Lebaran Istimewa

1 Comment

Tulisan ini judulnya ‘dibuang sayang’. Seringkali saya hanya menulis di draft blog tanpa published. Kadang-kadang, kalau lagi moooood (kadang-kadang lho ya..), saya buka lagi satu per satu tulisan di draft, ada yang saya lanjutkan ceritanya dan akhirnya terpublish, banyak juga yang akhirnya ‘tidak berakhir jadi apa-apa’ saking ‘late post’nya, ide-ide sudah menguap entah kemana, dan kalau itu berupa cerita pengalaman, maka udah ga dapet ‘feel’nya untuk melanjutkan cerita. Udah basi dan krauk krauk…

Tapi karena cerita di bawah ini menurut saya ‘cukup’ istimewa, maka saya memutuskan untuk ngeposting juga. Istimewanya karena ada beberapa ‘momen pertama kalinya’ buat saya, buat anak-anak, dan buat saya dan suami.

***

Lebaran 2016

Salah satu yang istimewa dari Ramadhan tahun ini adalah bahwasanya ini adalah Ramadhan pertama saya dengan puasa full, tanpa batal, dalam 16 tahun terakhir sejak mendapat haid pertama.

Jika di 13 tahun sebelumnya saya batal karena haid, di 2013, separuh bulan saya ga puasa karena dalam masa nifas setelah melahirkan Akhtar. Setelah itu saya ga datang bulan sampai 13 bulan dan dengan percaya dirinya yakin bisa penuh menjalankan puasa Ramadhan 2014.

Qadarullah… saya mendapat haid pertama dalam 13 bulan itu justru dalam pekan terakhir Ramadhan 2014.

2015, saya kembali percaya diri bisa menjalankan puasa sebulan penuh. Waktu itu sedang hamil Ahnaf kurang lebih 3 bulan. Tapi pada suatu kunjungan ke dokter kandungan, si dokter menyarankan saya untuk tidak berpuasa demi kesehatan si janin. Ya sudah akhirnya 10 hari saya batal karena selang seling antara puasa dan tidak.

2016 ini alhamdulillah akhirnya saya bisa full menjalankan puasa dalam kondisi menyusui Ahnaf, plus pertama kalinya membawa anak-anak untuk shalat Ied.

Sekali-sekalinya pernah ajak Akhtar untuk shalat ied (yaitu idul adha) adalah sekitar 2 tahun lalu… pada akhirnya saya ngga shalat juga karena sibuk ngejar-ngejar Akhtar yang bermain di pinggir kolam tak jauh dari shaf jamaah wanita.

Dan… lebaran tahun ini untuk pertama kalinya juga sejak punya anak, suami nekat ngajak nonton bioskop ninggalin anak-anak yang udah tertidur. 

Asik nih, tiket udah di tangan, cemilan udah siap plus minumannya, pintu studio pun sudah dibuka, dan kami sudah menemukan tempat duduk kami. Film belum juga mulai, layar masih menampilkan trailer film-film yang akan tayang dan beberapa iklan komersial ketika hp suami menerima pesan singkat.

“Ahnaf nangis”

Beberapa detik cuma cengo, ga bisa mikir. Waduh… kudu kumaha. Kita memutuskan menunggu sampai ada kabar baik dari rumah, tapi yang datang malah kabar buruk

“Ahnaf ngadat, ga mau berhenti nangis”

Saya mulai gelisah…

Dan beberapa menit kemudian akhirnya kami memutuskan meninggalkan bioskop tepat di detik pertama film diputar. 

Sepanjang jalan pulang saya hanya tersenyum-senyum geli mengingat betapa gatotnya kencan kami malam itu.

Akhirnya, cemilan (mahaaal T_T) yang dibeli di lobi bioskop pun kami habiskan sambil menonton film di depan layar kaca, di rumah.

