Tergelitik juga baca status FB salah satu adik kelasku tadi pagi…..

Intinya sih, ungkapan kekecewaan dia karena merasa tertipu oleh seorang abang jeruk.

Lho??Lho????

Kita ngomongin jeruk atau apa ya??

Ya, FYI (terutama kalo yang baca ini bukan anak TN), adalah satu isatilah ‘jeruk makan jeruk’ untuk mereka yang menjalin hubungan semacam pacaran, bahkan menikah, dengan sesama alumni TN…hehehe….
Dan kasus jeruk makan jeruk ini…..ternyata banyaaaaaakkkk banget…..
Yang nikah sesama alumni aja udah banyak pasang, yang pacaran lebih banyak lagi, walaupun ga selalu yang pacaran itu berakhir di pernikahan, belum lagi yang punya hubungan ‘Abang-Adik Asuh’ tak terhitung jumlahnya, hahaha…..kalo ini sih semacam TTM yang terselubung…:mbisik: (niru kode emoticon di forum Ikastara).

Kenapa begitu banyak pasangan jeruk ini ya?
Pasangan jeruk yang nikah, udah pasti karena jodoh..hehe…
Walaupun katanya, ‘jodoh itu di tangan Tuhan’, ya…mesti diusahain juga tho??? Ga nunggu tiba-tiba si jodoh datang tho??? (wkwkwk…..inget Mbah Surip suka bilang…tho…tho…)

Memangnya apa sih yang ga berasal dari ‘tangan’ Tuhan?
Rezeki pun berasal dari ‘tangan’ Tuhan bukan? Dan apakah untuk rezeki ini orang-orang hanya menunggu tanpa usaha memperolehnya? Menunggu sekarung uang logam jatuh dari langit dan menimpa kepalanya? (mati doong….)
Dan itu juga yang kupahami mengenai konsep jodoh….karena semuanya berasal dari ‘tangan’ Tuhan, maka kita harus melakukan usaha untuk mengambilnya dari ‘tangan’ Tuhan.

Nah loh…melenceng deh dari pembahasan kita….
Tadi kita lagi ngomongin jeruk kan?

Ngga melenceng kok….jadi….kalo pada akhirnya banyak pasangan jeruk yang menikah, ga usah heran (Kok bisa banyak jeruk yang ternyata berjodoh?), itu pasti karena usaha dan campur tangan Tuhan juga.

Nah…kecenderungan jeruk makan jeruk ini sudah mulai saya rasakan dan perhatikan ‘fenomena’nya sejak SMA.
Dari mulai pacaran antar siswa (Ssstttt…..pelanggaran K-9 nih), sampai antar siswa dan alumni.
Alumni yang punya kesempatan paling besar untuk PeDeKaTe ke adik-adik jeruknya sih yang pasti alumni jeruk yang sekolah di akademi tetangga.

Kalo saya perhatikan, setiap wiken, selalu saja ada jeruk tetangga yang berkunjung ke TN, dengan alasan, mengunjungi adik-adik grahanya, mengunjungi adik-adik daerahnya, mengunjungi pamong A, mengunjungi pamong B, lebih bagus lagi kalo dalam rangka kunjungannya itu mereka ketemu adik siswa putri yang menarik hati….ya sudah dilahap tuh jeruk.
Kenapa saya bicara kayak gini? Karena melihat kenyataan di lapangan, banyak teman saya yang akhirnya dekat dengan mereka bahkan akhirnya pacaran diawali dengan hubungan yang dipaksakan, seperti….sodara absen adik kamarnya….absen depan belakang dengan adik daerahnya….sodara daerah adik absennya….dll (hahahaha…..contoh-contohnya 100% ngarang looo…).
Tapi mungkin karena sama-sama spesies bernama jeruk, ketertarikan itu lebih besar walaupun hanya sekali bertemu bahkan belum pernah bertemu sebelumnya.

Kenapa begituuu???

