Lanjutan dari tulisan sebelumnya, tentang liqo.

Saya bukan termasuk yang asing dengan istilah ini, tapi juga bukan orang yang paham banget bagaimana sistem ini berjalan.

Saya tempelkan lagi, pernyataan seorang Ustadz di tulisan sebelumnya:

“Pertama, liqo itu sifatnya sangat mengikat. Yang kedua, liqo itu murabbinya kakak kelas, bukan seorang alim yang betul-betul berilmu. Sementara dalam Islam, menuntut ilmu itu kepada orang yang betul-betul kuat keilmuannya, Pak. Bukan kepada sembarangan orang. Karena kan dalam metode tarbiyah kan itu ada liqo, liqo, liqo, kakak kelas yang akan menjadi murabbi adek kelasnya. Kakak kelas punya liqo lagi sama kakak kelasnya, demikian sampai tingkat yang paling tinggi. Yang tingkat ini ga boleh langsung naik ke atas ini Pak (lalu Ustadz menunjukkan gestur menggerakkan tangan dari bawah ke atas) harus ngikutin yang ini dulu (tangannya kembali ke bawah).

Seperti itu terikat dengan apa… (tangannya membuat gerakan memutar seperti lingkaran) ya… seperti itu ikhwatul islam. 

Ini metode yang tidak pernah diajarkan Rasulullah dan para sahabatnya.

Yang diajarkan oleh…… 

– video terpotong –

*

Keilmuan saya belum sampai pada level bisa menyatakan suatu hal tidak sesuai ajaran Rasulullah atau ngga… bid’ah atau ngga… masih jauuuuh banget dari itu. 

Hanya saya mengamini dua poin yang disampaikan Ustadz tersebut secara garis besar, bahwa:

Pertama, liqo itu sangat mengikat. Ya, liqo itu jadi prioritas utama jika dalam waktu bersamaan ada agenda lain. Siap-siap dicariin (plus diceramahin juga) jika tidak hadir dalam satu pertemuan tanpa alasan syar’i. Apalagi kalau ‘ngilang’nya sampai berbulan-bulan kayak… saya.

Kedua, liqo itu murabbinya kakak kelas yang belum tentu kuat keilmuannya. Beberapa kali kejadian, ketika menanyakan suatu hal kepada murabbi, jawabannya semisal “Nanti saya tanyakan ke murabbi saya”. Ya karena metodenya yang bertingkat itu. 

*

Perkenalan dengan Liqo

Saya lulus dari SMA dengan doktrin nasionalis, dan setelah dipikir sekarang, ternyata juga sekuler. Ngeri juga membayangkan lagi ke belakang bahwa separuh guru saya di SMA adalah non Islam. 

Tapi di kuliah, saya justru sangat nyaman bergaul dengan orang-orang berjilbab yang senangnya ngumpul-ngumpul di masjid. Saya pun aktif mengikuti mentoring pekanan karena merasakan persaudaraan yang hangat dan menenteramkan disana. 

Tahun kedua kuliah saya memutuskan berkerudung dan mengikuti mentoring lanjutan serta melamar jadi bagian pengurus di organisasi dakwah kampus. 

Hingga suatu hari, hanya berselang beberapa bulan dari itu, saya diajak mentoring bukan di tempat biasa, bukan bersama orang-orang biasa dalam kelompok saya. Beberapa orang menyalami dan mengucapkan selamat. Bingung kan. Sangat tertutup sih, pada pertemuan pertama mereka merahasiakan tempat pertemuan, tujuan pertemuan, dan dengan siapa saja saya akan bertemu.

Ya begitu lah, sampai akhirnya saya mengikuti pertemuan-pertemuan itu selama kuliah dan sempat berganti murabbi hingga 3 kali, 5 kali sih kalau murabbi di zaman kerja dihitung (kalau ga salah hitung, Ya Allah maafkan kealpaan hamba). Di akhir tahun kuliah saya ‘libur’ liqo sampai berbulan-bulan, namun teman-teman liqo yang adalah sahabat-sahabat saya di kampus ga pernah bosan mengajak saya.

