Lebaran Istimewa

1 Comment

Tulisan ini judulnya ‘dibuang sayang’. Seringkali saya hanya menulis di draft blog tanpa published. Kadang-kadang, kalau lagi moooood (kadang-kadang lho ya..), saya buka lagi satu per satu tulisan di draft, ada yang saya lanjutkan ceritanya dan akhirnya terpublish, banyak juga yang akhirnya ‘tidak berakhir jadi apa-apa’ saking ‘late post’nya, ide-ide sudah menguap entah kemana, dan kalau itu berupa cerita pengalaman, maka udah ga dapet ‘feel’nya untuk melanjutkan cerita. Udah basi dan krauk krauk…

Tapi karena cerita di bawah ini menurut saya ‘cukup’ istimewa, maka saya memutuskan untuk ngeposting juga. Istimewanya karena ada beberapa ‘momen pertama kalinya’ buat saya, buat anak-anak, dan buat saya dan suami.

***

Lebaran 2016

Salah satu yang istimewa dari Ramadhan tahun ini adalah bahwasanya ini adalah Ramadhan pertama saya dengan puasa full, tanpa batal, dalam 16 tahun terakhir sejak mendapat haid pertama.

Jika di 13 tahun sebelumnya saya batal karena haid, di 2013, separuh bulan saya ga puasa karena dalam masa nifas setelah melahirkan Akhtar. Setelah itu saya ga datang bulan sampai 13 bulan dan dengan percaya dirinya yakin bisa penuh menjalankan puasa Ramadhan 2014.

Qadarullah… saya mendapat haid pertama dalam 13 bulan itu justru dalam pekan terakhir Ramadhan 2014.

2015, saya kembali percaya diri bisa menjalankan puasa sebulan penuh. Waktu itu sedang hamil Ahnaf kurang lebih 3 bulan. Tapi pada suatu kunjungan ke dokter kandungan, si dokter menyarankan saya untuk tidak berpuasa demi kesehatan si janin. Ya sudah akhirnya 10 hari saya batal karena selang seling antara puasa dan tidak.

2016 ini alhamdulillah akhirnya saya bisa full menjalankan puasa dalam kondisi menyusui Ahnaf, plus pertama kalinya membawa anak-anak untuk shalat Ied.

Sekali-sekalinya pernah ajak Akhtar untuk shalat ied (yaitu idul adha) adalah sekitar 2 tahun lalu… pada akhirnya saya ngga shalat juga karena sibuk ngejar-ngejar Akhtar yang bermain di pinggir kolam tak jauh dari shaf jamaah wanita.

Dan… lebaran tahun ini untuk pertama kalinya juga sejak punya anak, suami nekat ngajak nonton bioskop ninggalin anak-anak yang udah tertidur.

Asik nih, tiket udah di tangan, cemilan udah siap plus minumannya, pintu studio pun sudah dibuka, dan kami sudah menemukan tempat duduk kami. Film belum juga mulai, layar masih menampilkan trailer film-film yang akan tayang dan beberapa iklan komersial ketika hp suami menerima pesan singkat.

“Ahnaf nangis”

Beberapa detik cuma cengo, ga bisa mikir. Waduh… kudu kumaha. Kita memutuskan menunggu sampai ada kabar baik dari rumah, tapi yang datang malah kabar buruk

“Ahnaf ngadat, ga mau berhenti nangis”

Saya mulai gelisah…

Dan beberapa menit kemudian akhirnya kami memutuskan meninggalkan bioskop tepat di detik pertama film diputar.

Sepanjang jalan pulang saya hanya tersenyum-senyum geli mengingat betapa gatotnya kencan kami malam itu.

Akhirnya, cemilan (mahaaal T_T) yang dibeli di lobi bioskop pun kami habiskan sambil menonton film di depan layar kaca, di rumah.

***

Advertisements

Ngontrak

6 Comments

Rumah AC-4

Disini lah kami tinggal, di sebuah rumah kontrakan 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan area menjemur yang luasnya, jika ditambah teras dan halaman depan yang cukup memarkir sebuah mobil, tidak kurang dari 100 meter persegi. Luas, bahkan terlampau luas untuk kami yang hanya tinggal bertiga.