*
Sejak saya masuk TN, bahkan sebelum resmi menjadi siswa disana, saya mengagumi sosok anak TN, yang dalam pandangan saya, sangat berwibawa, bersahaja, pintar (pastinya…hehe), disiplin, kepribadian oke (cuit..cuiiiitt..), ngga madesu, dewasa, dan el el.
Terlebih lagi setelah menjalani tes masuk yang tidak bisa dibilang mudah, saya makin memandang siswa TN dengan segan. Mereka hebat! Saya pikir waktu itu. Dan ketika akhirnya saya jadi bagian dari mereka, saya bangga, walaupun pada kenyataannya saya siswa yang sangat biasa-biasa saja.

‘Fenomena’ jeruk makan jeruk ini, menurut saya, bisa terjadi terutama karena kebanyakan jeruk memiliki cita-cita ideal yang sama, dan yang terpenting, pernah mengalami tiga tahun yang sama dalam rentang umur tertentu dalam hidup mereka. Tiga tahun yang kata orang-orang merupakan masa pencarian jatidiri, dialami oleh para jeruk di bawah idealisme yang sama, di bawah naungan atap yang sama. Sehingga walaupun tidak pernah bertemu secara fisik, walaupun jarak angkatan berbeda hingga 10 tahun, ada keterikatan hati antara para alumni yang membuat solid hingga saat ini.
Dan jika seorang alumni bertemu dengan alumni lainnya, yang beda angkatan, beda generasi, obrolan akan tetap nyambung, karena kami menerima pendidikan yang kurang lebih sama selama 3 tahun tersebut.
Jadi, wajar saja jika ada jeruk yang langsung tertarik pada jeruk yang lain, meski dalam pertemuan pertama dengan alasan, “Enak sih….kalo ngobrol nyambung….”
Jelas…pasti nyambung, karena (pengalaman pribadi nih…:mbisik:), pertemuan pertama dengan jeruk yang baru dikenal biasanya diisi dengan obrolan seputar kehidupannya selama di TN.

Tapi…..seperti komentar yang saya submit pada status adik kelasku itu, “Diantara sekarung jeruk manis-manis, pasti ada jeruk yang asem-asemnya…”
Artinya, walaupun secara umum penilaian saya terhadap jeruk adalah baik (seperti yang saya ungkapkan sebelumnya di atas), tapi setiap manusia pasti punya sisi baik dan buruknya kan?
Dalam hubungannya dengan sesama manusia, tidak selalu baik yang kita lihat dari orang yang kita anggap baik, pasti ada sesuatu yang menurut kita buruk dari seorang yang baik dan mengganggu perasaan kita. Dan orang yang melakukan sesuatu yang kita anggap buruk, belum tentu orang yang tidak baik, hanya saja, mungkin orang itu tidak menempatkan perasaan kita sebagai prioritasnya sehingga yang muncul adalah perasaan sakit hati karena merasa diperlakukan ‘ga pake hati’.

Jadi lain kali kalo mau beli jeruk hati-hati deeehhh….jangan sampai tertipu seperti anekdot seorang tukang jeruk yang tertipu karena udah membeli jeruk asem sampai dua karung, ketika seorang pembelinya protes, “Bang….katanya jeruknya manis-manis, saya beli 2 kilo ga ada satupun yang manis…”, kemudian dijawab oleh si abang jeruk…eh penjual jeruk…,”Ibu mending cuma beli 2 kilo, lah saya…beli jeruk 2 karung asem semua”

Kadang harga juga ga menjamin kualitas jeruk loo….penampilan fisik seseorang yang terlihat ini, terlihat itu, tampaknya begini tampaknya begitu, tidak menjamin isi hatinya juga baik. Kadang justru jeruk berwarna kulit ijo yang lebih manis daripada jeruk yang berwarna kulit orange. Kadang jeruk mandarin yang lebih mahal pun ga semanis jeruk lokal yang berpenampilan standar.
Artinya, jangan menilai seseorang hanya dari fisiknya.

Hmm…apa lagi ya…

Udah ah….:mngacir:

Tuh geura nya…kalah ka ngacir…..

Iya deh balik lagi….
Kesimpulannya adalah….
Mau jeruk kek, bukan jeruk kek, tetep aja manusia….

(abis ini manusia yang protes-protes gara-gara disamain sama jeruk..hahahaha…)