Mengandung Curhat

Leave a comment

Yep, postingan kali ini mengandung curhat tentang mengandung anak ketiga. 

Hamil ketiga ga ketauan awal mulanya. Pokoknya suatu hari di usia Ahnaf yang ke 15 bulan, saya haid untuk yang pertama kalinya sejak melahirkan. Tidak tahu persis tanggalnya. Makanya saya ga pernah bisa jawab setiap ditanya HPHT. Setelah itu ga pernah haid lagi, dan saya ga berpikir akan kemungkinan hamil lagi. Karena sebelumnya sudah terlalu lama ga haid (9 bulan hamil Ahnaf+15 bulan setelah melahirkan), jadi saya ga begitu ngeh tentang kapan seharusnya haid bulan berikutnya.

Singkat cerita, memasuki bulan Syaban, menjelang Ramadhan, saya merasakan badan terasa lebih cepat lelah, sering merasa pusing, dan sedikit mual. Kenapa saya pakai patokan bulan hijriyah? Karena saya ingat, awal puasa Ramadhan waktu itu terasa berat buat saya. Tak lama dari mulai sering merasa pusing dan mual itu, masuklah bulan Ramadhan, dan hampir setiap hari saya merasa lemaassss… maunya tiduran terus, apalagi di siang hari yang panas. Untuk beranjak sholat pun kadang-kadang merasa susah menegakkan badan.

Sebetulnya saya sempat menyampaikan ke suami sebelum Ramadhan, “Jangan-jangan hamil lagi…” karena waktu itu sudah jalan dua minggu selalu merasa mual setiap hari. Namun, saya berusaha mengabaikannya… tidak pula penasaran untuk segera membeli testpack.

Di pekan kedua Ramadhan, akhirnya saya memutuskan menggunakan testpack. Alasannya… karena saya merasa ga sanggup puasa, dan ingin mengambil keringanan beberapa hari untuk ga puasa, tapi harus dipastikan dulu, rukhsah itu diambil dalam rangka apa? Kalau memang hamil, kan saya bisa ambil keringanan tidak puasa karena hamil.

Seperti yang sudah diduga, hasilnya memang positif, dan keesokan harinya saya tidak puasa sampai 7 hari berikutnya. Ketika merasa tubuh sudah cukup fit, saya kembali berpuasa di pekan terakhir Ramadhan.

Pertama kali periksa…

Pertama kali periksa ke bidan dekat kontrakan di Ciledug, mungkin hampir 2 bulan setelah testpack, di usia kehamilan yang mungkin memasuki 3 bulanHal yang mustahil dilakukan jika ini hamil pertama haha.

Saya ingat, hamil Akhtar dulu, 2 minggu telat haid, saya langsung testpack, dan keesokan harinya langsung ke dokter, yang mana janin pun katanya ‘belum turun’, tidak tampak di layar USG.

Dan hamil Ahnaf, walaupun lebih cuek dari hamil pertama, saya masih telaten ke dokter setiap bulan, walaupun sudah ga disiplin mengonsumsi vitamin.

Reaksi pertama bidan waktu itu, “Hah.. kamu ga KB?” Matanya terbelalak sambil melihat ke arah Ahnaf yang berlari-lari di ruang tunggu. 

Iya.. iya.. saya ga KB. So what gitu lho? Saya jawab dalam hati.

Setelah periksa dan ngobrol sedikit tentang ina inu.. kami pun pulang, membawa vitamin untuk 30 hari ke depan, yang mana vitamin itu pun ga habis saya makan sampai sekarang.

Periksa kedua…

Saya baru periksa lagi sepekan yang lalu di RS Hermina Pasteur, 3 bulan dari periksa pertama. Hari itu, hari terakhir di tahun 1439 H. Suami sengaja mengambil cuti 1 hari agar bisa mengantar ke dokter. 

Kami berangkat tanpa tahu akan ke dokter siapa. Pokoknya ke siapapun yang praktik hari itu, karena tujuannya ingin melakukan USG agar diketahui perkiraan usia kandungan dan penampakan janin dalam rahim.. hihi.. kasian belum pernah dilihat sama sekali.

