Gowes

Leave a comment


Akhtar dibelikan sepeda sekitar 2 tahun yang lalu. Hari itu tanpa direncanakan sebelumnya kami membelikan Akhtar sepeda roda 3 di sebuah toko sepeda kecil di Pasar Tagog, Padalarang. 

Akhtar sedang dalam masa “sulit” ditenangkan waktu itu karena beberapa hal… pertama, baru disapih, dan… entah ada hubungannya atau ngga, saya lagi hamil Ahnaf yang menyebabkan emosi yang %&#$@&$^ (apa coba..). Emosi tidak baik itu menular pada Akhtar sehingga Akhtar jadi sering ikut uring-uringan.

Ternyata, sepeda itu tidak cukup menenangkan Akhtar. Akhtar masih sering tantrum dan rewel sampai batas waktu yang tidak saya ingat kapan. Hehe. Bahkan kehadiran sepeda itu bagai buah simalakama bagi saya, karena ada masa dimana Akhtar terus meminta main sepeda, sampai jauuuh… susah berhenti. Kan cape ya Cyin. Puncaknya ketika suatu hari, saya meninggalkan sepeda di pinggir sawah lalu menggendong Akhtar yang tantrum pulang karena situasi yang serba salah. Maju kena mundur kena. 

Sepeda itu baru terasa sangat efektif ketika dibawa boyong ke Ciledug. Sesekali jika bosan di kontrakan, saya akan mengajak Akhtar berkeliling, yah sampai radius 1 km dari kontrakan, plus Ahnaf di gendongan. Tapi sekarang udah jarang, kecuali mendesak, seiring dengan bertambah beratnya Ahnaf, dan Akhtar jarang mau bergantian naik sepeda dengan Ahnaf. 

Selama memiliki sepeda itu, tidak pernah sekalipun Akhtar mengayuh sepedanya sendiri. Ketika anak-anak lain ada yang bahkan sudah bisa mengayuh sepeda yang lebih besar sejak usia 3 tahun, Akhtar masih saja harus saya dorong-dorong di atas sepeda roda tiganya. Sering saya memotivasinya mengayuh sendiri, tapi “Ga bisa… “, katanya, dan ga mau mencoba untuk bisa juga saya lihat. Ya sudah saya biarkan…

Sampai menginjak usia 4 tahun, ketika ia mulai sering keluar main bersama teman-temannya, gemes juga saya lihat Akhtar ‘mengendarai’ sepeda dengan menolak-nolakkan kakinya ke tanah. Sekali lagi saya suruh Akhtar latihan mengayuh, dengan tangan saya bantu kakinya mengayuh, tetap tidak bisa. Sedikiiiit khawatir juga sih, karena menurut saya mengayuh sepeda adalah kemampuan motorik kasar yang selazimnya dimiliki anak seusia Akhtar.

Tadi pagi, tiba-tiba Akhtar masuk rumah dengan excited… “Mim Akhtar tadi boseh sepedanya bisa maju sedikiit”.. lalu saya menanggapi dengan ekspresi yang tak kalah excited

Buru-buru Akhtar membawa masuk sepedanya dan mempertontonkan kemampuan barunya di depan saya. Tak henti saya bersyukur dan memuji-muji Akhtar, membuat ia bertambah semangat mengayuh. Lalu, ia meminta latihan di jalan depan rumah.

Ternyata, hanya soal waktu, anak-anak akan mendapatkan momennya masing-masing untuk menguasai suatu kabisa baru. Tugas orangtua hanya mengarahkan, dan berdiri paling depan sebagai suporter.

Advertisements

19 Bulan Membersamaimu

Leave a comment

Ahnaf menjelang 19 bulan sekarang. Beberapa perkembangannya antara lain:

1. Memahami beberapa perintah sederhana, seperti: tutup pintunya, masukkan baju kotor ke keranjang, makannya sambil duduk, simpan gelasnya di meja, loncat, beresin mainannya.

2. Membuka-buka buku berkertas tipis tanpa sobek. Sebenarnya hal ini sudah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir. Karena saya tidak menyediakan boardbook, maka Ahnaf pun terbiasa dengan buku-buku berkertas tipis. 

3. Sehubungan dengan buku juga, Ahnaf sudah punya buku favorit. Kadang mengambilnya sendiri dari boks buku, kadang meminta bantuan. Buku favorit Ahnaf ya yang sering dibaca Akhtar juga, diantaranya komik muslim cilik Sayangi Bumi. Dia akan menunjuk-nunjuk halaman buku dan (terdengar) berkata “Bca bca…” meminta kita membacanya. Salah satu halaman favoritnya adalah yang ada gambar kucingnya.

