Sedikit Cantik

Leave a comment

Hampir selalu tidak menyenangkan jika melihat cermin saat ini. Terlihat bayangan sesosok ibu-ibu yang terlihat kurang tidur dan sedikit kurang makan (watiiir hehe) dengan tanda penuaan disana sini.

Iseng saya bertanya kepada Akhtar, ingin tahu pendapatnya, “Akhtar, Mim cantik ngga?”. Tentu saja saya harus siap dengan jawaban apa adanya dari bocah polos nan jujur ini.

Akhtar tampak berpikir sejenak lalu menjawab, “Kalau ngga pakai kerudung, Mim sedikit cantik. Tapi kalau pakai kerudung, Mim terlalu cantik”.

Owh, jadi saat bertanya itu saya sedang ‘sedikit cantik’ dong ya. Gapapa lah sedikit juga, yang penting cantik.

Masih penasaran… beberapa hari kemudian saya mengajukan pertanyaan yang sama, dan mendapat jawaban yang juga sama.

Kali kedua itu, saya minta penegasan, “Sedikit cantik itu maksudnya gimana? Cantik atau jelek?”

“Iya… jelek”, jawabnya dengan ‘mukarata’.

Hmm… sudah kuduga.

Advertisements

Api Tje Tje

Leave a comment

Tidak ada yang paham hingga sekarang -baik saya, Papnya, bahkan Abahnya yang seringkali mengantar Ahnaf lihat kereta api lewat di dekat stasiun- apa maksud “tjetje” (dengan huruf e taling) pada frasa “api tjetje” yang selalu Ahnaf ucapkan setiap melihat kereta api.

Saya tulis kata “tjetje” dengan sedikit keraguan, apakah kata “tjetje” itu mewakili pelafalan Ahnaf yang sebenarnya. Karena aslinya, kata itu terdengar seperti tete, cece, atau jeje.

Abahnya berasumsi “tjetje” itu adalah kata yang menirukan bunyi (onomatope) kereta api ketika berjalan di atas rel. Sehingga, sering diucapkan ulang “api deng deng” oleh Abah. Tapi, Ahnaf bisa kok menirukan kata “api deng deng”, jadi pasti bukan itu maksud “api tjetje”.

Ya sudah, akhirnya ikutin aja… Ketika Ahnaf mengucapkan itu, saya pun akan menirukannya… “Iya De, api tjetje”.

*

Perkembangan Bahasa Ahnaf

Dalam satu bulan terakhir ini, Ahnaf mengalami perkembangan cukup pesat dalam berbahasa. Walaupun masih dengan bahasa bayi, yang tidah utuh atau belum jelas mengucapkan satu kata, namun kosakatanya cukup banyak bertambah dan ia bisa menggunakannya dalam konteks yang benar. Bahkan juga bisa merangkai dua kata, seperti “utah atan” atau udah makan, “susu enat” atau susu enak, “itut owat” atau ikut shalat, “au ait” atau mau naik, dlsbg, dll, dtt.

Dengan begitu, otomatis (seharusnya) semakin mudah bagi saya untuk memahaminya, tapi justru belakangan Ahnaf jadi lebih sering tantrum karena si anak 2 tahun ini punya lebih banyak kemauan yang tidak saya pahami.

Sejak beberapa pekan lalu, malah sempat menghadapi situasi “berat” dimana setiap malam saya lalui dengan deg-degan saking “horror”nya hiiiy. Apa pasal? Jadi… Ahnaf sering terjaga sampai laruuuut malam, lalu sekitar jam 1-2 dia akan menangis tiba-tiba. Semacam punya alarm yang disetting sebagai reminder untuk menangis jam segitu.

Ah ya… sebenarnya saya tahu sebabnya sih. Sebenarnya ia ngantuk, namun ada rutinitas sebelum tidur yang ingin ia lakukan tapi belakangan ngga saya izinkan, yaitu… nonton youtube. Soal ini, sudah pernah saya ceritakan.

Sekarang sih, alhamdulillah, sudah tidak separah itu. Hanya masih suka ‘riweuh’ menjelang tidur, terutama kalau sudah minta diusapi punggungnya. Serba salah. Sedikit saja saya salah mengusap bagian dari punggungnya, ia akan merengek, tak jarang berakhir tantrum yang menggetarkan jiwa haha.