Dapatlah seorang dokter perempuan yang praktik jam 2 siang. Dan dia terkaget-kaget karena tidak mendapati histori pemeriksaan kehamilan pada buku periksa saya. Lebih kaget lagi karena mengetahui sejak hamil baru 1 kali periksa ke bidan. 

Di awal, beliau malah seakan ga percaya kalau saya hamil, dengan melontarkan pertanyaan, “Selama 5 bulan ini ga haid?”. Dweng! Saya beralasan, baru bisa periksa karena suami di luar kota, jadi ga ada yang nganter ke dokter. Padahal tentu saja alasan sebenarnya lebih dari itu. Hehe.
“Ga KB ya?”. Pertanyaan itu lagi. Saya hanya mengiyakan pelan. “Oh.. pantes”, timpalnya.

Pemeriksaan dilakukan cukup lama, dokter mengukur beberapa anggota tubuh janin untuk memperkirakan dengan lebih tepat berapa usia janin. Dan di akhir pemeriksaan, beliau menyimpulkan usia kandungan adalah 22 weeks. Yang mana 40 weeksnya akan jatuh pada 23 Januari 2018. 

Ketika beliau hendak meresepkan vitamin, saya bilang masih ada vitamin dari bidan. 

Pertanyaan dan pernyataan yang membuat tak nyaman

Hamil ketiga dengan jarak yang tidak terlalu jauh dengan anak kedua, menimbulkan reaksi beragam dari orang-orang. Umumnya, mereka akan terlihat kaget dan menyimpulkan ini sebagai ‘kebobolan’. 

Qadarullah…

Walaupun sudah menjalankan program ‘KB alami’, kalau Allah berkehendak, ya hamil juga kan? Sebaliknya, yang ber-KB pun belum tentu ‘bebas’ dari kemungkinan hamil. 

Lagi pula tidak ber-KB adalah pilihan saya, karena saya merasa tidak nyaman ada benda asing masuk ke dalam tubuh saya dengan cara yang saya kira tidak nyaman juga – cat: orang-orang menyarankan KB dengan spiral-

Adapun KB dengan cara lain (KB hormonal) punya efek samping lebih banyak pada tubuh.

Saya merasa tidak nyaman ketika orang-orang terkesan menyalahkan saya karena saya ga ber-KB, lalu hamil. Itu ga perlu, karena…

  • Walaupun belum merencanakan untuk memiliki anak ketiga, namun saya bahagia menjalani kehamilannya, bahagia membayangkan akan ada anggota keluarga baru di rumah kami. 
  • Bagaimanapun kondisi kehamilannya, direncanakan atau tidak, hal yang harus pertama kali diekspresikan adalah rasa syukur, bukan menyalahkan si ibu. Bersyukur karena Allah masih percaya menitipkan satu anak lagi pada keluarga kami. 
  • KB itu pilihan. KB itu bukan satu-satunya penentu penunda kehamilan. Kalau si ibu tidak memilih ber-KB, maka hargailah keputusannya.

Yeah, itu sekelumit tentang KB. 

Ada lagi pertanyaan yang bikin saya ga nyaman.

“Kalau anaknya cowok lagi gimana?”

Gubraks!

Emang kenapa kalau anak saya cowok lagi? Situ ada urusan apa? Kasarnya sih pengen jawab gitu haha…

Orang kadang suka mengekspresikan sesuatu yang tidak perlu. Seperti ketika saya melahirkan Ahnaf. Ada aja komentar seakan menyesalkan, “Cowok lagi ya… ayo coba lagi”. Seolah-olah mereka lebih tahu yang terbaik daripada Yang Menakdirkan. Padahal kami tidak ada masalah dengan itu. Yang saya bayangkan sejak mengetahui anak kedua kemungkinan laki-laki lagi justru, “Wah menyenangkan ya ada 2 anak seperti Akhtar di rumah ini”.

Pun untuk anak ketiga ini pun saya tidak berharap akan terlahir laki-laki atau perempuan. Sama aja. Asalkan sehat. 

