Salah satu cara ibu-ibu untuk tetap ‘waras’ adalah dengan menurunkan standar dan memundurkan target. Salah satu lho ya… ada pula ibu-ibu setrong yang ternyata bisa tetap survive di tengah badai cobaan rumah tangga.. haha apa seh.

Misal nih ya, dari sebulan yang lalu, ketika Ahnaf berusia 22 bulan, saya udah menargetkan pada usia 24 bulan, selain sapih ASI tentu saja, Ahnaf juga kudu bisa terbiasa pipis di kamar mandi.

Pembiasaan ini sebenarnya sudah mulai dilakukan sejak di Ciledug, namun yaaa ituu, ga bisa konsisten, akhirnya prosesnya mundur maju. Sebulan yang lalu, prosesnya lumayan maju, popok kain Ahnaf bisa kering seharian, kadang kecolongan pipis di popok sesekali. Tapi yaa hanya baru siang hari. Saya pikir tak apa lah bertahap mulai dari siang.

Nah, semenjak saya ga nyuci di rumah (dititipkan ke rumah mamah), maka dengan terpaksa saya menggunakan pospak again (nangiiiiss… liat tumpukan popok basah bekas pakai di pojokan dekat kamar mandi), maafkan aku wahai alam :( . Dan yang bikin tambah nangis, hal ini berpengaruh sangat signifikan terhadap proses toilet training Ahnaf. Boleh dibilang semua kembali ke awal. Ahnaf yang biasanya sangat kooperatif untuk diajak pipis di kamar mandi, sekarang akan berakhir nangis kalau dipaksa ke kamar mandi.

Oke… tarik nafas… (jangan lupa) hembuskan. Akhirnya saya turunkan standar. “Oke De, tak mengapa pipis di popok lagi, tapi kalau bangun pagi tetap harus pipis di kamar mandi yaa.. “. Dan rupanya ini pun tak bekerja. Akhirnya… demi menjaga kewarasan, saya menghentikan dulu proses TT Ahnaf. Kadang-kadang saya masih ajak Ahnaf pipis di WC, tapi ga mempan.

Mungkin perlu satu per satu dikelarin. Berhubung sapih pun belum mulus, saya akhirnya fokus dulu ke sapih Ahnaf, sapih 100%, yang mana ia harus udah ga minta nenen dalam kondisi apapun. Prosesnya sudah hampir sempurna, hanya saja sesekali Ahnaf masih merengek di pangkuan sambil menunjuk-nunjuk PD dan bilang “neneh”. Dan masih ada ekses negatif dari sapih ini yang juga belum 100% selesai.

Jadi, mulai dari beberapa minggu yang lalu, kalau Ahnaf minta nenen terutama pada menjelang tidur malam, salah satu cara untuk mengalihkan perhatiannya adalah dengan memberinya tontonan di youtube. Oke… blame me! Ini cara mengalihkan yang sangat buruk dampaknya, boleh jadi dia tersapih dari ASI, tapi PR selanjutnya adalah menyapihnya dari gadget.

Hal tersebut saya lakukan karenaaa… biasanya Ahnaf minta ASI itu di jam-jam ngantuk saya. Jam 10 malam ke atas. Dan saya memilih solusi jangka pendek dengan memberinya gadget, agar waktu tidur saya terselamatkan.. haha…

Nah, jadi setelah memundurkan target dengan tidak mulai dulu TT, saya fokus pada sapih Ahnaf, yang mana indikator keberhasilannya adalah ketika ia sama sekali tidak lagi meminta ASI dan tidak meminta penggantinya (gadget dkk).

Hal lain soal menurunkan standar ini…

Dalam 2 minggu terakhir, saya menurunkan standar soal kerapihan rumah dan masak memasak. Hiks… hiks… Kuncinya mah, tak apalah standar turun dikit demi gak stress… hehe… karena ketika saya memaksakan mengerjakan sesuatu, hasilnya justru kontraproduktif, dan efek terburuknya adalah saya menjadi ibu yang menyeramkan buat anak-anak karena menjadi gampang kesal… hiiii…

Apalagi saya moody-an… aslinya emang moody-an ditambah lagi karena lagi hamil keles ya… (duuh.. ciyan si dedek bayi dikambinghitamin… #eluselus), jadi saat mood memburuk, lebih baik tidak mengerjakan apapun. Tak peduli pun rumah udah kayak kapal pecah. Toh, rumah dengan toddler itu sudah naturenya pasti berantakan. So far sih berantakannya di rumah Akhtar masih terkontrol, dengan menerapkan metode Hyukmari :p semua barang sudah punya ‘rumah’nya masing-masing. Barang-barang tunawisma alias sampah, tinggal sisihkan ke tong. Jadi, hanya tinggal cari waktu yang tepat untuk beberes, semua akan kembali pada tempatnya masing-masing.

Lain lagi soal masak-memasak…

Jadi saya pernah merasa gini, “Hamil sekarang kok jadi rajin masak yaaa… praktik resep ini itu, sampai ngulek bumbu”. Ampun deh, ngulek bumbu itu salah satu proses masak yang paling saya hindari sejak dulu, tapi semenjak hamil, entah dapet kekuatan dari mana, yang pasti bukan dari bulan, dalam seminggu bisa 2-3 kali ngulek, dan kadang nguleknya ga dikit. Eh ternyata itu ga bertahan sampai hamil 7 bulan. Sekarang ketika kandungan sudah 7+++, jangankan untuk ngulek, ngiris aja mualesnya minta ampun :(

Berusaha berdamai dengan situasi, akhirnya saya menjadi lebih sering beli makan di luar, kalaupun masak, yang paling mudah yaa yang bisa langsung goreng, kalau sayuran yang bisa langsung kukus aja. Rutinitas belanja bahan makanan ke pasar yang biasanya saya lakukan sepekan sekali (saat bapaknya anak-anak ada di rumah) untuk dimasak selama sepekan ke depan pun terhenti. Sekarang belanja kalau benar-benar mau masak saja, apalagi belanja sayuran yang cepat membusuk. Kalau ke pasar lebih sering belanja buah, bisa total 5 kg 2-3 macam buah sekali beli. In syaa Allah kalau buah sih selalu habis, karena ga perlu diproses apa-apa, selain cuci dan kupas, kalau perlu.

Yah intinya mah… Bu… jangan terlalu mempush diri untuk selalu terlihat sebagai ibu yang ‘sempurna’. Sesekali turunkan standar, bukan untuk mundur, tapi untuk ngawahan alias ngambil ancang-ancang biar dapet lompatan yang lebih tinggi, loncatan yang lebih jauh. Dan jangan terlalu terlena dengan penurunan standar. Kalau kemalasan yang dibalut dalih penurunan standar dipelihara dan berlangsung lama, maka periksa kondisi ruhiyah kita… biasanya (kalau saya) berbanding lurus lho. Misal, kualitas sholat menurun, mengakibatkan kualitas hasil kerjaan di rumah turun.

Advertisements