Tidak ada yang paham hingga sekarang -baik saya, Papnya, bahkan Abahnya yang seringkali mengantar Ahnaf lihat kereta api lewat di dekat stasiun- apa maksud “tjetje” (dengan huruf e taling) pada frasa “api tjetje” yang selalu Ahnaf ucapkan setiap melihat kereta api.

Saya tulis kata “tjetje” dengan sedikit keraguan, apakah kata “tjetje” itu mewakili pelafalan Ahnaf yang sebenarnya. Karena aslinya, kata itu terdengar seperti tete, cece, atau jeje.

Abahnya berasumsi “tjetje” itu adalah kata yang menirukan bunyi (onomatope) kereta api ketika berjalan di atas rel. Sehingga, sering diucapkan ulang “api deng deng” oleh Abah. Tapi, Ahnaf bisa kok menirukan kata “api deng deng”, jadi pasti bukan itu maksud “api tjetje”.

Ya sudah, akhirnya ikutin aja… Ketika Ahnaf mengucapkan itu, saya pun akan menirukannya… “Iya De, api tjetje”.

*

Perkembangan Bahasa Ahnaf

Dalam satu bulan terakhir ini, Ahnaf mengalami perkembangan cukup pesat dalam berbahasa. Walaupun masih dengan bahasa bayi, yang tidah utuh atau belum jelas mengucapkan satu kata, namun kosakatanya cukup banyak bertambah dan ia bisa menggunakannya dalam konteks yang benar. Bahkan juga bisa merangkai dua kata, seperti “utah atan” atau udah makan, “susu enat” atau susu enak, “itut owat” atau ikut shalat, “au ait” atau mau naik, dlsbg, dll, dtt.

Dengan begitu, otomatis (seharusnya) semakin mudah bagi saya untuk memahaminya, tapi justru belakangan Ahnaf jadi lebih sering tantrum karena si anak 2 tahun ini punya lebih banyak kemauan yang tidak saya pahami.

Sejak beberapa pekan lalu, malah sempat menghadapi situasi “berat” dimana setiap malam saya lalui dengan deg-degan saking “horror”nya hiiiy. Apa pasal? Jadi… Ahnaf sering terjaga sampai laruuuut malam, lalu sekitar jam 1-2 dia akan menangis tiba-tiba. Semacam punya alarm yang disetting sebagai reminder untuk menangis jam segitu.

Ah ya… sebenarnya saya tahu sebabnya sih. Sebenarnya ia ngantuk, namun ada rutinitas sebelum tidur yang ingin ia lakukan tapi belakangan ngga saya izinkan, yaitu… nonton youtube. Soal ini, sudah pernah saya ceritakan.

Sekarang sih, alhamdulillah, sudah tidak separah itu. Hanya masih suka ‘riweuh’ menjelang tidur, terutama kalau sudah minta diusapi punggungnya. Serba salah. Sedikit saja saya salah mengusap bagian dari punggungnya, ia akan merengek, tak jarang berakhir tantrum yang menggetarkan jiwa haha.

Tapi untuk Ahnaf ini, saya bersyukur punya daya sabar yang memadai sehingga ngga sampai melakukan hal-hal yang disesali setelahnya. Berbeda dengan masa 2 tahun Akhtar dulu, yang mana tantrumnya bikin saya kadang tak bisa menahan diri untuk meninggikan suara atau ‘membelai’ bagian tertentu di tubuhnya. Padahal, kadar tantrumnya sih tak jauh beda. Untuk hal itu, saya sering menyesal dan meminta maaf kepada Akhtar.

“Maaf kenapa Mim?”, tanya Akhtar bingung jika saya tiba-tiba meminta maaf.

“Maaf karena Mim suka marahin Akhtar ya..”, jawab saya sambil memeluknya.

Advertisements