4. Memegang pensil/ pulpen dengan (lumayan) benar. Keterampilan ini tidak pernah saya ajarkan khusus. Saya tidak secara sengaja memberi Ahnaf pensil. Namun karena sering melihat Akhtar menggambar/ menulis jadi ia sendiri yang berinisiatif meminta, dan saya perhatikan cara memegangnya sudah benar. Lagi-lagi… saya kira karena ia meniru Akhtar.

5. Mengangguk-angguk tanda setuju. “Ahnaf mau makan?” Angguk-angguk. “Ahnaf mau nenen?” Angguk-angguk. “Ahnaf mau mimi?” Angguk-angguk. “Ahnaf ngantuk, iya?” Angguk-angguk. Kadang saya merasa ia asal mengangguk-angguk saja setiap mendengar kalimat pertanyaan yang serupa, baik paham maupun tidak. Haha.

6. Melanjutkan kata-kata… dengan suku kata “Bah..” hehe. Misal, saya bacakan doa sesuatu, lalu menyisakan suku kata terakhir untuk Ahnaf lanjutkan, maka apapun doanya akan diteruskan “Bah..” oleh Ahnaf. Kenapa? Karena baru itu salah satu kata yang bisa diucapkannya dengan fasih, selain papah (sapaan untuk Papnya), bah bah (sapaan untuk Abahnya), mam mam (maksudnya ngASI), dan beberapa bahasa bayi lainnya.

Di usianya yang hampir 19 bulan, memang Ahnaf tidak memiliki kosakata sebanyak anak-anak lain seusianya. Bahkan, di lebaran kemarin saya bertemu anak perempuan seusianya yang begitu ‘fasih’ menirukan apapun yang diucapkan oleh orang dewasa, dan dia sudah bisa mengucapkan nama suatu benda atau aktivitas, serta menirukan suara hewan. Sementara Ahnaf baru bisa menunjukkan keinginannya dengan bahasa tubuh dan bahasa bayinya, misal dengan menarik tangan kita ke arah yang ia maksud. 

Tapi… ya ga apa-apa, pelan-pelan aja ya Dek… sejauh ini sih tidak menjadi kendala dalam komunikasi kami. Toh Akhtar pun kemampuan berbicaranya baru berkembang pesat setelah usia 2 tahun.

7. Dari sisi sosialnya, Ahnaf sekarang sudah mulai terbuka dengan lingkungannya. Misal, sebelumnya Ahnaf selalu enggan didekati salah satu paman saya, reaksinya akan menangis, menjauh, atau memeluk kita dengan ekspresi takut. Sekarang, bahkan tanpa ditemani pun sesekali Ahnaf berkunjung ke rumah si paman tersebut, mengetuk-ngetuk pintu sendiri dan kadang betah berlama-lama disana sambil ngemil atau menonton tv.

8. Dari sisi emosinya, sekarang sudah mulai bisa memaksakan kehendaknya, dan (sedikit) tantrum jika keinginannya tidak atau terlambat dipenuhi. Saya kira bayi anteng kayak Ahnaf gak akan se’tantrum’ itu kalau nangis, ternyata sama aja.. haha. Juga sudah bisa berebut mainan dengan kakaknya. Sebelumnya ia cenderung mengalah/ tidak berbuat apa-apa kalau mainannya direbut paksa, sekarang mulai timbul egonya… kadang melawan dengan cara memukul dan menarik-narik rambut Akhtar. Bahkan belakangan menunjukkan kecemburuannya juga jika saya agak mengabaikannya, suka terlihat kesal jika Akhtar duduk terlalu dekat dengan saya, atau melihat saya mendahulukan Akhtar.

9. Dari sisi kemandiriannya, Ahnaf sedikit demi sedikit mulai diajari pipis di WC. Kadang berhasil, tapi lebih banyak juga gagal karena popok terlanjur basah pas dibuka di kamar mandi. Hal ini dilakukan demi tidak mengulang proses TT seperti Akhtar yang molooor hingga ia menjelang usia 3 tahun.

Selain itu, beberapa hal sudah bisa dikerjakannya sendiri seperti memakai sendal (sudah berjalan beberapa bulan), memasukkan baju kotor ke keranjang, mengambil dan menyimpan gelas minum sendiri, kadang mengambil air sendiri dari dispenser. 

