Gimana sih rasanya putus???
Putus apa dulu?
Putus cinta? Putus urat malu? Putus asa? Putus hubungan dengan nyamuk? Putus….apa lagi ya?

Gimana rasanya Putus Sekolah???
Jangankan mengalami, mendengarnya pun aku……..campur aduk lah. Sedih, sekaligus membuatku bersyukur berlipat kali karena aku masih diberi kesempatan sekolah sampai kuliah tanpa PUTUS.

Kemarin, akhirnya dapat kesempatan izin mengurus ijazah ke kampus. Itu alasanku pada senior, padahal tujuan pertamaku di Bandung adalah Dokter Gigi. Udah beberapa kali kita bikin janji dan selalu aku yang ga menepati, maka Rabu kemarin dengan sedikit bela-belain, juga karena mengurus ijazah adalah urusan yang tidak bisa ditunda-tunda maka berangkatlah aku ke Bandung. Setengah mendadak karena aku berangkat dari kantor jam 9 pagi dan baru memesan tiket travel saat itu juga. Kupikir, pertengahan minggu seperti ini travel Jakarta-Bandung pasti tidak sepadat weekend.

Berangkat dengan travel pada pukul 9.30, aku sampai di Bandung 2 jam kemudian. Langsung menuju dokter, dan menunggu cukup lama, sehingga baru ke kampus jam 14.00 lebih banyak.
Baru 6 bulan kutinggalkan, kampusku lumayan banyak berubah, terutama penataan ruangan kantornya. SBA dan para ketua jurusan menempati ruangan yang baru di lantai satu RR-an. Tanpa membuang waktu, aku langsung menuju SBA, dan (lagi-lagi) harus menunggu cukup lama karena ada beberapa orang lain yang juga sedang mengurus ijazah.
Ketika tiba giliranku, “Asri Putri, Pak!”
Maka si Bapa mencari namaku di komputernya, dengan kaget berkata, “Kamu wisuda gelombang satu??? Aduuuhh…bukan saatnya tanda tangan ijazah sekarang. Emang selama ini kemana aja? Kamu kawin?”
Aduh…si Bapa nih….”Saya kerja Pak”
“Ya udah, entar deh entar, Bapa ngurus yang giliran tanda tangan sekarang dulu, yang wisuda bulan kemarin”
Dan, aku pun menunggu semakin lama.
Untung Bapanya baik, karena masih mau mengurusku kemudian.
Dia mencari calon ijazahku, dan berkata, “Periksa baik-baik”
Maka kuteliti huruf demi huruf pada ijazah itu, nama…tanggal lahir…tanggal lulus…NPM…jurusan…sampai gelar…ini dilakukan untuk menghindari hal-hal tidak diinginkan seperti yang dialami beberapa temanku tempo hari, ketika mereka menemukan kesalahan data pada ijazah mereka, dan parahnya kesalahan itu tidak bisa diperbaiki. Aneh! Yang salah masukin data ke ijazah kan para petugasnya, kenapa jadi si kami yang menanggung akibat kelalaian orang lain seumur hidup?!
Terus, si Bapa pun menyerahkan transkrip nilai, dan aku periksa baik-baik. Kalo yang ini mah ga mungkin aku teliti satu-satu, yang penting IPK-nya bener kan?
Tapi agak ragu juga baca judul skripsi yang tercantum di transkrip itu. Sebenarnya aku lupa bagaimana persisnya judul skripsiku, hanya saja aku merasa judul yang tercantum di transkrip adalah judul skripsi sebelum revisi. Tapi ya sudah kutandatangani saja.
Terus, sekalian aku minta skripsiku yang belum sempat kuserahkan ke perpustakaan di loket jurusan, dan benar saja ketika kubaca judulnya, judul itu tidak sama dengan judul yang tercantum di transkrip, tidak jauh berbeda sih, tapi teringat kata Pa Haz saja, judul itu memengaruhi kerangka pemikiran penelitian bukan?
Hah…sudahlah…karena ketika kutanya si Bapa, “Bisa diubah ga?”, si Bapa hanya menggeleng dan bilang dengan tegas, “Ngga! Terima seadanya saja.”
Heuh….

Terus cerita PUTUS-nya dimanaaaaa????
Saksikan di PUTUS 2