Akhtar (3,5 tahun) dan mungkin juga anak-anak lain seusianya, sangat senang mengajukan pertanyaan yang sama, dengan jawaban yang harus sama beeerrrrulang-ulang. Lucunya… ia akan gusar ketika kita memberikan jawaban berbeda dari biasanya.

Sebagai contoh, tadi pagi ke Bapak Sayur naik sepeda lewat jalanan yang agak rusak, maka Akhtar pun bertanya,

“Kenapa jalannya rusak?” 

“Karena belum diperbaiki…”, saya asal jawab ga mau mikir.. hihi.

“Bukaaan… kenapa jalannya rusak, Miim?” tidak puas dengan jawaban pertama, ia bertanya lagi dengan penuh penekanan di awal dan akhir kalimat.

“Iya… kan banyak dilewatin mobil, jadi jalannya rusak”, jawab saya.

“Bukan… rusak karena air sama mobil, gitu Mimm…”

Oh iya! Saya baru inget… kapan hariiii waktu lewat jalan yang sama, Akhtar pun bertanya, “Kenapa jalannya rusak?” dan saya menjawab,

“Karena sering tergenang air terus sering dilewati mobil besar” 

***

Ada lagi yang lain. Ketika jalan-jalan naik sepeda dan menemukan sampah tidak pada tempatnya, Akhtar hampir selalu bertanya,

“Kok buangnya sembarangan sih?”

Dan saya… HARUS menanggapi seperti ini…

“Eh iya… kok buang sembarangan, ga boleh dong, ga boleh ditiru ya, buangnya harus di….”

“Tempat sampah” katanya melanjutkan.

Ada variasi jawaban lain kalau untuk kondisi ini,

A: “Kok buangnya sembarangan sih?”

M: “Boleh ga buang sembarangan?”

A: “Ga boleh”

Lalu percakapan berikutnya kurang lebih sama.

Gara-gara pertanyaan berulang soal sampah ini, kepikiran lain kali sepedaannya sambil bawa kantong sampah untuk memungut sampah yang masih bisa dimanfaatkan. Hehe…

***

Sebelumnya, saya pernah cerita tentang kebiasaan Akhtar yang bertanya,

“Kenapa matanya jadi orang?” Ketika hendak tidur.

Sekarang, pertanyaan itu hampir tidak pernah diajukan lagi, diganti dengan pertanyaan, 

“Kenapa punggungnya gatal?” Katanya gogoleran sambil menggaruk-garuk punggung. Dan saya harus menjawab,

“Karena punggung Akhtar keringetan”, jawab saya.

“Kenapa keringetan?”

“Karena panas…”

“Kenapa panas?”

Nah.. kalau pertanyaannya siang hari, akan saya jawab, “Karena ada matahari”. Kalau malam… kadang saya jawab juga “Karena ada matahari”. Ya kan? Matahari ada tapi ngga menampakkan diri… wkwk..

Sering lho kita (orangtua) di-KO Akhtar dengan pertanyaan beruntun seperti itu. Jawaban kami, akan menjadi pertanyaan berikutnya, teruuus seperti itu sampai kami tidak bisa menjawab pertanyaan. 

Kuncinya… jawabnya kudu jujur dan masuk akal, dengan kata-kata yang mudah dipahami anak seusia 3,5tahun. Kadang sampai juga ke pertanyaan yang rumit untuk dijawab dengan kata-kata sederhana, akhirnya dijawab dengan ‘bahasa orang dewasa’ yang kadang-kadang harus disisipi kata-kata ‘sulit’ untuk dipahami anak balita itu. Setelah itu, Akhtar biasanya hanya akan menanggapi, “Ooh gitu…” seolah-olah mengerti, lalu berhenti bertanya.

*** 

Soal menjawab pertanyaan dengan jujur ini kadang menjadi sulit ketika kita ingin menyembunyikan kebenaran. Butuh trik khusus, agar jawaban tetap jujur dan memuaskan anak.

Sebagai contoh, Akhtar ingin main ponsel, sementara saya ga mengizinkan. Maka saya sembunyikan ponsel itu. Ketika Akhtar bertanya, “Hapenya mana Mim?” 

Saya akan menjawab, “Hapenya disembunyikan dulu ya…”

“Ooh.. hapenya sembunyi ya…” Akhtar lantas puas dengan jawaban itu dan tidak menanyakan HP lagi. 

Hihi… yang barusan itu saya sebut ‘trik imbuhan’ :p

Sebelum menggunakan trik ini, pastikan Anda memahami bahasa Indonesia dengan baik dan benar ya.

*belagu*

***

Apa lagi ya…

Hmm…

Udah deh kayaknya…

Ga jelas…