Hom Pim Pa Modifikasi

Leave a comment

Sebelumnya tentang Hom Pim Pa

***

Jadiii… saya menemukan ide brilian (weks) dengan memodifikasi permainan Hom Pim Pa untuk kemaslahatan bocah 3 tahun ini. 

Pagi itu Akhtar susah sekali diminta berpakaian sesudah mandi. Lalu terpikirlah untuk ber-hompimpa…

“Jumpa lagi di acara Hoom Piiim Paa!”, tanpa ba bi bu saya langsung menirukan suara Kak Mel yang imut manja kayak anak TK itu.

Seketika Akhtar yang sedang jumpalitan di atas kasur menghampiri saya, excited!

“Pertama… pakai dulu celana dalam. Masukkan kaki kaa…”

“… nan”

“… lalu kaki kii…”

“… ri”

A ha… Akhtar terbawa skenario juga… saya membatin penuh kemenangan… ngikikik.

Selanjutnya… saya bantu Akhtar pakai kaos dalam, celana, lalu baju… dan menyisir rambut, semua dilakukan a la Kak Mel.

“Nah… selesai deh… sampai jumpa lagi diii…”

“Hoom piim paa!! Dadaaah…”

***

Eh rupanya, cara ini efektif juga untuk mengajak Akhtar yang susah mandi. Saya cukup bilang,

“Ayo kita hompimpa mandi…”

Akhtar pun menyambut dengan antusias. 

Sampai kapan cara ini akan efektif? Sampai si anak bosen! :P

***

~Late post~

Hom Pim Pa!

Leave a comment

M: “Assalamu’alaykum jumpa lagi dengan saya, Mim… daaan…”

A: “Akhtar” 

M: “Dalam acaraaa…”

M & A: “Hoom Piim Pa!!” Sambil bersama-sama mengayunkan telapak tangan ke kiri ke kanan, menggoyangkan kepala searah ayunan tangan, kemudian membuang kedua tangan ke depan, persis seperti yang Kak Mel lakukan. 

Kak Mel? Siapa Kak Mel?

Kak Mel itu pemandu acara anak-anak Hompimpa yang tayang setiap hari jam 12.30 di salah satu stasiun TV lokal Bandung. Udah lama ga nonton sih, jadi ga tau apakah masih ada acaranya atau ngga.

Di acara itu Kak Mel mengajak para penonton berkunjung ke tempat-tempat asyik -biasanya masih di sekitaran Bandung- sambil belajar. Bisa ke taman, kebun bunga, kebun sayuran, museum, peternakan, dan lain-lain.

Ada segmen di acara itu, dimana Kak Mel praktik membuat kreasi sederhana sesuai tema hari itu, misal membuat perahu dari kotak bekas susu saat berkunjung ke Floating Market. Seperti chef di acara masak-masak, Kak Mel memberi contoh cara membuatnya step by step.

Nah… segmen inilah yang jadi favorit Akhtar. Walaupun sudah tidak menonton acaranya, sesekali Akhtar masih minta main “Hompimpa”, dimana saya berperan seperti Kak Mel yang tugasnya ‘bikin-bikin’ dari bahan utama yang disodorkan Akhtar. 

Kadang dia menyodorkan kertas lipat, atau kain felt, atau kepingan puzzle, atau wadah kayu pajangan di rumah Nin. Disitu saya yang musti kreatif bikin-bikin, walaupun sebenarnya Akhtar ga pernah sedikitpun menuntut hasil kreasi tertentu, bahkan ketika saya membuat lipatan kertas tak beraturan pun, Akhtar akan terlihat senang lalu bertepuk tangan, karena inti permainannya adalah.. kami berpura-pura jadi host Hompimpa.

Kalau pada awalnya saya yang berperan praktik ‘cara membuat step by step’, sekarang ini Akhtar yang lebih sering mengambil peran itu… walaupun yang dia omongkan hanya ini dan itu..

“Ini kesini… lalu… simpan disini.. sekarang yang bulat-bulatnya disini… naaah gituuu…”

“… Selesai deh…” sambil menunjukkan hasil karyanya.

“Sampai jumpa lagi diii… Hooom piiim paa!! Dadaaah…” Lalu acara kami tutup.