***

Bukan Bayi Lagi

Leave a comment

Sejak dinyatakan resmi bisa berjalan dua bulan terakhir, tingkah Ahnaf tidak lagi seperti ‘bayi’. Jangkauan jelajahnya semakin luas, bahkan sampai kamar mandi. Beberapa kali lepas dari pengawasan, dan ketika dicari ke semua ruangan, ternyata Ahnaf sedang berdiri hendak naik ke atas kloset. 

Bahkan beberapa kali saya pernah membatalkan shalat karena Ahnaf menjauh dari area saya shalat. Karena pernah satu kejadian dia kabur ke kamar mandi saat saya shalat… untung ga jatuh, untung lantainya ga basah, untung dan untung… alhamdulillah.

Pun sekarang teu kaop lihat tangga, jojodog, boks, dan sabangsaningnya, biasanya langsung pengen manjat. Teu kaop lihat pintu depan terbuka, ya pengen keluar. Teu kaop lihat pintu apapun terbuka, ya pengen nutup. Seringkali masuk kamar sendiri, menutup pintu dari dalam, lalu teriak-teriak sambil menggedor-gedor pintu minta dibukakan. Pengecualian, ketika mengantar Papnya berangkat kerja, setelah mengikuti ‘ritual’ Akhtar (“Daah… nanti pulang semalem-malem ya.. HPnya dibawa ga? Nanti bisa telepon Akhtar ga? Dst dsb”), tanpa disuruh Ahnaf akan mendahului masuk rumah lalu menutup pintu. 

Ahnaf pun semakin menunjukkan ‘keras kepala’nya. Sudah bisa memaksakan kehendak dan meronta-ronta jika keinginannya tidak terpenuhi. Semakin banyak yang bisa ditirukannya dari orang-orang besar di sekelilingnya. ‘Baca’ buku dengan mulut berkomat kamit, atau menggerak-gerakkan kedua jempolnya di atas layar handphone, menirukan gerakan shalat, dan ikut tertawa dengan mulut terbuka lebar dan hidung ‘menyungging’ ketika melihat orang-orang tertawa. 

Pinternya Ahnaf, kalau saya mau membersihkan pup atau mengajaknya mandi, saya cukup membaca doa masuk kamar mandi, lalu tanpa digandeng atau diarahkan Ahnaf langsung berjalan sendiri menuju kamar mandi.

Dua anak dua rupa. Dari bibit yang sama, di bawah asuhan orangtua yang sama, Akhtar dan Ahnaf berkembang sangaaaat berbeda. Ahnaf itu lebih kaleeeeem dari Akhtar, tidak menjerit-jerit seperti kakaknya, tetap cool dan irit senyum jika bertemu orang lain. Tidak se-gedebaggedebug Akhtar, dan dalam banyak hal sangat kooperatif, misalnya dengan tidak menambah runyam suasana saat Akhtar nangis. 

***

Semoga duoA menjadi anak-anak yang kuat menghadapi zaman mereka, zaman yang semakin mendekati akhir. Menjadi muslim yang kokoh imannya, lurus aqidahnya, baik akhlaknya, bermanfaat bagi sesama… dan masih banyaaaak doa-doa tak terputus untuk mereka (serta anak dan keturunannya). 

Mendadak eungap…


Apa-Apa Sendiri

2 Comments

Sudah sejak 2 bulanan terakhir, Akhtar masuk fase ‘ingin melakukan segala hal sendiri’ dan ‘ingin selalu dilibatkan dalam hampir semua pekerjaan rumah’.

