Ceritanya saya daftar seminar Orangtuaku Guruku yang merupakan acara kolaborasi tiga komunitas, yaitu Sabumi, HEBAT, dan komunitas HS Pewaris Bangsa, pada hari Kamis, 26 Oktober 2017. Satu hari, Uni Dessy, panitia acara dari Sabumi bikin tawaran menarik di grup Pengurus Sabumi, intinya mah butuh satu orang anak lagi (usia PAUD) buat tasmi surat pendek. Ga pikir panjang, langsung ngajuin Akhtar deh. Tujuannya… buat ngelatih Akhtar aja biar pede tampil di depan umum. Jadi… sekali mendayung dua pulau terlampaui. Saya bisa ikut seminar dan Akhtar bisa ikutan eksis dikit di acara itu.

Persiapannya yang paling penting adalah sounding-sounding ke Akhtar dan membuat dia se-excited mungkin dengan acara itu…

“Akhtar nanti hari Kamis baca surat pendek yaa di depan teman-teman”

“Eh Dhuha ikutan juga lho.. nanti baca surat pendek sama-sama Dhuha ya”

“Akhtar hari Kamis bangun trus mandi pagi-pagi ya… kan Akhtar mau naik kereta api ke Bandung, mau tampil”

“Nanti ada Chia juga lho… yang pinjemin Akhtar mainan dapur-dapuran”

Ketika menyampaikan itu, ekspresi dibuat se-excited mungkin, seolah-olah ga ada momen yang paling penting di hari itu selain “tampil baca surat pendek” hehe.

Pada hari H, kami datang tepat waktu sesuai info dari Uni Dessy, jam 8 pagi sudah ada di lokasi acara, yaitu di salah satu ruangan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Bandung, Jalan Seram, agar bisa latihan sebentar untuk mengondisikan anak-anak dan memperlihatkan panggung kecil tempat mereka akan tampil pada jam 9-nya.

Selain Akhtar, bersiap juga Chia, Maryam, Sarah, dan Dhuha, tak lupa membawa hasil karya masing-masing yang akan dipamerkan di depan nanti. Akhtar, tak lain, membawa satu map hasil menggambarnya.

Rencananya, bersama-sama mereka akan tasmi surat Al Fiil. Eh saya salah mengira sebelumnya, saya kira satu anak akan membaca satu surat, maka dua hari sebelum hari H saya tanya ke Akhtar, “Akhtar mau baca surat apa?” Dan Akhtar bilang mau baca surat Al Qariah. Alhasil, pada hari itu, setelah anak-anak membaca Al Fiil bersama-sama, Akhtar lanjut tasmi Al Qariah sendirian.

Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar, Akhtar berani maju ke depan walaupun suaranya ga selantang biasanya, dan sempat bilang, “Akhtar mau tampil lagi”.

IMG-20171026-WA0022

Selain itu, Sabumi juga menampilkan Ayeman, yang mempresentasikan kegiatannya sebagai homeschooler, dalam bahasa Inggris. Wow, semuanya berdecak kagum. Sesekali tertawa dengan celetukan dan tingkah Ayeman yang menggemaskan ^^

IMG-20171026-WA0023

Tentang Seminar Orangtuaku Guruku

Seminar ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Pak Abdul Gaos dari Dinas Pendidikan Kota Bandung, yang mengurusi Dikmas dan PAUD, serta Pak Sardin, seorang dosen Pendidikan Luar Sekolah UPI. Keduanya dihadirkan sehubungan dengan seminar yang memang ditujukan untuk orangtua anak-anak usia dini yang tidak ‘menyekolahkan’ anak-anaknya di PAUD formal.

Sebenarnyaaa… saya tidak fulll mengikuti seluruh materi seminar, pasalnya, walaupun Akhtar anteng main sama teman-temannya, tetap saja beberapa kali ia menginterupsi. Namun beberapa poin (yang saya rasa penting) sempat saya catat, diantaranya:

