Nekad…

Itulah kata pertama yang terlintas dalam pikiran ketika mengambil novel setebal nyaris 700 halaman itu dan menyerahkannya ke kasir. Apalagi proses tertumbuknya mata pada novel bersampul putih itu terjadi tanpa sengaja.

Hari itu, 31 Desember 2017, agak memaksa, saya mengajak suami ke toko buku diskon di Palasari. Sebenarnya saya sudah ‘merengek’ dari sehari sebelumnya, karena suami mau pergi ke Bandung untuk mengambil hasil tes lab saya untuk persiapan kelahiran. Namun dengan pertimbangan waktu (biar cepet, katanya) dan kondisi kota Bandung yang diperkirakan macetos mengingat lagi libur panjang, akhirnya hanya suami yang berangkat, dengan seucap janji, “Kalau mau ke Bandung mah besok aja ya…”. Horee…

*

Akhirnya, berangkat juga keesokan harinya. Setelah mampir sebentar ke TSM yang ramaaaaiiii banget, kami pun naik angkot ke Palasari. 

Bagi saya, berkunjung ke toko buku adalah suatu kemewahan. Dulu sih (sebelum nikah) bisa seminggu sekali ke toko buku, entah untuk beli buku, numpang baca, atau sekedar ngecek harga. Namun, sejak berbuntut, dengan budget dan mobilitas terbatas hehe, aktivitas itu bahkan mungkin hanya bisa dilakukan satu kali dalam rentang waktu berbulan-bulan. Kalaupun beli buku lebih sering lewat toko online, atau beli ke teman-teman Sabumi.

Saya udah berencana membeli beberapa buku buat Akhtar, namun hanya menemukan dua, yaitu buku tentang Mekah dan Baitul Maqdis. Sayangnya buku tentang Madinah, yang masih dalam satu seri, sudah tidak tersedia. 

Dan saya… sebenarnya berencana mencari buku Lapis-Lapis Keberkahan yang ditulis Salim A Fillah… namun… dalam proses menelusuri rak demi rak buku itu, yang saya temukan justru sekuel Supernova-nya Dee Lestari, novel ke 6 yang berjudul Intelegensi Embun Pagi (IEP). Novel 1 s.d 5 sudah tuntas saya baca dan menjadi koleksi novel yang saya pertahankan di antara sekian banyak novel lain yang sudah saya keluarkan dari rak buku. Intinya… sekuel ini yaa favorit saya banget. 

​

Saya mengambilnya dari rak buku, menimang-nimang buku yang masih tersegel itu, membaca sedikit sinopsis di sampul belakangnya, lalu meletakkannya kembali di rak, setelah melihat novel IEP itu adalah novel paling tebal di antara novel-novel Supernova sebelumnya. 

Lalu, saya berkeliling menyusuri rak-rak lain dengan pikiran yang ga fokus, ga tahu mau nyari buku apa, malah terbayang-bayang si IEP. Akhirnya saya kembali ke rak tempat IEP terpajang, saya ambil dan saya serahkan ke kasir hanya untuk bertanya, “Harganya jadi berapa setelah diskon?”. Setelah mendapatkan jawaban, saya kembalikan buku itu ke rak. 

Lanjut keliling-keliling dan tetap berakhir di depan si rak IEP itu hahaha… akhirnya saya ambil buku itu dan saya bawa ke hadapan suami, saya bilang, pengen beli buku ini tapi… tebel banget, takut ga kebaca, mubadzir, bla bla… mengingat terakhir membaca novel ya hampir 2 tahun lalu, yaitu novel Ayah karya Andrea Hirata. 

Eh tapi suami mengizinkan, “Sekalian lagi disini…”, katanya. Oke lah kalau begitu, saya pun memantapkan hati membelinya, urusan sempat dibaca atau ngga, itu mah belakangan haha. 

Nekad…

*

Tiga hari kemudian… 

… saya menutup halaman terakhir novel IEP dengan perasaan puas. 

Hanya tiga hari ternyata yang saya butuhkan untuk menuntaskan semuanya. Tentu bisa lebih cepat kalau dalam proses membacanya tidak disela dengan anak-anak yang meminta ini itu. Yaa tetap yang jadi prioritas anak-anak dong yes… Jadi berkali-kali terpaksa berhenti di tengah-tengah cerita yang lagi seru-serunya untuk memenuhi kebutuhan mereka. 

Eh… dan saya mau bilang, Supernova ini adalah sekuel yang paling ‘aneh’ menurut saya. Lah kok? Jadi… dengan pemilihan kata dan jalan cerita yang tidak biasa, sulit sebenarnya bagi saya untuk mengikuti imajinasi si penulis. Adapun imajinasi yang terbentuk di kepala saya juga sekedar ngawang-ngawang tanpa gambaran yang jelas, namun novel ini justru tidak membuat saya bosan membacanya dari awal sampai akhir. Pengennya lanjuuut terus sampai tamat. Dan setelah selesai, dipastikan saya tidak bisa menjelaskan kembali detail ceritanya, tapi saya ngerti gambaran utuh cerita dalam satu novel ini. Yaa sama halnya dengan novel pertama sampai kelimanya. Tidak satu pun yang bisa saya ceritakan secara detail alur ceritanya, tapi secara menyeluruh ya ngerti. 

Ibarat melihat suatu frame lukisan. Maka saya tahu bahwa lukisan tersebut adalah tentang pemandangan sesuatu, namun tidak terceritakan dengan kata-kata bahwa dalam frame itu ada hal-hal detail yang menjadi bagian penting dari keseluruhan isi pemandangan.

Bintang Lima buat Supernova, as always… 

Advertisements