Akhtar sekarang lebih suka memakai baju sendiri. Mulanya ingin memasang kancing baju sendiri (dengan bantuan), lalu bertahap mau memakai semuanya sendiri, dari mulai baju dalam sampai luarannya. Ada masa dia merasa frustasi karena maunya mengerjakan sendiri tapi belum sempurna melakukannya, namun tidak mau dibantu. Akhirnya apa? Ya nangis… biarlah, namanya juga belajar ya Nak…

Sedikit-sedikit, urusan kamar mandi pun ingin dia lakukan sendiri. Seperti, menyabuni kaki sendiri (kalau badan masih dengan bantuan saya) dan menyiram bekas pipis dan pupnya sendiri. Pernah satu kali, saya siram bekas pup Akhtar sampai bersih… akibatnya dia nangis lalu memaksa diri harus pup lagi, sementara ‘stok’ pup di perutnya sudah habis, demiii.. nyiram pup sendiri..  wkwk…

*

Sementara dalam hal pekerjaan rumah, setelah beberapa kali kejadian dia nangis karena nggak diajak mengerjakan tugas rumahan, akhirnya saya hampir selalu mengajak Akhtar diantaranya untuk…

… memasukkan baju kotor ke mesin cuci, dan mengeluarkan baju bersih dari mesin cuci

… menjemur baju-baju kecil 

… menakar dan mencuci beras sendiri, plus menekan tombol ‘cook’ pada rice cooker

Dan.. apalagi ya…

*

Kemudian, dalam hal sholat pun Akhtar harus selalu diajak. Kadang sholatnya dobel. Misal, setelah sholat berjamaah di masjid, dia akan ikut sholat lagi di rumah bersama saya. 

Suatu waktu, saya pernah ngasih tahu soal sholat ba’da Maghrib dan ba’da Isya, dan sekarang kadang-kadang setelah sholat wajib, Akhtar pula yang mengingatkan saya untuk mengerjakan sholat rawatibnya. Siapa yang bisa menolak kalau yang mengingatkan adalah anak sendiri? Saya yang sudah hampir merapikan mukena pun akhirnya menuruti ajakannya.

*

Anak-anak itu lho ya… walaupun pada awalnya kita yang ‘mengajari’, sebenar-benarnya mereka lah yang justru lebih banyak mengingatkan, bahkan mengajari kita. 

Salah satu contoh, bukan sekali Akhtar menegur, “Mim kok pintu kamar mandinya dibuka sih? Kan malu auratnya kelihatan”, katanya ketika melihat saya memandikan Ahnaf dengan membiarkan pintu terbuka. Maka saya pun buru-buru menutup pintu kamar mandi. 

Anak-anak itu memang sudah ‘fitrah’ dari sananya, sudah sangat cenderung ingin selalu melakukan hal-hal yang baik. Maka, manfaatkan lah masa kanak-kanak mereka untuk menginstall segala sesuatu yang baik, terutama yang sesuai ajaran Allah dan RasulNya. Salah satu yang merusak ‘fitrah’ mereka adalah ‘ketidakkonsistenan’ orang-orang dewasa di sekitarnya. 

Ketika orangtua mengajari A, maka lakukan juga A. Ketika anak memergoki kita melanggar A, jangan justru mencari pembenaran/ membela diri dengan hal yang bertentangan dengan A. 

Misal, saya mengajari Akhtar makan sambil duduk. Suatu waktu saya makan, dan Ade nangis ingin digendong. Maka saya pun menggendong Ade, lalu melanjutkan makan dengan posisi berdiri. Akhtar menegur, “Kok makannya sambil berdiri?”. Bisa saja saya beralasan, “Iya… kan sambil gendong Ade”. Tapi, akibatnya apa? Di kemudian hari mungkin anak akan jadi orang yang suka mencari-cari alasan/ pembenaran untuk kesalahan yang diperbuatnya, atau jadi ringan untuk melanggar aturan? Hiih… 

Maka… alih-alih membuat alasan, saya akhirnya memilih duduk, atau berhenti makan sementara. 

