Tamlan atau TLL atau Taman Lalu Lintas atau Taman Ade Irma Suryani adalah salah satu taman bermain di Kota Bandung yang udah ngehits sejak saya masih TK, artinyaaa… sudah sejak 25 tahun yang lalu dong yaa… bahkan bisa jadi lebih tua lagi, karena saya ga hapal kapan resminya taman itu dibangun (cek masing-masing aja yaa ke google), bisa jadi sebelum saya lahir?!

Dulu itu, jalan-jalan ke Taman Lalu Lintas jadi semacam agenda wajib buat saya dan sepupu-sepupu ketika libur lebaran. Pilihannya hanya dua, ke Kebun Binatang Bandung atau Taman Lalu Lintas. Setidaknya tradisi tahunan itu masih berlangsung hingga saya SD kelas pertengahan.

Akhirnya, kemarin berkesempatan lagi mengunjungi TLL bersama anak-anak setelah dalam beberapa bulan terakhir ini TLL melakukan perbaikan dan pem”bagus”an pada beberapa bagiannya.


Sebelum kemarin, terakhir kali kesana adalah sekitar 3 tahun lalu, dalam rangka ikut kopdar Kumpulan Emak-Emak Blogger, kopdar pertama dan sekali-kalinya yang pernah saya ikutin semenjak suka nulis-nulis di blog.. haha.. maka tak pantas lah saya ini menyandang gelar “blogger”. Yang paling cocok adalah penulis buku harian digital aja :p

Keadaan TLL 3 tahun lalu dan hari-hari sekarang sungguh jauuuh berbeda. Yang paling berkesan dari kunjungan saya 3 tahun lalu, hmm tapi kesan buruk lho ya, adalah banyaknya tikar-tikar yang digelar begitu saja di area rumput/ tanah yang kosong, yang mana itu adalah tikar-tikar penjebak yang begitu kita mendudukinya, entah dari mana tiba-tiba si pemilik tikar akan langsung menghampiri dan minta uang sewa Rp 10.000, dan si terjebak ga bisa apa-apa kecuali (terpaksa) bayar.

Belajar dari pengalaman itu, tadinya saya hendak bawa tikar lipat sendiri dari rumah pas kunjungan kemarin, tapi urung dilakukan karena rempong cyin… dan ternyata melihat situasi disana sekarang, memang tikar itu kalaupun dibawa gak akan terpakai juga, karena: pertama, hujan… kedua, area taman yang dulu dipakai menggelar tikar sekarang dibatasi oleh tali-tali sehingga pengunjung tidak bisa masuk, entah akan seterusnya seperti itu, atau hanya sementara aja sampai renovasi selesai.

Salah satu bangunan baru yang mencolok adalah mushalla yang dibuat luasss… alhamdulillah yah, bisa tetap nyaman beribadah walaupun di tempat yang ramai. Berharap kebun binatang Bandung pun merenovasi mushallanya. Terakhir kesana setahun yang lalu kondisinya sungguh memprihatinkan :(

Kami sempat duduk-duduk sebentar di selasarnya untuk menghabiskan bekal makanan, lalu lanjut jalan-jalan keliling taman dimulai dengan jalan di atas jembatan yang cukup panjang.


Karena kami kesana hari Senin, jadinya sepiii… tapi sejujurnya saya lebih suka jalan pas sepi-sepi gini, jadi bisa puas menikmati pemandangan sekitar yang terlihat bersih dan asri. Kalau terlalu ramai… hmm… kita mafhum ya karakter orang Indonesia, -sedihnya- dimana ada kerumunan biasanyaaa disana pula akan ada sampah berserakan.

Dari jembatan, kami langsung menuju bagian belakang taman tempat kereta mini beroperasi. Disana kita (usia 2 tahun ke atas) harus membayar Rp 5.000/ orang untuk bisa naik wahana kereta mini. Walaupun kelilingnya ga jauh-jauh amat, yang penting anak-anak hepi :). Dari atas kereta itu pula, kami bisa melihat kolam renang yang masih dalam proses renovasi.

Setelah itu lanjuuut kita naik ke rumah pohon, yang jadi persinggahan terakhir kami sebelum pulang, pas banget nyampe di atas sana hujan turun semakin deras, jadi kita bisa berlama-lama duduk di rumah pohon yang nyaman sambil berteduh.

Hepi? Hepi dong… dan yang bikin hepi terutama karena melihat anak-anak menikmati kunjungannya kesana.

 

Advertisements