Tapi untuk Ahnaf ini, saya bersyukur punya daya sabar yang memadai sehingga ngga sampai melakukan hal-hal yang disesali setelahnya. Berbeda dengan masa 2 tahun Akhtar dulu, yang mana tantrumnya bikin saya kadang tak bisa menahan diri untuk meninggikan suara atau ‘membelai’ bagian tertentu di tubuhnya. Padahal, kadar tantrumnya sih tak jauh beda. Untuk hal itu, saya sering menyesal dan meminta maaf kepada Akhtar.

“Maaf kenapa Mim?”, tanya Akhtar bingung jika saya tiba-tiba meminta maaf.

“Maaf karena Mim suka marahin Akhtar ya..”, jawab saya sambil memeluknya.

Tentang Bunda

Leave a comment

Lagi-lagi… membuka-buka draft lama yang belum terpublish, dan saya menemukan tulisan ini telah tersimpan selama 9 tahun (30 Jan 2009). Lupa juga sih pernah menulis ini, dan lupa juga beberapa tokoh yang saya ceritakan disini.

Tapi sangat mungkin, keputusan saya empat tahunan lalu untuk merumahkan diri dipengaruhi oleh pemikiran saya ini lima tahun sebelumnya ketika saya baru saja lulus kuliah dan bekerja.

Ini pemikiran saya 9 tahun yang lalu, ketika saya hanya mengamati, belum merasakan. Kini, saya tahu, seorang ibu bagaimanapun kondisinya, tinggal di rumah atau bekerja, kasih sayangnya utuh untuk anak-anaknya.

***

Akhirnya, selesai juga kubaca buku ‘Catatan Hati Bunda’nya Asma Nadia. Bagus. Ceritanya menarik dan menyentuh. Sepertinya itu adalah sebuah diary yang dibukukan. Jadi, banyak hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari yang diangkat menjadi tema suatu cerita. Belajar satu hal lagi tentang dunia parenting. Diam-diam selama ini aku suka mengamati orang tua-orang tua muda menghadapi anak-anak balita mereka.

 

Dari hasil pengamatan itu…

 

Aku belajar dari Uni (panggilan hormat pada seorang guruku) tentang pendidikan anak. Bagaimana seorang Uni yang ‘sangat pendidik’ membuat ruang depan rumah, yang biasanya dipakai kebanyakan orang sebagai ruang tamu, menjadi lebih mirip perpustakaan dan taman bermain anak-anak dengan berbagai tempelan poster dan mainan-mainan edukatif. Ruangan depan itu pun selalu terbuka untuk anak-anak tetangganya, kebetulan Uni tinggal di sebuah gang kecil, beberapa rumah diantaranya ditinggali oleh keluarga muda, yang perhatiannya terhadap pendidikan anak tidak sebesar Uni. Hasilnya? Seorang putri yang cerdas dan bisa bersosialisasi baik dengan siapapun, padahal belum genap tiga tahun.

 

Lagi…aku pun belajar dari Teteh (panggilan hormatku pada seorang guru yang lain). Ibu dari dua orang anak. Teteh selalu melibatkan anak tertuanya setiap beribadah kepada Allah. Ketika waktu shalat tiba, anaknya selalu diajak serta berwudhu. Dibiarkannya si anak berdiri di sampingnya ketika shalat, dan dengan sendirinya si anak itu pun mengikuti gerakan-gerakan Umi dan imamnya, dengan gaya khas anak kecil tentunya, padahal umurnya belum lagi dua tahun.

 

Di lain kesempatan aku pun mengagumi keluarga lain yang memiliki anak cerdas, si kutu buku, padahal usianya belum lagi lima tahun. Bagaimana ‘memaksa’ anak sekecil itu memiliki hobi membaca?

 

Kemudian…aku pun tak luput mengamati dosenku di kampus. Kadang dia bercerita tentang keluarganya. Hanya sedikit. Tapi dari sedikit itu aku jadi sedikit tahu bagaimana dia mendidik anak-anaknya di rumah. “Kalau anak-anak melakukan sesuatu yang tidak kami kehendaki, saya ga pernah bilang, ‘Jangan!’, tapi bertanya kepada mereka, ‘Kakak kenapa melakukan itu?’, itu akan lebih membuka komunikasi antara orang tua dan anak”, katanya suatu hari.