Saya memutuskan ‘libur’ karena mulai merasakan ketidaknyamanan dengan sistemnya yang mengikat. Terutama keterikatannya dengan suatu partai yang membuat para peserta liqo otomatis juga menjadi kader partai yang harus taat pada aturan dan mengikuti agenda partai. Di sisi lain, saya pun punya aktivitas mengajar di lab akuntansi manual yang lebih membuat saya nyaman.

Sampai akhirnya saya lepas sama sekali dari liqo, alasannya karena waktu itu mulai masuk kerja, dan saya merasa tidak terikat secara hati dengan kelompok saya di Jakarta.

Sisi positif Liqo

Saya merasakan perubahan cukup signifikan setelah liqo itu. 

Pertama, dari cara berpakaian lebih mengikuti syariat. Saya selalu memakai rok dan baju longgar dengan kerudung panjang, plus kaos kaki. 

Kedua, dari sisi ibadah lebih baik lagi. Karena dalam liqo ada list amalan harian yang dievaluasi setiap pekan. Plus beberapa iqab/ hukuman jika target amalan harian tidak tercapai.

Ketiga, lebih bersemangat mempelajari Islam dan memerhatikan isu-isu berkaitan dengan dunia Islam dan Islam dunia, kemudian lebih bersemangat membela dan menyampaikan kebenaran Islam.

Keempat, punya saudara-saudara baru yang sangat kuat ukhuwahnya, hingga sekarang.

Dan beberapa perubahan lain dalam adab dan akhlak.

Namun, alasan-alasan tersebut ternyata tak cukup kuat mengikat saya di lingkaran tersebut. 

Perubahan setelah meninggalkan Liqo

Ini fase saya di dunia kerja.

Dari sisi penampilan sih tidak banyak berubah. Hanya sesekali saja saya berani pergi tanpa kaos kaki keluar rumah. Itu pun bukan karena ga mau, tapi karena – entah mengapa – kaos kaki-kaos kaki itu sering hilang misterius setelah dititipkan ke Mbak tukang cuci. Lebih seringnya sih hilang sebelah. Heuheu…

Ya sesekali saya juga berani keluar rumah dengan kerudung pendek rumahan yang tidak menutupi dada, lagi-lagi bukan karena ga mau, tapi menyesuaikan saja dengan kerudung yang tersedia.

Dari sisi pergaulan agak kacau juga nih. Saya lebih sering terbawa arus pertemanan yang tidak Islami. Semisal, main sama teman-teman kantor sampai larut malam, dengan segala kesia-siannya, seperti hanya untuk makan atau mampir di tempat karaoke. Jadi lebih sering kumpul dengan teman-teman SMA juga dengan agenda yang sama sia-sianya.

Apakah saya merasa salah dengan semua itu? Iya… saya merasa ada yang SALAH. Namun, secara dangkal, saya hanya menyimpulkan semua itu karena saya berhenti liqo.

Tapi bukan saya saja ternyata yang mengalami kemunduran seperti itu. Saya bertemu dengan kakak kelas, rekan seangkatan, atau adik kelas pun banyak yang mengalami kemunduran serupa. Bahkan tak jarang saya melihat rekan saya yang dulu begitu militan, sekarang memendekkan kerudung di atas dada.

Kenapa bisa?

Dan saya menemukan jawabannya…

Metode belajar agama dengan kelompok-kelompok kecil seperti liqo itu sebenarnya efektif jika disertai dengan ‘kurikulum’ yang berjenjang dan menyentuh inti dari ajaran Islam itu sendiri. Berjenjang ilmunya lho ya bukan level keikutsertaannya.

Pertanyaan saya tentang “Kenapa saya berubah? Kenapa teman-teman saya berubah?” mulai terbuka jawabannya satu per satu belakangan ini.