Sebenarnya tidak tepat juga jika dikatakan ‘ngontrak’, toh kami tidak membayar sepeser pun untuk tinggal disini hehe. Hanya kebetulan saja rumah ini sudah ditinggalkan penghuni sebelumnya sebelum masa sewa habis pada Desember 2013. Penghuni sebelumnya itu ya rekan kantor suami saya, dan rumah ini jatah kontrakan dari kantor.

Yang namanya ngontrak, atau lebih tepatnya, numpang :D, kita tidak bisa menuntut rumah ini tampil prima. Pada hari pertama menginjakkan kaki disini, kami sudah dihadapkan pada masalah. Dan seiring dengan waktu, masalah-masalah lain pun bermunculan. Mulai dari pompa air mati sehingga kami mengalami krisis air, keran bocor, bak bocor, pipa PAM bocor hingga tagihan air mencapai angka 7 digit (gila gak tuh!?), kusen rapuh karena rayap, saluran air mampet, air hujan merembesi dinding, dapur banjir, dll.

Belum lagi hadirnya makhluk-makhluk kecil, seperti cicak, semut, rayap, nyamuk, kadang-kadang lalat, kecoa, dan tikus.
Saya yang biasanya gelisah hanya gara-gara ada seekor cicak di dinding kamar, kini bisa dengan santai melihat cicak yang merayap di lantai, jendela, atau rak TV. Banyaknya cicak disini mungkin karena pasokan nyamuk yang melimpah juga ya.

Yang paling menjengkelkan adalah semut. Semut hitam, semut merah, dan semut pirang (???). Sebentar saja kita meninggalkan makanan atau piring bekas makan di lantai, jangan tunggu sampai 5 menit semut-semut itu sudah datang mengerubungi.

Sementara rayap membuat rumah ini tidak pernah benar-benar bersih dari remahan kayu. Dalam suasana yang sangat sunyi, saya bisa mendengar kusen-kusen kayu berkeretakan dilalap rayap. Alhasil, beberapa kusen pintu dan jendela tidak berfungsi dengan baik, beberapa ada yang tidak bisa ditutup atau sebaliknya, susah dibuka.

Kabar baiknya, satu-satunya tikus di rumah ini ditemukan mati di tempat jemuran sekitar sebulan yang lalu. Maka tikus bisa dicoret dari daftar makhluk kecil yang menjengkelkan di kontrakan.

Kalau mau mengeluh, maka daftar keluhan itu tidak akan pernah selesai. Tapi mengeluh tidak mengubah kondisi apapun kan? Malah semakin menutup mata saya atas hal lain yang lebih patut disyukuri. Kenyataan bahwa kami tinggal tanpa membayar disini, bukankah harus sangat disyukuri? Apalagi kami dititipi pohon pepaya yang buahnya aduhai lebatnya, hehe.

Belakangan, saya malah menganalogikan numpang di kontrakan ini kayak kita numpang hidup di dunia. Allah kasih segalanya cuma-cuma. Manusia saja yang seringkali gak bersyukur atas nikmat Allah yang cuma-cuma ini. Memang, Allah tidak akan mengubah suatu kaum kecuali kaum tersebut yang mau mengubah dirinya sendiri. Tapi ada kalanya kita tidak bisa mengubah apapun pemberian dari Allah, given, sudah dari sononya, misal hal-hal terkait fisik. Yang perlu kita lakukan, sabar dan syukur saja, dengan begitu Allah akan menambah nikmatNya untuk kita.

InsyaAllah :)

*Lagipula, kalau ngontrak rumah kan kita masih bisa berharap agar bisa segera pindah ya… hehehe*

Hari Favorit Semua

Leave a comment

Tak ubahnya dengan pekerja kantoran, yang sepanjang minggu menunggu datangnya Sabtu-Minggu untuk liburan, saya pun, yang sehari-hari berada di rumah dan tidak memiliki jam kerja yang mengikat, mem-favorit-kan kedua hari tersebut.

