​

Saya lagi mimikin Ade di kamar, tetiba dari arah ruang depan terdengar Akhtar -yang lagi maniiiisss banget- menawarkan bantuan.

“Mim.. Akhtar masukin telurnya ke kulkas yaaa…”

Sebelumnya kami baru saja ke warung membeli telur.

“Oh no…”, batin saya… “Bagaimana kalau telur-telur itu jatuh… pecah… duuh…”

“Miiimm… telurnya masukin ke kulkas yaaa?”

Sekali lagi terdengar Akhtar berteriak, karena saya tak kunjung menjawab.

“I… Iyaaa…” saya mengiyakan ragu.

Tak lama, anak 3,5 tahun itu melintasi pintu kamar dengan langkah hati-hati, kedua tangannya memegang wadah berisi telur.

“Hati-hati yaa.. pelan-pelan…” saya mengingatkan sambil menajamkan pendengaran… waspada.

Tidak sampai satu menit, Akhtar masuk kamar membawa wadah kosong, dan berujar bangga, “Sudaaah…”

“Makasih ya… jazakallah…” ujar saya di mulut. Sementara dalam hati… “Ha? Cepet amat… ditaruh dimana telur-telurnya?!” masiiih saja menduga yang ‘ngga-ngga’.

Selesai mimik Ade, saya langsung menuju kulkas, mengecek ‘hasil kerja’ Akhtar. 

Dan…

Terlihat telur-telur itu tersusun rapi, pada tempatnya. Tidak ada telur pecah, bahkan tidak sedikit pun terdengar suara ketika satu per satu telur dipindahkan ke dalam kulkas. Kekhawatiran saya tidak terbukti… sama sekali.

Kalau saja saya menolak bantuan Akhtar tadi… dia akan kehilangan banyak sekali kesempatan untuk belajar hari ini…

Advertisements