  1. Kedua pembicara adalah orang yang pro-HS, walaupun tidak menjalankan HS di keluarganya.
  2. Kehadiran pihak dari pemerintah semakin menegaskan bahwa HS adalah legal, didukung oleh undang-undang, sebagai salah satu pilihan pendidikan di luar sekolah. Namun, Pemkot Bandung masih kesulitan mendata jumlah anak usia dini yang menerima PAUD. Data yang masuk tidak riil karena hanya mendata anak-anak yang terdaftar di PAUD formal, sementara yang belajar di luar itu (misal, rumah atau komunitas – ex: Sabumi) tidak terdata.
  3. Menurut Pak Sardin, dua hal yang mendorong HS itu adalah adanya keyakinan (bahwa orangtua mampu mendidik anak-anaknya di rumah) dan ada ketidakpuasan pada sistem pendidikan di luar rumah (baca: sekolah).
  4. Anak-anak HS harus jadi bagian masyarakat yang inklusif (jangan eksklusif), orangtua jangan hanya fokus mendidik anak sendiri, namun juga harus ikut membangun lingkungan yang baik. Anak-anak kita adalah anak bangsa, anak tetangga atau anak-anak lain di lingkungan kita pun anak bangsa. Kalau anak kita yang HS sukses, namun misal, anak tetangga ada yang jadi pencuri, itu akan jadi beban untuk bangsa, membuat lingkungan tidak aman dan akan berpengaruh terhadap anak kita yang HS.
  5. Pak Sardin, diselingi dengan candaan, membuat beberapa perbandingan PAUD di Indonesia dan negara lain (negara mana tepatnya, tidak disebutkan, hanya tampaknya negara yang memiliki sistem pendidikan yang lebih baik dibanding dengan Indonesia), diantaranya:  di negara lain, PAUD terintegrasi dengan tempat kerja. Ketika anak masuk PAUD, maka ibu/ orangtua tetap produktif bekerja, misal setelah antar anak ke sekolah, ibu bekerja di tempat kerja atau kembali ke rumah untuk mengerjakan hal-hal yang produktif di rumah. Sementara di Indonesia, Pak Sardin melihat ibu-ibu di Indonesia banyak mengisi waktu menunggu anak PAUD dengan hal-hal yang kurang bermanfaat, misal nunggu ya nunggu aja gitu di luar kelas.
  6. Perbandingan yang lain juga perihal gurunya. Dimana di luar negeri anak-anak PAUD cenderung lebih dibebaskan untuk beraktivitas yang mereka sukai, guru cukup menghampiri anak satu per satu, bertanya tentang apa yang sedang dikerjakan anak? Apa yang anak dapatkan dari aktivitas yang dilakukannya? Lalu memintanya bercerita kepada teman-temannya. Suara guru dibuat lebih rendah dari anak-anak, tidak memberikan terlalu banyak instruksi dan mendikte aktivitas anak.
  7. Ada anggapan di kita, bahwa sekolah itu untuk membentuk uniformity, alias penyeragaman. Padahal anak-anak kita unik dan memiliki kelebihan masing-masing, tidak usah diseragamkan. Semua yang di dunia ini sudah berubah, kecuali ruang kelas, katanya sembari becanda.
  8. Yang menarik lagi, Pak Sardin mengetes kita untuk mengecek bakat, apakah berkembang atau tidak. Lalu, kami diminta menggambarkan atau membayangkan, ketika disuruh menggambar bebek, kemana kepala bebek itu menghadap? Kalau jawabannya ‘ke kiri’ berarti Anda korban uniformity sekolah haha.. saya pun deng.. :p

Apa lagi yaa.. sisanya sih kalau dari Pak Abdul Gaos banyak memberikan info-info kebijakan Diknas Kota Bandung terkait program pendidikan masyarakat secara umum (bukan hanya PAUD), juga mengutip beberapa kata Pak Walkot, alias Kang Emil tentang pendidikan, seperti… bahwa belajar bisa dimana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Dari Pak Sardin banyak menyampaikan poin-poin yang sifatnya teoritis mengenai tahap-tahap perkembangan anak, tahapan berpikir, lingkungan belajar, de el el banyaak, dengan mencantumkan sumber bacaannya.

Di akhir, ada sesi tanya jawab, beberapa penanya sebenarnya bertanya hal-hal dasar tentang homeschooling, yang mana untuk pengetahuan tersebut sudah pernah saya dapatkan selama mengikuti kegiatan Sabumi atau mencari informasi dari internet.

Tentang Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung

Salah satu lagi yang menarik dari aktivitas hari itu adalah venue-nya.

Saya baru pertama kali berkunjung ke perpus Pemkot Bandung itu, dan saya terkesan mulai dari memasuki halamannya. Terletak di Jalan Seram Nomor 3, tempat itu memiliki halaman yang luas dan bersih dengan banyak bangku-bangku permanen disana. Untuk menuju ke perpustakaan di lantai 1 (lobi) kita harus menaiki tangga, ada juga jalur khusus untuk pengguna kursi roda.

Memasuki lobi, kita disuguhkan banyak bundelan koran dan majalah serta kursi meja untuk membaca.

Dari lobi ke arah kiri ada perpustakaan untuk buku-buku umum, dari lobi ke arah kanan ada perpustakaan untuk buku anak-anak usia TK dan SD. Tempatnya nyaman, bisa untuk anak-anak lari-larian, lompat-lompatan, dan emaknya nunggu sambil lesehan wkwk.

Jam operasional perpustakaan yaitu pukul 08.00-15.00, jam 12.00-13.00 istirahat. Tidak ada keterangan harinya, dan saya lupa bertanya. Jika ingin jadi anggota, cukup mendaftar dengan menyerahkan fotokopi KTP, buku bisa dipinjam (hanya) untuk jangka waktu 1 minggu. Yah..  hopeless deh…

*foto-foto menyusul, mun inget :p

Alhamdulillah, hari itu jadi pengalaman yang berharga untuk saya dan Akhtar…

Advertisements