan harian yang harus selesai setiap hari juga.

***

Bersambung yaa…

***

#shineonbatch2

Older Entries