… terutama dalam tulisan ini saya khusus membicarakan ilmu agama yaa.

Jadi, kadang (apa sering?) kita (apa saya?) males dan bingung ya kalau cuma belajar agama hanya dengan membaca. Apalagi, kalau, seumpama nih, belajar fiqih, terus di satu bahasan di suatu buku itu dikemukakan pendapat berbagai ulama, dalil-dalilnya… endesway endebray, apa (saya) ga jadi tambah bingung? Yang buruk adalah ketika kita memutuskan mengambil pendapat ulama siapa dengan pertimbangan hawa nafsu kita.

Contoh lain, belajar sirah nabawiyah. Saya punya satu buku sirah sejaaakkk…. zaman kuliah, dan sampai sekarang belum pernah membacanya sampai tuntas dari halaman pertama sampai terakhir. Seringkali bacanya nyekclok tergantung saat itu saya ingin tahu tentang apa dari kisah Rasulullah tersebut. Dan (hanya) membaca itu cepet lho, katakanlah ga sejam juga selesai satu bab atau mungkin lebih… tapi kita tidak mendapat wawasan lain selain dari apa yang kita baca. 

Berbeda dengan kita menuntut ilmu pada guru, membicarakan asal usul nenek moyang Rasulullah aja mungkin bisa 2 jam sendiri. Karena selain kisah yang bisa langsung kita baca dari buku, para guru itu juga biasanya memasukkan aspek lain dalam menyampaikan ilmunya, misal hikmah dari kisah, dalil dari Alquran dan Hadits terkait kisah tersebut, dll, sehingga fungsi sejarah sebagai pemberi pelajaran benar-benar terpenuhi.

Lain lagi belajar Alquran misalnya. Sebelum memasuki bulan Ramadhan yang lalu, saya membeli buku penjelasan tafsir Juz ‘Amma Ibnu Katsir dan buku Asbabun Nuzul ayat-ayat Alquran. Kenapa Juz ‘Amma? Karena surat-surat di juz 30 itu lah yang paling sering saya baca dalam shalat, maka memulai dengan belajar tafsir juz 30 menurut saya adalah langkah yang paling pas agar kita lebih khusyuk dalam shalat.

Beberapa tafsiran surat memang sudah saya baca tuntas, tapiii… ya sebatas yang saya baca dari buku aja dan cepat lupaaa. Ini mah dasar otak sayanya aja kali ya kurang bersifat spons hehe.

Lalu, kemudian saya bandingkan jika kita mengikuti kajian tafsir yang disampaikan orang berilmu (baca: ustadz). Bahas surat Al Ikhlas ayat 1 aja bisa 5 menit sendiri. Satu ayat ditafsirkan dengan ayat-ayat Alquran yang lain, didukung hadits-hadits yang berkaitan, ditinjau dari sisi bahasa, dll dll. Rasanya menjadi lebih kaya ilmu dan padat makna.

Soal belajar tafsir ini, kita juga mesti berhati-hati sih, karena dalam pembukaan di buku tafsir juz ‘amma yang saya punya itu, haram hukumnya menafsirkan ayat dengan akal. Ayat ditafsirkan lagi dengan ayat Alquran yang lain, lalu dengan hadits Rasulullah, lalu dengan pemahaman para sahabat, dst. –kudu ngecek lagi bukunya ini mah-. Maka jangan heran, zaman now, banyaaaak orang-orang yang menafsirkan Alquran hanya dengan akal dan hawa nafsunya, lantas jadi keblinger. Seolah pinter (karena orang macam ini biasanya pandai beretorika) tapi ya jadinya kok nabrak ayat Alquran sana sini.

Contoh lain… belajar tauhid. Inilah inti dari ajaran Islam. Yes, TAUHID. Mau beribadah sebanyak apapun, kalau tanpa tauhid atau keyakinan bahwa Allah satu-satunya Rabb yang patut disembah, ya useless. Mau beramal secanggih apapun, kalau di dalamnya masih ada unsur- unsur kesyirikan, ya sia-sia.

Dan belajar tauhid ini, walaupun terlihat sesederhana membaca syahadat atau belajar rukun iman, nyatanya kalau digali lebih dalam bisa sampai banyaaaaaak sekali bahasannya. Disitu lah pula, kita perlu guru.

Dan di era sekarang ini, jika saya seorang ibu rumah tangga dengan mobilitas terbatas, ingin menuntut ilmu, sudah banyak sarana yang disediakan secara online, yang mana itu sangat memudahkan sekali kita belajar agama, seperti beberapa hal yang saya contohkan di atas. 