 

Suatu hari di kost, si Ibu Kost dikunjungi cucu-cucunya dari Padang, dua orang anak yang masih kecil-kecil, masing-masing berusia enam dan empat tahun. Senangnya bisa ikut berkenalan dengan mereka. Dalam suatu obrolan kami, seorang teman bertanya tentang pekerjaan orang tua mereka. Sampai pada suatu pertanyaan, “Umi kerja apa, Sayang?”. Dengan wajah polosnya, dan mata berbinar setiap menjawab pertanyaan dari kami, dia menjawab, “Sekarang Umi udah ga kerja, soalnya aku dan Afi (menyebut salah seorang adiknya) ga ngebolehin”. Lugu…tapi menyentuh. Anak-anak itu menginginkan Umi-nya selalu ada di rumah mendampingi mereka, walaupun yang kutahu, masing-masing dari mereka memiliki seorang pengasuh.

 

Tapi, di lain waktu, aku seringkali melihat manajerku menelpon orang-orang di rumahnya, terutama para pengasuh anak-anaknya, “Si Kakak udah makan? Sama apa? Udah tidur siang? Udah mandi belum? PR-nya gimana…udah dikerjain? Les ga tadi siang?”. Pertanyaan bertubi-tubi itu seringkali terdengar ketika dia sedang berada di kantor maupun klien.

Lain lagi cerita seorang Ibu yang kewalahan menghadapi anaknya yang terus menerus menangis semenjak ditinggal pengasuhnya. Bahkan dekapan Ibu kandungnya pun tidak membuat si anak lebih tenang. Prihatin, tanpa disadari, fungsi seorang ibu mungkin sudah diambil alih oleh seorang pengasuh.


Ada
lagi cerita dari saudaraku. Dia bekerja di tempat yang menawarkan gaji tinggi, memang. Semua kebutuhan lahiriah anaknya terpenuhi, memang. Bahkan keluarga muda ini bisa dibilang mapan dalam hal materi walaupun saudaraku ini baru bekerja kurang lebih empat tahun di tempatnya bekerja sekarang. Tapi…sehari-hari anaknya dititipkan di rumah kakek-neneknya bersama seorang pengasuh. Pergi pagi, bahkan sebelum anaknya bangun, dan pulang pada sore hari ketika anaknya mungkin sudah tak ingin lagi bermain. Sedih.

 

“Yang penting adalah kualitas pertemuan, bukan kuantitasnya”, kata seseorang. Aku ga membantah. Itu benar. Tapi, sebagai seorang anak, bagaimana jika aku menuntut kedua-duanya, baik kuantitas maupun kualitas pertemuan dengan orang tua. Kupikir, semua anak pun menginginkan hal yang sama. Bisa berinteraksi lebih lama dengan orang tua mereka. Bahkan, dulu, ketika aku masih benar-benar tinggal di rumah beserta orang tua, hal yang paling kunantikan adalah saat-saat kepulangan Bapak dari kantor. Walaupun setelah berada di rumah pun tidak banyak yang beliau lakukan untuk kami, anak-anaknya. Tapi kami merasa lebih tenang dan nyaman mengetahui orang tua kami ada untuk kami.

Dari para orangtua itulah aku belajar…dan masih akan terus belajar, sampai aku menyampaikan tulisan berikutnya. See yah…

***

HP

Leave a comment

Saya sedang mengecek HP sambil tiduran di kasur, ketika Akhtar menghampiri lalu tiba-tiba bilang, “Mim, sekarang Akhtar janji main game keretanya ga sampai baterenya merah…

Peluk… peluk…”, lanjutnya sambil melingkarkan kedua tangannya di leher saya. 

Dengan kata lain… ia ingin meminjam HP untuk main game kereta. Tak mampu menolak, saya serahkan si HP dengan berbagai pesan sponsor. Terakhir kali meminjam HP, ia memang main game kereta sampai baterenya nyaris habis dari yang asalnya penuh, artinya ia main terlalu lama.

***

Salah satu hal yang agak sulit ditolak, adalah permintaan anak untuk meminjam HP. Apalagi, mereka ingin meminjam karena melihat ibunya terus menerus mengecek HP. 

Apa yang harus saya katakan kepada mereka? 

