Yep, postingan kali ini mengandung curhat tentang mengandung anak ketiga. 

Hamil ketiga ga ketauan awal mulanya. Pokoknya suatu hari di usia Ahnaf yang ke 15 bulan, saya haid untuk yang pertama kalinya sejak melahirkan. Tidak tahu persis tanggalnya. Makanya saya ga pernah bisa jawab setiap ditanya HPHT. Setelah itu ga pernah haid lagi, dan saya ga berpikir akan kemungkinan hamil lagi. Karena sebelumnya sudah terlalu lama ga haid (9 bulan hamil Ahnaf+15 bulan setelah melahirkan), jadi saya ga begitu ngeh tentang kapan seharusnya haid bulan berikutnya.

Singkat cerita, memasuki bulan Syaban, menjelang Ramadhan, saya merasakan badan terasa lebih cepat lelah, sering merasa pusing, dan sedikit mual. Kenapa saya pakai patokan bulan hijriyah? Karena saya ingat, awal puasa Ramadhan waktu itu terasa berat buat saya. Tak lama dari mulai sering merasa pusing dan mual itu, masuklah bulan Ramadhan, dan hampir setiap hari saya merasa lemaassss… maunya tiduran terus, apalagi di siang hari yang panas. Untuk beranjak sholat pun kadang-kadang merasa susah menegakkan badan.

Sebetulnya saya sempat menyampaikan ke suami sebelum Ramadhan, “Jangan-jangan hamil lagi…” karena waktu itu sudah jalan dua minggu selalu merasa mual setiap hari. Namun, saya berusaha mengabaikannya… tidak pula penasaran untuk segera membeli testpack.

Di pekan kedua Ramadhan, akhirnya saya memutuskan menggunakan testpack. Alasannya… karena saya merasa ga sanggup puasa, dan ingin mengambil keringanan beberapa hari untuk ga puasa, tapi harus dipastikan dulu, rukhsah itu diambil dalam rangka apa? Kalau memang hamil, kan saya bisa ambil keringanan tidak puasa karena hamil.

Seperti yang sudah diduga, hasilnya memang positif, dan keesokan harinya saya tidak puasa sampai 7 hari berikutnya. Ketika merasa tubuh sudah cukup fit, saya kembali berpuasa di pekan terakhir Ramadhan.

Pertama kali periksa…

Pertama kali periksa ke bidan dekat kontrakan di Ciledug, mungkin hampir 2 bulan setelah testpack, di usia kehamilan yang mungkin memasuki 3 bulanHal yang mustahil dilakukan jika ini hamil pertama haha.

Saya ingat, hamil Akhtar dulu, 2 minggu telat haid, saya langsung testpack, dan keesokan harinya langsung ke dokter, yang mana janin pun katanya ‘belum turun’, tidak tampak di layar USG.

Dan hamil Ahnaf, walaupun lebih cuek dari hamil pertama, saya masih telaten ke dokter setiap bulan, walaupun sudah ga disiplin mengonsumsi vitamin.

Reaksi pertama bidan waktu itu, “Hah.. kamu ga KB?” Matanya terbelalak sambil melihat ke arah Ahnaf yang berlari-lari di ruang tunggu. 

Iya.. iya.. saya ga KB. So what gitu lho? Saya jawab dalam hati.

Setelah periksa dan ngobrol sedikit tentang ina inu.. kami pun pulang, membawa vitamin untuk 30 hari ke depan, yang mana vitamin itu pun ga habis saya makan sampai sekarang.

Periksa kedua…

Saya baru periksa lagi sepekan yang lalu di RS Hermina Pasteur, 3 bulan dari periksa pertama. Hari itu, hari terakhir di tahun 1439 H. Suami sengaja mengambil cuti 1 hari agar bisa mengantar ke dokter. 

Kami berangkat tanpa tahu akan ke dokter siapa. Pokoknya ke siapapun yang praktik hari itu, karena tujuannya ingin melakukan USG agar diketahui perkiraan usia kandungan dan penampakan janin dalam rahim.. hihi.. kasian belum pernah dilihat sama sekali.

Dapatlah seorang dokter perempuan yang praktik jam 2 siang. Dan dia terkaget-kaget karena tidak mendapati histori pemeriksaan kehamilan pada buku periksa saya. Lebih kaget lagi karena mengetahui sejak hamil baru 1 kali periksa ke bidan. 