Ya… keberhasilan-keberhasilan ‘kecil’ yang tidak bisa diabaikan, dan tidak bisa dibandingkan antara 1 anak dengan anak yang lain. 

Semoga Ahnaf senantiasa tumbuh dan berkembang dengan sehat. Kelak menjadi seorang muslim yang kuat dan bermanfaat bagi banyaaak orang. Aamiin.

Luv luv… 

Makan di Toko

Leave a comment

Dalam kamus bahasa Akhtar, makan di toko artinya makan di restoran cepat saji. Akhtar menamai aktivitas ini secara spontan sekitar beberapa bulan yang lalu, ketika dalam suatu perjalanan pulang dari Bayah (Kab Lebak) kami mampir di rest area dan makan di restoran ayam Pak Tua.

Setelah itu selama beberapa waktu, ketika melihat restoran ‘toko’ di rest area manapun, Akhtar akan berseru, “Akhtar pernah makan disitu!”


Selanjutnya, Akhtar pernah merasa terkesan ketika diajak makan di restoran berlambang M di Cimahi, yang di dalamnya terdapat playground kecil.
Lalu, ingat terus pernah memesan menu ayam, nasi, dan minuman teh buah di restoran dengan krim keju sebagai kekhasannya.

Sepele ya? Hehe… karena jarang makan di toko, aktivitas yang dilakukan sesekali ini menjadi istimewa bagi Akhtar.

Tetaplah jarang ‘makan di toko’ ya Akhtar. Karena sesungguhnya yang Akhtar makan itu junkfood… :p

Mim, Suka Ga?

Leave a comment

Sebelumnya saya pernah bercerita tentang Akhtar yang suka mengajukan pertanyaan berulang.

Saya pun bercerita tentang Akhtar yang hobi memberi pertanyaan beruntun.

Nah, sekarang Akhtar senang mengombinasikan keduanya. Akhtar senang mengajukan pertanyaan beruntun yang berulang.

Salah satu yang hampir selalu ditanyakan tiap hari adalah ini… (lihat gambar)

Akhtar akan bertanya, “Mim, suka mobil ini ga?” katanya sambil menunjuk mainan mobil-mobilan yang disusun berbaris.

Dan saya, harus menjawab, “Suka”. Sesekali saya jawab “Ga suka”, namun dia akan mengulang-ulang pertanyaannya hingga saya menjawab “Suka”, sesuai keinginannya.

Lalu… Pertanyaan berulang dan beruntun pun dimulai..

“Kenapa suka?”

“Karena bagus”

“Kenapa bagus?”

“Karena rapi”

“Kenapa rapi?”

“Karena Akhtar pintar menyusunnya”

“Kenapa Akhtar pintar?”

“Karena Akhtar sering memainkannya”

“Kenapa Akhtar sering mainkan?”

“Karena Akhtar suka”

“Kenapa Akhtar suka?”

“Karena kan mainan kesukaan Akhtar”, saya mulai kehilangan ide menjawab.

“Oh”, tutupnya singkat

Saya menghembuskan nafas, lega…

***

Ada lagi…

Polanya kurang lebih sama dengan percakapan di atas, dimulai dengan…

“Mim, suka ini ga?”

“Suka”

“Kenapa suka?”

“Karena bagus”

“Kenapa bagus?”

“Karena berwarna-warni”

“Kenapa berwarna-warni?”

“Karena diberi pewarna”

“Kenapa diberi pewarna?”

“Kan biar bagus”

Nah lho… muter-muter… bingung kan? Apalagi sayaaa.. ^^’

***

Menilai Ke-Worthed-an

2 Comments

Ngerti po ra sama judulnya? Hehe…

Jadi, semenjak punya anak dan mulai ‘ngeh’ sama dunia per-ibu-ibu-an, salah satunya seputar pendidikan anak, saya jadi ngeh juga ternyata ada banyaaaaaaak sekali penjual buku-buku anak di luaran sana (dalam konteks ini yang jualan online saja ya). Ada penjual ‘independen’ yang menjual berbagai jenis buku anak dari berbagai penerbit, dengan rentang harga yang sangat variatif, dari yang murah banget sampai mahal banget. Ada yang mengkhususkan diri menjual buku-buku bekas berkualitas. Ada juga yang hanya menjual buku-buku dari penerbit tertentu, dengan bertindak sebagai book advisor, sales atau seller, dan istilah sejenis.