*

Ketika Akhtar ingin melakukan segalanya sendiri, artinya Akhtar sedang menuju kemandiriannya. Itu positif kan? Hanya saja yang masih harus diperbaiki secara bertahap adalah emosinya yang masih belum terkelola dengan baik. Masih sering merasa frustasi ketika belum bisa menyelesaikan tugas dengan baik, masih ngadat ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Dan.. memang menjadi lebih repot dan memakan waktu lebih lama ketika kita melibatkan anak-anak dalam pekerjaan. Tak jarang, kita jadi kesal karena hasilnya jadi lebih berantakan. Tapi, ini masa-masa emas untuk mengajari mereka mandiri dan tanggung jawab. Kerepotan saat ini hanya sementara kok.

Kalau kata seseorang mah, wajar kalau kita repot karena punya anak kecil. Yang ga wajar itu, kalau kita direpotkan anak-anak yang sudah beranjak besar. Bisa jadi karena kita salah mendidik mereka waktu kecil.

*

Oke.. mari berepot-repot sekarang, untuk bersenang-senang kemudian :p

Menyimpan Telur

Leave a comment

 ​

Saya lagi mimikin Ade di kamar, tetiba dari arah ruang depan terdengar Akhtar -yang lagi maniiiisss banget- menawarkan bantuan.

“Mim.. Akhtar masukin telurnya ke kulkas yaaa…”

Sebelumnya kami baru saja ke warung membeli telur.

“Oh no…”, batin saya… “Bagaimana kalau telur-telur itu jatuh… pecah… duuh…”

“Miiimm… telurnya masukin ke kulkas yaaa?”

Sekali lagi terdengar Akhtar berteriak, karena saya tak kunjung menjawab.

“I… Iyaaa…” saya mengiyakan ragu.

Tak lama, anak 3,5 tahun itu melintasi pintu kamar dengan langkah hati-hati, kedua tangannya memegang wadah berisi telur.

“Hati-hati yaa.. pelan-pelan…” saya mengingatkan sambil menajamkan pendengaran… waspada.

Tidak sampai satu menit, Akhtar masuk kamar membawa wadah kosong, dan berujar bangga, “Sudaaah…”

“Makasih ya… jazakallah…” ujar saya di mulut. Sementara dalam hati… “Ha? Cepet amat… ditaruh dimana telur-telurnya?!” masiiih saja menduga yang ‘ngga-ngga’.

Selesai mimik Ade, saya langsung menuju kulkas, mengecek ‘hasil kerja’ Akhtar. 

Dan…

Terlihat telur-telur itu tersusun rapi, pada tempatnya. Tidak ada telur pecah, bahkan tidak sedikit pun terdengar suara ketika satu per satu telur dipindahkan ke dalam kulkas. Kekhawatiran saya tidak terbukti… sama sekali.

Kalau saja saya menolak bantuan Akhtar tadi… dia akan kehilangan banyak sekali kesempatan untuk belajar hari ini…

Pertanyaan Berulang

Leave a comment

Akhtar (3,5 tahun) dan mungkin juga anak-anak lain seusianya, sangat senang mengajukan pertanyaan yang sama, dengan jawaban yang harus sama beeerrrrulang-ulang. Lucunya… ia akan gusar ketika kita memberikan jawaban berbeda dari biasanya.

Sebagai contoh, tadi pagi ke Bapak Sayur naik sepeda lewat jalanan yang agak rusak, maka Akhtar pun bertanya,

“Kenapa jalannya rusak?” 

“Karena belum diperbaiki…”, saya asal jawab ga mau mikir.. hihi.

“Bukaaan… kenapa jalannya rusak, Miim?” tidak puas dengan jawaban pertama, ia bertanya lagi dengan penuh penekanan di awal dan akhir kalimat.

“Iya… kan banyak dilewatin mobil, jadi jalannya rusak”, jawab saya.

“Bukan… rusak karena air sama mobil, gitu Mimm…”

Oh iya! Saya baru inget… kapan hariiii waktu lewat jalan yang sama, Akhtar pun bertanya, “Kenapa jalannya rusak?” dan saya menjawab,

“Karena sering tergenang air terus sering dilewati mobil besar” 

***

Ada lagi yang lain. Ketika jalan-jalan naik sepeda dan menemukan sampah tidak pada tempatnya, Akhtar hampir selalu bertanya,

“Kok buangnya sembarangan sih?”