Minta kepada Allah agar diberikan anak dengan jenis kelamin tertentu pun sesekali saya lakukan. Ya, saya berdoa diberi anak perempuan. Namun, ketika nanti terlahir laki-laki pun, kebahagiaan saya tidak akan berkurang. Alhamdulillah… Alhamdulillah… berarti kami dipercaya menyiapkan satu lagi calon suami shaleh dari rumah ini.



Advertisements

Destruktif

Leave a comment

Kadang suka agak sulit memaklumi anak-anak (seumuran, lebih tua, atau lebih muda dari Akhtar) yang perilaku bermainnya bersifat ‘destruktif’. Emm, entah tepat kah saya menggunakan kata ini. 

Destruktif yang saya maksud disini… misalnya: 

menghancurkan mainan balok susun yang telah rapi, 

melempar-lemparkan kepingan puzzle sampai hilang beberapa pieces,

menabrak-nabrakkan atau melemparkan mainan,

main gegelutan dengan media boneka/ robot,

Dan seterusnya.

Anak-anak? Seperti itu? Wajar bukan?

Nah itulah… apa masalahnya di saya yang terlalu ‘perfeksionis’ soal cara bermain ya? Pokoknya saya merasa anak seusia Akhtar, bahkan kurang, seharusnya sudah bisa memainkan mainan sesuai peruntukannya. 

Sebagai orangtua, kita juga ga bisa dong terus memaklumi perilaku mereka dengan dalih “Namanya juga anak-anak…”. Toh, mereka sebenarnya bisa diajari kok untuk bermain yang baik dan benar. Justru karena masih anak-anak seharusnya pembiasaan itu dilakukan.

Anak satu tahun melempar, ya wajar, karena mereka ada pada tahap perkembangan itu. Tapi sedikit demi sedikit kan kita bisa mengarahkannya bagaimana bermain yang benar.

Terlebih jika yang dimainkan adalah mainan orang lain. Ada adabnya. Bagaimana adab meminjam, “Boleh pinjam?” Dan tidak memaksa jika tidak dipinjamkan, apalagi mengambilnya tanpa izin. Bagaimana adab memainkannya, tentunya dengan sewajarnya, tidak merusaknya, sehingga mainan dikembalikan tanpa kurang suatu apapun.

Memang kudu selektif memilihkan teman main untuk anak. Untuk balita, maka yang lebih perlu diseleksi justru orangtuanya. Akan lebih menenangkan jika teman balita kita datang dari orangtua yang punya prinsip pengasuhan yang sama dengan kita. 

Yang Dirindukan dari Ciledug

2 Comments

Pindahan


Sudah satu bulan saya dan anak-anak resmi pindah dari kontrakan di Ciledug, saat ini menempati rumah pribadi di Padalarang. Kami pindah lebih dulu dengan hanya membawa sekoper pakaian, sementara barang-barang baru diangkut sepekan kemudian, tepatnya pada 27 Agustus 2017. Dengan kecepatan beberes seperti kura-kura, plus ‘bantuan’ dari anak-anak, suasana rumah baru terasa homy 2 pekan kemudian.

Ciledug, walaupun cukup jauh dari kampung halaman, dan cuacanya panas, tetap menyimpan seenggaknya satu kelebihan yang ga dimiliki lingkungan rumah saya di Padalarang. Yaituu… jajanannya murah-murah.  

Di kontrakan Ciledug, yang terletak di wilayah Sudimara Barat itu, dari pagi sampai malam tidak berhenti penjaja makanan lewat dekat rumah. Dengan rasa yang pas, harganya pun cukup bersahabat.

Sebagai perbandingan harga nih ya… kalau pagi-pagi itu biasanya lewat penjual bubur sumsum. Dengan merogoh kocek 3000-4000 kami sudah menikmati semangkuk bubur sumsum hangat plus beberapa butir candil, cukup mengenyangkan untuk sarapan. Sementara di Padalarang, kami harus membayar minimal 5000 untuk seporsi bubur sumsum.

Kalau masih kurang kenyang, agak siangan dikit lewat penjual pecel sayur. Saya sempat ternganga waktu membeli sepiring pecel sayur+gendar dan sepiring lagi bihun goreng+gendar, artinya 2 piring, dengan total harga hanya 7000. Sementara, 11-12 dengan pecel, di dekat rumah Padalarang ada yang jual lotek, yang seporsinya lebih sedikit dibandingkan dengan sepiring pecel sayur, harganya sudah 6000.