Salah satu titik baliknya adalah ketika saya ikut halaqah online yang gurunya adalah Ustadz Abdullah Roy, seorang pengajar kajian berbahasa Indonesia di Masjid Nabawi. Seseorang yang mengajar di masjidnya Rasulullah, yang penuh keberkahan itu, apa akan punya pemahaman menyimpang dari ajaran Rasulullah? Rasanya tidak ya, kalaupun ada kesalahan, maka itu fitrahnya sebagai manusia yang lemah.

Halaqah online ini materinya berjenjang, maka disebut Halaqah Silsiyah Ilmiyyah (HSI), mulai dari inti ajaran Islam, yaitu Tauhid, tentang syirik, mengenal Islam, mengenal Allah, mengenal Hari Akhir, dst. Saya banyak tercengang dengan materi-materinya. Rasanya seperti baru saja mengenal Islam kemarin sore. Rukun Iman diuraikan dengan apik disertai dalil-dalil dari Alquran dan Hadits Nabi yang shahih.

Dengan sendirinya, pemahaman dan keyakinan yang lebih mendalam pada Islam tersebut mendorong kita untuk beribadah dengan kualitas yang lebih baik, tanpa harus ada ceklis harian yang disetor tiap pekan dan dikenai iqab jika tidak memenuhi target.

Sorry to say… namun di liqo yang saya ikuti dulu:

– Kadernya (tidak semua ya…) masih banyak yang berpikir pragmatis. Hanya memikirkan kemenangan sesaat. Maka tak heran, obrolan “Bagaimana meraih massa”, “Bagaimana memenangkan pemilihan ini dan itu” lebih banyak diobrolkan dalam rapat-rapat kader daripada meningkatkan kualitas iman anggotanya.

– Ilmunya tidak berjenjang. Saya merasa dijejali untuk melakukan amalan ini dan itu tanpa pemahaman yang benar dan mendalam mengapa saya harus melakukannya? Ilmu tentang mengenal Allah, mengenal Islam hanya disampaikan selewat saja dalam suatu pertemuan saat mentoring. Ngaji tidak sampai intinya. Lebih banyak terlibat dalam ritual yang kering makna, karena tidak paham keutamaannya.

– Tertutup, terutama jika berkaitan dengan agenda partai. Ada istilah-istilah tertentu yang digunakan, saya ga hapal. Pokoknya ada agenda-agenda tertentu yang sifatnya ‘wajib diikuti’ dengan mengesampingkan yang lain, dll, pokoknya berjenjang gitu deh tingkat urgensinya. Dan kita ‘dipaksa’ taat tanpa paham, tanpa mendapat penjelasan kenapa ‘harus’?

– Satu hal yang paling mengganjal adalah -dan saat ini saya baru ngeh itu aneh- bahwa di salah satu murabbi, setiap pekan kami dibacakan risalah pergerakan Hasan Al Banna, semacam biografi ybs gitu. Kenapa harus mempelajari itu? Sementara sirah nabawiyyah dan sahabatnya aja ga pernah kita kaji kok di liqo.

Karena alasan yang terakhir ini lah kemudian saya ‘futur’. Tiap pekan saya hanya cengok jika dibacakan buku itu, karena ga ngerti, ga ada yang masuk sama sekali ke pemahaman saya. 

Saya kehilangan arah sih tepatnya setelah itu. Hasil liqo selama kurang lebih 3 apa 4 tahun ya hanya sedikit berjejak di hati saya. Selebihnya saya masih bingung sama tujuan hidup sendiri. 

Tanpa menafikan… sekali lagi tanpa menafikan, bahwa saudari-saudari saya di liqo terdahulu adalah tetap menjadi teman-teman baik saya dalam hal mengingatkan pada kebaikan. 

Saya tidak paham, seberapa banyak sistem liqo ini berubah sejak saya tidak mengikutinya. Hanya saja… jika masih  sama seperti dulu, maka tujuan yang tercapai hanya jangka pendek saja.

Advertisements