Di awal, beliau malah seakan ga percaya kalau saya hamil, dengan melontarkan pertanyaan, “Selama 5 bulan ini ga haid?”. Dweng! Saya beralasan, baru bisa periksa karena suami di luar kota, jadi ga ada yang nganter ke dokter. Padahal tentu saja alasan sebenarnya lebih dari itu. Hehe.
“Ga KB ya?”. Pertanyaan itu lagi. Saya hanya mengiyakan pelan. “Oh.. pantes”, timpalnya.

Pemeriksaan dilakukan cukup lama, dokter mengukur beberapa anggota tubuh janin untuk memperkirakan dengan lebih tepat berapa usia janin. Dan di akhir pemeriksaan, beliau menyimpulkan usia kandungan adalah 22 weeks. Yang mana 40 weeksnya akan jatuh pada 23 Januari 2018. 

Ketika beliau hendak meresepkan vitamin, saya bilang masih ada vitamin dari bidan. 

Pertanyaan dan pernyataan yang membuat tak nyaman

Hamil ketiga dengan jarak yang tidak terlalu jauh dengan anak kedua, menimbulkan reaksi beragam dari orang-orang. Umumnya, mereka akan terlihat kaget dan menyimpulkan ini sebagai ‘kebobolan’. 

Qadarullah…

Walaupun sudah menjalankan program ‘KB alami’, kalau Allah berkehendak, ya hamil juga kan? Sebaliknya, yang ber-KB pun belum tentu ‘bebas’ dari kemungkinan hamil. 

Lagi pula tidak ber-KB adalah pilihan saya, karena saya merasa tidak nyaman ada benda asing masuk ke dalam tubuh saya dengan cara yang saya kira tidak nyaman juga – cat: orang-orang menyarankan KB dengan spiral-

Adapun KB dengan cara lain (KB hormonal) punya efek samping lebih banyak pada tubuh.

Saya merasa tidak nyaman ketika orang-orang terkesan menyalahkan saya karena saya ga ber-KB, lalu hamil. Itu ga perlu, karena…

  • Walaupun belum merencanakan untuk memiliki anak ketiga, namun saya bahagia menjalani kehamilannya, bahagia membayangkan akan ada anggota keluarga baru di rumah kami. 
  • Bagaimanapun kondisi kehamilannya, direncanakan atau tidak, hal yang harus pertama kali diekspresikan adalah rasa syukur, bukan menyalahkan si ibu. Bersyukur karena Allah masih percaya menitipkan satu anak lagi pada keluarga kami. 
  • KB itu pilihan. KB itu bukan satu-satunya penentu penunda kehamilan. Kalau si ibu tidak memilih ber-KB, maka hargailah keputusannya.

Yeah, itu sekelumit tentang KB. 

Ada lagi pertanyaan yang bikin saya ga nyaman.

“Kalau anaknya cowok lagi gimana?”

Gubraks!

Emang kenapa kalau anak saya cowok lagi? Situ ada urusan apa? Kasarnya sih pengen jawab gitu haha…

Orang kadang suka mengekspresikan sesuatu yang tidak perlu. Seperti ketika saya melahirkan Ahnaf. Ada aja komentar seakan menyesalkan, “Cowok lagi ya… ayo coba lagi”. Seolah-olah mereka lebih tahu yang terbaik daripada Yang Menakdirkan. Padahal kami tidak ada masalah dengan itu. Yang saya bayangkan sejak mengetahui anak kedua kemungkinan laki-laki lagi justru, “Wah menyenangkan ya ada 2 anak seperti Akhtar di rumah ini”.

Pun untuk anak ketiga ini pun saya tidak berharap akan terlahir laki-laki atau perempuan. Sama aja. Asalkan sehat. 

Minta kepada Allah agar diberikan anak dengan jenis kelamin tertentu pun sesekali saya lakukan. Ya, saya berdoa diberi anak perempuan. Namun, ketika nanti terlahir laki-laki pun, kebahagiaan saya tidak akan berkurang. Alhamdulillah… Alhamdulillah… berarti kami dipercaya menyiapkan satu lagi calon suami shaleh dari rumah ini.



Advertisements