Per-Toilet-an

4 Comments

image

Belum satu menit saya menyelonjorkan kaki, hendak bersantai sejenak, tiba-tiba Akhtar terdengar ngomel ngomel
“Tah budak teh… yaaah… tah budak teh tah…”, katanya.

Feeling saya, “Waduh… ga beres nih!
Jangan-jangan…

Saya bergegas berdiri dan menghampiri Akhtar di dekat kamar mandi…
Tuh kaan…” saya berkata dalam hati melihat Akhtar berdiri kaku dengan celana yang sudah basah.

“Ah Akhtar mah nya… pup di celana ah Akhtar mah, ga boleh kayak gitu dong”, kata.. saya? Bukaan… itu Akhtar sendiri yang menyeracau.

Okey… lain kali sebaiknya kami jangan mengungkapkan kalimat-kalimat menyalahkan dan bernada kecewa seperti itu lagi… karena ditiru dengan sempurna oleh si toddler itu –”

Untung, suasana hati saya sedang baik. Dengan lembut saya bimbing Akhtar ke kamar mandi, lalu membersihkannya.

***

Every Mom Has Her Own Battle

… dan arena pertarungan saya ada di area kamar mandi/ toilet.

Akhtar termasuk yang terlambat saya kenalkan tentang cara menggunakan toilet. Usia hampir 3 tahun Akhtar baru lepas dari diapers dan setelah itu kemampuannya menggunakan toilet macam Syahrini saja… maju mundur canciiik…

Kenapa se l a m b a  a   a    t itu?

Karena… saya yang terlambat siap. Dari artikel yang pernah saya baca, toilet training itu bisa dimulai ketika ibu dan anak merasa siap, kemudian informasi yang sepotong itu saya jadikan pembenaran untuk berkali-kali menunda toilet training sampai akhirnya dimulai menjelang usia 3 tahun.

Proses TT resminya dimulai sebelum pindah ke Ciledug, sekitar awal 2016 ini. Kala itu milestonenya, Akhtar ga mau lagi pakai diaper karena “Malu… kan Akhtar sudah besar, pake celana dalam aja..”, katanya. Saat itu pun ia mulai paham bahwa pup dan pee itu tempatnya di kamar mandi, walaupun… sampai beberapa lama di Ciledug Akhtar masih mengompol karena tidak sempat dibawa ke kamar mandi.

Beberapa waktu kemudian, kemajuannya adalah Akhtar mengajak ke kamar mandi ketika rasa ingin pipis sudah tak tertahan lagi… tapiii… Akhtar masih pipis di celana di dalam kamar mandi.

Beberapa waktu kemudian, Akhtar sudah bisa mengajak pipis ke kamar mandi. Kalau pup? Jangan tanya deh… masih berproses sampai sekarang.

Nah, sekitar 3 minggu ini saya merasa ada kemunduran signifikan dari proses TT Akhtar, tepatnya kemunduran itu dimulai seminggu sebelum Lebaran, dimana Akhtar sangat susaaaah diajak ke kamar mandi walaupun terlihat sudah sangat ingin pipis, akhirnya beberapa kali mengompol di celana, di luar maupun di dalam kamar mandi.

Stress… iya… pada awalnya…

Pada akhirnya, saya menurunkan tensi dan berusaha berdamai dengan keadaan sambil sedikiiiit demi sedikiiiit berproses maju. Karena… ketika awal-awal TT dan saya ‘terlalu keras’ justru hasilnya kontradiktif. Akhtar semakin sulit diarahkan, dan saya stress!!!

Sebenarnya…
Kenapa TT ini menjadi sulit… karena dalam paradigma saya TT itu memang sulit, dan melelahkan, dan meng’hueks’kan, dan… dan… ah intinya saya bahkan sudah takut untuk mengajari anak TT jauuuh sebelum TT itu dimulai. Jadi, dimana letak salahnya? Ada di pikiran saya! Iya gue yang salah… bukan Cinta dan sahabat-sahabatnya… -apa sih.. mulai gilak-

Tapiii… ya sudah lah yah let it flow ajah… ngalir ajah… tapi tetap diarahkan pada muara yang dituju… :)

Jangan dorong!

Leave a comment

“Jangan dorong-dorong atuuuh!!”
Terdengar suara Akhtar berteriak dari depan rumah.