“Ga boleh main HP!” Lalu kenapa saya melakukannya?

“Ga boleh lama-lama!” Memang saya udah bisa main HP ga pake lama?

“Kuotanya habis nanti!” Lebih sayang kuota daripada anak?

Maka, saya memilih yang paling tidak menimbulkan konflik, yaitu menyimpan HP ketika bersama anak-anak. Dan karena seharian saya bersama mereka, bisa seharian itu pula saya ga ngecek HP. 

Bermain HP adalah kesenangan sepele yang bisa banget dikorbankan demi kebahagiaan anak-anak. Anak-anak bahagia jika perhatian kita sepenuhnya pada mereka ketika beraktivitas bersama. Dan saya lebih bahagia lagi karena anak-anak lebih anteng dan tidak mudah tantrum.

Salah satu hal yang paling sering bikin Ahnaf tantrum adalah soal HP ini. Ahnaf, di usianya yang baru 2 tahun, belum bisa diberi arahan tentang batasan menggunakan HP, maka sekali dipinjami HP, ia akan terus menggunakannya sampai bosan, yang mana itu bisa sebentar atau malah lamaaaa banget.

Bagaimana ia bisa ‘ketagihan’ HP? Saya bilang ketagihan karena sikapnya yang ‘teu kaop ningali HP’, sedikit saja melihat HP dia akan meminta sambil merengek-rengek “ape… ape… ape…”. Dan pilihannya bagi saya ada dua ketika itu sudah terlanjur terjadi, yaitu memberinya HP atau bersabar dengan tantrumnya yang bisa setengah sampai satu jam. Hanya gara-gara HP!

Ya salah saya juga yang membuatnya terpapar HP sebelum waktunya. Padahal sebelum ini saya bisa mengecek HP di depannya tanpa interupsi, juga bisa memotret aktivitasnya untuk dokumentasi. 

Maka kini tanggung jawab saya juga untuk men’detoks’nya. Tujuannya bukan agar dia steril dari HP, itu ga mungkin, tapi untuk membuatnya kebal dengan tidak meminta HP jika saya menggunakannya di depannya. 

Yang kasian bapaknya anak-anak. Yang dulu sering video call-an dengan anak-anak, sekarang agak saya larang-larang, karena selesai video call Ahnaf akan merengek-rengek, nangis, sampai tantrum, hingga keinginannya main HP dipenuhi.

Maafkan Mim ya Dek :(

Motivasi Menulis

Leave a comment

Jaraaaang ada (atau malah ga ada?!) kegiatan yang bisa konsisten saya lakukan… selain menulis di blog. Terhitung hampir sepuluh tahun saya ngeblog sejak pertama kali mem-posting tulisan pada Juni 2008. Waktu itu saya masih mahasiswa tingkat akhir yang butuh ‘pelarian’ dari kemumetan mengerjakan skripsi.

Meski sudah 10 tahun, saya bukanlah blogger yang punya banyak penggemar, lantas mendapatkan rentetan respon di kolom komentar. Ngga. Saya ini semacam ngeblog dalam kesunyian. Halah. Pembaca setia blog saya adalah… SAYA SENDIRI. Tak jarang di banyak kesempatan, saya membuka-buka lagi tulisan lama dan menemukan inspirasi dari sana. Atau sekedar mengingat-ingat kejadian yang pernah saya ceritakan di blog, untuk kemudian bertanya pada diri sendiri, “Oh pernah ya ngalamin ini” atau “Oh pernah ya nulis tentang ini”. 

Dalam perjalanannya selama 10 tahun itu, motivasi menulis pun berganti-ganti. Dari yang awaaall banget hanya sekedar untuk curhat (sebagai pengganti buku diary yang udah ga zaman pada masa itu), lalu ganti lagi jadi untuk berkomunitas, yang kemudian saya bergabung di sebuah komunitas blogger dan menemukan beberapa teman disana (sekarang udah engga), kemudian dengan ikut komunitas tersebut, saya jadi termotivasi untuk mendapatkan hadiah dengan mengikuti give away dan tantangan menulis (tapi ini udah engga juga), dan sekarang kembali lagi, motivasi saya menulis hanya untuk curhat.

Terkhusus sejak menikah lalu punya anak, cerita saya lebih banyak berputar-putar di sekitar urusan rumah dan anak-anak.