Dan saya… HARUS menanggapi seperti ini…

“Eh iya… kok buang sembarangan, ga boleh dong, ga boleh ditiru ya, buangnya harus di….”

“Tempat sampah” katanya melanjutkan.

Ada variasi jawaban lain kalau untuk kondisi ini,

A: “Kok buangnya sembarangan sih?”

M: “Boleh ga buang sembarangan?”

A: “Ga boleh”

Lalu percakapan berikutnya kurang lebih sama.

Gara-gara pertanyaan berulang soal sampah ini, kepikiran lain kali sepedaannya sambil bawa kantong sampah untuk memungut sampah yang masih bisa dimanfaatkan. Hehe…

***

Sebelumnya, saya pernah cerita tentang kebiasaan Akhtar yang bertanya,

“Kenapa matanya jadi orang?” Ketika hendak tidur.

Sekarang, pertanyaan itu hampir tidak pernah diajukan lagi, diganti dengan pertanyaan, 

“Kenapa punggungnya gatal?” Katanya gogoleran sambil menggaruk-garuk punggung. Dan saya harus menjawab,

“Karena punggung Akhtar keringetan”, jawab saya.

“Kenapa keringetan?”

“Karena panas…”

“Kenapa panas?”

Nah.. kalau pertanyaannya siang hari, akan saya jawab, “Karena ada matahari”. Kalau malam… kadang saya jawab juga “Karena ada matahari”. Ya kan? Matahari ada tapi ngga menampakkan diri… wkwk..

Sering lho kita (orangtua) di-KO Akhtar dengan pertanyaan beruntun seperti itu. Jawaban kami, akan menjadi pertanyaan berikutnya, teruuus seperti itu sampai kami tidak bisa menjawab pertanyaan. 

Kuncinya… jawabnya kudu jujur dan masuk akal, dengan kata-kata yang mudah dipahami anak seusia 3,5tahun. Kadang sampai juga ke pertanyaan yang rumit untuk dijawab dengan kata-kata sederhana, akhirnya dijawab dengan ‘bahasa orang dewasa’ yang kadang-kadang harus disisipi kata-kata ‘sulit’ untuk dipahami anak balita itu. Setelah itu, Akhtar biasanya hanya akan menanggapi, “Ooh gitu…” seolah-olah mengerti, lalu berhenti bertanya.

*** 

Soal menjawab pertanyaan dengan jujur ini kadang menjadi sulit ketika kita ingin menyembunyikan kebenaran. Butuh trik khusus, agar jawaban tetap jujur dan memuaskan anak.

Sebagai contoh, Akhtar ingin main ponsel, sementara saya ga mengizinkan. Maka saya sembunyikan ponsel itu. Ketika Akhtar bertanya, “Hapenya mana Mim?” 

Saya akan menjawab, “Hapenya disembunyikan dulu ya…”

“Ooh.. hapenya sembunyi ya…” Akhtar lantas puas dengan jawaban itu dan tidak menanyakan HP lagi. 

Hihi… yang barusan itu saya sebut ‘trik imbuhan’ :p

Sebelum menggunakan trik ini, pastikan Anda memahami bahasa Indonesia dengan baik dan benar ya.

*belagu*

***

Apa lagi ya…

Hmm…

Udah deh kayaknya…

   

Ade…

Leave a comment

“Adeee…” begitu lah kami lebih sering memanggilnya, daripada Ahnaf. Ade yang kini sudah berusia 12 bulan, alias 1 tahun… ah ngga… sebut aja 12 bulan, terkesan ‘lebih bayiiik’ gitu lho :p

Ade yang kaleeemm… tapi belakangan ini lagi sering bikin ‘jengkel’ Mimnya karena sering terbangun malam-malam lalu teriak-teriak sambil guling-guling di atas kasur, entah ingin apa. Kepanasan ya De? *gebergeber* 

Ade yang lagi rajin belajar jalan… dua langkah… tiga langkah…rekor sampai lima langkah… grasa grusu melangkah memanfaatkan momen, sebelum hilang keseimbangan lalu terjatuh. Sering Mim bilang, “Ade sedikit-sedikit aja jalannya… tenang… t e n a n g…” walaupun Mim tau Ade ga paham.