Saya sendiri berusaha mengoptimalkan HP saya untuk belajar, lebih spesifiknya dengan memanfaatkan aplikasi whatsapp.
Banyak grup-grup belajar agama online dengan berbagai metode atau sistem belajar, kita tinggal pilah pilih yang mana yang paling cocok dengan ritme keseharian/ rutinitas kita. 

Dan terlebih penting lagi, jangan salah pilih guru, jangan malas mengecek rekam jejaknya terlebih dahulu, rekomendasi dari teman-teman juga akan sangat membantu.


Beberapa grup yang saya ikuti:


Halaqah Silsilah Ilmiyah
yang dikelola Ustadz Abdullah Roy, seorang pengajar kajian berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi, doktor dalam bidang aqidah dari Universitas Islam Madinah.

Grup ini yang paling berkesan buat saya sejauh ini. Saking berkesannya, sampai pernah beberapa kali saya summon di beberapa posting sebelumnya kan.

Kurikulumnya runut, membahas tuntas tentang iman, pengajarnya kredibel, materi didukung dengan dalil-dalil yang jelas dan tegas.


Sistem belajarnya:

Senin-Jumat setiap pagi (jam 6) diberi materi dalam bentuk audio sekitar 3-7 menitan.

Sore harinya (jam 16) soal kuis diaktifkan di web HSI. 

Setiap pekan ada evaluasi pekanan (untuk materi yang telah disampaikan Senin-Jumat-nya).

Jika selesai 25 materi audio (5 pekan) diadakan evaluasi lagi. Sepekan sebelum dan sesudah evaluasi 5 pekanan ini biasanya ada libur seminggu.

Kuis ini sifatnya sangat mengikat, kudu dikerjain karena menentukan keberlangsungan kita di grup, karena ada sistem ‘remove’ dari grup kalau nilai ga mencukupi/ rashib. Maka perlu komitmen kuat untuk bersungguh-sungguh belajar.

Nyatanya, walaupun HSI ini ‘hanya’ meminta waktu kita anggaplah 10 menit per hari, banyak juga yang keluar di tengah jalan. 

Kedua, grup Bimbingan Islam, atau BIAS. Grup ini sudah saya ikuti sebelum saya ikut HSI. Setiap hari admin akan mengirim audio plus transkrip kajian ke grup khusus materi. Padahal ya audio kajiannya itu juga singkat-singkat, namun karena sistemnya yang ga mengikat (ga ada kuis macam HSI) jadi saya ga selalu mengikuti materinya. Materinya mencakup banyak hal: aqidah, ibadah, muamalah, sirah, dll. Dan yang bawainnya juga banyak Ustadz. Saya cenderung pemilih hehe… milih materi (yang dirasa menarik) dan asatidz (yang penyampaiannya dirasa asik). Hadeuh…

Yang ketiga, grup Belajar Bahasa Arab Online (BAO). Nah ini grup yang baru-baru ini saja saya ikuti, mungkin baru 2 bulanan. Sebenarnya, sebelumnya sudah berkali-kali dapat info belajar bahasa Arab online dari beberapa penyelenggara, ada yang berbayar, juga ada yang gratis. Rata-rata sistemnya mengikat. Karena belajar bahasa Arab (dan bahasa apapun, saya pikir) kan perlu kesinambungan ya kalau mau hasilnya optimal. 

Kenapa akhirnya yang saya pilih BAO? Karena sistemnya yang menurut saya cocok sama rutinitas harian saya di rumah. Karena prioritas belajar online pertama saya adalah HSI, yang masih akan berlangsung lamaaa ke depan, maka sistem di BAO yang 2 kali materi dan 1 kali tugas dalam 1 pekan, menurut saya udah paling pas. Plusnya, materi (yang diambil dari durusul lughoh ini) lumayan ringan untuk diikuti, bisa sembari saya ajari Akhtar juga, sedikiiit demi sedikiiit. Jadi kepentingannya saya belajar bahasa Arab ini, selain untuk diri sendiri juga untuk disampaikan ke anak-anak. 

Sementara, tiga grup tersebut untuk saat ini udah cukup. Dan tidak mencukupkan diri dengan belajar online saja. Baca buku tetep dilakoni (walaupun banyak malesnya ahahahaha), dan sesekali ikut kajian offline. 

***

Akhir kata…

Ilmu itu bukan yang kita hapalkan, tapi yang kita amalkan.

Advertisements