Ketika menulis tentang anak-anak ini, saya punya motivasi tersendiri. Saya ingin, suatu hari nanti anak-anak membaca tulisan-tulisan saya dan menemukan sesuatu sebagai pelajaran. Atau membaca doa dan harapan saya untuk mereka yang tak jarang saya sisipkan di beberapa tulisan, untuk kemudian diwujudkan. Atau sekedar kenangan, bagaimana mereka bertumbuh dan berkembang. Selain mereka juga bisa membaca buah pikir dan pengalaman ibunya yang dengan itu mereka bisa mengenal saya lebih dalam. Dan, bila saya meninggal sebelum mereka mencapai baligh, saya berharap tulisan di blog ini menjadi salah satu pedoman pengasuhan. Yah… umur kan siapa yang bisa menebak? :)

Dan, saat ini saya merasa cukup dengan anak-anak sebagai motivasi bagi saya untuk terus menulis dan menulis lagi. 

Akhtar dan Ahnaf

2 Comments

“Dek, ayo kita mandi yuk…”, kata Akhtar sambil menggamit tangan adiknya.”Yuk ke kamar mandi yuk”, lalu ia menuntun Ahnaf ke kamar mandi. 

“Sok masuk sok”, katanya lagi di depan pintu kamar mandi meminta adiknya masuk sendiri.

Itulah dialog yang terjadi kemarin, daaann banyak kali di hari-hari sebelumnya, dimana Akhtar dengan lembut mengajak adiknya mandi. 

Ahnaf (Akhtar juga sebenarnya) memang agak susah diajak mandi, tapi ajakan kakaknya itu seringkali sukses membuatnya ke kamar mandi, tanpa paksaan, tanpa drama, bahkan biasanya diiringi dengan senyum kecil di wajahnya.

Melihat itu, saya lalu memanfaatkannya sebagai senjata. Ketika Ahnaf mengatakan, “Au…” -artinya ga mau- sambil menggelengkan kepala ketika diajak mandi, saya akan meminta Akhtar, “A, tolong adiknya diajak ke kamar mandi, yuk”. 

Kadang dengan sigap Akhtar langsung melakukan permintaan saya, kadang juga ia ga mau. 

Setelah selesai mandi, kadang-kadang Ahnaf agak susah diajak keluar, ia masih saja bermain-main air. Anak-anak itu yaa… disuruh mandi susah, disuruh selesai mandi juga susah. Daaan lagi-lagi saya menggunakan senjata pamungkas, saya panggil Akhtar, “A, adiknya disuruh keluar kamar mandi yuk, dihandukin yuk”. 

Biasanya dengan sigap ia langsung mengambil handuk dari tangan saya lalu membentangkannya di depan pintu kamar mandi, “Deeek, udah yuk… sini… udah mandinya”. Dan ajaib, ketika saya susah payah membujuk Ahnaf keluar kamar mandi, Akhtar berhasil melakukannya dengan mengajaknya sekali saja. 

Apakah hal itu selalu berjalan mulus? Ya ngga juga sih, ada kalanya Akhtar dan Ahnaf tidak bisa diajak kerjasama. Akhtar menolak permintaan saya, atau Ahnaf menolak permintaan Akhtar. 

*

Dalam banyak kejadian yang lain, Ahnaf memang sering nurut ke Akhtar. Bahkan lebih nurut ke Akhtar daripada ke saya. Terutama ketika bermain, Akhtar serba mengatur segalanya. Akhtar yang mengatur mana yang boleh dan tidak boleh dimainkan adiknya, juga mengatur alur permainannya. Duuh, betapa masih sangat egosentris anak 4,5 tahun itu. 

Akhtar masih sering lupa berkata “pinjam” ketika mengambil mainan yang dipegang Ahnaf. Namun ia sendiri enggan meminjamkan mainannya ke Ahnaf walaupun si mainan dalam keadaan ‘bebas tugas’. Akhtar pun masih suka memilah-milah mainan, yang masih bagus ia ambil untuknya sendiri, sementara yang ia tidak suka atau sudah jelek ia berikan ke adiknya. 

Akhtar, walaupun dalam baaaanyak kesempatan sering membuat Ahnaf menangis, namun memiliki sisi baik yang menunjukkan perhatiannya kepada adiknya itu. 