Ade yang pemakan segalaaa… hampir memakan apapun yang Mim sodorkan di depan mulut Ade. Tapi, perawakannya tetap kecil, yah ini mah udah turunan. Yang penting sehat ya Dee.

Bahagianya Mim, karena sejauh ini Mim tidak mampu mengingat, kapan Ade menolak makanan karena GTM? Rasanya baru sekali dua kali, ketika pernah Ade sedikit demam atau tumbuh gigi. Itu pun tidak lama, dan tidak sampai GTM yang bikin Mim khawatir.

Ade itu seriiiing banget digangguin Aa. Kadang Mim lihat jempol kaki Aa udah nempel di muka Ade. Kadang punggung Ade diinjak. Atau didorong-dorong badannya karena menyentuh sedikit mainan Aa. Kadang dibentak karena mengambil mobil-mobilan Aa. Eh tapi… di luar itu… Ade paling keras terbahaknya justru kalau lagi main sama Aa. Disitu Mim merasa tenang. Di masa depan… Ade dan Aa akan jadi saudara yang saling menyayangi, saling membantu dalam kebaikan… aamiin.

Pinterrrnya Ade itu karena udah bisa ngambil sendiri buku dalam boks. Lalu membuka-buka sendiri buku tersebut dan ‘membacanya’, “Ab… ab… ba… baa…” katamu. Dan Mim amazed karena sesekali Ade membuka buku-buku berkertas tipis tanpa menyobek kertasnya. Walaupun lebih sering Mim larang karena takut bukunya rusak (huhu…) atau Mim tukar dengan buku lain yang walau rusak pun ga apa-apa.

Ade yang hampir ‘tidak memiliki barang pribadi’ kecuali sebagian pakaian, karena yang lainnya berbagi sama Aa… buku-buku, mainan, peralatan makan. Irit atau pelit sih Mim? Entahlah… rasa hati ingin menyebutnya sederhana, bersahaja, tapi mungkin masih jauh untuk masuk krieria itu. Prinsip Mim… selama suatu barang masih berfungsi layak sesuai maksud pembuatan, berarti belum perlu untuk diperbarui. *pelitlomim* *hush*

Ade yang mulai suka menirukan gerakan orang-orang sekitar. Ketika mendengar adzan Ade langsung memasukkan jempol ke dalam mulut. Lho De, mau ngapain? Oh ternyata maksudnya meniru Aa yang suka memberi kode ‘diam’ dengan menempelkan telunjuk di depan mulut “ssst… sssttt… dengerin adzan dulu” kata Aa berbisik-bisik.

Lalu, Ade pun ikut sujud menempelkan kening ke sajadah ketika melihat Mim shalat. Kadang-kadang diawali dengan mengangkat tangan tinggi-tinggi seperti takbiratul ihram.

Ade yang sudah muncul ‘ego’nya dan ingin melakukan beberapa pekerjaan sendiri. Ingin memegang gelas sendiri, ingin makam sendiri. Tapiii… seringnya Mim terlalu malas untuk meladeni Ade… kalau minum dan makan sendiri pasti ada baju yang kudu diganti, ada lantai yang basah dan kotor. Padahal, disitu lah Ade belajar. Maafkan Mim ya De yang pamalesan ini… *maafin kagak nih?* 

Menjual Buku

Leave a comment

Seumur-umur (ngaku sebagai pecinta buku), baru kali ini saya menjual buku-buku koleksi pribadi saya. Buku yang rata-rata masih sangat bagus, beberapa malah terlihat baru, walaupun sudah bertahun-tahun disimpan.