Nah… sejujurnya penjual di kategori terakhir ini lah yang pada mulanya meracuni saya dengan ‘doktrin’ betapa sangat pentingnya buku untuk anak yang berkualitas dari segi konten (ilustrasi, isi cerita, dan nilai moral yang disampaikan) dan fisik (kualitas kertas yang digunakan). Tapi… ada tapinya… buku-buku yang mereka jual pada umumnya mahal (jutaan). Tentu saja mahal dan tidak itu relatif ya, tergantung kemampuan dan kebutuhan orang per orang, tapi secara pribadi saya memasukkannya dalam kategori MAHAL.

Mungkin kalau dikalkulasi ulang, harga per buku terhitung standar ya (baca: terjangkau secara umum), hanya… sistem penjualan mereka biasanya per set/ paket, dalam satu paket bisa berisi sampai belasan buku, tambah mahal lagi kalau dilengkapi e-pen.

Itu lah strategi marketingnya, pertama… si penjual menciptakan kebutuhan, membuat calon pembeli merasa harus memiliki buku ini, sehingga semahal apapun pembeli akan mengusahakannya.

Apa yang salah? Tidak ada. Penjual, untuk barang apapun, pasti menargetkan menjual sebanyak-banyaknya barang, meraup sebanyak-banyaknya untung, diantaranya dengan jualan sistem paket seperti itu. 

Pun pembeli, selama membeli karena memang butuh, dan menilai seimbang antara investasi yang dikeluarkan dengan kualitas barang, lalu merasa buku-buku itu akan mengoptimalkan proses belajar anak-anaknya di rumah, ya ga ada yang salah kan.

Yang terasa ‘salah’ bagi saya adalah, ketika ukuran worthed ga worthed, urgent ga urgent itu dipaksakan dari salah satu pihak, ambil lah dalam hal ini penjual. 

Sejujurnya saya sempat amat sangat tertarik membeli buku-buku mahal itu untuk Akhtar. Namun kemudian… saya menimbang ulang urgensinya (untuk keluarga kami yaa.. disini saya bicara atas nama pribadi, preferensi keluarga lain bisa jadi berbeda).

Pertama, di lihat dari sisi keuangan keluarga. Sanggupkah membayarnya? Pada umumnya karena sulit mencari orang yang mampu membayar tunai di awal, buku-buku itu dijual dengan sistem arisan bisa sampai 10 bulan. Jika memutuskan ikut arisan, pertanyaan berikutnya, apakah sanggup berkomitmen membayar iuran bulanannya tepat waktu? Untuk saat ini saya jawab NO.

Kedua, adakah buku-buku lain yang lebih murah dengan tema yang kurang lebih sama, yang bisa mensubstitusi buku-buku mahal ini? Ternyata menurut pengamatan saya, banyak buku-buku murah yang secara konten tidak jauh berbeda dengan buku-buku mahal itu. Abaikan perbedaan kualitas kertas yang digunakan dan fitur e-pennya yaa.

Dengan mempertimbangkan sedikit hal di atas, maka (untuk saat ini, entah ke depannya yaa) saya memutuskan untuk tidak membeli buku-buku itu.

Kebutuhan buku untuk Akhtar saat ini sudah tercukupi dengan buku-buku yang lebih murah. Akhtar sudah tahu cara memperlakukan buku dengan baik agar tetap terjaga (tidak sobek, kotor, dsb) jadi tidak butuh buku-buku yang anti air atau anti sobek, pun Ahnaf sudah bisa membuka-buka buku berkertas tipis tanpa sobek. Kalau pun menyobeknya sedikit ya tidak apa-apa, kan investasi untuk bukunya pun tidak mahal.

Dari segi konten, untuk saat ini sudah tercukupi dari buku-buku yang lebih murah. Untuk buku-buku agama (asmaul husna, kisah nabi-nabi, hadits, juz amma, kumpulan doa-doa, dtt) saya lebih selektif memilihkannya untuk Akhtar. Yang harus dicek adalah rekam jejak penerbitnya, profil dan latar belakang penulisnya, sampai daftar pustaka, apakah bersumber dari ilmu-ilmu yang shahih? Untuk buku agama ini, saya memfavoritkan beberapa penerbit buku anak yang kontennya ‘aman’ menurut saya, diantaranya PQids, Alkautsar Kids, Zikrul Kids, ada lagi tapi saya lupa. Nama-nama yang asing ya? Tapi bagus kok… bisa dicek sesekali.

