Tetiba banyak status di timeline Facebook tentang testimoni liqo.

Liqo secara bahasa artinya pertemuan (cek google), tapi dalam hal ini, istilah ini identik dengan sistem pembinaan dan kaderisasi yang dilakukan oleh sekelompok atau sese-partai di Indonesia ini. Maka tak heran, status tentang liqo beberapa hari terakhir ini banyak diunggah oleh -setahu saya- kader partai tersebut.

Awalnya tidak tertarik mencari tahu lebih jauh, saya pikir ini hanya agenda partai aja sehubungan dengan mulai akan bergulirnya pilkada di beberapa daerah… tapi kok beberapa ada yang menyertakan kata-kata “bid’ah”? Seperti merasa tertuduh bahwa melakukan liqo itu bid’ah? Ah tapi saya juga tetap ga penasaran mencari tahu.

Sampai seseorang membahasnya di grup Pengurus Sabumi, katanya beredar video seorang ustadz yang menyatakan liqo itu bid’ah, hanya belum ketemu link asli video tersebut, jadi belum diketahui siapa ustadznya dan apa isi pernyataannya. 

Lah, saya kok malah jadi penasaran googling akhirnya, dan sampailah pada status seseorang, seseorang yang liqo saya pikir, tapi adabnya di medsos minus banget menurut saya heuheu… entah lah… kata-katanya cenderung provokatif dan berpotensi memecah belah antar kelompok.

Disitu si pemilik status memposting video satu menit ceramah Ustadz yang diduga membid’ahkan liqo, ustadz yang kadang-kadang saya ikuti kajiannya di TV.

Lalu saya putar video tersebut dan beginilah transkripnya… 

Moderator membacakan potongan pertanyaan… ga begitu menangkap dengan jelas karena kalimatnya ngga utuh dan suaranya kecil.

Jawaban Ustadz:

“Pertama, liqo itu sifatnya sangat mengikat. Yang kedua, liqo itu murabbinya kakak kelas, bukan seorang alim yang betul-betul berilmu. Sementara dalam Islam, menuntut ilmu itu kepada orang yang betul-betul kuat keilmuannya, Pak. Bukan kepada sembarangan orang. Karena kan dalam metode tarbiyah kan itu ada liqo, liqo, liqo, kakak kelas yang akan menjadi murabbi adek kelasnya. Kakak kelas punya liqo lagi sama kakak kelasnya demikian sampai tingkat yang paling tinggi. Yang tingkat ini ga boleh langsung naik ke atas ini Pak (lalu Ustadz menunjukkan gestur menggerakkan tangan dari bawah ke atas) harus ngikutin yang ini dulu (tangannya kembali ke bawah).

Seperti itu terikat dengan apa… (tangannya membuat gerakan memutar seperti lingkaran) ya… seperti itu, Ikhwatul islam. 

Ini metode yang tidak pernah diajarkan Rasulullah dan para sahabatnya.

Yang diajarkan oleh…. 

(video terpotong)

Beberapa poin yang saya ambil dari isu ini:

1. Berpikir jernih, mengedepankan berbaik sangka kepada sesama muslim. 
Apa yang disampaikan Ustadz tersebut hanya satu menit dari keseluruhan isi kajian beliau, yang mana sampai sekarang saya belum menemukan video utuh dari cuplikan kajian tersebut. 

2. Periksa track record Ustadz yang bersangkutan. Kalau saya pribadi termasuk yang cukup sering mengikuti kajian beliau sih walaupun hanya lewat TV. Dan sejauh ini lebih banyak membahas tauhid, inti ajaran Islam. Kalau ada isi kajiannya yang tersangkutpaut dengan suatu kelompok pun mungkin karena menjawab pertanyaan jamaah seperti di potongan video tersebut.

3. Ustadz tidak secara gamblang menyebut metode liqo itu bid’ah. Saya sih menangkap maksud, yang dikatakan tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah itu metode berjenjangnya itu yang berguru ke kakak kelas, ke kakak kelasnya lagi, ke kakak kelasnya lagi, yang mana kakak kelas yang menjadi guru itu pun belum tentu orang yang paham ilmu secara mendalam. 

4. Hati-hati provokator pemecah belah umat. Salah satunya, penyebar potongan video ini. Ah entahlah siapa mulanya yang menyebarkan potongan video ini, yang saya temukan ya seseorang di facebook itu, yang mana setelah saya cek histori status dan web yang dikelolanya memang isinya kurang menentramkan dan kurang santun cara bertuturnya, seperti di salah satu status orang tersebut berkata, “Liqo dibilang bid’ah, mukamu pun bid’ah”. Saya sih percaya, kata-kata yang keluar itu cerminan dari bersih/ kotornya hati.

5. Saling menghargai pilihan masing-masing, terus berusaha mencari ilmu dari sumber yang shahih. 

Wallahu’alam… 

Secara pribadi saya pun ada kesan-kesan tersendiri dengan metode liqo ini, plus minus tentunya. Mungkin akan dicurhatin di tulisan berikutnya 

Advertisements