Kalau soal buku saya termasuk yang ‘apik’ banget. Saya ga suka melihat buku saya terlipat, selembar pun. Saya ga suka lihat buku saya kotor. Saya ga suka lihat buku saya sobek. Dll. Aturan yang ‘ketat’ ini lah yang kemudian membuat orang lain segan meminjam buku ke saya.

Dipikir-pikir, sikap seperti itu ada ruginya juga. Karena jadi tidak banyak orang yang merasakan manfaat dari buku-buku saya. Padahal saya pun paling hanya membaca 1 kali, terutama buku-buku fiksi/ novel dan sejenisnya, kecuali buku-buku yang sangat-sangat menarik hingga saya bisa membacanya lebih dari satu kali.

Buku koleksi saya itu kemudian semakin menumpuk, rak buku pun sudah ga muat lagi. Puluhan (atau ratusan?) buku akhirnya harus disimpan di dalam kardus. Sudah beberapa kali saya menyeleksi buku-buku itu. Mana yang layak dipertahankan, mana yang dikeluarkan dari koleksi. Tapi, biasanya tidak banyak yang saya keluarkan dengan pertimbangan,

Sayang ah, kan bisa diwariskan ke anak cucu…

Sayang ah, siapa tau pengen dibaca lagi…

Sayang ah, kan suatu saat pengen buka ruang baca untuk umum, which means butuh koleksi buku yang banyaaak dari berbagai genre

Duluuuu, memang saya jenis pembaca segala genre, dari berbagai latar pemikiran penulis. Belakangan saya berpikir, bahwa ga semua buku mesti kita baca, ga semua hal mesti kita tahu, tahu sedikit hal tapi paham lebih dalam kan lebih bermanfaat, daripada tahu banyak hal tapi hanya permukaannya.

Lagipula, seiring dengan berkembangnya pengetahuan/ pengalaman, ada buku-buku yang kontennya ternyata ga sesuai dengan nilai-nilai yang saya percayai sekarang, bahkan saya punya lho novel grafis yang di dalamnya terselip bagian yang vulgar (p*rn*). Novel yang bagus banget menurut saya dari jalan cerita, grafis, dan latar belakang tempat dan waktunya, tapi kecolongan di bagian yang ‘ngga-ngga’nya itu… karena saya hampir selalu ‘memakan bulat-bulat’ rekomendasi dari orang lain di grup pembaca buku.

Seleksi besar-besaran saya mulai lakukan beberapa bulan kemarin. Pada tahap pertama saya berhasil mengeluarkan puluhan buku yang sekiranya tidak akan pernah saya baca lagi, dan saya rasa saya pun tidak ingin mewariskannya ke anak-anak.

Belasan buku saya wariskan ke sepupu saya di SMA yang sedang ada program perpus kelas di sekolahnya. Belasan lain masih menumpuk, entah mau diapakan.

Seleksi berikutnya saya lakukan bulan lalu. Kali ini, karena buku-bukunya masih bagus dan cukup populer (dilihat dari tema/ judul dan penulisnya), maka saya putuskan untuk menjualnya, lewat shopee… silakan cek toko saya ya sis :p https://shopee.co.id/asri_putri

Dan, ga menyangka responnya sangat bagus. Banyak yang berminat… sayangnya.. saya lagi di Tangerang sementara semua stok ada di Bandung, jadi beberapa pesanan terpaksa saya tunda prosesnya. Ya.. rezeki ga kemana :)

Nah, melihat respon yang baik pada buku-buku bekas ini, saya jadi kepikiran jualan buku bekas online saja haha… yaa semoga ada jalannya. Karena dari duluuu saya emang bercita-cita pengen punya usaha yang berkaitan dengan buku tapi belum ada usaha apa pun untuk mewujudkannya. *basiloe* *tekegeura* wkwk…

Older Entries Newer Entries