Sudah sejak 2 bulanan terakhir, Akhtar masuk fase ‘ingin melakukan segala hal sendiri’ dan ‘ingin selalu dilibatkan dalam hampir semua pekerjaan rumah’.

Akhtar sekarang lebih suka memakai baju sendiri. Mulanya ingin memasang kancing baju sendiri (dengan bantuan), lalu bertahap mau memakai semuanya sendiri, dari mulai baju dalam sampai luarannya. Ada masa dia merasa frustasi karena maunya mengerjakan sendiri tapi belum sempurna melakukannya, namun tidak mau dibantu. Akhirnya apa? Ya nangis… biarlah, namanya juga belajar ya Nak…

Sedikit-sedikit, urusan kamar mandi pun ingin dia lakukan sendiri. Seperti, menyabuni kaki sendiri (kalau badan masih dengan bantuan saya) dan menyiram bekas pipis dan pupnya sendiri. Pernah satu kali, saya siram bekas pup Akhtar sampai bersih… akibatnya dia nangis lalu memaksa diri harus pup lagi, sementara ‘stok’ pup di perutnya sudah habis, demiii.. nyiram pup sendiri..  wkwk…

*

Sementara dalam hal pekerjaan rumah, setelah beberapa kali kejadian dia nangis karena nggak diajak mengerjakan tugas rumahan, akhirnya saya hampir selalu mengajak Akhtar diantaranya untuk…

… memasukkan baju kotor ke mesin cuci, dan mengeluarkan baju bersih dari mesin cuci

… menjemur baju-baju kecil 

… menakar dan mencuci beras sendiri, plus menekan tombol ‘cook’ pada rice cooker

Dan.. apalagi ya…

*

Kemudian, dalam hal sholat pun Akhtar harus selalu diajak. Kadang sholatnya dobel. Misal, setelah sholat berjamaah di masjid, dia akan ikut sholat lagi di rumah bersama saya. 

Suatu waktu, saya pernah ngasih tahu soal sholat ba’da Maghrib dan ba’da Isya, dan sekarang kadang-kadang setelah sholat wajib, Akhtar pula yang mengingatkan saya untuk mengerjakan sholat rawatibnya. Siapa yang bisa menolak kalau yang mengingatkan adalah anak sendiri? Saya yang sudah hampir merapikan mukena pun akhirnya menuruti ajakannya.

*

Anak-anak itu lho ya… walaupun pada awalnya kita yang ‘mengajari’, sebenar-benarnya mereka lah yang justru lebih banyak mengingatkan, bahkan mengajari kita. 

Salah satu contoh, bukan sekali Akhtar menegur, “Mim kok pintu kamar mandinya dibuka sih? Kan malu auratnya kelihatan”, katanya ketika melihat saya memandikan Ahnaf dengan membiarkan pintu terbuka. Maka saya pun buru-buru menutup pintu kamar mandi. 

Anak-anak itu memang sudah ‘fitrah’ dari sananya, sudah sangat cenderung ingin selalu melakukan hal-hal yang baik. Maka, manfaatkan lah masa kanak-kanak mereka untuk menginstall segala sesuatu yang baik, terutama yang sesuai ajaran Allah dan RasulNya. Salah satu yang merusak ‘fitrah’ mereka adalah ‘ketidakkonsistenan’ orang-orang dewasa di sekitarnya. 

Ketika orangtua mengajari A, maka lakukan juga A. Ketika anak memergoki kita melanggar A, jangan justru mencari pembenaran/ membela diri dengan hal yang bertentangan dengan A. 

Misal, saya mengajari Akhtar makan sambil duduk. Suatu waktu saya makan, dan Ade nangis ingin digendong. Maka saya pun menggendong Ade, lalu melanjutkan makan dengan posisi berdiri. Akhtar menegur, “Kok makannya sambil berdiri?”. Bisa saja saya beralasan, “Iya… kan sambil gendong Ade”. Tapi, akibatnya apa? Di kemudian hari mungkin anak akan jadi orang yang suka mencari-cari alasan/ pembenaran untuk kesalahan yang diperbuatnya, atau jadi ringan untuk melanggar aturan? Hiih… 

Maka… alih-alih membuat alasan, saya akhirnya memilih duduk, atau berhenti makan sementara. 

*

Ketika Akhtar ingin melakukan segalanya sendiri, artinya Akhtar sedang menuju kemandiriannya. Itu positif kan? Hanya saja yang masih harus diperbaiki secara bertahap adalah emosinya yang masih belum terkelola dengan baik. Masih sering merasa frustasi ketika belum bisa menyelesaikan tugas dengan baik, masih ngadat ketika keinginannya tidak terpenuhi.

Dan.. memang menjadi lebih repot dan memakan waktu lebih lama ketika kita melibatkan anak-anak dalam pekerjaan. Tak jarang, kita jadi kesal karena hasilnya jadi lebih berantakan. Tapi, ini masa-masa emas untuk mengajari mereka mandiri dan tanggung jawab. Kerepotan saat ini hanya sementara kok.

Kalau kata seseorang mah, wajar kalau kita repot karena punya anak kecil. Yang ga wajar itu, kalau kita direpotkan anak-anak yang sudah beranjak besar. Bisa jadi karena kita salah mendidik mereka waktu kecil.

*

Oke.. mari berepot-repot sekarang, untuk bersenang-senang kemudian :p

Advertisements