Walaupun tidak ada yang berbeda dari aktivitas saya baik di hari biasa maupun hari Sabtu-Minggu, setidaknya saat weekend ada tenaga tambahan dari suami yang meringankan pekerjaan harian saya. Malah terkadang suami bisa jauh lebih rajin daripada saya. Menyapu dan mengepel semua bagian ruangan, atau mencuci peralatan makan dan masak bukan hal baru baginya.

Tak jarang pula, jika ada kendaraan, suami mengajak keluar rumah. Menyenangkan walaupun sekedar berputar-putar di sepanjang jalan kota, atau minimal jajan di minimarket dekat kompleks perumahan hehe.

Ada kalanya, Sabtu-Minggu menjadi waktu bermalas-malasan sepanjang hari, dimana kami hanya menenggelamkan diri di antara bantal dan guling, memainkan gadget, membaca buku, mengobrol santai, tanpa ingin melakukan hal lain. Lapar? Tinggal masak mie instan plus telor. Kegiatan yang sangat tidak saya sukai sebenarnya, makanya saya suka kesal kalau suami sudah menjalankan aksi malas seperti ini, karena malas itu menular kepada orang-orang sekitar. Colek

Dan sekarang sudah Jumat sore, hati sudah berbunga-bunga menyusun rencana kegiatan untuk besok. Yippiee…

Happy weekend all :*

FTM, (F)erakan (T)utup (M)ulut? No! :D

Leave a comment

Setelah hampir lima tahun wara-wiri di Ibu Kota, memeras keringat, memutar otak, masuk satu perusahaan, keluar, lalu masuk ke perusahaan lain, akhirnya saya mencapai titik karier saya yang paripurna. Bagi saya, inilah puncak karier saya, walaupun tak sedikit orang yang memandangnya sebelah mata. Ya, Menjadi Ibu Rumah Tangga Penuh Waktu. Bahasa populernya, FTM atau full time mother.

Menjadi FTM bukanlah keputusan mendadak hanya karena suami bertugas di luar Jakarta, bukan pula keputusan emosional sesaat karena tekanan di tempat kerja. Sebenarnya keinginan menjadi FTM itu sudah terlintas di pikiran saya bahkan pada tahun pertama kuliah, dengan sitkon yang mendukung saat itu.

Atas pencapaian ini, pertama-tama saya banyak berterima kasih kepada kedua orangtua saya yang dengan lapang hati menerima keputusan saya. Setelah empat tahun kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana dengan biaya yang tidak sedikit, mereka sedikit pun tidak berberat hati jika ilmu yang saya dapatkan selama itu ‘hanya’ saya terapkan di rumah.

Kedua, saya berterima kasih kepada suami saya, yang memahamkan saya tentang konsep keluarga. Bahwa keluarga itu, tinggal di bawah satu atap. Terima kasih juga atas kesabarannya menunggu satu tahun hingga saya mantap dengan keputusan ini.

Alhamdulillah, sedikit pun saya tidak pernah menyesal, walaupun pada hari-hari terakhir kerja sempat ragu karena banyak masukan dari atasan dan rekan sekerja:
“Ga akan nyesel, Put?”
“Masuk sini susah lho Put”
“Nanti bakal susah lagi lho kalau pengen nyari kerjaan”
“Kenapa ngga suami kamu aja yang resign?”
Dan kalimat-kalimat senada yang intinya menyesalkan jika saya sampai keluar kerja.

Selama setahun tinggal berjauhan dari suami, saya seringkali membayangkan, bayangan yang menjadi ketakutan-ketakutan saya, bagaimana jika saya tidak sampai umur untuk menjadi istri yang baik, yang selalu ada kapan pun suami butuhkan. Lalu, saya mulai memikirkan kembali tujuan hidup saya. Dan saya merasa, bekerja, apalagi jauh dari suami, sudah tidak selaras dengan tujuan akhir hidup saya.