Lagi nih… rujak, salah satu makanan favorit saya, bisa lewat 3 kali dalam sehari, ada tukang yang lewat jam 10 pagi, jam 1 siang, dan jam 2 siang. Saya paling sering beli yang jam 2 siang. Pertama kali beli, karena belum tau harga, saya beli seporsi, terserah abangnya mau kasih berapa. Ternyata dia kasih rujak sepiring penuh seharga 7000, dimakan berkali-kali pun rasanya ga habis-habis. Akhirnya selanjutnya, saya beli 5000 saja, itu pun bisa saya makan berdua bareng suami kalau pas lagi di rumah. Sementara di Padalarang, saya harus merogoh 6000 untuk seporsi rujak, porsinya terlalu sedikit buat saya, kadang beli satu bungkus terasa kurang.

Ada lagi nih… sore hari, penjual cendol favorit Akhtar akan lewat sekitar jam 3 atau 4. Pada awalnya kami biasa beli 4000 dimakan bertiga (saya, Akhtar, Ahnaf), lama-lama bosen juga, jadi beli cukup 3000, lalu saya merasa 2000 cukup untuk Akhtar sendiri, kadang malah bersisa. Intinya, 2000 itu udah porsi pas untuk sekali makan. Sementara cendol di dekat rumah Padalarang, dipatok harganya 5000 per porsi. Hiks.

Lalu, di Ciledug juga cukup banyak penjual bakso, dan untuk ukuran tukang bakso keliling, rasanya enak. Dengan rasa yang enak itu, kami sudah kenyang dengan mengeluarkan uang 7000. Kalau di Padalarang, kadang rasa bakso keliling ga seenak rasa bakso yang dijual di warungan, yang mana berarti harganya pun lebih mahal.

Oh ya, ada yang ketinggalan nih. Gorengan. Kalau pagi-pagi, dekat ibu sayur langganan suka ada yang jual gorengan. Satu potongnya besar-besar, tapi harganya hanya 1000 per potong, yang mana dengan harga segitu, kami hanya mendapat sepotong gorengan yang lebih kecil di Padalarang.

Ya begitu lah… bagusnya di rumah Padalarang intensitas jajan sehari bisa dikurangi, karena rumah kami masuk gang kecil yang cukup sepi, sangat jarang penjual makanan lewat, jadi harus selalu sedia makanan/ camilan di rumah karena ga bisa mengharap ada tukang jualan lewat depan rumah saat kami lapar. Hihi.

Dari beberapa rumah kontrakan yang kami tempati, dengan mengabaikan cuaca yang panas, rumah kontrakan di Ciledug adalah yang ternyaman. Tidak heran karena kami adalah penghuni pertama di rumah itu. 

Sejauh ini, sudah 4 rumah yang kami tempati sejak Akhtar lahir… 

Pertama, rumah di Jember, banyak cicak, nyamuk, dan bermasalah dengan air dan saluran pembuangannya yang mampet. 

Kedua, rumah di Pasuruan, alhamdulillah tidak ada masalah dengan air, tapi gerah dan banyak sekali nyamuk.

Ketiga, rumah di Pasar Minggu. Saya sebenarnya merasa nyaman disini. Air deras, bersih, dan pemilik kontrakan sangat baik. Kalaupun ada kekurangan, kekurangannya yaitu susah sinyal internet dan kurang sirkulasi udara.

Keempat, rumah Ciledug, yang menurut saya paling ideal untuk rumah kontrakan. Minusnya dapurnya bocor kalau hujan deras, di luar itu sih ga ada keluhan, hanya kalau malam Ahnaf susah tidur karena cukup gerah.