Sebelumnya, 4 orang balita sedang bermain, bercanda, dan tertawa-tawa riang di teras rumah Enin, lalu diakhiri sesi foto bersama yang berakhir ricuh, karena para balita saling bertabrakan, dan -mungkin- tanpa sengaja saling mendorong.

“Jangan doroooong!” Akhtar kembali berteriak setengah menjerit.

Dua orang dewasa menghampiri para balita. Tampak Akhtar berteriak marah dan mendorong sepupunya. Sepupunya, yang berusia 2 bulan lebih tua dari Akhtar, hanya diam menatap Akhtar dengan polos dan bingung, seperti tidak memahami situasi yang terjadi… pastinya karena si sepupu tidak merasa mendorong, atau tidak sengaja mendorong.

Setelah dilerai dengan menjauhkan Akhtar dari kerumunan itu, kakinya tetap menendang-nendang, tetap berteriak marah. Akhirnya… menangis.

***

Situasi kedua…

Masih di hari yang sama dengan kejadian pertama. Akhtar bermain dengan sepupunya yang lain di ruang tamu.

Tiba-tiba sepupunya menepuk-nepuk kepala Akhtar. Akhtar bereaksi spontan dengan nada biasa -tidak marah seperti di situasi sebelumnya-,
“Jangan pukul-pukul… kan Akhtar sakit kalau dipukul-pukul…”

Seperti mendapat ‘A ha! moment’ saya tersenyum melihatnya…

***

Secara khusus, saya belum mengajarkan materi ‘self defense‘ kepada Akhtar. Apa yang selama ini kami -orangtua- lakukan adalah ‘melakukan hal yang semestinya’, seperti berkata,

“Ga boleh cubit/ gigit/ pukul ya… kan sakit…”
Membela diri

Atau,
“Ga boleh coret-coret di buku itu ya… itu kan punya Mim untuk dibaca…”
Mempertahankan hak milik

Atau,
“Ga boleh corat coret di tembok rumah yaaa… kan ini bukan rumah Akhtar…”
Menjelaskan hak milik orang lain

Melihat apa yang dilakukan Akhtar, melawan saat diperlakukan tidak baik, saya bisa sedikit tenang jika suatu waktu Akhtar lepas dari pengawasan saat bermain dengan anak-anak lain -maklum emaknya parnoan haha-. ‘Hanya’ butuh diajari untuk mengendalikan emosi dan menilai situasi, tidak terlalu reaktif seperti di situasi pertama, agar sikapnya tidak jadi bumerang yang merugikan diri sendiri (contoh ‘kecil’ di atas adalah… menangis).

‘Membela diri’ ini merupakan bekal penting bagi anak dalam pergaulannya dengan orang lain. Kemampuan membela diri dapat membentuknya menjadi anak yang percaya diri dan tidak rendah diri. Mengapa ‘percaya diri’ penting? Karena dari satu sifat itu akan berkembang sifat-sifat lain yang, serius deh, bisa ngaruh banyak dalam kehidupan anak.

Dari sikap percaya diri itu, kita bisa menjadi orang yang berani mengambil keputusan sendiri, tidak hanya ikut-ikutan karena tidak berani menolak.

Seringkali, tanpa/ dengan sadar, orang-orang dewasa di sekitar anak yang justru melanggar hak anak untuk membela dirinya.

Misal,
Ketika ada anak lain merebut mainan anak kita, dan anak kita mencoba merebutnya kembali, sering orangtua berkata, “Ga apa-apa ya… berbagi ya… mainnya sama-sama ya… ” dan kalimat sejenisnya. Padahal jelas mainan itu adalah milik anak kita, dan mereka berhak untuk meminjamkan/ tidak meminjamkannya kepada anak lain.

Pun saya suka merasa tidak nyaman ketika anak saya yang selalu dimenangkan jika situasinya anak saya yang merebut mainan anak lain, karena sikap seperti itu jika berlangsung terus menerus bisa saja membuat anak saya menjadi orang yang egois, mau menang sendiri, merasa paling benar, menggantungkan diri kepada orang lain, dan suka menyalahkan situasi.

