Jadi yah… belakangan ini saya lagi seneeeeeng banget mencatat. Mencatat is suatu pekerjaan yang sudah saya tinggalkan sejaaak lulus kuliah xx tahun yang lalu.

Duh… ga sampai hati ngisi si xx itu, menyadari ternyata udah lama yaaa si xx itu… padahal masih serasa anak kampus kemaren malem. 

Nah, sejak masuk kerja, praktis semua pekerjaan dilakukan di komputer, kalau pun butuh pena dan kertas hanya untuk oret-oretan. Dan tulisan tangan saya yang aslinya memang tidak bisa rapi, jadi semakin berantakan. Bahkan ada satu ketika, dimana saya merasa tangan saya cepat lelah jika menulis, dan… kaku.

Namun, kegiatan belajar online a la emak-emak zaman now memaksa saya kembali ke kebiasaan lama untuk mencatat. Awalnya karena HSI. Di awal-awal pelajaran, saya rajiiiin sekali mencatat di buku tulis yang saya sediakan khusus untuk HSI ini. Namun satu dua kesempatan, saya luput mencatat, karena ga sempat ataupun ga ada pulpen, dan itu berpengaruh pada konsistensi saya mencatat. Melihat ada beberapa ‘bolong’ di buku catatan HSI saya (materi HSI disampaikan setiap hari) membuat mood mencatat agak terganggu (baca: males.. haha). 

Akhirnyaa… kebiasaan mencatat setiap detail yang diucapkan Ustadz di audio materi pun hilang sudah, berganti dengan… menuliskannya pada aplikasi notes di ponsel, walaupun tidak selalu dilakukan.

Mengingat berharganya ilmu yang disampaikan, dan… menyadari ternyata saya tidak punya catatan yang baik selama belajar hampir 2 tahun di HSI, maka saya bertekad untuk memulai kembali kebiasaan baik itu walaupun terlambat. Alhamdulillah… silsilah 8, yaitu pembahasan tentang kitab Qawa’idul Arba, bisa saya catat lengkap dari halaqah pertama sampai terakhir.

Ternyata, bagi saya, ada 2 item penting (banget) yang membuat kegiatan mencatat menjadi lebih menyenangkan… yaitu… pulpen yang enakeun dan buku tulis yang baru dan bagus (kalau ada). 

Kalau buku tulis sih ga bagus-bagus amat sebenarnya, saya hanya memanfaatkan notebook berukuran A4 yang sisa banyaaaak dari tempat kerja lama, karena dulu dijatah 1 bulan dapat pembagian stationery dan tidak selalu habis saya gunakan dalam 1 bulan. Penting juga untuk memisahkan catatan berdasarkan pelajarannya.

Yang berpengaruh banget dalam menumbuhkan semangat mencatat adalah PENA atau PULPEN yang enakeuun

Sebenarnya ada pulpen favorit saya dari merek tertentu (clue: yang menerbangkan pesawat terbang :p), namun harganya lumayan, masih di bawah 20 ribu sih, tapi karena harganya segitu itu jadi ga dijual di toko ATK dekat rumah yang konsumennya rata-rata anak sekolah deket sini. Jadi, saya mencari substitusinya, dan sejauh ini favorit saya adalah pulpen gel keluaran snowman dan joyko, yang harganya bahkan ga lebih dari empat ribu rupiah.

Kenapa pulpen menjadi item penting? Ini sehubungan dengan tulisan tangan saya yang amat sangat terpengaruh dengan jenis pulpen yang digunakan. Kalau yang digunakan pulpen yang standar macam pulpen-pulpen pembagian di seminar gitu lah, saya ga tahan lama menulis bagus, paling hanya satu atau dua kalimat pertama yang keliatan bagus, selanjutnya tulisan dah macam resep dokter aja. Mending kalau kebaca hahaha…

Entah lah kenapa… tapi menulis dengan pulpen biasa-biasa aja itu butuh effort lebih besar menurut saya. Maca cih? Butuh tenaga lebih besar untuk mengeluarkan tinta dari pulpen dibandingkan jika kita menggunakan pulpen gel jenis tertentu yang lebih bisa meliuk-liuk di atas kertas.

Dan efek mencatat itu luar biasa lho. Tidak sama antara mengetik di notes ponsel dengan mencatat di kertas. 
Ketika mengetik di ponsel, seringkali saya tidak perlu menulis satu kata utuh, karena di fitur dictionary secara otomatis keluar pilihan kata-kata yang mungkin akan saya ketik. Memudahkan memang… tetapi lumayan berefek pada penguasaan/ kecepatan menghapal materi yang kita catat.

Mencatat dengan media pena dan kertas, melibatkan lebih banyak indera yang memungkinkan kita menghapal lebih cepat materi yang dicatat. Mengetik dengan hanya dua jempol tentu akan berbeda efeknya dibandingkan dengan mencatat dengan melibatkan seluruh jari tangan, bahkan juga telapak dan pergelangan tangan.

Selain itu, mencatat juga membuat kita lebih fokus pada setiap huruf dan kata yang kita torehkan di kertas. Tidak sekedar lalu karena ada bantuan dictionary atau fitur delete/ remove/ cut/ copy/ paste seperti mengetik di gawai, mencatat di kertas butuh konsentrasi lebih karena jika salah tulis, maka akan lebih banyak waktu yang terbuang, alias terjadi ketidakefisienan. 

Maka, dengan mempertimbangkan kedua hal itu saja (sementara belum nemu hal-hal lain) mencatat tidak hanya perihal aktivitas otot tangan, namun juga otak. 

Yuk ah, biasakan lagi mencatat… (self reminder)

Advertisements