Ya begitu lah suka duka pindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Dengan berbekal pengalaman di rumah kontrakan sebelumnya, biasanya kita akan punya standar tertentu untuk rumah kontrakan berikutnya. Yang menyenangkan dari berpindah-pindah itu adalah kami ga bosan dengan lingkungan yang itu-itu aja. Setelah ini pun (walaupun udah rumah sendiri) masih ada kemungkinan kami akan pindah lagi jika menemukan hunian yang lebih ideal. Semoga semua berjalan sesuai rencana. Aamiin…

Playdate Perdana di Rumah Akhtar

2 Comments

20170913

Ini sudah saya rencanakan jauh-jauh hari, bahkan sejak rumah ini belum bisa ditempati, bahwa kelak saya ingin menjadikan rumah ini salah satunya sebagai tempat aktivitas anak-anak, dalam hal ini Akhtar dan Ahnaf, juga teman-temannya.

Demi merealisasikannya, kemarin saya melakukan ‘langkah kecil’ dengan mengadakan playdate kecil-kecilan di rumah.

Sejak resmi pindah kesini sekira sebulan yang lalu, saya sudah mewacanakannya dengan Teh Uwie (Sabumi) yang orang Cimahi, tapi tak kunjung terealisasi karena satu dan lain hal (intinya mah belum sempet ajah hehe). Pun playdate kemarin, Rabu 13 September 2017, pun sebenarnya terhitung dadakan, karena baru direncanakan matang 2 hari sebelum pelaksanaannya. Kalau saya sebenarnya lebih cocok dengan cara ‘dadak mendadak’ begini untuk playdate… karena kalau direncanakan terlalu dini dan terlalu banyak kepala yang mengusulkan waktu pelaksanaan dan teknis kegiatannya, seringnya malah ga jadi.

Adapun tema playdate yang diusulkan inginnya mulai dari mainan yang basic, misalnya membuat playdough. Namun, berpikir ulang, playdough itu membuatnya pakai bahan makanan (terigu, garam, dan minyak) tapi pada akhirnya dibuang, kan sayang ya… makanya saya berpikir gimana agar anak-anak tetap main dough, namun tidak sampai mubadzir. Akhirnya diputuskanlah untuk membuat kukis coklat.

Hari Ahad, 3 hari jelang playdate, saya dan Akhtar praktik membuat kukis coklat, dengan berbekal resep dari cookpad. Akhtar antusias banget dari mulai membuat adonan, sampai menghias kukis dengan chocochips, hanya saja ia tampaknya ga tertarik memakannya setelah kukis itu matang. Haha… Sebagian besar kukis di toples malah hancur, karena Ahnaf hanya memakan chocochips-nya.

***

IMG-20170913-WA0012

Untuk resep kukis coklatnya, saya coba bagi disini ya…

Kukis Coklat Chocochips

Bahan-bahan:

200 gr Margarin

200 gr Gula halus (kalau saya merasa segini terlalu manis, jadi kurangi aja takarannya)

2 butir kuning telur

2 sdm coklat bubuk

1 sdm maizena

1 sdm susu bubuk

1/4 sdt baking powder

300 gr tepung terigu

50 gr kacang mete ditumbuk halus (di resep aslinya ga ada)

Chocochips secukupnya

Cara membuat:

1. Margarin dan gula halus di-mixer sampai tercampur rata

2. Masukkan kuning telur, mixer

3. Masukkan coklat bubuk, maizena, susu bubuk, BP, mixer

4. Masukkan terigu sedikit demi sedikit, mixer

5. Lanjutkan mengadon dengan tangan jika sudah ga lengket di tangan. Masukkan kacang mete tumbuk. Tambahkan terigu sedikit demi sedikit sambil diadon sampai kalis

6. Cetak, beri chocochips di atasnya

7. Panggang dalam oven 180˚ selama 25 menit.

***

Pada hari H, yang hadir adalah Teh Uwie+Fatih, Teh Rini+Wildan dan Milki, dan Teh Indri+Echa dan Adin. Sedikitan ya? Tapiii tidak sedikit pun mengurangi kemeriahan playdate di rumah, terutama karena ada 3 ‘pemuda’ yang selama playdate tidak berhenti mengeksplorasi semua ruang dan semua mainan, dari mulai bermain-main standar di kamar main sampai memandikan 2 mobil besar di kamar mandi.