Seperti ketika Ahnaf merengek-rengek yang tidak saya pahami maknanya, tak jarang dengan lembut Akhtar yang mengatasi situasi itu, “Adek mau apa? Sok tunjuk sok mau apa…”, lalu ia menuntun adiknya ke arah yang ditunjuk adiknya. 

“Mau api tje tje iya? Mau mobil-mobilan?” Dst Akhtar bertanya sampai adiknya mengangguk karena tercapai apa yang ia mau.

Atau ketika saya shalat, lalu Ahnaf merengek-rengek, “Adek sini yuk… Mimnya shalat dulu Dek… Ade mau apa?” dialog selanjutnya, seperti di atas.

Bersyukur memiliki anak-anak yang saling menyayangi, semoga sampai dewasa pun akan tetap saling menyayangi, saling mengingatkan dalam kesabaran dan kebenaran.

Akhtar dan Pap

2 Comments

“Akhtar sayang banget sama Mpap… kangeeen…”, teriaknya sambil ‘dadah-dadah’ dari balik jendela ruang tamu ke arah Pap yang baru saja selangkah keluar dari gerbang rumah.

Ya, inilah ritual kami sepekan sekali. Yang seringkali mengharukan adalah celotehan Akhtar ketika mengantar Papnya pergi, bikin bapeeerrr.

Pernah suatu hari yang lain, belum lagi berjam-jam dari keberangkatan Papnya, si sulung ini menghampiri saya yang sedang bersiap-siap shalat, terlihat raut sedih dari wajahnya.

“Akhtar kenapa?”, tanya saya.
“Akhtarnya sedih karena Pap pulang”, jawabnya dengan wajah murung. Lalu saya berusaha menghibur sebisanya.

Saya shalat, dengan konsentrasi terpecah, karena merasakan Akhtar gelisah, bolak balik ke dalam lalu keluar kamar tidur, lalu ke dalam dan keluar lagi. Dari tempat saya shalat (di ruangan sebelah kamar tidur) saya bisa mendengar Akhtar menjatuhkan badannya di atas ranjang lalu bangkit lagi.

Selesai saya shalat, ia menghampiri saya dengan tangis tertahan, “Akhtar sayang sama Mpap”. Saya dekap tubuhnya dan usap-usap punggungnya, “Iya Akhtar, sabar ya, nanti kan Pap pulang lagi kesini”.

*

Kebiasaannya yang lain lagi, jika Papnya bersiap-siap akan berangkat, Akhtar akan berkata, “Pap kerjanya disini aja”, lalu hanya akan di’amin’kan oleh kami. 

Setelah itu Akhtar akan mengantar Pap sampai teras dan beberapa dialog yang seringkali terjadi adalah seperti ini:

“Nanti pulangnya hari apa?” Papnya akan menjawab Jumat atau Sabtu.

“Pulangnya naik apa?” Papnya akan menjawab naik bus atau kereta, kadang-kadang travel.

Lalu ditutup dengan, “Hati-hati yaaa… kalau Akhtar kangen nanti telepon yaa… dadaaah”. Papnya akan mengucapkan salam dan Akhtar baru akan masuk setelah Pap hilang dari pandangan.

*

Apa yang saya rasakan dengan ini?

Yang pertama-tama, bersyukur. Bersyukur karena walaupun secara fisik tidak bisa bersama setiap hari, saya melihat Akhtar dan Papnya memiliki kedekatan hati. Insya Allah ini akan menjadi bekal yang sangat penting untuk perkembangannya. Kedekatan dengan ayah dikatakan memiliki banyak manfaat diantaranya bisa membuat anak tumbuh menjadi seorang yang percaya diri, cerdas, stabil emosinya, dan lain-lain, bisa ditelusur di google hehe.

Yang kedua, bersyukur lagi, karena Akhtar mampu mengungkapkan perasaannya secara terbuka kepada orangtuanya. Bersyukur karena saya ga biasa seperti itu, pun suami saya kepada orangtuanya. Keterbukaan menunjukkan kepercayaan, dan semoga Akhtar akan tetap seperti itu, terutama kelak di masa-masa pra baligh atau menuju dewasa, dimana ia akan bercerita/ bertanya segala hal kepada orangtuanya terlebih dahulu sebelum mencari yang lain. 

Older Entries Newer Entries