Salah satu kosakata yang dikuasai Akhtar ketika dulu mulai belajar bicara adalah “Ta api”, maksudnya kereta api. Saya rada lupa bagaimana mulanya ia begitu gandrung sama kereta api, karena waktu itu kami masih tinggal di Pasuruan dan sangat jarang melihat dan naik kereta api, kecuali kereta odong-odong yang beberapa kali dalam seminggu lewat depan kontrakan kami. Lain lagi kalau di Bandung, tepatnya di Padalarang, kereta api adalah salah satu alat transportasi andalan kami kalau mau nyaba kota.

Singkat cerita… tumbuhlah Akhtar jadi seorang maniak kereta api :p. Mula-mula suka menggambar pun yang digambar adalah mobil dan kereta api, bahkan sampai sekarang ga pernah bosan menggambar kereta api dengan berbagai jenisnya. Termasuk mainan pun, saat ini lagi suka banget mendorong-dorong kereta api yang ia susun dari balok-balok bangun. 


Di luar itu, ia pun cepat sekali menghapal nama-nama stasiun. Rute Kereta Bandung Raya dari Padalarang ke Cicalengka dan sebaliknya sudah ia hapal sejak lama. Bahkan rute kereta api Cibatu-Purwakarta, yang belum pernah dinaikinya ia hapal. Dan tak jarang ia meminta saya atau Papnya untuk mencarikan rute kereta api dari kota A ke B, misalnya dari Jakarta ke Bandung, lalu ia baca beberapa kali dan ia hapal.

Pun Akhtar sangat excited jika naik kereta api. Ia bisa bertahan tidak tidur sepanjang perjalanan Bandung-Jakarta, demi melihat ke luar jendela kereta api, mengamati, dan bertanya banyak hal. 

Di usia 2 tahun ketika kami masih tinggal di daerah Pasar Minggu, ia paling suka nangkring di pinggir rel melihat KRL lewat. Kalau bosan dan rewel di kontrakan, salah satu obat yang paling mujarab yaa memberinya tontonan kereta api dari youtube, namun karena sinyal di kontrakan sangat buruk, saya terpaksa mengajaknya ke pinggir rel, beberapa menit pertama, emak masih anteng nungguin, menit-menit berikutnya… emaknya yang jadi rungsing. Kebayang lah ya… nunggu di pinggir rel, ga ada tempat yang nyaman untuk duduk, banyak kendaraan lalu lalang, dan panas, secara di Jakarta.

Sesekali saya ajak juga Akhtar naik KRL kalau rewelnya udah level advance, yang mana jalan menuju stasiun pun butuh perjuangan banget. Akhtar waktu itu masih 2 tahun, belum cukup aman untuk diminta berjalan sendiri di pinggir jalan raya yang ramai, maka harus digendong dalam kondisi saya yang lagi hamil Ahnaf saat itu, sementara naik kendaraan pun nanggung banget karena jarak ke stasiun tidak terlalu jauh. Terjauh, kami pernah naik sampai Depok aja. KRL sangat nyaman dinaiki di luar jam berangkat dan pulang kantor yang sangat padat.

Nah sekarang, sedikit banyak pasti terpengaruh dari Akhtar, Ahnaf sangat sukaaaaa kereta api. Ia menyebutnya… “Api… api… ” jika mendengar suara kereta api atau sekedar melihat rel. Bahkan sepertinya, bagi ia sekarang, apalagi kalau sedang berada di dalam kereta, yang di maksud dengan api adalah rel kereta api. Ahnaf sangat senang kalau dibawa ke stasiun, “Api.. api… “, katanya, lalu ketika dibawa masuk ke dalam kereta api, ia akan bingung, mana kereta apinya? Maka ia hanya akan menunjuk-nunjuk rel di luar kereta dan menyebutnya “Api…”.

Tak jarang Ahnaf memaksa jalan ke pinggir rel hanya untuk melihat kereta api lewat. Ia tidak akan mau pulang sampai melihat setidaknya satu rangkaian kereta api. Mujur kalau memang pas jadwalnya kereta lewat, kalau ngga… yaaa nunggu lama. Tapi, ia hanya akan memaksa melihat kereta api ke Abah atau Papnya (kalau lagi di rumah). Ia ga pernah memaksa ke siapapun lagi, termasuk ke saya. Alhamdulillah yah… :p

Tapi ya itu, permintaannya itu ga kenal waktu. Bisa ujug-ujug minta kapan pun, bahkan pernah pada larut malam. 

Tak jauh beda dengan Akhtar, saat ini Ahnaf pun lagi senang mendorong-dorong kereta api mainan yang disusun kakaknya dari balok-balok itu… maka timbul persoalan, karena kakaknya tidak pernah mau meminjamkan, akhirnya Ahnaf ngalah. Sebagai ‘pelampiasan’, kalau pas Akhtar tidur, dan Ahnaf belum, Ahnaf akan memainkan kereta balok itu lamaaaa sekali, bahkan saya perhatikan pernah sampai 2 jam. Yang ia kerjakan hanya mendorong-dorong kereta api keliling ruangan, sambil mulutnya sesekali meniru suara kereta api atau suara neng nong neng nong yang biasa ia dengar dari stasiun. 

Ya begitu lah… kisah kami dan kereta api :p

Penting banget yaaaa 

Advertisements