Lalu bagaimana dengan agenda bikin kukisnya? Ternyata anak-anak itu hanya bertahan sampai proses mencetak kue, ada yang bahkan hanya bertahan sampai membuat dough. Sisanya lebih banyak emak-emaknya yang mengerjakan. Tak apa lah ya, yang penting semua happy. Anak-anak happy, ibu-ibu pun happy karena bisa ngobrol sagala rupa plus membawa pulang masing-masing setoples kukis.

Rangkaian acara berakhir sampai adzan Ashar berkumandang, molor jauh dari yang direncanakan selesai pada jam makan siang. Ah tapi terlihat tidak ada yang keberatan kok, semuanya menunjukkan wajah lelah yang bahagia :)

Sekian laporan playdate perdana di rumah Akhtar. InsyaAllah kami akan mengadakan playdate-playdate selanjutnya dengan tema-tema memikat lainnya.

Akhtar dan Kereta Api

Leave a comment

Akhtar sukaaa sekali menggambar. Dan tema gambar favoritnya selain mobil, adalah kereta api, sesekali menggambar yang lain juga. Sampai bosan saya ngeliatnya, tapi anaknya tampak enjoy, maka saya memilih menahan diri dari berkomentar, “Bosen…”. 

Gambarnya standar… ia akan membuat gerbong-gerbong kereta api, dalam satu halaman kertas bisa membuat beberapa rangkaian kereta api.

Namun yang saya perhatikan, gambarnya mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Dari yang dulu hanya menggambar gerbong-gerbong berbentuk oval dengan dua roda di bawahnya, lalu bentuknya semakin ‘jelas’ dengan tambahan jendela-jendela. Lalu jendelanya dibuat lebih variatif di setiap gerbongnya, gerbongnya pun mengalami perkembangan bentuk, dari yang hanya berbentuk persegi panjang, kadang ditambah ‘aksesoris’ tambahan di atasnya. 

Kemudian, Akhtar mulai memberi nama untuk kereta-keretanya. Awalnya saya yang menuliskan nama-namanya di atas gambar setiap rangkaian kereta api, namanya aneh-aneh… namun sekarang tak jarang Akhtar yang menuliskan keterangan nama kereta dengan nama-nama yang real. Argo Parahyangan, Argo Bromo Anggrek, Taksaka, Argo Wilis, Cirebon Ekspress, kereta barang… nama-nama itu dibacanya dari buku tentang kereta api, selain karena pengalamannya juga naik beberapa jenis kereta api.

Sekarang-sekarang, sering saya tanya hasil akhir gambarnya. Ternyata dari puluhan lembar gambar kereta api, ceritanya bisa berbeda-beda. 

Dari mulai latar tempatnya yang bisa di berbagai lokasi stasiun (paling sering Stasiun Padalarang) lengkap dengan penjelasan dimana lajurnya. Atau jenis gerbongnya, ia bisa tunjukkan mana gerbong eksekutif, bisnis, ekonomi, gerbong makan, bahkan gerbong mesin. Yang terbaru, ia menuliskan “DJARUM” dan “COKLAT” pada 2 badan kontainer berurutan yang diangkut rangkaian kereta barang, entah dimana pernah melihatnya…

Dll dst dsb dtt cpd ydd ybb… 

Gowes

Leave a comment


Akhtar dibelikan sepeda sekitar 2 tahun yang lalu. Hari itu tanpa direncanakan sebelumnya kami membelikan Akhtar sepeda roda 3 di sebuah toko sepeda kecil di Pasar Tagog, Padalarang. 

Akhtar sedang dalam masa “sulit” ditenangkan waktu itu karena beberapa hal… pertama, baru disapih, dan… entah ada hubungannya atau ngga, saya lagi hamil Ahnaf yang menyebabkan emosi yang %&#$@&$^ (apa coba..). Emosi tidak baik itu menular pada Akhtar sehingga Akhtar jadi sering ikut uring-uringan.

Ternyata, sepeda itu tidak cukup menenangkan Akhtar. Akhtar masih sering tantrum dan rewel sampai batas waktu yang tidak saya ingat kapan. Hehe. Bahkan kehadiran sepeda itu bagai buah simalakama bagi saya, karena ada masa dimana Akhtar terus meminta main sepeda, sampai jauuuh… susah berhenti. Kan cape ya Cyin. Puncaknya ketika suatu hari, saya meninggalkan sepeda di pinggir sawah lalu menggendong Akhtar yang tantrum pulang karena situasi yang serba salah. Maju kena mundur kena. 