Saya terlalu menikmati pekerjaan saya, saya sudah terlampau jauh masuk zona nyaman, sehingga melupakan peran utama saya sebagai istri. Terkadang tujuan saya bekerja semakin absurd, misal saya bercita-cita menjajal seluruh rute penerbangan yang disediakan perusahaan saya. Traveling ke banyak tempat memang sudah menjadi mimpi saya sejak dulu, dan kesempatan mewujudkannya terbuka lebih lebar setelah masuk di perusahaan itu. Keinginan itu tidak sepenuhnya buruk, tapi jika gara-gara itu harus terpisah dari suami? Ah, pikirkan lagi.

Maka dengan segenap hati, bismillahirrahmanirrahiim, mantaplah hati saya dengan keputusan ini, menjalani sisa hidup saya untuk keluarga saya :)

Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga

Leave a comment

Saya mengambil judul postingan di atas dari judul buku yang baru selesai saya baca tadi malam. Buku itu adalah buku parenting ke…sekian yang sudah saya baca. Rasanya sudah setengah penuh kepala saya dijejali berbagai ‘teori’ tentang mendidik anak. Pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa kita tidak selalu bisa menerapkan cara mendidik yang sama ke setiap anak, karena satu satu dari mereka memiliki keunikan. Buku-buku parenting itu bagi saya menjadi pengingat bahwa anak adalah titipan dari Tuhan yang patut disyukuri, dijaga dan dididik baik-baik kembali ke fitrahnya sebagai makhluk Tuhan. Mengingat kembali Surat Adz Dzariyat ayat 56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, maka seharusnya hasil pendidikan itu bermuara pada tercapainya tujuan penciptaan manusia tersebut.

Buku karya Ayah Edy ini banyak mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia yang lebih sering mengutamakan nilai rapor daripada pembinaan moral, karakter, dan akhlak anak. Saya sadar bahwa saya berasal dari generasi yang dididik dengan cara seperti itu, mungkin sebagian besar pembaca buku itu juga, dimana pertanyaan, “Dapat rangking berapa di kelas?” atau “Ujian dapat nilai berapa?” menjadi tolok ukur kecerdasan dan keberhasilan orangtuanya mendidik anak. Anak-anak generasi saya dibentuk jadi robot penghapal dan dijejali banyak mata pelajaran tanpa paham implementasinya untuk apa. Sementara nilai-nilai kejujuran dikesampingkan karena orangtua dan guru hanya peduli pada berapa nilai yang tertera di kertas ujian daripada bagaimana usaha kami untuk mendapatkannya. Belajar pun menjadi kegiatan yang tidak fun karena selalu dipisahkan dari bermain. Padahal masa anak-anak adalah masanya bermain, meng-explore lingkungan sekitar dan menggali minat, bakat, dan potensi yang mana selalu unik ditemukan di setiap anak. Dengan cara bermain lah anak-anak belajar.

Buku ini adalah bagian dari gerakan Let’s Make Indonesian Strong from Home! gagasan Ayah Edy. Terlalu muluk jika kita bermimpi mengubah Indonesia menjadi negara yang kuat jika kita tidak terlebih dahulu mengubah unit terkecil dari negara, yaitu keluarga.

Semoga anak-anak kita kelak hidup di bumi Indonesia yang lebih damai, tenteram, jujur, adil, sejahtera, bahagia, sentausa…selama-lamanya, semuanya mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai saat ini…mulai dari keluarga kita masing-masing.

Bismillahirrahmaanirrahiim…selamat mengawali pekan ini dengan semangat menebar sebanyak-banyak manfaat :)

Mengencangkan Ikat Pinggang

1 Comment

Inilah salah satu konsekuensi jika salah satu keran penghasilan ditutup, mengikat ikat pinggang lebih kencang. Hal tersebut berkaitan dengan keputusan saya untuk bekerja di rumah mulai pertengahan bulan depan. Secara finansial sebenarnya kami masih butuh kedua keran untuk terus mengalir, setidaknya untuk menutup pengeluaran di luar kebutuhan yang benar-benar pokok, tapi setelah pertimbangan matang yang tidak sebentar, kami melihat keputusan ini lah yang paling tepat untuk keluarga kami saat ini.