Sok tau yaa guwe… haha… apa yang saya catat disini hanya berdasarkan pengalaman tanpa didukung teori ini dan itu… *tutupmuka*

Saya sendiri dalam situasi-situasi tertentu adalah orang yang sangaaat tidak percaya diri… sering rasanya saya menyia-nyiakan kesempatan baik yang orang lain percayakan kepada saya, karena saya merasa tidak yakin pada kemampuan diri sendiri.
senyum getir

Dan, pengalaman adalah sebaik-baiknya pelajaran :)

Si Romantis

Leave a comment

Suatu ketika:

Mim maaf ya… Akhtar suka marah-marah sama Mim
Meleleh

Atau:

Mim jangan sedih, Awoh kan ga suka liat Mim sedih
Dududu…

Kejadian kemarin siang:

Akhtar berdiri di mulut pintu kamar, saya baru saja selesai shalat…

Mim… Akhtar sayang sama Mim“, jalan mendekat lalu memeluk.
Huuug

Mim juga sayang sama Akhtar“, balas memeluk.

Mim maaf ya…

Iya Mim juga minta maaf suka marah sama Akhtar

Maaf ya Akhtar sering ompol di celana

Iya… Akhtar ga boleh kayak gitu lagi ya

Lalu, Akhtar pun keluar kamar melanjutkan kegiatan bermainnya.

Tidak sampai 5 menit…

Ayooo… sepeda-sepedaan… cepetaann… Mim ayo Mim cepaaaatt“, Akhtar merengek sambil menarik saya ke arah pintu keluar… daaan susahnya dibujuk untuk menunda keinginannya…

Bubar deh roromantisan… -_-‘

Em-pe-a-si

1 Comment

Tidak banyak yang saya ingat dari proses MPASI awal Akhtar. Walaupun untuk persiapannya saya banyak membaca berbagai referensi soal menyiapkan MPASI, pada praktiknya, saya adalah ibu yang malas berempong-rempong ria memasak makanan bayi untuk Akhtar, dan tidak cukup sabar mencoba berbagai usaha agar anak selalu mau mangap. Kesalahan yang tidak ingin saya ulangi kepada Ahnaf yang tidak lama lagi genap berusia 6 bulan.

Karena pemberian MPASI yang ‘berantakan’ plus proses pengobatan suatu hal yang cukup lama saat itu, Akhtar memang cenderung kecil dan kurus untuk bayi seusianya, salah satu yang membuat saya stress! Apalagi kalau sampai mendengar omongan orang dan melihat bayi lain yang gemuk-gemuk.

Suatu pagi saya pernah menangis sepulang dari tukang sayur. Saya berpapasan dengan ibu tetangga yang sedang mendorong stroller cucunya. Tampak bayi yang gemuk dan terlihat sehat, kalau ga salah berumur 8 bulan waktu itu. Saya tanya berat badannya, More

Mengenal Buku

Leave a comment

Ada lima tahap yang dilalui anak dalam proses mengenal sampai ‘memahami’ isi sebuah buku. Sebenarnyaaa… ini hanya tulisan subjektif atas apa yang saya perhatikan pada Akhtar sih. Hehe…
Dan pastinya setiap anak punya keunikan sendiri dalam memperlihatkan ketertarikannya pada buku.

Tahap pertama, anak hanya membuka-buka buku dan melihat-lihat gambarnya.

Kedua, anak membuka buku dan bertanya, “Ini apa?” sambil menunjuk gambar-gambar yang belum dikenalnya.

Ketiga, anak ‘membaca’ buku tanpa meminta bantuan orangtua. Ia membuka-buka buku dan menyebut nama gambar di buku dengan tepat.

Keempat, anak kembali bertanya, “Ini apa?” tidak bermaksud untuk bertanya, tapi mengetes. Orangtua mulai ‘waspada’ di tahap ini, karena ga bisa lagi menjawab asal. Anak akan mengoreksi jawaban kita, kadang dengan nada kesal, kalau berulang-ulang kita membuat kesalahan.

Kelima, anak mulai meminta kita membacakan tulisan yang lebih panjang dan bertanya lebih mendalam.

Keenam, anak bisa menceritakan isi buku, dengan ‘bahasa sendiri’. Tahap paling ‘lucu’ menurut saya, karena sering keluar kosakata baru yang tidak ada dalam kamus manapun.

Eh kok enam? Katanya lima?

Penting? :D

Older Entries