Salah satu kasih sayang Allah untuk keluarga kami adalah dikaruniakannya kepada kami seorang anak yang cukup lekat dengan Alquran. 

Tentang pentingnya kelekatan anak dengan Alquran sebenarnya baru saya sadari beberapa waktu ini saja, sekitar 1+ tahun terakhir, sejak ikut belajar via whatsapp dengan salah seorang member Sabumi, yang anaknya sudah hapal beberapa juz sebelum usianya 7 tahun.

Beberapa usaha yang beliau lakukan diantaranya, selalu memperdengarkan murottal Alquran dalam setiap kesempatan dan menjaga pendengaran anaknya dari hal-hal yang tidak bermanfaat, maka dari itu bahkan di jalan pun si anak selalu diperdengarkan Alquran lewat music player.  

Wah… saya sih (waktu itu) belum segitunya sama Akhtar. Walaupun punya VCD murottal juz 30, ya hanya sesekali saja diputar. Malah waktu bayi lebih banyak diperdengarkan musik anak-anak berbahasa Inggris dari tablet (itu lho…. tablet s*msung yang raib dari tas si Mpap waktu naik ojek ke kantor… #gagalmoveon).

Terinspirasi dari cerita tentang anak penghapal Alquran itu, akhirnya saya coba terapkan itu ke Akhtar. Waktu itu Akhtar sudah hapal 99 Asmaul Husna pada usia 2+ tahun, karena sangat sering diperdengarkan lantunan Asmaul Husna… kenapa kok saya ga kepikiran menerapkan itu juga untuk metode menghapal Alquran? Ah ya… jawabannya, karena kami pun orangtuanya belum sebegitu lekat dengan Alquran. Sedih…

Ternyata, memperdengarkan Alquran terus menerus pada anak, menghasilkan dampak yang luar biasa pada perkembangan hapalannya. Anak-anak itu cepat… sangat cepat sekali menyerap dan menghapal… bahkan tanpa menghapal. 

Dengan bermodalkan hp yang saya pakai sehari-hari, saya download aplikasi Alquran dari playstore. Dari beberapa reciter/ qori yang tersedia di aplikasi, saya pilih Syaikh Mishari Rasyid, yaa… lagi-lagi terinspirasi dari anak penghapal Alquran itu yang juga memfavoritkannya. Lalu, mulailah dari situ saya putarkan murottal Alquran hampir sepanjang hari.

Awalnya Akhtar hanya mendengarkan murottal sambil tetap beraktivitas yang lain, lalu tahap berikutnya ia mulai mendengar sambil memegang hp dan ‘membaca’ ayat demi ayat dari hp saya. Selanjutnya, tanpa saya paksa, ia mulai minta untuk diperdengarkan Alquran, misalnya ketika akan tidur. Lama-lama, mendengar sambil mengikuti bacaan sang qori, dan setelah itu… ya jalani saja sesuai dengan tahapannya.

Yang amazed adalah ketika melihat Akhtar bisa membaca Alquran, tanpa pernah saya ajari. Walaupun masih jauh dari sempurna hukum-hukum tajwidnya, bahkan masih suka salah membaca harakat-nya, tapi Akhtar sudah bisa membaca huruf demi huruf, hingga selesai satu ayat… dua ayat… dst.

Puncaknya adalah ketika awal November 2017 lalu, Akhtar mampu membaca 1 juz Alquran, yaitu juz 30. Saya pikir, ia bisa melakukannya karena hapal. Tapi ketika saya tantang untuk tasmi tanpa membaca, katanya “Akhtar ga hapal kalau ga baca”, terutama untuk surat-surat yang cukup panjang. Ma syaa Allah… laa quwwata illa billah… sesungguhnya saya ga melakukan apapun untuk membuat Akhtar seperti itu. Murni, semuanya atas pertolongan dan kasih sayang Allah.

Kadang-kadang saya perhatikan juga bacaan Akhtar. Untuk beberapa kesalahan, ia enggan dikoreksi, tapi sekarang jika sedikit-sedikit saya koreksi, ia menerima. 

Sekarang, hapalannya sudah lebih banyak dari saya. Bahkan Akhtar juga hapal potongan ayat-ayat yang sering ia dengar, yang tersebar di beberapa surat dalam Alquran. Duh rasanya malu kalau kita ga bersikap yang sama terhadap Alquran. Kini, hapalan saya mandeg, tilawah pun belum rutin jadwalnya.

Mungkin ini baru tahap awal banget mendekatkan anak dengan Alquran. PR selanjutnya masih banyaaaak banget, terutama bagaimana membuat anak-anak kelak menjadikan Alquran sebagai rujukan pertama dan utama dalam menyelesaikan berbagai permasalahan hidup. 

Bismillah… 

Advertisements