Masih harus tetap bersyukur karena berkurangnya setengah penghasilan bulanan keluarga kami bukan berarti kami akan hidup prihatin, hanya harus menurunkan gaya hidup dengan mengurangi banyak pengeluaran di luar kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Tentu hal ini akan menjadi sarana pembelajaran bagi saya dan suami untuk bisa me-manage keuangan keluarga. Akan sungguh memalukan jika kami tidak berhasil dalam hal ini, mengingat suami adalah sarjana lulusan manajemen konsentrasi keuangan dan saya lulusan akuntansi hehehe. Walaupun latar belakang tersebut pun tidak menjadi jaminan 100% bagi kami untuk sukses secara finansial di masa datang.

Mungkin masalah finansial ini lah satu-satunya hal yang membuat saya was-was untuk keluar dari kantor sekarang. Tapi kecukupan finansial juga tidak menjamin saya bahagia. Betapa tidak bahagianya saya yang hanya bisa bertemu suami dua minggu, atau tiga minggu, atau bahkan sebulan sekali walaupun saya memegang cukup uang untuk sekedar membahagiakan diri di mall, salon kecantikan, dll. Itu lah yang luput dari pertimbangan orang-orang yang tidak dalam posisi saya. Boleh juga jika orang menilai saya tidak cukup tangguh menghadapi situasi ini, mengingat di luar sana banyak juga pasangan yang terpisah satu sama lain. Tapi semua kembali kepada pilihan pribadi masing-masing, dan ini jalan yang saya dan suami pilih.

Dan semestinya hal finansial ini bukan masalah yang perlu terlalu dikhawatirkan. Saya mengenal beberapa keluarga yang mulai dari nol bahkan mungkin minus. Mereka perlahan-lahan bangkit, sehingga bisa bertahan sampai sekarang. Tidak hanya bertahan malah menjadi sangat berkecukupan. Keluarga-keluarga itu punya persamaan, selain karena bekerja keras dan cerdas, saya menilai mereka orang-orang yang berserah diri sama Allah. Pasrah. Semoga kami pun nanti begitu. Semoga hati-hati kami senantiasa bertaut pada Allah sehingga Allah tidak akan pernah meninggalkan kami.

Bismillahirrahmaanirrahiim…inilah awal baru bagi perjalanan hidup keluarga kecil kami…

Kok Gak Keliatan?

2 Comments

Ini cerita tentang hamil saya yang kata beberapa orang, “Kok gak keliatan?”

‘Gak keliatan’ disini, bisa berarti dua hal.
Yang pertama, ada beberapa orang yang melihat perut saya tidak sebesar perut orang hamil dengan usia kehamilan yang sama.
Yang kedua, ‘gak keliatan’ is ‘gak keliatan’. Ada beberapa orang yang bahkan gak ngeh kalau saya hamil. Hehh???

Sebagai info saja, bahwa sampai tulisan ini dibuat usia kehamilan saya sudah 30 minggu plus 3 hari, kalau dihitung bulan berarti sama dengan 7,5 bulan, alias hampir 8 bulan. Tapi kan usia kehamilan tidak bisa disamakan dengan usia bayi dalam kandungan, karena usia kehamilan dihitung dari Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT). Jadi kalau untuk mengetahui usia kandungan sebenarnya, biasanya saya menambahkan dua minggu dari HPHT, artinya kandungan saya kira-kira sekarang ini menginjak 7 bulan, masuk trimester ketiga, yang mana semestinya perut sudah membulat sebesar bola basket hehe, tapi biasanya orang-orang sudah ngeh sama bumil yang masuk trimester kedua kok.

Lain kejadian dengan saya. Bahkan sampai usia sekitaran +/- 7 bulan, masih ada aja yang ga ngeh kalo saya hamil. Hehehehe …

Contohnya:

Sekitar kurang dari sebulan yang lalu, Mbak yang satu bus jemputan dengan saya menyapa saya di kantin, “Mbak lagi hamil, ya?”
Teman saya yang lain menimpali, “Ya ampun Mbaak, masa tiap hari se-bus ga tau?”
Saya cuma cengengesan.