Sepeda itu baru terasa sangat efektif ketika dibawa boyong ke Ciledug. Sesekali jika bosan di kontrakan, saya akan mengajak Akhtar berkeliling, yah sampai radius 1 km dari kontrakan, plus Ahnaf di gendongan. Tapi sekarang udah jarang, kecuali mendesak, seiring dengan bertambah beratnya Ahnaf, dan Akhtar jarang mau bergantian naik sepeda dengan Ahnaf. 

Selama memiliki sepeda itu, tidak pernah sekalipun Akhtar mengayuh sepedanya sendiri. Ketika anak-anak lain ada yang bahkan sudah bisa mengayuh sepeda yang lebih besar sejak usia 3 tahun, Akhtar masih saja harus saya dorong-dorong di atas sepeda roda tiganya. Sering saya memotivasinya mengayuh sendiri, tapi “Ga bisa… “, katanya, dan ga mau mencoba untuk bisa juga saya lihat. Ya sudah saya biarkan…

Sampai menginjak usia 4 tahun, ketika ia mulai sering keluar main bersama teman-temannya, gemes juga saya lihat Akhtar ‘mengendarai’ sepeda dengan menolak-nolakkan kakinya ke tanah. Sekali lagi saya suruh Akhtar latihan mengayuh, dengan tangan saya bantu kakinya mengayuh, tetap tidak bisa. Sedikiiiit khawatir juga sih, karena menurut saya mengayuh sepeda adalah kemampuan motorik kasar yang selazimnya dimiliki anak seusia Akhtar.

Tadi pagi, tiba-tiba Akhtar masuk rumah dengan excited… “Mim Akhtar tadi boseh sepedanya bisa maju sedikiit”.. lalu saya menanggapi dengan ekspresi yang tak kalah excited

Buru-buru Akhtar membawa masuk sepedanya dan mempertontonkan kemampuan barunya di depan saya. Tak henti saya bersyukur dan memuji-muji Akhtar, membuat ia bertambah semangat mengayuh. Lalu, ia meminta latihan di jalan depan rumah.

Ternyata, hanya soal waktu, anak-anak akan mendapatkan momennya masing-masing untuk menguasai suatu kabisa baru. Tugas orangtua hanya mengarahkan, dan berdiri paling depan sebagai suporter.

19 Bulan Membersamaimu

Leave a comment

Ahnaf menjelang 19 bulan sekarang. Beberapa perkembangannya antara lain:

1. Memahami beberapa perintah sederhana, seperti: tutup pintunya, masukkan baju kotor ke keranjang, makannya sambil duduk, simpan gelasnya di meja, loncat, beresin mainannya.

2. Membuka-buka buku berkertas tipis tanpa sobek. Sebenarnya hal ini sudah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir. Karena saya tidak menyediakan boardbook, maka Ahnaf pun terbiasa dengan buku-buku berkertas tipis. 

3. Sehubungan dengan buku juga, Ahnaf sudah punya buku favorit. Kadang mengambilnya sendiri dari boks buku, kadang meminta bantuan. Buku favorit Ahnaf ya yang sering dibaca Akhtar juga, diantaranya komik muslim cilik Sayangi Bumi. Dia akan menunjuk-nunjuk halaman buku dan (terdengar) berkata “Bca bca…” meminta kita membacanya. Salah satu halaman favoritnya adalah yang ada gambar kucingnya.

4. Memegang pensil/ pulpen dengan (lumayan) benar. Keterampilan ini tidak pernah saya ajarkan khusus. Saya tidak secara sengaja memberi Ahnaf pensil. Namun karena sering melihat Akhtar menggambar/ menulis jadi ia sendiri yang berinisiatif meminta, dan saya perhatikan cara memegangnya sudah benar. Lagi-lagi… saya kira karena ia meniru Akhtar.

