Kadang suka agak sulit memaklumi anak-anak (seumuran, lebih tua, atau lebih muda dari Akhtar) yang perilaku bermainnya bersifat ‘destruktif’. Emm, entah tepat kah saya menggunakan kata ini. 

Destruktif yang saya maksud disini… misalnya: 

menghancurkan mainan balok susun yang telah rapi, 

melempar-lemparkan kepingan puzzle sampai hilang beberapa pieces,

menabrak-nabrakkan atau melemparkan mainan,

main gegelutan dengan media boneka/ robot,

Dan seterusnya.

Anak-anak? Seperti itu? Wajar bukan?

Nah itulah… apa masalahnya di saya yang terlalu ‘perfeksionis’ soal cara bermain ya? Pokoknya saya merasa anak seusia Akhtar, bahkan kurang, seharusnya sudah bisa memainkan mainan sesuai peruntukannya. 

Sebagai orangtua, kita juga ga bisa dong terus memaklumi perilaku mereka dengan dalih “Namanya juga anak-anak…”. Toh, mereka sebenarnya bisa diajari kok untuk bermain yang baik dan benar. Justru karena masih anak-anak seharusnya pembiasaan itu dilakukan.

Anak satu tahun melempar, ya wajar, karena mereka ada pada tahap perkembangan itu. Tapi sedikit demi sedikit kan kita bisa mengarahkannya bagaimana bermain yang benar.

Terlebih jika yang dimainkan adalah mainan orang lain. Ada adabnya. Bagaimana adab meminjam, “Boleh pinjam?” Dan tidak memaksa jika tidak dipinjamkan, apalagi mengambilnya tanpa izin. Bagaimana adab memainkannya, tentunya dengan sewajarnya, tidak merusaknya, sehingga mainan dikembalikan tanpa kurang suatu apapun.

Memang kudu selektif memilihkan teman main untuk anak. Untuk balita, maka yang lebih perlu diseleksi justru orangtuanya. Akan lebih menenangkan jika teman balita kita datang dari orangtua yang punya prinsip pengasuhan yang sama dengan kita. 

Advertisements