Kemudian beberapa hari yang lalu, selepas jam kantor saya jalan bersisian dengan seorang Mbak menuju parkiran bus jemputan. Saya curiganya si Mbak ini baru tahu saya hamil, karena baru seminggu terakhir ini dia manggil saya “Bumil”, padahal kami cukup sering berpapasan, saling menyapa, atau bertemu di pengajian mingguan yang diadakan forum kajian Muslimah disini, “Iiih … bumil … udah berapa bulan sih?”
“Sekarang 7 bulan.”
“Hahh! Serius?? Kok keciilll???”
Saya cuma cengengesan.

Beberapa hari yang lalu juga, ketika bertemu segerombol Ibu-Ibu satu unit tapi ngantor di gedung berbeda, salah seorang diantaranya bertanya sambil ngelus-ngelus perut saya, “Berapa bulan sih ini?”
“Tujuh Bu”
“Tujuh bulan segini mah kecill, dulu saya hamil tujuh bulan udah gede banget, jalan udah ngangkang-ngangkang”, Ibu yang lain menimpali.
Saya cuma cengengesan.

Dan yang paling cetar membahana adalah kejadian beberapa hari lalu. Waktu saya ke toilet dan bertemu Mbak Cleaning Service, sempatlah kami berbincang sebentar, topiknya waktu itu Family Gathering di Dufan yang diadakan tanggal 6 April 2013 yang lalu.
“Ikut ke Dufan, Mbak?”, tanya saya.
“OB–OB disini gak ada yang daftarin Mbak, jadinya kita pada gak dapet tiket kesana. Mbak berangkat ya Mbak?”, jawabnya, sambil tangannya tetap sibuk mengepel lantai toilet.
“Iya, Mbak”
“Sama siapa? Mbak-nya enak ya masih single, bisa puas-puasin tuh Mbak maen disana”
Saya ternganga sejenak, “Lho Mbak, saya udah nikah lho, lagi hamil malah”
“Hah?? Oh ya??? Ya ampun Mbak, selama ini kirain belum nikah … Ya Allah … udah hamil juga tho?? Udah berapa bulan?”
Saya nggubrak?!*&%

Nah begitulah kira-kira beberapa kejadian tentang hamil saya yang, katanya, gak keliatan.

Sebenarnya saya sih merasa perut saya seperti orang hamil 7 bulan pada umumnya. Hanya setelah dianalisis, ada beberapa hal yang mungkin membuat perut saya tidak terlalu terlihat:

Pertama, karena saya lebih sering pakai baju yang longgar dengan kerudung panjang menutupi bagian perut. Kalau sekali-sekali saya pakai kaos atau baju yang agak ngepas badan, walaupun kerudung tetap panjang sampai menutupi perut, keliatan besar juga kok perutnya.

Kedua, apa karena saya juga cenderung menutup-nutupi ya? Hihihi. Jangan berpikir saya tidak mensyukuri kehamilan saya yaaa … ngga dong! Ini merupakan anugerah yang amat sangat patut untuk disyukuri. Namun terkadang saya sibuk dengan pikiran orang terhadap saya, apalagi orang-orang di sekeliling kost yang padahal tidak terlalu kenal saya. Kadang merasa aneh sendiri, padahal siapa peduli ya, ada bumil, tinggal sendirian di kost? Suaminya mana??? Nyatanya kalau suami pulang, malah saya senang kalau orang melihat saya sedang hamil :D

Ketiga, mungkin karena saya tinggi. Entahlah, tapi kata beberapa orang, mungkin salah satu alasannya itu. Jadi, dengan ukuran perut yang sama dengan bumil yang sama usia kehamilannya, saya terlihat lebih langsing.

Bagaimana pun teuteup ya yang namanya cewek-cewek, seneng kalau dibilang kurus walaupun lagi hamil. Saya, salah satunya hehe

-edisi curhatan bumil kurus-

Older Entries