Untuk buku-buku lain, banyak buku Akhtar yang dibeli di toko buku bekas. Ada juga yang bekas pakai omnya, atau hasil ngubek dari obralan. Buku-buku itu beberapa diantaranya jadi favorit Akhtar, seperti buku-buku tentang kendaraan, tentang hewan dan tumbuhan, dan tentang pertanian. 

Anak-anak itu ga pilih-pilih sama buku. Sekali suka, dia akan baca berrrrulang-ulang kali. Buku favorit Akhtar pun ada yang mahal, ada juga yang hanya 5000an – Akhtar sendiri yang pilih dari toko buku bekas dengan fisik yang jauh dari mulus. Di luar itu, orangtuanya yang bertanggung jawab memilihkan. Jadi yang menetapkan standar buku ‘bagus atau tidak’ itu juga orangtua. Dan di kemudian hari, standar yang sama mungkin akan digunakan oleh anak-anak kita ketika memilih buku.

Yang ingin saya sampaikan disini. Penjual sebaiknya tidak memukul rata kebutuhan akan buku/ alat peraga pendidikan lain untuk setiap orang. Banyak yang memang butuh (ini lah prospek sesungguhnya), namun banyak juga yang tidak. Yang tidak, bukan berarti tidak peduli dengan pendidikan anak, hanya pilihannya saja yang berbeda. Dan pembeli pun harus bisa menimbang-nimbang, apakah kebutuhannya akan buku harus dipenuhi dengan buku-buku mahal (yang secara kualitas saya akui memang baik) atau merasa cukup dengan buku lain yang lebih murah? Selebihnya ga usah saling nyinyir dengan pilihannya masing-masing. 

Pada akhirnya, keputusan ada pada pembeli. Maka jadilah pembeli yang selektif dan memahami value for money sebuah buku.

Lebaran Istimewa

1 Comment

Tulisan ini judulnya ‘dibuang sayang’. Seringkali saya hanya menulis di draft blog tanpa published. Kadang-kadang, kalau lagi moooood (kadang-kadang lho ya..), saya buka lagi satu per satu tulisan di draft, ada yang saya lanjutkan ceritanya dan akhirnya terpublish, banyak juga yang akhirnya ‘tidak berakhir jadi apa-apa’ saking ‘late post’nya, ide-ide sudah menguap entah kemana, dan kalau itu berupa cerita pengalaman, maka udah ga dapet ‘feel’nya untuk melanjutkan cerita. Udah basi dan krauk krauk…

Tapi karena cerita di bawah ini menurut saya ‘cukup’ istimewa, maka saya memutuskan untuk ngeposting juga. Istimewanya karena ada beberapa ‘momen pertama kalinya’ buat saya, buat anak-anak, dan buat saya dan suami.

***

Lebaran 2016

Salah satu yang istimewa dari Ramadhan tahun ini adalah bahwasanya ini adalah Ramadhan pertama saya dengan puasa full, tanpa batal, dalam 16 tahun terakhir sejak mendapat haid pertama.

Jika di 13 tahun sebelumnya saya batal karena haid, di 2013, separuh bulan saya ga puasa karena dalam masa nifas setelah melahirkan Akhtar. Setelah itu saya ga datang bulan sampai 13 bulan dan dengan percaya dirinya yakin bisa penuh menjalankan puasa Ramadhan 2014.

Qadarullah… saya mendapat haid pertama dalam 13 bulan itu justru dalam pekan terakhir Ramadhan 2014.

2015, saya kembali percaya diri bisa menjalankan puasa sebulan penuh. Waktu itu sedang hamil Ahnaf kurang lebih 3 bulan. Tapi pada suatu kunjungan ke dokter kandungan, si dokter menyarankan saya untuk tidak berpuasa demi kesehatan si janin. Ya sudah akhirnya 10 hari saya batal karena selang seling antara puasa dan tidak.

2016 ini alhamdulillah akhirnya saya bisa full menjalankan puasa dalam kondisi menyusui Ahnaf, plus pertama kalinya membawa anak-anak untuk shalat Ied.

Sekali-sekalinya pernah ajak Akhtar untuk shalat ied (yaitu idul adha) adalah sekitar 2 tahun lalu… pada akhirnya saya ngga shalat juga karena sibuk ngejar-ngejar Akhtar yang bermain di pinggir kolam tak jauh dari shaf jamaah wanita.