5. Mengangguk-angguk tanda setuju. “Ahnaf mau makan?” Angguk-angguk. “Ahnaf mau nenen?” Angguk-angguk. “Ahnaf mau mimi?” Angguk-angguk. “Ahnaf ngantuk, iya?” Angguk-angguk. Kadang saya merasa ia asal mengangguk-angguk saja setiap mendengar kalimat pertanyaan yang serupa, baik paham maupun tidak. Haha.

6. Melanjutkan kata-kata… dengan suku kata “Bah..” hehe. Misal, saya bacakan doa sesuatu, lalu menyisakan suku kata terakhir untuk Ahnaf lanjutkan, maka apapun doanya akan diteruskan “Bah..” oleh Ahnaf. Kenapa? Karena baru itu salah satu kata yang bisa diucapkannya dengan fasih, selain papah (sapaan untuk Papnya), bah bah (sapaan untuk Abahnya), mam mam (maksudnya ngASI), dan beberapa bahasa bayi lainnya.

Di usianya yang hampir 19 bulan, memang Ahnaf tidak memiliki kosakata sebanyak anak-anak lain seusianya. Bahkan, di lebaran kemarin saya bertemu anak perempuan seusianya yang begitu ‘fasih’ menirukan apapun yang diucapkan oleh orang dewasa, dan dia sudah bisa mengucapkan nama suatu benda atau aktivitas, serta menirukan suara hewan. Sementara Ahnaf baru bisa menunjukkan keinginannya dengan bahasa tubuh dan bahasa bayinya, misal dengan menarik tangan kita ke arah yang ia maksud. 

Tapi… ya ga apa-apa, pelan-pelan aja ya Dek… sejauh ini sih tidak menjadi kendala dalam komunikasi kami. Toh Akhtar pun kemampuan berbicaranya baru berkembang pesat setelah usia 2 tahun.

7. Dari sisi sosialnya, Ahnaf sekarang sudah mulai terbuka dengan lingkungannya. Misal, sebelumnya Ahnaf selalu enggan didekati salah satu paman saya, reaksinya akan menangis, menjauh, atau memeluk kita dengan ekspresi takut. Sekarang, bahkan tanpa ditemani pun sesekali Ahnaf berkunjung ke rumah si paman tersebut, mengetuk-ngetuk pintu sendiri dan kadang betah berlama-lama disana sambil ngemil atau menonton tv.

8. Dari sisi emosinya, sekarang sudah mulai bisa memaksakan kehendaknya, dan (sedikit) tantrum jika keinginannya tidak atau terlambat dipenuhi. Saya kira bayi anteng kayak Ahnaf gak akan se’tantrum’ itu kalau nangis, ternyata sama aja.. haha. Juga sudah bisa berebut mainan dengan kakaknya. Sebelumnya ia cenderung mengalah/ tidak berbuat apa-apa kalau mainannya direbut paksa, sekarang mulai timbul egonya… kadang melawan dengan cara memukul dan menarik-narik rambut Akhtar. Bahkan belakangan menunjukkan kecemburuannya juga jika saya agak mengabaikannya, suka terlihat kesal jika Akhtar duduk terlalu dekat dengan saya, atau melihat saya mendahulukan Akhtar.

9. Dari sisi kemandiriannya, Ahnaf sedikit demi sedikit mulai diajari pipis di WC. Kadang berhasil, tapi lebih banyak juga gagal karena popok terlanjur basah pas dibuka di kamar mandi. Hal ini dilakukan demi tidak mengulang proses TT seperti Akhtar yang molooor hingga ia menjelang usia 3 tahun.

Selain itu, beberapa hal sudah bisa dikerjakannya sendiri seperti memakai sendal (sudah berjalan beberapa bulan), memasukkan baju kotor ke keranjang, mengambil dan menyimpan gelas minum sendiri, kadang mengambil air sendiri dari dispenser. 

Ya… keberhasilan-keberhasilan ‘kecil’ yang tidak bisa diabaikan, dan tidak bisa dibandingkan antara 1 anak dengan anak yang lain. 

Semoga Ahnaf senantiasa tumbuh dan berkembang dengan sehat. Kelak menjadi seorang muslim yang kuat dan bermanfaat bagi banyaaak orang. Aamiin.

Luv luv… 

Older Entries Newer Entries