Seiring semakin kritisnya si anak 4,5 tahun, seringkali saya mendapat pertanyaan-pertanyaan tak terduga yang kemudian membawa saya ikut bertanya dalam hati, “Oh iya ya.. kenapa bisa gitu ya…”.

Sayangnya, saya kurang rajin mengabadikan pertanyaan-pertanyaan ‘ajaib’ itu sehingga lupa, anak pernah bertanya apa saja, apa yang sudah saya jawab sampai anak puas, apa yang belum saya jawab karena saya ga tahu jawabannya, apa yang jawabannya ngambang dan memaksa anak berhenti bertanya. 

Catatan: proyek berikutnya, mau bikin papan khusus untuk menuliskan pertanyaan-pertanyaan Akhtar

Salah satu hal kritis yang ia tanyakan adalah perihal binatang-binatang di buku yang bisa berperilaku seperti manusia, seperti berbicara, berpakaian, berdiri dengan dua kaki. “Kenapa?” Tanyanya. Saya seringkali ga bisa menjelaskan, selain mengatakan, “Itu hanya ilustrasi yang dibuat penulisnya…”, dan akan bersambung dengan kenapa-kenapa-kenapa yang lainnya. 

Padahal, ilustrasi binatang yang berperilaku seperti manusia itu juga banyak terdapat pada buku-buku anak islami lho. Ada juga buku anak islam yang secara konten bagus, ada dalil dan kisah yang shahihnya namun kekurangannya yaa itu… masih menggambarkan binatang-binatang yang bisa berbicara dan berpakaian laiknya manusia.

Dari situ saya berpikir ulang tentang menyeleksi buku anak. Ternyata buku berkonten islami saja tidak cukup, buku juga harus punya ilustrasi yang masuk akal. Anak-anak memang senang berimajinasi, tapi jangan sampai keluar dari fitrahnya. Bahwa pada asalnya, dimana pun di bumi Allah ini, binatang itu selamanya tidak akan berbicara seperti manusia, berpakaian seperti manusia, atau berdiri seperti manusia. 

Advertisements