Ngerti po ra sama judulnya? Hehe…

Jadi, semenjak punya anak dan mulai ‘ngeh’ sama dunia per-ibu-ibu-an, salah satunya seputar pendidikan anak, saya jadi ngeh juga ternyata ada banyaaaaaaak sekali penjual buku-buku anak di luaran sana (dalam konteks ini yang jualan online saja ya). Ada penjual ‘independen’ yang menjual berbagai jenis buku anak dari berbagai penerbit, dengan rentang harga yang sangat variatif, dari yang murah banget sampai mahal banget. Ada yang mengkhususkan diri menjual buku-buku bekas berkualitas. Ada juga yang hanya menjual buku-buku dari penerbit tertentu, dengan bertindak sebagai book advisor, sales atau seller, dan istilah sejenis.

Nah… sejujurnya penjual di kategori terakhir ini lah yang pada mulanya meracuni saya dengan ‘doktrin’ betapa sangat pentingnya buku untuk anak yang berkualitas dari segi konten (ilustrasi, isi cerita, dan nilai moral yang disampaikan) dan fisik (kualitas kertas yang digunakan). Tapi… ada tapinya… buku-buku yang mereka jual pada umumnya mahal (jutaan). Tentu saja mahal dan tidak itu relatif ya, tergantung kemampuan dan kebutuhan orang per orang, tapi secara pribadi saya memasukkannya dalam kategori MAHAL.

Mungkin kalau dikalkulasi ulang, harga per buku terhitung standar ya (baca: terjangkau secara umum), hanya… sistem penjualan mereka biasanya per set/ paket, dalam satu paket bisa berisi sampai belasan buku, tambah mahal lagi kalau dilengkapi e-pen.

Itu lah strategi marketingnya, pertama… si penjual menciptakan kebutuhan, membuat calon pembeli merasa harus memiliki buku ini, sehingga semahal apapun pembeli akan mengusahakannya.

Apa yang salah? Tidak ada. Penjual, untuk barang apapun, pasti menargetkan menjual sebanyak-banyaknya barang, meraup sebanyak-banyaknya untung, diantaranya dengan jualan sistem paket seperti itu. 

Pun pembeli, selama membeli karena memang butuh, dan menilai seimbang antara investasi yang dikeluarkan dengan kualitas barang, lalu merasa buku-buku itu akan mengoptimalkan proses belajar anak-anaknya di rumah, ya ga ada yang salah kan.

Yang terasa ‘salah’ bagi saya adalah, ketika ukuran worthed ga worthed, urgent ga urgent itu dipaksakan dari salah satu pihak, ambil lah dalam hal ini penjual. 

Sejujurnya saya sempat amat sangat tertarik membeli buku-buku mahal itu untuk Akhtar. Namun kemudian… saya menimbang ulang urgensinya (untuk keluarga kami yaa.. disini saya bicara atas nama pribadi, preferensi keluarga lain bisa jadi berbeda).

Pertama, di lihat dari sisi keuangan keluarga. Sanggupkah membayarnya? Pada umumnya karena sulit mencari orang yang mampu membayar tunai di awal, buku-buku itu dijual dengan sistem arisan bisa sampai 10 bulan. Jika memutuskan ikut arisan, pertanyaan berikutnya, apakah sanggup berkomitmen membayar iuran bulanannya tepat waktu? Untuk saat ini saya jawab NO.

Kedua, adakah buku-buku lain yang lebih murah dengan tema yang kurang lebih sama, yang bisa mensubstitusi buku-buku mahal ini? Ternyata menurut pengamatan saya, banyak buku-buku murah yang secara konten tidak jauh berbeda dengan buku-buku mahal itu. Abaikan perbedaan kualitas kertas yang digunakan dan fitur e-pennya yaa.

Dengan mempertimbangkan sedikit hal di atas, maka (untuk saat ini, entah ke depannya yaa) saya memutuskan untuk tidak membeli buku-buku itu.

Kebutuhan buku untuk Akhtar saat ini sudah tercukupi dengan buku-buku yang lebih murah. Akhtar sudah tahu cara memperlakukan buku dengan baik agar tetap terjaga (tidak sobek, kotor, dsb) jadi tidak butuh buku-buku yang anti air atau anti sobek, pun Ahnaf sudah bisa membuka-buka buku berkertas tipis tanpa sobek. Kalau pun menyobeknya sedikit ya tidak apa-apa, kan investasi untuk bukunya pun tidak mahal.

Dari segi konten, untuk saat ini sudah tercukupi dari buku-buku yang lebih murah. Untuk buku-buku agama (asmaul husna, kisah nabi-nabi, hadits, juz amma, kumpulan doa-doa, dtt) saya lebih selektif memilihkannya untuk Akhtar. Yang harus dicek adalah rekam jejak penerbitnya, profil dan latar belakang penulisnya, sampai daftar pustaka, apakah bersumber dari ilmu-ilmu yang shahih? Untuk buku agama ini, saya memfavoritkan beberapa penerbit buku anak yang kontennya ‘aman’ menurut saya, diantaranya PQids, Alkautsar Kids, Zikrul Kids, ada lagi tapi saya lupa. Nama-nama yang asing ya? Tapi bagus kok… bisa dicek sesekali.

Untuk buku-buku lain, banyak buku Akhtar yang dibeli di toko buku bekas. Ada juga yang bekas pakai omnya, atau hasil ngubek dari obralan. Buku-buku itu beberapa diantaranya jadi favorit Akhtar, seperti buku-buku tentang kendaraan, tentang hewan dan tumbuhan, dan tentang pertanian. 

Anak-anak itu ga pilih-pilih sama buku. Sekali suka, dia akan baca berrrrulang-ulang kali. Buku favorit Akhtar pun ada yang mahal, ada juga yang hanya 5000an – Akhtar sendiri yang pilih dari toko buku bekas dengan fisik yang jauh dari mulus. Di luar itu, orangtuanya yang bertanggung jawab memilihkan. Jadi yang menetapkan standar buku ‘bagus atau tidak’ itu juga orangtua. Dan di kemudian hari, standar yang sama mungkin akan digunakan oleh anak-anak kita ketika memilih buku.

Yang ingin saya sampaikan disini. Penjual sebaiknya tidak memukul rata kebutuhan akan buku/ alat peraga pendidikan lain untuk setiap orang. Banyak yang memang butuh (ini lah prospek sesungguhnya), namun banyak juga yang tidak. Yang tidak, bukan berarti tidak peduli dengan pendidikan anak, hanya pilihannya saja yang berbeda. Dan pembeli pun harus bisa menimbang-nimbang, apakah kebutuhannya akan buku harus dipenuhi dengan buku-buku mahal (yang secara kualitas saya akui memang baik) atau merasa cukup dengan buku lain yang lebih murah? Selebihnya ga usah saling nyinyir dengan pilihannya masing-masing. 

Pada akhirnya, keputusan ada pada pembeli. Maka jadilah pembeli yang selektif dan memahami value for money sebuah buku.

Advertisements