Pindahan


Sudah satu bulan saya dan anak-anak resmi pindah dari kontrakan di Ciledug, saat ini menempati rumah pribadi di Padalarang. Kami pindah lebih dulu dengan hanya membawa sekoper pakaian, sementara barang-barang baru diangkut sepekan kemudian, tepatnya pada 27 Agustus 2017. Dengan kecepatan beberes seperti kura-kura, plus ‘bantuan’ dari anak-anak, suasana rumah baru terasa homy 2 pekan kemudian.

Ciledug, walaupun cukup jauh dari kampung halaman, dan cuacanya panas, tetap menyimpan seenggaknya satu kelebihan yang ga dimiliki lingkungan rumah saya di Padalarang. Yaituu… jajanannya murah-murah.  

Di kontrakan Ciledug, yang terletak di wilayah Sudimara Barat itu, dari pagi sampai malam tidak berhenti penjaja makanan lewat dekat rumah. Dengan rasa yang pas, harganya pun cukup bersahabat.

Sebagai perbandingan harga nih ya… kalau pagi-pagi itu biasanya lewat penjual bubur sumsum. Dengan merogoh kocek 3000-4000 kami sudah menikmati semangkuk bubur sumsum hangat plus beberapa butir candil, cukup mengenyangkan untuk sarapan. Sementara di Padalarang, kami harus membayar minimal 5000 untuk seporsi bubur sumsum.

Kalau masih kurang kenyang, agak siangan dikit lewat penjual pecel sayur. Saya sempat ternganga waktu membeli sepiring pecel sayur+gendar dan sepiring lagi bihun goreng+gendar, artinya 2 piring, dengan total harga hanya 7000. Sementara, 11-12 dengan pecel, di dekat rumah Padalarang ada yang jual lotek, yang seporsinya lebih sedikit dibandingkan dengan sepiring pecel sayur, harganya sudah 6000.

Lagi nih… rujak, salah satu makanan favorit saya, bisa lewat 3 kali dalam sehari, ada tukang yang lewat jam 10 pagi, jam 1 siang, dan jam 2 siang. Saya paling sering beli yang jam 2 siang. Pertama kali beli, karena belum tau harga, saya beli seporsi, terserah abangnya mau kasih berapa. Ternyata dia kasih rujak sepiring penuh seharga 7000, dimakan berkali-kali pun rasanya ga habis-habis. Akhirnya selanjutnya, saya beli 5000 saja, itu pun bisa saya makan berdua bareng suami kalau pas lagi di rumah. Sementara di Padalarang, saya harus merogoh 6000 untuk seporsi rujak, porsinya terlalu sedikit buat saya, kadang beli satu bungkus terasa kurang.

Ada lagi nih… sore hari, penjual cendol favorit Akhtar akan lewat sekitar jam 3 atau 4. Pada awalnya kami biasa beli 4000 dimakan bertiga (saya, Akhtar, Ahnaf), lama-lama bosen juga, jadi beli cukup 3000, lalu saya merasa 2000 cukup untuk Akhtar sendiri, kadang malah bersisa. Intinya, 2000 itu udah porsi pas untuk sekali makan. Sementara cendol di dekat rumah Padalarang, dipatok harganya 5000 per porsi. Hiks.

Lalu, di Ciledug juga cukup banyak penjual bakso, dan untuk ukuran tukang bakso keliling, rasanya enak. Dengan rasa yang enak itu, kami sudah kenyang dengan mengeluarkan uang 7000. Kalau di Padalarang, kadang rasa bakso keliling ga seenak rasa bakso yang dijual di warungan, yang mana berarti harganya pun lebih mahal.

Oh ya, ada yang ketinggalan nih. Gorengan. Kalau pagi-pagi, dekat ibu sayur langganan suka ada yang jual gorengan. Satu potongnya besar-besar, tapi harganya hanya 1000 per potong, yang mana dengan harga segitu, kami hanya mendapat sepotong gorengan yang lebih kecil di Padalarang.

Ya begitu lah… bagusnya di rumah Padalarang intensitas jajan sehari bisa dikurangi, karena rumah kami masuk gang kecil yang cukup sepi, sangat jarang penjual makanan lewat, jadi harus selalu sedia makanan/ camilan di rumah karena ga bisa mengharap ada tukang jualan lewat depan rumah saat kami lapar. Hihi.

Dari beberapa rumah kontrakan yang kami tempati, dengan mengabaikan cuaca yang panas, rumah kontrakan di Ciledug adalah yang ternyaman. Tidak heran karena kami adalah penghuni pertama di rumah itu. 

Sejauh ini, sudah 4 rumah yang kami tempati sejak Akhtar lahir… 

Pertama, rumah di Jember, banyak cicak, nyamuk, dan bermasalah dengan air dan saluran pembuangannya yang mampet. 

Kedua, rumah di Pasuruan, alhamdulillah tidak ada masalah dengan air, tapi gerah dan banyak sekali nyamuk.

Ketiga, rumah di Pasar Minggu. Saya sebenarnya merasa nyaman disini. Air deras, bersih, dan pemilik kontrakan sangat baik. Kalaupun ada kekurangan, kekurangannya yaitu susah sinyal internet dan kurang sirkulasi udara.

Keempat, rumah Ciledug, yang menurut saya paling ideal untuk rumah kontrakan. Minusnya dapurnya bocor kalau hujan deras, di luar itu sih ga ada keluhan, hanya kalau malam Ahnaf susah tidur karena cukup gerah.

Ya begitu lah suka duka pindah dari satu kontrakan ke kontrakan yang lain. Dengan berbekal pengalaman di rumah kontrakan sebelumnya, biasanya kita akan punya standar tertentu untuk rumah kontrakan berikutnya. Yang menyenangkan dari berpindah-pindah itu adalah kami ga bosan dengan lingkungan yang itu-itu aja. Setelah ini pun (walaupun udah rumah sendiri) masih ada kemungkinan kami akan pindah lagi jika menemukan hunian yang lebih ideal. Semoga semua berjalan sesuai rencana. Aamiin…

Advertisements