Dibuang sayang… setelah 2,5 tahun hanya tersimpan di notes henpon, akhirnya saya posting juga. Tulisan ini ga saya posting sejak awal pasti karena ceritanya belum selesai. Bisa dibaca di bagian akhir tulisan yang terasa ngambang. 

Aslinya ditulis pada 4 Agustus 2015.

***

Ketika harapan bertemu kenyataan maka hasilnya adalah kepuasan. Dan saya terpuaskan setelah membaca novel “Ayah” karya Andrea Hirata. Novel yang tentunya ditunggu-tunggu para penggemar Andrea Hirata setelah sekian tahun beliau tidak menerbitkan satu pun novel.

Dan… hey… Andrea Hirata kembali. Masih dengan gaya penceritaannya yang khas, sederhana kadang-kadang ‘lebay’ di satu dua bagian, dengan latar tempat di Pulau Belitong, memunculkan karakter/ profil tokoh yang mudah saja kita temui sehari-hari, mengundang tawa disana sini, namun di beberapa bagian juga sukses membuat saya menangis.

Pernah ga kalian perhatikan? Bahwa beberapa novel Andrea Hirata lekat dengan tokoh Ayah.
Mulai dari Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi dimana sosok Ayah pengaruhnya sangat kuat untuk Ikal, walaupun diceritakan sang Ayah sebenarnya bukan orang yang banyak bicara. Lalu, Sebelas Patriot, lagi-lagi tokoh Ikal terinspirasi dari Ayahnya. Yang terakhir ini, secara terang judul novelnya pun ‘Ayah’.

Buku ini menceritakan beberapa tokoh yang masing-masing punya kesan kuat dan mendalam tentang ayahnya. Seperti meloncat-loncat dari cerita satu tokoh ke tokoh yang lain, yang kemudian saling terjalin di bab-bab berikutnya. Dan pada akhir cerita, muncul tokoh aku, si pencerita, yang adalah Si Ikal, lagi. #eh spoiler bukan ya#

Pantaslah, minimal saya, menobatkan Andrea Hirata sebagai tokoh paling mempengaruhi Belitong di masa kini. Karena berkat serial novelnya yang pertama, kini tak ada orang di Indonesia yang tidak mengenal Belitong. Pun sampai menamainya Negeri Laskar Pelangi.

Salut.

Advertisements