Dan… lebaran tahun ini untuk pertama kalinya juga sejak punya anak, suami nekat ngajak nonton bioskop ninggalin anak-anak yang udah tertidur.

Asik nih, tiket udah di tangan, cemilan udah siap plus minumannya, pintu studio pun sudah dibuka, dan kami sudah menemukan tempat duduk kami. Film belum juga mulai, layar masih menampilkan trailer film-film yang akan tayang dan beberapa iklan komersial ketika hp suami menerima pesan singkat.

“Ahnaf nangis”

Beberapa detik cuma cengo, ga bisa mikir. Waduh… kudu kumaha. Kita memutuskan menunggu sampai ada kabar baik dari rumah, tapi yang datang malah kabar buruk

“Ahnaf ngadat, ga mau berhenti nangis”

Saya mulai gelisah…

Dan beberapa menit kemudian akhirnya kami memutuskan meninggalkan bioskop tepat di detik pertama film diputar.

Sepanjang jalan pulang saya hanya tersenyum-senyum geli mengingat betapa gatotnya kencan kami malam itu.

Akhirnya, cemilan (mahaaal T_T) yang dibeli di lobi bioskop pun kami habiskan sambil menonton film di depan layar kaca, di rumah.

***

Bukan Bayi Lagi

Leave a comment

Sejak dinyatakan resmi bisa berjalan dua bulan terakhir, tingkah Ahnaf tidak lagi seperti ‘bayi’. Jangkauan jelajahnya semakin luas, bahkan sampai kamar mandi. Beberapa kali lepas dari pengawasan, dan ketika dicari ke semua ruangan, ternyata Ahnaf sedang berdiri hendak naik ke atas kloset. 

Bahkan beberapa kali saya pernah membatalkan shalat karena Ahnaf menjauh dari area saya shalat. Karena pernah satu kejadian dia kabur ke kamar mandi saat saya shalat… untung ga jatuh, untung lantainya ga basah, untung dan untung… alhamdulillah.

Pun sekarang teu kaop lihat tangga, jojodog, boks, dan sabangsaningnya, biasanya langsung pengen manjat. Teu kaop lihat pintu depan terbuka, ya pengen keluar. Teu kaop lihat pintu apapun terbuka, ya pengen nutup. Seringkali masuk kamar sendiri, menutup pintu dari dalam, lalu teriak-teriak sambil menggedor-gedor pintu minta dibukakan. Pengecualian, ketika mengantar Papnya berangkat kerja, setelah mengikuti ‘ritual’ Akhtar (“Daah… nanti pulang semalem-malem ya.. HPnya dibawa ga? Nanti bisa telepon Akhtar ga? Dst dsb”), tanpa disuruh Ahnaf akan mendahului masuk rumah lalu menutup pintu. 

Ahnaf pun semakin menunjukkan ‘keras kepala’nya. Sudah bisa memaksakan kehendak dan meronta-ronta jika keinginannya tidak terpenuhi. Semakin banyak yang bisa ditirukannya dari orang-orang besar di sekelilingnya. ‘Baca’ buku dengan mulut berkomat kamit, atau menggerak-gerakkan kedua jempolnya di atas layar handphone, menirukan gerakan shalat, dan ikut tertawa dengan mulut terbuka lebar dan hidung ‘menyungging’ ketika melihat orang-orang tertawa. 

Pinternya Ahnaf, kalau saya mau membersihkan pup atau mengajaknya mandi, saya cukup membaca doa masuk kamar mandi, lalu tanpa digandeng atau diarahkan Ahnaf langsung berjalan sendiri menuju kamar mandi.

Dua anak dua rupa. Dari bibit yang sama, di bawah asuhan orangtua yang sama, Akhtar dan Ahnaf berkembang sangaaaat berbeda. Ahnaf itu lebih kaleeeeem dari Akhtar, tidak menjerit-jerit seperti kakaknya, tetap cool dan irit senyum jika bertemu orang lain. Tidak se-gedebaggedebug Akhtar, dan dalam banyak hal sangat kooperatif, misalnya dengan tidak menambah runyam suasana saat Akhtar nangis. 

***

Semoga duoA menjadi anak-anak yang kuat menghadapi zaman mereka, zaman yang semakin mendekati akhir. Menjadi muslim yang kokoh imannya, lurus aqidahnya, baik akhlaknya, bermanfaat bagi sesama… dan masih banyaaaak doa-doa tak terputus untuk mereka (serta anak dan keturunannya). 

Mendadak eungap…


Older Entries Newer Entries