“Akhtar sayang banget sama Mpap… kangeeen…”, teriaknya sambil ‘dadah-dadah’ dari balik jendela ruang tamu ke arah Pap yang baru saja selangkah keluar dari gerbang rumah.

Ya, inilah ritual kami sepekan sekali. Yang seringkali mengharukan adalah celotehan Akhtar ketika mengantar Papnya pergi, bikin bapeeerrr.

Pernah suatu hari yang lain, belum lagi berjam-jam dari keberangkatan Papnya, si sulung ini menghampiri saya yang sedang bersiap-siap shalat, terlihat raut sedih dari wajahnya.

“Akhtar kenapa?”, tanya saya.
“Akhtarnya sedih karena Pap pulang”, jawabnya dengan wajah murung. Lalu saya berusaha menghibur sebisanya.

Saya shalat, dengan konsentrasi terpecah, karena merasakan Akhtar gelisah, bolak balik ke dalam lalu keluar kamar tidur, lalu ke dalam dan keluar lagi. Dari tempat saya shalat (di ruangan sebelah kamar tidur) saya bisa mendengar Akhtar menjatuhkan badannya di atas ranjang lalu bangkit lagi.

Selesai saya shalat, ia menghampiri saya dengan tangis tertahan, “Akhtar sayang sama Mpap”. Saya dekap tubuhnya dan usap-usap punggungnya, “Iya Akhtar, sabar ya, nanti kan Pap pulang lagi kesini”.

*

Kebiasaannya yang lain lagi, jika Papnya bersiap-siap akan berangkat, Akhtar akan berkata, “Pap kerjanya disini aja”, lalu hanya akan di’amin’kan oleh kami. 

Setelah itu Akhtar akan mengantar Pap sampai teras dan beberapa dialog yang seringkali terjadi adalah seperti ini:

“Nanti pulangnya hari apa?” Papnya akan menjawab Jumat atau Sabtu.

“Pulangnya naik apa?” Papnya akan menjawab naik bus atau kereta, kadang-kadang travel.

Lalu ditutup dengan, “Hati-hati yaaa… kalau Akhtar kangen nanti telepon yaa… dadaaah”. Papnya akan mengucapkan salam dan Akhtar baru akan masuk setelah Pap hilang dari pandangan.

*

Apa yang saya rasakan dengan ini?

Yang pertama-tama, bersyukur. Bersyukur karena walaupun secara fisik tidak bisa bersama setiap hari, saya melihat Akhtar dan Papnya memiliki kedekatan hati. Insya Allah ini akan menjadi bekal yang sangat penting untuk perkembangannya. Kedekatan dengan ayah dikatakan memiliki banyak manfaat diantaranya bisa membuat anak tumbuh menjadi seorang yang percaya diri, cerdas, stabil emosinya, dan lain-lain, bisa ditelusur di google hehe.

Yang kedua, bersyukur lagi, karena Akhtar mampu mengungkapkan perasaannya secara terbuka kepada orangtuanya. Bersyukur karena saya ga biasa seperti itu, pun suami saya kepada orangtuanya. Keterbukaan menunjukkan kepercayaan, dan semoga Akhtar akan tetap seperti itu, terutama kelak di masa-masa pra baligh atau menuju dewasa, dimana ia akan bercerita/ bertanya segala hal kepada orangtuanya terlebih dahulu sebelum mencari yang lain. 

Advertisements