Akhtar dibelikan sepeda sekitar 2 tahun yang lalu. Hari itu tanpa direncanakan sebelumnya kami membelikan Akhtar sepeda roda 3 di sebuah toko sepeda kecil di Pasar Tagog, Padalarang. 

Akhtar sedang dalam masa “sulit” ditenangkan waktu itu karena beberapa hal… pertama, baru disapih, dan… entah ada hubungannya atau ngga, saya lagi hamil Ahnaf yang menyebabkan emosi yang %&#$@&$^ (apa coba..). Emosi tidak baik itu menular pada Akhtar sehingga Akhtar jadi sering ikut uring-uringan.

Ternyata, sepeda itu tidak cukup menenangkan Akhtar. Akhtar masih sering tantrum dan rewel sampai batas waktu yang tidak saya ingat kapan. Hehe. Bahkan kehadiran sepeda itu bagai buah simalakama bagi saya, karena ada masa dimana Akhtar terus meminta main sepeda, sampai jauuuh… susah berhenti. Kan cape ya Cyin. Puncaknya ketika suatu hari, saya meninggalkan sepeda di pinggir sawah lalu menggendong Akhtar yang tantrum pulang karena situasi yang serba salah. Maju kena mundur kena. 

Sepeda itu baru terasa sangat efektif ketika dibawa boyong ke Ciledug. Sesekali jika bosan di kontrakan, saya akan mengajak Akhtar berkeliling, yah sampai radius 1 km dari kontrakan, plus Ahnaf di gendongan. Tapi sekarang udah jarang, kecuali mendesak, seiring dengan bertambah beratnya Ahnaf, dan Akhtar jarang mau bergantian naik sepeda dengan Ahnaf. 

Selama memiliki sepeda itu, tidak pernah sekalipun Akhtar mengayuh sepedanya sendiri. Ketika anak-anak lain ada yang bahkan sudah bisa mengayuh sepeda yang lebih besar sejak usia 3 tahun, Akhtar masih saja harus saya dorong-dorong di atas sepeda roda tiganya. Sering saya memotivasinya mengayuh sendiri, tapi “Ga bisa… “, katanya, dan ga mau mencoba untuk bisa juga saya lihat. Ya sudah saya biarkan…

Sampai menginjak usia 4 tahun, ketika ia mulai sering keluar main bersama teman-temannya, gemes juga saya lihat Akhtar ‘mengendarai’ sepeda dengan menolak-nolakkan kakinya ke tanah. Sekali lagi saya suruh Akhtar latihan mengayuh, dengan tangan saya bantu kakinya mengayuh, tetap tidak bisa. Sedikiiiit khawatir juga sih, karena menurut saya mengayuh sepeda adalah kemampuan motorik kasar yang selazimnya dimiliki anak seusia Akhtar.

Tadi pagi, tiba-tiba Akhtar masuk rumah dengan excited… “Mim Akhtar tadi boseh sepedanya bisa maju sedikiit”.. lalu saya menanggapi dengan ekspresi yang tak kalah excited

Buru-buru Akhtar membawa masuk sepedanya dan mempertontonkan kemampuan barunya di depan saya. Tak henti saya bersyukur dan memuji-muji Akhtar, membuat ia bertambah semangat mengayuh. Lalu, ia meminta latihan di jalan depan rumah.

Ternyata, hanya soal waktu, anak-anak akan mendapatkan momennya masing-masing untuk menguasai suatu kabisa baru. Tugas orangtua hanya mengarahkan, dan berdiri paling depan sebagai suporter.

Advertisements