Gerai-gerai retail modern (baca: minimarket), yang sekarang ini menjamur hingga ke kampung-kampung, berdasarkan penelusuran saya di google, dikelola oleh korporasi besar yang mana pemiliknya tidak akan langsung jatuh miskin, bahkan jika seluruh masyarakat berhenti berbelanja ke minimarketnya.

Bandingkan… dengan warung kecil tetangga kita. Dimana pemiliknya, sekaligus yang melayani kita berbelanja mungkin menggantungkan pendapatan keluarganya dari omzet warungnya.

Mengingat hal tersebut… masih enggan kah kita berbelanja ke warung-warung kecil dan lebih memilih i*domaret atau a*famart demi alasan kenyamanan dan kepraktisan? 

Oke.. langsung aja kita kupas ya… Mengapa kita harus berbelanja ke warung?

Pertama… 

Warung-warung itu walaupun kecil namun fungsional lho. Memenuhi kebutuhan konsumsi dasar masyarakat di sekitarnya. Dari mulai bumbu dapur sehari-hari hingga kebutuhan kamar mandi. 

Warung pun biasanya menyediakan produk dalam kemasan ekonomis (baca: sachet) sehingga lebih ramah di kantong in case butuh suatu barang tapi tidak punya cukup uang untuk membeli barang tersebut dalam kemasan besar.

Kedua…

Menghindari konsumsi yang tidak perlu. 

Berbagai diskon atau promo di gerai retail modern kadang mengalihkan fokus kita dari catatan belanja yang seharusnya. Display produk pun diatur sedemikian rupa sehingga pembeli menjadi belanja lebih banyak. 

Belum lagi kalau belanja bersama anak. Mungkin ada pengeluaran lain yang sulit dihindari. 

Kalau tidak cukup kuat dengan godaan marketing mereka, maka cukuplah berbelanja ke warung tetangga.

Ketiga…

Terjadi interaksi sosial dengan pemilik warung. 

Pada umumnya, pemiliknya sendiri yang melayani kita berbelanja di warung. Di dunia yang semakin ‘dingin’ dan ‘asosial’ saat ini, interaksi hangat antar pembeli dan penjual di warung bisa menjadi salah satu obatnya.

Pembeli dan penjual bisa saling tahu nama masing-masing, bahkan penjual bisa tahu dimana rumah kita, tak jarang saling mengikhlaskan jika pembeli kurang bayar atau penjual kurang kembalian, atau mencatatnya sebagai deposit untuk pembelanjaan berikutnya. Ada saling percaya disitu, yang hampir tidak mungkin terjadi di minimarket. 

Hubungan yang baik dengan pemilik warung pun bisa mendatangkan bonus belanja ga terduga lho. Seperti mamah saya pernah diberi satu set cangkir oleh pemilik warung langganan.

Keempat…

Membantu pengusaha kecil lainnya.

Selain produk-produk kemasan pabrik besar, di warung juga tersedia barang produksi pengusaha-pengusaha kecil, pada umumnya berupa makanan ringan.

Kalau pernah memerhatikan beberapa penyuplai makanan ringan itu ke warung-warung, mereka adalah rakyat kecil yang menghantarkan produknya dari warung ke warung dengan hanya berkendara  motor, sepeda, gerobak, bahkan hanya dengan ditanggung make rancatan. (basa sunda hihi).

Saya ‘hanya’ ibu rumah tangga bergelar SE yang tidak (lagi) paham urusan hitung-hitungan perekonomian negara, ekspor, impor, anggaran negara, pajak, inflasi apalah inilah itulah. Yang paling mudah saya pahami adalah.. berbelanja ke warung adalah salah satu cara menggeliatkan aktivitas ekonomi di kalangan masyarakat ekonomi bawah.

Kelima…

Untuk barang-barang tertentu (bahan-bahan masakan terutama), kualitasnya lebih baik lho.

Contoh, yang sering saya beli… kacang ijo. Logikanya karena persediaan di warung itu sedikit, jadi perputarannya juga lebih cepat. Kacang ijo kemasan di gerai modern mungkin hasil pengemasan beberapa bulan lalu, karena melalui jalur distribusi yang lebih panjang sehingga barangnya tidak lagi fresh. Begitu pun bahan-bahan masak lain.

***

Jadi… kudu banget ya belanja ke warung?

Ya sebisa mungkin. Mungkin ada beberapa barang kebutuhan kita yang tidak tersedia di warung, ya sudah sesekali aja boleh lah ke minimarket.

Atau bisa juga dengan mencari barang tersebut ke warung/ toko yang lebih besar. Seperti, jika kita membutuhkan kemasan lebih besar untuk produk-produk tertentu. 

Eh tapi, kemasan plastik kecil di warung itu ga ramah lingkungan lho?

Memang iya, kemasan sachet/ isi ulang sebenarnya tidak lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan kemasan botol/ kaca. Solusi terbaik sebenarnya dengan mulai menggunakan barang ramah lingkungan. Back to nature gitu lho. Cuci piring/ baju pakai klerak, mandi pakai jeruk nipis+soda, gosok gigi pakai batang siwak, bumbu masak pakai yang alami. Tapi, bagi yang belum mampu (karena saya pun belum…) hiks, solusinya adalah belanja ke toko yang lebih besar untuk mendapatkan produk dengan kemasan botol/ kaca. 

Kalau di dekat rumah saya di Padalarang, ada toko grosir kecil yang lumayan lengkap dan harga barangnya bisa lebih murah daripada di I*domaret dan A*famart lho. Toko-toko serupa juga banyak terdapat di pasar-pasar tradisional dimanapun.

***

Nah, cukup punya alasan kan sekarang untuk back to warung?

Ayo kembali berbelanja ke warung!