Jaraaaang ada (atau malah ga ada?!) kegiatan yang bisa konsisten saya lakukan… selain menulis di blog. Terhitung hampir sepuluh tahun saya ngeblog sejak pertama kali mem-posting tulisan pada Juni 2008. Waktu itu saya masih mahasiswa tingkat akhir yang butuh ‘pelarian’ dari kemumetan mengerjakan skripsi.

Meski sudah 10 tahun, saya bukanlah blogger yang punya banyak penggemar, lantas mendapatkan rentetan respon di kolom komentar. Ngga. Saya ini semacam ngeblog dalam kesunyian. Halah. Pembaca setia blog saya adalah… SAYA SENDIRI. Tak jarang di banyak kesempatan, saya membuka-buka lagi tulisan lama dan menemukan inspirasi dari sana. Atau sekedar mengingat-ingat kejadian yang pernah saya ceritakan di blog, untuk kemudian bertanya pada diri sendiri, “Oh pernah ya ngalamin ini” atau “Oh pernah ya nulis tentang ini”. 

Dalam perjalanannya selama 10 tahun itu, motivasi menulis pun berganti-ganti. Dari yang awaaall banget hanya sekedar untuk curhat (sebagai pengganti buku diary yang udah ga zaman pada masa itu), lalu ganti lagi jadi untuk berkomunitas, yang kemudian saya bergabung di sebuah komunitas blogger dan menemukan beberapa teman disana (sekarang udah engga), kemudian dengan ikut komunitas tersebut, saya jadi termotivasi untuk mendapatkan hadiah dengan mengikuti give away dan tantangan menulis (tapi ini udah engga juga), dan sekarang kembali lagi, motivasi saya menulis hanya untuk curhat.

Terkhusus sejak menikah lalu punya anak, cerita saya lebih banyak berputar-putar di sekitar urusan rumah dan anak-anak.

Ketika menulis tentang anak-anak ini, saya punya motivasi tersendiri. Saya ingin, suatu hari nanti anak-anak membaca tulisan-tulisan saya dan menemukan sesuatu sebagai pelajaran. Atau membaca doa dan harapan saya untuk mereka yang tak jarang saya sisipkan di beberapa tulisan, untuk kemudian diwujudkan. Atau sekedar kenangan, bagaimana mereka bertumbuh dan berkembang. Selain mereka juga bisa membaca buah pikir dan pengalaman ibunya yang dengan itu mereka bisa mengenal saya lebih dalam. Dan, bila saya meninggal sebelum mereka mencapai baligh, saya berharap tulisan di blog ini menjadi salah satu pedoman pengasuhan. Yah… umur kan siapa yang bisa menebak? :)

Dan, saat ini saya merasa cukup dengan anak-anak sebagai motivasi bagi saya untuk terus menulis dan menulis lagi. 

Advertisements