Ekskalatornya bobo…” katanya, menjelaskan tangga berjalan yang tidak berfungsi.

Mataharinya mau pulang…” ketika sore hari melihat matahari mau tenggelam.

Hapenya bobo dulu…” katanya suatu waktu selesai memainkan HP Papanya.

Kenapa lama? Karena cape printernya ya?” katanya, melihat printer bekerja berderit-derit di depannya.

Mataharinya marah…” katanya suatu hari entah dengan motif apa… (?!)

Personifikasi.. ya itu lah, anak balita ini senang sekali menggunakan jenis majas ini untuk menjelaskan situasi suatu benda mati yang tidak mampu ia temukan kata yang pas untuk mengungkapkannya.

Namun, ada satu ungkapan paling fenomenal dan absurd yang keluar dari mulut Akhtar, setidaknya satu kali sehari saat mau tidur…

“Kenapa matanya jadi orang?”

Ini personifikasi bukan sih? :p

Pertama kali mendengar ungkapan itu sekira tiga bulanan yang lalu, saya mengernyitkan dahi berusaha memahami.

M: “Matanya sakit?”

A: “Bukaaan.. ini kenapa matanya gini…” suaranya terdengar panik, badannya rebah di atas kasur sementara pandangannya lurus menatap langit-langit.

M: “Mata Akhtar kenapa, ga bisa liat?” emak ikutan panik

A: “Kenapa matanya jadi orang, Mim…”

M: “Matanya perih ya?”

A: “Matanya jadi orang…”

M: “Ooh.. Akhtar ngantuk?”

A: “Iyaa.. lantuk…” <– saya ga salah ngetik lho… beberapa kata (biasanya yang berawalan huruf n) ada yang justru terucap jadi ‘l’

Ngantuk –> lantuk

Nonton –> lonton

Nanti –> lanti

Nabi –> Labi

Dan… setelah malam itu… dialog:

“Kenapa matanya jadi orang?”

“Karena Akhtar ngantuk…”

Menjadi percakapan rutin setiap malam sebelum tidur.

Sekian dan tilimikisih.. karena mata saya sudah jadi orang… hoaaahmm…